Selasa, 26 Juli 2016

Nabi Ibrahim a.s. Berda'wah Dengan Cara "Sindiran" Dalam Memberantas Kemusyrikan & Mukjizat "Dinginnya Kobaran Api" Bagi Nabi Ibrahim a.s.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA



 NABI IBRAHIM A.S. BERDA'WAH DENGAN CARA "SINDIRAN" DALAM   MEMBERANTAS KEMUSYRIKAN &  MUKJIZAT  DINGINNYA KOBARAN APIBAGI NABI IBRAHIM A.S.


Bab 8


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai  penyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt.   – sebagai penyebab timbulnya  “kemusyrikan” di kalangan umat beragama  yang berpegang pada Tauhid Ilahi  --   bahwa   karena Allah Swt. adalah  Pemilik segala Sifat terbaik yang tersebut dalam Al-Quran (QS.7:181; QS.49:23-25) dan Hadits, maka tidak perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi segala-gala, karena hal tersebut menjadi penyebab timbulkan syirik  dan berbagai bentuk kemusyrikan,  sebagaimana yang terjadi di golongan Ahli Kitab,  firman-Nya: 
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”    Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,   mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.   Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?      Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,  padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.    Tidak ada Tuhan kecuali Dia.    Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. (At-Taubah [9]:30-32).
       Keadaan seperti itu terjadi juga di kalangan umat Islam  -- terutama di Akhir Zaman ini  --sehingga genaplah nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa keadaan umat Islam akan seperti keadaan kaum Yahudi dan Nashrani bagaikan persamaan sepasang sepatu.

Kemusyrikan di Kalangan Golongan Ahli Kitab

      ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
    Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
    Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia  &  Encyclopaedia Biblica).
      Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani: sebagaimana firman-Nya: "Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam.”

Kegagalan Makar  Buruk Golongan Ahli Kitab Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. &  Tujuan Utama Pengutusan Para Rasul Allah

      Makna ayat selanjutnya: "Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai,” orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt.  di tanah Arab melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan penggenapan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-19; QS.46:11).
      Demikian pula orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang Parsi (Kisra Iran) untuk bangkit melawan  Nabi Besar Muhammad saw. namun makar-makar buruk mereka gagal-total, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:33).  
     Guna mengembalikan manusia dari  kegelapan kemusyrikan kepada cahaya Tauhid Ilahi itulah  maka Allah Swt. senantiasa mengutus para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya: 
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ    -- Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka,  وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Ibrahim [14]:76-77).
         Dalam ayat tersebut sama sekali tidak disinggung mengenai “makhluk halus” yang  juga disebut jin, berarti bahwa para rasul Allah hanya muncul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia (an-nās), dengan demikian tidak ada kewajiban bagi manusia untuk berda’wah kepada golongan makhluk halus yang juga disebut jin, karena yang dimaksud dengan kata jin dalam QS.51:57   sama sekali tidak tertuju kepada  makhluk halus jin melainkan kepada segolongan manusia  juga, yang karena dalam status sosial  berbeda dengan ins (masyarakat umum) maka Allah Swt. menyebutnya  jin  -- yang dari kalangan jin  (para pemuka kaum)  inilah iblis yang menentang Adam (Khalifah Allah) berasal (QS.18:51).

Cara  Khas Nabi Ibrahim a.s. Memberantas Kemusyrikan

        Dalam memberantas kemusyrikan di kalangan kaum purbakala, Nabi Ibrahim a.s. memiliki ciri khas tersendiri, yaitu melalui sindiran, firman-Nya:  وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  رُشۡدَہٗ  مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا  بِہٖ  عٰلِمِیۡنَ  -- “Dan  sungguh sebelumnya  Kami  benar-benar telah memberikan kepada Ibrahim petunjuknya  dan Kami mengetahui benar tentang dia. اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --   Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya:    -- “Patung-patung apakah ini  yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?”  قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ  --     Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.”  قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ  اَنۡتُمۡ  وَ اٰبَآؤُکُمۡ  فِیۡ  ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ  --   Ia, Ibrahim,  berkata: “Sungguh kamu dan bapak-bapakmu  benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” قَالُوۡۤا  اَجِئۡتَنَا بِالۡحَقِّ اَمۡ  اَنۡتَ مِنَ اللّٰعِبِیۡنَ   -- Mereka berkata: “Apakah  yang engkau datangkan kepada kami itu adalah haq, ataukah engkau termasuk orang-orang yang bermain-main?”   قَالَ بَلۡ رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ --  Ia berkata: “Tidak, bahkan Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, Dia-lah Yang telah menciptakannya, وَ اَنَا عَلٰی ذٰلِکُمۡ  مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ  -- dan atas hal itu aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi.     وَ تَاللّٰہِ لَاَکِیۡدَنَّ  اَصۡنَامَکُمۡ بَعۡدَ اَنۡ تُوَلُّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ   -- Dan demi Allah, niscaya  aku akan membuat rencana melawan berhala-berhala kamu, setelah kamu berlalu membalikkan punggungmu.”    فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  --     Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, kecuali yang terbesar dari berhala mereka, لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  --  supaya mereka kembali kepadanya.  قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ  اِنَّہٗ  لَمِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ --   Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat demikian terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia benar-benar  orang yang zalim!” قَالُوۡا سَمِعۡنَا فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ اِبۡرٰہِیۡمُ  --  Mereka berkata: “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka,  ia disebut Ibrahim.“  قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ   کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ  --  Mereka berkata: “Maka bawalah dia ke hadapan mata manusia supaya mereka dapat menjadi sak-si.”  قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ --   Mereka berkata: “Apakah engkau yang telah berbuat seperti  ini terhadap tuhan-tuhan kami, ya Ibrahim?” قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ        -- Ia menjawab: “Bahkan, seseorang telah berbuat itu. کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ    --  Di antara mereka yang besar ini  maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berkata-kata.” فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ     --  Maka mereka kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sendiri orang-orang  yang zalim.” ثُمَّ  نُکِسُوۡا عَلٰی  رُءُوۡسِہِمۡ ۚ   --  Kemudian mereka sambil  menundukkan kepala mereka berkataلَقَدۡ  عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ  یَنۡطِقُوۡنَ  --   “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berkata-kata.”  قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ  شَیۡئًا وَّ لَا  یَضُرُّکُمۡ   --  Ia, Ibrahim,  berkata:  ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak memudaratkanmu?  اُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ    --  “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang kamu sembah selain Allah! اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Apakah kamu tidak mengerti?” قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ  --    Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ --  Kami berfirman: “Hai api, ja-dilah kamu dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ  --   Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.  وَ نَجَّیۡنٰہُ  وَ لُوۡطًا  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا  فِیۡہَا  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati  di dalamnya untuk seluruh umat manusia.”  (Al-Anbiya [21]:53-72).

Cara Da’wah Nabi Ibrahim a.s. Membungkam Mulut Orang-orang Musyrik

      Huruf   dalam ayat: اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ  الَّتِیۡۤ  اَنۡتُمۡ  لَہَا  عٰکِفُوۡنَ  --   Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya:    -- “Patung-patung apakah ini  yang kamu duduk tekun menyembah  kepadanya?”   di sini menunjukkan celaan dan bukan suatu pertanyaan. Ketika berbicara dengan penyembah-penyembah berhala, biasanya Nabi Ibrahim a.s. mempergunakan sindiran, lihat QS.6:77, 78, 79.
     Beliau agaknya mengatakan kepada kaumnya “Betapa tidak bergunanya dan sia-sianya patung-patung yang kamu puja ini.” Jika Nabi Ibrahim a.s.  biasa berbicara dengan memakai bahasa sindiran, maka Nabi Isa Inmu Maryam a.s. berbicara dengan bahasa kiasan atau perumpamaan.
     Makna ayat:  قَالَ بَلۡ رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ --  Ia berkata: “Tidak, bahkan Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, Dia-lah Yang telah menciptakannya  ini mengisyaratkan kepada kebenaran agung bahwa bila utusan-utusan Ilahi menuturkan sesuatu mengenai  Tuhan, mereka berbicara atas pengalamannya sendiri.
      Mereka tidak memanggil manusia kepada Allah Swt. hanya semata-mata karena akal manusia menuntut kepercayaan kepada adanya Tuhan, tetapi mereka berbuat demikian dengan keyakinan yang patuh dan keimanan yang kokoh-kuat, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ ہٰذِہٖ سَبِیۡلِیۡۤ  اَدۡعُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ ۟ؔ عَلٰی بَصِیۡرَۃٍ  اَنَا  وَ مَنِ اتَّبَعَنِیۡ ؕ وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ  وَ مَاۤ   اَنَا مِنَ  الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah, hai Rasulullah:  Inilah jalanku, aku memanggil kepada Allah. Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas dalil yang nyata.  Dan Maha Suci Allah, dan aku sama sekali bukan dari golongan orang-orang musyrik.  (Yusuf [12]:109).

Taqlid Buta yang Disertai Fanatisme Buta

      Kepercayaan buta dan tanpa dipikir, dan yang tidak didasarkan atas alasan-alasan sehat serta keyakinan yang kuat, tidak ada harganya dalam pandangan Allah Swt., yakni sekedar taqlid buta mengikuti adat-kebiasaan  para   orang tua (nenek-oyang) mereka, sebagaimana jawaban ayah mertua Nabi Ibrahim a.s. terhadap “sindiran” Nabi Ibrahim a.s.: قَالُوۡا  وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ  -- “Mereka berkata:  “Kami  dapati bapak-bapak kami menyembahnya.” 
     Kata pengganti hi dalam ungkapan ilaihi, dapat mengisyarakatkan kepada Tuhan atau kepada berhala yang paling besar atau kepada Ibrahim a.s.   sendiri: فَجَعَلَہُمۡ جُذٰذًا  اِلَّا کَبِیۡرًا  لَّہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  -- “Maka ia membuat berhala-hala itu pecah berkeping-keping, kecuali yang terbesar dari berhala mereka, لَعَلَّہُمۡ اِلَیۡہِ  یَرۡجِعُوۡنَ  --  supaya mereka kembali kepadanya.” 
     Dzakara-hu berarti: ia membicarakan hal-hal yang baik atau tidak baik mengenai dia; ia menyebutkan kesalahan-kesalahannya (Lexicon Lane):  قَالُوۡا مَنۡ فَعَلَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَاۤ  اِنَّہٗ  لَمِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ --   Mereka berkata: “Siapakah yang telah berbuat demikian terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia benar-benar  orang yang zalim!” قَالُوۡا سَمِعۡنَا فَتًی یَّذۡکُرُہُمۡ یُقَالُ لَہٗۤ اِبۡرٰہِیۡمُ  --  Mereka berkata: “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka,  ia disebut Ibrahim.“ 
     Alasan  mengapa Nabi Ibrahim a.s.   dipanggil untuk menghadap orang-orang banyak, ialah supaya mereka yang telah mendengar beliau memburuk-burukkan berhala-berhala harus memberi penyaksian terhadap beliau, atau  bahwa sesudah mendengar kesaksian yang memberatkan beliau dapat diputuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan terhadap beliau dan supaya mereka dapat menyaksikan hukuman yang akan dilaksanakan itu agar menjadi peringatan bagi yang lainnya: قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ   کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ  --  Mereka berkata: “Maka bawalah dia ke hadapan mata manusia supaya mereka dapat menjadi saksi.

Berbalik Menjadi Pihak yang Hina

    Namun jawaban yang diberikan Nabi Ibrahim a.s. atas dakwaan mereka itu membuat  keadaan menjadi terbalik, yakni pihak yang bermaksud menghinakan Nabi Ibrahim a.s.  malah menjadi pihak yang “hina” karena dipermalukan oleh jawaban Nabi Ibrahim a.s. yang  sesuai petunjuk Allah Swt. telah beliau rancang: قَالُوۡۤا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ ہٰذَا بِاٰلِہَتِنَا یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ --   Mereka berkata: “Apakah engkau yang telah berbuat seperti  ini terhadap tuhan-tuhan kami, ya Ibrahim?” قَالَ بَلۡ  فَعَلَہٗ ٭ۖ        -- Ia (Ibrahim)  menjawab: “Bahkan, seseorang telah berbuat itu. کَبِیۡرُہُمۡ ہٰذَا فَسۡـَٔلُوۡہُمۡ  اِنۡ  کَانُوۡا یَنۡطِقُوۡنَ    --  Di antara mereka yang besar ini  maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berkata-kata.”
      Selain arti yang diberikan dalam teks, ungkapan dalam bahasa Arab itu boleh jadi telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s.  secara sindiran seperti telah menjadi kebiasaan beliau bila berbicara dengan kaum beliau, penyembah berhala-berhala. Dalam hal demikian kata-kata itu kira-kira akan berarti sebagai berikut:  “Mengapa aku harus melakukan itu, barangkali berhala yang paling besar telah melakukan itu”; maksudnya bahwa kenyataan itu jelas sekali sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi atau diperjelas lagi bahwa beliaulah yang melakukan itu. Sekiranya bukan beliau yang mengerjakannya, dapatkah sebongkah batu yang tidak bernyawa mengerjakannya?
     Jadi, Nabi Ibrahim  a.s.  nampaknya mencela kaumnya dan menjelaskan kepada mereka kesia-siaan perbuatan-perbuatan syirik mereka; pertama-tama dengan memecahkan berhala-berhala itu dan kemudian dengan menantang penyembah-penyembahnya supaya bertanya kepada berhala-berhala itu, kalau memang berhala-berhala itu dapat berbicara untuk memberitahukan kepada mereka siapa yang telah memecahkan berhala-berhala itu: فَرَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ فَقَالُوۡۤا اِنَّکُمۡ اَنۡتُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ     --  Maka mereka kembali kepada pemimpin mereka lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sendiri orang-orang  yang zalim.” ثُمَّ  نُکِسُوۡا عَلٰی  رُءُوۡسِہِمۡ ۚ   --  Kemudian mereka sambil  menundukkan kepala mereka berkataلَقَدۡ  عَلِمۡتَ مَا ہٰۤؤُلَآءِ  یَنۡطِقُوۡنَ  --   “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berkata-kata.” 
      Ungkapan bahasa Arab itu dapat berarti, (a) mereka kembali kepada keadaan kekafiran seperti semula, atau tingkah-laku yang buruk; (b) mereka kembali kepada perbantahan sesudah mereka mengikuti jalan yang benar; (c) mereka menundukkan kepala karena malu dan menjadi bungkam sama sekali (Lexicon Lane & Ruh-ul-Ma’ani):  قَالَ اَفَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُکُمۡ  شَیۡئًا وَّ لَا  یَضُرُّکُمۡ   --  Ia, Ibrahim,  berkata:  ”Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepada kamu sedikit pun dan tidak memudaratkanmuاُفٍّ لَّکُمۡ وَ لِمَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ    --  “Ah celakalah atas kamu dan atas apa yang kamu sembah selain Allah! اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Apakah kamu tidak mengerti?”

Membungkam Mulut Raja Namrud yang Takabbur

    Dalam surah lainnya jawaban  Nabi Ibrhim a.s. yang sangat telak telah membungkam mulut raja Namrud (Nimrod) yang takabur, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡ حَآجَّ اِبۡرٰہٖمَ فِیۡ رَبِّہٖۤ اَنۡ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ ۘ اِذۡ  قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّیَ الَّذِیۡ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۙ قَالَ اَنَا اُحۡیٖ وَ اُمِیۡتُ ؕ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  فَاِنَّ اللّٰہَ یَاۡتِیۡ بِالشَّمۡسِ مِنَ الۡمَشۡرِقِ فَاۡتِ بِہَا مِنَ الۡمَغۡرِبِ   فَبُہِتَ الَّذِیۡ کَفَرَ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Apakah engkau tidak  memperhatikan orang yang membantah Ibrahim mengenai Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Allah telah memberi kerajaan kepadanya? ۘ اِذۡ  قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّیَ الَّذِیۡ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ  -- Ketika Ibrahim berkata:  Rabb-ku (Tuhan-ku)-lah Yang menghidupkan dan mematikan.” قَالَ اَنَا اُحۡیٖ وَ اُمِیۡتُ  -- Ia yakni Namrud menjawab: “Aku pun  berkuasa menghidupkan dan mematikan.” قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  فَاِنَّ اللّٰہَ یَاۡتِیۡ بِالشَّمۡسِ مِنَ الۡمَشۡرِقِ فَاۡتِ بِہَا مِنَ الۡمَغۡرِبِ  -- Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan  matahari dari timur, maka terbitkanlah  matahari itu dari barat!” فَبُہِتَ الَّذِیۡ کَفَرَ  --  Lalu  terdiam kebingungan  orang yang kafir itu,  وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ --  dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim  (Al-Baqarah [2]:259).
      Nabi Ibrahim a.s.  itu seorang pemberantas-berhala besar. Kaumnya menyembah matahari dan bintang-bintang, dewa utama mereka ialah Madruk yang asalnya dewa pagi dan matahari musim semi (Encyclopaedia Biblica dan  Encyclopaedia Religions and Ethics. II. 296). Mereka percaya bahwa semua kehidupan bergantung pada matahari.
    Nabi Ibrahim a.s.   dengan bijaksana meminta raja  orang musyrik itu  --seandainya ia mengaku dapat mengatur hidup dan mati  -- agar mengubah jalan tempuhan matahari yang padanya bergantung segala kehidupan itu. Orang kafir itu pun kebingungan. Ia tidak dapat mengatakan tak dapat menerima tantangan  Nabi  Ibrahim a.s.  untuk menyuruh matahari beredar dari barat ke timur,sebab  hal demikian akan membatalkan pengakuannya sendiri sebagai pengatur hidup dan mati, dan bila ia mengatakan dapat berbuat demikian  maka itu berarti ia menguasai matahari tetapi niscaya merupakan suatu penghinaan besar pada pandangan kaumnya, penyembah matahari. Dengan demikian ia sama sekali menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.

Melakukan Tindak kekerasan  &  Api Menjadi “Dingin”   Bagi Nabi Ibrahim a.s.

       Sudah merupakan kebiasaan  golongan mayoritas yang posisinya terpojok dari segi “dalil” maka cara-cara kekerasanlah yang kemudian mereka lakukan terhadap lawannya: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ  --    Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ --  Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ  --   Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.
       Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. memang menimbulkan keadaan khusus   -- yang disebut mukjizat   --  yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s.  dari bahaya.
     Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s.  diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar.   Bagaimana caranya api itu menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim a.s. kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. . memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s..  dari bahaya.
       Bahwa Nabi Ibrahim a.s.  telah dilemparkan ke dalam kobaran api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).

Melakukan Hijrah ke Kanaan (Negeri yang Dijanjikan)

      Makna ayat selanjutnya: وَ نَجَّیۡنٰہُ  وَ لُوۡطًا  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا  فِیۡہَا  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati  di dalamnya untuk seluruh umat manusia.”  (Al-Anbiya [21]:72).   Nabi Ibrahim a.s.  bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah Ilahi  -  ke Kanaan (Palestina) yang Allah Swt.  telah tetapkan akan diberikan kepada keturunan beliau.
      Perjalanan itu mempunyai tujuan dan maksud yang tepat. Semua nabi Allah yang besar atau para pengikut mereka  - sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi  -- pada suatu waktu harus  hijrah, meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk Nabi Adam a.s. dan “istri” (pengikut) beliau, yang disalah-tafsirkan sebagai “pengusiran beliau dari surga”, padahal mengisyaratkan  kepada peristiwa  hijrah (QS.7:12-26), yang merupakan sunnah para Rasul Allah, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah selamat dari upaya pembunuhan melakui penyaliban (QS.4:158-159) beliau  hijrah dari Palestina ke Kasymir  (QS.23:51),sambil mencari  10 suku  (domba-domba) Bani Israil  yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan - Yohanes 10:10-16).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar