Minggu, 28 Agustus 2016

Hubungan Sifat "Rabubiyat" Allah Swt. Dengan "Kesabaran" & Hikmah Perintah "Sabar" Mendahului "Shalat" (Doa)





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 32

   HUBUNGAN SIFAT RABUBIYAT ALLAH SWT. DENGAN KESABARAN & HIKMAH  PERINTAH  SABAR MENDAHULUI   SHALAT (DOA)


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab 31 telah dijelaskan    sabda Masih Mau’ud a.s.    dalam  hubungannya dengan kesabaran  Nabi Ya’qub a.s. yang bertahun-tahun berpisah dengan Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪﴾  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾  قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾  فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Yusuf berkataPergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah  di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala sesuatu. Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya.”   Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu meng-anggap diriku seorang pikun.” Mereka  menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih  dalam kekeliruan engkau yang lama itu.”   Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletak-kan kemeja itu di hadapannya, maka ia, Ya’qub, menjadi mengerti,  ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?”  Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”   Ia berkata:  “Segera aku akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:94-99).

Kegembiraan Menjelang Pengabuan Doa

      Makna ayat:  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ   -- “Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”  Bahkan sebelum kafilah itu sampai di rumah, Nabi Ya’qub a.s.  telah mem-beritahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak ber-tentangan, namun beliau punya harapan akan segera bertemu dengan Nabi Yusuf a.s.,  dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau tambahkan kata-kata:  لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ  -- “meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Maksudnya: “kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan, tidak lebih dari khayalan dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan suatu kenyataan atau kepastian.”
       Ketika kemeja Nabi Yusuf a.s.  diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s., keyakinan beliau atas dasar khabar gaib yang mula-mula hanya merupakan soal kepercayaan saja, bahwa Nabi Yusuf a.s.  masih hidup, sekarang telah berubah menjadi pengetahuan yang nyata.
        Itulah arti kata-kata فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا  -- ia menjadi mengerti dalam ayat:   فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ       -- “Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletak-kan kemeja itu di hadapannya, maka ia, Ya’qub, menjadi mengerti.”
      Jadi, makna kalimat  فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا   adalah   “ia menjadi mengerti“ bukan  “ia menjadi melihat lagi”, dengan demikian  tidak benar anggapan (penafsiran) bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. terus menerus menangisi  kehilangan Nabi Yusuf  a.s. hingga mata beliau menjadi buta (وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡم -- QS.12:85) lalu  penglihatan beliau menjadi pulih kembali setelah kemeja Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan beliau a.s., firman-Nya: وَ تَوَلّٰی عَنۡہُمۡ  وَ قَالَ یٰۤاَسَفٰی عَلٰی یُوۡسُفَ  وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ   --  Dan ia berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya  akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.”  
       Demikianlah penjelasan sabda Masih Mau’ud a.s  mengenai adanya kegembiraan yang dirasakan hamba-hamba Allah pada  saat menjelang  terjadinya pengabulan doa  yang mereka panjatkan kepada Allah Swt.:
     Sepanjang waktu jeda atau interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan, beberapa di antaranya bisa mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik akan mencium keharuman karunia Ilahi dalam masa cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
      Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pengabulan doa. Karena itu janganlah patah hati dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
   Jangan pernah berfikir hal doanya tidak dikabulkan atau tidak akan dikabulkan. Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).

Berharganya Doa  dan Pentingnya Kesabaran

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya senantiasa berdoa kepada Allah Swt. serta pentingnya bersabar menanti pengabulannya:
        “Doa merupakan suatu hal yang amat berharga dan seseorang yang terbiasa berdoa akan memperoleh keberhasilan di akhirnya. Hanya saja adalah suatu kebodohan dan ketidak-sopanan bahwa ia berusaha menghindari takdir yang telah ditetapkan Ilahi. Sebagai contoh, orang yang mendoakan agar matahari muncul pada waktu malam hari menunjukkan kekurang-ajaran yang bersangkutan.
     Orang yang berputus asa atau mengharapkan pengabulan doa sebelum waktunya jelas akan merugi. Sebagai contoh, jika sepasang pengantin yang baru menikah 10 hari lalu mengharapkan kelahiran seorang anak, hal itu menunjukkan kebodohan mereka. Begitu juga dengan orang yang tidak memberikan kesempatan waktu bagi sebuah tanaman untuk tumbuh, sama saja dengan ia tidak memberikan kesempatan berbuah pada waktunya.
     Umat Muslim pada umumnya tidak mengetahui prinsip-prinsip dari doa. Sebagian dari mereka yang mempunyai kesempatan untuk berdoa namun kemudian karena tidak mempunyai kesabaran dan keteguhan hati, lalu berputus asa dan mengikuti pandangan Sayid Ahmad Khan[1] yang menyatakan bahwa doa itu tidak ada gunanya.
      Mereka itu amat keliru karena tidak menyadari realitas doa dan pengaruhnya. Karena melihat bahwa harapan untuk memperoleh kekayaan ternyata tidak berhasil, mereka lalu menyatakan bahwa doa itu tidak ada gunanya dan mereka berhenti melakukannya.
       Sesungguhnya doa merupakan perhubungan yang sempurna di antara nasib dan pengabdian kepada Tuhan. Jika dikatakan bahwa doa tidak memberikan pengaruh maka berdoa atau pun tidak akan menjadi sama saja.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 203-204).
     Walau pun Allah Swt. dapat melakukan pernyataan-Nya: “Kun!” fayakun  -- “Jadilah!” maka terjadi” (QS.2:118) dalam makna harfiah,   -- terutama dalam peristiwa yang bersifat mukjizat para rasul Allah  --  tetapi karena Allah Swt. telah menciptakan  alam semesta dan segala isinya berdasarkan Sifat Rabubiyat-Nya  (QS.1:2) – yakni melalui  proses rangkaian  hukum “sebab-akibat”   -- karena itu sikap sabar  diperlukan bagi orang-orang yang berdoa kepada Allah Swt.  dalam menanti pengabulannya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah [2]:154).
     Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).

Kiat Meraih keberhasilan Duniawi dan Ruhani

         Ayat ini mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan:
      Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.

       Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.  sajalah Sumber segala kebaikan.
     Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.   untuk mencapai sesuatu tujuan.
   Kemudian dengan merujuk kepada pengalaman Nabi Yunus a.s. Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.
فَاصۡبِرۡ  لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ  نَادٰی وَ ہُوَ مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾  فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan  janganlah engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh  duka. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di   tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ  --   Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk  orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).

Kesaksian Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Pengabulan Doa & Pentingnya Merendahkan Diri

      Mengenai kepastian pengabulan doa, Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw., wujud yang menjadi saksi paling sempurna mengenai pengabulan doa, firman-Nya: 
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,   karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman  kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk  (Al-Baqarah [2]:187).
        Kata-kata:  dan beriman kepada-Ku”  tidak mengacu kepada beriman kepada wujud Allah Swt.  sebab hal itu telah termasuk dalam anak kalimat sebelumnya    “karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku”,  karena mustahil orang akan menyambut seruan Allah Swt. dan menaati perintah-Nya tanpa percaya akan adanya wujud Tuhan.
     Jadi kata-kata    dan beriman kepada-Ku”   tertuju kepada kepercayaan bahwa Allah Swt.   mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:  
        Kita harus selalu berdoa dan memohon pengampunan dari Allah Yang Maha Agung,  karena Dia itu Dzat yang Cukup Dengan Diri-Nya Sendiri, Yang tidak tunduk pada kewenangan siapa pun. Dia akan mengabaikan manusia yang tidak merasa perlu memohon kepada-Nya dengan kepasrahan dan segala kerendahan hati.
        Jika seseorang yang mendatangi orang lain untuk mengemis atau memohon karunia dengan cara mengemukakan kepapaan dan ketidakberdayaan dirinya, ada kemungkinan permohonannya dikabulkan. Namun seorang yang datang secara galak menunggang kuda meminta suatu pemberian diikuti ancaman bahwa bila tidak diberi akan menggunakan kekerasan, maka ia akan dihadapi dengan kekerasan pula.
      Mencari karunia dari Allah Swt. dengan cara membandel berkepala batu serta menjadikan keimanannya sebagai suatu persyaratan, sesungguhnya adalah suatu kesalahan yang akan menjadi batu sandungan baginya. Ketekunan dan keteguhan hati dalam berdoa adalah suatu hal yang lain dari sikap kepala batu.
     Ucapan yang menyatakan bahwa jika harapannya tidak dikabulkan  ia akan mengingkari keimanannya atau dengan persyaratan lainnya, sebenarnya suatu kebodohan yang besar dan menunjukkan keawaman seseorang akan cara berdoa  yang bisa diklasifikasikan sebagai syirik.

Kebijakan Allah Swt. Dalam  Mengabulkan Doa

       Orang-orang seperti itu jelas tidak memahami falsafah  cara berdoa. Tidak ada di mana pun dalam Al-Quran dinyatakan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa sesuai dengan keinginan si pemohon. Memang benar dinyatakan bahwa:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu (Al-Mu’min [40]:61),
 namun juga merupakan bagian dari keimanan kita sebagaimana dinyatakan Al-Quran:
وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ     
“Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan” (Al-Baqarah [2]:156).
Bila karena hikmah dari ayat:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu (Al-Mu’min [40]:61),
Allah Swt. mengabulkan doa kalian, tetapi dengan mempertimbangkan juga hikmah dari ayat:
وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ
Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan” (Al-Baqarah [2]:156).
berarti bahwa Dia juga akan menerapkan apa yang menjadi keinginan-Nya.    
      Adalah karena fitrat Maha Pemurah dan Maha Penyayang maka Allah Swt. mengabulkan doa para hamba-Nya, karena jika hanya memaksakan kehendak- Nya semata maka hal itu akan menjadi tidak konsisten dengan hakikat Ketuhanan-Nya.
       Ketika Dia menyatakan:
وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ     
“Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan”  (Al-Baqarah [2]:156), sesungguhnya Dia saat itu berkehendak menerapkan keinginan-Nya. Terkadang datang rasa ketakutan, terkadang lain kelaparan, atau bisa juga kehilangan harta benda, kerugian dalam perdagangan, panen yang buruk, kematian anak, buah-buahan membusuk dan musibah lain.

Kabar Gembira Bagi yang Bersabar
   
   Semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. Pada saat demikian, Dia berkehendak memperlihatkan Kewenangan-Nya dan menerapkan kehendak-Nya. Pada saat seperti itu, seorang mukminin hakiki tetap akan menerima  segala cobaan Tuhan tersebut dengan berlapang dada, tidak mengeluh dan tidak berfikir buruk. Karena itulah Allah Swt. juga menyatakan:
وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ    ۙ
 “Berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]:156).
     Tuhan tidak ada menyatakan bahwa kabar suka akan diberikan kepada para pemohon doa, melainkan kepada mereka yang bersabar. Karena itu janganlah berkecil hati jika menghadapi kegagalan dalam doa, melainkan belajar menerima  kehendak Allah Swt. dengan keteguhan hati dan kesabaran.
       Para hamba Allah menyadari adanya hasrat keberhasilan dalam suatu upaya dan untuk itu mereka akan berdoa, namun jika tidak maka mereka cukup puas dengan takdir Ilahi. Ketika mereka melihat gejala suatu bencana maka mereka akan berdoa, namun jika mereka rasa bahwa hal itu adalah bagian dari takdir Ilahi maka mereka akan bersabar sebagaimana Hadhrat Rasulullah Saw. juga bersabar saat wafat putra-putra beliau, dimana salah satunya bernama Ibrahim.” (Malfuzat, jld. III, hlm.  385-386).
      Sehubungan dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya bersabar menerima kehendak Allah Swt.  – sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya -- Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  Dan  janganlah kamu me-ngatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --  Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahanوَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ  --  dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ     -- Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata:  Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟       -- Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan) mereka  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ    -- dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:154-158).

Hikmah Kata Sabar Mendahului Kata Shalat (Doa)

    Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).
        Ayat  154 ini mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan:
      Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
        Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt.  untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.   sajalah Sumber segala kebaikan.
      Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat: اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ  -- “mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat” dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Sebab lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan.
       Makna ayat:  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ  -- “Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.”  Ahya itu jamak dari hayy yang antara lain berarti:  (1) seseorang dengan amal yang diperbuat selama hidupnya tidak menjadi sia-sia;  (2) orang yang kematiannya dituntut balas.
     Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum. Suatu kaum yang tidak menghargai secara sepatutnya pahlawan-pahlawan yang telah syahid dan tidak mengambil langkah-langkah untuk melenyapkan rasa takut mati dari hati mereka, sebenarnya telah menutup masa depan mereka sendiri.

Penangguhan Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” Kepada Bani Israil

      Contoh mengenai hal tersebut adalah akibat kepengecutan yang diperlihatkan Bani Israil ketika menolak ajakan Nabi Musa a.s. – bersama Nabi Harun a.s.  – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri yang dijanjikan” Allah Swt. kepada mereka,  maka Allah Swt. menangguhkanpewarisan” tersebut  kepada Bani Israil selama 40 tahun (QS.5:21-27).
       Ayat  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --  “Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahan”,   merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
  Makna ayat:  وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ  --  dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ     -- Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata:  Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  
 Allah Swt.  adalah Pemilik segala yang dimiliki orangorang beriman, termasuk dirinya, karena itu jika Sang Pemilik itu  --  sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya  -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu dari  mereka maka mereka  tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah atau menggerutu.
 Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa   daripada membuat  putus asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup ini. Jadi  rumusan carameraih kesuksesan  -- duniawi dan ruhani   -- yang ada dalam ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan bertuah belaka, melainkan suatu nasihat yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya.

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 21 Agustus    2016






[1] Sir Sayyed Ahmad Khan (1817-1898) seorang pendidik, jurist dan pengarang yang antara lain mengarang Essays on the life of Mohammed. Ia memperoleh gelar Sir dari pemer intahan Inggris pada tahun 1888. Salah seorang modernist Islam yang berusaha mengharmoniskan agama Islam dengan pandangan progresif di bidang ilmiah dan politis. Ia berhasil mendirikan beberapa sekolah dan perguruan tinggi bagi kemajuan umat Muslim di India. (Penterjemah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar