Minggu, 31 Juli 2016

Ketidak-bersyukuran Manusia Kepada Allah Swt. & Penjelasan Masih Mau'ud a.s. Mengenai "Falsafah Doa dan Pengabulannya" . Dalam Buku "Barakatud-Du'a" (Keberkatan Doa)




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



KETIDAK-BERSYUKURAN MANUSIA KEPADA ALLAH SWT.  & PENJELASAN MASIH MAUUD A.S. MENGENAI FALSAFAH DOA DAN PENGABULANNYA  DALAM BUKU BARAKATUD-DUA (KEBERKATAN DOA)


Bab 12


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab 10 sebelumnya telah dijelaskan nubuatan Al-Quran mengenai pentingnya “perjalanan laut”,   firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ  رَحِیۡمًا ﴿﴾  وَ اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ  فِی الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ  اِلَّاۤ  اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ  اِلَی الۡبَرِّ  اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾  اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا  ﴿ۙ﴾  اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu di lautan, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadap kamu.   Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa   yang kamu seru  kecuali Dia, tetapi tatkala   Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا    --       Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan kamu   di tepi daratan atau mengirimkan atas kamu taufan pasir  dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi dirimu?   اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ    -- Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya,  lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka  menenggelamkan kamu karena kamu kafir?  ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا  -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا   -- Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:67-71).

Keunggulan Bani Adam (Manusia) Sebagai “Khalifah Allah

      Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri dan mendoa kepada Allah Swt.  serta berjanji dan bersumpah akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong seperti  sediakala serta mempersekutukan Allah Swt. dan menisbahkan  keberhasilan duniawinya kepada kemampuan  dan upaya dirinya sendiri, seperti pengakuan Qarun (QS.28:77-83).
     Makna ayat:     وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ    -- “Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,” Allah Swt.   telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
       Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
      Diberi tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti  Nabi Besar Muhammad saw.  — yang selama masa hidup beliau saw. tidak pernah mengalami perjalanan laut — telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, kenyataan tersebut sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang dari kalangan Non Muslim (QS.16:104; QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
      Karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain:  وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.”

Review (Tanggapan)  Masih Mau’ud a.s. atas Buku Sir Sayid Ahmad Khan Sahib K.C.S.I. Berkenaan “Pengabulan Doa

       Kembali kepada masalah pengabulan doa  dan hubungannya dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam  firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku   maka sesungguhnya Aku dekat.  Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Kukarena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
       Sehubungan pendapat keliru  Sir Ahmad Khan  berkenaan dengan firman Allah Swt.:  "Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,” dalam buku   “Barakatud-Du’a” (Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s.   menjelaskan:
     “Wahai engkau  tawanan intelek  sendiri, janganlah berbangga dengan diri engkau, karena alam semesta yang indah telah banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka yang terasing dari Tuhan tak akan pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia Sang Kekasih hanya dibuka bagi mereka yang datang dari surga. Mencoba sendiri menduga rahasia Al-Quran adalah kebodohan, yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan   kotoran semata.”
       Dalam buku kecilnya    Sayid Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
     “Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon akan selalu mendapat apa yang dimintanya. Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan doa maka akan muncul dua bentuk kesulitan:
       Kesulitam pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah hati ternyata tidak dipenuhi, berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa manusia.
     Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir. Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan, maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
tidak berlaku pada permohonan yang tidak ditetapkan takdirnya.
    Menurut penafsiran di atas maka janji umum mengenai pengabulan doa jadinya tidak benar karena hanya permohonan yang sejalan dengan takdir yang akan dikabulkan, padahal janji pengabulan doa itu bersifat umum dan tidak tunduk pada pengecualian apa pun.
    Beberapa ayat lain mengindikasikan bahwa segala hal yang tidak ditakdirkan tidak akan dikabulkan, sedangkan ayat-ayat lain mengindikasikan bahwa tidak ada permohonan doa yang ditolak dan semuanya akan dikabulkan. Ayat yang menyatakan:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
    Jadi, satu-satunya cara guna menyelesaikan kontradiksi di antara ayat-ayat tersebut adalah dengan menafsirkan pengabulan doa sebagai pengabulan ibadah. Karena itu doa harus ditafsirkan sebagai salah satu bentuk ibadah, yang atasnya terdapat janji Tuhan akan diterima jika dilakukan secara tulus dan penuh hasrat. Pengabulan doa dengan demikian berarti sebagai perolehan nilai lebih dalam bentuk ibadah.
     Dalam hal suatu karunia sudah ditakdirkan dan termasuk yang diminta maka pengabulannya bukan karena doa tetapi karena memang sudah ditakdirkan demikian.  Manfaat utama dari doa ialah jika dengan melalui berdoa hati manusia diarahkan kepada Kebesaran Ilahi dan Kekuasaan-Nya yang tidak terbatas,  sehingga fikirannya akan mampu mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran yang menjadi sumber keresahan, untuk kemudian merasakan munculnya kesabaran dan keteguhan hati.  Kondisi hati demikian dihasilkan oleh ibadah dan inilah yang dimaksud dengan pengabulan doa.”

Pengabulan Doa dan Prinsip Penafsiran Al-Quran 

    Terhadap pendapat keliru  Sir Sayid Ahmad Khan  tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: 
   “Sayid Sahib memperhatikan, bahwa orang-orang yang tidak menyadari realitas doa dan kebijakan yang inheren (melekat) di dalamnya, mereka ini berpandangan bahwa jika sesuatu sudah ditakdirkan tidak akan terjadi, lalu doa jadinya dianggap tidak ada gunanya. Dengan kata lain, apa yang ditakdirkan akan terjadi dengan sendirinya dan akan mewujud --  terlepas apakah diminta atau tidak melalui doa --  dan jika memang tidak ditakdirkan maka seribu doa pun tak akan membantu. Karena itu mereka beranggapan doa itu tidak ada gunanya dan sia-sia adanya.   
      Menjawab hal ini, Sayid Sahib menyatakan bahwa memohon pertolongan di saat kesulitan sudah menjadi karakteristik fitrat manusia dan seseorang berdoa karena fitrat alamiahnya tanpa memikirkan apakah yang dimohonkan itu akan mewujud ataukah tidak. Karena karakteristik demikian itu maka manusia diperintahkah berdoa kepada Tuhan untuk segala hal yang didambakannya.”
    Rangkuman dari pandangan Sayid Sahib ini menggambarkan keyakinan yang bersangkutan bahwa doa tidak bisa menjadi sarana guna mencapai sasaran seseorang dan juga tidak ada pengaruhnya atas hasil kinerja manusia. Manusia dianggap tidak perlu berdoa karena apa yang sudah ditakdirkan tidak akan dapat diubah, sedangkan yang tidak ditakdirkan tidak juga akan dikabulkan. Ketulusan hati dan ketekunan berdoa dianggap tidak ada manfaatnya. Ia menganggap doa hanya sebagai bentuk salah satu ibadah saja, yang tidak ada gunanya sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan khusus.
  Insya Allah kami akan bisa menunjukkan bahwa Sayid Sahib secara menyedihkan telah mensalah-artikan ayat-ayat Al-Quran di atas. Sayang sekali  kami terpaksa menyimpulkan bahwa daya nalar Sayid Sahib belum sampai bisa menggapai tafsir Al-Quran. Apakah ia saat menulis booklet (buku kecil)  itu mengabaikan hukum alam yang katanya selalu ditaatinya karena dianggap merupakan penterjemahan dari bimbingan Ilahi atas misteri tersembunyi dalam Al-Quran?
     Apakah Sayid Sahib tidak menyadari bahwa meskipun tidak ada apa pun -- baik atau pun buruk -- yang bebas dari ketentuan takdir, namun alam telah memberikan sarana-sarana guna mencapai kebaikan atau keburukan dimana efek hakikinya tidak diragukan oleh seorang yang bijak? Sebagai contoh, walau meyakini adanya takdir, tetapi tindakan berusaha memperoleh pengobatan ketika sakit apakah tidak sama dengan upaya berdoa menginginkan sesuatu?
     Apakah Sayid Sahib akan mengatakan juga bahwa ilmu kedokteran tidak ada dasarnya dan semua pengobatan tidak ada artinya? Jika ia berkeyakinan akan hal takdir, tetapi ia masih mempercayai kalau pengobatan tetap masih ada gunanya, lalu mengapa ia mengadakan perbedaan di antara kaidah ini dengan kaidah lainnya yang sejajar?
   Apakah ia meyakini bahwa Tuhan Yang memiliki kekuasaan untuk membekali fitrat beberapa obat-obatan guna menyembuhkan penyakit dalam satu dosis,  atau adanya racun yang seketika bisa memindahkan nyawa manusia dari dunia ini, lalu Dia juga mengabaikan dan menelantarkan permohonan doa dari para hamba pilihan-Nya yang diajukan secara tekun dan tulus?  Apakah mungkin terdapat kontradiksi dalam sistem Ilahi sehingga rancangan Ilahi yang berfungsi bagi kesejahteraan hamba-Nya melalui sarana pengobatan ternyata tidak berlaku dalam masalah pengajuan doa?

Filosofi dan Efektivitas Doa yang Luar Biasa

    Tidak demikian halnya. Sayid Sahib rupanya tidak mengenal filosofi hakiki dari doa dan tidak mempunyai pengalaman pribadi berkaitan dengan efektivitasnya yang demikian luhur. Keadaan yang bersangkutan (Sayid Ahmad) mirip dengan seseorang yang untuk suatu jangka waktu tertentu menggunakan obat-obatan kadaluarsa yang telah kehilangan segala keampuhannya, lalu menyimpulkan bahwa secara umum yang namanya pengobatan itu tidak ada gunanya.
     Sayid Sahib ini sudah berusia lanjut, namun sistem alamiah yang mengatur bahwa takdir itu terkait langsung dengan sarana  rupanya belum sampai dipahaminya. Hal inilah yang menjadikan ia keliru mengambil kesimpulan dengan menyatakan bahwa segala sesuatu bisa berlaku tanpa intervensi (campur-tangan) sarana ruhani dan jasmani yang telah disediakan alam.
     Secara umum, tidak ada sesuatu apa pun yang bebas dari takdir. Seseorang yang mengambil manfaat dari api, udara, air, tanah, gandum, sayuran, hewan atau pun mineral, melakukannya berdasarkan ketentuan takdir. Hanya seorang yang bodoh saja yang akan berkata bahwa tanpa bantuan dari sarana yang diberikan Allah Swt. dan tanpa mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh alam lalu menyatakan bahwa ada yang bisa diperoleh tanpa mediasi (perantaraan) sarana jasmani atau ruhani. Orang seperti itu sesungguhnya mendustakan kebijakan Allah Yang Maha Agung.
      Pengertian dari keseluruhan di atas ini ialah Sayid Sahib menyatakan kalau ia tidak menganggap doa sebagai salah satu sarana efektif, meski eksistensinya (keberadaannya) diakui. Dalam hal ini sebenarnya ia telah melampaui batas. Sebagai contoh, jika ada orang yang menceritakan kepadanya perihal pengaruh api ia tidak akan menyangkalnya. Ia tidak akan menyangkal bahwa seseorang yang ditakdirkan akan terbakar  lalu bisa terbakar tanpa adanya mediasi api. Karena itu aku menjadi heran, karena sebagai seorang Muslim ia menyangkal efektivitas doa yang mampu menerangi kegelapan seperti nyala api dan bahkan terkadang membakar tangan mereka yang jahil.
     Apakah ia sedang mengingat takdir ketika sedang berdoa,  dan melupakannya ketika disebutkan api atau yang sejenisnya? Apakah bukan takdir yang sama yang mencakup keduanya?  Sesungguhnya ia tidak menyadari efek dari doa dan tidak mempunyai pengalaman pribadi berkenaan dengan itu, begitu pula ia tidak beruntung bisa memiliki kedekatan dengan mereka yang memiliki pengalaman demikian.

Mukjizat  Terjadi Berkat Pengabulan Doa

      Subyek pengabulan doa merupakan cabang atau bagian dari subyek sebuah doa. Seseorang yang tidak memahami prinsipnya, tentunya akan kesulitan juga dalam memahami bagian atau cabangnya. Hal inilah yang mendasari kesalahpahaman Sayid Sahib. Dalam prinsip doa terdapat hubungan ketertarikan mutualistis (timbal-balik) di antara seorang hamba yang saleh dengan Tuhan-nya.
       Fitrat Pemurah atau Rahmāniyat Ilahi akan menarik seorang hamba kepada Diri-Nya Sendiri. Lalu dengan ketulusannya hamba ini mendekati Allah Yang Maha Kuasa dimana doa dalam perhubungan seperti itu akan mencapai suatu tingkatan yang memunculkan nilai-nilai yang luar biasa.
  Ketika seorang hamba yang sedang dihimpit kesulitan lalu mendekati Tuhannya dengan keyakinan penuh, harapan, kecintaan yang sempurna, kesetiaan dan keteguhan hati, ia kemudian menjadi waspada serta membuang jauh-jauh segala tirai ketidak-acuhan untuk maju ke tahapan memfanakan (menenggelamkan) dirinya sendiri, maka ia akan melihat hadirat Ilahi dimana Dia tidak mempunyai serikat. Jiwanya akan bersujud di gerbang itu dan kekuatan daya tarik yang menjadi fitrat dirinya akan menarik karunia Allah Swt. kepada dirinya tersebut. Lalu Tuhan Yang Maha Agung akan memenuhi tujuan dari doa tersebut serta menebarkan efek doa di atas segala sarana yang dibutuhkan guna pencapaian tujuan doa.
   Sebagai contoh, jika yang didoakan adalah turunnya hujan, maka bentuk pengabulannya adalah dengan terciptanya sarana alamiah bagi terbentuknya hujan. Kalau yang didoakan adalah mengenai bencana kelaparan maka Allah Swt. akan menciptakan sarana guna mengatasinya
      Sudah dibuktikan secara nyata kepada mereka yang sering mengalami kasyaf bahwa dalam doa seorang yang sempurna akan tercipta kekuatan untuk membentuk. Dengan kata lain, dengan perintah Allah Swt. doa itu mempengaruhi dunia bawah dan atas yang menggerakkan semua unsur-unsur dan benda-benda angkasa serta hati manusia ke arah yang diinginkan. Banyak sekali contoh-contoh mengenai hal ini dalam kitab-kitab suci Allah Swt.

Pengaruh Doa Lebih Besar daripada Api

  Beberapa jenis mukjizat sebenarnya merupakan realisasi  (perwujudan) pengabulan doa. Sumber dari ribuan mukjizat yang dimanifestasikan oleh para  nabi serta keajaiban yang diperlihatkan  orang-orang suci  sebenarnya adalah doa dimana melalui efek doa inilah maka kejadian-kejadian ajaib tersebut mewujud memperlihatkan kekuasaan dari Yang Maha Perkasa.
     Apakah kalian menyadari apa yang terjadi di padang pasir Arabia, dimana ratusan ribu mereka yang mati telah hidup kembali dalam beberapa hari, mereka yang telah membusuk selama beberapa generasi kemudian pulih dengan rona Ilahi, dimana yang buta lalu melihat serta lidah mereka yang kelu mulai dialiri wawasan Ilahi.
     Revolusi seperti itu tidak pernah   terjadi  sebelumnya di dunia, tidak ada yang pernah melihat atau pun mendengar sebelumnya. Semua itu adalah berkat doa yang dilantunkan di kegelapan malam oleh seorang yang sepenuhnya fana (tenggelam) di jalan Allah Swt. Ternyata hasilnya menimbulkan kegemparan di seluruh dunia dan memanifestasikan berbagai keajaiban yang diperkirakan tidak mungkin muncul dari seorang buta huruf yang tak berdaya.
      Ya Allah turunkanlah berkat dan salam atas diri dan pengikutnya sebanding dengan penderitaan dan kesedihannya demi umat dan turunkanlah atas dirinya Nur kasih-Mu selama-lamanya’
   Aku telah mengalami bahwa dampak dari  doa itu lebih besar daripada dampak api atau air. Bahkan sesungguhnya dalam sistem sarana alamiah tidak ada yang lebih besar efeknya (pengaruhnya) dibanding doa.

Sarana Ruhani dan Jasmani

     Kalau ada yang bertanya mengapa ada doa yang tidak dikabulkan dan tidak nampak efeknya secara nyata? Aku akan mengatakan bahwa keadaannya sama juga dengan pengobatan kedokteran. Apakah yang namanya obat kedokteran bisa menutup gerbang kematian, apakah tidak mungkin obat ini gagal dalam pemanfaatannya?
     Namun meski demikian, apakah lalu orang akan menyangkal pengaruhnya? Memang benar bahwa yang namanya takdir itu melingkupi segalanya, namun takdir juga tidak akan mensia-siakan atau mengingkari pengetahuan, tidak juga menjadikan sarana-sarana menjadi tidak berguna.
     Perenungan yang mendalam akan memperlihatkan bahwa sarana jasmani dan sarana ruhani tidak berada di luar takdir. Sebagai contoh, jika nasib seorang pasien nyatanya bagus, maka sarana guna memperoleh pengobatan yang tepat akan menjadi tersedia dan tubuhnya akan memanfaatkan sarana tersebut. Dalam keadaan demikian maka pengobatan menjadi amat efektif.
     Hal yang sama juga berlaku dalam berdoa. Semua sarana dan kondisi bagi pengabulan doa akan muncul saat rancangan Ilahi mengarah kepada pengabulan. Allah Yang Maha Agung telah mempertautkan sistem fisikal dan spiritual dalam urutan rantai kausa (sebab) dan efek yang sama. Adalah suatu kesalahan besar di pihak Sayid Sahib bahwa ia mengakui keberadaan sistem fisikal tetapi mengingkari sistem spiritual.
    Rasanya juga perlu ditambahkan di sini,  bahwa jika Sayid Sahib tidak bertobat atas pandangannya yang salah dan ia meminta bukti dari pengabulan doa, maka aku ini sudah ditugaskan Tuhan untuk mengusir kesalah-pahaman demikian. Aku berjanji bahwa aku akan memberitahukan di muka kepada yang bersangkutan mengenai pengabulan doa-doaku dan akan menerbitkannya berupa cetakan, dengan syarat Sayid Sahib berjanji mengubah pandangannya setelah menyaksikan hasil pernyataanku.

Haruskah Semua Doa Dikabulkan?

      Sayid Sahib menyatakan bahwa dalam Al-Quran diungkapkan kalau Tuhan telah menjanjikan pengabulan semua doa, sedangkan kenyataannya ada juga doa yang tidak dikabulkan. Hal ini merupakan kesalah-pahaman yang bersangkutan atas ayat:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
      Doa yang dimaksud dalam ayat ini sebagai perintah bukanlah doa biasa, tetapi ibadah yang telah menjadi kewajiban. Tidak semua doa merupakan kewajiban. Di beberapa tempa  Allah Yang Maha Luhur memuji mereka yang berhati teguh dimana pada saat ada cobaan, mereka ini berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt..
     Dalam ayat tersebut doa bukan saja diperintahkan tetapi selanjutnya juga dijelaskan bahwa doa itu sebagai ibadah yang jika tidak dilaksanakan akan menghadapi hukuman siksa neraka. Jelas pada kasus doa lainnya peringatan ini tidak ditambahkan. Bahkan dalam beberapa kejadian  para nabi ditegur berkaitan dengan doa mereka. Ayat yang menyatakan:
اِنِّیۡۤ  اَعِظُکَ اَنۡ تَکُوۡنَ  مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ
“Aku nasihatkan kepada engkau supaya engkau jangan termasuk orang-orang yang jahil”  (Hūd [11]:47), adalah sebuah contoh. Ayat ini menunjukkan jika setiap doa merupakan ibadah maka Nabi Nuh a.s. tidak akan ditegur berkenaan dengan doa beliau.
      Dalam beberapa situasi, para nabi dan orang-orang suci menganggap tidak patut untuk memohon. Para muttaqi (orang-orang bertakwa)  mengikuti kata hati mereka berkaitan dengan doa seperti itu, pada saat musibah jika hati mereka menyarankan doa maka mereka akan berdoa, dimana hati mereka menyarankan bersiteguh maka mereka akan bersiteguh dan tidak berdoa. Lagi pula Tuhan tidak ada menjanjikan pengabulan doa dalam segala hal, malah menyatakan bahwa Dia akan mengabulkan bila Dia mau dan akan menolak jika Dia tidak berkenan. Hal ini jelas dikemukakan dalam ayat:
بَلۡ اِیَّاہُ  تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ  اِنۡ شَآءَ
Tidak, bahkan Dia-lah yang akan kamu seru, maka Dia akan menghilangkan apa yang untuk menghilangkannya kamu berseru kepada-Nya, jika Dia menghendaki  (Al-An’ām [6]:42).

Syarat Dikabulkannya Doa

      Meski pun kita menganggap bahwa istilah “Serulah Aku” sebagai doa, kita harus memastikan bahwa yang dimaksud dengan doa adalah yang telah memenuhi semua persyaratan dan keadaan yang dihadapi sudah tak mungkin bisa diatasi manusia kecuali dibantu Tuhan. Kerendahan hati semata tidaklah cukup untuk berdoa, karena juga harus dilambari ketakwaan, kesucian, kejujuran, kepastian, kasih dan perhatian (konsentrasi/tawajuh) yang sempurna.
     Harus pula diperhatikan bahwa yang diminta tidak bertentangan dengan rancangan Ilahi bagi kesejahteraan si pemohon, baik di dunia maupun di akhirat, atau kemaslahatan orang yang didoakan. Acap terjadi, meski semua peryaratan telah dipenuhi, tetapi tujuan yang dimintakan melalui doa sebenarnya bertentangan dengan rancangan Ilahi yang tidak ada gunanya dikabulkan.
     Sebagai contoh, jika seorang anak menangis meminta kepada ibunya untuk diberi api menyala, seekor ular berbisa atau racun yang terlihat enak, maka ibu itu tidak akan mengabulkan permintaannya. Kalau si ibu ini menuruti kehendak anaknya dan si anak mungkin selamat nyawanya tetapi sebagian dari anggota tubuhnya akan menjadi rusak tidak berguna lagi. Bila anak ini dewasa nanti maka ia akan menyesali ibunya yang ceroboh.
     Ada lagi beberapa persyaratan lain yang jika tidak ada maka permohonannya tidak pantas disebut sebagai doa. Sepanjang suatu doa tidak diilhami oleh keruhanian penuh dan tidak ada hubungan dekat di antara ia yang mendoakan dengan orang yang didoakan, kecil sekali harapan akan dikabulkannya doa yang bersangkutan. Kecuali ada perkenan Allah Swt. bagi pengabulan doa, belum semua persyaratan jadinya dianggap telah dipenuhi.
      Sayid Sahib mengakui bahwa karunia di akhirat nanti dalam bentuk berkat, kesenangan dan ketentraman, adalah hasil dari keimanan dan doa yang tulus. Jika demikian, maka Sayid Sahib harus mengakui bahwa doa seorang beriman  akan berpengaruh dan menjadi penyebab diangkatnya musibah serta dicapainya tujuan yang dicari. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin hal ini akan menolongnya di Hari Penghisaban? Bila doa dianggap tak berguna dan tidak bisa untuk mengangkat (menghilangkan) musibah dalam kehidupan sekarang, bisakah hal itu menjadi penolongnya di Hari Kiamat nanti?
       Kalau mau dikatakan bahwa doa sesungguhnya memiliki potensi memelihara kita dari segala musibah, maka hal itu harus dimanifestasikan di dunia ini juga, dengan demikian keimanan dan harapan kita akan menjadi lebih baik sehingga kita akan menjadi lebih rajin berdoa bagi keselamatan kita di akhirat.
      Jika doa dianggap tidak ada artinya karena apa yang sudah disuratkan takdir pasti akan terjadi, maka sejalan dengan pandangan Sayid Sahib, doa itu tidak ada gunanya menghadapi musibah di dunia, dan dengan sendirinya juga tidak ada gunanya bagi kehidupan di akhirat, dan dengan demikian maka tidak ada harapan lagi.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  5-14, London, 1984).

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 30 Juli   2016

Sabtu, 30 Juli 2016

Perumpamaan "Haq" (Kebenaran) dan "Bathil" (Kepalsuan) yang Lemah Bagaikan "Sarang Laba-laba" & Hubungan "Cucuran Air Mata" Dengan "Pengabulan Doa"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA



 PERUMPAMAAN HAQ (KEBENARAN) DAN BATHIL  KEPALSUAN)  YANG    LEMAH BAGAIKAN  SARANG LABA-LABA &  HUBUNGAN CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.


Bab 11


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab 10 sebelumnya telah dijelaskan mengenai  perumpamaan dalam  Al-Quran, firman-Nya:
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ  اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ ؕ  کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ   الۡاَمۡثَالَ ﴿ؕ﴾
Dia menurunkan air dari langit  maka lembah-lembah mengalir menurut ukurannya, lalu air bah itu membawa buih yang menggelembung di atasnya. Dan demikian juga dari apa yang mereka bakar dalam api untuk berusaha membuat perhiasan atau perkakas-perkakas timbul buih semacam itu. کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ  --  Demikianlah Allah melukiskan yang haq (benar) dan yang batil (palsu),    فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً   -- maka adapun buih itu akan hilang bagaikan sampahوَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ --  dan ada pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi,    -- demikianlah Allah mengamukakan tamsil-tamsil.  (Ar-Rā’d [13]:18).

Nasib Buruk Kaum-kaum Purbakala

     Ayat ini telah memakai dua gambaran yang sangat tepat. Dalam gambaran pertama “kebenaran” itu dibandingkan dengan air dan “kepalsuan” dengan buih. Mula-mula kepalsuan itu nampaknya seperti akan menang terhadap kebenaran, tetapi pada akhirnya disapu bersih oleh kebenaran, seperti sampah disapu bersih oleh arus air yang dahsyat.
     Dalam gambaran kedua, kebenaran itu dipersamakan dengan emas atau perak, yang bila dicairkan melepaskan kotorannya sambil meninggalkan logam yang murni dan berkilau-kilauan.
    Demikian pula keadaan para Rasul Allah dan para pengikutnya yang hakiki  dibandingkan para penentangnya yang mayoritas  yang pada awalnya nampak seperti akan menggungguli para  perjuangan suci para Rasul Allah, tetapi pada akhirnya mereka seperti   sampah  atau buih  yang berada di permukaan banjir  yang akan  hilang  karena tidak berbobot dan tidak bermanfaat  yakni dibinasakan oleh azab Ilahi, firman-Nya:
 لِلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِرَبِّہِمُ الۡحُسۡنٰی ؕؔ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہٗ  لَوۡ  اَنَّ  لَہُمۡ  مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا وَّ مِثۡلَہٗ  مَعَہٗ لَافۡتَدَوۡا بِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الۡحِسَابِ ۬ۙ وَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿٪﴾

Bagi orang-orang yang menyambut baik seruan Rabb (Tuhan) mereka ada kebaikan yang abadi, sedangkan orang-orang yang tidak menyambut seruan-Nya,  seandainya mereka mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan semisal itu   pula bersamanya, niscaya mereka itu akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah yang baginya ada perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan sangat buruk  tempat tinggal itu. (Ar-Rā’d [13]:19).
     “Perhitungan buruk” mereka bukan hanya di alam akhirat tetapi juga dalam kehidupan di dunia ini juga, sebagaimana firman-Nya mengenai nasib buruk yang menimpa  kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ   ﴿﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sungguh  Musa benar-benar telah datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka ber-laku sombong di bumi dan mereka se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.  Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami benamkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan,   dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  menzalimi  diri mereka sendiriمَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  --  Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  --  seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- seandainya mereka itu mengetahui. (Al-Ankabūt [29]:40-42).
       Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi pada zamannya masing-masing azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Lutha.s.   sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
      Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).

Berhala-berhala” Sembahan yang Lemah Bagaikan “Sarang Laba-laba”  & Rahasia Pengabulan Doa

       Masalah Ke-Esa-an Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil  (perumpamaan) yang indah sekali dan sangat tepat serta   menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka berkenaan “berhala-berhala” sembahan mereka.
       “Berhala-berhala” sembahan  mereka itu  sangat  rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat serta tidak memberikan manfaat  apa pun kepada para penyembahnya, firman-Nya:   مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  --  perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  --  seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  -- dan sesungguhnya selemah-lemah  rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- seandainya mereka itu mengetahui.”
      Sebaliknya, orang-orang  yang beriman dan beramal shaleh yang menyembah Allah Swt. digambarkan akan berada dalam “kebun-kebun” yang ”dibawahnya mengalir sungai-sungai” (QS.2:26), sehingga kehidupannya akan  terpelihara dari “kelaparan dan telanjang” serta tidak akan “dahaga dan  disengat panas matahari” karena  mereka berada  mereka di lingkungan yang penuh dengan berbagai  jenis pohon  yang rindang serta  lebat dengan berbagai jenis buah-buahan  (QS.20:117-120). 
     Kembali kepada masalah pengabulan doa  dan hubungannya dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam  firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  -- maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
       Kata-kata  وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی  --  dan beriman kepada-Ku  dalam ayat  فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ --  karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk”,  tidak mengacu kepada beriman kepada Wujud Allah Swt.,   sebab hal itu telah termasuk dalam anak kalimat sebelumnya,  فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ  --  “hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”, karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan menaati perintah-Nya tanpa percaya (beriman) akan adanya Wujud Tuhan. Jadi kata-kata: وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی    --   dan beriman kepada-Ku, tertuju kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.  mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.

Hubungan “Cucuran Air Mata”  Dengan “Pengabulan Doa

     Sehubungan dengan  masalah doa dan pengabulannya,  Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah    -- yakni Masih Mau’ud a.s.   --  menjelaskan:
     “Aku menyatakan dengan sesungguhnya,  bahwa seseorang yang menangis di hadapan Allah Yang Maha Perkasa dengan kerendahan hati yang sangat  maka tangisnya itu akan menggerakkan rahmat dan berkat-Nya ke arah dirinya. Aku berbicara berdasar pengalaman diriku sendiri bahwa aku telah merasakan rahmat dan berkat Allah Swt. dalam bentuk pengabulan doa. Sesungguhnya aku malah telah melihatnya, meski para filosof berhati kelam dari zaman ini tidak bisa merasakan atau melihatnya, hakikat ini tidak akan hilang dari dunia, dan aku selalu siap memperlihatkan pengabulan doa kapan saja.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 198).
     Sehubungan dengan pentingnya “perendahan diri” dalam berdoa kepada Allah Swt.   tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذَاۤ  اَذَقۡنَا النَّاسَ رَحۡمَۃً  مِّنۡۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ  مَسَّتۡہُمۡ  اِذَا لَہُمۡ  مَّکۡرٌ  فِیۡۤ  اٰیَاتِنَا ؕ قُلِ اللّٰہُ  اَسۡرَعُ مَکۡرًا ؕ اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ وَ  جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ دَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  apabila Kami membuat manusia merasakan suatu rahmat setelah kesusahan menimpa mereka, maka tiba-tiba  mereka mulai membuat makar buruk terhadap Tanda-tanda Kami.  Katakanlah: “Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan,  sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang ka-mu makarkan.”  Dia-lah Yang memperjalankan kamu melalui daratan dan lautan,  hingga  apabila kamu telah ada di kapal-kapal, dan meluncurlah kapal-kapal itu dengan mereka berkat angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya  وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ   -- lalu datang  angin badai melandanya dan gelombang  pun  mendatangi mereka dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah terkepungدَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ  -- mereka berseru kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dan berkata:  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡن -- “Jika  Engkau   benar-benar menyelamatkan  kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”  فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ  --    Tetapi  tatkala  Dia menyela-matkan mereka itu, tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq.    یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ      -- Hai manusia, sesungguhnya akibat   kedurhakaan kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,  ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai  apa yang senantiasa kamu kerjakan. (Yunus [10]:22-24).

Ketidakbersyukuran Manusia &  Musibah Senantiasa Mengancam Orang-orang yang Tidak bersyukur

      Makna ayat 22 bahwa rahmat turun dari Allah Swt. , tetapi kemalangan itu datang sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk manusia sendiri. Itulah makna ayat:  قُلِ اللّٰہُ  اَسۡرَعُ مَکۡرًا  -- “Katakanlah: “Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan,  اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ  --  sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang kamu makarkan.
      Ayat selanjutnya mengemukakan perumpamaan  kehidupan dunia, bahwa seperti angin sepoi-sepoi basah kadang-kadang berubah menjadi taufan yang dahsyat dan membawa kehancuran yang sangat luas jangkauannya, begitu pula kelonggaran dan penangguhan yang diberikan Allah Swt.  kepada orang-orang kafir mungkin dapat merupakan pendahuluan dari kehancurannya:   وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ   -- “lalu datang  angin badai melandanya dan gelombang  pun  mendatangi mereka dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah terkepung.”
     Untuk menyadarkan orang-orang kafir mengenai kebenaran yang nyata tersebut, maka perhatian mereka ditarik kepada kenikmatan-kenikmatan dan kemudahan maupun bahaya dalam perjalanan di laut.    Maksud perumpamaan itu ialah bahwa bila bangsa-bangsa menjadi congkak serta manja, dan hidup di dunia ini dipandang gampang dan ringan, maka detik-detik kemunduran mulai tiba kepada bangsa-bangsa itu dan mereka ditimpa oleh nasib yang malang: لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡن -- “Jika  Engkau   benar-benar menyelamatkan  kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.
      Walau pun Allah Swt. Maha Mengetahui bahwa pada umumnya manusia tidak bersyukur   terhadap  Allah Swt. (QS.10:13; QS.11:10-12; QS.17:68; QS.30:34-35; QS.39:9; QS.41:50-52), tetapi karena  merendahkan diri  merupakan   ketetapan-Nya berkenaan  dengan syarat-syarat pengabulan doa maka Allah Swt. menyelamatkan  mereka dari bahaya  tenggelamفَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ  --    Tetapi  tatkala  Dia menyelamatkan mereka itu, tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq.    یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ      -- Hai manusia, sesungguhnya akibat   kedurhakaan kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,  ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai  apa yang senantiasa kamu kerjakan.”

Nubuatan Al-Quran Mengenai Pentingnya “Perjalanan Laut

       Manusia  yang tidak bersyukur  tersebut melupakan keingkarannya  kepada Allah Swt., bahwa Dia  berkuasa untuk  mengulangi keadaan berbahaya seperti itu dalam kehidupan mereka   -- setelah selamat dari perjalanan laut  yang berbahaya  --   dan pada  saat itu Allah Swt. tidak akan mengabulkan permohonannya  karena Dia Maha Mengetahui tentang ketidak-bersyukuran umumnya umat manusia (QS.17:67-70),   firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ  رَحِیۡمًا ﴿﴾  وَ اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ  فِی الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ  اِلَّاۤ  اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ  اِلَی الۡبَرِّ  اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾  اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا  ﴿ۙ﴾  اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu di lautan, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadap kamu.     Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa   yang kamu seru  kecuali Dia, tetapi tatkala   Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا    --       Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan kamu   di tepi daratan atau mengirimkan atas kamu taufan pasir  dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi dirimu?   اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ    --Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya,  lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka  menenggelamkan kamu karena kamu kafir?  ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا  -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا   -- Dan  sungguh   Kami benar-be-nar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:67-71).

Keunggulan Bani Adam (Manusia) Sebagai “Khalifah Allah

      Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri dan mendoa kepada Allah Swt.  serta berjanji dan bersumpah akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya, ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong seperti  sediakala serta mempersekutukan Allah Swt..
      Makna ayat:     وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ    -- “Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,” Allah Swt.   telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
      Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
  Diberi tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti  Nabi Besar Muhammad saw.  — yang selama masa hidup beliau saw. tidak pernah mengalami perjalanan laut — telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, kenyataan tersebut sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang dari kalangan Non Muslim (QS.16:104; QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
       Karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain:  وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.”


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 29 Juli   2016