Jumat, 29 Juli 2016

"Kedekatan" Dengan Allah Swt. dan Hubungannya Dengan "Pengabulan Doa" Hamba-hamba-Nya & Definisi "Tuhan" Yang Hakiki Menurut Al-Quran





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



 KEDEKATAN DENGAN ALLAH SWT. DAN HUBUNGANNYA DENGAN  PENGABULAN  DOA HAMBA-HAMBA-NYA & DEFINISI TUHAN YANG HAKIKI MENURUT AL-QURAN


Bab 10


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab   9  sebelumnya telah dijelaskan  mengenai kesuksesan duniawi Qarun, firman-Nya:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ  -- Ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ     --  Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا  --  dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia,  وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ  -- dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ  -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi,  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).

“Kunci-kunci”  Keberhasilan Duniawi Qarun

     Mafatih dalam ayat وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ  -- “Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat” adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah, yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane). Terhadap nasihat kaumnya   -- dalam hal ini Nabi Musa a.s.   --  dia menjawab:
قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Ia  berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah ia mengetahui bahwa  sungguh  Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya?  وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka (Al-Qashash [28]:79).
       Makna ayat:    وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- “Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka” bahwa  kesalahan kaum kafir akan begitu nyata sehingga pengusutan lebih lanjut akan dianggap tidak perlu untuk membuktikannya; atau artinya ialah orang-orang yang bersalah tidak akan diberi peluang membela diri, karena dosa-dosa dan keburukan-keburukan mereka telah begitu nyata sekali.
       Ketakaburan Qarun tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:
فَخَرَجَ عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ ﴿﴾
Maka ia keluar  di hadapan kaumnya dengan kemegahan. Berkata orang-orang yang menghendaki kehidupan duniaٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ  اُوۡتِیَ  قَارُوۡنُ --  “Alangkah baiknya apabila kami pun mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun!  اِنَّہٗ  لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ  -- Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.” وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ   --  Tetapi orang-orang yang diberi pengetahuan berkata:  وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّمَنۡ  اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا  -- “Celakalah kamu, ganjaran dari Allah adalah lebih baik bagi siapa yang beriman dan beramal salehوَ لَا  یُلَقّٰہَاۤ   اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ --  dan itu tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).

Akibat Buruk Ketidak-Bersyukuran Qarun

       Ayat selanjutnya menceritakan Sunatullah yang  menimpa orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Swt. (QS.14:8), firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ  الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا  کَانَ لَہٗ  مِنۡ فِئَۃٍ  یَّنۡصُرُوۡنَہٗ  مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا  کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ مَّنَّ  اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ  لَا  یُفۡلِحُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka  Kami membenamkan dia   beserta rumahnya ke dalam bumi,  dan  selain Allah tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya, dan tidak pula ia termasuk orang-orang yang dapat membela diri. وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ --  Dan jadilah orang-orang yang kemarin ingin mendapat kedudukannya itu   berkata:  وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ  -- “Celakalah bagi engkau!  Sesungguhnya Allah-lah Yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkan.  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ مَّنَّ  اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا -- Seandainya Allah tidak menganugerahkan kemurahan-Nya kepada kami niscaya Dia akan membenamkan kami juga. وَیۡکَاَنَّہٗ  لَا  یُفۡلِحُ  الۡکٰفِرُوۡنَ  --   Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.” (Al-Qashash [28]:82-83).
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi, dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ  خَیۡرٌ  مِّنۡہَا  -- Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya ada balasan yang lebih baik dari itu,   وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ  فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا السَّیِّاٰتِ  اِلَّا مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ       -- dan barangsiapa yang berbuat kejahatan maka tidak akan dibalas orang-orang yang berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan apa yang telah mereka kerjakan.  (Al-Qashash [28]:84-85).
     Hukum pembalasan dari Allah Ta’ala bekerja dengan cara ini, yaitu  untuk amal-amal yang baik ganjarannya beberapa kali lipat lebih besar, hukuman atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal dengan itu.

Ketidak-berdayaan “Berhala-berhala” Sembahan Orang-orang Musyrik

    Dengan demikian benarlah  firman  Allah Swt.  yang dikemukakan sebelumnya mengenai ketidak-berdayaan “berhala-berhala” sembahan “orang-orang musyrik”:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ     --  Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا   --  yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ --  Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ  -- Atau samakah gelap dan terang? اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ     -- Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ     -- sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-R’ād [13]:17). 

Definisi “Tuhan” Yang Hakiki

       Berkenaan dengan ayat:  قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa” Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an Allah Swt.: (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Ke-Esa- an Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
      Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.   itu “Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt.  sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama.
    Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu  seperti Uzair (Ezra) dan Yesus ( Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- QS.9:30)  maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah Allah   Yang Maha Esa.  Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).           
      Demikianlah perbedaan antara Allah Swt. sebagai Tuhan Pencipta yang Hakiki   -- Pemilik  Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Māliki yaumid- dīn  (QS.1:1-7)  -- dengan  ketidak-berdayaan “berhala-berhala” sembahan  orang-orang musyrik, sebagaimana yang disindir  oleh Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya penyembah patung-patung berhala yang dibuat  tangan mereka sendiri (QS.6:75-84; QS.19:42-49; QS.21:52-71; QS.26:70-90), dengan demikian  mereka telah menjatuhkan kemuliaan martabat kemanusiaan  mereka kepada kehinaan, karena  mereka telah menyembah “benda-benda mati” yang dibuat tangan mereka sendiri, firman-Nya:
حُنَفَآءَ لِلّٰہِ غَیۡرَ  مُشۡرِکِیۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَکَاَنَّمَا خَرَّ  مِنَ السَّمَآءِ فَتَخۡطَفُہُ الطَّیۡرُ  اَوۡ تَہۡوِیۡ بِہِ الرِّیۡحُ فِیۡ مَکَانٍ  سَحِیۡقٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ شَعَآئِرَ  اللّٰہِ فَاِنَّہَا مِنۡ  تَقۡوَی  الۡقُلُوۡبِ  ﴿﴾
Beribadah dengan lurus kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatu dengan-Nya.  Dan barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah  maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu ia disambar burung-burung, atau angin menerbangkannya ke tempat yang jauh.  Demikianlah, dan   barangsiapa memuliakan Tanda-tanda suci Allah maka sesungguhnya itu dari   ketakwaan hati.   (Al-Hājj [22]:32-33).

Melakukan Kemusyrikan Menjatuhkan Kemuliaan Manusia

     Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Seluruh alam raya - matahari, bulan, bintang-bintang, bumi, samudera-samudera, gunung-gunung, dan sebagainya telah diciptakan untuk berbakti kepadanya.  Manusia dapat menjulang begitu tinggi dalam akhlak dan keruhanian sehingga mencerminkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi. Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut manusia sebagai “Khalifah  Allah” (wakil Allah) di muka bumi.
    Jadi, jika manusia  menghinakan dirinya begitu rendah sehingga menyembah benda-benda yang tidak bernyawa  -- dan menyembah binatang-binatang serta benda-benda di alam semesta ini   -- ia seolah-olah jatuh dari puncak kemuliaan ruhani kepada kemunduran yang paling dalam pada akhlak dan kecerdasan otaknya.
  Ayat:  ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ شَعَآئِرَ  اللّٰہِ فَاِنَّہَا مِنۡ  تَقۡوَی  الۡقُلُوۡبِ     -- “Demikianlah, dan   barangsiapa memuliakan Tanda-tanda suci Allah maka sesungguhnya itu dari   ketakwaan hati” mengandung arti, bahwa yang mendasari tujuan semua perintah dan peraturan Islam ialah menanamkan ketakwaan dan kesucian hati. Semua upacara dan ibadah Islam hanya merupakan sarana untuk membawa manusia  menuju kepada tujuan yang amat mulia yaitu sepenuhnya berserah-diri dan menyembah Allah Swt. dengan lurus dan tulus (QS.51:57-59), firman-Nya:
وَ الۡبُدۡنَ جَعَلۡنٰہَا لَکُمۡ مِّنۡ  شَعَآئِرِ اللّٰہِ لَکُمۡ فِیۡہَا خَیۡرٌ ٭ۖ فَاذۡکُرُوا اسۡمَ اللّٰہِ عَلَیۡہَا صَوَآفَّ ۚ فَاِذَا وَجَبَتۡ جُنُوۡبُہَا فَکُلُوۡا مِنۡہَا وَ اَطۡعِمُوا الۡقَانِعَ وَ الۡمُعۡتَرَّ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرۡنٰہَا لَکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan unta-unta kurban Kami menjadikannya bagi kamu sebagai Tanda-tanda Allah yang  di dalamnya banyak kebaikan bagi kamu, maka sebutlah nama Allah atasnya ketika binatang-binatang itu berjajar-jajar, lalu  apabila telah rebah pada sisinya  maka makanlah darinya dan beri makanlah orang yang tidak mau meminta  dan yang meminta,  demikianlah Kami menundukkan mereka  itu bagimu supaya kamu bersyukur.   لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا -- Tidak akan pernah  sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya, وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ   --  tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.  ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ   -- Demikianlah Dia menundukkan mereka untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepada kamu, وَ بَشِّرِ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat ihsan.  (Al-Hājj [22]:37-38).

Bukan Darah dan Daging Binatang Kurban Melainkan Ketakwaan Manusia yang Sampai Kepada Allah Swt.

      Menyembelih unta-unta yang dibawa ke Mekkah untuk kurban hanya meru-pakan lambang kesediaan manusia untuk mengurbankan jiwanya demi Khāliq dan Junjungannya, persis sebagaimana unta-unta menyerahkan jiwanya untuk tuannya sendiri. Inilah tujuan dan maksud agung dari kurban, sedangkan tujuan-tujuan lainnya yang disebut dalam ayat ini mempunyai kepentingan nomor dua.
     Peziarah ibadah hajji diperingatkan tentang arti kurban ketika ia menyembelih seekor ternak yang berperan sebagai Tanda Ilahi. Ayat ini menunjukkan bahwa daging binatang kurban harus dibagikan dengan sepatutnya dan tidak boleh dibuang begitu saja.
     Ayat  selanjutnya ini menerangkan dengan sangat jelas intisari, rahasia, dan hakikat serta tujuan dan maksud kurban. Ayat ini mengajarkan bahwa bukanlah perbuatan lahir upacara kurban menarik keridhaan Ilahi, melainkan jiwa yang menjadi dasarnya dan niat yang ada di belakangnya.
      Daging atau darah binatang yang disembelih tidak sampai kepada Allah Swt., yang dapat diterima oleh Allah Swt. adalah ketulusan hati orang-orang melakukan kurban.  Allah Swt.   menuntut dan menerima pengurbanan mutlak semua yang dekat dan dicintai oleh kita — hak milik duniawi kita, cita-cita yang sangat kita cintai, kehormatan dan jiwa kita sendiri.
 Pada hakikatnya  Allah Swt. tidak memerlukan atau menuntut dari kita pengurbanan apa pun berupa daging dan darah binatang-binatang tetapi menuntut pengurbanan dari hati kita. Namun demikian pikiran ini pun tidak benar, bahwa karena bukan perbuatan lahir dalam memberi kurban, melainkan niat yang ada di belakangnya yang betul-betul mempunyai arti maka amal perbuatan yang dilakukan secara lahir itu tidak penting.
 Benar, kurban secara lahir itu hanya kulit, sedang jiwa yang menjadi dasarnya adalah inti dan pati-sarinya, namun kulit atau badan suatu barang  --  seperti pula ruh dan intinya  -- adalah sangat penting, sebab tiada jiwa dapat berwujud tanpa badan (tubuh)  dan tiada pati (sari) tanpa kulit.

Para Wali Allah yang Hakiki & Perumpamaan Haq (Kebenaran) dan Batil (Kepalsuan)

 Melakukan pengorbanan harta di jalan Allah Swt.  pun merupakan bagian dari cara “mendekatkan diri” kepada Allah Swt., sehingga “kedekatan” Allah Swt. kepada manusia akan semakin bertambah lagi, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai manfaat melakukan ibadah-ibadah nafal (tambahan)   disamping ibadah-ibadah yang wajib:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”  (Bukhari)
 Kelengkapan hadits ini adalah:
Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.”
       Makna  pernyataan Allah Swt.  dalam kelengkapan hadits tersebut bukan berarti bahwa – Subhanallāh  -- Allah Swt. itu “peragu”,  melainkan maknanya bahwa Allah Swt. sangat menghargai keberadaan mereka di dunia ini sesuai dengan firman-Nya: وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ  -- “dan ada pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi”  sebagaimana dikemukakan dalam perumpamaan dalam  Al-Quran:
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ  اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ ؕ  کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ   الۡاَمۡثَالَ ﴿ؕ﴾
Dia menurunkan air dari langit  maka lembah-lembah mengalir menurut ukurannya, lalu air bah itu membawa buih yang menggelembung di atasnya. Dan demikian juga dari apa yang mereka bakar dalam api untuk berusaha membuat perhiasan atau perkakas-perkakas timbul buih semacam itu. کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ  --  Demikianlah Allah melukiskan yang haq (benar) dan yang batil (palsu),    فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً   -- maka adapun buih itu akan hilang bagaikan sampahوَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ --  dan ada pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi,    -- demikianlah Allah mengamukakan tamsil-tamsil.  (Ar-Rā’d [13]:18).

Nasib Buruk Kaum-kaum Purbakala

     Ayat ini telah memakai dua gambaran yang sangat tepat. Dalam gambaran pertama “kebenaran” itu dibandingkan dengan air dan “kepalsuan” dengan buih. Mula-mula kepalsuan itu nampaknya seperti akan menang terhadap kebenaran, tetapi pada akhirnya disapu bersih oleh kebenaran, seperti sampah disapu bersih oleh arus air yang dahsyat.
     Dalam gambaran kedua, kebenaran itu dipersamakan dengan emas atau perak, yang bila dicairkan melepaskan kotorannya sambil meninggalkan logam yang murni dan berkilau-kilauan.
   Demikian pula keadaan para Rasul Allah dan para pengikutnya yang hakiki  dibandingkan para penentangnya yang mayoritas  yang pada awalnya nampak seperti akan menggungguli para  perjuangan suci para Rasul Allah, tetapi pada akhirnya mereka seperti   sampah  atau buih  yang berada di permukaan banjir  yang akan  hilang  karena tidak berbobot dan tidak bermanfaat  yakni dibinasakan oleh azab Ilahi, firman-Nya:
 لِلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِرَبِّہِمُ الۡحُسۡنٰی ؕؔ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہٗ  لَوۡ  اَنَّ  لَہُمۡ  مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا وَّ مِثۡلَہٗ  مَعَہٗ لَافۡتَدَوۡا بِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الۡحِسَابِ ۬ۙ وَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿٪﴾

Bagi orang-orang yang menyambut baik seruan Rabb (Tuhan) mereka ada kebaikan yang abadi, sedangkan orang-orang yang tidak menyambut seruan-Nya,  seandainya mereka mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan semisal itu   pula bersamanya, niscaya mereka itu akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah yang baginya ada perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan sangat buruk  tempat tinggal itu. (Ar-Rā’d [13]:19).

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 28 Juli   2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar