Selasa, 02 Agustus 2016

Cara Berdoa yang Maqbul (Dikabulkan) & Ketergesa-gesaan Manusia Berkenaan Pengabulan Doa oleh Allah Swt.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



CARA BERDOA YANG MAQBUL (DIKABULKAN)  & KETERGESA-GESAAN  MANUSIA   BERKENAAN  PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.


Bab 14


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 13 sebelumnya telah dijelaskan   firman Allah Swt. berkenaan makna ucapan:  مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ  -- “Kapankah pertolongan Allah?”, firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتُمۡ  اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ ﴿﴾
Ataukah  kamu menganggap bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepada kamu seperti keadaan orang-orang yang telah berlalu sebelummu? مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا  --   Kesusahan dan kesengsaraan menimpa mereka dan mereka digoncang dengan hebatحَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ  --   sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya akan berkata: “Kapankah pertolongan Allah?”  اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ --    Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah   dekat (Al-Baqarah [215).

Bukan Tanda “Keputus-asaan” Melainkan Cara Memohon Kepada Allah Swt.

     Penerimaan ajaran Islam bukan sesuatu yang mudah dan orang-orang Islam diperingatkan bahwa mereka akan terpaksa melalui cobaan, ujian, dan kesengsaraan yang berat dalam berjihad di jalan Allah sebelum mereka dapat berharap mencapai cita-cita agung mereka sebagai  “umat terbaik”  yang dijadikan bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
  Teriakan penuh kerawanan minta pertolongan dalam kata-kata: مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ    --  “Kapankah pertolongan Allah?” Tidak berarti keputus-asaan,  sebab sikap putus-asa di pihak seorang nabi Allah dan para pengikutnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan iman sejati (QS.12:88). Kata-kata itu sesungguhnya merupakan doa — satu cara memohon kepada Allah Swt.  dengan sungguh-sungguh agar cepat-cepat menurunkan pertolongan-Nya.
 Keadaan yang dialami oleh para rasul Allah dan para pengikutnya yang setia di jalan Allah  -- termasuk di Akhir Zaman ini   --  merupakan keadaan “keteraniayaan” yang  dapat  mengundang “pengabulan doa” dengan cepat oleh Allah Swt..
 Itulah sebabnya Nabi Besar Muhammad saw telah memperingatkan para sahabat beliau saw.  – dan umumnya umat Islam  --  agar mereka  berhati-hati terhadap “doa orang yang teraniaya”    siapa pun mereka itu  -- karena Allah Swt. pasti akan mengabulkan   pengaduan mengenai keteraniayaannya.
      Berikut adalah sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai  pengabulan doa oleh Allah Swt. yang memiliki hubungannya dengan “keteraniayaan”:   
      Dari  Mu’adz bin Jabal  r.a.  bahwasanya   Rasulullah saw.  bersabda: “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)” [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38).
      Dari Abu Hurairah r.a.  bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri” (Musnad Ahmad 2/367).  
        Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan:  (1) doa orang yang teraniaya; (2) doa seorang musafir dan (3) doa orang tua terhadap anaknya”  (Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Do’a bi dhahril- ghaib 2/89).  
      Dari Anas bin Malik r.a. dia berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Tiga doa yang tidak ditolak: (1); doa orang tua terhadap anaknya, (2)   doa orang yang sedang berpuasa dan (3) doa seorang musafir”  (Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab siyam lil Istisqa’ 3/345).

 Tatakrama Berdoa  Agar Terkabul

       Sehubungan dengan doa dan pengabulannya oleh Allah Swt.  tersebut,  Masih Mau’ud a.s.  lebih jauh   menjelaskan mengenai tatakrama berdoa  agar dapat mengundang “pengabulan” Allah Swt.:
      Doa adalah suatu hal yang sangat indah. Sayang sekali mereka yang berdoa tetapi tidak memahami cara berdoa yang benar, apalagi mengetahui cara-cara pengabulan doa. Bagi mereka ini realitas doa merupakan suatu hal yang asing. Bahkan ada dari antara mereka yang sama sekali menyangkal efektivitas  (pengaruh) doa.
         Ada pula mereka yang tidak menyangkal, namun karena doa mereka tidak dikabulkan --   akibat dari kurangnya pemahaman cara berdoa dan bahkan bukan seorang pendoa yang benar -- maka sebenarnya keadaan mereka lebih buruk lagi daripada mereka yang menyangkal efektivitas doa. Keadaan seperti itulah yang telah mendorong banyak dari mereka ke arah atheisme.
      Persyaratan pertama untuk berdoa adalah si pemohon jangan sampai jemu dan putus asa karena tidak ada suatu apa pun yang terjadi. Terkadang ada yang mendoa terus sampai sudah akan dikabulkan, tetapi si pemohon kemudian menjadi jemu dan hasilnya mengecewakan serta menimbulkan frustrasi.
      Frustrasi muncul sebagai akibat dari keraguan atas efektivitas suatu doa dan berakhir menjadi penyangkalan terhadap Tuhan. Mereka menyatakan, jika memang ada Tuhan yang menerima doa-doa manusia, kenapa doa mereka tidak dikabulkan padahal mereka sudah lama memohonkannya?

Tidak Tergesa-gesa & Tekun dan Teguh hati  (Istiqamah)

    Kalau saja mereka yang berfikir demikian itu mau merenungi kurangnya keteguhan hati mereka, mereka akan menyadari bahwa frustrasi mereka itu adalah hasil dari ketergesaan dan ketidak-sabaran mereka sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan pandangan salah terhadap kekuatan Allah Swt. dan berakhir dengan keputus-asaan, karena itu janganlah pernah jemu.
     Berdoa itu sama seperti petani yang menebar benih. Ia menyesapkan benih yang bagus ke dalam tanah dan pada saat itu siapa yang bisa memperkirakan apakah benih itu akan tumbuh baik dan memberikan hasil? Orang luar dan si penanam itu sendiri tidak bisa melihat bagaimana benih itu di dalam tanah mengambil bentuk sebagai tanaman. Realitasnya dalam waktu beberapa hari, benih itu berubah dan mengambil bentuk sebagai tanaman yang tunasnya menyembul ke permukaan tanah dan terlihat oleh siapa pun.
    Sejak saat ditanam sebenarnya benih itu telah mengadakan persiapan untuk menjadi tanaman, namun mata kita yang hanya bisa melihat suatu yang kasat mata tidak menyadarinya sampai kecambah benih muncul di atas permukaan tanah. Seorang anak yang awam pada tahapan demikian tidak bisa memahami bahwa tanaman tersebut akan memberikan hasil hanya pada saatnya berbuah, ia menginginkan tanaman tersebut langsung menghasilkan buah.
     Seorang penanam yang cerdas lebih mengetahui kapan saatnya tanaman itu akan memberikan hasil. Ia akan menjaganya secara tekun dan merawatnya hingga waktunya tanaman itu menghasilkan buah sampai saat matangnya. Begitu juga halnya dengan berdoa yang harus dirawat dengan cara sama sampai membuahkan hasil. Mereka yang selalu tergesa-gesa akan cepat jemu dan menyerah, sedangkan mereka yang tekun akan berteguh hati  (istiqamah) sampai mencapai sasaran.

Berbagai Tahapan Cara Berdoa &  Penderitaan Mengandung Bayi

   Sesungguhnya ada beberapa tahapan dalam cara berdoa, yang jika tidak diketahui akan meluputkan si pemohon dari buah hasil doanya. Mereka selalu merasa tergesa dan tidak sabar menunggu, padahal kinerja Allah Swt. selalu mengikuti proses tertentu. Tidak pernah terjadi ada manusia yang menikah hari ini lalu keesokan harinya sudah mendapat seorang anak. Meski pun Tuhan itu Maha Kuasa dan bisa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya, namun tetap saja Dia akan mengikuti kaidah dan sistem yang telah diterapkan-Nya sendiri.
    Pada tahapan awal dari proses kandungan seorang anak, tidak ada suatu apa pun yang terlihat seperti halnya perawatan tanaman.  Selama empat bulan pertama belum ada kepastian. Baru kemudian terasa ada gerakan dan setelah waktunya yang penuh barulah anak itu lahir dengan cara yang sulit. Kelahiran anak itu sepertinya memberikan kehidupan baru kepada ibunya.
    Susah bagi seorang laki-laki membayangkan kesulitan yang harus dialami seorang wanita selama masa mengandung, tetapi nyatanya kelahiran anak tersebut seolah memberi kehidupan baru bagi sang ibu. Ia bersedia mati guna kegembiraan telah melahirkan anaknya.
     Begitu juga halnya dengan seorang pendoa dimana ia harus meninggalkan ketergesaan dan bersedia menanggung semua kesulitan dan jangan pernah membayangkan bahwa doanya tidak diterima. Pada saatnya yang tepat nanti hasil doa akan mewujud sebagaimana seorang anak yang menjadi dambaan telah lahir.
    Suatu doa harus terus ditekuni sampai memberikan hasil yang diharapkan. Kalian tentunya tahu jika sepotong kain perca   ditaruh di bawah suryakanta (kaca pembesar) di bawah sinar matahari, maka  sinar yang terpusat akan menaikkan suhu sampai suatu titik yang membakar perca tersebut. Begitu juga caranya dalam membawa doa sampai kepada titik yang memberikan kekuatan yang membakar segala kegagalan dan frustrasi serta mencapai hasil yang diharapkan.

Jangan Memaksakan Kehendak Kepada Allah Swt.

  Kalian harus berdoa dalam waktu yang panjang  barulah Tuhan akan memanifestasikan hasilnya. Adalah pengalamanku sendiri yang juga sama dengan pengalaman orang-orang bertakwa  di masa lalu,  bahwa biasanya jika diawali dengan kesunyian untuk jangka waktu lama maka ada harapan permohonan doa itu dikabulkan, tetapi jika ada responsi (tanggapan) segera maka hasilnya tidak pasti menguntungkan si pemohon.
   Manakala seorang pengemis mendatangi seseorang dan memohon dengan rendah hati dan tekun serta tidak pindah dari tempatnya duduk -- meski telah diusir -- untuk terus saja memohon maka yang dimintai walaupun ia bersifat kikir pada akhirnya akan tergugah untuk memberikan sesuatu. Tidakkah sepatutnya seorang pemohon doa juga memiliki ketekunan sebagai seorang pengemis?
   Ketika Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah melihat hamba-Nya yang lemah bersujud demikian lama di hadirat-Nya, Dia pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya itu merugi. Bila seorang wanita hamil setelah 4 atau 5 bulan menjadi tidak sabaran untuk melihat anaknya dan mengupayakan melahirkan cepat dengan bantuan obat-obatan, maka  bukan saja anaknya tidak akan lahir hidup tetapi ia sendiri juga akan mengalami kekecewaan berat. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak sabar melihat hasil sebelum waktunya, bukan saja ia akan merugi tetapi juga membahayakan keimanannya sendiri. Dalam keadaan demikian itu orang lalu menjadi atheis.

Pentingnya Memiliki Ketakwaan

    Dulu ada seorang tukang kayu di desa kami yang isterinya sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia mengatakan bahwa jika ada Tuhan, tentunya semua doanya akan dikabulkan dan isterinya tidak harus mati. Karena itulah ia kemudian menjadi atheis. Seorang saleh yang melaksanakan kesetiaan dan ketulusan, maka keimanannya menjadi bertambah baik dan ia akan mencapai hasil yang diharapkan.
    Kekayaan duniawi ini tidak ada artinya dalam pandangan Allah Yang Maha Perkasa. Dia bisa melakukan apa pun setiap saat. Tidakkah kalian melihat bagaimana Dia menganugrahkan kerajaan kepada umat yang tadinya sama sekali tidak dikenal dan menjadikan kerajaan-kerajaan besar tunduk kepada mereka serta telah menjadikan hamba sahaya menjadi raja-raja?
  Seorang bertakwa yang menjadikan dirinya milik Tuhan semata, akan memperoleh kehidupan luhur sepanjang ia tulus dan teguh hati. Hatinya tidak boleh guncang atau riya (memegahkan diri) atau pun syirik. Apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim a.s. diakui sebagai bapak bangsanya dan bapak dari para pengikut Tuhan serta dianugrahi demikian banyak berkat atas dirinya? Adalah ketakwaan dan ketulusan beliau itulah.
  Nabi Ibrahim a.s. telah mengajukan permohonan doa kepada Tuhan agar muncul seorang nabi di Arab dari antara keturunan beliau. Apakah permohonannya dikabulkan secara langsung dan seketika? Setelah sekian lama sepeninggalan Nabi Ibrahim a.s. dan orang tidak ada lagi yang mengingat doa itu, nyatanya Tuhan kemudian yang menunjukkan betapa agungnya pengabulan doa tersebut. (Al-Hakim, jld. VII, no. 8, 28 Pebruari 1903, hlm. 1-3).

Ketergesa-gesaan Sifat Manusia

    Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai falsafah doa dan keterkabulannya tersebut sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai “ketergesa-gesaan” orang-orang yang berdoa. Allah Swt. berfirman:
وَ یَدۡعُ الۡاِنۡسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَہٗ  بِالۡخَیۡرِ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ  عَجُوۡلًا ﴿﴾
Dan  manusia mendoa  untuk keburukan dengan amalnya sebagaimana ia mendoa untuk    kebaikan, dan manusia itu sangat tergesa-gesa  (Bani Isrâ’il [17]:12).
       Ungkapan bahasa Arab “Dan  manusia mendoa  untuk keburukan    sebagai-mana ia mendoa untuk kebaikan” itu berarti bahwa demikianlah keadaan manusia, pada satu pihak dengan ucapan-ucapan ia mendoa kepada Allah Swt.  supaya diberi kebaikan, tetapi pada pihak lain dengan perbuatannya yang buruk ia mengundang kemurkaan dan hukum-an Allah Swt.. Dengan demikian amal perbuatannya mendustakan ucapan-ucapannya. Ungkapan itu dapat pula diberi arti bahwa “manusia mengundang keburukan seperti layaknya ia mengundang kebaikan”.
       Menurut kedua-dua makna itu ayat ini berarti, bahwa manakala bangsa-bangsa dan orang-orang secara perorangan memperoleh kekayaan dunia dan menaiki jenjang kekuasaan dan pengaruh, mereka cenderung melalaikan kewajiban-kewajiban  dan tanggung-jawab mereka, dan dengan demikian justru di saat-saat lagi berkuasa dan berjaya itulah mereka meletakkan dasar-dasar kehancuran dan kematian mereka di masa kemudian.
     Ayat ini dapat pula berarti, bahwa manusia mengundang keburukan datang kepadanya dengan semangat dan kegigihan yang sama seperti Allah memanggilnya kepada kebaikan. Dalam keadaan demikian, perbuatan memanggil kepada kebaikan hendaknya dianggap sebagai dinisbahkan kepada Allah Swt. sedangkan “manusia mendoa  untuk keburukan”  hubungannya dengan perbuatannya sendiri. Contohnya adalah ketidakbersyukuran kaum Saba  dan akibat buruk yang  menimpanya (QS.34:16-22). Itulah makna  firman-Nya:
وَ یَدۡعُ الۡاِنۡسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَہٗ  بِالۡخَیۡرِ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ  عَجُوۡلًا ﴿﴾
Dan  manusia mendoa  untuk keburukan dengan amalnya sebagaimana ia mendoa untuk    kebaikan, dan manusia itu sangat tergesa-gesa.  (Bani Isrâ’il [17]:12).
Firman-Nya lagi: 
خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ مِنۡ عَجَلٍ ؕ سَاُورِیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  فَلَا  تَسۡتَعۡجِلُوۡنِ ﴿﴾
Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa, segera Aku akan  per-lihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku, maka janganlah kamu minta kepada-Ku mempercepat kedatangannya.  (Al-Anbiyâ’ [21]:38). 
      Ungkapan, khuliqal insānu min ‘ajal, mengandung arti  bahwa sifat tergesa-gesa merupakan bagian wujud manusia, dan bahwa sifat itu merupakan corak yang begitu penting dalam wataknya, sehingga dapat dikatakan bahwa seolah-olah manusia dijadikan dari “ketergesa-gesaan”, yaitu manusia menurut fitratnya suka tergesa-gesa.

Kerugian  Orang yang Tergesa-gesa Berkenaan   Pengabulan Doa

      Bila orang-orang Arab ingin menyatakan suatu sifat pembawaan utama seseorang, mereka berkata: Khuliqa minhu artinya “ia telah dijadikan dari itu”. Ungkapan-ungkapan serupa itu dipergunakan pula di tempat-tempat lain dalam Al-Quran (QS.7:13; QS.30:55). Dalam makna itu pula sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam”, yakni bukan dalam makna harfiah sebagaimana umumnya salah difahami.
    Rasalullah saw. bersabda:  “Tidak tergesa-gesa (ketenangan) datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan” (Al-Baihaqi).
      Rasalullah saw.  bersabda:  “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: (1) Akan dipercepat pengabulan doanya, atau (2) akan dipersiapkan (disimpan) untuknya di akhirat, atau (3) dihindarkan dia dari bahaya yang semisal dengannya”. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)”. Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pemberiannya)”. Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid, dan haditsnya shahih dengan beberapa pendukung: dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit riwayat At-Tirmidzy dan Al-Hakim, dan juga dari Abu Hurairah riwayat Ahmad dan selainnya.
     Rasulullah saw. bersabda: “Senantiasa (doa) seorang hamba dikabulkan selama dia tidak memohon suatu dosa, memutus silaturahmi dan tidak tergesa-gesa.” Rasalullah saw. ditanya, “Apa arti tergesa-gesa (dalam berdoa)?” Beliau saw. menjawab, “Orang yang berdoa tersebut mengatakan, ‘Saya telah berdoa. Dan saya benar-benar telah berdoa, tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan doaku.’ Kemudian dia berhenti berdoa dan meninggalkannya (HR. Muslim 2735/92)

Dua Cara (Jenis) Pengabulan Doa

        Lebih jauh Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan  mengenai dua cara pengabulan doa oleh Allah Swt.:
      “Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua cara (jenis), yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan tersebut tidak mengindikasikan keridhaan hakiki dan lebih banyak merupakan cobaan.
     Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur statusnya itu mewujud dalam dirinya.  Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya.
      Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah  pada pengabulan doa yang merupakan cobaan tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang bertakwa dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak akan memberitakan  pengabulan doanya secara khusus.
    Adapun pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:
     Pertama, si pemohon adalah seorang yang bertakwa, jujur dan sempurna.
     Kedua, si pemohon akan menerima berita tentang pengabulan doanya melalui firman Tuhan.    
     Ketiga, sebagian besar dari doa-doa yang diajukan tersebut bermutu tinggi dan berkaitan dengan masalah-masalah besar dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
     Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak.
     Seringkali terjadi seorang pemohon yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa, sehingga jika yang bersangkutan adalah orang biasa, ia tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri
       Banyak terjadi dimana mereka yang cenderung pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri.
     Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara istimewa karena kekuatan keimanan dan hubungannya yang dekat kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa, sehingga kalbu orang yang menyadari hal demikian akan langsung mengakui bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
     Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia Ilahi dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal, sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah Yang Maha Agung:
تَعۡرِفُ فِیۡ  وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ  النَّعِیۡمِ
“Engkau dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu” (Al-Tathfif [83]:25)
dan:
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا  ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ
“Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita  (Yunus [10]:63).
(Tasdiqun Nabi, hlm. 43-45 atau Maktubati Ahmadiyya, jld. III, hlm.  75-77).

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 3 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar