Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
PERUMPAMAAN HAQ
(KEBENARAN) DAN BATHIL KEPALSUAN) YANG LEMAH BAGAIKAN “SARANG LABA-LABA” &
HUBUNGAN CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.
Bab 11
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 10 sebelumnya telah
dijelaskan mengenai perumpamaan dalam Al-Quran,
firman-Nya:
اَنۡزَلَ
مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ
السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ
ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ
مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا
الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی
الۡاَرۡضِ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ
اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ ﴿ؕ﴾
Dia menurunkan air dari langit
maka lembah-lembah mengalir
menurut ukurannya, lalu air bah itu
membawa buih yang menggelembung di
atasnya. Dan demikian juga dari
apa yang mereka bakar dalam api
untuk berusaha membuat perhiasan
atau perkakas-perkakas timbul
buih semacam itu. کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ
اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ --
Demikianlah Allah melukiskan yang
haq (benar) dan yang batil (palsu), فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً -- maka adapun buih itu akan hilang bagaikan sampah, وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ
فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ -- dan ada
pun apa yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi, -- demikianlah
Allah mengamukakan tamsil-tamsil.
(Ar-Rā’d [13]:18).
Nasib Buruk Kaum-kaum Purbakala
Ayat
ini telah memakai dua gambaran yang
sangat tepat. Dalam gambaran pertama “kebenaran”
itu dibandingkan dengan air dan “kepalsuan” dengan buih. Mula-mula kepalsuan
itu nampaknya seperti akan menang
terhadap kebenaran, tetapi pada
akhirnya disapu bersih oleh kebenaran, seperti sampah disapu bersih oleh arus
air yang dahsyat.
Dalam gambaran kedua, kebenaran itu dipersamakan dengan emas atau perak, yang bila dicairkan
melepaskan kotorannya sambil
meninggalkan logam yang murni dan berkilau-kilauan.
Demikian pula keadaan para Rasul Allah dan para pengikutnya yang hakiki dibandingkan para penentangnya yang mayoritas yang pada awalnya nampak seperti akan menggungguli para perjuangan suci para Rasul Allah, tetapi pada akhirnya mereka seperti sampah atau buih yang berada di permukaan banjir yang akan hilang karena tidak
berbobot dan tidak bermanfaat yakni dibinasakan oleh azab Ilahi, firman-Nya:
لِلَّذِیۡنَ
اسۡتَجَابُوۡا لِرَبِّہِمُ الۡحُسۡنٰی ؕؔ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہٗ لَوۡ
اَنَّ لَہُمۡ مَّا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا وَّ
مِثۡلَہٗ مَعَہٗ لَافۡتَدَوۡا بِہٖ ؕ
اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الۡحِسَابِ ۬ۙ وَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ
الۡمِہَادُ ﴿٪﴾
Bagi orang-orang yang menyambut baik seruan
Rabb (Tuhan) mereka ada kebaikan yang abadi, sedangkan orang-orang yang tidak menyambut seruan-Nya,
seandainya mereka mempunyai apa yang ada di bumi
semuanya dan semisal itu pula bersamanya, niscaya mereka
itu akan menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah yang baginya ada perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahannam,
dan sangat buruk tempat tinggal itu. (Ar-Rā’d [13]:19).
“Perhitungan
buruk” mereka bukan hanya di alam akhirat tetapi juga dalam kehidupan di dunia ini juga, sebagaimana
firman-Nya mengenai nasib buruk yang
menimpa kaum-kaum purbakala yang mendustakan
dan menentang para Rasul Allah:
وَ
قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿﴾
فَکُلًّا اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ
اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ
الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ
مَّنۡ اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ
کَانُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami membinasakan Qarun,
Fir’aun dan Haman. Dan sungguh Musa benar-benar telah datang kepada mereka
dengan Tanda-tanda yang nyata tetapi mereka
ber-laku sombong di bumi dan mereka
se-kali-kali tidak dapat melepaskan diri dari azab Kami. Maka setiap
orang dari mereka Kami
tangkap karena dosanya, di antara
mereka ada yang Kami kirim kepadanya
badai pasir, di antara mereka ada
yang disambar oleh petir, di antara
mereka ada yang Kami benamkan di bumi,
di antara mereka ada yang Kami
tenggelamkan, dan
Allah sekali-kali tidak berbuat zalim
terhadap mereka, tetapi mereka menzalimi
diri mereka sendiri. مَثَلُ الَّذِیۡنَ
اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ -- Perumpamaan orang-orang yang mengambil
penolong-penolong selain Allah
adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا -- seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ --
seandainya mereka itu mengetahui. (Al-Ankabūt
[29]:40-42).
Al-Quran telah mempergunakan
berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman
yang ditimpakan lawan-lawan berbagai nabi
pada zamannya masing-masing azab yang
melanda kaum ‘Ād digambarkan sebagai badai
pasir (QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68;
QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan
ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang
menghancurkan umat Nabi Lutha.s. sebagai
batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75);
badai batu (QS.54:35); dan azab yang
menimpa Midian, kaum Nabi Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan
(QS.11:95); dan azab pada hari siksaan yang mendatang (QS.26:190).
Terakhir dari semua itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan lasykarnya serta
pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman
dan Qarun (Qorah), dan membinasakan
mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan ungkapan, “Kami
........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51; QS.7:137; dan
QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).
“Berhala-berhala”
Sembahan yang Lemah Bagaikan “Sarang Laba-laba” & Rahasia Pengabulan Doa
Masalah Ke-Esa-an Tuhan (Allah Swt.) yang menjadi pembahasan terutama Surah
ini disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil
(perumpamaan) yang indah sekali dan sangat tepat
serta menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan syirik mereka berkenaan “berhala-berhala”
sembahan mereka.
“Berhala-berhala”
sembahan mereka itu sangat rapuh
bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat serta tidak memberikan manfaat apa pun kepada para penyembahnya, firman-Nya: مَثَلُ الَّذِیۡنَ
اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ -- perumpamaan orang-orang yang mengambil
penolong-penolong selain Allah
adalah اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا -- seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ -- dan sesungguhnya selemah-lemah rumah pasti rumah laba-laba, لَوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ --
seandainya mereka itu mengetahui.”
Sebaliknya, orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh yang menyembah Allah Swt. digambarkan akan
berada dalam “kebun-kebun” yang ”dibawahnya mengalir sungai-sungai”
(QS.2:26), sehingga kehidupannya akan
terpelihara dari “kelaparan
dan telanjang” serta tidak akan “dahaga dan disengat
panas matahari” karena mereka berada mereka di lingkungan
yang penuh dengan berbagai jenis pohon yang rindang
serta lebat dengan berbagai jenis buah-buahan (QS.20:117-120).
Kembali kepada masalah pengabulan doa dan hubungannya
dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ -- maka sesungguhnya Aku dekat.
اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Kata-kata
وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی -- dan beriman
kepada-Ku dalam ayat فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk”, tidak
mengacu kepada beriman kepada Wujud Allah Swt., sebab
hal itu telah termasuk dalam anak kalimat sebelumnya, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ -- “hendaklah
mereka menyambut seruan-Ku”, karena mustahil
orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan menaati perintah-Nya tanpa percaya (beriman) akan adanya Wujud Tuhan. Jadi kata-kata: وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِی -- dan beriman kepada-Ku, tertuju
kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.
mendengar dan mengabulkan doa
hamba-hamba-Nya.
Hubungan “Cucuran Air Mata” Dengan “Pengabulan
Doa”
Sehubungan dengan masalah doa
dan pengabulannya, Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- yakni Masih Mau’ud a.s. -- menjelaskan:
“Aku menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa seseorang
yang menangis di hadapan Allah Yang Maha Perkasa dengan kerendahan hati yang sangat
maka tangisnya itu akan menggerakkan rahmat dan berkat-Nya ke arah dirinya. Aku
berbicara berdasar pengalaman diriku
sendiri bahwa aku telah merasakan
rahmat dan berkat Allah Swt.
dalam bentuk pengabulan doa.
Sesungguhnya aku malah telah melihatnya,
meski para filosof berhati kelam dari zaman ini tidak bisa merasakan atau melihatnya, hakikat ini tidak akan
hilang dari dunia, dan aku selalu siap
memperlihatkan pengabulan doa kapan saja.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 198).
Sehubungan
dengan pentingnya “perendahan diri”
dalam berdoa kepada Allah Swt. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذَاۤ اَذَقۡنَا النَّاسَ رَحۡمَۃً مِّنۡۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡہُمۡ
اِذَا لَہُمۡ مَّکۡرٌ فِیۡۤ
اٰیَاتِنَا ؕ قُلِ اللّٰہُ اَسۡرَعُ
مَکۡرًا ؕ اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی
الۡفُلۡکِ ۚ وَ
جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ
الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ
لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ لَئِنۡ
اَنۡجَیۡتَنَا
مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ
الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ
اَنۡجٰہُمۡ اِذَا ہُمۡ
یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ
الۡحَقِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ
عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ مَّتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ ثُمَّ اِلَیۡنَا
مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
Kami membuat manusia merasakan suatu rahmat setelah kesusahan menimpa mereka, maka tiba-tiba
mereka mulai membuat
makar buruk terhadap Tanda-tanda
Kami. Katakanlah: “Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan, sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang ka-mu makarkan.” Dia-lah Yang memperjalankan kamu melalui daratan dan lautan, hingga apabila
kamu telah ada di kapal-kapal, dan meluncurlah kapal-kapal itu dengan mereka berkat angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ -- lalu
datang angin badai melandanya dan gelombang pun mendatangi mereka dari setiap tempat serta
mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka
telah terkepung, دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ --
mereka berseru kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dan
berkata: لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰکِرِیۡن -- “Jika Engkau benar-benar menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang
bersyukur.” فَلَمَّاۤ اَنۡجٰہُمۡ اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ --
Tetapi tatkala
Dia menyela-matkan mereka itu, tiba-tiba
mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq. یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ --
Hai manusia, sesungguhnya akibat kedurhakaan
kamu mengejar kesenangan
hidup di dunia akan menimpa kamu, ثُمَّ اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai apa
yang senantiasa kamu kerjakan. (Yunus [10]:22-24).
Ketidakbersyukuran Manusia & Musibah Senantiasa Mengancam Orang-orang yang Tidak
bersyukur
Makna ayat 22 bahwa rahmat turun dari Allah Swt. ,
tetapi kemalangan itu datang sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk manusia sendiri. Itulah makna ayat: قُلِ اللّٰہُ اَسۡرَعُ
مَکۡرًا -- “Katakanlah:
“Allah jauh lebih cepat dalam membuat makar tandingan,
اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ -- sesungguhnya utusan-utusan Kami menuliskan apa yang kamu makarkan.”
Ayat selanjutnya mengemukakan perumpamaan kehidupan
dunia, bahwa seperti angin
sepoi-sepoi basah kadang-kadang berubah
menjadi taufan yang dahsyat dan
membawa kehancuran yang sangat luas
jangkauannya, begitu pula kelonggaran
dan penangguhan yang diberikan Allah
Swt. kepada orang-orang kafir mungkin dapat merupakan pendahuluan dari kehancurannya:
وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ -- “lalu
datang angin badai melandanya dan gelombang pun mendatangi mereka dari setiap tempat serta
mereka yakin bahwa sesungguhnya mereka
telah terkepung.”
Untuk menyadarkan orang-orang kafir mengenai kebenaran yang nyata tersebut, maka
perhatian mereka ditarik kepada kenikmatan-kenikmatan
dan kemudahan maupun bahaya dalam perjalanan di laut. Maksud perumpamaan itu ialah bahwa bila bangsa-bangsa menjadi congkak serta manja, dan hidup di dunia ini dipandang gampang dan ringan, maka detik-detik kemunduran mulai tiba kepada bangsa-bangsa itu dan mereka ditimpa oleh nasib yang malang: لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰکِرِیۡن -- “Jika Engkau benar-benar menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang
bersyukur.”
Walau pun Allah Swt. Maha Mengetahui bahwa pada umumnya manusia tidak bersyukur terhadap
Allah Swt. (QS.10:13; QS.11:10-12; QS.17:68; QS.30:34-35; QS.39:9;
QS.41:50-52), tetapi karena merendahkan diri merupakan
ketetapan-Nya berkenaan dengan syarat-syarat pengabulan doa maka Allah Swt. menyelamatkan
mereka dari bahaya tenggelam: فَلَمَّاۤ اَنۡجٰہُمۡ اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ --
Tetapi tatkala
Dia menyelamatkan mereka itu, tiba-tiba
mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa haq. یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ --
Hai manusia, sesungguhnya akibat kedurhakaan
kamu mengejar kesenangan
hidup di dunia akan menimpa kamu, ثُمَّ اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- kemudian kepada Kami-lah tempat kamu kembali, lalu Kami memberitahukan kepada kamu mengenai apa
yang senantiasa kamu kerjakan.”
Nubuatan Al-Quran Mengenai Pentingnya “Perjalanan
Laut”
Manusia yang tidak
bersyukur tersebut melupakan keingkarannya kepada Allah Swt., bahwa Dia berkuasa
untuk mengulangi keadaan berbahaya
seperti itu dalam kehidupan mereka -- setelah
selamat dari perjalanan laut yang berbahaya -- dan pada saat itu Allah Swt. tidak akan mengabulkan permohonannya karena Dia Maha Mengetahui tentang ketidak-bersyukuran
umumnya umat manusia (QS.17:67-70),
firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ
الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ رَحِیۡمًا ﴿﴾ وَ
اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ فِی الۡبَحۡرِ
ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ اِلَّاۤ اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ اِلَی الۡبَرِّ اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾ اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ
یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ
اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ
الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ
اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی
کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu
di lautan, supaya kamu dapat mencari
karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha
Penyayang terhadap kamu. Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa yang kamu seru kecuali Dia, tetapi tatkala Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan
maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ
الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
وَکِیۡلًا
--
Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia
tidak akan membenamkan kamu di
tepi daratan atau mengirimkan atas
kamu taufan pasir dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi
dirimu? اَمۡ اَمِنۡتُمۡ اَنۡ
یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً اُخۡرٰی
فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ --Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya, lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka menenggelamkan kamu karena kamu kafir? ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا لَکُمۡ
عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami. وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ
اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی
کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- Dan
sungguh Kami benar-be-nar telah memuliakan keturunan
Adam, dan Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik
dan Kami melebihkan mereka dengan suatu
keutamaan atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan. (Bani
Israil [17]:67-71).
Keunggulan Bani Adam
(Manusia) Sebagai “Khalifah Allah”
Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri
dan mendoa kepada Allah Swt. serta berjanji dan bersumpah
akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya, ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong
seperti sediakala serta mempersekutukan Allah Swt..
Makna ayat:
وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ
مِّنَ الطَّیِّبٰتِ --
“Dan sungguh Kami benar-benar telah
memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,”
Allah Swt. telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu
Adam (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
Ayat ini melenyapkan segala anggapan
bodoh mengenai perasaan lebih mulia
atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan.
Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua
saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran
itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
Diberi
tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh.
Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab,
lebih-lebih kepada orang Arab seperti Nabi Besar Muhammad saw. — yang selama masa hidup beliau saw. tidak
pernah mengalami perjalanan laut —
telah memberi tekanan yang begitu
hebat mengenai pentingnya perjalanan laut,
kenyataan tersebut sungguh menunjukkan
bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang dari kalangan Non
Muslim (QS.16:104; QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw. tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin
mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar
yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
Karena
manusia adalah khalifah Allah di
permukaan bumi maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain: وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ
مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan atas kebanyakan
dari yang telah Kami ciptakan.”
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 29 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar