Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
26
PERSAMAAN PENGALAMAN
NABI YUNUS A.S. DENGAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. & DUEL "MAKAR” DALAM PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG MENGGELINCIRKAN ORANG-ORANG YANG BERHATI BENGKOK
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab 25 telah dijelaskan mengenai
“makar buruk” terhadap Nabi
Besar Muhammad saw.,
bahwa pada hakikatnya “makar buruk” kepada Nabi Besar
Muhammad saw. tersebut merupakan pengulangan “makar buruk” yang dilakukan ribuan tahun sebelumnya
oleh para pemuka kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54), firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ
رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ
لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا
مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ وَ
اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ
قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat
kerusuhan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. Mereka
berkata: “Hendaklah kamu sekalian
bersumpah dengan nama Allah
bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia
dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada
pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا
وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ -- Dan mereka membuat makar buruk dan Kami
pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menya-dari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا -- Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh
karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang
mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa (An-Naml [27]:49-54).
“Makar” Allah Swt. yang Dialami Nabi Yunus a.s.
Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat
ini adalah kesembilan musuh terkemuka Nabi Besar Muhammad saw.. Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran
Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati
di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar.
Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah,
Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah
bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw.. Rencana sebenarnya ialah memilih
seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan
pembunuhan yang berencana atas beliau, sehingga tidak ada kabilah tertentu
dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau itu. Rencana
itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
Nabi Besar Muhammad saw. terpaksa
hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang
tidak menyadari, bahwa dengan memaksa
Nabi Besar Muhammad saw. hijrah
dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran
bagi mereka sendiri (QS.8:33-36).
Sedangkan akibat “makar buruk”
Abu Jahal dan kawan-kawannya, setelah
Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke
Medinah beliau saw. terus menerus meraih
berbagai kesuksesan baik secara
jasmani mau pun ruhani, karena Medinah dari segi ruhani
benar-benar merupakan “tanah yang subur”
bagi penyiaran agama Islam dan perkembangan umat Islam selama 10 tahun
sejak hijrah dari Mekkah, firman-Nya:
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ
الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ نَادٰی وَ ہُوَ
مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ تَدٰرَکَہٗ
نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾ فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap
keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan janganlah
engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh duka. لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Lalu Rabb-nya
(Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
Penangguhan Kedatangan Azab Ilahi
Ada pun bentuk “makar”
Allah Swt. dalam peristiwa yang dialami
Nabi Yunus a.s. di lautan,
terjadi setelah beliau memberi peringatan kaumnya mengenai azab
Ilahi -- bahwa jika mereka tidak beriman kepada peringatan
beliau maka azab Ilahi akan menimpa
mereka -- tetapi kaum Nabi Yunus a.s. tidak mempercayai peringatan
Nabi Yunus a.a. tersebut sehingga beliau
dengan marah
pergi meninggalkan mereka.
Tetapi sepeninggal Nabi Yunus a.s. kaum Nabi Yunus a.s. melihat tanda-tanda
azab Ilahi yang sebelumnya telah diperingatkan Nabi Yunus a.s. lalu mereka beriman
kepada pendakwaan Nabi Yunus a.s. dan bertaubat
dari keburukan yang mereka lakukan, sehingga Allah Swt, menangguhkan azab Ilahi
tersebut, firman-Nya:
وَ
اِنَّ یُوۡنُسَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ؕ اِذۡ اَبَقَ
اِلَی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿﴾ۙ فَسَاہَمَ
فَکَانَ مِنَ الۡمُدۡحَضِیۡنَ ﴿﴾ۚ فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی
مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا
فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Dan
sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang dari para
rasul. Ketika ia
lari ke kapal yang penuh muatan. Lalu ia ikut berundi dengan orang-orang
lain, lalu ia termasuk orang-orang
yang dilempar ke laut. Maka seekor
ikan paus menelannya ketika ia
sedang menyesali diri. Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. Kemudian Kami
melempar-kannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami
tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. Dan Kami
mengutus dia kepa-da seratus ribu orang atau lebih, maka mereka beriman
karena itu Kami memberikan kepada mereka
kesejahteraan hidup hingga waktu
lama. (Ash-Shaffat [37]:140-149).
Sehubungan dengan sikap
kaum Nabi Yunus a.s. terhadap peringatan
yang disampaikan beliau kepada mereka itu dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ
فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ اِلَّا قَوۡمَ
یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk kota yang beriman
dan keimanannya itu bermanfaat baginya kecuali kaum Yunus? ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ
الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari
mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan
di dunia, وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- dan
Kami memberi mereka perbekalan untuk
sementara waktu. (Yunus
[10]:99).
Maksud “kota” dalam ayat: فَلَوۡ لَا کَانَتۡ
قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ -- “Maka
mengapa tidak ada suatu penduduk kota yang beriman” maknanya adalah warga kota. Nabi
Yunus a.s. disebut pada enam
tempat yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140;
QS.68:49 dan di sini).
Keberadaan Nabi Yunus a.s. Dalam Perut Ikan Besar
Dengan demikian jelaslah bahwa tidak terbuktinya peringatan mengenai azab
Ilahi yang disampaikan Nabi Yunus a.s. kepada kaumnya -- karena sepeninggal Nabi Yunus a.s.
kemudian mereka mempercayainya dan
mereka beriman kepada Nabi
Yunus a.s. -- yang telah pergi meninggalkan mereka dengan marah tetapi kemudian beliau mengalami “musibah” harus dilemparkan ke laut yang sedang
bergelora dn kemudian beliau ditelan ikan besar, firman-Nya:
فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ
وَ ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ
اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ
اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا
فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri. فَلَوۡ لَاۤ اَنَّہٗ
کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ -- Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, لَلَبِثَ فِیۡ بَطۡنِہٖۤ
اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ -- niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
سَقِیۡمٌ -- Kemudian Kami
melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia
dalam keadaan sakit. وَ اَنۡۢبَتۡنَا
عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ -- Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang
pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ
اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ -- Dan Kami
mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- maka mereka beriman karena itu Kami
memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
Sehubungan dengan ayat: فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ -- “Maka seekor
ikan paus menelannya ketika ia
sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ ذَاالنُّوۡنِ اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ
نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ کُنۡتُ
مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾
فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ
مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah
mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ -- maka ia
berseru dalam kegelapan perut ikan
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau,
Engkau Mahasuci, اِنِّیۡ کُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim” فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ -- Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami
menyelamatkan dia dari kesedihan,
ؕ
وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan demikianlah
Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).
Persamaan yang Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Nabi Yunus a.s.
& “Duel
Makar” Dalam Peristiwa Penyaliban Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s.
Hal yang menarik adalah bahwa peristiwa
yang dialami oleh Nabi Yunus a.s. tersebut
telah dirujuk oleh Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. ketika menjawab tuntutan
para pemuka Yahudi yang meminta beliau agar
memperlihatkan suatu Tanda (mukjizat):
Pada waktu
itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru,
kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada
mereka: "Angkatan yang jahat
dan tidak setia (pezina) ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda
selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan
tiga hari tiga malam, demikian juga Anak
Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe
akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya
juga. Sebab orang-orang Niniwe itu
bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di
sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan
bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini
datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada
di sini lebih dari pada Salomo!" (Matius 12:38-42).
Dengan
demikian benarlah firman Allah Swt. mengenai keberadaan “makar-Nya” dalam firman-Nya
berikut ini:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ
بَاۡسُنَا بَیَاتًا وَّ ہُمۡ نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ اَمِنَ
اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی وَّ ہُمۡ
یَلۡعَبُوۡنَ ﴿﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di
malam hari selagi mereka tidur? Ataukah
penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada
mereka waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ -- Apakah mereka
merasa aman dari makar Allah? فَلَا
یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا
الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ -- Maka tidak
ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:98-100).
Di antara sekian banyak “duel makar” antara “makar
buruk” yang dilakukan para penentang
Rasul Allah dengan “makar
tandingan” Allah Swt. di berbagai
zaman pengutusan Rasul Allah (QS.3:53-55;
QS.8:31), “makar tandingan” Allah
Swt. yang paling menggelincirkan
orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit adalah “duel
makar” dalam upaya
pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. oleh para pemuka kaum Yahudi melalui penyaliban,
firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ
ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا ﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ
مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib.
وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya orang-orang yang
berselisih dalam hal ini niscaya ada
dalam keraguan mengenai ini, mereka
tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:158-159).
Mā shalabū hu artinya mereka
tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib, sebab shalab itu cara membunuh yang terkenal. Orang
berkata Shalaba al-lish-sha, yakni ia
membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib. Ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dipakukan
ke tiang salib, tetapi menyangkal
beliau mati di atas tiang salib itu,
sebab orang yang matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk baginya (Ulangan 21:23).
Makna “Disamarkan”
Kata-kata syubbiha lahum dalam
ayat: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib. ” artinya: Nabi Isa a.s.
ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal
kematian Nabi Isa a.s. menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha
'alaihi al-amru, artinya hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki
kepadanya (Lexicon Lane).
Ungkapan, mā qatalū hu yaqīnan,
artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan nyata; (2) mereka tidak
mengubah dugaan mereka jadi keyakinan, yakni pengetahuan mereka mengenai kematian Nabi Isa
a.s. pada tiang salib tidak demikian pastinya sampai tidak ada suatu celah
keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh
beliau.
Dalam hal ini kata ganti hu dalam qatalūhu
menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatalasy-syai’a
khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal
itu supaya menia-dakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab, dan Mufradat).
Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak
wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar, jelas nampak dari Al-Quran. Fakta-fakta berikut, sebagaimana
dikisahkan dalam Injil sendiri, memberi
dukungan yang kuat kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu seorang Nabi Allah, beliau tak mungkin mati
pada kayu salib, sebab menurut Bible:
"orang yang tergantung itu kutuklah
bagi Tuhan Allah" (Ulangan
21:23).
2. Beliau telah berdoa
kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku"
(Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa
beliau telah terkabul (Iberani
5:7).
3. Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s. yang telah masuk ke dalam perut ikan besar dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40),
beliau akan tinggal dalam "perut
bumi" selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Beliau telah menubuatkan
pula bahwa beliau akan pergi mencari kesepuluh
suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang
Yahudi di masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa
Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yahya 7:34, 35).
5. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira 3 jam
(Yahya 19:14) dan
sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang
sependek itu.
6. Segera sesudah beliau diturunkan dari tiang salib,
pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian
merupakan tanda yang pasti bahwa beliau masih hidup (Yahya 19:34).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebab
mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya
"supaya jangan murid-muridnya datang
mencuri Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara
orang mati" (Matius
27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah
pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang menerangkan bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau
ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tidak seorang pun dari antara murid
beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dibawa
ke tempat penyaliban.
Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh
jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke
atas orang yang benar itu" (Matius 27 : 19), maka Pilatus telah
percaya bahwa Nabi Isa Inu Maryam a.s. tidak bersalah, dan karenanya telah
bersekongkol dengan Yusuf Arimatea - seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri pernah menjadi anggotanya,
sebelum beliau diutus sebagai nabi -
untuk menolong jiwa beliau.
Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa Inu Maryam a.s. berlangsung
pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan
perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari
Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam.
Ketika pada
akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ia
memberikan keputusannya hanya 3 jam sebelum terbenamnya matahari, dengan
demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang normal kesehatannya
tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesingkat itu dapat mati.
Selain itu
Pilatus telah sudi mengusahakan agar Nabi
Isa Inu Maryam a.s. diberi anggur atau cuka dicampur dengan
rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya. Tatkala
sesudah 3 jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan
tidak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada
beliau), Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan
menyerahkan badan beliau kepadanya.
Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung
bersama-sama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tulang-tulang beliau tidak dipatahkan dan Yusuf Arimatea
telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di bagian
samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical
autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari
segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama
beliau ("Mystical life of Yesus"
oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan
dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi
Isa Inu Maryam a.s., dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan
Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat
terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan
kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka,
lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The
Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama
kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan
dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang
ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib
oleh seorang warga Essene di Yerusalem
kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang
kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
diturunkan dari salib dalam keadaan masih
hidup.
Buku itu menceriterakan secara terinci semua kejadian
yang menjurus kepada peristiwa salib,
pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban
dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 16 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar