Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
TERSIBAKNYA “HIJAB” (TIRAI) AL-QURAN
KEPADA “ORANG-ORANG
YANG DISUCIKAN” ALLAH SWT. & HIKMAH DALAM BERBAGAI PERUMPAMAAN AL-QURAN
Bab 3
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai nikmat-nikmat
surgawi di akhirat, bahwa itu akan
merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan
dan tingkah-laku baik yang telah
dikerjakan orang-orang bertakwa -- yakni orang-orang
yang beriman dan beramal saleh -- di alam
dunia ini, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا
مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا --
Setiap kali diberikan kepada
mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
berkata: “Inilah yang telah direzekikan
kepada kami sebelumnya”, بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- akan
diberikan kepada mereka yang serupa
dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada
jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
Gambaran Perumpamaan Surga Dalam Al-Quran
Ayat
ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran
yang akan diperoleh orang-orang beriman
di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan
(gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena mereka sama sekali tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk
dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18).
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tidak ada mata telah
melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran
manusia dapat mengirakannya” (Bukhari),
firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi
bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(As-Sajdah
[32]:18).
Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: “Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini?” Hal demikian
adalah karena seruan Al-Quran itu
tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu
(intelaktual), karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami
semua orang, namun mengandung falsafah
serta hikmah yang sangat luas
dan dalam (QS.18:110; QS.31:28).
Itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan bahwa “hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah” yang mampu
“menyentuh” kedalaman dan keluasan berbagai khazanah
pengetahuan jasmani dan ruhani
yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
itu benar-benar Al-Quran
yang mulia, dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- yang
tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Wāqi’ah
[56]:78-80).
“Orang-orang
yang Disucikan” Allah Swt.
Bahwa
Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi
yang terpelihara dan terjaga baik -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. QS.15:10 -- merupakan tantangan
terbuka kepada seluruh dunia,
tetapi selama 14 abad, tantangan itu
tetap tidak terjawab atau tidak
mendapat sambutan. Tidak ada upaya
yang telah disia-siakan para pengecam
Al-Quran dan Nabi
Besar Muhammad saw. yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya.
Tetapi semua daya upaya mereka
ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya
hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh
musuh-musuh – bahwa kitab suci yang
disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada dunia 14 abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun (Sir
Williams Muir),
firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami-lah Yang menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemelihara-nya. (Al-Hijr
[15]:10).
Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara dalam
pengertian bahwa hanya orang-orang
beriman yang hatinya bersih dapat
meraih khazanah keruhanian seperti
diterangkan dalam ayat berikutnya. Ayat ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran
itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu
cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam.
Seperti hukum
alam, demikian pula cita-cita dan asas-asas itu juga kekal
dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman. Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia
(QS.30:31).
Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat
dasar dan telah dilimpahi kemampuan
untuk sampai kepada keputusan yang benar.
Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya ia dengan mudah
dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
Jadi, hanya
orang yang bernasib baik
sajalah – terutama Rasul Allah
(QS.72:27-29) -- yang diberi pengertian yang hakiki mengenai Al-Quran dan dan dapat mendalami kandungan arti Al-Quran yang
hakiki, melalui cara menjalani kehidupan
bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang
tertutup bagi orang-orang yang hatinya
tidak bersih atau ada kebengkokan (QS.3:8-9). Secara sambil lalu
dikatakannya bahwa kita hendaknya jangan menyentuh
atau membaca Al-Quran sementara
keadaan fisik tidak bersih.
Hakikat Perumpamaan Surga
Jadi, kembali kepada perumpamaan surga yang dikemukakan Allah Swt. dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di ba-wahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا
مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا --
Setiap kali diberikan kepada
mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
berkata: “Inilah yang telah direzekikan
kepada kami sebelumnya”, بِہٖ وَ اُتُوۡا مُتَشَابِہًا ؕ وَ
لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
Dalam menggambarkan karunia Ilahi,
Al-Quran telah mempergunakan nama benda
yang pada umumnya dipandang baik di
bumi ini, dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di
alam yang akan datang (akhirat).
Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dipakainya
kata-kata atau benda-benda yang telah
dikenal manusia di dunia ini, selain itu tidak
ada persamaan antara kesenangan
duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi.
Tambahan pula menurut Islam (Al-Quran) kehidupan
di akhirat itu tidak ruhaniah
dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan
ruhani, bahkan dalam kehidupan di
akhirat pun ruh manusia akan
mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda (materi) seperti
di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi
bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(As-Sajdah
[32]:18).
“Alam Nyata” Dalam Mimpi
Orang dapat membuat tanggapan
terhadap keadaan itu dari gejala-gejala
mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan
(dialami) orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan itu pun ia punya jisim
(tubuh) dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.
Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Demikian pula susu yang dinikmati dalam mimpi tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi
tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa minuman
itu susu biasa yang ada di dunia ini
dan diminumnya.
Pengalaman seperti itu dialami pula oleh gadis Maryam
binti ‘Imran ketika dalam peristiwa kasyaf didatangi malaikat
Jibril a.s. dalam wujud seorang laki-laki -- guna memberikan kabar gembira mengenai kelahiran
Isa Ibnu Maryam a.s. -- sehingga hal
tersebut membuat ia sangat terkejut (QS.19:17-23).
Pendek kata, nikmat-nikmat ruhani
kehidupan di akhirat bukan akan
berupa hanya penyuguhan subyektif dari anugerah
Allah Swt. yangmanusia nikmati di dunia ini, bahkan sebaliknya,
yakni pada hakikatnya apa yang manusia peroleh di dunia
ini hanyalah gambaran anugerah nyata
dan benar dari Allah Swt. yang akan dijumpai orang di akhirat.
Contohnya, berbagai pepohonan
dan buah-buahnya atau air
minum atau api yang hakiki adalah
yang akan dialami di alam akhirat,
sedangkan segala sesuatu yang ada di
dunia ini bukan kenyataan yang hakiki melainkan sekedar “bayangannya”
saja, itulah sebabnya segala sesuatu di alam
semesta jasmani ini bersifat fana (tidak kekal – QS.28:89;
QS.55:27-28).
Tambahan pula bahwa makna dari “kebun-kebun“
(jannāh) adalah gambaran iman,
sedangkan “sungai-sungai” adalah gambaran amal
saleh. Ada pun falsafahnya adalah sebagaimana kebun-kebun tidak dapat tumbuh
subur tanpa air dari sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa
perbuatan baik (amal saleh).
Dengan demikian dalam rangka meraih kehidupan
surgawi di akhirat maka iman
dan amal saleh tidak dapat dipisahkan untuk
mencapai najat (keselamatan). Di
akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya
dalam kehidupan ini, sedangkan sungai-sungai akan mengingatkan kembali
kepada amal salehnya maka ia akan mengetahui bahwa iman dan amal salehnya
tidak sia-sia.
“Serupa” Dalam Istilah Tetapi “Tidak Sama” Dalam Kenyataannya
Jadi, keliru sekali mengambil
kesimpulan dari kata-kata: "Inilah yang telah diberikan kepada kami
dahulu" dalam ayat:
کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا --
Setiap kali diberikan kepada
mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
berkata: “Inilah yang telah direzekikan
kepada kami sebelumnya”, bahwa di surga
orang-orang beriman akan dianugerahi buah-buahan semacam yang pernah dinikmati
mereka di bumi ini, sebab seperti
telah diterangkan bahwa keduanya tidak
sama.
Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya mereka segera akan mengenali
dan ingat kembali bahwa buah-buahan
itu adalah hasil imannya yang benar di
dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat
itu mereka akan berkata: ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ --“inilah yang telah diberikan kepada kami
dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
Kata-kata “yang hampir serupa” dalam ayat selanjutnya: بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ وَ اُتُوۡا فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci,” tertuju
kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia ini dan buah atau hasilnya di surga.
Amal ibadah dalam kehidupan
sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman sebagai hasil
atau buah di akhirat. Makin sungguh-sungguh
dan makin sepadan ibadah manusia, maka
makin banyak pula ia menikmati buah-buah
yang menjadi bagiannya di surge, dan makin
baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya.
Jadi untuk meningkatkan mutu
buah-buahan surgawi yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri di dalam melakukan ibadah kepada Allah
Swt. dan dalam beramal saleh. Ayat ini
berarti pula bahwa makanan ruhani
orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan
taraf kemajuan serta tingkat
perkembangan ruhaninya masing-masing:
بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ
فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci.”
Di Alam
Akhirat Tidak Ada Kemunduran
Kata-kata وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “mereka
akan kekal di dalamnya” berarti bahwa orang-orang
beriman di surga tidak akan
pernah mengalami sesuatu perubahan atau
kemunduran. Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang
lain membunuhnya. Tetapi karena makanan
surgawi akan benar-benar cocok untuk
setiap orang dan karena orang-orang
di sana akan mempunyai kawan-kawan yang
suci dan suka damai maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap, firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا
وُسۡعَہَاۤ ۫ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ ۚ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ
ہَدٰىنَا لِہٰذَا ۟ وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ ۚ لَقَدۡ جَآءَتۡ
رُسُلُ رَبِّنَا بِالۡحَقِّ ؕ وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
﴿﴾
Dan orang-orang yang beriman dan beramal
saleh لَا نُکَلِّفُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ -- Kami
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ -- mereka inilah penghuni surga, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ -- mereka kekal di dalamnya. وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ
غِلٍّ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Dan Kami
mencabut segala dendam
yang ada di dalam dada mereka. تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ -- Di bawah mereka mengalir
sungai-sungai وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ ہَدٰىنَا لِہٰذَا -- dan mereka berkata: ”Segala puji bagi Allah Yang telah
menunjuki kami kepada surga ini,
وَ مَا کُنَّا لِنَہۡتَدِیَ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ -- dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk
seandainya Allah tidak memberi kami petunjuk. لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا
بِالۡحَقِّ -- Sungguh benar-benar telah datang rasul-rasulRabb (Tuhan kami)
dengan haq.” وَ نُوۡدُوۡۤا اَنۡ
تِلۡکُمُ الۡجَنَّۃُ اُوۡرِثۡتُمُوۡہَا
بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan akan diserukan kepada mereka: “Inilah surga yang diwariskan kepada kamu
sebagai ganjaran atas apa yang
senantiasa kamu kerjakan.” (Al-A’rāf [7]:43-44).
Anak kalimat sisipan لَا نُکَلِّفُ
نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَاۤ -- “Kami tidak membebani sesuatu jiwa di luar
kemampuannya” menolak paham agama
Kristen yang menyatakan bahwa dosa
itu terpendam dalam fitrat manusia -- akibat dosa warisan dari Adam dan Hawa
-- maka upaya menghilangkan dosa
itu berada di luar jangkauan kekuasaan
manusia serta harus ditebus
dengan kematian terkutuk Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di atas salib.
“Kehidupan Surgawi”
Dimulai di Dunia
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa pada
hakikatnya kehidupan surgawi dimulai
sejak dari dunia ini juga (QS.55:47), dan seseorang dikatakan sedang menikmati kehidupan surgawi apabila
hatinya bebas dari rasa permusuhan, irihati, dendam-kesumat, dan kegelisahan
mental sebagai buah ketakwaan
kepada Allah Swt. yakni beriman dan beramal saleh: بِہٖ مُتَشَابِہًا
وَ اُتُوۡا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ
-- dan bagi mereka di dalamnya ada
jodoh-jodoh yang suci.”
Orang-orang beriman juga akan mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Sebab istri yang
baik adalah sumber kegembiraan dan kesenangan.
Orang-orang beriman berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian
sebagaimana firman-Nya dalam QS.32:18 kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Untuk penjelasan lebih lanjut
tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat sarga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
Demikianlah hakikat dan falsafah perumpamaan mengenai
gambaran surga dalam Al-Quran, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا
مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا --
Setiap kali diberikan kepada
mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
berkata: “Inilah yang telah direzekikan
kepada kami sebelumnya”, بِہٖ وَ اُتُوۡا مُتَشَابِہًا ؕ وَ
لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
Al-Quran
Merupakan “Furqān” (Pembeda)
SelanjutnyaAllah Swt. berfirman mengenai
salah satu alasan mengemukakan berbagai perumpamaan dalam Al-Quran, termasuk mengenai “surga”:
اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا
ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ
ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya
Allah tidak malumengemukakan suatu
perumpamaan sekecil nyamuk bahkan
yang lebih kecil dari itu, فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ
رَّبِّہِمۡ -- ada
pun orang-orang yang beriman maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan itu kebenaran
dari Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا -- sedangkan orang-orang
kafir maka mereka mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan
ini?” یُضِلُّ بِہٖ کَثِیۡرًا -- Dengannya Dia
menyesatkan banyak orang وَّ یَہۡدِیۡ
بِہٖ کَثِیۡرًا -- dan dengannya
pula Dia
memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan sekali-kali tidak ada yang Dia sesatkan dengannya
kecuali orang-orang fasik (Al-Baqarah [2]:27).
Dharaba al-matsala
berarti: ia memberi gambaran atau pengandaian; ia membuat pernyataan; ia
mengemukakan perumpamaan (Lexicon Lane; Taj-ul-‘Arus, dan QS.14:46). Allah Swt. telah menggambarkan surga dan neraka
dalam Al-Quran dengan perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan.
Perumpamaan-perumpamaan
dan tamsilan-tamsilan melukiskan mendalamnya arti yang tidak dapat diungkapkan sebaik-baiknya dengan jalan (cara) lain, dan dalam hal-hal keruhanian perumpamaan-perumpamaan dan tamsilan-tamsilan tersebut memberikan satu-satunya cara untuk dapat menyampaikan
buah pikiran dengan baik.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 20 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar