Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
34
PENTINGNYA
TA’ĀRAFU (SALING MENGENAL) DI KALANGAN BANGSA-BANGSA DAN PASANGAN SUAMI-ISTRI & DOA HAMBA-HAMBA
TUHAN YANG MAHA PEMURAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 33 telah dijelaskan mengenai
jawaban pengecut Bani Israil
terhadap ajakan Nabi Musa a.s. yang penuh
optimis untuk memasuki Kanaan –“negeri yang dijanjikan”, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَاۤ
اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ
فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ
لَاۤ اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ
اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ
یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami tidak akan pernah memasuki negeri itu,
selama mereka masih ada di dalamnya,
karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!” Musa
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali
terhadap diriku dan saudara
laki-lakiku, maka bedakanlah antara
kami dengan kaum yang fasik itu.” Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan
bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka
akan bertualang kebingungan di muka
bumi maka janganlah eng-kau bersedih atas kaum yang
fasik itu.” (Al-Māidah [5]:25-27).
“Dua
orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan
14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa
Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki)
mencerminkan citra kejantanan dan keberanian, firman-Nya:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ
یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمَا
ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ الۡبَابَ ۚ فَاِذَا
دَخَلۡتُمُوۡہُ فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ
وَ عَلَی اللّٰہِ فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dua orang laki-laki dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata:
“Masuklah melalui pintu gerbang mereka, lalu apabila
kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya
kamu akan menang. Dan hanya kepada
Allah-lah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”
(Al-Māidah
[5]:24).
Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani ini -- yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. -- dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan
bahwa Nabi Musa a.s. mendoa bagi
beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s. (QS.5:26). Allah Swt. tidak
menyebut nama-nama keduanya melainkan
hanya mengatakan “dua orang laki-laki”
sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian keduanya, dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil yang menyertai
Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai
orang-orang pengecut, Allah Swt.
menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras
padang pasir akan menempa mereka
dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa
baru dan akan memperkokoh moral
mereka. Dalam masa itu generasi tua
boleh dikatakan telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan
yang cukup untuk menaklukkan Kanaan -
“Tanah Yang Dijanjikan”.
Nasikh dan Mansukh
(Penggantian) Dalam Pengabulan Doa
Sudah dipastikan bahwa Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. dalam
rangka memasuki “negeri yang dijanjikan” bersama dengan Bani Israil tersebut senantiasa berdoa
kepada Allah Swt. agar dapat menggenapi
“pewarisan” negeri Kanaan tersebut, tetapi dalam kenyataannya -- akibat sikap pengecut Bani Israil -- pewarisan
tersebut ditangguhkan Allah Swt. selama 40
tahun, dan dalam masa penangguhan
tersebut Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s. wafat.
Namun demikian tidak berarti
bahwa doa dan perjuangan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sia-sia. Sehubungan
dengan kenyataan yang seperti itu
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku
sering sekali mengalami bahwa ketika
Tuhan tidak mau mengabulkan suatu doa,
tetapi karena Sifat-Nya Yang Maha
Pemurah, lalu Dia menerima doa lain yang serupa sebagai gantinya, sebagaimana
dinyatakan oleh-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan atau
Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya
atau yang semisalnya. Tidak tahukah
engkau bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’ (Al-Baqarah
[2]:107).
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine
Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXII, hlm. 340,
London, 1984).
Lebih jauh Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan bentuk “nasikh – mansukh” (perubahan) dalam hal pengabulan doa tersebut:
“Akibat dari ketidak-mengertian
maka ada orang yang menganggap bahwa
tidak semua permohonan bantuan kepada Allah Swt. akan memberikan hasil, dan mengira bahwa Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) dan Rahimīyat
(Maha Penyayang) Ilahi tidak tercermin
dalam bentuk suatu pertolongan.
Sesungguhnya Tuhan akan mendengar doa yang diajukan secara tulus dan akan membantu mereka yang butuh
bantuan menurut cara
yang dianggap-Nya
patut.
Hanya saja terkadang doa dan permohonan bantuan
yang diajukan nyatanya tidak dilambari kerendahan hati dan kondisi keruhanian yang bersangkutan tidak sebaik yang diharapkan.
Ketika bibirnya
komat-kamit melantunkan doa, hatinya sendiri tidak ikut serta atau malah hanya untuk pamer diri semata.
Tuhan Sendiri mendengar
doa orang dan mengaruniakan apa yang menurut Kebijaksanaan-Nya Yang Maha Sempurna hal yang dianggap-Nya
patut bagi yang bersangkutan, namun seorang yang bodoh umumnya tidak menyadari karunia tersembunyi yang telah dilakukan
Tuhan baginya. Akibat dari ketidaktahuan dan kebodohannya itu ia lalu mengeluhkan
keadaan dirinya dan tidak menghayati
makna ayat:
وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴾٪
Dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu
padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu
padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui’ (Al-Baqarah [2]:217).
(Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind
Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.
430-431, London, 1984).
Hikmah “Perang”
dan Hikmah Perbedaan Karakter Suami-Istri
Berkenaan ayat yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. dalam Al-Quran secara khusus berkaitan dengan
masalah perang dan masalah “suami-istri”, firman-Nya:
کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ وَ ہُوَ
کُرۡہٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ
وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾٪
Ditetapkan atas kamu kewajiban berperang, padahal berperang itu sesuatu yang kamu tidak sukai,
dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
buruk bagimu, dan Allah mengetahui
sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah
[2]:217).
Kaum Muslimin membenci peperangan bukan karena mereka menakutinya, melainkan karena mereka
tak suka menumpahkan darah, pula karena mereka pikir bahwa suasana aman lebih cocok untuk penyebaran dan dakwah Islam daripada keadaan perang.
Kemudian mengenai hikmah adanya perbedaan karakter di antara pasangan “suami-istri” Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا یَحِلُّ لَکُمۡ اَنۡ
تَرِثُوا النِّسَآءَ کَرۡہًا ؕ وَ لَا تَعۡضُلُوۡہُنَّ لِتَذۡہَبُوۡا بِبَعۡضِ مَاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ اِلَّاۤ اَنۡ یَّاۡتِیۡنَ
بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ ۚ وَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ ۚ فَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی
اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ یَجۡعَلَ اللّٰہُ فِیۡہِ خَیۡرًا
کَثِیۡرًا ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, tidak halal
bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan secara
paksa, dan jangan pula kamu menahan
mereka agar kamu dapat mengambil kembali secara zalim sebagian dari apa
yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali jika mereka itu melaku-kan
perbuatan keji yang nyata, وَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ -- dan bergaullah
dengan mereka secara baik, فَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا -- karena jika kamu tidak menyukai mereka maka boleh
jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan banyak kebaikan
di dalamnya. (An-Nisa [4]:20).
Jadi, adanya berbagai perbedaan di kalangan umat manusia dalam berbagai hal
merupakan bagian dari hikmah yang terkandung dalam kesempurnaan ciptaan Allah Swt., yaitu untuk “saling memperoleh manfaat” dari adanya “perbedaan” tersebut -- bukan untuk saling membanggakan diri
-- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari laki-laki
dan perempuan, dan Kami
telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
Membangun Persaudaraan
Umat Manusia & Perbedaan ‘Alim
dan ‘Arif
Syu’ub itu jamak dari sya’b,
yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah,
tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).
Sesudah
membahas masalah persaudaraan dalam Islam
pada dua ayat sebe-lumnya, ayat ini meletakkan dasar persaudaraan yang melingkupi dan meliputi seluruh umat manusia. Pada hakikatnya, ayat ini
merupakan “Magna Charta” - piagam
persaudaraan dan persamaan umat
manusia.
Ayat ini menumbangkan rasa dan
sikap lebih unggul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk
manusia semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..
Harga seseorang tidak dinilai
oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan
atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban kepada Allah dan manusia. Itulah makna ayat: اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- “Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.”
Seluruh keturunan manusia,
tidak lain hanya suatu keluarga
belaka, adapun pembagian suku-suku bangsa,
bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk
memberikan kepada mereka saling
pengertian yang lebih baik terhadap satu-sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing: لِتَعَارَفُوۡا -- “supaya kamu dapat saling mengenal.”
Kata
‘arif
(mengenal/memahami) maknanya lebih luas dan mendalam daripada
kata ‘alim (mengetahui). Ditinjau dari segi bahasa kata ‘alim
itu sendiri berasal dari kata 'alam-ya'lamu-'ilman-fahuwa
'ālimun. Artinya orang yang
mengetahui atau orang yang berilmu,
contohnya Allah Swt. bersifat Al-‘Ālim (Maha Mengetahui)
Kata ‘arif kata ‘arif itu sendiri berasal
dari 'arafa-ya'rifu-'irfān-fahuwa 'ārifun?
Arti antara dua kata tersebut memang "tahu" (mengetahui). Bedanya
adalah kalau 'alima itu tahu tapi
hanya secara garis besarnya saja,
sedangkan 'arafa (‘arif) yang tahu secara detail, sebagaimana arti Sifat Allah Swt.
Al-Khabīr.
Jadi, 'ālim adalah orang yang pengetahuannya
bersifat global (umum),
sedangkan ‘ārif orang yang pengetahuannya bersifat luas lagi mendalam,
yang dalam Al-Quran disebut rāsikhūna
fil-‘ilmi, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ
الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ
زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ
ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada
engkau, di
antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat,
itulah pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang
mutasyābihāt karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang
salah, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah, وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی
الۡعِلۡمِ -- dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ
کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا -- berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Dan tidak
ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang
yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا
بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau telah memberi kami petunjuk, وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً -- dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau,
اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Pemberi anugerah”(Ali ‘Imran
[3]:8-9).
Doa “Hamba-hamba”
Tuhan Yang Maha Pemurah
Jadi, kembali kepada makna لِتَعَارَفُوۡا -- “supaya kamu dapat saling mengenal” dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari laki-laki
dan perempuan, dan Kami
telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
Hikmah dari diciptakan-Nya perbedaan bangsa-bangsa, bahasa
dan warna kulit dan sebagainya adalah
agar manusia satu sama lain mengambil manfaat
dari keutamaan
satu sama lainnya, yang berdasar keutamaan
itu pulalah Allah Swt. mengutus (membangkitkan) para rasul Allah secara bergiliran
d kalangan Bani Adam (umat manusa – QS.7:35-37).
Itulah sebabnya menurut Allah Swt. dan
Nabi Besar Muhammad saw. – berdasarkan
firman-Nya tersebut -- tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang menjadi satu-satunya bangsa
pilihan Allah Swt.. Pada peristiwa Haj terakhir di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw.
wafat, beliau saw. berkhutbah di
hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan,
“Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu
itu Esa dan bapakmu satu jua. Seorang orang
Arab tidak mempunyai kelebihan
atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai
kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai
kelebihan apa pun di atas orang berkulit
putih melainkan kelebihannya
ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan
kewajibannya terhadap Allah dan manusia.
اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ --
sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu sekalian pada pandangan
Allah ialah yang paling bertakwa di
antara kamu” (Baihaqi).
Sabda agung Nabi Besar Muhammad saw. ini
menyimpulkan cita-cita paling luhur dan
asas-asas paling kuat. Di tengah
suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang
berbeda itulah, Nabi Besar Muhammad saw. mengajarkan asas yang sangat demokratis.
Demikian juga dalam upaya membina rumah-tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmat (damai,
cinta dan penuh kasih-sayang), pasangan suami-istri pun harus
berusaha sebagaimana firman-Nya:
وَ
مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَکُمۡ مِّنۡ
اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡکُنُوۡۤا اِلَیۡہَا وَ جَعَلَ بَیۡنَکُمۡ مَّوَدَّۃً
وَّ رَحۡمَۃً ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
dari antara Tanda-tanda-Nya ialah bahwa Dia
telah menciptakan bagi kamu jodoh-jodoh dari jenis kamu sendiri, supaya kamu
memperoleh ketenteraman padanya, dan Dia
telah menjadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang. Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(Ar-Rum [30]:22).
Hal tersebut hanya mungkin jika
pasangan suami-istri melakukan لِتَعَارَفُوۡا --
“supaya kamu dapat saling mengenal”, sehingga
pasangan suami-istri tersebut
akan mengenapi doa dari ‘ibādu-
Rahmān (hamba-hamba ) dalam firman-Nya berikut ini:
وَ الَّذِیۡنَ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ
اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan
orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa.” (Al-Furqān [25]:75).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 24 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar