Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
KEDEKATAN
DENGAN ALLAH SWT. DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGABULAN DOA HAMBA-HAMBA-NYA & DEFINISI “TUHAN” YANG HAKIKI MENURUT AL-QURAN
Bab 10
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 9 sebelumnya
telah dijelaskan mengenai kesuksesan duniawi Qarun, firman-Nya:
اِنَّ
قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ مُوۡسٰی
فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ مَفَاتِحَہٗ
لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی
الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ
مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ
اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ وَ لَا
تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku
aniaya terhadap mereka. Dan Kami
telah memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah diangkat oleh sejumlah
orang-orang kuat. اِذۡ قَالَ
لَہٗ قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ
اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡفَرِحِیۡنَ -- Ketika
kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga,
sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang yang terlalu
membanggakan diri. وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- Dan
carilah rumah akhirat itu dalam
apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan
janganlah engkau melupakan nasib engkau
di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ اَحۡسَنَ
اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat
ihsanlah sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا
تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ -- dan janganlah
engkau menimbulkan kerusakan di bumi, اِنَّ
اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]:77-78).
“Kunci-kunci” Keberhasilan
Duniawi Qarun
Mafatih dalam ayat وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ
مَفَاتِحَہٗ لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی الۡقُوَّۃِ -- “Dan Kami
telah memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah diangkat oleh sejumlah
orang-orang kuat” adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah,
yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane). Terhadap nasihat kaumnya -- dalam hal ini Nabi Musa a.s. -- dia menjawab:
قَالَ اِنَّمَاۤ
اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ
الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ
قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah
ia mengetahui bahwa sungguh Allah telah membinasakan
banyak generasi sebelumnya yang lebih besar kekuasaannya daripada dia
dan lebih banyak harta kekayaannya?
وَ لَا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Dan orang-orang
yang berdosa tidak akan ditanyakan
mengenai dosa-dosa mereka (Al-Qashash
[28]:79).
Makna ayat: وَ لَا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- “Dan orang-orang
yang berdosa tidak akan ditanyakan
mengenai dosa-dosa mereka” bahwa kesalahan
kaum kafir akan begitu nyata
sehingga pengusutan lebih lanjut akan
dianggap tidak perlu untuk
membuktikannya; atau artinya ialah orang-orang yang bersalah tidak akan diberi
peluang membela diri, karena dosa-dosa dan keburukan-keburukan mereka telah begitu nyata sekali.
Ketakaburan Qarun tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam ayat selanjutnya,
firman-Nya:
فَخَرَجَ
عَلٰی قَوۡمِہٖ فِیۡ زِیۡنَتِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا یٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ
قَارُوۡنُ ۙ اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ لِّمَنۡ
اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ۚ وَ لَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ
﴿﴾
Maka ia keluar
di hadapan kaumnya dengan kemegahan.
Berkata orang-orang yang menghendaki
kehidupan dunia: ٰلَیۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِیَ
قَارُوۡنُ --
“Alangkah baiknya apabila kami
pun mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun! اِنَّہٗ لَذُوۡ حَظٍّ عَظِیۡمٍ -- Sesungguhnya ia mempunyai bagian harta yang besar.” وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ -- Tetapi orang-orang
yang diberi pengetahuan berkata: وَیۡلَکُمۡ ثَوَابُ اللّٰہِ خَیۡرٌ
لِّمَنۡ اٰمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا -- “Celakalah kamu, ganjaran
dari Allah adalah lebih baik bagi
siapa yang beriman dan beramal saleh, وَ لَا یُلَقّٰہَاۤ
اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ -- dan itu
tidak akan diberikan kecuali kepada
orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash [28]:80-81).
Akibat Buruk Ketidak-Bersyukuran
Qarun
Ayat selanjutnya menceritakan Sunatullah
yang menimpa
orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Swt. (QS.14:8), firman-Nya:
فَخَسَفۡنَا
بِہٖ وَ بِدَارِہِ الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا کَانَ لَہٗ
مِنۡ فِئَۃٍ یَّنۡصُرُوۡنَہٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اَصۡبَحَ الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ
بِالۡاَمۡسِ یَقُوۡلُوۡنَ وَیۡکَاَنَّ اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ
یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ ۚ لَوۡ لَاۤ اَنۡ مَّنَّ
اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا ؕ وَیۡکَاَنَّہٗ لَا
یُفۡلِحُ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka Kami
membenamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi, dan
selain Allah tidak ada baginya
satu golongan pun yang menolongnya,
dan tidak pula ia termasuk orang-orang
yang dapat membela diri. وَ اَصۡبَحَ
الَّذِیۡنَ تَمَنَّوۡا مَکَانَہٗ بِالۡاَمۡسِ -- Dan jadilah
orang-orang yang kemarin ingin mendapat kedudukannya itu berkata: وَیۡکَاَنَّ
اللّٰہَ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ -- “Celakalah bagi engkau! Sesungguhnya Allah-lah Yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkan. لَوۡ
لَاۤ اَنۡ مَّنَّ اللّٰہُ عَلَیۡنَا لَخَسَفَ بِنَا -- Seandainya Allah
tidak menganugerahkan kemurahan-Nya kepada kami niscaya Dia akan membenamkan kami juga. وَیۡکَاَنَّہٗ لَا
یُفۡلِحُ الۡکٰفِرُوۡنَ -- Celakalah bagi engkau! Orang-orang yang kafir tidak akan berhasil.” (Al-Qashash [28]:82-83).
تِلۡکَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
نَجۡعَلُہَا لِلَّذِیۡنَ لَا یُرِیۡدُوۡنَ عُلُوًّا فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
فَسَادًا ؕ وَ الۡعَاقِبَۃُ
لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾
Inilah rumah akhirat itu, Kami menjadikannya bagi orang-orang
yang tidak menghendaki kesombongan di bumi, dan tidak pula kerusakan. Dan kesudahan
yang baik adalah bagi
orang-orang yang bertakwa. مَنۡ جَآءَ
بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ خَیۡرٌ مِّنۡہَا -- Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya ada
balasan yang lebih baik dari itu, وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ فَلَا یُجۡزَی الَّذِیۡنَ عَمِلُوا
السَّیِّاٰتِ اِلَّا مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ -- dan
barangsiapa yang berbuat kejahatan
maka tidak akan dibalas orang-orang yang
berbuat ke-jahatan-kejahatan melainkan apa
yang telah mereka kerjakan. (Al-Qashash
[28]:84-85).
Hukum pembalasan dari Allah Ta’ala bekerja
dengan cara ini, yaitu untuk amal-amal yang baik ganjarannya beberapa kali lipat lebih besar, hukuman atas amal buruk kurang dari apa yang harus diterima atas perbuatan orang
yang berdosa itu, atau paling banyak setimpal
dengan itu.
Ketidak-berdayaan “Berhala-berhala” Sembahan
Orang-orang Musyrik
Dengan demikian benarlah firman
Allah Swt. yang dikemukakan
sebelumnya mengenai ketidak-berdayaan
“berhala-berhala” sembahan “orang-orang
musyrik”:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ --
Katakanlah: “Apakah kamu
mengambil selain Dia
pelindung-pelindung لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا -- yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
قُلۡ ہَلۡ
یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی
الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah
gelap dan terang? اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya فَتَشَابَہَ
الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- sehingga
kedua jenis ciptaan itu nampak
serupa saja bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan
segala sesuatu, dan Dia-lah Yang
Maha Esa, Maha Perkasa.”
(Ar-R’ād
[13]:17).
Definisi “Tuhan” Yang Hakiki
Berkenaan dengan ayat: قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan
segala sesuatu, dan Dia-lah Yang
Maha Esa, Maha Perkasa”
Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an Allah Swt.: (1) Ahad dan (2)
Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Ke-Esa- an Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid
hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua
dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
Sifat wahid (satu)
memperlihatkan, bahwa Allah Swt. itu
“Sumber” sejati, tempat terbit segala
penciptaan, dan segala sesuatu
menunjuk kepada Allah Swt. sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama.
Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu seperti Uzair (Ezra) dan Yesus ( Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- QS.9:30) maka dipakainya kata ahad yakni, Dia
itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak
beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah
Allah Yang Maha Esa. Allah, adalah
Tuhan Yang segala sesuatu bergantung
pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(Al-Ikhlash
[112]:1-5).
Demikianlah perbedaan antara
Allah Swt. sebagai Tuhan Pencipta
yang Hakiki -- Pemilik
Sifat Rabubiyat, Rahmāniyat, Rahīmiyat dan Māliki yaumid-
dīn (QS.1:1-7) -- dengan
ketidak-berdayaan
“berhala-berhala” sembahan orang-orang musyrik, sebagaimana yang disindir oleh Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya penyembah
patung-patung berhala yang dibuat
tangan mereka sendiri (QS.6:75-84; QS.19:42-49; QS.21:52-71;
QS.26:70-90), dengan demikian mereka
telah menjatuhkan kemuliaan martabat kemanusiaan mereka kepada kehinaan, karena mereka
telah menyembah “benda-benda mati”
yang dibuat tangan mereka sendiri,
firman-Nya:
حُنَفَآءَ
لِلّٰہِ غَیۡرَ مُشۡرِکِیۡنَ بِہٖ ؕ وَ
مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَکَاَنَّمَا خَرَّ
مِنَ السَّمَآءِ فَتَخۡطَفُہُ الطَّیۡرُ
اَوۡ تَہۡوِیۡ بِہِ الرِّیۡحُ فِیۡ مَکَانٍ سَحِیۡقٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ شَعَآئِرَ اللّٰہِ فَاِنَّہَا مِنۡ تَقۡوَی
الۡقُلُوۡبِ ﴿﴾
Beribadah dengan lurus kepada Allah tanpa mempersekutukan
sesuatu dengan-Nya. Dan barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu
dengan Allah maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu ia disambar burung-burung, atau angin menerbangkannya ke tempat yang jauh.
Demikianlah, dan barangsiapa
memuliakan Tanda-tanda suci Allah maka sesungguhnya
itu dari ketakwaan hati. (Al-Hājj [22]:32-33).
Melakukan Kemusyrikan Menjatuhkan Kemuliaan
Manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia.
Seluruh alam raya - matahari, bulan,
bintang-bintang, bumi, samudera-samudera, gunung-gunung, dan sebagainya telah diciptakan untuk berbakti kepadanya. Manusia dapat
menjulang begitu tinggi dalam akhlak
dan keruhanian sehingga mencerminkan
dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi. Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut
manusia sebagai “Khalifah Allah” (wakil Allah) di muka bumi.
Jadi, jika manusia menghinakan dirinya begitu rendah sehingga menyembah benda-benda yang tidak
bernyawa -- dan menyembah binatang-binatang serta benda-benda di alam semesta ini -- ia seolah-olah jatuh dari puncak kemuliaan
ruhani kepada kemunduran yang
paling dalam pada akhlak dan kecerdasan otaknya.
Ayat:
ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ شَعَآئِرَ
اللّٰہِ فَاِنَّہَا مِنۡ
تَقۡوَی الۡقُلُوۡبِ -- “Demikianlah, dan barangsiapa
memuliakan Tanda-tanda suci Allah maka sesungguhnya
itu dari ketakwaan hati” mengandung
arti, bahwa yang mendasari tujuan
semua perintah dan peraturan Islam ialah menanamkan ketakwaan dan kesucian hati. Semua upacara
dan ibadah Islam hanya merupakan sarana untuk membawa manusia menuju kepada tujuan yang amat mulia
yaitu sepenuhnya berserah-diri dan menyembah Allah Swt. dengan lurus dan tulus (QS.51:57-59), firman-Nya:
وَ
الۡبُدۡنَ جَعَلۡنٰہَا لَکُمۡ مِّنۡ
شَعَآئِرِ اللّٰہِ لَکُمۡ فِیۡہَا خَیۡرٌ ٭ۖ فَاذۡکُرُوا اسۡمَ اللّٰہِ
عَلَیۡہَا صَوَآفَّ ۚ فَاِذَا وَجَبَتۡ جُنُوۡبُہَا فَکُلُوۡا مِنۡہَا وَ
اَطۡعِمُوا الۡقَانِعَ وَ الۡمُعۡتَرَّ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرۡنٰہَا لَکُمۡ
لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ لَنۡ یَّنَالَ
اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا
وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ
لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan unta-unta kurban Kami menjadikannya
bagi kamu sebagai Tanda-tanda Allah
yang di dalamnya banyak kebaikan bagi kamu, maka sebutlah nama Allah atasnya ketika binatang-binatang itu berjajar-jajar, lalu apabila
telah rebah pada sisinya maka makanlah darinya dan beri makanlah orang yang tidak mau meminta dan yang
meminta, demikianlah Kami menundukkan mereka itu bagimu supaya kamu bersyukur. لَنۡ یَّنَالَ
اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا -- Tidak akan
pernah sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya, وَ لٰکِنۡ
یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ -- tetapi yang
sampai kepada-Nya adalah ketakwaan
dari kamu. ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ
عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ -- Demikianlah
Dia menundukkan mereka untuk kamu
supaya kamu mengagungkan Allah
sesuai petunjuk kepada kamu, وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Hājj [22]:37-38).
Bukan Darah dan Daging Binatang Kurban Melainkan Ketakwaan Manusia yang Sampai Kepada Allah Swt.
Menyembelih unta-unta yang dibawa ke Mekkah untuk kurban hanya meru-pakan lambang
kesediaan manusia untuk mengurbankan jiwanya demi Khāliq dan Junjungannya, persis sebagaimana unta-unta menyerahkan jiwanya untuk tuannya sendiri. Inilah tujuan
dan maksud agung dari kurban,
sedangkan tujuan-tujuan lainnya yang
disebut dalam ayat ini mempunyai kepentingan
nomor dua.
Peziarah ibadah hajji diperingatkan tentang arti kurban ketika ia menyembelih
seekor ternak yang berperan sebagai Tanda
Ilahi. Ayat ini menunjukkan bahwa daging
binatang kurban harus dibagikan
dengan sepatutnya dan tidak boleh dibuang
begitu saja.
Ayat selanjutnya ini menerangkan dengan sangat jelas
intisari, rahasia, dan hakikat
serta tujuan dan maksud kurban. Ayat ini mengajarkan bahwa bukanlah perbuatan lahir upacara kurban menarik keridhaan Ilahi, melainkan jiwa yang menjadi dasarnya dan niat yang
ada di belakangnya.
Daging atau darah binatang yang disembelih tidak sampai kepada Allah Swt., yang
dapat diterima oleh Allah Swt. adalah
ketulusan hati orang-orang melakukan kurban.
Allah Swt. menuntut dan menerima pengurbanan mutlak semua yang dekat dan dicintai oleh
kita — hak milik duniawi kita, cita-cita yang sangat kita cintai, kehormatan
dan jiwa kita sendiri.
Pada hakikatnya Allah Swt. tidak memerlukan atau menuntut
dari kita pengurbanan apa pun berupa daging dan darah binatang-binatang tetapi menuntut pengurbanan dari hati
kita. Namun demikian pikiran ini pun
tidak benar, bahwa karena bukan perbuatan
lahir dalam memberi kurban,
melainkan niat yang ada di belakangnya yang betul-betul mempunyai arti maka amal perbuatan yang dilakukan
secara lahir itu tidak penting.
Benar, kurban
secara lahir itu hanya kulit,
sedang jiwa yang menjadi dasarnya
adalah inti dan pati-sarinya, namun kulit
atau badan suatu barang -- seperti pula ruh dan intinya -- adalah sangat penting, sebab tiada jiwa dapat berwujud tanpa badan
(tubuh) dan tiada pati (sari) tanpa kulit.
Para Wali Allah yang
Hakiki & Perumpamaan Haq
(Kebenaran) dan Batil (Kepalsuan)
Melakukan pengorbanan
harta di jalan Allah Swt. pun
merupakan bagian dari cara “mendekatkan
diri” kepada Allah Swt., sehingga “kedekatan”
Allah Swt. kepada manusia akan
semakin bertambah lagi, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
manfaat melakukan ibadah-ibadah nafal
(tambahan) disamping ibadah-ibadah yang wajib:
Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah
sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat,
dan menjadi kakinya yang ia gunakan
untuk berjalan. Jika ia meminta
kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika
ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (Bukhari)
Kelengkapan hadits ini adalah:
“Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang
pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.”
Makna
pernyataan Allah Swt. dalam
kelengkapan hadits tersebut bukan berarti bahwa – Subhanallāh -- Allah Swt.
itu “peragu”, melainkan maknanya bahwa Allah Swt. sangat
menghargai keberadaan mereka di dunia
ini sesuai dengan firman-Nya: وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی
الۡاَرۡضِ -- “dan ada pun apa yang bermanfaat bagi
manusia maka akan tetap di bumi” sebagaimana dikemukakan dalam perumpamaan dalam Al-Quran:
اَنۡزَلَ
مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ
السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ
ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ
مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا
الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی
الۡاَرۡضِ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ
اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ ﴿ؕ﴾
Dia menurunkan air dari langit
maka lembah-lembah mengalir
menurut ukurannya, lalu air bah itu
membawa buih yang menggelembung di
atasnya. Dan demikian juga dari
apa yang mereka bakar dalam api
untuk berusaha membuat perhiasan
atau perkakas-perkakas timbul
buih semacam itu. کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ
اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ --
Demikianlah Allah melukiskan yang
haq (benar) dan yang batil (palsu), فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً -- maka adapun buih itu akan hilang bagaikan sampah, وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ
فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ -- dan ada
pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi, -- demikianlah
Allah mengamukakan tamsil-tamsil.
(Ar-Rā’d [13]:18).
Nasib Buruk Kaum-kaum Purbakala
Ayat
ini telah memakai dua gambaran yang
sangat tepat. Dalam gambaran pertama “kebenaran”
itu dibandingkan dengan air dan “kepalsuan” dengan buih. Mula-mula kepalsuan
itu nampaknya seperti akan menang
terhadap kebenaran, tetapi pada
akhirnya disapu bersih oleh kebenaran, seperti sampah disapu bersih oleh arus
air yang dahsyat.
Dalam gambaran kedua, kebenaran itu dipersamakan dengan emas atau perak, yang bila dicairkan
melepaskan kotorannya sambil
meninggalkan logam yang murni dan berkilau-kilauan.
Demikian pula keadaan para Rasul Allah dan para pengikutnya yang hakiki dibandingkan para penentangnya yang mayoritas yang pada awalnya nampak seperti akan menggungguli para perjuangan suci para Rasul Allah, tetapi pada akhirnya mereka seperti sampah atau buih yang berada di permukaan banjir yang akan hilang karena tidak
berbobot dan tidak bermanfaat yakni dibinasakan oleh azab Ilahi, firman-Nya:
لِلَّذِیۡنَ
اسۡتَجَابُوۡا لِرَبِّہِمُ الۡحُسۡنٰی ؕؔ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہٗ لَوۡ
اَنَّ لَہُمۡ مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا وَّ
مِثۡلَہٗ مَعَہٗ لَافۡتَدَوۡا بِہٖ ؕ
اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الۡحِسَابِ ۬ۙ وَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ
الۡمِہَادُ ﴿٪﴾
Bagi orang-orang yang menyambut baik seruan
Rabb (Tuhan) mereka ada kebaikan yang abadi, sedangkan orang-orang yang tidak menyambut seruan-Nya,
seandainya mereka mempunyai apa yang ada di bumi
semuanya dan semisal itu pula bersamanya, niscaya mereka
itu akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah yang baginya ada perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahannam,
dan sangat buruk tempat tinggal itu. (Ar-Rā’d [13]:19).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 28 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar