Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
32
HUBUNGAN SIFAT RABUBIYAT ALLAH SWT. DENGAN KESABARAN
& HIKMAH PERINTAH SABAR
MENDAHULUI SHALAT
(DOA)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 31 telah dijelaskan
sabda Masih
Mau’ud a.s. dalam
hubungannya dengan kesabaran Nabi Ya’qub a.s. yang bertahun-tahun berpisah dengan Nabi Yusuf
a.s., firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی
وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ اِنَّکَ لَفِیۡ
ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾ فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ
اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ
مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا
کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Yusuf berkata “Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah di hadapan ayahku,
ia akan mengetahui segala sesuatu.
Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya.” Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari
Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya
aku mencium harum Yusuf meskipun kamu
meng-anggap diriku seorang pikun.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah
datang, ia meletak-kan kemeja itu
di hadapannya, maka ia, Ya’qub, menjadi
mengerti, ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu
sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada
Allah atas dosa-dosa kami,
sesungguhnya kami adalah orang-orang
yang bersalah.” Ia berkata:
“Segera aku akan memohon pengampunan bagi kamu dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya Dia
Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:94-99).
Kegembiraan Menjelang Pengabuan Doa
Makna ayat:
وَ لَمَّا
فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ -- “Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari
Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya
aku mencium harum Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Bahkan sebelum kafilah itu sampai di rumah,
Nabi Ya’qub a.s. telah
mem-beritahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak
ber-tentangan, namun beliau punya harapan akan
segera bertemu dengan Nabi Yusuf
a.s., dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau
tambahkan kata-kata: لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ -- “meskipun kamu menganggap diriku
seorang pikun.” Maksudnya: “kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan,
tidak lebih dari khayalan dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan suatu kenyataan atau kepastian.”
Ketika kemeja Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s., keyakinan beliau atas dasar khabar gaib yang mula-mula hanya
merupakan soal kepercayaan saja,
bahwa Nabi Yusuf a.s. masih hidup, sekarang telah berubah
menjadi pengetahuan yang nyata.
Itulah arti kata-kata فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا -- ia
menjadi mengerti dalam ayat: فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ -- “Maka tatkala pembawa kabar
gembira itu telah datang, ia meletak-kan kemeja itu di hadapannya, maka
ia, Ya’qub, menjadi mengerti.”
Jadi,
makna kalimat فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا
adalah “ia menjadi mengerti“ bukan
“ia menjadi melihat lagi”, dengan demikian tidak benar anggapan (penafsiran)
bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. terus menerus menangisi kehilangan Nabi Yusuf a.s. hingga mata beliau menjadi buta
(وَ
ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ
مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡم -- QS.12:85) lalu
penglihatan beliau menjadi pulih kembali setelah kemeja
Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan beliau a.s., firman-Nya: وَ تَوَلّٰی
عَنۡہُمۡ وَ قَالَ یٰۤاَسَفٰی
عَلٰی یُوۡسُفَ وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ
مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ -- Dan ia
berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.”
Demikianlah penjelasan sabda Masih Mau’ud a.s mengenai
adanya kegembiraan yang dirasakan hamba-hamba Allah pada saat menjelang terjadinya pengabulan doa yang mereka
panjatkan kepada Allah Swt.:
“Sepanjang waktu jeda atau
interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan,
beberapa di antaranya bisa
mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik
akan mencium keharuman karunia
Ilahi dalam masa
cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan
tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah
satu faktor
pengabulan doa.
Karena itu janganlah patah hati
dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya
karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
Jangan pernah berfikir hal doanya tidak
dikabulkan
atau tidak akan dikabulkan.
Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).
Berharganya Doa dan Pentingnya Kesabaran
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya senantiasa berdoa kepada Allah Swt. serta
pentingnya bersabar menanti pengabulannya:
“Doa merupakan suatu hal yang amat berharga dan seseorang
yang terbiasa berdoa akan memperoleh keberhasilan di akhirnya.
Hanya saja adalah suatu kebodohan dan ketidak-sopanan bahwa ia
berusaha menghindari takdir yang telah ditetapkan Ilahi. Sebagai contoh, orang yang mendoakan
agar matahari muncul pada waktu malam hari menunjukkan kekurang-ajaran yang bersangkutan.
Orang
yang berputus asa atau mengharapkan
pengabulan doa sebelum waktunya jelas akan merugi.
Sebagai contoh, jika sepasang pengantin
yang baru menikah 10 hari lalu mengharapkan kelahiran seorang anak, hal itu menunjukkan kebodohan mereka. Begitu juga dengan orang yang tidak
memberikan kesempatan waktu
bagi sebuah tanaman
untuk tumbuh, sama saja dengan ia tidak
memberikan kesempatan berbuah
pada waktunya.
Umat Muslim pada umumnya tidak
mengetahui prinsip-prinsip
dari doa. Sebagian dari mereka yang mempunyai
kesempatan untuk berdoa
namun kemudian karena tidak mempunyai kesabaran dan keteguhan hati, lalu berputus asa dan mengikuti pandangan
Sayid Ahmad Khan[1] yang menyatakan bahwa doa itu tidak
ada gunanya.
Mereka itu amat keliru karena
tidak
menyadari realitas doa dan
pengaruhnya. Karena melihat bahwa harapan untuk memperoleh kekayaan
ternyata tidak berhasil,
mereka lalu menyatakan bahwa doa itu tidak ada gunanya dan mereka berhenti
melakukannya.
Sesungguhnya doa merupakan perhubungan yang sempurna di antara nasib
dan pengabdian
kepada Tuhan.
Jika dikatakan bahwa doa tidak memberikan pengaruh maka berdoa
atau pun tidak akan menjadi sama saja.” (Malfuzat,
jld. III, hlm. 203-204).
Walau pun Allah Swt. dapat melakukan
pernyataan-Nya: “Kun!” fayakun -- “Jadilah!” maka terjadi” (QS.2:118) dalam
makna harfiah, -- terutama dalam peristiwa yang bersifat mukjizat para rasul Allah -- tetapi karena Allah Swt. telah menciptakan
alam semesta dan segala isinya berdasarkan Sifat Rabubiyat-Nya (QS.1:2) – yakni melalui proses rangkaian hukum “sebab-akibat” -- karena itu sikap sabar diperlukan bagi
orang-orang yang berdoa kepada Allah
Swt. dalam menanti pengabulannya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mohonlah
pertolongan dengan sabar dan
shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah
[2]:154).
Shabr
(sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan
dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat
dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal (Mufradat).
Kiat Meraih keberhasilan
Duniawi dan Ruhani
Ayat
ini mengandung satu asas yang hebat
sekali untuk mencapai keberhasilan:
Pertama,
seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus
asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang
teguh kepada segala hal yang baik.
Kedua, ia
hendaknya mendoa kepada Allah Swt. untuk
keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.
sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar)
mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan
pentingnya melaksanakan hukum Ilahi
yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi
oleh penggunaan segala sarana yang
dijadikan Allah Swt. untuk mencapai sesuatu tujuan.
Kemudian dengan merujuk kepada
pengalaman Nabi Yunus a.s. Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw.
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ
الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ نَادٰی وَ ہُوَ
مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ تَدٰرَکَہٗ
نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾ فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap
keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan janganlah
engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh duka. لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Lalu Rabb-nya
(Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
Kesaksian Nabi Besar
Muhammad Saw. Mengenai Pengabulan Doa
& Pentingnya Merendahkan Diri
Mengenai kepastian pengabulan doa, Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw., wujud yang menjadi saksi
paling sempurna mengenai pengabulan
doa, firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku
mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku
dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk (Al-Baqarah
[2]:187).
Kata-kata: “dan
beriman kepada-Ku” tidak mengacu
kepada beriman kepada wujud Allah Swt. sebab hal itu telah termasuk dalam anak
kalimat sebelumnya “karena
itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”,
karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan menaati perintah-Nya tanpa percaya
akan adanya wujud Tuhan.
Jadi kata-kata “dan
beriman kepada-Ku” tertuju
kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.
mendengar dan mengabulkan doa
hamba-hamba-Nya. Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan:
“Kita harus selalu
berdoa dan memohon pengampunan dari Allah Yang Maha Agung, karena Dia itu Dzat yang Cukup Dengan Diri-Nya
Sendiri, Yang tidak tunduk pada
kewenangan siapa pun. Dia akan
mengabaikan manusia yang tidak merasa perlu memohon kepada-Nya dengan kepasrahan dan segala kerendahan
hati.
Jika seseorang yang mendatangi orang lain untuk mengemis atau memohon karunia dengan cara mengemukakan kepapaan dan ketidakberdayaan dirinya, ada kemungkinan
permohonannya dikabulkan. Namun seorang
yang datang secara galak menunggang kuda meminta suatu pemberian diikuti ancaman bahwa bila tidak diberi akan menggunakan
kekerasan,
maka ia
akan dihadapi dengan kekerasan pula.
Mencari karunia dari Allah Swt. dengan cara membandel berkepala batu serta menjadikan
keimanannya sebagai suatu persyaratan, sesungguhnya adalah suatu kesalahan
yang akan menjadi batu sandungan baginya. Ketekunan
dan keteguhan
hati
dalam berdoa adalah suatu hal yang lain dari sikap kepala batu.
Ucapan yang menyatakan bahwa jika harapannya tidak dikabulkan ia akan mengingkari keimanannya atau dengan persyaratan lainnya, sebenarnya suatu kebodohan
yang besar
dan menunjukkan keawaman seseorang
akan cara
berdoa yang bisa diklasifikasikan sebagai syirik.
Kebijakan Allah Swt. Dalam Mengabulkan
Doa
Orang-orang seperti itu jelas tidak memahami
falsafah cara berdoa. Tidak ada di mana pun dalam Al-Quran
dinyatakan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa sesuai dengan keinginan si
pemohon.
Memang benar dinyatakan bahwa:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61),
namun
juga merupakan bagian dari keimanan
kita sebagaimana dinyatakan Al-Quran:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ
“Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan
sedikit ketakutan dan kelaparan” (Al-Baqarah [2]:156).
Bila karena hikmah dari ayat:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku,
Aku akan
mengabulkan doa kamu” (Al-Mu’min [40]:61),
Allah Swt. mengabulkan
doa kalian, tetapi dengan mempertimbangkan juga hikmah dari ayat:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ
Sesungguhnya
akan Kami beri kamu cobaan” (Al-Baqarah [2]:156).
berarti bahwa Dia juga akan menerapkan apa yang menjadi keinginan-Nya.
Adalah
karena fitrat
Maha Pemurah
dan Maha Penyayang maka Allah Swt.
mengabulkan doa para hamba-Nya, karena jika hanya memaksakan kehendak- Nya semata maka hal itu akan menjadi tidak konsisten dengan hakikat Ketuhanan-Nya.
Ketika
Dia menyatakan:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ
“Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan” (Al-Baqarah [2]:156), sesungguhnya Dia
saat itu berkehendak menerapkan keinginan-Nya. Terkadang datang rasa
ketakutan, terkadang lain kelaparan,
atau bisa juga kehilangan harta benda,
kerugian dalam perdagangan, panen yang buruk, kematian anak, buah-buahan
membusuk dan musibah lain.
Kabar Gembira Bagi yang Bersabar
Semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. Pada saat demikian, Dia berkehendak memperlihatkan Kewenangan-Nya dan menerapkan kehendak-Nya. Pada saat seperti itu, seorang mukminin hakiki tetap akan menerima segala cobaan Tuhan tersebut dengan berlapang dada, tidak mengeluh
dan tidak berfikir buruk. Karena
itulah Allah Swt. juga menyatakan:
وَ بَشِّرِ
الصّٰبِرِیۡنَ ۙ
“Berikanlah kabar suka kepada orang-orang
yang sabar” (Al-Baqarah
[2]:156).
Tuhan tidak ada menyatakan bahwa kabar suka akan diberikan kepada para pemohon doa, melainkan kepada mereka yang bersabar. Karena itu janganlah berkecil hati jika menghadapi kegagalan dalam doa, melainkan belajar menerima kehendak Allah Swt. dengan keteguhan hati dan kesabaran.
Para
hamba
Allah
menyadari adanya hasrat keberhasilan dalam suatu upaya dan untuk itu mereka akan berdoa, namun jika tidak maka mereka cukup
puas dengan takdir Ilahi.
Ketika mereka melihat gejala suatu bencana maka mereka akan berdoa, namun jika mereka rasa bahwa hal itu adalah
bagian dari takdir Ilahi
maka mereka
akan bersabar
sebagaimana Hadhrat Rasulullah Saw. juga bersabar
saat wafat
putra-putra beliau,
dimana salah satunya bernama Ibrahim.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 385-386).
Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya bersabar menerima kehendak Allah Swt. –
sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya -- Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ
﴿﴾ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ
﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ
رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar. Dan janganlah
kamu me-ngatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa
mereka
itu mati, tidak bahkan mereka
hidup, tetapi kamu tidak menyadari. وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ -- Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan
dalam harta, jiwa dan buah-buahan, وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ -- Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah
menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا
لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ
اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ
صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ -- Mereka
itulah orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan)
mereka وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka
inilah yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:154-158).
Hikmah Kata Sabar
Mendahului Kata Shalat (Doa)
Shabr
(sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan
dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat
dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal (Mufradat).
Ayat 154 ini
mengandung satu asas yang hebat
sekali untuk mencapai keberhasilan:
Pertama,
seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun
tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang
berbahaya dan berpegang teguh kepada
segala hal yang baik.
Kedua, ia
hendaknya mendoa kepada Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt. sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar)
mendahului kata shalat dalam ayat: اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ
الصَّلٰوۃِ
-- “mohonlah
pertolongan dengan sabar dan shalat”
dengan maksud untuk menekankan
pentingnya melaksanakan hukum Ilahi
yang terkadang diremehkan karena
tidak mengetahui. Sebab lazimnya doa
akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan Allah Swt. untuk mencapai sesuatu tujuan.
Makna ayat: وَ لَا تَقُوۡلُوۡا
لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ
لَّا تَشۡعُرُوۡنَ -- “Dan
janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan
Allah bahwa mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadari.” Ahya
itu jamak dari hayy yang antara lain berarti: (1) seseorang dengan amal yang diperbuat
selama hidupnya tidak menjadi sia-sia; (2)
orang yang kematiannya dituntut balas.
Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum.
Suatu kaum yang tidak menghargai secara
sepatutnya pahlawan-pahlawan yang telah
syahid dan tidak mengambil
langkah-langkah untuk melenyapkan rasa
takut mati dari hati mereka,
sebenarnya telah menutup masa depan
mereka sendiri.
Penangguhan Pewarisan “Negeri yang
Dijanjikan” Kepada Bani Israil
Contoh mengenai hal tersebut
adalah akibat kepengecutan yang
diperlihatkan Bani Israil ketika menolak ajakan Nabi Musa a.s. – bersama
Nabi Harun a.s. – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri yang dijanjikan” Allah Swt.
kepada mereka, maka Allah Swt. menangguhkan “pewarisan” tersebut kepada Bani Israil selama 40 tahun
(QS.5:21-27).
Ayat وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ -- “Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan
dalam harta, jiwa dan buah-buahan”, merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang
mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus
juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka
sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
Makna
ayat: وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ -- Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah
menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا
لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ
اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.”
Allah Swt. adalah Pemilik segala yang dimiliki orangorang beriman, termasuk dirinya,
karena itu jika Sang Pemilik itu -- sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu
dari mereka maka mereka tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah
atau menggerutu.
Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa daripada membuat putus
asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan
untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi
untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup ini. Jadi rumusan
carameraih kesuksesan -- duniawi dan ruhani -- yang ada dalam
ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan
bertuah belaka, melainkan suatu nasihat
yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 21 Agustus 2016
[1]
Sir
Sayyed Ahmad Khan (1817-1898) seorang pendidik, jurist dan pengarang yang
antara lain mengarang Essays on the life of Mohammed. Ia memperoleh
gelar Sir dari pemer intahan Inggris pada tahun 1888. Salah seorang modernist
Islam yang berusaha mengharmoniskan agama Islam dengan pandangan progresif di
bidang ilmiah dan politis. Ia berhasil mendirikan beberapa sekolah dan
perguruan tinggi bagi kemajuan umat Muslim di India. (Penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar