Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
KETIDAK-BERSYUKURAN MANUSIA KEPADA ALLAH SWT. & PENJELASAN MASIH
MAU’UD
A.S. MENGENAI FALSAFAH DOA DAN PENGABULANNYA DALAM BUKU “BARAKATUD-DU’A” (KEBERKATAN DOA)
Bab 12
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 10 sebelumnya telah
dijelaskan nubuatan Al-Quran mengenai pentingnya “perjalanan laut”, firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ
الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ رَحِیۡمًا ﴿﴾ وَ
اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ فِی الۡبَحۡرِ
ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ اِلَّاۤ اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ اِلَی الۡبَرِّ اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾ اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ
یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ
اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ
الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ
اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی
کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu
di lautan, supaya kamu dapat mencari
karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha
Penyayang terhadap kamu. Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa yang kamu seru kecuali Dia, tetapi tatkala Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan
maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ
الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
وَکِیۡلًا
--
Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia
tidak akan membenamkan kamu di
tepi daratan atau mengirimkan atas
kamu taufan pasir dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi
dirimu? اَمۡ اَمِنۡتُمۡ اَنۡ
یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً اُخۡرٰی
فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ -- Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya, lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka menenggelamkan kamu karena kamu kafir? ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami. وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ
اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی
کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah memuliakan keturunan
Adam, dan Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, dan Kami
beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami
melebihkan mereka dengan suatu keutamaan
atas kebanyakan dari yang telah
Kami ciptakan. (Bani Israil [17]:67-71).
Keunggulan Bani Adam
(Manusia) Sebagai “Khalifah Allah”
Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri
dan mendoa kepada Allah Swt. serta berjanji dan bersumpah
akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong
seperti sediakala serta mempersekutukan Allah Swt. dan menisbahkan
keberhasilan duniawinya kepada kemampuan
dan upaya
dirinya sendiri, seperti pengakuan Qarun (QS.28:77-83).
Makna ayat:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ
مِّنَ الطَّیِّبٰتِ --
“Dan sungguh Kami benar-benar telah
memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, dan Kami
beri mereka rezeki yang baik-baik,” Allah Swt. telah memberikan kemuliaan yang sama
kepada seluruh anak-cucu Adam (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa
atau suku bangsa tertentu.
Ayat ini melenyapkan segala anggapan
bodoh mengenai perasaan lebih mulia
atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan.
Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua
saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas
kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
Diberi
tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh.
Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab,
lebih-lebih kepada orang Arab seperti Nabi Besar Muhammad saw. — yang selama masa hidup beliau saw. tidak
pernah mengalami perjalanan laut —
telah memberi tekanan yang begitu hebat
mengenai pentingnya perjalanan laut, kenyataan
tersebut sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang
dari kalangan Non Muslim (QS.16:104;
QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw. tidak
mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
Karena
manusia adalah khalifah Allah di
permukaan bumi maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain: وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ
مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu
keutamaan atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.”
Review (Tanggapan) Masih
Mau’ud a.s. atas Buku Sir Sayid
Ahmad Khan Sahib K.C.S.I. Berkenaan “Pengabulan
Doa”
Kembali kepada masalah pengabulan doa dan hubungannya
dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat.
Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Sehubungan pendapat keliru Sir
Ahmad Khan berkenaan dengan firman
Allah Swt.: "Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,” dalam
buku “Barakatud-Du’a”
(Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Wahai
engkau tawanan intelek sendiri, janganlah berbangga dengan diri engkau,
karena alam semesta yang indah telah
banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka
yang terasing dari Tuhan tak akan pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia Sang Kekasih hanya dibuka bagi
mereka yang datang dari surga. Mencoba sendiri menduga rahasia Al-Quran
adalah kebodohan, yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan
kotoran semata.”
Dalam buku kecilnya Sayid
Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
“Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon
akan selalu mendapat apa yang dimintanya.
Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan
doa maka akan muncul dua bentuk
kesulitan:
Kesulitam
pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah
hati ternyata tidak dipenuhi,
berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan
doa manusia.
Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa
apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir.
Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan,
maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61)
tidak berlaku pada permohonan yang tidak
ditetapkan takdirnya.
Menurut penafsiran di atas maka janji umum mengenai pengabulan doa jadinya tidak benar karena hanya permohonan yang sejalan dengan takdir
yang akan dikabulkan, padahal janji pengabulan doa itu bersifat umum dan tidak tunduk pada pengecualian apa pun.
Beberapa ayat
lain mengindikasikan bahwa segala
hal yang tidak ditakdirkan tidak
akan dikabulkan, sedangkan ayat-ayat
lain mengindikasikan bahwa tidak ada permohonan doa yang ditolak dan semuanya akan dikabulkan. Ayat yang menyatakan:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61)
Jadi, satu-satunya cara guna menyelesaikan kontradiksi di antara ayat-ayat
tersebut adalah dengan menafsirkan
pengabulan doa sebagai pengabulan
ibadah. Karena itu doa harus ditafsirkan sebagai salah satu bentuk ibadah, yang atasnya terdapat janji Tuhan akan diterima jika dilakukan secara tulus dan penuh hasrat. Pengabulan doa dengan demikian berarti
sebagai perolehan nilai lebih dalam
bentuk ibadah.
Dalam hal suatu karunia sudah ditakdirkan dan termasuk yang diminta
maka pengabulannya bukan karena doa tetapi karena memang sudah ditakdirkan demikian. Manfaat utama dari doa ialah jika dengan melalui berdoa
hati manusia diarahkan kepada Kebesaran
Ilahi dan Kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, sehingga fikirannya
akan mampu mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran yang menjadi sumber
keresahan, untuk kemudian merasakan munculnya kesabaran dan keteguhan hati. Kondisi hati demikian dihasilkan oleh ibadah dan inilah yang dimaksud dengan pengabulan doa.”
Pengabulan
Doa dan Prinsip Penafsiran Al-Quran
Terhadap
pendapat keliru Sir Sayid Ahmad Khan tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Sayid Sahib memperhatikan, bahwa orang-orang yang tidak menyadari realitas doa dan kebijakan
yang inheren (melekat) di dalamnya,
mereka ini berpandangan bahwa jika sesuatu sudah
ditakdirkan tidak akan terjadi,
lalu doa jadinya dianggap tidak ada gunanya. Dengan kata lain,
apa yang ditakdirkan akan terjadi
dengan sendirinya dan akan mewujud
-- terlepas apakah diminta atau tidak
melalui doa -- dan jika memang tidak ditakdirkan maka seribu
doa pun tak akan membantu.
Karena itu mereka beranggapan doa
itu tidak ada gunanya dan sia-sia adanya.
Menjawab hal
ini, Sayid Sahib menyatakan bahwa memohon
pertolongan di saat kesulitan sudah menjadi karakteristik fitrat manusia dan seseorang berdoa karena fitrat alamiahnya
tanpa memikirkan apakah yang dimohonkan
itu akan mewujud ataukah tidak. Karena karakteristik demikian itu maka manusia diperintahkah berdoa kepada Tuhan
untuk segala hal yang didambakannya.”
Rangkuman dari pandangan Sayid Sahib ini menggambarkan
keyakinan yang bersangkutan bahwa doa tidak
bisa menjadi sarana guna mencapai sasaran seseorang dan juga tidak ada pengaruhnya atas hasil
kinerja manusia. Manusia dianggap tidak
perlu berdoa karena apa yang sudah
ditakdirkan tidak akan dapat diubah, sedangkan yang tidak ditakdirkan tidak juga akan dikabulkan. Ketulusan hati dan ketekunan berdoa dianggap tidak
ada manfaatnya. Ia menganggap doa
hanya sebagai bentuk salah satu ibadah
saja, yang tidak ada gunanya sebagai
sarana untuk mencapai suatu tujuan khusus.
Insya Allah kami akan bisa menunjukkan bahwa Sayid Sahib secara menyedihkan telah mensalah-artikan ayat-ayat
Al-Quran di atas. Sayang sekali kami
terpaksa menyimpulkan bahwa daya nalar
Sayid Sahib belum sampai bisa menggapai tafsir Al-Quran. Apakah ia saat
menulis booklet (buku kecil) itu mengabaikan
hukum alam yang katanya selalu ditaatinya karena dianggap merupakan penterjemahan dari bimbingan Ilahi atas misteri
tersembunyi dalam Al-Quran?
Apakah Sayid
Sahib tidak menyadari bahwa meskipun
tidak ada apa pun -- baik atau pun buruk -- yang bebas dari ketentuan takdir,
namun alam telah memberikan sarana-sarana
guna mencapai kebaikan atau keburukan dimana efek hakikinya tidak diragukan oleh seorang yang bijak? Sebagai contoh, walau meyakini adanya takdir, tetapi tindakan berusaha memperoleh pengobatan ketika sakit apakah tidak sama dengan upaya
berdoa menginginkan sesuatu?
Apakah Sayid
Sahib akan mengatakan juga bahwa ilmu
kedokteran tidak ada dasarnya dan semua
pengobatan tidak ada artinya? Jika ia berkeyakinan
akan hal takdir, tetapi ia masih mempercayai kalau pengobatan tetap masih
ada gunanya, lalu mengapa ia mengadakan
perbedaan di antara kaidah ini
dengan kaidah lainnya yang sejajar?
Apakah ia meyakini bahwa Tuhan Yang memiliki kekuasaan untuk membekali fitrat beberapa obat-obatan guna menyembuhkan penyakit dalam satu dosis, atau adanya racun yang seketika bisa memindahkan nyawa manusia dari
dunia ini, lalu Dia juga mengabaikan
dan menelantarkan permohonan doa
dari para hamba pilihan-Nya yang
diajukan secara tekun dan tulus?
Apakah mungkin terdapat kontradiksi
dalam sistem Ilahi sehingga rancangan Ilahi yang berfungsi bagi kesejahteraan hamba-Nya melalui sarana pengobatan ternyata tidak berlaku dalam masalah pengajuan doa?
Filosofi dan Efektivitas Doa
yang Luar Biasa
Tidak demikian
halnya. Sayid Sahib rupanya tidak
mengenal filosofi hakiki dari doa
dan tidak mempunyai pengalaman pribadi
berkaitan dengan efektivitasnya yang
demikian luhur. Keadaan yang
bersangkutan (Sayid Ahmad) mirip
dengan seseorang yang untuk suatu jangka waktu tertentu menggunakan obat-obatan kadaluarsa yang telah kehilangan segala keampuhannya, lalu menyimpulkan bahwa secara umum yang namanya pengobatan
itu tidak ada gunanya.
Sayid Sahib ini
sudah berusia lanjut, namun sistem
alamiah yang mengatur bahwa takdir itu terkait langsung dengan sarana
rupanya belum sampai dipahaminya. Hal inilah yang menjadikan
ia keliru mengambil kesimpulan
dengan menyatakan bahwa segala sesuatu
bisa berlaku tanpa intervensi (campur-tangan) sarana ruhani dan jasmani
yang telah disediakan alam.
Secara umum, tidak ada sesuatu apa pun yang bebas dari takdir. Seseorang yang mengambil manfaat dari api, udara, air, tanah, gandum, sayuran, hewan atau pun mineral,
melakukannya berdasarkan ketentuan
takdir. Hanya seorang yang bodoh
saja yang akan berkata bahwa tanpa
bantuan dari sarana yang diberikan Allah Swt. dan tanpa mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh alam lalu
menyatakan bahwa ada yang bisa diperoleh
tanpa mediasi (perantaraan) sarana
jasmani atau ruhani. Orang
seperti itu sesungguhnya mendustakan
kebijakan Allah Yang Maha Agung.
Pengertian dari
keseluruhan di atas ini ialah Sayid
Sahib menyatakan kalau ia tidak
menganggap doa sebagai salah satu
sarana efektif, meski eksistensinya
(keberadaannya) diakui. Dalam hal
ini sebenarnya ia telah melampaui batas.
Sebagai contoh, jika ada orang yang menceritakan kepadanya perihal pengaruh api ia tidak akan menyangkalnya. Ia tidak
akan menyangkal bahwa seseorang yang ditakdirkan
akan terbakar lalu bisa
terbakar tanpa adanya mediasi api.
Karena itu aku menjadi heran, karena
sebagai seorang Muslim ia menyangkal
efektivitas doa yang mampu menerangi
kegelapan seperti nyala api dan
bahkan terkadang membakar tangan mereka
yang jahil.
Apakah ia sedang mengingat takdir ketika sedang berdoa, dan melupakannya
ketika disebutkan api atau yang sejenisnya?
Apakah bukan takdir yang sama yang
mencakup keduanya? Sesungguhnya ia tidak menyadari efek dari doa dan tidak mempunyai pengalaman pribadi berkenaan dengan itu, begitu
pula ia tidak beruntung bisa memiliki
kedekatan dengan mereka yang
memiliki pengalaman demikian.
Mukjizat Terjadi Berkat Pengabulan Doa
Subyek pengabulan doa merupakan cabang atau bagian dari subyek sebuah
doa. Seseorang yang tidak memahami
prinsipnya, tentunya akan kesulitan
juga dalam memahami bagian atau cabangnya. Hal inilah yang mendasari kesalahpahaman Sayid Sahib. Dalam prinsip doa terdapat hubungan ketertarikan mutualistis
(timbal-balik) di antara seorang hamba
yang saleh dengan Tuhan-nya.
Fitrat Pemurah atau Rahmāniyat
Ilahi akan menarik seorang
hamba kepada Diri-Nya Sendiri.
Lalu dengan ketulusannya hamba ini
mendekati Allah Yang Maha Kuasa dimana doa
dalam perhubungan seperti itu akan
mencapai suatu tingkatan yang memunculkan nilai-nilai yang luar biasa.
Ketika seorang hamba yang sedang dihimpit kesulitan lalu mendekati Tuhannya dengan keyakinan penuh, harapan, kecintaan yang
sempurna, kesetiaan dan keteguhan hati, ia kemudian menjadi waspada serta membuang jauh-jauh segala tirai ketidak-acuhan untuk maju ke
tahapan memfanakan (menenggelamkan) dirinya sendiri, maka ia akan melihat hadirat Ilahi dimana Dia tidak mempunyai serikat. Jiwanya
akan bersujud di gerbang itu dan kekuatan daya tarik yang menjadi fitrat dirinya akan menarik karunia Allah Swt. kepada
dirinya tersebut. Lalu Tuhan Yang Maha
Agung akan memenuhi tujuan dari doa
tersebut serta menebarkan efek doa
di atas segala sarana yang dibutuhkan guna pencapaian tujuan doa.
Sebagai contoh,
jika yang didoakan adalah turunnya hujan, maka bentuk pengabulannya adalah dengan terciptanya sarana alamiah bagi
terbentuknya hujan. Kalau yang didoakan adalah mengenai bencana kelaparan maka Allah Swt. akan menciptakan sarana guna mengatasinya.
Sudah dibuktikan secara nyata kepada mereka
yang sering mengalami kasyaf bahwa
dalam doa seorang yang sempurna akan
tercipta kekuatan untuk membentuk. Dengan kata lain, dengan perintah Allah Swt. doa itu mempengaruhi dunia bawah dan atas yang menggerakkan semua unsur-unsur dan benda-benda angkasa serta hati
manusia ke arah yang diinginkan.
Banyak sekali contoh-contoh mengenai hal ini dalam kitab-kitab suci Allah Swt.
Pengaruh Doa Lebih Besar daripada Api
Beberapa jenis mukjizat sebenarnya merupakan realisasi (perwujudan) pengabulan doa. Sumber dari ribuan
mukjizat yang dimanifestasikan
oleh para nabi serta keajaiban
yang diperlihatkan orang-orang suci sebenarnya
adalah doa dimana melalui efek doa inilah maka kejadian-kejadian ajaib tersebut mewujud memperlihatkan kekuasaan dari Yang Maha Perkasa.
Apakah kalian
menyadari apa yang terjadi di padang
pasir Arabia, dimana ratusan ribu
mereka yang mati telah hidup kembali dalam beberapa hari, mereka yang telah membusuk selama beberapa generasi kemudian pulih
dengan rona Ilahi, dimana yang buta lalu melihat serta lidah
mereka yang kelu mulai dialiri wawasan Ilahi.
Revolusi seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya di dunia, tidak ada yang pernah melihat
atau pun mendengar sebelumnya. Semua
itu adalah berkat doa yang dilantunkan di kegelapan malam oleh seorang yang sepenuhnya fana (tenggelam) di jalan Allah Swt. Ternyata hasilnya
menimbulkan kegemparan di seluruh
dunia dan memanifestasikan berbagai keajaiban yang diperkirakan tidak mungkin muncul dari seorang
buta huruf yang tak berdaya.
Ya Allah turunkanlah berkat dan salam
atas diri dan pengikutnya sebanding dengan penderitaan
dan kesedihannya demi umat dan turunkanlah atas dirinya Nur
kasih-Mu selama-lamanya’
Aku telah mengalami bahwa dampak dari doa itu lebih besar daripada dampak
api atau air. Bahkan
sesungguhnya dalam sistem sarana alamiah
tidak ada yang lebih besar efeknya
(pengaruhnya) dibanding doa.
Sarana Ruhani dan Jasmani
Kalau ada yang bertanya mengapa ada doa yang tidak dikabulkan dan tidak nampak efeknya secara nyata? Aku akan mengatakan bahwa keadaannya sama juga dengan pengobatan kedokteran. Apakah yang
namanya obat kedokteran bisa menutup gerbang kematian, apakah tidak
mungkin obat ini gagal dalam pemanfaatannya?
Namun meski demikian, apakah lalu orang akan menyangkal pengaruhnya? Memang benar
bahwa yang namanya takdir itu melingkupi segalanya, namun takdir juga tidak akan mensia-siakan atau mengingkari
pengetahuan, tidak juga menjadikan sarana-sarana
menjadi tidak berguna.
Perenungan yang
mendalam akan memperlihatkan bahwa sarana
jasmani dan sarana ruhani tidak
berada di luar takdir. Sebagai
contoh, jika nasib seorang pasien nyatanya bagus, maka sarana guna
memperoleh pengobatan yang tepat
akan menjadi tersedia dan tubuhnya akan memanfaatkan sarana tersebut. Dalam keadaan demikian maka pengobatan menjadi amat efektif.
Hal yang sama juga berlaku dalam berdoa.
Semua sarana dan kondisi bagi pengabulan doa akan muncul
saat rancangan Ilahi mengarah kepada
pengabulan. Allah Yang Maha Agung telah mempertautkan sistem fisikal dan spiritual dalam urutan rantai kausa (sebab) dan efek yang sama. Adalah suatu kesalahan besar di pihak Sayid Sahib bahwa ia mengakui keberadaan sistem fisikal tetapi mengingkari sistem spiritual.
Rasanya juga
perlu ditambahkan di sini, bahwa jika Sayid Sahib tidak bertobat atas pandangannya
yang salah dan ia meminta bukti
dari pengabulan doa, maka aku ini sudah ditugaskan Tuhan untuk mengusir
kesalah-pahaman demikian. Aku berjanji
bahwa aku akan memberitahukan di muka
kepada yang bersangkutan mengenai pengabulan doa-doaku dan akan menerbitkannya
berupa cetakan, dengan syarat Sayid
Sahib berjanji mengubah pandangannya setelah menyaksikan hasil pernyataanku.
Haruskah Semua Doa Dikabulkan?
Sayid Sahib
menyatakan bahwa dalam Al-Quran diungkapkan kalau Tuhan telah menjanjikan pengabulan semua doa, sedangkan kenyataannya ada juga doa yang tidak
dikabulkan. Hal ini merupakan kesalah-pahaman
yang bersangkutan atas ayat:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61)
Doa yang dimaksud dalam ayat ini sebagai perintah bukanlah doa biasa,
tetapi ibadah yang telah menjadi kewajiban. Tidak semua doa merupakan kewajiban. Di beberapa tempa Allah
Yang Maha Luhur memuji mereka yang berhati teguh dimana pada saat ada cobaan, mereka ini berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt..
Dalam ayat
tersebut doa bukan saja diperintahkan tetapi selanjutnya juga
dijelaskan bahwa doa itu sebagai ibadah yang jika tidak dilaksanakan akan menghadapi hukuman siksa neraka. Jelas pada kasus doa lainnya peringatan ini tidak ditambahkan.
Bahkan dalam beberapa kejadian para nabi ditegur berkaitan dengan doa mereka. Ayat yang menyatakan:
اِنِّیۡۤ اَعِظُکَ اَنۡ
تَکُوۡنَ مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ
“Aku nasihatkan kepada engkau supaya engkau
jangan termasuk orang-orang yang jahil”
(Hūd [11]:47), adalah sebuah contoh. Ayat ini menunjukkan jika setiap doa merupakan ibadah maka Nabi Nuh a.s. tidak akan ditegur berkenaan dengan doa beliau.
Dalam beberapa
situasi, para nabi dan orang-orang suci menganggap tidak patut untuk memohon. Para muttaqi (orang-orang bertakwa) mengikuti
kata hati mereka berkaitan dengan doa
seperti itu, pada saat musibah jika hati mereka menyarankan doa maka mereka akan berdoa, dimana hati mereka menyarankan bersiteguh
maka mereka akan bersiteguh dan tidak berdoa. Lagi pula Tuhan tidak ada menjanjikan pengabulan doa dalam segala hal, malah menyatakan bahwa Dia akan mengabulkan bila Dia
mau dan akan menolak jika Dia tidak berkenan. Hal ini jelas
dikemukakan dalam ayat:
بَلۡ اِیَّاہُ تَدۡعُوۡنَ
فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ اِنۡ
شَآءَ
Tidak, bahkan Dia-lah yang akan kamu seru, maka Dia akan menghilangkan apa yang untuk
menghilangkannya kamu berseru kepada-Nya, jika Dia menghendaki (Al-An’ām
[6]:42).
Syarat Dikabulkannya Doa
Meski pun kita
menganggap bahwa istilah “Serulah Aku” sebagai doa, kita harus memastikan
bahwa yang dimaksud dengan doa
adalah yang telah memenuhi semua
persyaratan dan keadaan yang dihadapi sudah tak mungkin bisa diatasi
manusia kecuali dibantu Tuhan.
Kerendahan hati semata tidaklah cukup untuk berdoa, karena juga harus dilambari ketakwaan, kesucian, kejujuran, kepastian, kasih dan perhatian (konsentrasi/tawajuh) yang
sempurna.
Harus pula diperhatikan bahwa yang
diminta tidak bertentangan
dengan rancangan Ilahi bagi kesejahteraan si pemohon, baik di dunia
maupun di akhirat, atau kemaslahatan orang yang didoakan. Acap terjadi, meski semua peryaratan telah dipenuhi, tetapi
tujuan yang dimintakan melalui doa sebenarnya bertentangan dengan rancangan
Ilahi yang tidak ada gunanya
dikabulkan.
Sebagai contoh,
jika seorang anak menangis meminta
kepada ibunya untuk diberi api
menyala, seekor ular berbisa
atau racun yang terlihat enak, maka ibu itu tidak akan mengabulkan
permintaannya. Kalau si ibu ini
menuruti kehendak anaknya dan si
anak mungkin selamat nyawanya tetapi
sebagian dari anggota tubuhnya akan
menjadi rusak tidak berguna lagi. Bila anak ini dewasa nanti maka ia akan menyesali ibunya yang ceroboh.
Ada lagi beberapa
persyaratan lain yang jika tidak ada maka permohonannya tidak pantas disebut sebagai doa. Sepanjang suatu doa
tidak diilhami oleh keruhanian penuh dan tidak ada hubungan dekat di antara ia yang mendoakan dengan orang yang didoakan, kecil sekali harapan akan dikabulkannya
doa yang bersangkutan. Kecuali ada perkenan
Allah Swt. bagi pengabulan doa,
belum semua persyaratan jadinya
dianggap telah dipenuhi.
Sayid Sahib
mengakui bahwa karunia di akhirat
nanti dalam bentuk berkat, kesenangan dan ketentraman, adalah hasil dari keimanan
dan doa yang tulus. Jika demikian,
maka Sayid Sahib harus mengakui
bahwa doa seorang beriman akan berpengaruh
dan menjadi penyebab diangkatnya musibah
serta dicapainya tujuan yang dicari.
Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin hal ini akan menolongnya di Hari
Penghisaban? Bila doa dianggap tak berguna dan tidak bisa untuk mengangkat (menghilangkan) musibah dalam kehidupan sekarang, bisakah hal itu
menjadi penolongnya di Hari Kiamat
nanti?
Kalau mau
dikatakan bahwa doa sesungguhnya memiliki potensi memelihara kita dari
segala musibah, maka hal itu harus
dimanifestasikan di dunia ini juga, dengan demikian keimanan dan harapan
kita akan menjadi lebih baik
sehingga kita akan menjadi lebih rajin
berdoa bagi keselamatan kita di akhirat.
Jika doa dianggap tidak ada artinya karena apa
yang sudah disuratkan takdir pasti akan terjadi, maka sejalan dengan pandangan Sayid Sahib, doa itu tidak ada gunanya menghadapi musibah di dunia, dan dengan
sendirinya juga tidak ada gunanya bagi
kehidupan di akhirat, dan dengan demikian maka tidak ada harapan lagi.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz
Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. VI, hlm. 5-14,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 30 Juli 2016