Minggu, 24 Juli 2016

Kedengkian Merupakan Penyebab Terjadinya "Kebutaan Mata Ruhani" Para Penentang Rasul Allah di Setiap Zaman Kerasulan & Pengulangan "Pengkhianatan Syaitan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA


 KEDENGKIAN MERUPAKAN PENYEBAB TERJADINYA KEBUTAAN MATA RUHANI PARA PENENTANG RASUL ALLAH DI SETIAP ZAMAN KERASULAN  & PENGULANGAN PENGKHIANATAN SYAITAN

Bab 5


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai   firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini berkenaan dengan “tabir” (tirai) antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan para penentang beliau saw.:
وَ اِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ  اَکِنَّۃً  اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ  وَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ  وَلَّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِہِمۡ  نُفُوۡرًا ﴿﴾  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat  حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا --  suatu hijab (tirai/penghalang yang tersembunyi.  Dan Kami menjadikan tutupan  di atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian.  Dan apabila engkau menyebutkan  Rabb (Tuhan) engkau Yang Tunggal dalam Al-Qur-an mereka membalikkan punggungnya karena benci.  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی    --  Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia,  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا  -- ketika  orang-orang zalim itu berkata satu sama lain:  Kamu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.”  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا   -- Perhatikanlah  bagaimana mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya mereka menjadi sesat lalu mereka tidak dapat menemukan jalan.  (Bani Israil [17]:46-49).

Penyebab Munculnya “Hijab” (Tirai) yang Menutupi Indera-indra ruhani

      “Hijab” yang menutupi hati dan indera-indra  ruhani para penentang Rasul Allah  adalah berupa  tutupan dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan, atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan ataupun tutupan sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan lama yang dipegang dengan erat dan asyiknyalah yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran yang dibawa para  rasul Allah.
      “Hijab” itu pulalah sebenarnya yang membuat “Iblis” menolak   “sujud” (beriiman dan patuh-taat) kepada “Adam” (Khalifah Allah) ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat agar “sujud” kepada Adam setelah mengetahui keunggulan Adam mengenai makrifat Ilahi  (QS.2:31-40; QS.7:12-26; QS.15:30-31; QS.17:62; QS.18:51; 10:117; QS.38:73-75).
       “Hijabkedengkian itu pulalah yang menyebabkan golongan Ahli Kitab  tidak beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:90-92 & 110; QS.3:20; QS.42:14-15; QS.45:18-19) sebagai penggenap  dari  nubuatan Bible berkenaan dengan “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19; QS.46:11) dan “Roh kebenaran” yang membawa seluruh kebenaran (Wahyu 16:12-13) atau “Ia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39).
      Berbagai macam  tutupan-tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri yang mengakibatkan kemampuan indera-indera ruhani mereka menjadi lumpuh  dan di akhirat mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129), firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan berapa banyak  sumur yang telah ditinggalkan dan juga  istana yang menjulang tinggi. َفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ   --    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا  --  lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya?   فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ --  Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.(Al-Hajj [22]:46-47).  Lihat pula QS.7:180.
        Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam berbagai  surah Al-Quran adalah  orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:7-8).

Kedegilan Hati Kaum Nabi Nuh a.s. dan Kaum-kaum Purbakala

     Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya   berbagai macam “tutupan” yang melumpuhkan indera-indera ruhani  orang-orang kafir tersebut adalah sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap kebenaran  yang datang kepada mereka melalui para Rasul Allah  (QS.7:35-37), sebagaimana yang dikemukakan  Nabi Nuh a.s.  kepada Allah Swt. mengenai kedegilan hati kaum beliau  terhadap da’wah yang  beliau lakukan dengan segala cara  (QS.71: 1-29).
      Sikap buruk yang sama juga dilakukan oleh kaum-kaum purbakala  setelah kaum Nabi Nuh a.s., seperti kaum  ‘Ad yang mendustakan Nabi Hud a.s.; kaum Tsammud yang mendustakan Nabi Shalih a.s., kaum Nabi Ibrahim a.s.; kaum   Nabi Luth a.s.; kaum Midian yang mendustakan Nabi Syu’aib a.s., demikian juga kaum Fir'aun   yang mendustakan Nabi Musa a.s.; Bani Israil yang mendustakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta Bani Ismail yang  mendustakan  Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.15:12; QS.36:31; QS.43:8), seakan-akan mereka itu telah saling mewasiyatkan sikap buruk tersebut (QS.51:53-54), firman-Nya:
    "Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dengan perintah:Berilah peringatan kaum engkau sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.” قَالَ یٰقَوۡمِ   اِنِّیۡ  لَکُمۡ نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ۙ --  Dia berkata: “Hai  kaumku, sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata bagi kamu.  اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَطِیۡعُوۡنِ --  Sembahlah Allah oleh kamu, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, یَغۡفِرۡ لَکُمۡ مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ وَ یُؤَخِّرۡکُمۡ اِلٰۤی  اَجَلٍ مُّسَمًّی   -- Dia akan mengampuni kamu atas dosa-dosamu dan akan memberi kamu tangguh  hingga waktu yang telah  ditentukan,   اِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  اِذَا جَآءَ  لَا  یُؤَخَّرُ ۘ لَوۡ  کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ    -- sesungguhnya   waktu yang ditentukan Allah itu  tidak dapat diundur lagi apabila waktu itu datang, jika kamu mengetahui.” قَالَ  رَبِّ  اِنِّیۡ  دَعَوۡتُ قَوۡمِیۡ لَیۡلًا وَّ نَہَارًا -- Ia berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menyeru  kaumku malam dan siang, فَلَمۡ   یَزِدۡہُمۡ دُعَآءِیۡۤ   اِلَّا  فِرَارًا  --   tetapi  seruanku tidak menambah mereka melainkan lari menjauh.  وَ  اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ  لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا  اَصَابِعَہُمۡ  فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا  --  Dan sesungguhnya setiap kali aku berseru kepada mereka agar Engkau memaafkan mereka, mereka memasukkan jari-jarinya ke dalam telinganya  dan menutupkan  pakaian mereka, dan mereka gigih dalam kekafiran dan mereka sangat menyombongkan diri. ثُمَّ   اِنِّیۡ  دَعَوۡتُہُمۡ  جِہَارًا --  Kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka secara terang-terangan, ثُمَّ  اِنِّیۡۤ  اَعۡلَنۡتُ لَہُمۡ وَ اَسۡرَرۡتُ لَہُمۡ اِسۡرَارًا -- kemudian sesungguhnya aku telah menyeru  secara terbuka kepada mereka dan mengimbau mereka secara sembunyi-sembunyi, فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا -- lalu   aku berkata: “Mohonlah ampun kepada Rabb (Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun,  یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ  مِّدۡرَارًا  --   Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan lebatوَّ یُمۡدِدۡکُمۡ  بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  اَنۡہٰرًا  -- dan Dia akan membantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Dia akan menjadikan bagi kamu kebun-kebun dan akan menjadikan bagimu sungai-sungaiمَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا --  Apakah yang terjadi dengan diri kamu bahwa kamu tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah?  وَ  قَدۡ خَلَقَکُمۡ   اَطۡوَارًا --   Dan  sungguh  Dia telah menciptakan kamu dalam  beberapa tingkatan kejadianاَلَمۡ تَرَوۡا کَیۡفَ خَلَقَ اللّٰہُ  سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا  --   Tidakkah kamu melihat  bagaimana Allah telah menciptakan tujuh  tingkat langit  dengan serasi, وَّ جَعَلَ الۡقَمَرَ فِیۡہِنَّ  نُوۡرًا وَّ جَعَلَ الشَّمۡسَ سِرَاجًا  --  dan  Dia telah menjadikan bulan di dalamnya sebagai cahaya penerang  dan menjadikan matahari sebagai pelita? وَ اللّٰہُ  اَنۡۢبَتَکُمۡ  مِّنَ الۡاَرۡضِ نَبَاتًا -- Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari bumi dengan sebaik-baik pertumbuhan, ثُمَّ یُعِیۡدُکُمۡ فِیۡہَا وَ یُخۡرِجُکُمۡ اِخۡرَاجًا --   kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya, dan Dia mengeluarkan kamu  dengan sebenar-benar pengeluaran. وَ اللّٰہُ  جَعَلَ  لَکُمُ الۡاَرۡضَ بِسَاطًا  --    Dan Allah telah menjadikan bagi kamu bumi sebagai hamparan, لِّتَسۡلُکُوۡا مِنۡہَا سُبُلًا  فِجَاجًا -- supaya kamu berjalan di jalan-jalannya yang luas.” قَالَ نُوۡحٌ  رَّبِّ اِنَّہُمۡ عَصَوۡنِیۡ وَ اتَّبَعُوۡا مَنۡ لَّمۡ  یَزِدۡہُ  مَالُہٗ وَ وَلَدُہٗۤ  اِلَّا خَسَارًا  -- Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), mereka sesungguhnya telah mendurhakai aku, dan mengikuti orang-orang yang tidak menambah kepadanya hartanya dan keturunannya selain kerugian, وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا کُبَّارًا  --   dan mereka telah merencanakan makar buruk. وَ قَالُوۡا لَا تَذَرُنَّ  اٰلِہَتَکُمۡ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّ لَا سُوَاعًا ۬ۙ وَّ لَا یَغُوۡثَ وَ یَعُوۡقَ وَ نَسۡرًا  --  Dan mereka berkata:  Janganlah kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu, dan janganlah meninggalkan Wadd dan jangan pula Suwa’, dan jangan pula Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.   وَ قَدۡ  اَضَلُّوۡا کَثِیۡرًا ۬ۚ وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ  اِلَّا ضَلٰلًا   -- Dan   sungguh  mereka telah menyesatkan banyak orang, dan Engkau tidak akan menambah bagi orang-orang zalim kecuali kesesatan.” مِمَّا خَطِیۡٓــٰٔتِہِمۡ  اُغۡرِقُوۡا فَاُدۡخِلُوۡا نَارًا ۬ۙ  فَلَمۡ یَجِدُوۡا  لَہُمۡ  مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَنۡصَارًا  -- Disebabkan dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan dan dimasukkan ke dalam Api, dan mereka tidak mendapati bagi mereka penolong-penolong selain Allah.  وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَی الۡاَرۡضِ مِنَ  الۡکٰفِرِیۡنَ دَیَّارًا  --  Dan Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), janganlah Engkau membiarkan di atas bumi penghuni dari kalangan orang-orang kafirاِنَّکَ اِنۡ تَذَرۡہُمۡ یُضِلُّوۡا عِبَادَکَ وَ لَا یَلِدُوۡۤا  اِلَّا  فَاجِرًا کَفَّارًا  --  Sesungguhnya jika Engkau membiarkan mereka, mereka akan menyesatkan hamba-hamba Engkau dan mereka tidak akan melahirkan kecuali orang-orang berdosa lagi kafirرَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ  وَ لِوَالِدَیَّ  وَ لِمَنۡ دَخَلَ بَیۡتِیَ  مُؤۡمِنًا وَّ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ  --   “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), ampunilah aku serta ibu-bapakku, dan   yang me-masuki rumahku sebagai orang beriman, serta orang-orang beriman laki-laki dan perempuan. وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ  اِلَّا تَبَارًا  --  Dan Engkau tidak menambahkan kepada orang-orang  zalim kecuali kebinasaan.”  (Nuh [71]:1-29).     
 Kata-kata  istaghsyau tsiyābahum dalam ayat berikut ini secara kiasan berarti: Mereka menolak mendengarkan Amanat Ilahi. Mereka menutup semua jalan ke dalam hati mereka terha-dap Amanat itu. Tsiyāb artinya “segala hati” (Lexicon Lane):  وَ  اِنِّیۡ کُلَّمَا دَعَوۡتُہُمۡ  لِتَغۡفِرَ لَہُمۡ جَعَلُوۡۤا  اَصَابِعَہُمۡ  فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَ اسۡتَغۡشَوۡا ثِیَابَہُمۡ وَ اَصَرُّوۡا وَ اسۡتَکۡبَرُوا اسۡتِکۡبَارًا  --  Dan sesungguhnya setiap kali aku berseru kepada mereka agar Engkau memaafkan mereka, mereka memasukkan jari-jarinya ke dalam telinganya  dan menutupkan pakaian mereka, dan mereka gigih dalam kekafiran dan mereka sangat menyombongkan diri.”
  Nabi Nuh a.s.   menggunakan segala sarana dan cara yang ada pada diri beliau guna membuat kaum beliau mau mendengarkan Amanat Ilahi. Tetapi kaum beliau sama-sama bertekad tidak menghiraukan Amanat.  Tetapi yang terjadi masalah sebaliknya, karena adanya “hijab” (penutup) yang meenyelubungi hati dan indera-indera ruhani mereka.

Bagi Orang Buta Siang Hari  Pun Gelap Gulita  & Pengkhianatan “Manusa Syaitan

      Mengisyaratkan kepada Adanya “hijab  tersembunyi” itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kedegilan hati kaum beliau saw., padahal dengan tegas Allah Swt. menyetakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. merupakan “matahari ruhani” yang bercahaya cemerlang (QS.33:46-48):
وَ اِذَا رَاٰکَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اِنۡ یَّتَّخِذُوۡنَکَ  اِلَّا ہُزُوًا ؕ اَہٰذَا  الَّذِیۡ  یَذۡکُرُ   اٰلِہَتَکُمۡ ۚ وَ ہُمۡ   بِذِکۡرِ  الرَّحۡمٰنِ ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila  orang-orang yang kafir itu melihat kepada engkau  mereka menjadikan engkau tidak  melainkan  hanya  perolokan belaka  dan berkata: “Inikah orangnya yang menyebutkan keburukan tuhan-tuhan kamu?” Padahal mereka sendirilah yang menolak untuk mengingat Yang Maha Pemurah. (Al-Anbiya [21]:37).
        Oleh karena itu sangat wajar jika di dunia ini mau pun di alam akhirat Allah Swt. akan “menjauh” dari mereka dan Dia tidak akan mempedulikan seruan-seruan mereka kepada-Nya agar  mereka terhindar dari azab Ilahi  yang dijanjikan-Nya melalui para Rasul Allah yang diutus kepada mereka  -- termasuk di Akhir Zaman ini  -- atau  siksaannya diringankan, firman-Nya:
وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا فَقَالَ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قَالُوۡا لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ سَوَآءٌ  عَلَیۡنَاۤ  اَجَزِعۡنَاۤ  اَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِنۡ  مَّحِیۡصٍ  ﴿٪﴾
Dan mereka itu semua akan tampil di hadapan Allah,    maka akan berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang takabur: “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kamu, lalu  tidak dapatkah kamu mengelakkan kami dari azab Allah sedikit pun?” Mereka berkata: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, pasti kami pun telah memberi petunjuk kepada kamu. Adalah sama saja bagi kita, apakah kita  berkeluh-kesah atau kita bersabar, sekali-kali tidak ada bagi kita jalan untuk melepaskan diri” (Ibrahim [14]:22).
       Bahkan syaitan pun akan “mengingkari janji-jajni muluknya” kepada mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ   اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ   اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan,     syaitan berkata: اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ     --  “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ     -- dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinyaوَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ    -- dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atasmu,   اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ   --  melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku.  فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  --  Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ ٌ  -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡم  -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).

Pentingnya Mentaati Hukum Alam dan Hukum Syariat

   Ucapan pengkhianatan syaitan tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. sebelumnya mengenai kesia-siaan menyembah “berhala-berhala”:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --   dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).
Makna  ayat  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    --  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.”
     Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
      Ayat selanjutnya:   وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --   “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --   dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”,   mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt.  mau tidak mau – yakni suka atau tidak suka; secara rela atau pun terpaksa --  harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
     Contohnya lidah harus melaksanakan tugas mencicip, dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Jadi,  tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan (QS.2:257;  QS.10:100; QS.18:30) ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak, sebab  semua pemikiran dan  aktivitas yang dilakukan manusia pasti akan mendatangkan akibat  yang baik mau  pun akibat yang buruk  bagi dirinya (QS.99:8-9).
   Kata-kata  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --  “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, ialah  orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.   dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.    dengan menggerutu (terpaksa).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 24 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar