Minggu, 14 Agustus 2016

Cara Berdoa yang Maqbul (Dikabul) & Perbedaan Iman Dengan Ihsan dan Pentingnya Memiliki Keyakinan Akan Kemahakuasaan Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


HAKIKAT DOA

Bab 23

   CARA BERDOA YANG MAQBUL (DIKABUL) & PERBEDAAN IMAN DENGAN IHSAN DAN PENTINGNYA MEMILIKI KEYAKINAN AKAN KEMAHAKUASAAN ALLAH SWT.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 22  telah dijelaskan   mengenai  mengenai kesia-siaan doa yang dipanjatkan  orang-orang kafir ketika azab Ilahi yang dijanjikan-Nya benar-benar akan menimpa mereka, firman-Nya:
 لَوۡ تَرٰۤی  اِذۡ  فَزِعُوۡا فَلَا فَوۡتَ وَ اُخِذُوۡا مِنۡ  مَّکَانٍ قَرِیۡبٍ ﴿ۙ﴾   وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ ۚ وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۚۖ﴾  وَّ قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ۚ وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾  وَ حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ  ﴿٪﴾
Dan seandainya engkau dapat melihat ketika mereka dicekam kecemasan, maka mereka  tidak dapat meloloskan diri dan mereka akan ditangkap dari tempat yang dekat. وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ   --  Dan mereka berkata: “Kami beriman kepadanya.” وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ   -- Tetapi bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan dari tempat jauh?  Padahal sungguh sebelumnya mereka telah  kafir terhadapnya, mereka hanya menduga-duga belaka mengenai yang gaib itu dari tempat jauh.   Dan rintangan diletakkan di antara mereka dan apa yang diingin-kan mereka, sebagaimana telah dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnya.  Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam. (Sabā’ [34]:52-55). 

Kesia-siaan Pernyataan Iman    Fir’aun

     Kata-kata  وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ   --    “Tetapi bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan dari tempat jauh?”    dapat diartikan: (1)  “sesudah mati”,  dan  (2)   dapat dianggap berarti bahwa orang-orang kafir niscaya akan menyadari sesudah mereka mati  bahwa mereka itu berada dalam kesesatan, (3)  bahwa doa yang dipanjatkan orang-orang kafir pada saat azab Ilahi benar-benar telah datang akan sia-sia yakni tidak dikabulkan Allah Swt., seperti  seseorang yang berseru dari tempat jauh  maka suaranya tidak akan terdengar – walau pun dalam kenyataannya  Allah Swt.  itu Maha Mendengar. Contohnya adalah doa Fir’aun ketika ia akan tenggelam  di laut , firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya,   --  sehingga apabila ia menjelang tenggelam قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ --   Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ  -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  le-ngah terhadap Tanda-tanda Kami.”  (Yunus [10]:91-93).  
       Kembali kepada  firman Allah Swt. sebelumnya  (Sabā’ [34]:52-55), orang-orang kafir membuat dugaan-dugaan yang bodoh sekali tentang kegagalan tugas  Nabi Besar Muhammad saw.  disebabkan  mereka jauh dari sumber “yang gaib” atau jauh dari kenyataan, akal, dan kebenaran. Sikap berpikir demikian sungguh-sungguh bodoh dan sama sekali tanpa dasar, itulah makna ayat:  وَّ قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ  -- “Padahal sungguh sebelumnya mereka telah  kafir terhadapnya, وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ  -- mereka hanya menduga-duga belaka mengenai yang gaib itu dari tempat jauh.”
       Kemudian makna ayat:  وَ حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ قَبۡلُ   -- “Dan rintangan diletakkan di antara mereka dan apa yang diinginkan mereka, sebagaimana telah dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnyaاِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ  --   Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam.”  
       Dalam ayat ini para    penentang Islam   diberitahu bahwa seperti halnya  penolakan-penolakan terhadap para nabi Allah  terdahulu, mereka pun  sama sekali akan gagal melaksanakan apa yang diinginkan hati mereka — yakni kegagalan tugas  Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ   -- mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ  --  Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22). Lihat pula QS.14:47-48.
 
Doa Merupakan Bentuk Kematian

     Mengenai cara berdoa yang maqbul (diterima) selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     “Ada sebuah pepatah dalam bahasa Punjabi: “Ia yang memohon mengalami kematian, karena itu matilah dan mohonkan.” Pengertian dari pepatah ini ialah hanya orang yang sedang ditimpa musibah yang berdoa, dan doa itu sebenarnya merupakan bentuk kematian. Jika seseorang mereguk setetes air lalu menyatakan bahwa rasa hausnya yang sangat telah teratasi, sesungguhnya ia berdusta.  Pengakuan yang bersangkutan baru akan bisa ditegakkan jika ia meminum air satu bejana penuh.
     Ketika doa diajukan pada saat musibah yang sangat, dimana kalbunya terasa meleleh dan mengalir ke hadirat Ilahi, barulah itu merupakan doa hakiki, dan adalah menjadi perilaku Tuhan dalam menghadapi doa seperti itu  Dia akan mengabulkan atau memberikan tanggapan-Nya dengan satu dan lain cara.(Malfuzat, jld. I, hlm.  340).
   Selaras  dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai hubungan perendahan diri dengan pengabulan doa:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ  فِیۡ  ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا  بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ  اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau  siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya,  dan melenyapkan keburukan,  dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Se-dikit sekali kamu  mendapat pelajaran.   Atau  siapakah yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan. (An-Naml [27]:63-64).
Firman-Nya lagi:
اُدۡعُوۡا رَبَّکُمۡ  تَضَرُّعًا  وَّ خُفۡیَۃً ؕ اِنَّہٗ  لَا یُحِبُّ  الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِہَا وَ ادۡعُوۡہُ خَوۡفًا وَّ طَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Berdoalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya  Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan  di bumi sesudah perbaikannya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap, sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan.  (Al-A’rāf [7]:56-57).

Perbedaan Iman dan Ihsan    

  Muhsin dalam ayat:  اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  -- “sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan” berarti “orang yang berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan dalam amal-amal baik.” Sabda Nabi Besar Muhammad saw.  yang termasyhur menggambarkan seorang muhsin sebagai orang yang berbuat amal saleh dengan sikap seolah-olah ia benar-benar melihat Allah Swt.  atau sekurang-kurangnya Allah  Swt. sedang melihat kepadanya (Bukhari & Muslim):
Dari Umar radhiallāhu ‘anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallāhu’alaihi  wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallāhu ’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallāhu  ’alaihi wasallam: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “Anda benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “Anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya“. Dia berkata:  “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya“, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya“, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“.  Beliau bersabda:  “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian“ (Riwayat Muslim).

Pentingnya Memiliki Keyakinan   Mengenai Kemaha-kuasaan Allah Swt.

      Mengenai pentingnya  memiliki keyakinan  yang teguh  dengan pengabulan doa lebih jauh Masih Ma’ud a.s. bersabda:
     Ketika kalian berdiri tegak untuk berdoa (shalat), perlu kalian menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan kalian memiliki kekuasaan penuh untuk melakukan apa pun yang diinginkan-Nya. Dilandasi kesadaran demikian itulah baru doa kalian dikabulkan dan kalian akan menyaksikan keajaiban kekuasaan Tuhan sebagaimana yang telah kami saksikan. Kesaksian kami ini berdasarkan penglihatan (pengalaman) dan bukan dongeng omong kosong.
     Jika yang bersangkutan tidak mempunyai keyakinan bahwa Tuhan sanggup melakukan apa pun, bagaimana mungkin doanya dikabulkan,  dan betapa mungkin ia mempunyai keberanian berdoa di saat musibah dimana ia merasa sedang dihadang oleh kekuatan hukum alam? Kalian janganlah sampai demikian. Tuhan kalian adalah Wujud Yang telah menggantung tidak terbilang bintang-bintang di langit tanpa penopang apa pun,  dan Dia telah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan.
     Apakah kalian lalu akan menganggap rendah Wujud-nya dengan beranggapan bahwa pemenuhan tujuan keinginan kalian itu berada di luar kemampuan Wujud-Nya? Pemikiran seperti itu akan merancukan kalian. Tuhan kita memiliki tak terbilang keajaiban namun hanya mereka yang menjadi milik-Nya secara tulus dan sepenuh hati yang akan dapat melihatnya. Dia tidak akan mengungkapkan keajaiban-keajaiban-Nya kepada mereka yang tidak meyakini kekuasaan-Nya serta tidak setia kepada-Nya. (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIX, hlm. 21, London, 1984).
    Contoh pengabulan doa yang nampaknya mustahil terjadi adalah  penganugerahan keturunan kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. pada  kedaan usia lanjut dan keadaan istri yang  dianggap “mandul”, firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ وَہَبَ لِیۡ عَلَی الۡکِبَرِ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ  رَبِّیۡ لَسَمِیۡعُ  الدُّعَآءِ ﴿﴾
“Segala puji bagi Allah Yang telah menganugerahkan kepadaku Isma’il dan Ishaq walaupun usiaku telah lanjut, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Mendengar doa” (Ibrahim [14]:40). Lihat pula QS.11:70-74; QS.51:25-31.
Firman-Nya lagi mengenai Nabi Zakaria a.s.: 
وَ زَکَرِیَّاۤ  اِذۡ نَادٰی رَبَّہٗ رَبِّ لَا تَذَرۡنِیۡ فَرۡدًا  وَّ  اَنۡتَ  خَیۡرُ  الۡوٰرِثِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾  فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۫ وَ وَہَبۡنَا لَہٗ یَحۡیٰی وَ اَصۡلَحۡنَا لَہٗ  زَوۡجَہٗ ؕاِنَّہُمۡ کَانُوۡا یُسٰرِعُوۡنَ فِی الۡخَیۡرٰتِ وَ یَدۡعُوۡنَنَا رَغَبًا وَّ رَہَبًا ؕوَ کَانُوۡا لَنَا خٰشِعِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Zakaria ketika ia berseru kepada Rabb-nya ( Tuhan-nya): “Ya  Rabbi (Tuhan),  janganlah Engkau meninggalkan aku seorang diri, dan Engkau-lah se-baik-baik Waris.” 9  Maka Kami mengabulkan doanya dan menganugerahkan kepa-danya Yahya, dan baginya Kami me-yembuhkan isterinya dari kemandulan. Sesungguhnya mereka itu bersegera dalam kebaikan dan  mereka berseru kepada Kami dengan harapan dan ketakutan, dan mereka merendah-kan diri di hadapan Kami. (Al-Anbiya [21]:90-91). Lihat pula QS.3:38-42; QS.19:1-16

Tiga Syarat Pengabulan Doa

    Erat hubungannya dengan firman Allah Swt. mengenai pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. dalam ayat-ayat tersebut,  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai tiga syarat bagi pengabulan doa:
    “Sejalan dengan pengetahuan tentang doa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadaku, terdapat tiga persyaratan bagi pengabulan doa.
    Pertama, seorang pemohon doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya dan selalu menganut sepenuhnya jalan-jalan ketakwaan disamping merupakan orang yang dapat dipercaya, saleh, menepati janji dan hatinya selalu dipenuhi kecintaan kepada Allah Swt.
    Kedua, keteguhan hati dan perhatiannya (terhadap makhluk lain) demikian kuat dimana ia bersedia menyerahkan nyawanya sendiri bagi kehidupan orang lain dan bersedia masuk kubur untuk menarik yang lainnya keluar. Hamba-hamba yang diridhai-Nya sesungguhnya lebih dikasihi Allah daripada cinta seorang ibu kepada anak tunggalnya yang cantik.
      Ketika Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang melihat hamba yang diridhai-Nya, demi menyelamatkan kehidupan orang lain telah mengorbankan dirinya sedemikian rupa hingga nyawanya sendiri terancam, maka Dia tidak akan membiarkannya mati dalam keadaan seperti itu. Maka demi hamba-Nya itu Dia akan memaafkan dosa orang lain yang sedang didoakannya, dan jika orang itu sedang dalam cengkeraman penyakit yang mematikan atau sedang dilanda musibah, maka dengan Kekuasaan-Nya Dia akan memberikan sarana-sarana pelepasan.
    Seringkali terjadi dimana berdasar takdir semula seseorang sudah akan dihancurkan oleh Tuhan, namun karena nasib baik ada seorang yang dekat kepada Tuhan mendoakannya secara tekun maka Tuhan lalu berbalik menolong yang bersangkutan. Semua catatan Tuhan yang telah disiapkan guna penghukuman orang berdosa itu lalu dibatalkan karena yang bersangkutan sekarang dianggap termasuk sebagai sahabat. Adapun Tuhan tidak akan pernah menyulitkan para sahabat-Nya.
     Ketiga, adalah persyaratan yang jauh lebih sulit dipenuhi dibanding yang lainnya, karena kepatuhan atas persyaratan tersebut tidak berada di tangan mereka yang telah diridhai Allah Swt. tetapi di tangan orang yang meminta bantuan doa bagi dirinya.

Syarat Bagi yang Memohon Doa

     Persyaratan ini mengharuskan orang bersangkutan mengajukan permohonan doanya dengan segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan penyerahan diri. Ia harus memastikan dalam hatinya bahwa misalnya doa yang dimohonkannya ternyata tidak dikabulkan maka hal itu tidak akan mengganggu kepercayaan dan niat baiknya.
     Permohonan doa yang diajukannya tidak boleh merupakan suatu ujian atau test melainkan dikemukakan dengan penuh kepercayaan. Ia harus mengajukan permohonannya dengan segala kerendahan hati kepada pribadi yang dimintakan bantuan doanya,  dan sepanjang memungkinkan  ia harus memelihara hubungan baik dengan yang bersangkutan dengan cara membelanjakan harta, memberikan bantuan dan semua tindakan kepatuhan yang bisa menyentuh hati pribadi bersangkutan.
    Bersama dengan itu ia harus selalu berfikir baik dan menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang memiliki ketakwaan tinggi serta menganggapnya sebagai suatu kekafiran untuk berfikir yang tidak konsisten dengan kesuciannya. Ia harus membuktikan keimanannya kepada yang bersangkutan melalui segala bentuk pengorbanan.
     Ia tidak akan menganggap ada tandingan lain di dunia dari pribadi tersebut serta mengabdikan diri sepenuhnya sedemikian rupa, sehingga siap memberikan nyawa sekalipun atau hartanya atau kehormatannya bagi pribadi tersebut, dan tidak akan mengutarakan atau membiarkan hatinya mempunyai fikiran buruk dari sudut apa pun. Ia harus membuktikan dirinya bahwa ia beriman sepenuhnya kepada pribadi tersebut beserta para pengikutnya
     Dengan semua persyaratan di atas, ia masih juga dituntut untuk bersabar, bahkan misalnya ia harus kecewa sampai 50 kali pun, ia jangan sampai membiarkan keimanan dan niat baiknya terpengaruh dengan cara apa pun.
     Orang-orang yang telah memperoleh keridhaan Ilahi memiliki indera perasa yang amat peka, dimana mereka bisa menyimpulkan tingkat ketulusan seseorang melalui wujudnya. Orang-orang seperti ini selalu bersifat lemah-lembut hati namun mereka adalah orang yang cukup dengan dirinya sendiri.  
       Mereka tidak menyukai orang yang takabur, mementingkan diri sendiri dan munafik. Hanya orang-orang yang bersedia menyerahkan nyawa sekali pun dalam mematuhi mereka yang diridhai ini yang bisa memperoleh manfaat.
     Orang yang berfikiran buruk, menentang di dalam hati, tidak mencintai dan berniat buruk terhadap sosok yang diridhai Tuhan, pasti tidak akan memperoleh kemaslahatan, bahkan hanya menghancurkan dirinya sendiri.” (Brahin-i- Ahmadiyah, jld, V,  sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm.  226-228, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 13 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar