Sabtu, 20 Agustus 2016

Persamaan Pengalaman Nabi Yunus a.s. Dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Duel "Makar" Dalam Peristiwa "Penyaliban" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Menggelincirkan Orang-orang yang Berhati Bengkok




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA

Bab 26

PERSAMAAN PENGALAMAN NABI YUNUS A.S. DENGAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. & DUEL "MAKAR” DALAM PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG MENGGELINCIRKAN ORANG-ORANG YANG BERHATI BENGKOK


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 25  telah dijelaskan  mengenai   “makar buruk”  terhadap Nabi  Besar  Muhammad saw.,  bahwa pada  hakikatnya “makar buruk” kepada Nabi Besar Muhammad  saw. tersebut merupakan pengulangan “makar buruk”  yang dilakukan ribuan tahun sebelumnya   oleh  para pemuka  kaum  Tsamud terhadap Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54), firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang     yang  berbuat kerusuhan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah  orang-orang yang benar.”   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ   --     Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menya-dariفَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ --    Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا   --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ  --  Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ    -- Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa  (An-Naml [27]:49-54).

Makar” Allah Swt. yang Dialami Nabi Yunus a.s.

      Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah kesembilan musuh terkemuka  Nabi Besar Muhammad saw..  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar. Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
     Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw.. Rencana sebenarnya ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau, sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
       Nabi Besar Muhammad saw.   terpaksa hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa  Nabi Besar Muhammad saw.  hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri (QS.8:33-36).      
      Sedangkan akibat “makar buruk” Abu Jahal dan kawan-kawannya,  setelah Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke Medinah  beliau saw. terus menerus meraih berbagai  kesuksesan   baik secara  jasmani mau pun ruhani, karena Medinah dari segi ruhani benar-benar merupakan “tanah yang subur” bagi penyiaran agama Islam dan perkembangan umat Islam selama 10 tahun sejak hijrah dari Mekkah, firman-Nya:
فَاصۡبِرۡ  لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ  نَادٰی وَ ہُوَ مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾  فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan  janganlah engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh  duka. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di   tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ  --   Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk  orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).

 Penangguhan Kedatangan Azab Ilahi

       Ada pun bentuk  “makar” Allah Swt. dalam peristiwa yang dialami  Nabi Yunus a.s. di lautan, terjadi    setelah beliau memberi peringatan kaumnya mengenai azab Ilahi   -- bahwa  jika mereka tidak beriman kepada peringatan beliau maka azab Ilahi akan menimpa mereka  -- tetapi kaum Nabi Yunus a.s. tidak mempercayai   peringatan Nabi Yunus a.a. tersebut sehingga beliau  dengan   marah  pergi meninggalkan mereka.
     Tetapi sepeninggal Nabi Yunus a.s.    kaum Nabi Yunus a.s. melihat  tanda-tanda azab Ilahi  yang sebelumnya telah diperingatkan Nabi Yunus a.s. lalu  mereka beriman kepada pendakwaan Nabi Yunus a.s. dan bertaubat dari keburukan yang mereka lakukan, sehingga Allah Swt, menangguhkan azab Ilahi tersebut, firman-Nya:
وَ  اِنَّ یُوۡنُسَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ؕ   اِذۡ   اَبَقَ  اِلَی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿﴾ۙ   فَسَاہَمَ فَکَانَ مِنَ الۡمُدۡحَضِیۡنَ ﴿﴾ۚ  فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang dari para rasul. Ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan.   Lalu ia ikut berundi dengan orang-orang lain, lalu ia termasuk orang-orang yang dilempar ke laut.   Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri.   Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,   niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan.   Kemudian Kami melempar-kannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu.   Dan Kami mengutus dia kepa-da seratus ribu orang atau lebih, maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:140-149).
     Sehubungan dengan  sikap kaum Nabi Yunus a.s. terhadap peringatan yang disampaikan beliau kepada mereka itu dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ  اِلَّا قَوۡمَ یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman dan keimanannya itu  bermanfaat baginya  kecuali kaum Yunus? ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  -- Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan di dunia, وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ  --  dan Kami memberi mereka perbekalan untuk sementara waktu.  (Yunus [10]:99).
        Maksud “kota” dalam ayat: فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ   -- “Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman”  maknanya adalah   warga kota.   Nabi Yunus a.s. disebut pada enam tempat yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140; QS.68:49 dan di sini).

Keberadaan Nabi Yunus a.s. Dalam Perut Ikan Besar
   
       Dengan demikian jelaslah bahwa tidak terbuktinya peringatan mengenai azab Ilahi yang disampaikan Nabi Yunus a.s. kepada kaumnya   -- karena sepeninggal Nabi Yunus a.s. kemudian mereka mempercayainya  dan  mereka beriman kepada Nabi Yunus a.s.   -- yang telah pergi meninggalkan mereka  dengan marah  tetapi kemudian beliau   mengalami “musibah”  harus dilemparkan ke laut yang sedang bergelora  dn kemudian beliau ditelan ikan besar, firman-Nya: 
فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diriفَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ --    Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,    لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ    -- niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ --  Kemudian Kami melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ --   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ   --  Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih,  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ  -- maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
      Sehubungan dengan ayat:  فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ  -- “Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ ذَاالنُّوۡنِ  اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ  اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah  mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ    --  maka  ia berseru dalam kegelapan perut ikan    اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahasuci,  اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ  -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim”  فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ   --  Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami menyelamatkan dia dari kesedihan, ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).

Persamaan yang  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Nabi Yunus a.s.  &   “Duel Makar” Dalam Peristiwa Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Hal yang menarik adalah bahwa  peristiwa yang dialami oleh Nabi Yunus a.s. tersebut  telah dirujuk oleh Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  ketika menjawab tuntutan para pemuka Yahudi yang meminta beliau  agar memperlihatkan suatu Tanda (mukjizat):
Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu."  Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia (pezina) ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!" (Matius 12:38-42).
       Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. mengenai  keberadaan “makar-Nya”  dalam firman-Nya berikut ini:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?   Ataukah penduduk negeri-negeri ini  merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka  waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main?    اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ --  Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ  --  Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:98-100).
      Di antara  sekian banyak “duel makar” antara “makar buruk”  yang dilakukan para penentang  Rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt.  di berbagai zaman pengutusan Rasul Allah (QS.3:53-55; QS.8:31), “makar tandingan” Allah Swt. yang paling menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok dan  berpenyakit  adalah “duel makar”  dalam  upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. oleh para pemuka kaum Yahudi melalui penyaliban, firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ  -- Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --   Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:158-159).
  Mā shalabū hu artinya  mereka tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib, sebab shalab itu cara membunuh yang terkenal. Orang berkata Shalaba al-lish-sha, yakni ia membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib. Ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal beliau mati di atas tiang salib itu, sebab  orang yang matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk baginya (Ulangan 21:23).

Makna “Disamarkan

  Kata-kata syubbiha lahum dalam ayat:  وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ     -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   --  akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  ” artinya: Nabi Isa a.s. ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa a.s. menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha 'alaihi al-amru, artinya hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki kepadanya (Lexicon Lane).
  Ungkapan, mā qatalū hu yaqīnan, artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan nyata; (2) mereka tidak mengubah  dugaan mereka  jadi keyakinan, yakni  pengetahuan mereka mengenai kematian Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak demikian pastinya sampai tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau.
Dalam hal ini kata ganti hu dalam qatalūhu menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatalasy-syai’a khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal itu supaya menia-dakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab, dan Mufradat).
Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar, jelas nampak dari Al-Quran. Fakta-fakta berikut, sebagaimana dikisahkan dalam Injil sendiri, memberi dukungan yang kuat kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  itu seorang Nabi Allah, beliau tak mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah" (Ulangan 21:23).
2. Beliau telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku" (Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
3. Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s.   yang telah masuk ke dalam perut ikan  besar  dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau akan tinggal dalam "perut bumi" selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Beliau telah menubuatkan pula bahwa beliau akan pergi mencari kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yahya 7:34, 35).
5. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira 3 jam (Yahya 19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang sependek itu.
6. Segera sesudah beliau diturunkan dari tiang salib, pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda yang pasti bahwa beliau masih hidup (Yahya 19:34).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebab mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya "supaya jangan murid-muridnya datang mencuri Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati" (Matius 27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang menerangkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tidak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dibawa ke tempat penyaliban.
 Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke atas orang yang benar itu" (Matius 27 : 19), maka Pilatus telah percaya bahwa Nabi Isa Inu Maryam a.s.  tidak bersalah, dan karenanya telah bersekongkol dengan Yusuf Arimatea - seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diutus sebagai nabi - untuk menolong jiwa beliau.
 Sidang pemeriksaan perkara  Nabi Isa Inu Maryam a.s.    berlangsung pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam.
  Ketika pada akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    ia memberikan keputusannya hanya 3 jam sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang normal kesehatannya tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesingkat itu dapat mati.
   Selain itu Pilatus telah sudi mengusahakan agar  Nabi Isa Inu Maryam a.s.   diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya. Tatkala sesudah 3 jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau), Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan badan beliau kepadanya.
  Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung bersama-sama  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    tulang-tulang beliau tidak dipatahkan dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama beliau ("Mystical life of Yesus" oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka  Nabi Isa Inu Maryam a.s., dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh,  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup.
Buku itu menceriterakan secara terinci semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.  

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 16 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar