Senin, 25 Juli 2016

Tidak ada "Berhala" Sebagai "Washilah" (Perantara) Antara Manusia dengan Allah Swt. & Penyebab Timbulnya "Kemusyrikan" di Kalangan Umat Beragama yang Sebelumnya Berpegang Pada "Tauhid Ilahi"




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA


TIDAK ADA BERHALA  SEBAGAI WASHILAH (PERANTARA) ANTARA MANUSIA DENGAN ALLAH SWT.  & PENYEBAB TIMBULNYA KEMUSYRIKAN DI KALANGAN UMAT BERAGAMA YANG SEBELUMNYA BERPEGANG PADA TAUHID ILAHI


Bab 6


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan  mengenai    pentingnya mentaati hukum alam dan hukum syariat sehubungan dengan           pengkhianatan syaitan  dalam  firman Allah Swt.   mengenai kesia-siaan menyembah “berhala-berhala”:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --   dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-R’ād [13]:15-16).

Pentingnya Mentaati Hukum Alam dan Hukum Syariat

       Makna  ayat  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ    --  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit punاِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ     --  melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ   -- tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --   dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.”
      Jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
      Ayat selanjutnya:   وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --   “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ --   dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari”,   mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt.  mau tidak mau – yakni suka atau tidak suka; secara rela atau pun terpaksa --  harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
     Contohnya lidah harus melaksanakan tugas mencicip, dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Jadi,  tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya.
   Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan (QS.2:257;  QS.10:100; QS.18:30) ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak, sebab  semua pemikiran dan  aktivitas yang dilakukan manusia pasti akan mendatangkan akibat  yang baik mau  pun akibat yang buruk  bagi dirinya (QS.99:8-9).
   Kata-kata  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --  “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, ialah  orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.   dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.    dengan menggerutu (terpaksa).

Ketidak Berdayaan “Berhala-berhala” Sembahan   Kaum Musyrikin

     Kemudian mengenai ketidak-berdayaan “berhala-berhala” sembahan orang-orang musyrik tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾

Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ  --  Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang dimintaمَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan se-benar-benarnya, sesungguhnya    Allah benar-benar Mahakuat, Maha Perkasa. (Ibrahim [14]:74-75).
     Ayat ini menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan sembahan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan yang lemah dan tidak berdaya seperti  itu.
     Makna ayat: ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ --  Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.“     Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu  yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat sempurna Allah Swt.,  Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  “mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya    Allah benar-benar Mahakuat, Maha Perkasa.”

Tidak ada Washilah (Perantara) Dalam Menyembah Allah Swt. & Para Penyembah “Hawa-Nafsu

       Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat Tuhan itu  terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.
     Pandangan keliru lainnya dari “kemusyrikan”  adalah bahwa untuk beribadah kepada Allah Swt.  diperlukan keberadaan  wujud-wujud  sebagai washilah (perantara), karena manusia tidak bisa berhubungan dengan Allah Swt., firman-Nya:
اَلَا لِلّٰہِ الدِّیۡنُ الۡخَالِصُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ۬ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ کٰذِبٌ  کَفَّارٌ ﴿﴾
Ingat, hanya milik Allah-lah ketaatan yang murni. Dan berkata  orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Dia:  مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی -- “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka  men-dekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ  --   Sesungguhnya  Allah akan menghakimi di antara mereka mengenai apa yang di dalamnya mereka berselisih.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ کٰذِبٌ  کَفَّارٌ  -- Sesungguhnya Allah ti-dak memberi petunjuk kepada siapa yang berdusta, tidak bersyukur. (Az-Zumar [39]:4).
        Manusia cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu, berhala-berhala ciptaan sendiri, seperti wali-wali Allah dan orang-orang suci; kekayaan, kekuasaan dan menyembah hawa nafsu  (QS.25:44-45; QS.45:27) kepercayaan dan adat kebiasaan turun-temurun, dan sebagainya, mereka senantiasa mengkhayalkan bahwa kesemuanya itu dapat menolongnya memahami dan mengerti hakikat Dzat Ilahi:  مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی -- “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka  mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
      Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai orang-orang yang menjadikan “hawa-nafsu” mereka sebagai tuhan sembahan mereka:
اَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ ؕ اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ  عَلَیۡہِ   وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اَمۡ  تَحۡسَبُ اَنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  یَسۡمَعُوۡنَ  اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ اِنۡ  ہُمۡ   اِلَّا  کَالۡاَنۡعَامِ  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Apakah engkau melihat  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau menjadi pengawas atasnya?   اَمۡ  تَحۡسَبُ اَنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  یَسۡمَعُوۡنَ  اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ  --  Ataukah engkau menyangka  bahwa sesungguhnya kebanyakan dari mereka mendengar atau mengerti? اِنۡ  ہُمۡ   اِلَّا  کَالۡاَنۡعَامِ  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا  --   Mereka tidak lain melainkan seperti binatang  ternak  bahkan mereka lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān [25]:44-45). Lihat pula QS.7:180.

Kemusyrikan dan PenyembahanBerhala-berhala” yang Tidak Nampak & Bagaikan “Binatang Ternak

     Keinginan-keinginan, lamunan-lamunan, dan khayalan-khayalannya sendiri itulah yang pada umumnya  dipuja (disembah) orang  lebih dari apa pun, dan inilah yang menjadi batu penghalang baginya untuk menerima kebenaran. Dalam intelek atau akal, manusia boleh jadi telah jauh maju, sehingga ia tidak membungkukkan diri di hadapan batu-batu dan bintang-bintang, akan tetapi ia belum mengatasi pemujaannya terhadap cita-cita, prasangka-prasangka, dan khayalan-khayalannya yang palsu.
      Pemujaan berhala-berhala yang bersemayam dalam hati  mereka  itulah yang dicela di sini. Daripada ia memanfaatkan kemampuan-kemampuannya yang dianugerahkan Allah Swt.  untuk berpikir dan mendengar, dan yang seharusnya membantu manusia mengenal dan menyadari kebenaran, malah mereka  meraba-raba  dalam kegelapan.
    Pada saat itu jatuhlah ia ke taraf hidup bagaikan hewan ternak, bahkan lebih rendah dari itun, sebab binatang  ternak tidak diberi kemampuan memilih dan membedakan, sedang manusia diberi daya itu oleh Allah Swt. (QS.95:1-9):  اِنۡ  ہُمۡ   اِلَّا  کَالۡاَنۡعَامِ  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا  --  Mereka tidak lain melainkan seperti binatang  ternak  bahkan mereka lebih sesat dari jalannya,”   firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, dan mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, dan mereka memiliki telinga  tetapi mereka tidak mendengar dengannya,  اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  --   mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Bahkan mereka itulah orang-orang yang sesat.  وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا  --   Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu, وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ   --  dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya, سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  --  mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa me-reka kerjakan. (Al-A’rāf [7]:180-181).
   Huruf lam (lā)  dalam ayat: وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  -- “Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia, di sini lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat.  Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin    -- kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar. Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka, terutama di Akhir Zaman ini.

Nama-nama (Sifat-sifat Sempurna) Allah Swt. & Penyebab Munculnya Syirik (Kemusyrikan)

 Makna ayat selanjutnya:  وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا  --   Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu”,  nama Tuhan ialah Allah, semua sebutan lainnya sebenarnya adalah hanya  Sifat-sifat-Nya. Pada waktu berdoa kita harus memanggil Sifat-sifat Allah Swt.    yang langsung berkaitan dengan maksud doa yang dipanjatkan.
  Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt.,  dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt., adalah  Pemilik segala Sifat terbaik yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits, maka tidak perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi segala-gala, karena hal tersebut menjadi penyebab timbulkan syirik  dan berbagai bentuk kemusyrikan lainnya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾

Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani ber-kata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   --  Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ  -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.    اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ --  Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ  -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا  --  padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.   لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ  -- Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allāh menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. (At-Taubah [9]:30-32).
      ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
    Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
    Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia  &  Encyclopaedia Biblica).
     Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani:   اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ  -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam.”

Kegagalan Makar  Buruk Golongan Ahli Kitab Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw. &  Tujuan Utama Pengutusan Para Rasul Allah

       Makna ayat selanjutnya: یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ  --    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allāh menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai,” orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt.  di tanah Arab melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan penggenapan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-19; QS.46:11).
      Demikian pula orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang Parsi (Kisra Iran) untuk bangkit melawan  Nabi Besar Muhammad saw. namun makar-makar buruk mereka gagal-total, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan aga-ma yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:33).  
     Guna mengembalikan manusia dari  kegelapan kemusyrikan kepada cahaya Tauhid Ilahi itulah  maka Allah Swt. senantiasa mengutus para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya: 
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ    --  Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka,  وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan(Ibrahim [14]:76-77).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 25 Juli   2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar