Sabtu, 30 Juli 2016

Perumpamaan "Haq" (Kebenaran) dan "Bathil" (Kepalsuan) yang Lemah Bagaikan "Sarang Laba-laba" & Hubungan "Cucuran Air Mata" Dengan "Pengabulan Doa"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA



 PERUMPAMAAN HAQ (KEBENARAN) DAN BATHIL  KEPALSUAN)  YANG    LEMAH BAGAIKAN  SARANG LABA-LABA &  HUBUNGAN CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.


Bab 11


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab 10 sebelumnya telah dijelaskan mengenai  perumpamaan dalam  Al-Quran, firman-Nya:
اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ  مَآءً  فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ  اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ ؕ  کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ   الۡاَمۡثَالَ ﴿ؕ﴾
Dia menurunkan air dari langit  maka lembah-lembah mengalir menurut ukurannya, lalu air bah itu membawa buih yang menggelembung di atasnya. Dan demikian juga dari apa yang mereka bakar dalam api untuk berusaha membuat perhiasan atau perkakas-perkakas timbul buih semacam itu. کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ  --  Demikianlah Allah melukiskan yang haq (benar) dan yang batil (palsu),    فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً   -- maka adapun buih itu akan hilang bagaikan sampahوَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ --  dan ada pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi,    -- demikianlah Allah mengamukakan tamsil-tamsil.  (Ar-Rā’d [13]:18).

Nasib Buruk Kaum-kaum Purbakala

     Ayat ini telah memakai dua gambaran yang sangat tepat. Dalam gambaran pertama “kebenaran” itu dibandingkan dengan air dan “kepalsuan” dengan buih. Mula-mula kepalsuan itu nampaknya seperti akan menang terhadap kebenaran, tetapi pada akhirnya disapu bersih oleh kebenaran, seperti sampah disapu bersih oleh arus air yang dahsyat.
     Dalam gambaran kedua, kebenaran itu dipersamakan dengan emas atau perak, yang bila dicairkan melepaskan kotorannya sambil meninggalkan logam yang murni dan berkilau-kilauan.
    Demikian pula keadaan para Rasul Allah dan para pengikutnya yang hakiki  dibandingkan para penentangnya yang mayoritas  yang pada awalnya nampak seperti akan menggungguli para  perjuangan suci para Rasul Allah, tetapi pada akhirnya mereka seperti   sampah  atau buih  yang berada di permukaan banjir  yang akan  hilang  karena tidak berbobot dan tidak bermanfaat  yakni dibinasakan oleh azab Ilahi, firman-Nya:
 لِلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِرَبِّہِمُ الۡحُسۡنٰی ؕؔ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہٗ  لَوۡ  اَنَّ  لَہُمۡ  مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا وَّ مِثۡلَہٗ  مَعَہٗ لَافۡتَدَوۡا بِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الۡحِسَابِ ۬ۙ وَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿٪﴾

Bagi orang-orang yang menyambut baik seruan Rabb (Tuhan) mereka ada kebaikan yang abadi, sedangkan orang-orang yang tidak menyambut seruan-Nya,  seandainya mereka mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan semisal itu   pula bersamanya, niscaya mereka itu akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah yang baginya ada perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan sangat buruk  tempat tinggal itu. (Ar-Rā’d [13]:19).
     “Perhitungan buruk” mereka bukan hanya di alam akhirat tetapi juga dalam kehidupan di dunia ini juga, sebagaimana firman-Nya mengenai nasib buruk yang menimpa  kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah:
وَ قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ  مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ   ﴿﴾  فَکُلًّا  اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ  الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ  وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami  membinasakan   Qarun, Fir’aun dan Haman. Dan sungguh  Musa benar-benar telah datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata  tetapi mereka ber-laku sombong di bumi dan mereka se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami.  Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya,  di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di antara mereka ada yang disambar oleh petir,  di antara mereka ada  yang Kami benamkan  di bumi, di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan,   dan Allah sekali-kali tidak berbuat zalim terhadap mereka, tetapi mereka  menzalimi  diri mereka sendiriمَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  --  Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  --  seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- seandainya mereka itu mengetahui. (Al-Ankabūt [29]:40-42).
       Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi pada zamannya masing-masing azab yang melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Lutha.s.   sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
      Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun (Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).

Berhala-berhala” Sembahan yang Lemah Bagaikan “Sarang Laba-laba”  & Rahasia Pengabulan Doa

       Masalah Ke-Esa-an Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil  (perumpamaan) yang indah sekali dan sangat tepat serta   menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka berkenaan “berhala-berhala” sembahan mereka.
       “Berhala-berhala” sembahan  mereka itu  sangat  rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat serta tidak memberikan manfaat  apa pun kepada para penyembahnya, firman-Nya:   مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  --  perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا  --  seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ  -- dan sesungguhnya selemah-lemah  rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- seandainya mereka itu mengetahui.”
      Sebaliknya, orang-orang  yang beriman dan beramal shaleh yang menyembah Allah Swt. digambarkan akan berada dalam “kebun-kebun” yang ”dibawahnya mengalir sungai-sungai” (QS.2:26), sehingga kehidupannya akan  terpelihara dari “kelaparan dan telanjang” serta tidak akan “dahaga dan  disengat panas matahari” karena  mereka berada  mereka di lingkungan yang penuh dengan berbagai  jenis pohon  yang rindang serta  lebat dengan berbagai jenis buah-buahan  (QS.20:117-120). 
     Kembali kepada masalah pengabulan doa  dan hubungannya dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam  firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  -- maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
       Kata-kata  وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی  --  dan beriman kepada-Ku  dalam ayat  فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ --  karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk”,  tidak mengacu kepada beriman kepada Wujud Allah Swt.,   sebab hal itu telah termasuk dalam anak kalimat sebelumnya,  فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ  --  “hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”, karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan menaati perintah-Nya tanpa percaya (beriman) akan adanya Wujud Tuhan. Jadi kata-kata: وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی    --   dan beriman kepada-Ku, tertuju kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.  mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.

Hubungan “Cucuran Air Mata”  Dengan “Pengabulan Doa

     Sehubungan dengan  masalah doa dan pengabulannya,  Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah    -- yakni Masih Mau’ud a.s.   --  menjelaskan:
     “Aku menyatakan dengan sesungguhnya,  bahwa seseorang yang menangis di hadapan Allah Yang Maha Perkasa dengan kerendahan hati yang sangat  maka tangisnya itu akan menggerakkan rahmat dan berkat-Nya ke arah dirinya. Aku berbicara berdasar pengalaman diriku sendiri bahwa aku telah merasakan rahmat dan berkat Allah Swt. dalam bentuk pengabulan doa. Sesungguhnya aku malah telah melihatnya, meski para filosof berhati kelam dari zaman ini tidak bisa merasakan atau melihatnya, hakikat ini tidak akan hilang dari dunia, dan aku selalu siap memperlihatkan pengabulan doa kapan saja.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 198).
     Sehubungan dengan pentingnya “perendahan diri” dalam berdoa kepada Allah Swt.   tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذَاۤ  اَذَقۡنَا النَّاسَ رَحۡمَۃً  مِّنۡۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ  مَسَّتۡہُمۡ  اِذَا لَہُمۡ  مَّکۡرٌ  فِیۡۤ  اٰیَاتِنَا ؕ قُلِ اللّٰہُ  اَسۡرَعُ مَکۡرًا ؕ اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ وَ  جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ دَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  apabila Kami membuat manusia merasakan suatu rahmat setelah kesusahan menimpa mereka, maka tiba-tiba  mereka mulai membuat makar buruk terhadap Tanda-tanda Kami.  Katakanlah: “Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan,  sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang ka-mu makarkan.”  Dia-lah Yang memperjalankan kamu melalui daratan dan lautan,  hingga  apabila kamu telah ada di kapal-kapal, dan meluncurlah kapal-kapal itu dengan mereka berkat angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya  وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ   -- lalu datang  angin badai melandanya dan gelombang  pun  mendatangi mereka dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah terkepungدَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ  -- mereka berseru kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dan berkata:  لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡن -- “Jika  Engkau   benar-benar menyelamatkan  kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”  فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ  --    Tetapi  tatkala  Dia menyela-matkan mereka itu, tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq.    یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ      -- Hai manusia, sesungguhnya akibat   kedurhakaan kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,  ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai  apa yang senantiasa kamu kerjakan. (Yunus [10]:22-24).

Ketidakbersyukuran Manusia &  Musibah Senantiasa Mengancam Orang-orang yang Tidak bersyukur

      Makna ayat 22 bahwa rahmat turun dari Allah Swt. , tetapi kemalangan itu datang sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk manusia sendiri. Itulah makna ayat:  قُلِ اللّٰہُ  اَسۡرَعُ مَکۡرًا  -- “Katakanlah: “Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan,  اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ  --  sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang kamu makarkan.
      Ayat selanjutnya mengemukakan perumpamaan  kehidupan dunia, bahwa seperti angin sepoi-sepoi basah kadang-kadang berubah menjadi taufan yang dahsyat dan membawa kehancuran yang sangat luas jangkauannya, begitu pula kelonggaran dan penangguhan yang diberikan Allah Swt.  kepada orang-orang kafir mungkin dapat merupakan pendahuluan dari kehancurannya:   وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ   -- “lalu datang  angin badai melandanya dan gelombang  pun  mendatangi mereka dari setiap tempat serta mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka telah terkepung.”
     Untuk menyadarkan orang-orang kafir mengenai kebenaran yang nyata tersebut, maka perhatian mereka ditarik kepada kenikmatan-kenikmatan dan kemudahan maupun bahaya dalam perjalanan di laut.    Maksud perumpamaan itu ialah bahwa bila bangsa-bangsa menjadi congkak serta manja, dan hidup di dunia ini dipandang gampang dan ringan, maka detik-detik kemunduran mulai tiba kepada bangsa-bangsa itu dan mereka ditimpa oleh nasib yang malang: لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡن -- “Jika  Engkau   benar-benar menyelamatkan  kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.
      Walau pun Allah Swt. Maha Mengetahui bahwa pada umumnya manusia tidak bersyukur   terhadap  Allah Swt. (QS.10:13; QS.11:10-12; QS.17:68; QS.30:34-35; QS.39:9; QS.41:50-52), tetapi karena  merendahkan diri  merupakan   ketetapan-Nya berkenaan  dengan syarat-syarat pengabulan doa maka Allah Swt. menyelamatkan  mereka dari bahaya  tenggelamفَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ  اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ  --    Tetapi  tatkala  Dia menyelamatkan mereka itu, tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq.    یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ      -- Hai manusia, sesungguhnya akibat   kedurhakaan kamu mengejar kesenangan hidup di dunia akan menimpa kamu,  ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai  apa yang senantiasa kamu kerjakan.”

Nubuatan Al-Quran Mengenai Pentingnya “Perjalanan Laut

       Manusia  yang tidak bersyukur  tersebut melupakan keingkarannya  kepada Allah Swt., bahwa Dia  berkuasa untuk  mengulangi keadaan berbahaya seperti itu dalam kehidupan mereka   -- setelah selamat dari perjalanan laut  yang berbahaya  --   dan pada  saat itu Allah Swt. tidak akan mengabulkan permohonannya  karena Dia Maha Mengetahui tentang ketidak-bersyukuran umumnya umat manusia (QS.17:67-70),   firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ  رَحِیۡمًا ﴿﴾  وَ اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ  فِی الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ  اِلَّاۤ  اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ  اِلَی الۡبَرِّ  اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾  اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا  ﴿ۙ﴾  اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu di lautan, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadap kamu.     Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa   yang kamu seru  kecuali Dia, tetapi tatkala   Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا    --       Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan kamu   di tepi daratan atau mengirimkan atas kamu taufan pasir  dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi dirimu?   اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ    --Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya,  lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka  menenggelamkan kamu karena kamu kafir?  ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا  -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا   -- Dan  sungguh   Kami benar-be-nar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:67-71).

Keunggulan Bani Adam (Manusia) Sebagai “Khalifah Allah

      Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri dan mendoa kepada Allah Swt.  serta berjanji dan bersumpah akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya, ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong seperti  sediakala serta mempersekutukan Allah Swt..
      Makna ayat:     وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ    -- “Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,” Allah Swt.   telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
      Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
  Diberi tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti  Nabi Besar Muhammad saw.  — yang selama masa hidup beliau saw. tidak pernah mengalami perjalanan laut — telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, kenyataan tersebut sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang dari kalangan Non Muslim (QS.16:104; QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
       Karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain:  وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.”


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 29 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar