Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
CARA BERDOA
YANG MAQBUL (DIKABULKAN) & KETERGESA-GESAAN
MANUSIA BERKENAAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.
Bab 14
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam Bab 13 sebelumnya telah
dijelaskan firman
Allah Swt. berkenaan makna ucapan: مَتٰی نَصۡرُ
اللّٰہِ --
“Kapankah pertolongan Allah?”,
firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا
یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ
الۡبَاۡسَآءُ وَ الضَّرَّآءُ وَ
زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی
نَصۡرُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ
اللّٰہِ قَرِیۡبٌ ﴿﴾
Ataukah kamu
menganggap bahwa kamu akan masuk
surga padahal belum datang kepada kamu
seperti keadaan orang-orang yang telah
berlalu sebelummu? مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ
وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا -- Kesusahan
dan kesengsaraan menimpa mereka dan mereka digoncang dengan hebat, حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی
نَصۡرُ اللّٰہِ -- sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya akan berkata: “Kapankah pertolongan Allah?” اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ -- Ketahuilah,
sesungguhnya pertolongan Allah dekat (Al-Baqarah [215).
Bukan Tanda “Keputus-asaan”
Melainkan Cara Memohon Kepada Allah
Swt.
Penerimaan ajaran
Islam bukan sesuatu yang mudah
dan orang-orang Islam diperingatkan bahwa mereka akan terpaksa melalui cobaan, ujian, dan kesengsaraan yang berat dalam berjihad di jalan Allah sebelum mereka
dapat berharap mencapai cita-cita agung mereka sebagai “umat terbaik”
yang dijadikan bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Teriakan penuh kerawanan minta pertolongan
dalam kata-kata: مَتٰی نَصۡرُ اللّٰہِ -- “Kapankah pertolongan Allah?” Tidak
berarti keputus-asaan, sebab sikap putus-asa di pihak seorang nabi
Allah dan para pengikutnya adalah
sesuatu yang tidak masuk akal, karena
tidak sesuai dengan iman sejati (QS.12:88).
Kata-kata itu sesungguhnya merupakan doa
— satu cara memohon kepada Allah Swt.
dengan sungguh-sungguh agar cepat-cepat menurunkan pertolongan-Nya.
Keadaan yang
dialami oleh para rasul Allah dan
para pengikutnya yang setia di jalan Allah -- termasuk di Akhir Zaman ini -- merupakan
keadaan “keteraniayaan” yang dapat
mengundang “pengabulan doa”
dengan cepat oleh Allah Swt..
Itulah sebabnya Nabi Besar Muhammad saw telah memperingatkan para sahabat beliau
saw. – dan umumnya umat Islam -- agar mereka berhati-hati
terhadap “doa orang yang teraniaya” siapa pun mereka itu -- karena Allah Swt. pasti akan mengabulkan pengaduan mengenai keteraniayaannya.
Berikut adalah sabda-sabda Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pengabulan
doa oleh Allah Swt. yang memiliki hubungannya dengan “keteraniayaan”:
Dari
Mu’adz bin Jabal r.a. bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah
kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan
Allah (untuk mengabulkan)” [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38).
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Doanya orang yang teraniaya terkabulkan,
apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri
sendiri” (Musnad Ahmad 2/367).
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: “Tiga orang
yang doanya pasti terkabulkan: (1) doa
orang yang teraniaya; (2) doa
seorang musafir dan (3) doa orang tua terhadap anaknya” (Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Do’a bi dhahril- ghaib 2/89).
Dari Anas bin Malik r.a. dia berkata
bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Tiga
doa yang tidak ditolak: (1); doa orang tua terhadap anaknya, (2) doa
orang yang sedang berpuasa dan (3) doa
seorang musafir” (Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab siyam lil Istisqa’ 3/345).
Tatakrama Berdoa Agar Terkabul
Sehubungan dengan doa dan pengabulannya oleh Allah Swt. tersebut,
Masih Mau’ud a.s. lebih jauh
menjelaskan mengenai tatakrama
berdoa agar dapat mengundang “pengabulan” Allah Swt.:
“Doa adalah suatu hal yang sangat indah. Sayang sekali mereka
yang berdoa tetapi tidak memahami cara berdoa yang benar, apalagi mengetahui
cara-cara pengabulan doa.
Bagi mereka ini realitas doa
merupakan suatu hal yang asing.
Bahkan ada dari antara mereka yang sama sekali menyangkal
efektivitas (pengaruh) doa.
Ada pula mereka yang tidak menyangkal, namun karena doa mereka tidak dikabulkan -- akibat dari kurangnya
pemahaman cara berdoa dan bahkan bukan seorang pendoa yang benar -- maka
sebenarnya keadaan mereka lebih buruk lagi daripada mereka
yang menyangkal efektivitas doa. Keadaan seperti itulah yang telah mendorong banyak dari mereka ke arah atheisme.
Persyaratan pertama untuk berdoa
adalah si pemohon jangan sampai jemu dan putus
asa karena tidak ada suatu apa pun yang terjadi. Terkadang ada yang mendoa terus sampai sudah akan dikabulkan, tetapi si pemohon kemudian menjadi
jemu dan
hasilnya mengecewakan serta menimbulkan frustrasi.
Frustrasi muncul sebagai akibat dari keraguan atas efektivitas suatu doa dan berakhir menjadi penyangkalan terhadap Tuhan. Mereka menyatakan, jika memang ada Tuhan yang menerima
doa-doa manusia, kenapa doa mereka
tidak dikabulkan padahal mereka
sudah lama memohonkannya?
Tidak Tergesa-gesa
& Tekun dan Teguh hati (Istiqamah)
Kalau saja mereka yang berfikir demikian itu
mau merenungi kurangnya keteguhan hati mereka, mereka akan menyadari bahwa frustrasi
mereka
itu adalah hasil dari ketergesaan dan ketidak-sabaran
mereka
sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan pandangan salah terhadap kekuatan
Allah Swt.
dan berakhir dengan keputus-asaan, karena itu janganlah
pernah jemu.
Berdoa itu sama seperti petani yang menebar benih. Ia menyesapkan benih yang
bagus ke dalam tanah dan pada
saat itu siapa yang bisa memperkirakan apakah
benih itu akan tumbuh baik
dan memberikan hasil? Orang luar dan
si penanam itu sendiri tidak bisa
melihat bagaimana benih itu di dalam tanah mengambil bentuk
sebagai tanaman. Realitasnya dalam waktu beberapa hari, benih
itu berubah dan mengambil bentuk sebagai tanaman yang tunasnya
menyembul ke permukaan tanah dan terlihat
oleh siapa pun.
Sejak
saat ditanam sebenarnya benih
itu telah mengadakan persiapan untuk menjadi tanaman, namun mata
kita
yang hanya bisa melihat suatu yang kasat
mata tidak menyadarinya sampai kecambah
benih muncul di atas permukaan tanah. Seorang anak yang awam pada tahapan demikian tidak bisa
memahami bahwa tanaman tersebut akan
memberikan hasil hanya pada saatnya berbuah, ia menginginkan tanaman
tersebut langsung menghasilkan buah.
Seorang penanam yang cerdas
lebih mengetahui kapan saatnya tanaman itu akan memberikan
hasil.
Ia akan menjaganya secara tekun dan merawatnya hingga waktunya tanaman itu menghasilkan
buah
sampai saat matangnya. Begitu
juga halnya dengan berdoa yang harus
dirawat
dengan cara sama sampai membuahkan hasil. Mereka yang selalu tergesa-gesa akan cepat
jemu
dan menyerah, sedangkan mereka yang tekun akan berteguh
hati (istiqamah) sampai mencapai sasaran.
Berbagai Tahapan
Cara Berdoa & Penderitaan Mengandung Bayi
Sesungguhnya ada beberapa tahapan
dalam cara berdoa, yang jika tidak diketahui akan meluputkan si
pemohon
dari buah hasil doanya. Mereka selalu merasa tergesa dan tidak
sabar
menunggu, padahal kinerja Allah Swt. selalu mengikuti proses tertentu.
Tidak pernah terjadi ada manusia
yang menikah hari ini lalu keesokan
harinya sudah mendapat seorang anak. Meski pun Tuhan itu Maha Kuasa dan bisa melakukan apa pun
yang diinginkan-Nya, namun tetap saja Dia
akan mengikuti kaidah
dan sistem yang telah diterapkan-Nya
sendiri.
Pada tahapan
awal dari proses kandungan seorang
anak, tidak ada suatu apa pun yang terlihat
seperti halnya perawatan tanaman. Selama empat
bulan pertama belum ada kepastian.
Baru kemudian terasa ada gerakan dan
setelah waktunya yang penuh barulah anak itu lahir dengan cara
yang sulit. Kelahiran anak itu
sepertinya memberikan kehidupan baru kepada ibunya.
Susah bagi seorang laki-laki membayangkan kesulitan
yang harus dialami seorang wanita selama masa mengandung, tetapi nyatanya kelahiran anak tersebut seolah memberi kehidupan
baru
bagi sang ibu. Ia bersedia mati
guna kegembiraan telah melahirkan anaknya.
Begitu juga halnya dengan seorang pendoa dimana ia
harus meninggalkan ketergesaan dan bersedia menanggung semua
kesulitan
dan jangan pernah membayangkan bahwa
doanya tidak diterima. Pada saatnya yang tepat nanti hasil doa akan mewujud sebagaimana seorang
anak
yang menjadi dambaan telah lahir.
Suatu doa harus terus
ditekuni sampai memberikan hasil yang diharapkan. Kalian tentunya tahu jika sepotong kain perca ditaruh di bawah suryakanta (kaca pembesar) di bawah sinar
matahari, maka sinar yang terpusat akan menaikkan suhu sampai suatu titik
yang membakar perca
tersebut. Begitu juga caranya dalam membawa doa sampai kepada titik yang memberikan kekuatan
yang membakar segala
kegagalan dan frustrasi serta mencapai
hasil yang
diharapkan.
Jangan Memaksakan
Kehendak Kepada Allah Swt.
Kalian harus berdoa dalam waktu
yang panjang barulah Tuhan akan memanifestasikan hasilnya. Adalah pengalamanku
sendiri
yang juga sama dengan pengalaman orang-orang
bertakwa di masa lalu, bahwa biasanya
jika diawali dengan kesunyian untuk jangka waktu lama maka ada
harapan permohonan doa itu dikabulkan, tetapi jika ada responsi (tanggapan) segera maka hasilnya
tidak pasti menguntungkan si
pemohon.
Manakala seorang pengemis mendatangi seseorang
dan memohon dengan rendah hati dan tekun serta tidak
pindah dari tempatnya duduk -- meski
telah diusir -- untuk terus saja
memohon
maka yang dimintai walaupun ia bersifat kikir pada akhirnya akan tergugah untuk memberikan sesuatu. Tidakkah sepatutnya
seorang pemohon doa juga memiliki
ketekunan
sebagai seorang pengemis?
Ketika Allah Yang Maha Kuasa dan Maha
Pemurah melihat hamba-Nya yang
lemah bersujud
demikian lama di hadirat-Nya, Dia pasti tidak akan
membiarkan hamba-Nya
itu merugi.
Bila seorang wanita hamil setelah 4 atau
5 bulan menjadi tidak
sabaran
untuk melihat anaknya dan mengupayakan melahirkan cepat dengan bantuan obat-obatan, maka bukan
saja anaknya tidak akan lahir hidup tetapi ia
sendiri juga akan mengalami kekecewaan berat. Begitu pula dengan orang-orang
yang tidak sabar melihat hasil sebelum waktunya, bukan saja ia
akan merugi
tetapi juga membahayakan keimanannya sendiri. Dalam keadaan demikian itu orang lalu
menjadi atheis.
Pentingnya Memiliki Ketakwaan
Dulu ada seorang tukang kayu
di desa kami yang isterinya sakit
dan kemudian meninggal dunia. Ia
mengatakan bahwa jika ada Tuhan, tentunya
semua doanya akan dikabulkan dan
isterinya tidak harus mati. Karena
itulah ia kemudian menjadi atheis. Seorang saleh
yang melaksanakan kesetiaan dan ketulusan, maka keimanannya menjadi bertambah
baik dan ia akan mencapai hasil yang diharapkan.
Kekayaan duniawi ini tidak ada artinya dalam pandangan Allah Yang Maha Perkasa. Dia bisa melakukan apa
pun setiap saat. Tidakkah kalian melihat bagaimana Dia menganugrahkan kerajaan kepada umat yang tadinya sama
sekali tidak dikenal
dan menjadikan kerajaan-kerajaan besar tunduk
kepada mereka serta
telah menjadikan hamba sahaya menjadi raja-raja?
Seorang bertakwa yang menjadikan
dirinya milik Tuhan
semata, akan memperoleh kehidupan luhur sepanjang ia
tulus dan teguh hati.
Hatinya tidak boleh guncang atau riya (memegahkan diri) atau pun syirik.
Apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim a.s.
diakui sebagai bapak bangsanya dan bapak dari para pengikut
Tuhan
serta dianugrahi demikian banyak berkat atas dirinya? Adalah ketakwaan dan ketulusan beliau itulah.
Nabi Ibrahim a.s. telah mengajukan permohonan doa kepada Tuhan agar muncul seorang nabi di Arab dari antara keturunan
beliau. Apakah permohonannya
dikabulkan secara langsung dan seketika? Setelah sekian lama sepeninggalan
Nabi Ibrahim a.s. dan orang tidak
ada lagi yang mengingat doa itu,
nyatanya Tuhan kemudian yang
menunjukkan betapa agungnya pengabulan doa
tersebut.” (Al-Hakim, jld. VII, no. 8, 28 Pebruari 1903, hlm. 1-3).
Ketergesa-gesaan Sifat Manusia
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai falsafah
doa dan keterkabulannya tersebut
sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai “ketergesa-gesaan” orang-orang yang berdoa. Allah Swt. berfirman:
وَ یَدۡعُ الۡاِنۡسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَہٗ بِالۡخَیۡرِ ؕ وَ کَانَ
الۡاِنۡسَانُ عَجُوۡلًا ﴿﴾
Dan manusia
mendoa untuk keburukan dengan amalnya sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan, dan manusia itu sangat tergesa-gesa (Bani Isrâ’il [17]:12).
Ungkapan bahasa Arab “Dan manusia
mendoa untuk keburukan sebagai-mana ia mendoa untuk kebaikan” itu
berarti bahwa demikianlah keadaan manusia, pada satu pihak dengan ucapan-ucapan ia mendoa kepada Allah Swt. supaya diberi
kebaikan, tetapi pada pihak lain dengan perbuatannya
yang buruk ia mengundang kemurkaan
dan hukum-an Allah Swt.. Dengan demikian amal
perbuatannya mendustakan ucapan-ucapannya.
Ungkapan itu dapat pula diberi arti bahwa “manusia
mengundang keburukan seperti layaknya ia mengundang kebaikan”.
Menurut kedua-dua makna itu ayat ini berarti,
bahwa manakala bangsa-bangsa dan orang-orang secara perorangan memperoleh
kekayaan dunia dan menaiki jenjang kekuasaan dan pengaruh, mereka cenderung melalaikan
kewajiban-kewajiban dan tanggung-jawab mereka, dan dengan
demikian justru di saat-saat lagi berkuasa
dan berjaya itulah mereka meletakkan dasar-dasar kehancuran dan kematian mereka di masa kemudian.
Ayat ini dapat pula berarti,
bahwa manusia mengundang keburukan
datang kepadanya dengan semangat dan kegigihan yang sama seperti Allah memanggilnya kepada kebaikan.
Dalam keadaan demikian, perbuatan
memanggil kepada kebaikan hendaknya dianggap sebagai dinisbahkan kepada Allah Swt. sedangkan “manusia mendoa untuk keburukan” hubungannya dengan perbuatannya sendiri. Contohnya adalah ketidakbersyukuran kaum Saba dan akibat buruk yang menimpanya (QS.34:16-22). Itulah makna firman-Nya:
وَ یَدۡعُ الۡاِنۡسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَہٗ بِالۡخَیۡرِ ؕ وَ کَانَ
الۡاِنۡسَانُ عَجُوۡلًا ﴿﴾
Dan manusia
mendoa untuk keburukan dengan
amalnya sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan,
dan manusia itu sangat
tergesa-gesa. (Bani Isrâ’il [17]:12).
Firman-Nya
lagi:
خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ مِنۡ عَجَلٍ ؕ سَاُورِیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ فَلَا
تَسۡتَعۡجِلُوۡنِ ﴿﴾
Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa, segera Aku akan
per-lihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku, maka janganlah kamu minta kepada-Ku mempercepat kedatangannya. (Al-Anbiyâ’ [21]:38).
Ungkapan, khuliqal insānu min
‘ajal, mengandung arti bahwa sifat tergesa-gesa merupakan bagian
wujud manusia, dan bahwa sifat itu
merupakan corak yang begitu penting
dalam wataknya, sehingga dapat
dikatakan bahwa seolah-olah manusia dijadikan dari “ketergesa-gesaan”, yaitu manusia menurut fitratnya suka tergesa-gesa.
Kerugian Orang yang Tergesa-gesa Berkenaan Pengabulan
Doa
Bila orang-orang Arab ingin
menyatakan suatu sifat pembawaan utama seseorang, mereka berkata: Khuliqa
minhu artinya “ia telah dijadikan
dari itu”. Ungkapan-ungkapan serupa itu dipergunakan pula di tempat-tempat
lain dalam Al-Quran (QS.7:13; QS.30:55). Dalam makna itu pula sabda Nabi Besar
Muhammad saw. bahwa “Hawa diciptakan dari
tulang rusuk Adam”, yakni bukan dalam makna
harfiah sebagaimana umumnya salah difahami.
Rasalullah saw. bersabda: “Tidak tergesa-gesa (ketenangan) datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan”
(Al-Baihaqi).
Rasalullah saw. bersabda:
“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa
dengan sebuah doa yang tidak
mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: (1) Akan dipercepat
pengabulan doanya, atau (2) akan dipersiapkan
(disimpan) untuknya di akhirat, atau
(3) dihindarkan dia dari bahaya yang semisal dengannya”. Mereka
(para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa)”. Beliau
menjawab, “Allah lebih banyak
(pemberiannya)”. Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad
yang jayyid, dan haditsnya shahih dengan beberapa pendukung: dari ‘Ubadah bin
Ash-Shomit riwayat At-Tirmidzy dan Al-Hakim, dan juga dari Abu Hurairah
riwayat Ahmad dan selainnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Senantiasa (doa) seorang hamba dikabulkan selama dia tidak memohon suatu dosa, memutus silaturahmi
dan tidak tergesa-gesa.” Rasalullah
saw. ditanya, “Apa arti tergesa-gesa (dalam berdoa)?”
Beliau saw. menjawab, “Orang yang berdoa
tersebut mengatakan, ‘Saya telah berdoa.
Dan saya benar-benar telah berdoa, tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan
doaku.’ Kemudian dia berhenti berdoa
dan meninggalkannya (HR. Muslim
2735/92)
Dua Cara (Jenis) Pengabulan
Doa
Lebih
jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai dua cara pengabulan doa oleh Allah Swt.:
“Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua
cara (jenis), yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa
dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan tersebut tidak
mengindikasikan keridhaan hakiki dan
lebih banyak merupakan cobaan.
Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur
statusnya itu
mewujud dalam dirinya. Tuhan tidak
akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya
mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya
termasuk orang-orang yang takwa dan patuh
kepada-Nya.
Perbedaan
di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah pada pengabulan
doa yang merupakan cobaan
tidak ada persyaratan bahwa si
pemohon adalah seorang bertakwa dan sahabat
Tuhan,
dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak
akan memberitakan pengabulan doanya secara khusus.
Adapun
pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:
Pertama,
si pemohon adalah seorang yang bertakwa,
jujur dan sempurna.
Kedua,
si pemohon akan menerima berita tentang pengabulan
doanya melalui firman Tuhan.
Ketiga,
sebagian besar dari doa-doa yang
diajukan tersebut bermutu tinggi dan
berkaitan dengan masalah-masalah besar
dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan
berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan
doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak.
Seringkali terjadi seorang pemohon
yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa, sehingga jika yang
bersangkutan adalah orang biasa, ia
tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri.
Banyak
terjadi dimana mereka yang cenderung
pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat
dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri.
Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara
istimewa
karena kekuatan keimanan dan hubungannya
yang dekat
kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa, sehingga kalbu orang yang menyadari
hal demikian akan langsung mengakui
bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia
Ilahi
dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal, sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan
serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah Yang Maha Agung:
تَعۡرِفُ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ النَّعِیۡمِ
“Engkau
dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu” (Al-Tathfif [83]:25)
dan:
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ
اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
“Ingatlah, sesungguhnya teman-teman
Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan
berdukacita (Yunus
[10]:63).
(Tasdiqun Nabi,
hlm. 43-45 atau Maktubati Ahmadiyya,
jld. III, hlm. 75-77).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 3 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar