Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
TIDAK ADA “BERHALA” SEBAGAI WASHILAH
(PERANTARA) ANTARA MANUSIA DENGAN ALLAH SWT. & PENYEBAB TIMBULNYA KEMUSYRIKAN DI KALANGAN UMAT BERAGAMA
YANG SEBELUMNYA BERPEGANG PADA TAUHID
ILAHI
Bab 6
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dijelaskan mengenai pentingnya
mentaati hukum alam dan hukum syariat sehubungan dengan pengkhianatan
syaitan dalam firman Allah Swt. mengenai kesia-siaan
menyembah “berhala-berhala”:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi dengan
rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).
Pentingnya Mentaati Hukum Alam dan Hukum
Syariat
Makna
ayat وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ -- melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka.”
Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt. kedudukan
yang mustahak bagi-Nya dan memberi
kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan yang
mereka berhak memilikinya. Hanya itu
saja satu-satunya jalan untuk
mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Ayat selanjutnya: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun
yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”, mengandung
satu kebenaran yang agung, yaitu
bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt. mau
tidak mau – yakni suka atau tidak suka; secara rela atau pun terpaksa
-- harus
tunduk kepada hukum-hukum alam
yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
Contohnya lidah harus melaksanakan tugas mencicip,
dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Jadi, tunduknya
kepada hukum-hukum alam itu dapat
disebut sebagai dipaksakan. Tetapi
manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi
kebebasan (QS.2:257; QS.10:100;
QS.18:30) ia sedikit-banyak harus tunduk
kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka
atau tidak, sebab semua pemikiran
dan aktivitas
yang dilakukan manusia pasti akan
mendatangkan akibat yang
baik mau pun akibat yang buruk bagi
dirinya (QS.99:8-9).
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat
juga mengisyaratkan kepada dua golongan
manusia, ialah orang-orang beriman yang secara ikhlas
tunduk kepada Allah
Swt. dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu (terpaksa).
Ketidak Berdayaan “Berhala-berhala”
Sembahan Kaum Musyrikin
Kemudian mengenai ketidak-berdayaan “berhala-berhala” sembahan orang-orang musyrik
tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah
tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا
لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ -- Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan se-benar-benarnya, sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat, Maha Perkasa.
(Ibrahim
[14]:74-75).
Ayat ini menerangkan kepada
orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan sembahan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan yang lemah dan tidak berdaya seperti itu.
Makna ayat: ضَعُفَ الطَّالِبُ
وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah
yang meminta dan yang diminta.“ Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah patung-patung
— berhala-berhala yang terbuat dari kayu
dan batu yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa
mereka mempunyai anggapan yang sangat
keliru mengenai kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat sempurna Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat, Maha Perkasa.”
Tidak ada Washilah
(Perantara) Dalam Menyembah Allah
Swt. & Para Penyembah “Hawa-Nafsu”
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui
adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan
dan sifat-sifat Tuhan itu terbatas
dan mempunyai kekurangan seperti
halnya manusia.
Pandangan keliru lainnya dari
“kemusyrikan” adalah bahwa untuk beribadah kepada Allah Swt. diperlukan keberadaan wujud-wujud sebagai washilah
(perantara), karena manusia tidak bisa berhubungan dengan Allah Swt., firman-Nya:
اَلَا
لِلّٰہِ الدِّیۡنُ الۡخَالِصُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ
زُلۡفٰی ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ
یَخۡتَلِفُوۡنَ ۬ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا
یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ کٰذِبٌ کَفَّارٌ ﴿﴾
Ingat, hanya
milik Allah-lah ketaatan yang murni.
Dan berkata orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Dia: مَا
نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا
لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ زُلۡفٰی -- “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka men-dekatkan kami kepada Allah
sedekat-dekatnya.” اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ
فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ -- Sesungguhnya Allah
akan menghakimi di antara mereka mengenai apa yang di dalamnya mereka berselisih. اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ
کٰذِبٌ کَفَّارٌ -- Sesungguhnya Allah ti-dak memberi petunjuk kepada siapa yang berdusta, tidak
bersyukur. (Az-Zumar [39]:4).
Manusia
cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu, berhala-berhala ciptaan sendiri, seperti wali-wali Allah dan orang-orang
suci; kekayaan, kekuasaan dan menyembah hawa nafsu (QS.25:44-45; QS.45:27) kepercayaan dan adat
kebiasaan turun-temurun, dan sebagainya, mereka senantiasa mengkhayalkan bahwa kesemuanya itu dapat menolongnya
memahami dan mengerti hakikat Dzat Ilahi: مَا
نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا
لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ زُلۡفٰی -- “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
sedekat-dekatnya.”
Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai orang-orang yang
menjadikan “hawa-nafsu” mereka
sebagai tuhan sembahan mereka:
اَرَءَیۡتَ
مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ ؕ اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ عَلَیۡہِ
وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ تَحۡسَبُ اَنَّ اَکۡثَرَہُمۡ
یَسۡمَعُوۡنَ اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ
اِنۡ ہُمۡ اِلَّا
کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ
اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau menjadi pengawas atasnya?
اَمۡ تَحۡسَبُ اَنَّ اَکۡثَرَہُمۡ
یَسۡمَعُوۡنَ اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ -- Ataukah engkau
menyangka bahwa sesungguhnya kebanyakan dari mereka mendengar atau mengerti? اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا -- Mereka tidak lain melainkan seperti binatang ternak bahkan mereka
lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān [25]:44-45). Lihat pula
QS.7:180.
Kemusyrikan dan Penyembahan “Berhala-berhala”
yang Tidak Nampak & Bagaikan “Binatang
Ternak”
Keinginan-keinginan, lamunan-lamunan, dan
khayalan-khayalannya sendiri itulah yang pada umumnya dipuja
(disembah) orang lebih dari apa pun, dan
inilah yang menjadi batu penghalang
baginya untuk menerima kebenaran.
Dalam intelek atau akal, manusia boleh jadi telah jauh
maju, sehingga ia tidak membungkukkan
diri di hadapan batu-batu dan bintang-bintang, akan tetapi ia belum
mengatasi pemujaannya terhadap cita-cita, prasangka-prasangka, dan khayalan-khayalannya
yang palsu.
Pemujaan berhala-berhala yang bersemayam dalam hati mereka itulah yang dicela di sini. Daripada ia memanfaatkan kemampuan-kemampuannya yang dianugerahkan Allah Swt. untuk berpikir
dan mendengar, dan yang seharusnya membantu manusia mengenal dan menyadari
kebenaran, malah mereka meraba-raba
dalam kegelapan.
Pada saat itu jatuhlah ia ke taraf hidup bagaikan hewan ternak, bahkan lebih rendah dari itun, sebab binatang
ternak tidak diberi kemampuan
memilih dan membedakan, sedang manusia
diberi daya itu oleh Allah Swt.
(QS.95:1-9): اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا -- “Mereka
tidak lain melainkan seperti binatang
ternak bahkan mereka
lebih sesat dari jalannya,” firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا
الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ
مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menjadikan
untuk penghuni Jahannam banyak di antara jin
dan manusia, mereka memiliki hati tetapi mereka
tidak mengerti dengannya, dan mereka memiliki
mata tetapi mereka tidak melihat dengannya, dan mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ
اَضَلُّ -- mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat. Bahkan mereka itulah
orang-orang yang sesat. وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا -- Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu, وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ -- dan tinggalkanlah
orang-orang yang menyimpang dalam memahami
nama-nama-Nya, سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- mereka
segera akan mendapat balasan terhadap apa
yang senantiasa me-reka kerjakan. (Al-A’rāf [7]:180-181).
Huruf lam (lā) dalam ayat: وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا
لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ -- “Dan sungguh Kami benar-benar telah menjadikan
untuk penghuni Jahannam banyak di antara jin
dan manusia,” di sini lam
‘aqibat yang menyatakan kesudahan
atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya
dengan tujuan kejadian manusia
melainkan hanya menyebutkan kesudahan
yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins
(manusia) dan jin -- kata jin
itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa
atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar. Dari cara mereka menjalani hidup
mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan
untuk masuk neraka, terutama di Akhir Zaman ini.
Nama-nama (Sifat-sifat Sempurna) Allah
Swt. & Penyebab Munculnya Syirik
(Kemusyrikan)
Makna ayat
selanjutnya: وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا
-- Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu”, nama Tuhan
ialah Allah, semua sebutan
lainnya sebenarnya adalah hanya Sifat-sifat-Nya. Pada waktu berdoa kita harus memanggil Sifat-sifat Allah Swt. yang langsung berkaitan dengan maksud doa
yang dipanjatkan.
Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt., dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt., adalah Pemilik
segala Sifat terbaik yang tersebut
dalam Al-Quran dan Hadits, maka tidak perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya,
dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi
segala-gala, karena hal tersebut menjadi penyebab timbulkan syirik dan berbagai bentuk kemusyrikan lainnya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
ber-kata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka
meniru-niru perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga
Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا -- padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang
mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allāh menolak bahkan
menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. (At-Taubah [9]:30-32).
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan
dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau
termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas
sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di
antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi
(pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa
lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti
dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi,
beliau dianggap patut jadi wahana pengemban
syariat seandainya syariat itu
tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s..
Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil
(Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia
Biblica).
Ahbar
adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban
adalah para rahib agama Nasrani: اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga
Al-Masih ibnu Maryam.”
Kegagalan Makar Buruk Golongan Ahli Kitab Terhadap Nabi
Besar Muhammad Saw. & Tujuan Utama Pengutusan Para Rasul Allah
Makna
ayat selanjutnya: یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allāh menolak bahkan
menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai,” orang-orang Nasrani
yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan
mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab melalui pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. yang merupakan
penggenapan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan
18:15-19; QS.46:11).
Demikian pula orang-orang Yahudi
pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut
orang-orang Parsi (Kisra Iran) untuk
bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw. namun makar-makar buruk mereka gagal-total,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan aga-ma yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya. (At-Taubah [9]:33).
Guna mengembalikan manusia
dari kegelapan
kemusyrikan kepada cahaya Tauhid
Ilahi itulah maka Allah Swt. senantiasa mengutus para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah
Maha Mendengar, Maha Melihat. یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ -- Dia
mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun
yang di belakang mereka, وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- dan kepada Allah-lah
segala urusan dikembalikan(Ibrahim [14]:76-77).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 25 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar