Rabu, 27 Juli 2016

Pengabulan Doa Para Rasul Allah & Hubungan Sifat Rabubiyat dan Rahmaaniyat Allah Swt. Dengan Keberhasilan Duniawi Orang-orang Kafir




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA



PENGABULAN DOA PARA RASUL ALLAH & HUBUNGAN SIFAT RABUBIYAT DAN RAHMĀNIYAT ALLAH SWT. DENGAN KEBERHASILAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR


Bab 9


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai  kebiasaan  golongan mayoritas yang posisinya terpojok dari segi “dalil” maka cara-cara kekerasanlah yang kemudian mereka lakukan terhadap lawannya dari kalangan rasul Allah: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ  --    Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ --  Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ  --   Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi” (Al-Anbiya [21]:53-72).

Mukjizat Nabi Ibrahim a.s.  

        Sudah merupakan kebiasaan  golongan mayoritas yang posisinya terpojok dari segi “dalil” maka cara-cara kekerasanlah yang kemudian mereka lakukan terhadap lawannya: قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ  --    Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ --  Kami berfirman: “Hai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!” وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ  --   Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi.
        Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. memang menimbulkan keadaan khusus   -- yang disebut mukjizat   --  yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s.  dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s.  diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. 1902. Bagaimana caranya api itu menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim a.s. kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. . memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s..  dari bahaya.
      Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. Bahwa Nabi Ibrahim a.s.  telah dilemparkan ke dalam kobaran api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).

Hijrah Merupakan Sunnah Para Rasul Allah, Termasuk Nabi Adam a.s.  

       Makna ayat selanjutnya: وَ نَجَّیۡنٰہُ  وَ لُوۡطًا  اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا  فِیۡہَا  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan Kami telah menyelamatkan dia dan Luth ke negeri yang telah Kami berkati  di dalamnya untuk seluruh umat manusia.”  (Al-Anbiya [21]:72).   Nabi Ibrahim a.s.  bepergian dari Ur (Mesopotamia) ke Harran dan dari sana atas perintah Ilahi  -  ke Kanaan (Palestina) yang Allah Swt.  telah tetapkan akan diberikan kepada keturunan beliau.
     Perjalanan itu mempunyai tujuan dan maksud yang tepat. Semua nabi Allah yang besar atau para pengikut mereka  - sesuai dengan maksud dan rencana Ilahi  -- pada suatu waktu harus  hijrah, meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk Nabi Adam a.s. dan “istri” (pengikut) beliau, yang disalah-tafsirkan sebagai “pengusiran beliau dari surga”, padahal mengisyaratkan  kepada peristiwa  hijrah (QS.7:12-26), yang merupakan sunnah para Rasul Allah, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah selamat dari upaya pembunuhan melakui penyaliban (QS.4:158-159) beliau  hijrah dari Palestina ke Kasymir  (QS.23:51), sambil mencari  10 suku  (domba-domba) Bani Israil  yang tercerai-berai di luar Palestina (Kanaan - Yohanes 10:10-16), firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir  (Al-Mu’minūn [23]:51).
     Keselamatan para rasul Allah  serta orang-orang beriman  besertanya dari berbagai bentuk makar buruk  yang dirancang oleh para penentangnya yang memiliki keunggulan dalam kekuasaan dan kekayaan duniawi tersebut –  serta  kehancuran mereka pada akhirnya – adalah berkat pengabulan doa yang dipanjatkan para Rasul Allah, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِرُسُلِہِمۡ لَنُخۡرِجَنَّکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِنَاۤ  اَوۡ لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ  کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ ﴿ۙ﴾
Dan    orang-orang yang kafir  kepada rasul-rasul mereka berkata: “Niscaya   kami akan mengusir kamu dari kota kami, atau kamu harus kem-bali kepada agama kami.” فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ  الظّٰلِمِیۡنَ   -- Maka Rabb (Tuhan) mereka mewahyukan kepada mereka: “Niscaya Kami akan membinasakan  orang-orang yang zalim itu.  وَ لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ --   Dan  niscaya Kami akan menempatkan kamu di bumi ini setelah mereka.  ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ --  Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.”  وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ  کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ --   Dan mereka itu berdoa untuk kemenangan, dan binasalah  setiap musuh kebenaran yang keras kepala. (Ibrahim [14]:14-16).

Pengabulan Doa Para Rasul Allah & Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat Allah Swt   

       Sehubungan ayat:   ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ --  “Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.”  Al-Quran telah memakai bentuk mufrad dan juga jamak kedua-duanya untuk kata pengganti bagi Wujud Yang Maha Agung itu. Di mana jika kekuasaan dan kemuliaan  Allah Swt.  yang hendak dinyatakan maka bentuk jamaklah yang dipakai; di mana sifat Ghaniy (Yang Maha Cukup dalam dzat-Nya sendiri) dan Shamad (tidak tergantung dari siapa pun) yang hendak ditekankan, maka bentuk mufrad (tunggal) itulah yang dipergunakan.
      Atau seperti dinyatakan oleh beberapa ‘alim ‘ulama rabbani, di mana Allah Swt.  bermaksud menimbulkan suatu hasil dengan perantaraan malaikat-malaikat maka dipakailah bentuk jamak; tetapi di mana satu pekerjaan akan dilaksanakan dengan perantaraan suatu takdir Ilahi yang khas  maka bentuk mufradlah yang dipakai. Ayat sekarang ini menggabungkan penggunaan jamak dan mufrad kedua-duanya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai para rasul Allah yang  kemudian meraih keunggulan atas para penentang mereka yang sangat  zalim: وَ اسۡتَفۡتَحُوۡا وَ خَابَ  کُلُّ جَبَّارٍ عَنِیۡدٍ --   Dan mereka itu berdoa untuk kemenangan, dan binasalah  setiap musuh kebenaran yang keras kepala.” Lihat pula QS.11:60.
       Jadi, kembali kepada ayat:  لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ  -- Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    --  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka  (Ar-R’ād [13]:15-16).
      Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut memberikan jawaban  terhadap pendapat bahwa mengapa dalam kenyataannya  orang-orang yang kafir kepada Allah Swt. – bahkan orang-orang atheis pun  --  dapat meraih kemajuan dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sehingga mereka meraih kesuksesan duniawi?

Penyebab Keberhasilan Duniawi Orang-orang Kafir

       Allah Swt. menjawab, bahwa berbagai bentuk  keberhasilan duniawi   yang diraih oleh orang-orang musyrik  pada hakikatnya bukan hasil dari pengabulan doa mereka  oleh  berhala-berhala  yang mereka sembah, melainkan karena mereka telah menyelaraskan diri dengan sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat Allah Swt. berkenaan dengan  hukum alam  yang telah ditetapkan   bagi  manusia  yang   -- baik suka atau terpaksa --  mereka harus mentaatinya,  demikian juga halnya dengan binatang, firman-Nya:
وَ مَا مِنۡ دَآبَّۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ  اِلَّا عَلَی اللّٰہِ  رِزۡقُہَا وَ یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا ؕ کُلٌّ  فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan  sekali-kali tidak ada seekor binatang merayap pun di bumi  melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.  Dan Dia mengetahui tempat tinggalnya yang sementara dan tempat tinggalnya yang tetapکُلٌّ  فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ --  semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata. (Hūd [11]:7).
      Allah Swt., Rabb (Pencipta dan Pemerlihara) seluruh alam (QS.1:2),   telah menyediakan bagi semua makhluk-Nya, bahkan Dia telah menyediakan bahan-bahan kehidupan bagi cacing dan binatang melata yang tinggal di lubang-lubang bumi sekalipun.
       Akal manusia tak sampai untuk memahami, bagaimana dan dari mana cacing dan serangga yang begitu banyak terdapat di permukaan dan di dalam bumi memperoleh makanannya. Manusia merasa telah memecahkan rahasia-rahasia alam semesta, tetapi sebenarnya masih belum mengenal sepenuhnya segala bentuk kehidupan mereka. Tetapi Allah Swt.  telah memberikan perbekalan hidup lebih dari cukup kepada semua makhluk itu.
     Jadi, ayat  tersebut  menegaskan bahwa Allah Swt.  yang telah menyediakan keperluan jasmani bagi makhluk-Nya yang paling sederhana itu, Dia  pasti tidak akan mengabaikan untuk memberikan perbekalan hidup yang sepadan bagi kepentingan akhlak dan ruhani manusia, yang merupakan puncak bagi tatanan ciptaan-Nya.
Ayat   یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا -- “Dan Dia mengetahui tempat tinggalnya yang sementara dan tempat tinggalnya yang tetap”  ini bukan hanya menunjuk kepada tempat tinggal sementara dan tempat tinggal abadi tiap-tiap wujud yang hidup, melainkan menunjuk pula kepada batas sejauh mana wujud-wujud itu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuannya.

Ketidak-bersyukuran Golongan Jin dan Ins (manusia)

      Mustaqarr dan mustauda’ bukan saja berarti tempat permukiman dan tempat tinggal yang tetap, melainkan juga batas terakhir atau batas yang telah ditetapkan bagi sesuatu benda bertalian dengan waktu ataupun tempat; waktu yang telah ditetapkan; akhir perjalanan seseorang (Lexicon Lane). Firman-Nya:
وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ دَآبَّۃٍ  لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَہَا ٭ۖ اَللّٰہُ  یَرۡزُقُہَا وَ اِیَّاکُمۡ ۫ۖ  وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿ ﴾    وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ لَیَقُوۡلُنَّ  اللّٰہُ ۚ فَاَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اَللّٰہُ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ  وَ یَقۡدِرُ  لَہٗ  ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan alangkah banyaknya hewan-hewan yang tidak membawa perbekalannya! Allah-lah Yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu.  Dan Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui.   Dan jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi serta  menundukkan matahari dan bulan?” Niscaya mereka akan berkata, “Allah.” Maka ke manakah mereka dipalingkan? (Al-Ankabūt [29]:61-62).
      Kalau sekalipun binatang-binatang di tanah dan di udara tidak dibiarkan hidup tanpa jaminan makanan, maka tidaklah masuk akal  bahwa manusia —sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dan merupakan puncak segala kejadian makhluk  -- harus mati kelaparan.
       Allah Ta’ala adalah Khāliq (Pencipta) dan Sumber bagi segala kehidupan, dan untuk pemeliharaan   manusia   Dia telah menetapkan semua kekuatan alam untuk mengkhidmati manusia. Itulah makna ayat:  وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ -- “Dan jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi serta  menundukkan matahari dan bulan?”   لَیَقُوۡلُنَّ  اللّٰہُ ۚ  -- Niscaya mereka akan berkata, “Allah.” فَاَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ  --  Maka ke manakah mereka dipalingkan?”  
      Itulah sebabnya dalam Surah Ar-Rahmān  (Maha Pemurah)  Allah Swt. berulang kali mengingatkan   golongan jin dan ins (manusia)  -- yakni bangsa-bangsa penganut kapitalisme dan sosialismeفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- “maka yang manakah di antara  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang kamu dustakan?” serta mengancam  ketidak-bersyukuran mereka kepada Allah Swt. mereka dengan kobaran api berupa rangkaian perang Dunia,  firman-Nya:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾   یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾  یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa,              dan akan kekal hanyalah Wu-jud  Rabb ( Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan?  یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ  -- Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  --  Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? سَنَفۡرُغُ   لَکُمۡ  اَیُّہَ  الثَّقَلٰنِ  --   Segera Kami akan menghadapi kamu, hai dua golongan yang kuat.  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?  یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ   -- Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ  -- namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ   --  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?   یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ    -- Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ  --  lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka   nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ   --    Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merah.   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ        -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang   kamu dustakan? فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ   -- Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  ins (manusia)  dan tidak pula  jin.   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ   -- Maka  nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?  یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ --  Orang-orang berdosa  ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang pada jambul dan kakinya.   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ     -- Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ  --    Inilah Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya,   یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ  -- mereka akan berkeliling-keliling di antara Jahannam  itu  dan air panas mendidihفَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  --  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua  yang kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-46).

Ketidak-berdayaan “Berhala-berhala” Sembahan Orang-orang Musyrik  & Peran Sifat Rabubiyat dan Rahmāniyat Allah Swt.

     Sehubungan dengan kenyataan tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai ketidak-berdayaan “berhala-berhala” yang disembah orang-orang musyrik:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ     --  Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا   --  yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ --  Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ  -- Atau samakah gelap dan terang? اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ     -- Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ     -- sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-R’ād [13]:17).
        Itulah sebabnya orang-orang yang tidak memahami hakikat sifat Rabubiyat dan sifat Rahmāniyat  (Maha Pemurah) Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2-3  -- yang berlaku bagi semua makhluk-Nya secara umum  -- baik   orang yang beriman mau pun kafir atau    orang atheis sekali pun, bahkan bagi semua jenis binatang   -- mereka teah menisbahkan keberhasilan duniawinya sebagai akibat dari ilmu   yang mereka miliki    dan upaya  yang mereka  lakukan  --   atau sebagai pengabulan doa mereka oleh “berhala-berhala” yang mereka sembah  -- padahal tidak demikian, sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai kesuksesan duniawi   yang diraih  Qarun atau kaum-kaum purbakala sebelumnya:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ  -- Ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ     --  Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا  --  dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia,  وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  -- dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ  -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi,  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).

Ketakaburan Qarun & Akhir Kehidupannya yang Tragis

      Qarun adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya. Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang mas milik Fir’aun dan seorang ahli dalam teknik penggalian mas dari tambang-tambang.
      Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti “tiang,” atau “cahaya,” maka kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan.
       Konon Qarun adalah seorang orang Israil dan beriman kepada Nabi Musa a.s. Tetapi untuk mengambil hati Fir’aun agaknya ia telah menganiaya bangsanya sendiri dan berlaku sombong terhadap mereka. Sebagai akibatnya azab Tuhan menimpa dirinya dan ia binasa bersama seluruh kekayaannya yang dibanggakannya.
       Mafatih dalam ayat وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ  -- “Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat” adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah, yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane). Terhadap nasihat kaumnya   -- dalam hal ini Nabi Musa a.s.   --  dia menjawab:
قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Ia  berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa  sungguh  Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya?  وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka (Al-Qashash [28]:79).
       Makna ayat:    وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- “Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka” bahwa  kesalahan kaum kafir akan begitu nyata sehingga pengusutan lebih lanjut akan dianggap tidak perlu untuk membuktikannya; atau artinya ialah orang-orang yang bersalah tidak akan diberi peluang membela diri, karena dosa-dosa dan keburukan-keburukan mereka telah begitu nyata sekali.
       Ketakaburan Qarun tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:
فَخَرَجَ عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia keluar  di hadapan kaumnya dengan kemegahan. Berkata orang-orang yang menghendaki kehidupan duniaٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ --  “Alangkah baiknya apabila kami pun mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun!  اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ  -- Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.”     Tetapi orang-orang yang diberi pengetahuan berkata:  وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا  -- “Celakalah kamu, ganjaran dari Allah adalah le-bih baik bagi siapa yang beriman dan beramal salehوَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ --  dan itu tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 27 Juli   2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar