Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
KEDENGKIAN MERUPAKAN PENYEBAB TERJADINYA KEBUTAAN MATA RUHANI PARA PENENTANG RASUL ALLAH DI SETIAP ZAMAN KERASULAN & PENGULANGAN PENGKHIANATAN SYAITAN
Bab 5
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini berkenaan dengan “tabir” (tirai)
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan para penentang beliau saw.:
وَ اِذَا
قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ
حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اَکِنَّۃً
اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ وَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ
رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ
وَلَّوۡا عَلٰۤی
اَدۡبَارِہِمۡ نُفُوۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ
فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat
حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا -- suatu hijab
(tirai/penghalang yang tersembunyi. Dan Kami
menjadikan tutupan di
atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian. Dan apabila engkau menyebutkan Rabb (Tuhan)
engkau Yang Tunggal dalam Al-Qur-an mereka membalikkan punggungnya karena benci. نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ
بِہٖۤ اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی -- Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia,
اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا -- ketika
orang-orang zalim itu berkata
satu sama lain: ”Kamu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena
sihir.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ
الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا -- Perhatikanlah bagaimana
mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya mereka menjadi sesat lalu mereka
tidak dapat menemukan jalan. (Bani
Israil [17]:46-49).
Penyebab
Munculnya “Hijab” (Tirai) yang
Menutupi Indera-indra ruhani
“Hijab”
yang menutupi hati dan indera-indra ruhani
para penentang Rasul Allah adalah berupa tutupan
dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan,
atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan ataupun tutupan sebagai akibat adat
kebiasaan dan kepercayaan lama
yang dipegang dengan erat dan asyiknyalah
yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran yang dibawa para rasul
Allah.
“Hijab” itu pulalah sebenarnya yang membuat “Iblis” menolak “sujud” (beriiman dan patuh-taat) kepada
“Adam” (Khalifah Allah) ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat agar “sujud” kepada Adam setelah mengetahui keunggulan Adam mengenai makrifat Ilahi (QS.2:31-40;
QS.7:12-26; QS.15:30-31; QS.17:62; QS.18:51; 10:117; QS.38:73-75).
“Hijab” kedengkian itu
pulalah yang menyebabkan golongan Ahli
Kitab tidak beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:90-92
& 110; QS.3:20; QS.42:14-15; QS.45:18-19) sebagai penggenap dari nubuatan Bible berkenaan dengan “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19; QS.46:11) dan “Roh kebenaran” yang membawa seluruh kebenaran (Wahyu 16:12-13) atau “Ia yang
datang dalam nama Tuhan” (Matius
23:37-39).
Berbagai macam tutupan-tutupan
itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri yang
mengakibatkan kemampuan indera-indera ruhani mereka menjadi lumpuh
dan di akhirat mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129),
firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ
قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ
اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan berapa banyak sumur
yang telah ditinggalkan dan juga istana
yang menjulang tinggi. َفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ -- Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, فَتَکُوۡنَ
لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ
اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا -- lalu menjadikan hati mereka memahami
dengannya atau menjadikan telinga mereka
mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا
تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang
buta adalah hati yang ada dalam dada.(Al-Hajj
[22]:46-47). Lihat pula QS.7:180.
Dari
ayat ini jelas bahwa orang-orang mati,
orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di
tempat lain dalam berbagai surah Al-Quran
adalah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:7-8).
Kedegilan
Hati Kaum Nabi Nuh a.s. dan Kaum-kaum
Purbakala
Dengan demikian jelaslah bahwa
pada hakikatnya berbagai macam “tutupan” yang melumpuhkan indera-indera ruhani orang-orang kafir tersebut adalah sebagai akibat
dari penolakan mereka terhadap kebenaran yang datang kepada mereka melalui para Rasul Allah (QS.7:35-37), sebagaimana yang dikemukakan
Nabi Nuh a.s. kepada Allah Swt.
mengenai kedegilan hati kaum
beliau terhadap da’wah yang beliau lakukan
dengan segala cara (QS.71: 1-29).
Sikap
buruk yang sama juga dilakukan oleh kaum-kaum
purbakala setelah kaum Nabi Nuh
a.s., seperti kaum ‘Ad yang mendustakan Nabi
Hud a.s.; kaum Tsammud yang mendustakan Nabi Shalih a.s., kaum Nabi Ibrahim a.s.; kaum
Nabi Luth a.s.; kaum Midian
yang mendustakan Nabi Syu’aib a.s.,
demikian juga kaum Fir'aun yang mendustakan
Nabi Musa a.s.; Bani Israil yang mendustakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta Bani
Ismail yang mendustakan Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.15:12; QS.36:31; QS.43:8), seakan-akan mereka itu telah saling mewasiyatkan sikap buruk tersebut
(QS.51:53-54), firman-Nya:
"Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dengan perintah: “Berilah peringatan kaum engkau sebelum
datang kepada mereka azab yang pedih.”
قَالَ
یٰقَوۡمِ اِنِّیۡ لَکُمۡ نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ۙ -- Dia berkata: “Hai kaumku,
sesungguhnya aku seorang pemberi
peringatan yang nyata bagi kamu. اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَطِیۡعُوۡنِ -- Sembahlah
Allah oleh kamu, bertakwalah kepada-Nya
dan taatlah kepadaku, یَغۡفِرۡ لَکُمۡ
مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ وَ یُؤَخِّرۡکُمۡ اِلٰۤی
اَجَلٍ مُّسَمًّی -- Dia akan mengampuni kamu atas dosa-dosamu
dan akan memberi kamu tangguh hingga waktu
yang telah ditentukan, اِنَّ
اَجَلَ اللّٰہِ اِذَا جَآءَ لَا
یُؤَخَّرُ ۘ لَوۡ کُنۡتُمۡ
تَعۡلَمُوۡنَ -- sesungguhnya waktu
yang ditentukan Allah itu tidak dapat
diundur lagi apabila waktu itu datang,
jika kamu mengetahui.” قَالَ
رَبِّ اِنِّیۡ دَعَوۡتُ قَوۡمِیۡ لَیۡلًا وَّ نَہَارًا -- Ia berkata: “Hai Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah
menyeru kaumku malam dan siang, فَلَمۡ یَزِدۡہُمۡ دُعَآءِیۡۤ اِلَّا
فِرَارًا -- tetapi
seruanku tidak menambah mereka melainkan
lari menjauh. وَ اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا اَصَابِعَہُمۡ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا
ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا -- Dan
sesungguhnya setiap kali aku berseru
kepada mereka agar Engkau memaafkan
mereka, mereka memasukkan
jari-jarinya ke dalam telinganya dan menutupkan pakaian mereka,
dan mereka gigih dalam
kekafiran dan mereka sangat
menyombongkan diri. ثُمَّ اِنِّیۡ دَعَوۡتُہُمۡ
جِہَارًا -- Kemudian sesungguhnya
aku menyeru mereka secara
terang-terangan, ثُمَّ اِنِّیۡۤ اَعۡلَنۡتُ لَہُمۡ وَ اَسۡرَرۡتُ لَہُمۡ
اِسۡرَارًا -- kemudian sesungguhnya aku telah menyeru secara terbuka kepada mereka dan mengimbau
mereka secara sembunyi-sembunyi, فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ
اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا -- lalu
aku berkata: “Mohonlah ampun
kepada Rabb (Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia
Maha Pengampun, یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا -- Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan
lebat, وَّ
یُمۡدِدۡکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ
لَّکُمۡ اَنۡہٰرًا -- dan Dia
akan membantu kamu dengan harta
dan anak-anak dan Dia akan menjadikan bagi kamu kebun-kebun
dan akan menjadikan bagimu sungai-sungai. مَا
لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ
وَقَارًا -- Apakah yang
terjadi dengan diri kamu bahwa kamu
tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah? وَ
قَدۡ خَلَقَکُمۡ اَطۡوَارًا -- Dan
sungguh Dia
telah menciptakan kamu dalam beberapa
tingkatan kejadian. اَلَمۡ تَرَوۡا
کَیۡفَ خَلَقَ اللّٰہُ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ
طِبَاقًا --
Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah telah menciptakan
tujuh tingkat langit dengan serasi, وَّ جَعَلَ
الۡقَمَرَ فِیۡہِنَّ نُوۡرًا وَّ جَعَلَ
الشَّمۡسَ سِرَاجًا -- dan Dia telah menjadikan bulan di dalamnya
sebagai cahaya penerang dan menjadikan
matahari sebagai pelita? وَ اللّٰہُ
اَنۡۢبَتَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ
نَبَاتًا -- Dan Allah telah
menumbuhkan kamu dari bumi dengan sebaik-baik
pertumbuhan, ثُمَّ یُعِیۡدُکُمۡ فِیۡہَا وَ یُخۡرِجُکُمۡ اِخۡرَاجًا -- kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya, dan Dia mengeluarkan kamu dengan
sebenar-benar pengeluaran. وَ اللّٰہُ جَعَلَ
لَکُمُ الۡاَرۡضَ بِسَاطًا -- Dan Allah
telah menjadikan bagi kamu bumi sebagai hamparan, لِّتَسۡلُکُوۡا مِنۡہَا سُبُلًا
فِجَاجًا -- supaya
kamu berjalan di jalan-jalannya yang luas.” قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ اِنَّہُمۡ عَصَوۡنِیۡ وَ اتَّبَعُوۡا
مَنۡ لَّمۡ یَزِدۡہُ مَالُہٗ وَ وَلَدُہٗۤ اِلَّا خَسَارًا -- Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), mereka
sesungguhnya telah mendurhakai aku, dan mengikuti orang-orang yang tidak menambah kepadanya hartanya dan keturunannya selain kerugian, وَ مَکَرُوۡا
مَکۡرًا کُبَّارًا -- dan mereka
telah merencanakan makar buruk. وَ قَالُوۡا لَا تَذَرُنَّ اٰلِہَتَکُمۡ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّ لَا
سُوَاعًا ۬ۙ وَّ لَا یَغُوۡثَ وَ یَعُوۡقَ وَ نَسۡرًا -- Dan
mereka berkata: ”Janganlah kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu,
dan janganlah meninggalkan Wadd dan jangan pula Suwa’, dan jangan pula Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”. وَ قَدۡ
اَضَلُّوۡا کَثِیۡرًا ۬ۚ وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا ضَلٰلًا -- Dan
sungguh mereka
telah menyesatkan banyak orang, dan Engkau
tidak akan menambah bagi orang-orang
zalim kecuali kesesatan.” مِمَّا
خَطِیۡٓــٰٔتِہِمۡ اُغۡرِقُوۡا
فَاُدۡخِلُوۡا نَارًا ۬ۙ فَلَمۡ
یَجِدُوۡا لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَنۡصَارًا -- Disebabkan dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan dan dimasukkan ke dalam Api, dan mereka
tidak mendapati bagi mereka penolong-penolong selain Allah. وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَی الۡاَرۡضِ مِنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ دَیَّارًا -- Dan
Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), janganlah Engkau membiarkan di atas bumi
penghuni dari kalangan orang-orang
kafir. اِنَّکَ اِنۡ
تَذَرۡہُمۡ یُضِلُّوۡا عِبَادَکَ وَ لَا یَلِدُوۡۤا اِلَّا
فَاجِرًا کَفَّارًا --
Sesungguhnya jika Engkau
membiarkan mereka, mereka akan
menyesatkan hamba-hamba Engkau dan mereka
tidak akan melahirkan kecuali orang-orang
berdosa lagi kafir. رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیَّ وَ لِمَنۡ دَخَلَ بَیۡتِیَ مُؤۡمِنًا وَّ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ --
“Hai Rabb-ku (Tuhan-ku),
ampunilah aku serta ibu-bapakku, dan yang
me-masuki rumahku sebagai orang beriman, serta orang-orang beriman laki-laki dan perempuan. وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
تَبَارًا -- Dan Engkau
tidak menambahkan kepada orang-orang
zalim kecuali kebinasaan.”
(Nuh [71]:1-29).
Kata-kata istaghsyau
tsiyābahum dalam ayat berikut ini secara kiasan berarti: Mereka
menolak mendengarkan Amanat Ilahi. Mereka
menutup semua jalan ke dalam hati mereka terha-dap Amanat itu. Tsiyāb artinya
“segala hati” (Lexicon Lane): وَ اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا اَصَابِعَہُمۡ
فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا
ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا -- Dan
sesungguhnya setiap kali aku berseru
kepada mereka agar Engkau memaafkan
mereka, mereka memasukkan
jari-jarinya ke dalam telinganya dan menutupkan pakaian mereka,
dan mereka gigih dalam
kekafiran dan mereka sangat
menyombongkan diri.”
Nabi Nuh a.s. menggunakan segala sarana dan cara yang
ada pada diri beliau guna membuat kaum
beliau mau mendengarkan Amanat Ilahi.
Tetapi kaum beliau sama-sama bertekad
tidak menghiraukan Amanat. Tetapi yang terjadi masalah sebaliknya, karena
adanya “hijab” (penutup) yang meenyelubungi hati dan indera-indera ruhani mereka.
Bagi Orang Buta Siang Hari Pun Gelap Gulita & Pengkhianatan “Manusa Syaitan”
Mengisyaratkan kepada Adanya “hijab
tersembunyi” itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini kepada Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai kedegilan
hati kaum beliau saw., padahal dengan tegas Allah Swt. menyetakan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. merupakan “matahari ruhani”
yang bercahaya cemerlang (QS.33:46-48):
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اِنۡ
یَّتَّخِذُوۡنَکَ اِلَّا ہُزُوًا ؕ
اَہٰذَا الَّذِیۡ یَذۡکُرُ
اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ
بِذِکۡرِ الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ
کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila orang-orang yang kafir itu melihat kepada engkau mereka menjadikan
engkau tidak melainkan hanya perolokan belaka dan berkata: “Inikah orangnya yang menyebutkan keburukan tuhan-tuhan
kamu?” Padahal mereka sendirilah
yang menolak untuk mengingat Yang Maha Pemurah.
(Al-Anbiya
[21]:37).
Oleh karena itu sangat wajar jika di dunia
ini mau pun di alam akhirat Allah
Swt. akan “menjauh” dari mereka dan
Dia tidak akan mempedulikan seruan-seruan
mereka kepada-Nya agar mereka terhindar
dari azab Ilahi yang dijanjikan-Nya
melalui para Rasul Allah yang diutus
kepada mereka -- termasuk di Akhir Zaman ini -- atau
siksaannya diringankan,
firman-Nya:
وَ
بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا فَقَالَ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا
اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ
اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قَالُوۡا لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ سَوَآءٌ عَلَیۡنَاۤ
اَجَزِعۡنَاۤ اَمۡ صَبَرۡنَا مَا
لَنَا مِنۡ مَّحِیۡصٍ ﴿٪﴾
Dan mereka itu semua akan tampil di hadapan Allah,
maka akan berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang takabur: “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kamu, lalu tidak
dapatkah kamu mengelakkan kami dari azab Allah sedikit pun?” Mereka
berkata: “Seandainya Allah memberi
petunjuk kepada kami, pasti kami pun
telah memberi petunjuk kepada kamu. Adalah sama saja bagi kita, apakah kita berkeluh-kesah atau kita bersabar, sekali-kali tidak
ada bagi kita jalan untuk melepaskan diri” (Ibrahim [14]:22).
Bahkan syaitan pun akan “mengingkari
janji-jajni muluknya” kepada mereka, firman-Nya:
وَ
قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ
الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ
وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ
عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ
اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ
لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا
بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ
بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ
الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: اِنَّ اللّٰہَ
وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ -- “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ -- dan aku sekali-kali
tidak memiliki kekuasaan apa pun atasmu,
اِلَّاۤ
اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- melainkan aku
telah mengajak kamu lalu kamu telah
mengabulkan ajakanku. فَلَا
تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ
اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ
اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku
sama sekali tidak dapat menolong kamu
dan kamu pun sama sekali tidak dapat
menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ ٌ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu
persekutukan denganku sebelumnya, اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ
لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡم -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim
[14]:23).
Pentingnya Mentaati Hukum
Alam dan Hukum Syariat
Ucapan pengkhianatan
syaitan tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. sebelumnya mengenai kesia-siaan menyembah “berhala-berhala”:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi dengan
rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).
Makna
ayat وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka.”
Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt. kedudukan
yang mustahak bagi-Nya dan memberi
kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan yang
mereka berhak memilikinya. Hanya itu
saja satu-satunya jalan untuk
mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Ayat selanjutnya: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun
yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”, mengandung
satu kebenaran yang agung, yaitu
bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt. mau
tidak mau – yakni suka atau tidak suka; secara rela atau pun terpaksa
-- harus
tunduk kepada hukum-hukum alam
yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
Contohnya lidah harus melaksanakan tugas mencicip,
dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Jadi, tunduknya
kepada hukum-hukum alam itu dapat
disebut sebagai dipaksakan. Tetapi
manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi
kebebasan (QS.2:257; QS.10:100;
QS.18:30) ia sedikit-banyak harus tunduk
kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka
atau tidak, sebab semua pemikiran
dan aktivitas
yang dilakukan manusia pasti akan
mendatangkan akibat yang
baik mau pun akibat yang buruk bagi
dirinya (QS.99:8-9).
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat
juga mengisyaratkan kepada dua golongan
manusia, ialah orang-orang beriman yang secara ikhlas
tunduk kepada Allah
Swt. dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu (terpaksa).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar