Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
PENGABULAN DOA
PARA RASUL ALLAH & HUBUNGAN SIFAT RABUBIYAT
DAN RAHMĀNIYAT
ALLAH SWT. DENGAN KEBERHASILAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR
Bab 9
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai kebiasaan
golongan mayoritas yang
posisinya terpojok dari segi “dalil”
maka cara-cara kekerasanlah yang
kemudian mereka lakukan terhadap lawannya dari kalangan rasul Allah: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ
فٰعِلِیۡنَ -- Mereka
berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.” قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ
سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin
dan keselamatan atas Ibrahim!”
وَ اَرَادُوۡا
بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi” (Al-Anbiya
[21]:53-72).
Mukjizat Nabi Ibrahim a.s.
Sudah merupakan kebiasaan golongan
mayoritas yang posisinya terpojok dari segi “dalil” maka cara-cara
kekerasanlah yang kemudian mereka lakukan terhadap lawannya: قَالُوۡا
حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ -- Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”
قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan
atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.”
Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu
atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. memang
menimbulkan keadaan khusus -- yang disebut mukjizat -- yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s.
dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara
Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. 1902. Bagaimana caranya api itu menjadi dingin bagi
Nabi Ibrahim a.s. kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu
atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah
Swt. . memang menimbulkan
keadaan yang membawa kepada lolosnya
Nabi Ibrahim a.s.. dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara
Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. Bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah dilemparkan ke dalam kobaran
api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen
juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari
dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa
tersebut (Hyde, De Rel. Vet
Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah
on Gen. Per. 17; Schalacheleth
Hakabala, 2; Maimon de Idol,
Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet,
6).
Hijrah Merupakan Sunnah Para Rasul Allah, Termasuk Nabi Adam a.s.
Makna ayat selanjutnya: وَ نَجَّیۡنٰہُ وَ لُوۡطًا
اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا
فِیۡہَا لِلۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati
di dalamnya untuk seluruh umat manusia.” (Al-Anbiya [21]:72). Nabi
Ibrahim a.s. bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah
Ilahi - ke Kanaan
(Palestina) yang Allah Swt. telah tetapkan akan diberikan kepada keturunan beliau.
Perjalanan itu mempunyai tujuan
dan maksud yang tepat. Semua nabi Allah
yang besar atau para pengikut mereka -
sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi -- pada suatu waktu harus hijrah,
meninggalkan kampung halaman mereka,
termasuk Nabi Adam a.s. dan “istri” (pengikut) beliau, yang disalah-tafsirkan sebagai “pengusiran beliau dari surga”, padahal
mengisyaratkan kepada peristiwa hijrah
(QS.7:12-26), yang merupakan sunnah
para Rasul Allah, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah
selamat dari upaya pembunuhan melakui
penyaliban (QS.4:158-159) beliau hijrah
dari Palestina ke Kasymir (QS.23:51), sambil mencari 10 suku (domba-domba) Bani Israil yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan - Yohanes 10:10-16), firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran
yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir (Al-Mu’minūn [23]:51).
Keselamatan para rasul Allah serta orang-orang beriman besertanya dari berbagai bentuk makar buruk
yang dirancang oleh para penentangnya
yang memiliki keunggulan dalam kekuasaan
dan kekayaan duniawi tersebut – serta kehancuran mereka pada akhirnya – adalah
berkat pengabulan doa yang
dipanjatkan para Rasul Allah, firman-Nya:
وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِرُسُلِہِمۡ لَنُخۡرِجَنَّکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِنَاۤ اَوۡ لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ
فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ
وَ خَافَ وَعِیۡدِ ﴿﴾ وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا
وَ خَابَ کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ ﴿ۙ﴾
Dan orang-orang
yang kafir kepada rasul-rasul mereka berkata: “Niscaya
kami akan mengusir kamu dari kota kami, atau kamu harus kem-bali kepada agama kami.” فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ الظّٰلِمِیۡنَ -- Maka Rabb
(Tuhan) mereka mewahyukan kepada
mereka: “Niscaya Kami akan membinasakan orang-orang yang zalim itu. وَ
لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- Dan niscaya
Kami akan menempatkan kamu di bumi ini setelah
mereka. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ -- Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.” وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ کُلُّ
جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ -- Dan mereka
itu berdoa untuk kemenangan, dan binasalah setiap musuh kebenaran yang keras
kepala. (Ibrahim [14]:14-16).
Pengabulan
Doa Para Rasul Allah & Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat Allah Swt
Sehubungan ayat: ذٰلِکَ
لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ -- “Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.” Al-Quran
telah memakai bentuk mufrad dan juga jamak kedua-duanya untuk kata pengganti bagi Wujud Yang Maha Agung itu. Di mana jika kekuasaan dan kemuliaan Allah Swt. yang hendak dinyatakan maka bentuk
jamaklah yang dipakai; di mana sifat Ghaniy (Yang Maha Cukup dalam
dzat-Nya sendiri) dan Shamad (tidak tergantung dari siapa pun) yang
hendak ditekankan, maka bentuk mufrad (tunggal) itulah yang
dipergunakan.
Atau seperti dinyatakan oleh
beberapa ‘alim ‘ulama rabbani, di
mana Allah Swt. bermaksud menimbulkan suatu hasil dengan perantaraan malaikat-malaikat maka
dipakailah bentuk jamak; tetapi di
mana satu pekerjaan akan dilaksanakan
dengan perantaraan suatu takdir Ilahi
yang khas maka bentuk
mufradlah yang dipakai. Ayat sekarang ini menggabungkan penggunaan jamak
dan mufrad kedua-duanya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai para rasul Allah yang kemudian meraih keunggulan atas para penentang
mereka yang sangat zalim: وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ -- Dan mereka
itu berdoa untuk kemenangan, dan binasalah setiap musuh kebenaran yang keras
kepala.” Lihat pula QS.11:60.
Jadi, kembali kepada ayat: لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq
(benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ
-- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia” belaka (Ar-R’ād [13]:15-16).
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut memberikan jawaban
terhadap pendapat bahwa mengapa dalam kenyataannya orang-orang
yang kafir kepada Allah Swt. – bahkan orang-orang
atheis pun --
dapat meraih kemajuan dalam
bidang iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi) sehingga mereka meraih kesuksesan
duniawi?
Penyebab Keberhasilan
Duniawi Orang-orang Kafir
Allah Swt. menjawab, bahwa berbagai
bentuk keberhasilan duniawi yang
diraih oleh orang-orang musyrik pada hakikatnya bukan hasil dari pengabulan
doa mereka oleh berhala-berhala yang mereka sembah, melainkan karena mereka telah menyelaraskan diri dengan sifat Rabubiyat
dan Rahmāniyat Allah Swt. berkenaan
dengan hukum alam yang telah ditetapkan bagi manusia yang
-- baik suka atau terpaksa -- mereka harus mentaatinya, demikian juga
halnya dengan binatang, firman-Nya:
وَ مَا مِنۡ دَآبَّۃٍ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَی اللّٰہِ رِزۡقُہَا وَ
یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا ؕ کُلٌّ فِیۡ
کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak ada seekor binatang merayap pun di bumi melainkan Allah-lah
yang menanggung rezekinya. Dan Dia
mengetahui tempat tinggalnya yang sementara dan tempat tinggalnya yang tetap,
کُلٌّ فِیۡ
کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ -- semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata. (Hūd [11]:7).
Allah Swt., Rabb (Pencipta dan Pemerlihara) seluruh alam (QS.1:2), telah menyediakan bagi semua makhluk-Nya,
bahkan Dia telah menyediakan bahan-bahan
kehidupan bagi cacing dan binatang melata yang tinggal di lubang-lubang bumi sekalipun.
Akal manusia tak sampai untuk memahami, bagaimana dan dari mana cacing dan serangga yang begitu banyak terdapat di permukaan dan di dalam bumi
memperoleh makanannya. Manusia merasa
telah memecahkan rahasia-rahasia alam
semesta, tetapi sebenarnya masih belum
mengenal sepenuhnya segala bentuk kehidupan
mereka. Tetapi Allah Swt. telah
memberikan perbekalan hidup lebih dari
cukup kepada semua makhluk itu.
Jadi, ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Swt. yang telah menyediakan keperluan jasmani bagi makhluk-Nya yang paling sederhana
itu, Dia pasti tidak akan mengabaikan untuk memberikan perbekalan hidup yang sepadan bagi kepentingan akhlak dan ruhani manusia, yang merupakan puncak bagi tatanan ciptaan-Nya.
Ayat یَعۡلَمُ
مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا -- “Dan Dia mengetahui tempat tinggalnya yang
sementara dan tempat tinggalnya yang
tetap” ini bukan hanya menunjuk
kepada tempat tinggal sementara dan tempat tinggal abadi tiap-tiap wujud
yang hidup, melainkan menunjuk pula kepada batas
sejauh mana wujud-wujud itu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuannya.
Ketidak-bersyukuran Golongan Jin dan Ins (manusia)
Mustaqarr
dan mustauda’ bukan saja berarti tempat permukiman dan tempat tinggal
yang tetap, melainkan juga batas terakhir atau batas yang telah
ditetapkan bagi sesuatu benda bertalian
dengan waktu ataupun tempat; waktu yang telah ditetapkan; akhir
perjalanan seseorang (Lexicon Lane).
Firman-Nya:
وَ
کَاَیِّنۡ مِّنۡ دَآبَّۃٍ لَّا تَحۡمِلُ
رِزۡقَہَا ٭ۖ اَللّٰہُ یَرۡزُقُہَا وَ
اِیَّاکُمۡ ۫ۖ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿ ﴾ وَ
لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ لَیَقُوۡلُنَّ اللّٰہُ ۚ
فَاَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ
عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ لَہٗ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan alangkah banyaknya hewan-hewan yang tidak membawa perbekalannya! Allah-lah
Yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Dan jika
engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang telah menciptakan seluruh
langit dan bumi serta menundukkan
matahari dan bulan?” Niscaya
mereka akan berkata, “Allah.” Maka ke manakah mereka dipalingkan? (Al-Ankabūt
[29]:61-62).
Kalau sekalipun binatang-binatang di tanah dan di udara tidak dibiarkan hidup tanpa
jaminan makanan, maka tidaklah masuk
akal bahwa manusia —sebagai makhluk
Tuhan yang paling mulia dan merupakan puncak segala kejadian makhluk -- harus mati
kelaparan.
Allah
Ta’ala adalah Khāliq (Pencipta) dan Sumber bagi segala kehidupan, dan untuk pemeliharaan manusia
Dia telah menetapkan semua kekuatan alam untuk mengkhidmati manusia. Itulah makna ayat: وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ -- “Dan
jika engkau bertanya kepada mereka:
“Siapakah yang telah menciptakan seluruh
langit dan bumi serta menundukkan
matahari dan bulan?” لَیَقُوۡلُنَّ اللّٰہُ ۚ -- Niscaya mereka akan berkata, “Allah.” فَاَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Maka ke
manakah mereka dipalingkan?”
Itulah sebabnya dalam Surah Ar-Rahmān (Maha Pemurah)
Allah Swt. berulang kali mengingatkan
golongan jin
dan ins (manusia) -- yakni bangsa-bangsa penganut kapitalisme dan sosialisme: فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- “maka yang manakah di antara nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
kamu dustakan?” serta mengancam ketidak-bersyukuran
mereka kepada Allah Swt. mereka dengan kobaran
api berupa rangkaian perang Dunia,
firman-Nya:
کُلُّ مَنۡ
عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ اَیُّہَ
الثَّقَلٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یٰمَعۡشَرَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ
نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ
﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ
اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ
فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ
بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ
بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿٪﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya
akan binasa, dan
akan kekal hanyalah Wu-jud Rabb ( Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.
فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu kamu dustakan? یَسۡـَٔلُہٗ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
ؕ -- Kepada-Nya memohon segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ -- Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? سَنَفۡرُغُ لَکُمۡ اَیُّہَ
الثَّقَلٰنِ -- Segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua
yang manakah yang kamu berdua dustakan?
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu
memiliki kekuatan untuk menembus
batas-batas seluruh langit dan bumi
maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ
اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ -- namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? یُرۡسَلُ
عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ -- Akan dikirimkan
kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, فَلَا
تَنۡتَصِرٰنِ -- lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan? فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ -- Dan ketika langit terbelah dan menjadi
merah bagaikan kulit merah. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu dustakan? فَیَوۡمَئِذٍ لَّا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ
لَا جَآنٌّ -- Pada hari itu tidak akan ditanya dosa ins (manusia) dan tidak
pula jin. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ
فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ -- Orang-orang
berdosa ciri-ciri mereka akan dikenal
lalu mereka akan dipegang pada jambul dan
kakinya. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ الَّتِیۡ
یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Inilah Jahannam yang orang-orang
berdosa mendustakannya, یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ
-- mereka akan berkeliling-keliling
di antara Jahannam itu dan air
panas mendidih. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
-- Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan)
kamu berdua yang kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-46).
Ketidak-berdayaan “Berhala-berhala”
Sembahan Orang-orang Musyrik & Peran Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat
Allah Swt.
Sehubungan dengan kenyataan tersebut
selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai ketidak-berdayaan
“berhala-berhala” yang disembah
orang-orang musyrik:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ -- Katakanlah:
“Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا
وَّ لَا ضَرًّا -- yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
قُلۡ ہَلۡ
یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی
الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah
gelap dan terang? اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya فَتَشَابَہَ
الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- sehingga
kedua jenis ciptaan itu nampak
serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan
segala sesuatu, dan Dia-lah Yang
Maha Esa, Maha Perkasa.”
(Ar-R’ād
[13]:17).
Itulah sebabnya orang-orang yang tidak memahami hakikat sifat Rabubiyat
dan sifat Rahmāniyat (Maha
Pemurah) Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2-3 -- yang berlaku bagi semua makhluk-Nya secara umum -- baik orang yang beriman
mau pun kafir atau orang
atheis sekali pun, bahkan bagi semua jenis binatang -- mereka teah
menisbahkan keberhasilan duniawinya
sebagai akibat dari ilmu yang mereka miliki dan
upaya
yang mereka lakukan -- atau sebagai pengabulan doa mereka oleh “berhala-berhala”
yang mereka sembah -- padahal tidak demikian, sebagaimana
firman-Nya berikut ini mengenai kesuksesan
duniawi yang diraih Qarun atau kaum-kaum purbakala sebelumnya:
اِنَّ
قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ مُوۡسٰی
فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ مَفَاتِحَہٗ
لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی
الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ
مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ
اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ وَ لَا
تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku
aniaya terhadap mereka. Dan Kami
telah memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah diangkat oleh sejumlah
orang-orang kuat. اِذۡ قَالَ
لَہٗ قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ
اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡفَرِحِیۡنَ -- Ketika
kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga,
sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang yang terlalu
membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- Dan
carilah rumah akhirat itu dalam
apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan
janganlah engkau melupakan nasib engkau
di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ اَحۡسَنَ
اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat
ihsanlah sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا
تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ -- dan janganlah
engkau menimbulkan kerusakan di bumi, اِنَّ
اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).
Ketakaburan Qarun & Akhir Kehidupannya yang Tragis
Qarun
adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya.
Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang
mas milik Fir’aun dan seorang ahli dalam teknik penggalian mas dari tambang-tambang.
Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti
“tiang,” atau “cahaya,” maka kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan.
Konon Qarun adalah seorang orang Israil dan beriman kepada Nabi Musa a.s. Tetapi untuk mengambil hati Fir’aun agaknya ia telah menganiaya bangsanya sendiri dan berlaku
sombong terhadap mereka. Sebagai
akibatnya azab Tuhan menimpa dirinya
dan ia binasa bersama seluruh kekayaannya
yang dibanggakannya.
Mafatih
dalam ayat وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ
مَفَاتِحَہٗ لَتَنُوۡٓاُ
بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی الۡقُوَّۃِ -- “Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah
yang kunci-kuncinya sangat susah
diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat” adalah jamak dari dua kata maftah
dan miftah, yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua
berarti anak kunci (Lexicon Lane). Terhadap nasihat
kaumnya -- dalam hal ini Nabi Musa a.s. --
dia menjawab:
قَالَ اِنَّمَاۤ
اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ
الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ
قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah
ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan
banyak generasi sebelumnya yang lebih besar kekuasaannya daripada dia
dan lebih banyak harta kekayaannya?
وَ لَا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Dan orang-orang
yang berdosa tidak akan ditanyakan
mengenai dosa-dosa mereka (Al-Qashash
[28]:79).
Makna ayat: وَ لَا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- “Dan orang-orang
yang berdosa tidak akan ditanyakan
mengenai dosa-dosa mereka” bahwa kesalahan
kaum kafir akan begitu nyata
sehingga pengusutan lebih lanjut akan
dianggap tidak perlu untuk
membuktikannya; atau artinya ialah orang-orang yang bersalah tidak akan diberi
peluang membela diri, karena dosa-dosa dan keburukan-keburukan mereka telah begitu nyata sekali.
Ketakaburan Qarun tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam ayat selanjutnya,
firman-Nya:
فَخَرَجَ
عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ
قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ
خَیۡرٌ لِّمَنۡ اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا یُلَقّٰہَاۤ
اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia keluar
di hadapan kaumnya dengan kemegahan.
Berkata orang-orang yang menghendaki
kehidupan dunia: ٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ
قَارُوۡنُ --
“Alangkah baiknya apabila kami
pun mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun! اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ -- Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.” Tetapi orang-orang
yang diberi pengetahuan berkata: وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ
لِّمَنۡ اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا -- “Celakalah kamu, ganjaran
dari Allah adalah le-bih baik bagi
siapa yang beriman dan beramal saleh, وَ لَا یُلَقّٰہَاۤ
اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ -- dan itu
tidak akan diberikan kecuali kepada
orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 27 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar