Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
KENYATAAN SEBENARNYA ALAM
AKHIRAT DI LUAR DAYA KHAYAL
MANUSIA &
KESIA-SIAAN MENYEMBAH “BERHALA”
Bab 4
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai salah satu tujuan Allah Swt. mengemukakan berbagai perumpamaan dalam Al-Quran, termasuk mengenai “surga”:
اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا
ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ
ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya
Allah tidak malu mengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk bahkan
yang lebih kecil dari itu, فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ
رَّبِّہِمۡ -- ada
pun orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan itu kebenaran
dari Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا -- sedangkan orang-orang
kafir maka mereka mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan
ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا -- Dengannya Dia
menyesatkan banyak orang وَّ یَہۡدِیۡ
بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya
pula Dia
memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan sekali-kali tidak ada yang Dia sesatkan dengannya
kecuali orang-orang fasik (Al-Baqarah [2]:27).
Dharaba al-matsala
berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat pernyataan; ia
mengemukakan perumpamaan (Lexicon Lane; Taj-ul-‘Arus, dan QS.14:46). Allah Swt. telah menggambarkan surga dan neraka
dalam Al-Quran dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
Perumpamaan-perumpamaan
dan tamsilan-tamsilan melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan (cara) lain, dan dalam hal-hal keruhanian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan tersebut memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan
buah pikiran dengan baik.
Pembedaan yang Sesat dari
yang Mendapat Petunjuk
Jadi, makna ayat: اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً
فَمَا فَوۡقَہَا -- “Sesungguhnya
Allah tidak malu mengemukakan suatu
perumpamaan sekecil nyamuk bahkan
yang lebih kecil dari itu” bahwa kata-kata yang dipakai
untuk menggambarkan surga, mungkin
tidak cukup dan tidak berarti
bagaikan nyamuk yang dianggap oleh
orang-orang Arab sebagai makhluk yang
lemah dan memang pada hakikatnya demikian.
Fauq berarti dan bermakna “lebih
besar” dan “lebih kecil” dan
dipakai dalam artian yang sesuai dengan konteksnya (letaknya, ujung pangkalnya)
— (Mufradat). Orang-orang Arab berkata: Adh-‘afu min
ba’udhatin, artinya "ia lebih lemah dari nyamuk".
Meskipun demikian perumpamaan-perumpamaan
dan tamsilan-tamsilan itu membantu untuk memunculkan dalam angan-angan
gambaran mengenai nikmat-nikmat surga itu.
Orang-orang
beriman mengetahui bahwa kata-kata
itu hanya perumpamaan dan mereka
berusaha menyelami kedalaman artinya,
tetapi orang-orang kafir mulai mencela perumpamaan-perumpamaan itu dan
makin bertambah dalam kesalahan dan kesesatan, firman-Nya: یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا -- Dengannya Dia
menyesatkan banyak orang وَّ یَہۡدِیۡ
بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya
pula Dia
memberi petunjuk banyak orang.”
Adhallahullāh
berarti: (1) Allah Swt. menetapkan dia berada dalam kekeliruan; (2) Allah Swt. meninggalkan
atau membiarkan dia sehingga ia tersesat (Kasysyaf); (3) Allah Swt. mendapatkan atau
meninggalkan dia dalam kekeliruan
atau membiarkan dia tersesat (Lexicon Lane).
Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. sebelumnya mengenai akan disingkapkan-Nya
“tirai” kegaiban di akhirat sehingga segala sesuatu yang sebelumnya bersifat gaib menjadi terlihat
nyata, -- termasuk gambaran hakikat nikmat-nikmat surga -- firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi
bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(As-Sajdah
[32]:18).
Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan
nikmat-nikmat surga dalam berbagai surah Al-Quran telah dipakai hanya dalam
arti kiasan (perumpamaan). Dengan demikian makna QS.32:18 berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi
yang akan dilimpahkan kepada orang-orang
beriman yang bertakwa di alam akhirat
bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
Di Luar “Daya Khayal”
Manusia
Nikmat-nikmat surgawi
di alam akhirat tersebut akan berada jauh di luar batas jangkauan
daya cipta manusia. Tetapi “hal-hal yang ghaib” mengenai “surge”
tersebut -- termasuk kenyataan mengenai
“neraka jahannam” -
merupakan haq (kebenaran)
yang akan dialami manusia di alam
akhirat sebab Allah Swt.
adalah Tuhan Pencipta alam yang nyata mau pun alam yang gaib, firman-Nya:
ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ
الشَّہَادَۃِ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ
Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang,
(As-Sajdah
[32]:7).
Firman-Nya
lagi:
اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurat
[49]:19).
Oleh karena itu keliru
sekali menyangka — seperti dikira
oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam (Al-Quran) memaksakan kepada para pengikutnya
beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi
buta.
Kata gaib
itu berarti hal-hal yang
meskipun di luar jangkauan indera
manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Sebab merupakan kenyataan dan pengalaman umum bahwa sesuatu atau hal-hal yang tidak tertangkap
oleh pancaindera manusia tidak
senantiasa tak dapat diterima oleh akal.
Tidak ada dari hal-hal gaib yang orang
Islam diminta agar beriman
kepadanya itu di luar jangkauan akal.
Banyak benda-benda di dunia yang
meskipun tidak nampak tetapi terbukti
adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil
yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran (keberadaan) benda-benda
atau sesuatu yang dianggap gaib tersebut., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾ اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ
عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾ مَا یَلۡفِظُ
مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ
عَتِیۡدٌ ﴿﴾ وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ
مِنۡہُ تَحِیۡدُ ﴿﴾ وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ
﴿﴾ وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ
شَہِیۡدٌ ﴿﴾ لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ
فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾ وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ
ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ
نَفۡسُہ
-- dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ -- dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya. اِذۡ یَتَلَقَّی
الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ -- Ketika
kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah
kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا
لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ -- Ia tidak
mengucapkan sepatah kata pun melainkan di
dekatnya sudah siap pengawas. وَ جَآءَتۡ
سَکۡرَۃُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ -- Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ تَحِیۡدُ
-- itulah apa yang engkau
selalu menghindar darinya. وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡوَعِیۡدِ -- Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari
azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ
نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ
-- Dan datang
setiap jiwa besertanya ada malaikat
penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا -- Kami
berfirman: “Sungguh dahulu
engkau benar-benar lalai mengenai hari
ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ -- maka Kami
singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ
قَرِیۡنُہٗ ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ -- Dan teman
yang menyertainya berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan
amal engkau.” (Qāf [50]:17-24).
Firman Allah Swt. tersebut menegaskan bahwa berbagai pernyataan-Nya
dalam Al-Quran mengenai alam akhirat yang keadaanya gaib bagi orang-orang yang hidup di alam jasmani ini “hijabnya”
(tirainya) akan terbuka, sehingga hal-hal yang sebelumnya gaib tersebut benar-benar suatu kenyataan
yang akan dialami langsung oleh manusia di alam akhirat -- baik yang menyenangkan mau pun yang menyakitkan -- yang disebut kehidupan surgawi dan kehidupan
neraka, firman-Nya:
وَ لَوۡ
تَرٰۤی اِذِ الۡمُجۡرِمُوۡنَ نَاکِسُوۡا
رُءُوۡسِہِمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ رَبَّنَاۤ
اَبۡصَرۡنَا وَ سَمِعۡنَا فَارۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَالِحًا اِنَّا مُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang
berdosa akan menundukkan kepala
mereka di hadapan Rabb-nya (Tuhan-nya)
ؕ رَبَّنَاۤ
اَبۡصَرۡنَا وَ سَمِعۡنَا فَارۡجِعۡنَا -- dan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah melihat dan kami
telah mendengar, maka kembalikanlah kami, supaya dapat ber-amal saleh, اِنَّا مُوۡقِنُوۡنَ --sesungguhnya
kami telah yakin.” (As-Sajdah
[32]:13). Lihat pula QS.23:100-101; QS.35:38; QS.39:59.
Suara Panggilan
dari Jarak Dekat
Demikianlah
hubungan “dekatnya
posisi” Allah Swt. dengan manusia dan
hubungannya dengan pengabulan doa, sebab dengan semakin sempurnanya makrifat Ilahi yang dimiliki pendoa maka pengabulan doanya pun akan semakin
menjadi kenyataan, karena
sebagaimana orang yang berseru kepada
orang lain dari jarak dekat ia akan langsung didengar (ditanggapi) oleh
orang yang diseru (dipanggil), firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ -- maka sesungguhnya Aku dekat.
اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Di antara seluruh manusia – bahkan seluruh
para rasul Allah -- maqam
(martabat) beliau adalah yang “paling dekat” dengan Allah Swt. bahkan
secara kiasan digambarkan beliau saw. “telah bersatu” dengan Allah
Swt. seperti bersatunya dua buah busur (QS.53:1-19), firman-Nya:
وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا
فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾
Dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. Kemudian
ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau
lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya
apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:8-11).
Kesia-siaan Menyembah
“Berhala”
Pernyataan Allah Swt. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ -- ”Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
اِذَا دَعَانِ -- apabila ia berdoa kepada-Ku”
dalam QS.2:187 perlu mendapat perhatian khusus, karena dalam surah lain Allah
Swt. berfirman mengenai kesia-siaan berdoa kepada sembahan-sembahan
selain Allah Swt.:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).
Ungkapan ayat: لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- “Hanya bagi
Dia-lah seruan yang haq (benar)” diterjemahkan sebagai berikut:
(1)
Allah Swt. sajalah yang layak disembah;
(2)
Hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah
bagi manusia;
(3)
Suara Allah Swt.
sajalah yang
berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan
(4)
Suara Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Sehubungan dengan pentingnya berusaha meraih “kedekatan” dengan Allah Swt. itu pulalah --
agar “hijab” (tirai) Al-Quran pun terbuka -- firman-Nya
berikut ini:
وَ لَوۡ
جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا
لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ
اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ
ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan
seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam
bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ -- Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka. اُولٰٓئِکَ
یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh. (Ha Mim – As-Sajdah [41]:45).
Al-Quran adalah Kitab wahyu yang sangat menakjubkan, karena tidak ada satu pun
di antara kebenaran-kebenaran, asas-asas, dan cita-cita agung yang diuraikan
oleh Al-Quran pernah disangkal atau ditentang oleh ajaran-ajaran
zaman dahulu ataupun oleh ilmu
pengetahuan modern. Itulah makna ayat: قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی
وَّ شِفَآءٌ -- Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.”
Penyebab Munculnya “Hijab”
(Tirai Penutup) Hati dan Indera-indera Ruhani
Sedangkan makna ayat selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan” bahwa arti yang terkandung di dalam Al-Quran
itu samar-samar bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi
dari mereka. Yakni bagaikan mengemukakan
suatu benda yang indah atau memperdengarkan syair lagu yang merdu
ke hadapan orang yang tuli dan buta.
Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ -- “Mereka
akan dipanggil dari suatu tempat
yang amat jauh”
berarti bahwa pada Hari Pembalasan
di akhirat,
orang-orang kafir tidak akan diizinkan
mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka
akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan
perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup
telinga mereka dari mendengarkan
Al-Quran serta menolak memperhatikan
dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya
seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang amat jauh.
Dengan demikian benarlah firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.
berikut ini:
وَ اِذَا
قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ
حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اَکِنَّۃً
اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ وَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ
رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ
وَلَّوۡا عَلٰۤی
اَدۡبَارِہِمۡ نُفُوۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ
فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat
حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا -- suatu hijab
(tirai/penghalang yang tersembunyi. Dan Kami
menjadikan tutupan di
atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian. Dan apabila engkau menyebutkan Rabb (Tuhan)
engkau Yang Tunggal dalam Al-Qur-an mereka membalikkan punggungnya karena benci. نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ
بِہٖۤ اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی -- Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia,
اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا -- ketika
orang-orang zalim itu berkata
satu sama lain: ”Kamu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena
sihir.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ
الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا -- Perhatikanlah bagaimana
mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya mereka menjadi sesat lalu mereka
tidak dapat menemukan jalan. (Bani
Israil [17]:46-49).
“Hijab”
yang menutupi hati dan indera-indra ruhani
para penentang Rasul Allah adalah berupa tutupan
dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan,
atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan ataupun tutupan sebagai akibat adat
kebiasaan dan kepercayaan lama
yang dipegang dengan erat dan asyiknyalah yang menjadi penghalang bagi orang-orang
kafir untuk menerima kebenaran
yang dibawa para rasul Allah.
Berbagai macam tutupan-tutupan
itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri yang
mengakibatkan kemampuan indera-indera ruhani mereka menjadi lumpuh
dan di akhirat mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129),
firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ
قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ
اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan berapa banyak sumur
yang telah ditinggalkan dan juga istana
yang menjulang tinggi. َفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ -- Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, فَتَکُوۡنَ
لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ
اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا -- lalu menjadikan hati mereka memahami
dengannya atau menjadikan telinga mereka
mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا
تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang
buta adalah hati yang ada dalam dada.(Al-Hajj
[22]:46-47). Lihat pula QS.7:180.
Dari
ayat ini jelas bahwa orang-orang mati,
orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di
tempat lain dalam berbagai surah Al-Quran
adalah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:7-8).
Dengan demikian jelaslah bahwa pada
hakikatnya berbagai macam “tutupan” yang melumpuhkan indera-indera ruhani orang-orang kafir tersebut adalah sebagai akibat
dari penolakan mereka terhadap kebenaran yang datang kepada mereka melalui para Rasul Allah (QS.7:35-37), sebagaimana yang dikemukakan
Nabi Nuh a.s. kepada Allah Swt.
mengenai kedegilan hati kaum
beliau terhadap da’wah yang beliau lakukan
dengan segala cara (QS.71: 1-29).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 22 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar