Rabu, 20 Juli 2016

Tersingkapnya "Hijab (Tirai) Kegaiban" di Akhirat & "Beriman Kepada Yang Gaib" Tanda Pertama Orang-orang Bertakwa



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



TERSINGKAPNYA HIJAB” (TIRAI) KEGAIBAN DI AKHIRAT  & BERIMAN KEPADA YANG GAIB TANDA PERTAMA ORANG-ORANG BERTAKWA

Bab 2


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai “dekatnya” posisi Allah Swt. kepada manusia  dan  keberadaan  “dua malaikat pencatat amal” dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾   وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾  وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہ  --  dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ --  dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernyaاِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ  --    Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ  --  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawasوَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ --    Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ  -- itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinyaوَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ  --   Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا  --   Kami berfirman: “Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ --  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ --  Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  (Qāf [50]:17-24).

Tersingkapnya “Hijab” (Tirai) di Akhirat  

   Sa’iq dalam ayat  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   “Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian”, boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kiri manusia dan mencatat amal buruknya dan sebagai hukuman atas amal buruk itu, akan menggiring orang itu ke neraka.
  Syahid boleh jadi malaikat yang duduk di sebelah kanan dan mencatat perbuatan baiknya dan akan menjadi saksi baginya. Atau, kedua kata itu secara kiasan masing-masing dapat menyatakan anggota tubuh dan kemampuan manusia yang disalahgunakan, serta anggota tubuh dan kemampuan manusia yang digunakan dengan baik dan setepat-tepatnya, yang akan memberikan dampak (akibat) baik atau buruk kepada   para pelakunya dan menjadikannya  di akhirat sebagai penghuni surga atau penghuni neraka.
  Makna ayat فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ --  “maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.”  Pada Hari Kemudian (alam akhirat)  tabir (hijab) akan disingkapkan dari mata manusia dan pandangan serta penglihatan mentalnya akan menjadi lebih terang dan lebih tajam.
   Manusia  akan melihat akibat perbuatan-perbuatannya dalam bentuk jasad yang dahulu di dunia ini tersembunyi dari matanya  serta  dari seluruh indranya  dan akan menyadari bahwa apa yang biasa dianggapnya semata-mata suatu khayalan belaka  hal itu benar-benar  merupakan kenyataan yang sesungguhnya (haq).

Rukun Iman dan Rukun Islam

  Karena  Allah Swt., para malaikat dan alam akhirat  -- walau pun merupakan   haq (kebenaran)   --  tetapi bagi manusia yang masih hidup di dunia ini  semua itu bersifat gaib,  maka   Allah Swt. dalam ajaran Islam (Al-Quran) telah menetapkan  6 hal yang harus diimani  oleh orang-orang beriman dalam Rukun Iman dan 5 hal yang harus diamalkan dalam Rukun Islam, sebagaimana yang diimani dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ  یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ   عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit    dan apa pun yang ada di bumi dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya    Allah akan menghisab kamu mengenainya,   maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki,   dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ٰ Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,   semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nyamereka berkata:  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,   dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.”  Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.   Mereka berkata:  “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah.  Ya Rabb (Tuhan)  kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya maafkanlah kami, ampunilah kami, dan  kasihanilah kami karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:285-287). 

Setiap Manusia Harus Mempertanggungjawabkan Amalnya & Tanda Pertama Orang  Bertakwa

          Pernyataan Allah Swt. dalam ayat berikut ini  menolak keras paham “penebusan dosa” macam apa pun, karena menurut Allah Swt. setiap orang harus mempertanggungjawabkan  setiap pemikiran, ucapan dan perbuatan yang dilakukannya:   Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.    Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.”
        Dalam rangka memperoleh maghfirah (pengampunan) Allah Swt.  terhadap dosa-dosa   yang pernah dilakukannya   -- secara sengaja atau secara tidak sengaja  -- maka orang-orang beriman dan bertakwa akan memanjatkan doa maghfirah kepada Allah Swt.  dengan penuh kerendahan hati dan penuh pengharapan.Mereka berkata: 
      “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah. Ya Rabb (Tuhan)  kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnyamaafkanlah kami, ampunilah kami, dan  kasihanilah kami  karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
          Sehubungan dengan Rukun Iman dan Rukun Islam  -- yang merupakan  kegiatan ibadah umat Islam  --     Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan bahwa “beriman kepada yang gaib”  -- terutama kepada Allah Swt.  – merupakan tanda pertama dari  orang-orang bertakwa,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ﴿﴾   ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Alif Lām Mīm. Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di dalamnya  petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, dan  mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.  Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau   dan kepada  akhirat   pun mereka   yakin. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhan-nya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).

Makna “Beriman kepada yang Gaib

   Al-ghaib dalam ayat:    "Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib” berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid).  Allah Swt.   para malaikat dan Hari Kiamat dan alam akhirat   -- dengan surga dan neraka yang ada di dalamnya   -- semuanya al-ghaib.
      Lagi pula, kata  gaib yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak, berikut firman-Nya mengenai berbagai hal dalam surga di alam akhirat, yang merupakan akibat  dari kepercayaan dan perbuatan manusia di dunia ini:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (As-Sajdah [32]:18).
       Waktu Nabi Besar Muhammad saw. menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalaq).
      Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi (akhirat) tidak akan bersifat kebendaan seperti di dunia ini yang  bersifat fana. Nikmat-nikmat surgawi di akhirat  itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa   -- yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh   -- di alam dunia ini, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezekiقَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya   (Al-Baqarah [2]:26).

Gambaran Perumpamaan Surga  Dalam Al-Quran
  
       Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena  mereka sama sekali tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
    Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18).  Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari).
     Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  “Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini?” Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu (intelaktual), karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang, namun mengandung falsafah serta hikmah yang  sangat luas dan dalam (QS.18:110; QS.31:28).
      Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa “hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah” yang mampu “menyentuh” kedalaman dan keluasan  berbagai khazanah pengetahuan jasmani dan ruhani yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,   dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ --  yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.  (Wāqi’ah [56]:78-80).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 19 Juli   2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar