Jumat, 22 Juli 2016

Kenyataan Sebenarnya "Alam Akhirat" Di Luar Daya Khayal Manusia & Kesia-siaan Menyembah "Berhala"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


HAKIKAT DOA



  KENYATAAN SEBENARNYA  ALAM AKHIRAT DI LUAR DAYA KHAYAL MANUSIA   &  KESIA-SIAAN MENYEMBAH BERHALA

Bab 4


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai  salah satu tujuan  Allah Swt.    mengemukakan berbagai perumpamaan dalam Al-Quran, termasuk mengenai “surga”:
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya Allah tidak malu  mengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk  bahkan  yang lebih kecil dari itu, فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ  --   ada pun orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan itu  kebenaran  dari Rabb (Tuhan) merekaوَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا  --  sedangkan orang-orang kafir maka mereka mengatakan: “Apa  yang dikehendaki Allah dengan  perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا  --  Dengannya   Dia menyesatkan banyak orang    وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya pula    Dia memberi petunjuk banyak orangوَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ --  dan sekali-kali   tidak ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang  fasik  (Al-Baqarah [2]:27).
    Dharaba al-matsala berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat pernyataan; ia mengemukakan perumpamaan (Lexicon Lane; Taj-ul-‘Arus, dan QS.14:46).   Allah   Swt. telah menggambarkan surga dan neraka dalam Al-Quran  dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
       Perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan  (cara) lain, dan dalam hal-hal keruhanian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan tersebut memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan buah pikiran dengan baik.

Pembedaan yang Sesat dari yang Mendapat Petunjuk

      Jadi, makna ayat: اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا  -- “Sesungguhnya Allah tidak malu mengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk  bahkan  yang lebih kecil dari itu” bahwa kata-kata yang dipakai untuk menggambarkan surga, mungkin tidak cukup dan tidak berarti bagaikan nyamuk yang dianggap oleh orang-orang Arab sebagai makhluk yang lemah dan memang pada hakikatnya demikian.
       Fauq berarti dan bermakna “lebih besar” dan “lebih kecil” dan dipakai dalam artian yang sesuai dengan konteksnya (letaknya, ujung pangkalnya) — (Mufradat).    Orang-orang Arab berkata: Adh-‘afu min ba’udhatin, artinya  "ia lebih lemah dari nyamuk". Meskipun demikian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan itu membantu untuk memunculkan dalam angan-angan  gambaran mengenai nikmat-nikmat surga itu.
        Orang-orang  beriman mengetahui bahwa kata-kata itu hanya perumpamaan dan mereka berusaha menyelami kedalaman artinya, tetapi orang-orang kafir mulai mencela perumpamaan-perumpamaan itu dan makin bertambah dalam kesalahan dan kesesatan, firman-Nya: یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا  --  Dengannya   Dia menyesatkan banyak orang    وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya pula    Dia memberi petunjuk banyak orang.”    
       Adhallahullāh berarti: (1) Allah  Swt. menetapkan dia berada dalam kekeliruan; (2) Allah Swt.  meninggalkan atau membiarkan dia sehingga ia tersesat (Kasysyaf); (3) Allah Swt. mendapatkan atau meninggalkan dia dalam kekeliruan atau membiarkan dia tersesat (Lexicon Lane). 
       Jadi, kembali kepada  firman Allah Swt. sebelumnya mengenai akan disingkapkan-Nya “tirai” kegaiban di akhirat sehingga   segala sesuatu yang sebelumnya bersifat gaib  menjadi terlihat nyata, -- termasuk gambaran hakikat  nikmat-nikmat surga --  firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (As-Sajdah [32]:18).
        Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat surga dalam berbagai surah Al-Quran telah dipakai hanya dalam arti kiasan (perumpamaan).  Dengan demikian makna QS.32:18  berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman  yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.

Di Luar “Daya Khayal” Manusia

       Nikmat-nikmat  surgawi di alam akhirat tersebut  akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia. Tetapi   “hal-hal yang ghaib” mengenai “surge” tersebut  -- termasuk kenyataan mengenai “neraka jahannam”   -   merupakan haq (kebenaran) yang  akan dialami manusia di alam akhirat  sebab  Allah Swt.  adalah  Tuhan Pencipta  alam yang nyata mau pun alam yang gaib, firman-Nya:
ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ
Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang, (As-Sajdah [32]:7).
Firman-Nya lagi: 
اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurat [49]:19).
       Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus  Al-Quran dari Barat — bahwa Islam (Al-Quran) memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
       Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman.  Sebab merupakan kenyataan dan pengalaman umum bahwa  sesuatu atau hal-hal yang tidak tertangkap oleh pancaindera  manusia tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal.
        Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran (keberadaan) benda-benda atau sesuatu yang dianggap gaib tersebut., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہٗ ۚۖ وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ ﴿﴾  اِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ ﴿﴾  مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ ﴿﴾   وَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ ؕ ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ ﴿﴾  وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ ﴿﴾  وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ ﴿﴾  لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ ﴿﴾  وَ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan manusia وَ نَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِہٖ  نَفۡسُہ  --  dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya, وَ نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ --  dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernyaاِذۡ یَتَلَقَّی الۡمُتَلَقِّیٰنِ عَنِ الۡیَمِیۡنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِیۡدٌ  --            Ketika kedua malaikat pencatat mencatat duduk di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. مَا یَلۡفِظُ مِنۡ  قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ  --  Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun melainkan  di dekatnya sudah siap pengawasوَ جَآءَتۡ سَکۡرَۃُ  الۡمَوۡتِ بِالۡحَقِّ --    Dan sakratulmaut pasti akan datang, ذٰلِکَ مَا کُنۡتَ مِنۡہُ  تَحِیۡدُ  -- itulah apa yang engkau selalu   menghindar darinyaوَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡوَعِیۡدِ  --        Dan nafiri akan ditiup, itulah Hari azab yang dijanjikan. وَ جَآءَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّعَہَا سَآئِقٌ وَّ شَہِیۡدٌ  --   Dan datang setiap jiwa besertanya ada malaikat penggiring dan malaikat pemberi kesaksian. لَقَدۡ کُنۡتَ فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ ہٰذَا  --   Kami berfirman: “Sungguh  dahulu engkau benar-benar lalai mengenai hari ini, فَکَشَفۡنَا عَنۡکَ غِطَآءَکَ فَبَصَرُکَ الۡیَوۡمَ حَدِیۡدٌ --  maka Kami  singkapkan dari engkau tabir engkau maka pada hari ini penglihatan engkau sangat tajam.” َ قَالَ قَرِیۡنُہٗ  ہٰذَا مَا لَدَیَّ عَتِیۡدٌ --  Dan teman yang menyertainya  berkata: “Inilah yang tersedia padaku catatan amal engkau.”  (Qāf [50]:17-24).
       Firman Allah Swt. tersebut menegaskan bahwa berbagai pernyataan-Nya dalam Al-Quran mengenai  alam akhirat yang keadaanya gaib bagi orang-orang yang hidup di alam jasmani ini  “hijabnya” (tirainya) akan terbuka,  sehingga hal-hal  yang sebelumnya gaib tersebut benar-benar suatu kenyataan yang akan dialami langsung oleh manusia di alam akhirat -- baik yang  menyenangkan mau pun yang  menyakitkan  -- yang disebut kehidupan surgawi dan kehidupan neraka, firman-Nya:
وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ الۡمُجۡرِمُوۡنَ نَاکِسُوۡا رُءُوۡسِہِمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ رَبَّنَاۤ  اَبۡصَرۡنَا وَ سَمِعۡنَا فَارۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَالِحًا  اِنَّا مُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan seandainya  engkau melihat ketika orang-orang yang berdosa akan menundukkan kepala mereka di hadapan Rabb-nya (Tuhan-nya) ؕ رَبَّنَاۤ  اَبۡصَرۡنَا وَ سَمِعۡنَا فَارۡجِعۡنَا  --  dan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah melihat dan kami telah mendengar, maka  kembalikanlah kami, supaya  dapat  ber-amal saleh, اِنَّا مُوۡقِنُوۡنَ  --sesungguhnya kami telah yakin.” (As-Sajdah [32]:13). Lihat pula QS.23:100-101; QS.35:38; QS.39:59.

Suara Panggilan dari Jarak Dekat

    Demikianlah   hubungan  “dekatnya posisi” Allah Swt. dengan manusia  dan hubungannya  dengan pengabulan doa,  sebab  dengan semakin sempurnanya makrifat Ilahi  yang dimiliki pendoa maka  pengabulan doanya pun  akan semakin  menjadi kenyataan, karena sebagaimana orang yang berseru kepada orang lain dari jarak dekat  ia  akan langsung didengar (ditanggapi)  oleh orang yang diseru (dipanggil),  firman-Nya:  
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  --   maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ --  karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
 Di antara seluruh manusia – bahkan seluruh para rasul Allah  -- maqam (martabat) beliau  adalah yang “paling dekat” dengan Allah Swt.  bahkan  secara kiasan digambarkan beliau saw. “telah bersatu”  dengan Allah Swt. seperti bersatunya dua buah busur  (QS.53:1-19), firman-Nya:
وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾
Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  -- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:8-11).

Kesia-siaan Menyembah “Berhala”

       Pernyataan Allah Swt. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ    --    Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa  اِذَا دَعَانِ    --  apabila ia berdoa kepada-Ku” dalam QS.2:187 perlu mendapat perhatian khusus, karena dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai kesia-siaan berdoa kepada  sembahan-sembahan selain Allah Swt.:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --   dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).
        Ungkapan ayat:   لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ -- “Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)”   diterjemahkan sebagai berikut:
(1)    Allah Swt.  sajalah yang layak disembah;
(2)    Hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia;
(3)    Suara Allah Swt.  sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan
(4)    Suara Allah Swt.   sajalah yang akan unggul.
       Sehubungan dengan pentingnya berusaha meraih “kedekatan” dengan Allah Swt. itu pulalah  -- agar “hijab” (tirai) Al-Quran pun terbuka   -- firman-Nya berikut ini:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا  اَعۡجَمِیًّا  لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا  فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ  ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya  Al-Quran dalam bahasa asing  niscaya mereka berkata: ”Mengapa Ayat-ayatnya tidak dijelaskan? Apakah patut Al-Quran dalam bahasa asing sedang rasulnya orang Arab?” قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  --  Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.”  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan,  dan Al-Quran itu kebutaan bagi mereka.  اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  -- Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh.  (Ha MimAs-Sajdah [41]:45).
    Al-Quran adalah Kitab wahyu  yang sangat menakjubkan, karena tidak ada satu pun di antara kebenaran-kebenaran, asas-asas, dan cita-cita agung yang diuraikan oleh Al-Quran pernah disangkal atau ditentang oleh ajaran-ajaran zaman dahulu ataupun oleh ilmu pengetahuan modern. Itulah makna ayat:  قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ  --  Katakanlah: ”Al-Quran itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.”  

Penyebab Munculnya “Hijab” (Tirai Penutup) Hati dan Indera-indera Ruhani

      Sedangkan makna ayat selanjutnya:  وَ الَّذِیۡنَ  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ  وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ  عَمًی -- Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan” bahwa arti yang terkandung di dalam Al-Quran itu samar-samar bagi mereka serta keindahan dan kemanfaatan ajarannya tersembunyi dari mereka. Yakni bagaikan mengemukakan  suatu  benda  yang indah atau memperdengarkan syair lagu yang   merdu ke hadapan orang yang tuli dan buta.
      Ungkapan اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  -- “Mereka akan dipanggil dari suatu tempat yang amat jauh   berarti bahwa pada Hari Pembalasan  di akhirat, orang-orang kafir tidak akan diizinkan mendekati 'Arasy (singgasana) Tuhan Yang Mahakuasa, melainkan mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka.
       Ungkapan itu dapat juga berarti bahwa orang-orang kafir telah menutup telinga mereka dari mendengarkan Al-Quran serta menolak memperhatikan dan merenungkannya sehingga Al-Quran itu tidak dapat dimengerti oleh mereka, tidak ubahnya seperti suara kacau-balau yang didengar seseorang dari tempat yang amat jauh.
     Dengan demikian benarlah  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ  اَکِنَّۃً  اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ  وَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ  وَلَّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِہِمۡ  نُفُوۡرًا ﴿﴾  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾

Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat  حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا --  suatu hijab (tirai/penghalang yang tersembunyi.  Dan Kami menjadikan tutupan  di atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian.  Dan apabila engkau menyebutkan  Rabb (Tuhan) engkau Yang Tunggal dalam Al-Qur-an mereka membalikkan punggungnya karena benci.  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی    --  Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia,  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا  -- ketika  orang-orang zalim itu berkata satu sama lain:  Kamu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.”  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا   -- Perhatikanlah  bagaimana mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya mereka menjadi sesat lalu mereka tidak dapat menemukan jalan.  (Bani Israil [17]:46-49).
        “Hijab” yang menutupi hati dan indera-indra  ruhani para penentang Rasul Allah  adalah berupa  tutupan dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan, atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan ataupun tutupan sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan lama yang dipegang dengan erat dan asyiknyalah yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran yang dibawa para  rasul Allah.
      Berbagai macam  tutupan-tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri yang mengakibatkan kemampuan indera-indera ruhani mereka menjadi lumpuh  dan di akhirat mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan buta (QS.17:73; QS.20:125-129), firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan berapa banyak  sumur yang telah ditinggalkan dan juga  istana yang menjulang tinggi. َفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ   --    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا  --  lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya?   فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ --  Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.(Al-Hajj [22]:46-47).  Lihat pula QS.7:180.
       Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam berbagai  surah Al-Quran  adalah  orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:7-8).
Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya   berbagai macam “tutupan” yang melumpuhkan indera-indera ruhani  orang-orang kafir tersebut adalah sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap kebenaran  yang datang kepada mereka melalui para Rasul Allah  (QS.7:35-37), sebagaimana yang dikemukakan  Nabi Nuh a.s.  kepada Allah Swt. mengenai kedegilan hati kaum beliau  terhadap da’wah yang  beliau lakukan dengan segala cara  (QS.71: 1-29).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 22 Juli   2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar