Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
TERSINGKAPNYA “HIJAB” (TIRAI) KEGAIBAN
DI AKHIRAT & BERIMAN KEPADA YANG GAIB TANDA PERTAMA ORANG-ORANG
BERTAKWA
Bab 2
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai “dekatnya”
posisi Allah Swt. kepada manusia dan
keberadaan “dua malaikat pencatat amal” dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾ اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ
عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾ مَا یَلۡفِظُ
مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ
عَتِیۡدٌ ﴿﴾ وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ
مِنۡہُ تَحِیۡدُ ﴿﴾ وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ
﴿﴾ وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ
شَہِیۡدٌ ﴿﴾ لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ
فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾ وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ
ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ
نَفۡسُہ
-- dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ -- dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya. اِذۡ یَتَلَقَّی
الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ -- Ketika
kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah
kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا
لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ -- Ia tidak
mengucapkan sepatah kata pun melainkan di
dekatnya sudah siap pengawas. وَ جَآءَتۡ
سَکۡرَۃُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ -- Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ تَحِیۡدُ
-- itulah apa yang engkau
selalu menghindar darinya. وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡوَعِیۡدِ -- Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari
azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ
نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ
-- Dan datang
setiap jiwa besertanya ada malaikat
penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا -- Kami
berfirman: “Sungguh dahulu
engkau benar-benar lalai mengenai hari
ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ -- maka Kami
singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ
قَرِیۡنُہٗ ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ -- Dan teman
yang menyertainya berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan
amal engkau.” (Qāf [50]:17-24).
Tersingkapnya “Hijab”
(Tirai) di Akhirat
Sa’iq dalam ayat وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا
سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ -- “Dan datang setiap jiwa
besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian”, boleh jadi malaikat yang
duduk di sebelah kiri manusia dan
mencatat amal buruknya dan sebagai hukuman atas amal buruk itu, akan menggiring orang itu ke neraka.
Syahid boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kanan dan mencatat
perbuatan baiknya dan akan menjadi saksi
baginya. Atau, kedua kata itu secara kiasan
masing-masing dapat menyatakan anggota
tubuh dan kemampuan manusia yang disalahgunakan, serta anggota tubuh dan kemampuan manusia yang digunakan
dengan baik dan setepat-tepatnya,
yang akan memberikan dampak (akibat) baik
atau buruk kepada para pelakunya dan menjadikannya di akhirat
sebagai penghuni surga atau penghuni neraka.
Makna
ayat فَکَشَفۡنَا
عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ -- “maka Kami singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat
tajam.” Pada Hari Kemudian (alam akhirat) tabir
(hijab) akan disingkapkan dari mata manusia dan pandangan serta penglihatan
mentalnya akan menjadi lebih terang
dan lebih tajam.
Manusia akan melihat akibat perbuatan-perbuatannya
dalam bentuk jasad yang dahulu di dunia ini tersembunyi dari matanya serta
dari seluruh indranya dan akan menyadari
bahwa apa yang biasa dianggapnya
semata-mata suatu khayalan belaka hal itu benar-benar merupakan kenyataan
yang sesungguhnya (haq).
Rukun Iman dan Rukun Islam
Karena Allah
Swt., para malaikat dan alam akhirat -- walau pun merupakan haq
(kebenaran) -- tetapi bagi manusia yang masih hidup di
dunia ini semua itu bersifat gaib,
maka Allah
Swt. dalam ajaran Islam (Al-Quran)
telah menetapkan 6 hal yang harus diimani oleh orang-orang
beriman dalam Rukun Iman dan 5 hal
yang harus diamalkan dalam Rukun Islam, sebagaimana yang diimani dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ
بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا
وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ
نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا
اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تَحۡمِلۡ
عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ
عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا
عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun
yang ada di bumi, dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya Allah
akan menghisab kamu mengenainya, maka Dia akan mengampuni siapa yang
Dia kehendaki dan akan
mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu. ٰ Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu
pula orang-orang beriman, semuanya
beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata: ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara
Rasul-rasul-Nya”, dan mereka berkata: “Kami telah
mendengar dan kami taat. Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.” Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya
ganjaran untuk apa yang
diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan
untuk apa yang diusahakannya. Mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah.
Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani
kami dengan apa yang kami tidak kuat
menanggungnya, maafkanlah kami, ampunilah kami, dan kasihanilah
kami karena Engkau-lah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
kafir.” (Al-Baqarah [2]:285-287).
Setiap Manusia Harus Mempertanggungjawabkan
Amalnya & Tanda Pertama Orang Bertakwa
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat
berikut ini menolak keras paham “penebusan
dosa” macam apa pun, karena menurut Allah Swt. setiap orang harus mempertanggungjawabkan setiap pemikiran,
ucapan dan perbuatan yang dilakukannya: Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang
diusahakannya.”
Dalam rangka memperoleh maghfirah (pengampunan) Allah Swt. terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukannya -- secara sengaja atau secara tidak
sengaja -- maka orang-orang beriman dan bertakwa
akan memanjatkan doa maghfirah kepada Allah Swt. dengan penuh kerendahan hati dan penuh pengharapan.Mereka
berkata:
“Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami
jika kami terlupa atau kami
tersalah. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah
Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya, maafkanlah kami, ampunilah kami, dan kasihanilah kami karena Engkau-lah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
Sehubungan dengan Rukun Iman dan Rukun Islam -- yang
merupakan kegiatan ibadah umat Islam
-- Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan bahwa “beriman kepada yang gaib” -- terutama kepada Allah Swt. – merupakan tanda pertama dari orang-orang
bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha
Pemurah, Maha Penyayang. Alif Lām Mīm. Inilah Kitab
yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan
shalat dan mereka membelanjakan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau,
juga kepada apa yang telah
diturunkan sebelum engkau dan kepada
akhirat pun
mereka
yakin. Mereka
itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk
dari Rabb-nya (Tuhan-nya) dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Makna “Beriman kepada yang Gaib”
Al-ghaib dalam ayat: "Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang gaib” berarti: sesuatu yang
tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak
terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah Swt. para malaikat dan Hari Kiamat
dan alam akhirat --
dengan surga dan neraka yang ada di dalamnya
-- semuanya al-ghaib.
Lagi pula, kata gaib yang digunakan dalam
Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata,
melainkan hal-hal yang nyata dan
telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak, berikut firman-Nya
mengenai berbagai hal dalam surga di alam akhirat, yang merupakan akibat dari kepercayaan
dan perbuatan manusia di dunia ini:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi
bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(As-Sajdah
[32]:18).
Waktu Nabi
Besar Muhammad saw. menggambarkan bentuk
dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau saw.
diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada mata
pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah
mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalaq).
Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi (akhirat) tidak
akan bersifat kebendaan seperti di
dunia ini yang bersifat fana. Nikmat-nikmat surgawi di akhirat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa --
yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh -- di alam
dunia ini, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا
مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا --
Setiap kali diberikan kepada
mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
berkata: “Inilah yang telah direzekikan
kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di
dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
Gambaran Perumpamaan Surga Dalam Al-Quran
Ayat
ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran
yang akan diperoleh orang-orang beriman
di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan
(gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena mereka sama sekali tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk
dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18).
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tidak ada mata telah
melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran
manusia dapat mengirakannya” (Bukhari).
Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: “Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini?” Hal demikian
adalah karena seruan Al-Quran itu
tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu
(intelaktual), karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami
semua orang, namun mengandung falsafah
serta hikmah yang sangat luas
dan dalam (QS.18:110; QS.31:28).
Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa “hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah” yang mampu
“menyentuh” kedalaman dan keluasan berbagai khazanah
pengetahuan jasmani dan ruhani
yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
itu benar-benar Al-Quran
yang mulia, dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- yang
tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Wāqi’ah
[56]:78-80).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar