Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
NABI IBRAHIM A.S. BERDA'WAH DENGAN CARA "SINDIRAN" DALAM
MEMBERANTAS KEMUSYRIKAN
& MUKJIZAT “DINGINNYA
KOBARAN API”BAGI NABI IBRAHIM A.S.
Bab 8
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai penyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt. –
sebagai penyebab timbulnya “kemusyrikan” di kalangan umat beragama yang berpegang pada Tauhid Ilahi -- bahwa karena Allah
Swt. adalah Pemilik segala Sifat terbaik
yang tersebut dalam Al-Quran (QS.7:181; QS.49:23-25) dan Hadits, maka tidak
perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat
lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih
Sayang-Nya yang meliputi segala-gala, karena hal tersebut menjadi penyebab
timbulkan syirik dan berbagai bentuk kemusyrikan, sebagaimana
yang terjadi di golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga
Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan
cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. (At-Taubah [9]:30-32).
Keadaan seperti itu terjadi juga di kalangan umat Islam -- terutama di Akhir Zaman ini --sehingga genaplah nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa keadaan umat Islam akan seperti keadaan kaum Yahudi dan Nashrani bagaikan persamaan sepasang sepatu.
Keadaan seperti itu terjadi juga di kalangan umat Islam -- terutama di Akhir Zaman ini --sehingga genaplah nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa keadaan umat Islam akan seperti keadaan kaum Yahudi dan Nashrani bagaikan persamaan sepasang sepatu.
Kemusyrikan di Kalangan Golongan Ahli Kitab
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam
Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat
kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut,
mempercayai beliau sebagai anak Allah.
Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan
beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti
dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi,
beliau dianggap patut jadi wahana pengemban
syariat seandainya syariat itu
tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s..
Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil
(Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia
Biblica).
Ahbar
adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban
adalah para rahib agama Nasrani: sebagaimana firman-Nya: "Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga
Al-Masih ibnu Maryam.”
Kegagalan Makar Buruk Golongan Ahli Kitab Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. & Tujuan Utama Pengutusan Para Rasul Allah
Makna
ayat selanjutnya: "Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak bahkan
menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai,” orang-orang Nasrani
yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan
mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab melalui pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. yang merupakan
penggenapan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan
18:15-19; QS.46:11).
Demikian pula orang-orang Yahudi
pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut
orang-orang Parsi (Kisra Iran) untuk
bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw. namun makar-makar buruk mereka gagal-total,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya. (At-Taubah [9]:33).
Guna mengembalikan manusia
dari kegelapan
kemusyrikan kepada cahaya Tauhid
Ilahi itulah maka Allah Swt. senantiasa mengutus para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah
Maha Mendengar, Maha Melihat. یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ -- Dia
mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun
yang di belakang mereka, وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- dan kepada Allah-lah
segala urusan dikembalikan (Ibrahim [14]:76-77).
Dalam ayat tersebut sama sekali
tidak disinggung mengenai “makhluk halus”
yang juga disebut jin, berarti bahwa para rasul
Allah hanya muncul dari kalangan malaikat
dan dari kalangan manusia (an-nās),
dengan demikian tidak ada kewajiban
bagi manusia untuk berda’wah kepada
golongan makhluk halus yang juga
disebut jin, karena yang dimaksud
dengan kata jin dalam QS.51:57 sama sekali tidak tertuju kepada makhluk
halus jin melainkan kepada segolongan manusia
juga, yang karena dalam status sosial berbeda dengan ins (masyarakat umum) maka Allah Swt. menyebutnya jin -- yang dari kalangan jin (para pemuka kaum) inilah iblis
yang menentang Adam (Khalifah Allah) berasal
(QS.18:51).
Cara Khas Nabi Ibrahim a.s. Memberantas Kemusyrikan
Dalam memberantas kemusyrikan
di kalangan kaum purbakala, Nabi
Ibrahim a.s. memiliki ciri khas tersendiri,
yaitu melalui sindiran, firman-Nya: وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ
رُشۡدَہٗ مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ
عٰلِمِیۡنَ -- “Dan sungguh sebelumnya Kami benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim
petunjuknya dan Kami
mengetahui benar tentang dia. اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا
ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ
لَہَا عٰکِفُوۡنَ -- Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: -- “Patung-patung apakah ini yang kamu
duduk tekun menyembah kepadanya?” قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ
اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ
وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Ia, Ibrahim, berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” قَالُوۡۤا اَجِئۡتَنَا بِالۡحَقِّ اَمۡ اَنۡتَ مِنَ اللّٰعِبِیۡنَ -- Mereka berkata:
“Apakah yang engkau datangkan kepada kami itu adalah haq, ataukah engkau termasuk
orang-orang yang bermain-main?” قَالَ بَلۡ
رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ -- Ia berkata: “Tidak,
bahkan Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi,
Dia-lah Yang telah menciptakannya,
وَ اَنَا
عَلٰی ذٰلِکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- dan atas
hal itu aku termasuk orang-orang
yang menjadi saksi. وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا
مُدۡبِرِیۡنَ -- Dan
demi Allah, niscaya aku
akan membuat rencana melawan berhala-berhala
kamu, setelah kamu berlalu
membalikkan punggungmu.” فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ
لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, kecuali yang terbesar dari berhala mereka, لَعَلَّہُمۡ
اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- supaya mereka kembali kepadanya. قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا
بِاٰلِہَتِنَاۤ اِنَّہٗ لَمِنَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat
demikian terhadap tuhan-tuhan kami?
Sesungguhnya ia benar-benar orang yang zalim!” قَالُوۡا سَمِعۡنَا
فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ اِبۡرٰہِیۡمُ --
Mereka berkata: “Kami mendengar seorang
pemuda yang mencela mereka, ia disebut Ibrahim.“ قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ
کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ
اِنۡ کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ -- Mereka berkata: “Maka bawalah dia ke hadapan mata manusia supaya mereka dapat menjadi sak-si.”
قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ -- Mereka berkata: “Apakah engkau yang telah berbuat seperti ini terhadap
tuhan-tuhan kami, ya Ibrahim?” قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ
-- Ia
menjawab: “Bahkan, seseorang telah berbuat itu. کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا
فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ اِنۡ کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ -- Di
antara mereka yang besar ini maka tanyakanlah
kepada mereka jika mereka dapat
berkata-kata.” فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- Maka mereka
kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sendiri orang-orang yang zalim.” ثُمَّ نُکِسُوۡا عَلٰی رُءُوۡسِہِمۡ ۚ -- Kemudian mereka
sambil menundukkan kepala mereka berkata: لَقَدۡ
عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ یَنۡطِقُوۡنَ -- “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa mereka
itu tidak dapat berkata-kata.” قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ شَیۡئًا وَّ
لَا یَضُرُّکُمۡ -- Ia,
Ibrahim, berkata: ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak
memudaratkanmu? اُفٍّ لَّکُمۡ وَ
لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ -- “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang kamu sembah selain Allah! اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Apakah kamu tidak mengerti?” قَالُوۡا
حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ -- Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.” قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ
سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami berfirman: “Hai api, ja-dilah kamu dingin
dan keselamatan atas Ibrahim!”
وَ
اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi. وَ نَجَّیۡنٰہُ وَ لُوۡطًا
اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا
فِیۡہَا لِلۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati
di dalamnya untuk seluruh umat manusia.” (Al-Anbiya [21]:53-72).
Cara Da’wah
Nabi Ibrahim a.s. Membungkam Mulut
Orang-orang Musyrik
Huruf mā
dalam ayat: اِذۡ قَالَ
لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ
اَنۡتُمۡ لَہَا عٰکِفُوۡنَ -- Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: -- “Patung-patung apakah ini yang kamu
duduk tekun menyembah kepadanya?” di sini menunjukkan celaan dan bukan suatu pertanyaan. Ketika berbicara dengan penyembah-penyembah berhala, biasanya
Nabi Ibrahim a.s. mempergunakan sindiran,
lihat QS.6:77, 78, 79.
Beliau agaknya mengatakan kepada kaumnya “Betapa tidak bergunanya dan sia-sianya patung-patung yang kamu puja ini.”
Jika Nabi Ibrahim a.s. biasa
berbicara dengan memakai bahasa sindiran,
maka Nabi Isa Inmu Maryam a.s. berbicara dengan bahasa kiasan atau perumpamaan.
Makna ayat:
قَالَ بَلۡ رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ -- Ia berkata: “Tidak,
bahkan Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi,
Dia-lah Yang telah menciptakannya
ini mengisyaratkan kepada kebenaran agung bahwa bila utusan-utusan Ilahi menuturkan sesuatu
mengenai Tuhan, mereka berbicara atas pengalamannya
sendiri.
Mereka tidak memanggil manusia kepada Allah
Swt. hanya semata-mata karena akal manusia menuntut
kepercayaan kepada adanya Tuhan,
tetapi mereka berbuat demikian dengan keyakinan
yang patuh dan keimanan yang kokoh-kuat, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ اَدۡعُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ ۟ؔ عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ اَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ ؕ وَ سُبۡحٰنَ
اللّٰہِ وَ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah, hai
Rasulullah: ”Inilah jalanku, aku memanggil kepada Allah. Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata. Dan Maha
Suci Allah, dan aku sama sekali
bukan dari golongan orang-orang musyrik. (Yusuf [12]:109).
Taqlid Buta yang Disertai Fanatisme Buta
Kepercayaan buta dan tanpa dipikir,
dan yang tidak didasarkan atas alasan-alasan
sehat serta keyakinan yang kuat,
tidak ada harganya dalam pandangan Allah Swt., yakni sekedar taqlid buta mengikuti adat-kebiasaan para orang tua (nenek-oyang) mereka,
sebagaimana jawaban ayah mertua Nabi
Ibrahim a.s. terhadap “sindiran” Nabi Ibrahim a.s.: قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ
اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ -- “Mereka berkata: “Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”
Kata
pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada
Tuhan atau kepada berhala yang paling besar atau kepada Ibrahim
a.s. sendiri: فَجَعَلَہُمۡ
جُذٰذًا اِلَّا کَبِیۡرًا لَّہُمۡ
لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- “Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, kecuali yang terbesar dari berhala mereka,
لَعَلَّہُمۡ
اِلَیۡہِ یَرۡجِعُوۡنَ -- supaya mereka kembali kepadanya.”
Dzakara-hu
berarti: ia membicarakan hal-hal yang baik atau tidak baik mengenai dia; ia
menyebutkan kesalahan-kesalahannya (Lexicon
Lane): قَالُوۡا مَنۡ
فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ اِنَّہٗ لَمِنَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat
demikian terhadap tuhan-tuhan kami?
Sesungguhnya ia benar-benar orang yang zalim!” قَالُوۡا سَمِعۡنَا
فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ اِبۡرٰہِیۡمُ --
Mereka berkata: “Kami mendengar seorang
pemuda yang mencela mereka, ia disebut Ibrahim.“
Alasan mengapa
Nabi Ibrahim a.s. dipanggil untuk menghadap orang-orang
banyak, ialah supaya mereka yang
telah mendengar beliau memburuk-burukkan berhala-berhala harus
memberi penyaksian terhadap beliau,
atau bahwa sesudah mendengar kesaksian yang memberatkan beliau dapat diputuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan terhadap beliau dan supaya mereka
dapat menyaksikan hukuman yang akan
dilaksanakan itu agar menjadi peringatan
bagi yang lainnya: قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ اِنۡ
کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ --
Mereka berkata: “Maka bawalah dia
ke hadapan mata manusia supaya mereka
dapat menjadi saksi.”
Berbalik Menjadi Pihak yang
Hina
Namun jawaban yang diberikan
Nabi Ibrahim a.s. atas dakwaan mereka
itu membuat keadaan menjadi terbalik, yakni pihak yang bermaksud menghinakan Nabi Ibrahim a.s. malah menjadi pihak yang “hina” karena dipermalukan oleh jawaban
Nabi Ibrahim a.s. yang sesuai petunjuk Allah Swt. telah beliau rancang: قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ
فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ -- Mereka berkata: “Apakah engkau yang telah berbuat seperti ini terhadap
tuhan-tuhan kami, ya Ibrahim?” قَالَ بَلۡ فَعَلَہٗ ٭ۖ
--
Ia (Ibrahim) menjawab: “Bahkan, seseorang telah berbuat itu. کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا
فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ اِنۡ کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ --
Di antara mereka yang besar
ini maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka
dapat berkata-kata.”
Selain
arti yang diberikan dalam teks, ungkapan dalam bahasa Arab itu boleh jadi telah
diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s. secara
sindiran seperti telah menjadi
kebiasaan beliau bila berbicara dengan kaum beliau, penyembah berhala-berhala. Dalam hal demikian
kata-kata itu kira-kira akan berarti sebagai berikut: “Mengapa
aku harus melakukan itu, barangkali berhala yang paling besar telah melakukan
itu”; maksudnya bahwa kenyataan itu jelas sekali sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi atau diperjelas lagi bahwa beliaulah yang melakukan itu. Sekiranya bukan beliau yang mengerjakannya, dapatkah
sebongkah batu yang tidak bernyawa mengerjakannya?
Jadi, Nabi Ibrahim a.s. nampaknya mencela kaumnya dan menjelaskan kepada mereka kesia-siaan perbuatan-perbuatan syirik mereka; pertama-tama dengan memecahkan berhala-berhala itu dan
kemudian dengan menantang
penyembah-penyembahnya supaya bertanya
kepada berhala-berhala itu, kalau
memang berhala-berhala itu dapat berbicara
untuk memberitahukan kepada mereka siapa yang telah memecahkan berhala-berhala itu: فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ
الظّٰلِمُوۡنَ -- Maka mereka
kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sendiri orang-orang yang zalim.” ثُمَّ نُکِسُوۡا عَلٰی رُءُوۡسِہِمۡ ۚ --
Kemudian mereka sambil menundukkan kepala mereka berkata: لَقَدۡ
عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ
یَنۡطِقُوۡنَ -- “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa mereka
itu tidak dapat berkata-kata.”
Ungkapan bahasa Arab itu dapat berarti, (a)
mereka kembali kepada keadaan kekafiran seperti semula, atau
tingkah-laku yang buruk; (b) mereka kembali
kepada perbantahan sesudah mereka
mengikuti jalan yang benar; (c) mereka menundukkan kepala karena malu
dan menjadi bungkam sama sekali (Lexicon Lane & Ruh-ul-Ma’ani): قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ شَیۡئًا وَّ
لَا یَضُرُّکُمۡ -- Ia,
Ibrahim, berkata: ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak
memudaratkanmu? اُفٍّ لَّکُمۡ وَ
لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ -- “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang kamu sembah selain Allah! اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Apakah kamu tidak mengerti?”
Membungkam Mulut Raja Namrud
yang Takabbur
Dalam surah lainnya jawaban Nabi Ibrhim a.s. yang sangat telak telah membungkam mulut raja Namrud (Nimrod) yang takabur, firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ
اِلَی الَّذِیۡ حَآجَّ اِبۡرٰہٖمَ فِیۡ رَبِّہٖۤ اَنۡ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
ۘ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّیَ الَّذِیۡ
یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۙ قَالَ اَنَا اُحۡیٖ وَ اُمِیۡتُ ؕ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ فَاِنَّ اللّٰہَ یَاۡتِیۡ بِالشَّمۡسِ مِنَ
الۡمَشۡرِقِ فَاۡتِ بِہَا مِنَ الۡمَغۡرِبِ فَبُہِتَ الَّذِیۡ کَفَرَ ؕ وَ اللّٰہُ لَا
یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Apakah engkau tidak memperhatikan orang yang membantah Ibrahim mengenai Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Allah telah memberi kerajaan kepadanya?
ۘ اِذۡ قَالَ
اِبۡرٰہٖمُ رَبِّیَ الَّذِیۡ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ -- Ketika Ibrahim berkata: ”Rabb-ku (Tuhan-ku)-lah Yang menghidupkan dan mematikan.” قَالَ اَنَا اُحۡیٖ
وَ اُمِیۡتُ -- Ia yakni Namrud menjawab:
“Aku pun berkuasa menghidupkan dan mematikan.”
قَالَ
اِبۡرٰہٖمُ فَاِنَّ اللّٰہَ یَاۡتِیۡ
بِالشَّمۡسِ مِنَ الۡمَشۡرِقِ فَاۡتِ بِہَا مِنَ الۡمَغۡرِبِ -- Ibrahim berkata: “Sesungguhnya
Allah menerbitkan matahari
dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat!” فَبُہِتَ الَّذِیۡ کَفَرَ -- Lalu terdiam kebingungan orang
yang kafir itu, وَ اللّٰہُ لَا
یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada kaum yang zalim (Al-Baqarah [2]:259).
Nabi Ibrahim a.s. itu seorang pemberantas-berhala besar. Kaumnya menyembah matahari dan bintang-bintang,
dewa utama mereka ialah Madruk yang
asalnya dewa pagi dan matahari musim semi (Encyclopaedia Biblica dan
Encyclopaedia
Religions and Ethics. II.
296). Mereka percaya bahwa semua
kehidupan bergantung pada matahari.
Nabi Ibrahim
a.s. dengan bijaksana meminta raja orang
musyrik itu --seandainya ia mengaku dapat mengatur hidup dan mati -- agar mengubah jalan tempuhan matahari yang padanya bergantung segala kehidupan itu. Orang kafir itu pun
kebingungan. Ia tidak dapat mengatakan tak dapat menerima tantangan
Nabi Ibrahim a.s. untuk menyuruh matahari beredar dari barat
ke timur,sebab hal demikian akan membatalkan pengakuannya sendiri sebagai pengatur hidup dan mati,
dan bila ia mengatakan dapat berbuat
demikian maka itu berarti ia menguasai matahari tetapi niscaya
merupakan suatu penghinaan besar pada
pandangan kaumnya, penyembah matahari.
Dengan demikian ia sama sekali menjadi bingung
dan tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.
Melakukan Tindak kekerasan & Api Menjadi “Dingin” Bagi Nabi Ibrahim a.s.
Sudah merupakan kebiasaan golongan mayoritas yang posisinya
terpojok dari segi “dalil” maka cara-cara kekerasanlah yang kemudian
mereka lakukan terhadap lawannya: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا
اٰلِہَتَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ -- Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”
قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan
atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.
Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun
tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun
Allah Swt. memang menimbulkan keadaan
khusus -- yang disebut mukjizat -- yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s. dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara
Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. Bagaimana caranya api itu menjadi dingin bagi
Nabi Ibrahim a.s. kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu
atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah
Swt. . memang menimbulkan
keadaan yang membawa kepada lolosnya
Nabi Ibrahim a.s.. dari bahaya.
Bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah dilemparkan ke dalam kobaran
api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen
juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari
dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa
tersebut (Hyde, De Rel. Vet
Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah
on Gen. Per. 17; Schalacheleth
Hakabala, 2; Maimon de Idol,
Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet,
6).
Melakukan Hijrah ke Kanaan (Negeri yang Dijanjikan)
Makna ayat selanjutnya: وَ نَجَّیۡنٰہُ وَ لُوۡطًا
اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا
فِیۡہَا لِلۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati
di dalamnya untuk seluruh umat manusia.” (Al-Anbiya [21]:72). Nabi
Ibrahim a.s. bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah
Ilahi - ke Kanaan
(Palestina) yang Allah Swt. telah tetapkan akan diberikan kepada keturunan beliau.
Perjalanan itu mempunyai tujuan
dan maksud yang tepat. Semua nabi Allah
yang besar atau para pengikut mereka -
sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi --
pada suatu waktu harus hijrah, meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk Nabi
Adam a.s. dan “istri” (pengikut) beliau, yang disalah-tafsirkan sebagai “pengusiran
beliau dari surga”, padahal mengisyaratkan
kepada peristiwa hijrah (QS.7:12-26), yang merupakan sunnah para Rasul Allah, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah selamat
dari upaya pembunuhan melakui penyaliban (QS.4:158-159) beliau hijrah
dari Palestina ke Kasymir (QS.23:51),sambil mencari 10 suku (domba-domba) Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan - Yohanes 10:10-16).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 26 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar