Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
23
CARA BERDOA
YANG MAQBUL (DIKABUL) & PERBEDAAN
IMAN DENGAN IHSAN DAN PENTINGNYA MEMILIKI KEYAKINAN
AKAN KEMAHAKUASAAN ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 22 telah dijelaskan mengenai
mengenai kesia-siaan
doa yang dipanjatkan orang-orang kafir ketika azab Ilahi yang dijanjikan-Nya benar-benar akan menimpa
mereka, firman-Nya:
لَوۡ تَرٰۤی اِذۡ
فَزِعُوۡا فَلَا فَوۡتَ وَ اُخِذُوۡا مِنۡ
مَّکَانٍ قَرِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ ۚ وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ
﴿ۚۖ﴾ وَّ
قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ۚ وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿﴾ وَ
حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ
قَبۡلُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya engkau dapat melihat ketika mereka dicekam kecemasan, maka mereka
tidak
dapat meloloskan diri dan mereka
akan ditangkap dari tempat yang dekat. وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ -- Dan
mereka berkata: “Kami beriman kepadanya.”
وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ
مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Tetapi
bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan
dari tempat jauh? Padahal sungguh sebelumnya mereka telah kafir
terhadapnya, mereka hanya
menduga-duga belaka mengenai yang gaib itu dari tempat jauh. Dan rintangan
diletakkan di antara mereka dan apa
yang diingin-kan mereka, sebagaimana telah
dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnya. Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam. (Sabā’ [34]:52-55).
Kesia-siaan Pernyataan Iman Fir’aun
Kata-kata
وَ اَنّٰی
لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ --
“Tetapi bagaimana mungkin mereka
mencapai keimanan dari tempat
jauh?” dapat
diartikan: (1) “sesudah mati”, dan (2) dapat dianggap berarti bahwa orang-orang kafir niscaya akan menyadari sesudah mereka mati bahwa mereka itu berada dalam kesesatan, (3) bahwa doa
yang dipanjatkan orang-orang kafir
pada saat azab Ilahi benar-benar
telah datang akan sia-sia yakni tidak
dikabulkan Allah Swt., seperti
seseorang yang berseru dari tempat
jauh maka suaranya tidak akan
terdengar – walau pun dalam kenyataannya
Allah Swt. itu Maha Mendengar. Contohnya adalah doa Fir’aun ketika ia akan tenggelam di laut , firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ
وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, -- sehingga apabila
ia menjelang tenggelam قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
aku termasuk orang-orang yang berserah
diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ
مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- Apa, sekarang
baru beriman!? Padahal engkau telah membangkang sebelum ini, dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ
بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ
اٰیَۃً -- Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang sesudah engkau, وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia
benar-benar le-ngah terhadap Tanda-tanda
Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Kembali kepada firman Allah Swt. sebelumnya (Sabā’ [34]:52-55), orang-orang kafir membuat dugaan-dugaan yang bodoh sekali tentang
kegagalan tugas Nabi Besar Muhammad
saw. disebabkan mereka jauh
dari sumber “yang gaib” atau jauh dari kenyataan, akal, dan
kebenaran. Sikap berpikir demikian sungguh-sungguh bodoh dan sama sekali tanpa
dasar, itulah makna ayat: وَّ قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ -- “Padahal sungguh sebelumnya mereka telah kafir terhadapnya, وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ -- mereka
hanya menduga-duga belaka mengenai yang
gaib itu dari tempat jauh.”
Kemudian makna ayat: وَ حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا
یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ قَبۡلُ -- “Dan rintangan
diletakkan di antara mereka dan apa
yang diinginkan mereka, sebagaimana telah
dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnya. اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ -- Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam.”
Dalam
ayat ini para penentang
Islam diberitahu bahwa seperti halnya penolakan-penolakan
terhadap para nabi Allah terdahulu, mereka pun sama sekali akan gagal melaksanakan apa
yang diinginkan hati mereka — yakni kegagalan tugas Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang
yang menentang Allah dan Rasul-Nya اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ -- mereka itu termasuk
orang-orang yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ -- Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22). Lihat pula QS.14:47-48.
Doa Merupakan Bentuk Kematian
Mengenai
cara berdoa yang maqbul (diterima)
selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan:
“Ada sebuah pepatah dalam bahasa Punjabi: “Ia yang memohon mengalami kematian, karena itu
matilah dan mohonkan.” Pengertian dari pepatah ini ialah hanya orang yang sedang ditimpa musibah yang berdoa,
dan doa itu sebenarnya merupakan bentuk kematian.
Jika seseorang mereguk setetes
air lalu menyatakan bahwa rasa hausnya
yang sangat telah teratasi,
sesungguhnya ia berdusta. Pengakuan yang
bersangkutan baru akan bisa ditegakkan jika ia meminum air satu bejana penuh.
Ketika doa
diajukan pada
saat musibah
yang sangat, dimana kalbunya terasa
meleleh dan mengalir ke hadirat
Ilahi, barulah itu merupakan doa hakiki, dan adalah menjadi perilaku
Tuhan dalam menghadapi doa seperti itu Dia akan
mengabulkan
atau memberikan
tanggapan-Nya
dengan satu dan lain cara.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 340).
Selaras dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai hubungan perendahan diri dengan pengabulan doa:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا
دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ
خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمَّنۡ
یَّہۡدِیۡکُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ
بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ
ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی
اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau siapakah
yang mengabulkan doa orang
yang sengsara apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah?
Se-dikit sekali kamu mendapat pelajaran. Atau siapakah yang memberi petunjuk kepada
kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah?
Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan. (An-Naml
[27]:63-64).
Firman-Nya lagi:
اُدۡعُوۡا رَبَّکُمۡ تَضَرُّعًا
وَّ خُفۡیَۃً ؕ اِنَّہٗ لَا
یُحِبُّ الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِہَا وَ ادۡعُوۡہُ
خَوۡفًا وَّ طَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Berdoalah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dengan berendah
diri dan suara yang lembut,
sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi sesudah perbaikannya, dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya rahmat
Allah itu dekat kepada orang-orang
yang berbuat ihsan. (Al-A’rāf [7]:56-57).
Perbedaan Iman
dan Ihsan
Muhsin dalam ayat: اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- “sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang
yang berbuat ihsan” berarti “orang
yang berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan dalam amal-amal baik.”
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. yang
termasyhur menggambarkan seorang muhsin sebagai orang yang berbuat amal saleh dengan sikap seolah-olah ia benar-benar melihat Allah Swt.
atau
sekurang-kurangnya Allah Swt. sedang melihat kepadanya (Bukhari & Muslim):
Dari Umar radhiallāhu
‘anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallāhu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah
seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat
hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada
seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan
Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallāhu ’alaihi wasallam) seraya
berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku
tentang Islam?”, maka bersabdalah
Rasulullah Shallallāhu ’alaihi wasallam:
“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa
tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad
adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan
dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “Anda benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula
yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang iman“.
Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari
akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “,
kemudian dia berkata: “Anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan
aku tentang ihsan “. Lalu beliau
bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan
engkau melihatnya, jika engkau tidak
melihatnya maka Dia melihat engkau”
. Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku
tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang
bertanya“. Dia berkata: “Beritahukan
aku tentang tanda-tandanya“, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang
bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)
berlomba-lomba meninggikan bangunannya“, kemudian orang itu berlalu dan aku
berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Aku berkata: “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau
bersabda: “Dia adalah Jibril yang
datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian“ (Riwayat Muslim).
Pentingnya Memiliki Keyakinan Mengenai Kemaha-kuasaan
Allah Swt.
Mengenai pentingnya memiliki keyakinan yang teguh
dengan pengabulan doa lebih
jauh Masih Ma’ud a.s. bersabda:
“Ketika kalian
berdiri tegak untuk berdoa (shalat), perlu kalian menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan
kalian memiliki kekuasaan penuh untuk melakukan apa pun yang diinginkan-Nya. Dilandasi kesadaran
demikian itulah baru doa kalian dikabulkan dan kalian akan menyaksikan keajaiban kekuasaan
Tuhan sebagaimana yang telah kami saksikan. Kesaksian kami ini berdasarkan penglihatan (pengalaman) dan bukan dongeng omong kosong.
Jika
yang bersangkutan tidak mempunyai keyakinan bahwa Tuhan
sanggup melakukan apa pun,
bagaimana mungkin doanya dikabulkan, dan betapa mungkin ia mempunyai keberanian berdoa di saat musibah
dimana ia merasa sedang dihadang
oleh kekuatan hukum alam? Kalian
janganlah sampai demikian. Tuhan kalian
adalah Wujud Yang telah menggantung tidak terbilang
bintang-bintang di langit tanpa penopang apa pun, dan Dia telah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan.
Apakah kalian lalu akan menganggap rendah Wujud-nya dengan beranggapan
bahwa pemenuhan tujuan keinginan kalian itu berada
di luar kemampuan Wujud-Nya?
Pemikiran seperti itu akan merancukan
kalian. Tuhan kita memiliki tak terbilang keajaiban namun hanya
mereka yang menjadi milik-Nya secara tulus dan sepenuh hati yang akan dapat melihatnya. Dia tidak akan mengungkapkan
keajaiban-keajaiban-Nya
kepada mereka yang tidak meyakini
kekuasaan-Nya serta
tidak setia kepada-Nya.” (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIX, hlm. 21, London,
1984).
Contoh pengabulan doa yang nampaknya mustahil
terjadi adalah penganugerahan keturunan kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. pada kedaan usia
lanjut dan keadaan istri yang dianggap “mandul”, firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ الَّذِیۡ وَہَبَ لِیۡ عَلَی الۡکِبَرِ
اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ
رَبِّیۡ لَسَمِیۡعُ الدُّعَآءِ ﴿﴾
“Segala puji bagi Allah Yang telah menganugerahkan kepadaku Isma’il dan Ishaq walaupun usiaku telah
lanjut, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku)
Maha Mendengar doa” (Ibrahim
[14]:40). Lihat pula QS.11:70-74; QS.51:25-31.
Firman-Nya lagi
mengenai Nabi Zakaria a.s.:
وَ زَکَرِیَّاۤ اِذۡ نَادٰی رَبَّہٗ رَبِّ لَا تَذَرۡنِیۡ
فَرۡدًا وَّ اَنۡتَ
خَیۡرُ الۡوٰرِثِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۫ وَ وَہَبۡنَا لَہٗ یَحۡیٰی وَ اَصۡلَحۡنَا
لَہٗ زَوۡجَہٗ ؕاِنَّہُمۡ کَانُوۡا یُسٰرِعُوۡنَ
فِی الۡخَیۡرٰتِ وَ یَدۡعُوۡنَنَا رَغَبًا وَّ رَہَبًا ؕوَ کَانُوۡا لَنَا
خٰشِعِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Zakaria ketika ia berseru kepada Rabb-nya ( Tuhan-nya): “Ya Rabbi
(Tuhan), janganlah Engkau meninggalkan aku seorang diri, dan Engkau-lah se-baik-baik Waris.” 9 Maka Kami
mengabulkan doanya dan menganugerahkan
kepa-danya Yahya, dan baginya Kami
me-yembuhkan isterinya dari kemandulan. Sesungguhnya mereka itu bersegera dalam kebaikan dan mereka berseru kepada Kami dengan
harapan dan ketakutan, dan mereka
merendah-kan diri di hadapan Kami. (Al-Anbiya [21]:90-91). Lihat pula QS.3:38-42;
QS.19:1-16
Tiga
Syarat Pengabulan Doa
Erat
hubungannya dengan firman Allah Swt. mengenai pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. dalam
ayat-ayat tersebut, Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai tiga syarat bagi pengabulan
doa:
“Sejalan dengan pengetahuan tentang doa yang telah
dikaruniakan Tuhan kepadaku, terdapat tiga
persyaratan bagi pengabulan doa.
Pertama, seorang pemohon
doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya
dan selalu menganut sepenuhnya jalan-jalan
ketakwaan
disamping merupakan orang yang dapat
dipercaya, saleh, menepati janji dan hatinya selalu dipenuhi kecintaan kepada Allah
Swt.
Kedua, keteguhan
hati dan perhatiannya (terhadap makhluk lain) demikian kuat dimana ia bersedia menyerahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan orang lain dan bersedia
masuk kubur untuk menarik yang
lainnya keluar. Hamba-hamba yang diridhai-Nya sesungguhnya lebih dikasihi Allah daripada cinta seorang ibu kepada anak
tunggalnya yang cantik.
Ketika Allah Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang
melihat hamba yang diridhai-Nya, demi menyelamatkan
kehidupan orang lain
telah mengorbankan dirinya sedemikian
rupa hingga nyawanya sendiri terancam, maka Dia
tidak akan membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu. Maka demi
hamba-Nya itu Dia akan memaafkan dosa orang lain yang sedang didoakannya, dan jika orang itu sedang
dalam cengkeraman penyakit yang
mematikan atau sedang dilanda musibah, maka dengan
Kekuasaan-Nya Dia akan memberikan sarana-sarana pelepasan.
Seringkali terjadi dimana berdasar takdir semula seseorang sudah akan
dihancurkan
oleh Tuhan, namun karena nasib baik ada seorang yang dekat kepada Tuhan
mendoakannya
secara tekun maka Tuhan lalu
berbalik menolong yang bersangkutan. Semua catatan Tuhan yang telah disiapkan guna penghukuman orang berdosa itu lalu dibatalkan karena yang bersangkutan sekarang dianggap termasuk
sebagai sahabat.
Adapun Tuhan tidak akan pernah
menyulitkan para sahabat-Nya.
Ketiga, adalah persyaratan
yang jauh lebih sulit dipenuhi dibanding yang lainnya, karena kepatuhan atas persyaratan tersebut tidak berada di tangan mereka yang
telah diridhai Allah Swt.
tetapi di
tangan orang yang meminta bantuan doa bagi dirinya.
Syarat Bagi yang Memohon
Doa
Persyaratan
ini mengharuskan orang bersangkutan mengajukan
permohonan doanya dengan
segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan
penyerahan diri. Ia harus memastikan dalam hatinya bahwa misalnya
doa yang dimohonkannya ternyata tidak
dikabulkan
maka hal itu tidak akan mengganggu kepercayaan dan niat baiknya.
Permohonan doa yang diajukannya tidak boleh merupakan suatu ujian atau test melainkan dikemukakan dengan penuh kepercayaan. Ia harus mengajukan permohonannya dengan segala kerendahan
hati kepada pribadi yang dimintakan bantuan doanya, dan
sepanjang memungkinkan ia harus
memelihara hubungan baik dengan
yang bersangkutan dengan cara
membelanjakan harta,
memberikan bantuan dan semua tindakan kepatuhan yang bisa menyentuh hati pribadi
bersangkutan.
Bersama dengan itu ia harus selalu
berfikir baik
dan menganggap yang bersangkutan
sebagai orang
yang memiliki ketakwaan tinggi serta menganggapnya
sebagai suatu kekafiran
untuk berfikir yang tidak konsisten dengan kesuciannya. Ia harus membuktikan keimanannya kepada yang bersangkutan melalui segala bentuk pengorbanan.
Ia
tidak akan menganggap ada tandingan lain
di dunia dari pribadi tersebut serta
mengabdikan diri sepenuhnya sedemikian
rupa, sehingga siap memberikan nyawa
sekalipun atau hartanya atau kehormatannya bagi pribadi tersebut, dan tidak
akan mengutarakan atau membiarkan
hatinya mempunyai fikiran buruk
dari sudut apa pun. Ia harus membuktikan
dirinya bahwa ia beriman sepenuhnya
kepada pribadi tersebut beserta para
pengikutnya.
Dengan semua persyaratan di
atas, ia masih juga dituntut untuk
bersabar, bahkan misalnya ia harus kecewa sampai 50 kali pun, ia jangan sampai membiarkan keimanan dan niat baiknya terpengaruh dengan cara apa pun.
Orang-orang yang telah memperoleh keridhaan Ilahi memiliki indera perasa yang amat peka, dimana mereka bisa menyimpulkan tingkat ketulusan
seseorang
melalui wujudnya. Orang-orang
seperti ini selalu bersifat lemah-lembut
hati namun mereka adalah orang yang cukup dengan dirinya sendiri.
Mereka tidak menyukai orang
yang takabur, mementingkan diri
sendiri dan munafik. Hanya
orang-orang yang bersedia menyerahkan
nyawa sekali pun dalam mematuhi
mereka yang diridhai
ini yang bisa memperoleh manfaat.
Orang
yang berfikiran buruk, menentang di dalam hati, tidak mencintai dan berniat buruk
terhadap sosok
yang diridhai Tuhan,
pasti tidak akan memperoleh kemaslahatan,
bahkan hanya menghancurkan dirinya
sendiri.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, jld, V, sekarang
dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXI, hlm.
226-228, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 13 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar