Rabu, 20 Juli 2016

Tersingkapnya "Hijab" (Tirai) Al-Quran Kepada "Orang-orang yang Disucikan" Allah Swt. & Hikmah Dalam Berbagai "Perumpamaan" Al-Quran


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA


TERSIBAKNYA HIJAB (TIRAI) AL-QURAN KEPADA  ORANG-ORANG YANG DISUCIKAN ALLAH SWT.   &   HIKMAH    DALAM BERBAGAI PERUMPAMAAN AL-QURAN

 Bab 3


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai  nikmat-nikmat surgawi di akhirat, bahwa itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa   -- yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh   -- di alam dunia ini, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezekiقَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ مُتَشَابِہًا  وَ اُتُوۡا ؕ   وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya   (Al-Baqarah [2]:26).

Gambaran Perumpamaan Surga  Dalam Al-Quran
  
      Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena mereka sama sekali tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
    Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18).  Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari), firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (As-Sajdah [32]:18).
     Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  “Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini?” Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu (intelaktual), karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang, namun mengandung falsafah serta hikmah yang  sangat luas dan dalam (QS.18:110; QS.31:28).
    Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa “hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah” yang mampu “menyentuh” kedalaman dan keluasan  berbagai khazanah pengetahuan jasmani dan ruhani yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,   dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ --  yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.  (Wāqi’ah [56]:78-80).

Orang-orang yang Disucikan” Allah Swt.

   Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik   -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. QS.15:10   --  merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantangan itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan. Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam Al-Quran  dan Nabi Besar Muhammad saw. yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya.
 Tetapi semua daya upaya mereka ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab suci yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  kepada dunia 14 abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun (Sir Williams Muir), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemelihara-nya. (Al-Hijr [15]:10).
   Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara  dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan dalam ayat berikutnya. Ayat ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam.
    Seperti hukum alam,  demikian pula cita-cita dan asas-asas itu juga kekal dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman. Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt.  kepada manusia (QS.30:31).
 Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar dan telah dilimpahi kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya  ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
  Jadi, hanya  orang yang bernasib baik sajalah – terutama Rasul Allah (QS.72:27-29)  -- yang  diberi pengertian  yang hakiki mengenai Al-Quran  dan dan dapat mendalami kandungan arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih atau ada kebengkokan (QS.3:8-9). Secara sambil lalu dikatakannya bahwa kita hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik   tidak bersih.

Hakikat Perumpamaan Surga

    Jadi, kembali kepada perumpamaan surga yang dikemukakan  Allah Swt. dalam firman-Nya sebelum ini: 
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di ba-wahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezekiقَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ          وَ اُتُوۡا مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya   (Al-Baqarah [2]:26).
     Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini,  dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang (akhirat).
     Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dipakainya kata-kata atau benda-benda  yang telah dikenal manusia di dunia ini, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi. Tambahan pula menurut Islam  (Al-Quran)  kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan di akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda (materi) seperti  di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (As-Sajdah [32]:18).

Alam Nyata”  Dalam Mimpi

       Orang dapat membuat tanggapan terhadap keadaan itu dari gejala-gejala mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan (dialami)  orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan itu pun  ia punya jisim (tubuh) dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.
      Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Demikian pula susu yang dinikmati dalam mimpi tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa  minuman itu susu biasa yang ada di dunia ini dan diminumnya.
      Pengalaman seperti itu dialami pula oleh  gadis Maryam binti ‘Imran ketika dalam peristiwa  kasyaf  didatangi malaikat Jibril a.s.  dalam wujud seorang laki-laki  -- guna memberikan kabar gembira mengenai kelahiran Isa Ibnu Maryam a.s. --  sehingga hal tersebut membuat ia sangat terkejut  (QS.19:17-23).
     Pendek kata, nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa  hanya penyuguhan subyektif dari anugerah Allah Swt.  yangmanusia nikmati di dunia ini, bahkan sebaliknya, yakni pada hakikatnya  apa yang manusia  peroleh di dunia ini  hanyalah gambaran anugerah nyata dan benar dari Allah Swt.  yang akan dijumpai orang di akhirat.  
     Contohnya,  berbagai pepohonan dan buah-buahnya   atau air minum  atau api yang hakiki adalah yang akan dialami di alam akhirat, sedangkan  segala sesuatu yang  ada di dunia ini bukan kenyataan  yang hakiki melainkan sekedar  “bayangannya” saja, itulah sebabnya segala sesuatu di alam semesta jasmani  ini bersifat fana (tidak kekal – QS.28:89; QS.55:27-28).
    Tambahan pula bahwa makna dari  “kebun-kebun“ (jannāh) adalah gambaran iman, sedangkan   “sungai-sungai” adalah gambaran amal saleh. Ada pun falsafahnya adalah sebagaimana kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa air dari sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa perbuatan baik  (amal saleh).
     Dengan demikian dalam rangka meraih kehidupan surgawi di akhirat maka   iman dan amal  saleh tidak dapat dipisahkan untuk mencapai najat (keselamatan). Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan ini, sedangkan  sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal salehnya maka  ia akan mengetahui bahwa iman dan amal salehnya tidak sia-sia.

Serupa” Dalam Istilah Tetapi “Tidak Sama” Dalam Kenyataannya

     Jadi, keliru sekali mengambil kesimpulan dari kata-kata: "Inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu"  dalam ayat:  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezekiقَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,  bahwa di surga orang-orang beriman  akan dianugerahi buah-buahan semacam yang pernah dinikmati mereka di bumi ini, sebab seperti telah diterangkan  bahwa  keduanya tidak sama.
     Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya mereka segera akan mengenali dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya yang benar di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ  --“inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
      Kata-kata “yang hampir serupa” dalam ayat selanjutnya: بِہٖ       مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ    وَ اُتُوۡا فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,  وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci,”   tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia ini dan buah atau hasilnya di surga.
    Amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman  sebagai hasil atau buah di akhirat. Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, maka makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surge, dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya.
   Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan  surgawi yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri di dalam melakukan ibadah  kepada Allah Swt.  dan dalam beramal saleh.  Ayat ini berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing:  بِہٖ مُتَشَابِہًا  وَ اُتُوۡا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci.” 

Di Alam Akhirat Tidak Ada Kemunduran

      Kata-kata  وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  “mereka akan kekal di dalamnya” berarti bahwa orang-orang beriman di surga tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran. Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ ۫ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ  الۡجَنَّۃِ ۚ ہُمۡ   فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ ۚ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ ہَدٰىنَا لِہٰذَا ۟ وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ ۚ لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ ؕ وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ  اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ   -- Kami tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ  الۡجَنَّۃِ  --   mereka inilah penghuni surga, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ  الۡجَنَّۃِ  -- mereka kekal di dalamnya.   وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ --  Dan Kami  mencabut segala dendam  yang ada di dalam dada mereka. تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ  --   Di bawah mereka  mengalir sungai-sungai وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ ہَدٰىنَا لِہٰذَا   -- dan mereka berkata:  Segala puji bagi Allah Yang telah menunjuki kami kepada surga ini,  وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  -- dan kami  sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk seandainya  Allah tidak memberi kami petunjuk.   لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ -- Sungguh benar-benar  telah datang rasul-rasulRabb (Tuhan kami) dengan haq.” وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ  اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ   -- Dan akan diserukan kepada mereka: “Inilah surga yang diwariskan kepada kamu sebagai ganjaran atas apa yang senantiasa kamu kerjakan.” (Al-A’rāf [7]:43-44).
  Anak kalimat sisipan لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ   --  “Kami tidak membebani sesuatu jiwa di luar kemampuannya”  menolak  paham agama Kristen yang menyatakan bahwa dosa itu terpendam dalam fitrat manusia   -- akibat dosa warisan dari Adam dan Hawa   -- maka upaya menghilangkan dosa itu berada di luar jangkauan kekuasaan manusia serta harus ditebus dengan kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. di atas salib.

Kehidupan Surgawi” Dimulai di Dunia

 Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa pada hakikatnya kehidupan surgawi dimulai sejak dari dunia ini juga  (QS.55:47),  dan seseorang dikatakan sedang menikmati kehidupan surgawi apabila hatinya bebas dari rasa permusuhan, irihati, dendam-kesumat, dan kegelisahan mental sebagai buah ketakwaan kepada Allah Swt. yakni beriman dan beramal salehبِہٖ مُتَشَابِہًا  وَ اُتُوۡا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci.” 
      Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Sebab istri yang baik adalah  sumber kegembiraan dan kesenangan. Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian sebagaimana  firman-Nya dalam QS.32:18 kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat sarga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
    Demikianlah hakikat  dan falsafah perumpamaan  mengenai gambaran surga dalam Al-Quran, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezekiقَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ          وَ اُتُوۡا مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya   (Al-Baqarah [2]:26).

 Al-Quran  Merupakan “Furqān” (Pembeda)

       SelanjutnyaAllah Swt. berfirman mengenai salah satu alasan  mengemukakan berbagai perumpamaan dalam Al-Quran, termasuk mengenai “surga”:
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya Allah tidak malumengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk  bahkan  yang lebih kecil dari itu, فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ  --   ada pun orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan itu  kebenaran  dari Rabb (Tuhan) merekaوَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ  اَرَادَ  اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا  --  sedangkan orang-orang kafir maka mereka mengatakan: “Apa  yang dikehendaki Allah dengan  perumpamaan ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا  --  Dengannya   Dia menyesatkan banyak orang    وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya pula    Dia memberi petunjuk banyak orangوَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ  اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ --  dan sekali-kali   tidak ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali orang-orang  fasik  (Al-Baqarah [2]:27).
    Dharaba al-matsala berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat pernyataan; ia mengemukakan perumpamaan (Lexicon Lane; Taj-ul-‘Arus, dan QS.14:46).   Allah   Swt. telah menggambarkan surga dan neraka dalam Al-Quran  dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
    Perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan  (cara) lain, dan dalam hal-hal keruhanian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan tersebut memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan buah pikiran dengan baik.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 20 Juli   2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar