Selasa, 30 Agustus 2016

Pentingnya "Ta'aarafu" (Saling Mengenal) di Kalangan Bangsa-bangsa dan Pasangan Suami-Istri & Doa "Hamba-hamba" Tuhan Yang Maha Pemurah




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 34

PENTINGNYA  TAĀRAFU (SALING MENGENAL) DI KALANGAN BANGSA-BANGSA   DAN    PASANGAN SUAMI-ISTRI & DOA HAMBA-HAMBA TUHAN YANG MAHA PEMURAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 33 telah dijelaskan   mengenai  jawaban pengecut Bani Israil terhadap  ajakan Nabi Musa a.s. yang penuh   optimis  untuk memasuki Kanaan –“negeri yang dijanjikan”,  firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
 Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”   Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.”   Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi  maka janganlah eng-kau bersedih atas kaum yang fasik itu.”   (Al-Māidah [5]:25-27).
      “Dua orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan 14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa Nabi Musa a.s.   dan Nabi Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki) mencerminkan citra kejantanan dan keberanian, firman-Nya:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apabila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu   bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” (Al-Māidah [5]:24).
     Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani ini   -- yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.   --  dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s. mendoa bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s.  (QS.5:26). Allah Swt. tidak menyebut nama-nama  keduanya melainkan hanya mengatakan “dua orang laki-laki” sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian keduanya, dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil  yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
      Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Kanaan -  “Tanah Yang Dijanjikan”.

Nasikh dan Mansukh (Penggantian) Dalam Pengabulan Doa

      Sudah dipastikan bahwa  Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. dalam rangka memasuki “negeri yang dijanjikan”  bersama dengan Bani Israil tersebut senantiasa berdoa kepada Allah Swt. agar dapat menggenapi “pewarisan”  negeri Kanaan tersebut, tetapi dalam kenyataannya  -- akibat sikap pengecut Bani Israil  --   pewarisan tersebut ditangguhkan Allah Swt.  selama 40 tahun, dan dalam masa penangguhan tersebut Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s. wafat.
     Namun demikian tidak berarti bahwa doa dan perjuangan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sia-sia. Sehubungan dengan  kenyataan yang seperti  itu   Masih Mau’ud a.s.  bersabda:
     “Aku sering sekali mengalami bahwa ketika Tuhan tidak mau mengabulkan suatu doa, tetapi karena Sifat-Nya Yang Maha Pemurah,  lalu Dia  menerima doa lain yang serupa sebagai gantinya,  sebagaimana dinyatakan oleh-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Tidak tahukah engkau bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’ (Al-Baqarah [2]:107).
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  340, London, 1984).
   Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bentuk “nasikhmansukh” (perubahan) dalam hal pengabulan doa  tersebut:
      Akibat dari ketidak-mengertian maka ada orang yang menganggap bahwa tidak semua permohonan bantuan kepada Allah Swt. akan memberikan hasil,  dan mengira bahwa Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) dan Rahimīyat (Maha Penyayang) Ilahi tidak tercermin dalam bentuk suatu pertolongan.
       Sesungguhnya Tuhan akan mendengar doa yang diajukan secara tulus dan akan membantu mereka yang butuh bantuan menurut cara yang dianggap-Nya patut. Hanya saja terkadang doa dan permohonan bantuan yang diajukan nyatanya tidak dilambari kerendahan hati dan kondisi keruhanian yang bersangkutan tidak sebaik yang diharapkan. Ketika bibirnya komat-kamit melantunkan doa, hatinya sendiri tidak ikut serta atau malah hanya untuk pamer diri semata.
     Tuhan Sendiri mendengar doa orang dan mengaruniakan apa yang menurut Kebijaksanaan-Nya Yang Maha Sempurna hal yang dianggap-Nya patut bagi yang bersangkutan, namun seorang yang bodoh umumnya tidak menyadari karunia tersembunyi yang telah dilakukan Tuhan baginya. Akibat dari ketidaktahuan dan kebodohannya itu ia lalu mengeluhkan keadaan dirinya dan tidak menghayati makna ayat:
وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  وَ اَنۡتُمۡ  لَا تَعۡلَمُوۡنَ  ﴾٪
 Dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah [2]:217).
(Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  430-431, London, 1984).

Hikmah     “Perang” dan Hikmah Perbedaan  Karakter Suami-Istri

       Berkenaan ayat   yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. dalam Al-Quran secara khusus berkaitan dengan masalah perang dan masalah “suami-istri”, firman-Nya:
کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ وَ ہُوَ کُرۡہٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  وَ اَنۡتُمۡ  لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾٪
Ditetapkan atas kamu kewajiban berperang, padahal berperang itu sesuatu yang kamu tidak sukai,  dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal   itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah [2]:217).
    Kaum Muslimin membenci peperangan bukan karena mereka menakutinya, melainkan karena mereka tak suka menumpahkan darah, pula karena mereka pikir bahwa suasana aman lebih cocok untuk penyebaran dan dakwah Islam daripada keadaan perang.  Kemudian mengenai  hikmah adanya perbedaan karakter di antara pasangan “suami-istri”  Allah Swt.  berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا یَحِلُّ لَکُمۡ اَنۡ تَرِثُوا النِّسَآءَ کَرۡہًا ؕ وَ لَا تَعۡضُلُوۡہُنَّ لِتَذۡہَبُوۡا بِبَعۡضِ مَاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ  اِلَّاۤ اَنۡ یَّاۡتِیۡنَ بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ ۚ وَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ ۚ فَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ یَجۡعَلَ اللّٰہُ فِیۡہِ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan secara  paksa, dan jangan pula kamu menahan mereka agar kamu dapat mengambil kembali secara zalim sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka,  kecuali jika mereka itu  melaku-kan perbuatan keji yang nyataوَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ  --  dan bergaullah dengan mereka secara baikفَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا --   karena jika kamu tidak menyukai mereka maka  boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan  banyak kebaikan di dalamnya. (An-Nisa [4]:20).
       Jadi, adanya berbagai perbedaan di kalangan umat manusia dalam berbagai hal merupakan bagian dari hikmah  yang terkandung dalam kesempurnaan ciptaan Allah Swt., yaitu untuk “saling memperoleh manfaat” dari adanya “perbedaan” tersebut --  bukan untuk saling membanggakan diri   --  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku     لِتَعَارَفُوۡا    -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --   Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.  اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).

Membangun Persaudaraan Umat Manusia & Perbedaan ‘Alim dan ‘Arif

  Syu’ub itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).
  Sesudah membahas masalah persaudaraan dalam Islam pada dua ayat sebe-lumnya, ayat ini meletakkan dasar persaudaraan yang melingkupi dan meliputi seluruh umat manusia. Pada hakikatnya, ayat ini merupakan “Magna Charta” - piagam persaudaraan dan persamaan umat manusia.
  Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia  semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..
   Harga seseorang tidak dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban kepada Allah dan manusia.  Itulah makna ayat:  اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --     “Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” 
 Seluruh keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka, adapun pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik terhadap satu-sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing:  لِتَعَارَفُوۡا    -- “supaya kamu dapat saling mengenal.” 
     Kata ‘arif  (mengenal/memahami) maknanya lebih luas dan mendalam  daripada  kata ‘alim (mengetahui).  Ditinjau dari segi bahasa  kata ‘alim itu sendiri berasal dari kata 'alam-ya'lamu-'ilman-fahuwa 'ālimun. Artinya orang yang mengetahui atau orang yang berilmu, contohnya Allah Swt. bersifat Al-‘Ālim  (Maha Mengetahui)
   Kata ‘arif kata ‘arif  itu sendiri berasal dari 'arafa-ya'rifu-'irfān-fahuwa 'ārifun?  Arti antara dua kata tersebut memang   "tahu" (mengetahui).    Bedanya adalah kalau  'alima itu tahu tapi hanya secara garis besarnya saja, sedangkan  'arafa  (‘arif) yang tahu secara  detail, sebagaimana arti Sifat  Allah Swt.  Al-Khabīr.
 Jadi,  'ālim adalah orang yang pengetahuannya bersifat global (umum), sedangkan  ‘ārif  orang yang pengetahuannya bersifat luas lagi  mendalam, yang dalam Al-Quran disebut rāsikhūna fil-‘ilmi, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾  رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat,  itulah pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan  yang lain  ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun   orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah,  padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya    kecuali Allah,  وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ --    dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam  یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا  -- berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.”  وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ  -- Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا       -- Ya    Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah  Engkau telah memberi kami petunjuk,   وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً --  dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ  --  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah”(Ali ‘Imran [3]:8-9).

Doa “Hamba-hamba” Tuhan Yang Maha Pemurah

        Jadi, kembali kepada makna لِتَعَارَفُوۡا    --  “supaya kamu dapat saling mengenal”    dalam firman Allah Swt. sebelum ini: 
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku     لِتَعَارَفُوۡا    -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --   Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.  اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
      Hikmah dari  diciptakan-Nya perbedaan bangsa-bangsa, bahasa dan warna kulit dan sebagainya adalah agar manusia satu sama lain mengambil manfaat dari  keutamaan satu sama lainnya, yang berdasar keutamaan  itu pulalah Allah Swt. mengutus   (membangkitkan) para rasul Allah secara bergiliran d kalangan  Bani Adam (umat  manusa – QS.7:35-37).
    Itulah sebabnya menurut Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw.  – berdasarkan firman-Nya tersebut  --  tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang menjadi satu-satunya bangsa  pilihan Allah Swt.. Pada peristiwa Haj terakhir di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw. wafat, beliau saw. berkhutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan,
Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan  bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Allah dan manusia. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ     --  sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu” (Baihaqi).
      Sabda agung Nabi Besar Muhammad saw. ini menyimpulkan cita-cita paling luhur dan asas-asas paling kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah, Nabi Besar Muhammad saw.   mengajarkan asas yang sangat demokratis.
     Demikian juga dalam upaya membina rumah-tangga yang  sakinah, mawaddah dan rahmat (damai, cinta dan penuh kasih-sayang),  pasangan suami-istri pun harus berusaha  sebagaimana firman-Nya:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ خَلَقَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡکُنُوۡۤا اِلَیۡہَا وَ جَعَلَ بَیۡنَکُمۡ  مَّوَدَّۃً  وَّ رَحۡمَۃً ؕ اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  ﴿﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya  ialah bahwa  Dia telah menciptakan bagi kamu jodoh-jodoh dari jenis kamu sendiri, supaya kamu memperoleh ketenteraman padanya, dan Dia telah menjadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang.  Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum [30]:22). 
     Hal tersebut hanya mungkin jika pasangan suami-istri melakukan   لِتَعَارَفُوۡا    -- “supaya kamu dapat saling mengenal”, sehingga  pasangan suami-istri tersebut akan mengenapi  doa  dari  ‘ibādu- Rahmān (hamba-hamba ) dalam firman-Nya berikut ini:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqān [25]:75).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 24 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar