Senin, 18 Juli 2016

Hubungan "Kedekatan" Allah Swt. Dengan "Pengabulan Doa" & Malaikat-malaikat Pencatat Amal


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



HUBUNGAN KEDEKATAN   ALLAH SWT. DENGAN PENGABULAN  DOA  &   MALAIKAT-MALAIKAT  PENCATAT AMAL

Bab I


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  Al-Quran Allah Swt.  mengemukakan ayat-ayat berkenaan dengan doa dan pengabulannya, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  -- maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).

Kedekatan Allah Swt. Dengan Manusia  

   Dalam ayat tersebut  Allah Swt. sebelum menyebut   “pengabulan doa” diawali dengan menjelaskan “posisi” Allah Swt., yaitu bahwa Allah Swt. itu dekat – bahkan sangat dekat dan lebih dekat daripada urat leher manusia terhadap dirinya (QS.11:62; QS.34:51;  QS.50:17 --  firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾   وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾  وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہ  --  dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ --  dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernyaاِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ  --            Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ  --  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawasوَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ --    Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ  -- itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinyaوَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ  --        Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا  --   Kami berfirman: “Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai me-ngenai hari ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ --  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ --  Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  (Qāf [50]:17-24).
      Jadi, “posisi” Allah Swt. terhadap manusia itu bukan sekedar “sangat dekat” tetapi juga “mencatat” semua aktifitas hatipikiran, perkataan   serta  perbuatan manusia, yang akan menjadi penyebab manusia setelah mati  di alam akhirat masuk surga atau masuk neraka, karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa tujuan utama diciptakan manusia yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57) dalam rangka melanjutkan kehidupan di alam akhirat guna mempertanggungjawabkan  kehidupan yang telah dijalaninya di dunia ini (QS.102:1-9).

Dua Malaikat Pencatat Amal &  Alat Perekam Aktifitas

 Menurut beberapa ahli tafsir, malaikat yang duduk di sebelah kanan manusia mencatat amal baiknya dan malaikat yang ada di sebelah kirinya mencatat amal buruknya. Perkataan “di sebelah kanan” menunjuk kepada amal baik dan “di sebelah kiri” kepada amal buruknya.
 Tiap perbuatan dan perkataan yang diucapkan meninggalkan bekasnya di udara dan dengan demikian tetap tersimpan. Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.24:25, QS.36:66; QS.41:20-24) dinyatakan bahwa anggota tubuh manusia – lengan, kaki dan lidahnya – akan menjadi saksi terhadap dirinya pada Hari Peradilan. Oleh karena itu berbagai-bagai tubuh manusia juga akan menjadi “pencatat- pencatat” seperti disinggung dalam ayat ini sebagai malaikat-malaikat pencatat, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلٰۤی اَفۡوَاہِہِمۡ وَ تُکَلِّمُنَاۤ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ تَشۡہَدُ اَرۡجُلُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ
Pada hari ini Kami akan memeterai mulut mereka,  sedangkan  tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi  mengenai apa yang dahulu mereka usahakan. (Yā Sīn [36]:66). Lihat pula QS.17:37; QS.24:25; QS.41:21-23.
    Bila kejahatan-kejahatan orang-orang kafir telah dibuktikan dan dinyatakan senyata-nyatanya, mereka akan bungkam — mulutnya seolah-olah termeterai (disegel) dan mereka tidak akan mampu menyatakan sesuatu guna membela diri dan memperkecil dosa mereka, dan tangan serta kaki mereka pun akan memberikan persaksian terhadap mereka, karena tangan dan kaki merupakan alat utama guna melaksanakan perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk.
       Ucapan dan gerak gerik seseorang sekarang dapat direproduksi dengan persis oleh alat perekam (tape-recorder) dan pada layar televisi dari jarak bermil-mil jauhnya. Itulah sebabnya mengapa lidah dan anggota-anggota tubuh manusia bahkan di alam dunia ini pun telah menjadi saksi bagi atau terhadap dia. Firman-Nya lagi:
یَّوۡمَ  تَشۡہَدُ عَلَیۡہِمۡ اَلۡسِنَتُہُمۡ وَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ  اَرۡجُلُہُمۡ  بِمَا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یُّوَفِّیۡہِمُ اللّٰہُ  دِیۡنَہُمُ الۡحَقَّ وَ یَعۡلَمُوۡنَ  اَنَّ  اللّٰہَ  ہُوَ الۡحَقُّ الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Pada hari ketika  lidah mereka, dan tangan mereka dan kaki mereka akan menjadi saksi atas mereka   mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan. Pada hari itu Allah akan menyempurnakan kepada mereka ganjaran mereka yang sebenarnya, dan mereka akan mengetahui  bahwa sesungguhnya  Allah Dia-lah Kebenaran yang nyata.  (An-Nūr [24]:25-26).
      Penyelidikan ilmiah mutakhir telah membuktikan kebenaran ayat ini. Alat-alat ilmiah telah diciptakan yang apabila alat tersebut diletakkan pada suatu tempat  dapat merekam percakapan seseorang, dan bahkan dapat mencatat suara gerakan-gerakan  tangan, kaki, dan aktifitas  anggota-anggota tubuh lainnya.
Alat-alat perekam ini telah sangat menolong polisi menangkap pencuri-pencuri dan penjahat-penjahat lain dan membuktikan kejahatan mereka. Jadi dengan bantuan alat-alat ini lidah, tangan, dan kaki seseorang penjahat seolah-olah dijadikan pemberi kesaksian terhadap dirinya sendiri.
       Ilmu pengetahuan telah pula membuktikan kenyataan bahwa tiap-tiap kata yang diucapkan atau gerakan ataupun perbuatan meninggalkan bekasnya di udara. Menurut Al-Quran bekas-bekas semacam itu di akhirat akan diberi bentuk benda, dan dengan demikian kaki dan tangan orang yang melakukan perbuatan baik atau buruk akan memberikan kesaksian yang memberatkan atau sebaliknya menguntungkan si pelaku itu, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ ؕؑ وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ  فِیۡۤ   اِمَامٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami menghidupkan yang telah mati  وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ  --  dan Kami mencatat apa yang telah  mereka dahulukan serta bekas-bekas mereka, وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ  فِیۡۤ   اِمَامٍ  مُّبِیۡنٍ  --  dan segala sesuatu  Kami menghitungnya dalam Kitab yang nyata (Yā Sīn [36]:13).

Mencatat Aktifitas Hati (Jiwa)

        Bahkan  Allah Swt. pun akan meminta pertanggungjawaban  aktifitas hati dan otak manusia, firman-Nya:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا﴿﴾
Dan janganlah engkau mengikuti apa yang terhadapnya engkau tidak memiliki  pengetahuan, اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا  --   sesungguhnya telinga, mata dan hati,  semuanya  akan ditanya mengenai itu  (Bani Israil [17]:37).
      Ayat ini mengikis habis sampai ke akar-akarnya semua sumber kecurigaan, yang menurut urutan alami adalah “telinga”, “mata”, dan “hati”. Telinga merupakan saluran pertama  informasi yang melaluinya sebagian besar kecurigaan masuk ke dalam pikiran orang. Sebagian besar kecurigaan adalah disebabkan oleh laporan-laporan tidak berdasar yang didengar oleh seseorang mengenai orang lain.
      Sumber (saluran) kedua informasi ialah penglihatan. Seseorang melihat orang lain berbuat sesuatu, dan memberinya penafsiran yang salah, dan terbawa pikirannya untuk mencurigai maksud-maksud dan niat-niat orang yang melakukan perbuatan itu.
     Kecurigaan terakhir dan yang paling rendah ialah yang seseorang menaruh curiga terhadap orang lain, bukan sebagai akibat suatu laporan buruk yang mungkin telah ia dengar, dan bukan pula diakibatkan oleh suatu perbuatan buruk, yang boleh jadi ia sendiri lihat orang itu melakukannya, melainkan oleh karena didorong khayalannya sendiri yang tidak sehat.
       Jadi bukan hanya jiwa dan harta kekayaan manusia saja yang dinyatakan suci dan tidak boleh dilanggar (seperti telah disinggung dalam ayat yang mendahuluinya), tetapi kehormatan manusia mempunyai nilai kudus, dan serangan terhadap kehormatan manusia pun harus pula dipertanggung-jawabkan kelak: اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا  --   sesungguhnya telinga, mata dan hati,  semuanya  akan ditanya mengenai itu.”

Kesaksian Tubuh Manusia Terhadap  Perbuatannya

      Sehubungan pencatatan segala aktifitas  fisik dan jiwa (ruh) manusia tersebut oleh para malaikat pencatat amal Allah Swt. berfirman secara khusus mengenai musuh-musuh Allah Swt. dan Rasul-Nya:    
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ﴿﴾  وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ ﴿﴾  وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿٪﴾

Dan ingatlah hari ketika   musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok.  حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  -- Hingga apabila mereka sampai kepadanya   telinga mereka, dan  mata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan. وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا --    Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ  -- Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan. وَ مَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُوۡنَ اَنۡ یَّشۡہَدَ عَلَیۡکُمۡ سَمۡعُکُمۡ وَ لَاۤ  اَبۡصَارُکُمۡ وَ لَا جُلُوۡدُکُمۡ    --  Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi  bahwa telinga kamu, dan tidak pula  mata kamu, dan tidak pula kulit kamu, وَ لٰکِنۡ ظَنَنۡتُمۡ  اَنَّ اللّٰہَ  لَا یَعۡلَمُ  کَثِیۡرًا  مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ  --  tetapi kamu menyangka bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.   وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah membinasakan kamu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.”  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ     --  Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ    -- dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak ter-masuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya.        وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  -- Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka  وَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ  الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۚ  -- dan genaplah atas mereka firman Allah di kalangan  umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan ins (manusia), اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ  --   sesungguhnya mereka itu orang-orang yang  rugi. (Hā MīmAs-Sajdah [41]:20-26).

Tiga  Macam  Kesaksian   & Segala Sesuatu di Alam Semesta  Menjadi Saksi  Allah Swt.

  Makna ayat:  حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  -- Hingga apabila mereka sampai kepadanya   telinga mereka, dan  mata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan”, bahwa mata dan telinga orang-orang berdosa akan menjadi saksi terhadap orang-orang ingkar dengan tiga jalan:
  (1) Akibat-akibat buruk perbuatan mereka akan mengambil bentuk fisik.
 (2) Anggota-anggota tubuh  mereka sendiri rusak akibat penyalahgunaan, keadaan demikian menjadi saksi terhadap mereka,
  (3) Segala gerak-gerik anggota-anggota badan mereka yang diabadikan akan diperlihatkan pada Hari Kiamat.
  Hakikat dialog penghuni neraka dengan kulit mereka  dalam ayat: وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا --    Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ  -- Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan.” 
   Kulit memainkan peranan paling penting dalam perbuatan-perbuatan manusia. Kulit bukan saja mencakup indera peraba, melainkan juga semua indera lainnya. Kalau dosa mata dan telinga terbatas pada penglihatan dan pendengaran saja maka dosa-dosa ”kulit” meluas ke segala anggota atau bagian tubuh lainnya.
  Dari ucapan kulit:  قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ       -- Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ  --  seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu,” membuktikan bahwa seluruh bagian alam semesta mulai dari partikel  yang paling kecil sampai benda-benda yang paling besar di alam semesta ini pada hakikatnya merupakan malaikat-malaikat  pemberi kesaksian yang berkhidmat kepada Allah Swt. 

Hubungan Dosa Dengan Ketiadaan Iman  &  Kawan yang Buruk

  Sesungguhnya segala dosa merupakan akibat kekurangan iman yang hidup kepada Allah Swt., itulah makna ucapan “kulit” selanjutnya: وَ ذٰلِکُمۡ ظَنُّکُمُ الَّذِیۡ ظَنَنۡتُمۡ بِرَبِّکُمۡ اَرۡدٰىکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- Dan itulah sangkaanmu yang kamu sangkakan kepada Rabb (Tuhan) kamu yang telah membinasakan kamu  maka jadilah kamu termasuk  orang-orang yang rugi.” 
  Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa keburukan orang-orang kafir itu begitu busuk dan menjijikan sehingga mereka tidak akan dianugerahi atau dikembalikan ke dalam haribaan karunia Ilahi; atau artinya ialah  orang-orang ingkar malahan tidak akan diizinkan mendekati 'atabah (ambang pintu)  'Arasy Ilahi untuk memohon kasih-Nya. Itulah makna ayat:  فَاِنۡ یَّصۡبِرُوۡا فَالنَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ۚ     --  Lalu jika mereka bersabar  maka Api tempat-tinggal bagi mereka, وَ  اِنۡ یَّسۡتَعۡتِبُوۡا فَمَا ہُمۡ مِّنَ الۡمُعۡتَبِیۡنَ    -- dan jika mereka mengemukakan alasan  maka sekali-kali mereka tidak ter-masuk orang-orang  yang diterima alasan-alasannya.”
   Makna ayat:  وَ قَیَّضۡنَا لَہُمۡ قُرَنَآءَ فَزَیَّنُوۡا لَہُمۡ مَّا بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  -- Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menampakkan indah bagi mereka apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka  bahwa kawan-kawan buruk orang-orang kafir mengagumi dan memuji perbuatan-perbuatan buruk mereka, dengan demikian membuat perbuatan-perbuatan  buruk itu bagi mereka nampak terpuji, sebagaimana dilakukan syaitan dan “manusia-manusia syaitan” dalam membantu  orang-orang kafir melakukan penentangan terhadap rasul Allah,   firman-Nya:
  وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika  syaitan  menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka dan berkata:  Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” Tetapi  tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia berbalik  atas tumitnya sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah  dan siksaan Allah sangat keras. (Al-Anfāl [8]:49).
 Kemudian  mengenai  tipu-daya  dan kedustaan “janji-janji” syaitan  dan “manusia-manusis syaitan” seperti itu Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan, syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, dan aku  se-kali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23). 
   Sekutu-sekutu yang buruk seperti itu   kelak akan memperoleh porsi hukuman, bersama orang-orang yang terpedaya dan tertipu oleh mereka. Kata-kata  ”apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka,” dapat berarti perbuatan-perbuatan yang dilakukan mereka meniru perbuatan-perbuatan buruk bapak-bapak mereka.

Malaikat-malaikat Pencatat Amal

      Jadi, kembali kepada firman-Nya mengenai “dekatnya” posisi Allah Swt. kepada manusia  dan  keberadaan  “dua malaikat pencatat amal” dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾   وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾  وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہ  --  dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ --  dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernyaاِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ  --            Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ  --  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawasوَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ --    Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ  -- itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinyaوَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ  --        Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا  --   Kami berfirman: “Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai me-ngenai hari ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ --  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ --  Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  (Qāf [50]:17-24).
   Sa’iq dalam ayat  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   “Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian”, boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kiri manusia dan mencatat amal buruknya dan sebagai hukuman atas amal buruk itu, akan menggiring orang itu ke neraka.
    Syahid boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kanan dan mencatat perbuatan baiknya dan akan menjadi saksi baginya. Atau, kedua kata itu secara kiasan masing-masing dapat menyatakan anggota tubuh dan kemampuan manusia yang disalahgunakan, serta anggota tubuh dan kemampuan manusia yang digunakan dengan baik dan setepat-tepatnya.

(Bersambung)

 Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 18 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar