Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
21
PENGABULAN DOA (IBADAH)
MERUPAKAN BUKTI KEBERADAAN-NYA SERTA PENGAKUAN ALLAH SWT. & “KEMUSLIMAN” SEMPURNA NABI
BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan khasiat shalat tahajjud serta doa yang diajarkan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. menjelang hijrah dari Mekkah ke Madinah,
sehingga arah angin pun berubah
yakni pihak Nabi Besar Muhammad saw. -- yang
sebelumnya menjadi pihak yang dizalimi
-- berubah menjadi pihak yang terus
menerus meraih berbagai kesuksesan
dalam setiap peperangan
(QS.17:81-82), sampai akhirnya terjadi peristiwa Fatah Makkah, dimana Nabi Besar Muhammad saw. yang beberapa tahun
sebelumnya dipaksa untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah
(QS.8:31) kemudian kembali kekota Mekkah sebagai seorang “Penakluk Agung” yang disertai 10.000 orang pengikut setianya, sehingga menggenapi nubuatan dalam Bible:
“Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung
Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus.” (Deut – Ulangan 33:22).
Firman-Nya:
وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ
صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ
سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dan
katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah aku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong.” وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ
ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan katakanlah: ”Haq (kebenaran) telah datang dan kebatilan (kepalsuan) telah
lenyap, sesungguhnya kebatilan
itu pasti lenyap.” (Bani
Israil [17]:81-82).
Perumpamaan
Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Taurat
dan Injil
Sehubungan
dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai perumpamaan
dalam Taurat dan Injil:
مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ
اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا
سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫
سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ
فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ
فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ
اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ
فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu
adalah Rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara mereka, engkau melihat mereka rukuk serta sujud
mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ
وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ -- ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada wajah
mereka dari bekas-bekas sujud. ٰلِکَ
مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,
وَ
مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ
-- dan perumpamaan
mereka dalam Injil adalah laksana
tanaman yang mengeluarkan tunasnya,
kemudian menjadi kuat, kemudian
menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya supaya Dia membangkitkan amarah orang-orang kafir
dengan perantaraan itu. وَعَدَ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
-- Allah telah menjanjikan kepada orang-orang
yang beriman dan berbuat amal saleh
di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar (Al-Fath
[48]:30).
Kata-kata, “Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,”
dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni: “Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya
dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini
dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa
Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab
Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined
forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang
artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan
cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus”
(Deut. 33:2).
Dan
ungkapan کَزَرۡعٍ وَ مَثَلُہُمۡ فِی
الۡاِنۡجِیۡلِ -- “Dan
perumpamaan mereka dalam Injil adalah laksana tanaman,“ dapat ditujukan
kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah seorang penabur keluar
hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan,
lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh
di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera
benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik,
layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di
tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada
pula se-paruh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang
seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8).
Perumpamaan yang pertama dalam Taurat
nampaknya dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dan perumpamaan
yang kedua dalam Injil dikenakan kepada para pengikut
rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.43:58) yaitu Masih Mau’ud a.s., sebagaimana dikemukakan dalam QS.63:3-4, yang berangkat dari suatu permulaan yang
sangat kecil dan tidak berarti telah ditakdirkan berkembang menjadi suatu organisasi
perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia, sehingga Islam akan mengungguli dan menang atas
semua agama, dan lawan-lawannya
akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan dan pa-mornya,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Menarik Perhatian
Allah Swt. Melalui Doa & Ke-Muslim-an
Sempurna Nabi Besar Muhammad saw.
Jadi,
betapa pentingnya peran doa dalam kesuksesan yang diraih oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dalam menegakkan syariat
Islam (Al-Quran), bahkan dalam sunnah dan hadits-hadits shahih Nabi Besar Muhammad saw. diketahui bahwa semua aktifitas kehidupan manusia telah diajarkan doa-doa yang disunnahkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga
melalui sunnah beliau
saw. (QS.3:32; QS.33:22) semua aktifitas kehidupan manusia
bernilai ibadah kepada Allah Swt., firman-Nya kepada beliau saw.:
قُلۡ
اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ
اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا -- agama
yang teguh, agama Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ
مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupan-ku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh alam;
لَا شَرِیۡکَ
لَہٗ ۚ -- Tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
-- untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri. (Al-An’ām
[6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan manusia;
dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt., semua pengorbanan
dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk
berbakti kepada-Nya, maka jika di jalan agama beliau saw. mencari kematian maka itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Jadi, Nabi
Besar Muhammad saw. benar-benar
seorang Muslim yang kāffah (seutuhnya) dalam kualitasnya yang paling
sempurna, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ
کَآفَّۃً ۪ وَ لَا تَتَّبِعُوۡا
خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ ؕ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ کَآفَّۃً
-- masuklah kamu ke dalam kepatuhan seutuhnya
dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan,
sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata
bagimu. Tetapi jika
kamu tergelincir sesudah datang kepada kamu Tanda-tanda yang nyata, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Baqarah [2]:209).
Kāffah berarti: (1) semuanya; (2)
seutuhnya atau selengkapnya; (3) memukul mundur musuh dan (4) menahan diri
sendiri atau orang lain dari dosa dan penyelewengan (Mufradat).
Meng-ibadah-kan Semua Aktifitas
Kehidupan Manusia
Dengan kata lain, seluruh aktifitas Nabi Besar Muhammad saw.
benar-benar dipenuhi dengan doa-doa,
dan mengenai pentingnya peran doa-doa kepada Allah Swt. tersebut selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Belum
cukupkah bukti yang menyatakan bahwa
sejak awal mula merupakan ketetapan kaidah keruhanian
Ilahi
bahwa perhatian Tuhan bisa ditarik
melalui doa sehingga diperoleh kepuasan dan kemakmuran hakiki? Bilamana dalam usaha
mencapai suatu tujuan di dalamnya tidak
mengandung suatu kesalahan maka kita akan memperoleh tujuan
tersebut. Hanya saja jika kita salah dalam mengajukan
permohonan dalam
doa -- seperti
misalnya anak kecil yang meminta ular berbisa atau api menyala kepada ibunya -- Allah Swt. akan memberikan gantinya yang lebih
baik.
Dalam kedua
keadaan tersebut Dia meneguhkan keimanan kita dan memberikan kesempatan untuk lebih mengetahui sesuatu sebelum terjadi,
ditambah meningkatnya kepastian seolah-olah telah menyaksikan Wujud Tuhan sendiri.
Sesungguhnya terdapat keterkaitan
di antara doa dan pengabulan sejak awal
manusia diciptakan. Ketika Allah Swt. bermaksud melakukan
suatu hal tertentu maka sudah menjadi
cara-Nya
bahwa terdapat adanya hamba Allah yang
saleh
yang menyibukkan dirinya dengan berdoa dalam keresahan
dan kegalauan serta membaktikan seluruh perhatian dan niatnya bagi pencapaian
tujuan
tersebut. Berdasar doanya itu manusia menarik
karunia rahmat Ilahi
dari surga dan Tuhan akan menciptakan sarana-sarana baru guna pencapaian
tujuan dimaksud.
Meskipun doa bersangkutan diajukan
oleh manusia,
sebenarnya ia telah larut dalam
Tuhan-nya, dan pada saat mengajukan
permohonannya ia
itu telah tiba di hadirat Yang Maha Esa dalam keadaan fana (larut)
dalam Tuhan, dimana saat
itu tangannya lalu menjadi
Tangan Tuhan.
Demikian itulah bentuk doa yang melaluinya
manusia bisa mengakui Tuhan-nya dimana eksistensi-Nya
(keberadaan-Nya)
yang terselubung 1000 tirai sekarang menjadi bisa dikenali.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIV, hlm. 238-239,
London, 1984).
Kemudian sehubungan dengan pendapat keliru orang-orang yang bodoh mengenai manfaat
besar doa, lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi:
“Orang
bodoh
akan beranggapan bahwa doa itu sia-sia dan tak
ada gunanya.
Ia tidak mengetahui bahwa justru melalui
doa Allah Yang Maha Agung memanifestasikan (menyatakan) Wujud-Nya kepada para
pencari-Nya, dan menyampaikan
ke dalam kalbu mereka ilham
bahwa “Aku inilah yang Maha Kuasa.”
Barangsiapa yang lapar dan haus akan kepastian perlu selalu mengingat
bahwa doa adalah satu-satunya sarana yang bisa memberikan
keyakinan akan kepastian eksistensi (keberadaan) Tuhan yang akan memupus
semua keraguan
dan kecurigaan dari para pencari nur ruhani di dunia ini.”
(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIV, hlm. 239-240, London, 1984).
Firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا
دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada
engkau mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa orang yang
berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,
karena itu hendaklah mereka menyambut
seruan-Ku dan beriman kepada-Ku
supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah
[2]:187).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالَ
رَبُّکُمُ ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِیۡ
سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Rabb (Tuhan) kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku Aku akan me-ngabulkan bagi kamu.” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri untuk beribadah kepada-Ku, mereka segera akan
masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan
terhina.” (Al-Mu’mīn [40]:61).
Empat Alasan Mengapa Doa
(Shalat) Diwajibkan & Tanda Pertama Orang Bertakwa
”Beriman Kepada yang Gaib”
Sehubungan
dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai empat alasan mengapa doa (Shalat) diwajibkan dalam ajaran Islam (Al-Quran):
“Patut
diketahui bahwa doa (shalat) diwajibkan bagi umat
Muslim
menurut firman Ilahi berdasarkan 4 pertimbangan:
Pertama, dengan cara selalu berpaling kepada Tuhan-nya setiap saat dan dalam keadaan apa pun, maka manusia meyakini sepenuhnya akan Ketauhidan
Ilahi karena
dengan memohon kepada-Nya maka yang bersangkutan jadinya mengakui hanya Tuhan saja yang dapat mengabulkan
harapan
seseorang.
Kedua, keimanan akan dikuatkan
melalui pengabulan doa
dan tercapainya tujuan yang diharapkan.
Ketiga, dengan beranekanya bentuk rahmat maka pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi ditingkatkan.
Keempat, jika seseorang diberitahukan tentang
pengabulan doa
melalui kasyaf atau wahyu yang kemudian terpenuhi, maka pemahaman
akan Samawi
menjadi ditingkatkan dimana pemahaman itu akan berkembang menjadi
kepastian.
Adapun
kepastian berkembang pula menjadi kecintaan dan melalui kecintaan inilah maka yang
bersangkutan akan terbebas
dari segala dosa serta melepaskan
diri
dari segala sesuatu selain Allah Swt. dan inilah yang merupakan intisari keselamatan hakiki.” (Ayyamus Sulh,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm. 242, London, 1984).
Jadi, melalui
pengabulan doa atau shalat
maka segala sesuatu yang sebelumnya
merupakan hal-hal yang bersifat “gaib”
-- yang merupakan salah satu tanda orang-orang bertakwa yakni “beriman kepada yang gaib”
(QS.2:1-6) -- secara bertahap akan menjadi “nyata” (kenyataan) , yaitu dari ilmul- yaqin (keyakinan atas dasar ilmu)
akan meningkat menjadi ‘ainul-yaqin (keyakinan atas dasar
penglihatan) dan kemudian berubah menjadi haqqul-yaqin
(keyakinan yang hakiki atas dasar pengalaman), sebagaimana dikemukakan
dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾ حَتّٰی
زُرۡتُمُ الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾ کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾ کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾ لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ
لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾ ثُمَّ
لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Dalam upaya
memperbanyak kekayaan telah
melalaikan kamu, hingga kamu sampai di kuburan. Sekali-kali tidak, segera kamu akan
mengetahui, Kemudian, sekali-kali
tidak demikian, segera kamu akan mengetahui. کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ
الۡیَقِیۡنِ -- Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui
hakikat itu dengan ilmu yakin,
لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ -- niscaya kamu
akan melihat Jahannam di dunia ini.
ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ -- Kemudian kamu di
akhirat niscaya akan melihatnya dengan
mata yakin. ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ -- Kemudian
pada hari itu kamu pasti akan ditanya mengenai kenikmatan.
(Al-Takatsur
[102]:1-9).
Persaingan Tidak Sehat
Dalam Meraih Kehidupan Duniawi
yang Sangat Merugikan
Ketamakan
dan hasrat berlebihan pada manusia
untuk mengungguli orang lain dalam jumlah kekayaan, kedudukan dan gengsi
merupakan penyebab utama segala kesulitan manusia dan merupakan penyebab kelalaian manusia terhadap nilai-nilai hidup yang lebih tinggi,
yakni untuk melaksanakan ibadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57-59), firman-Nya:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ
مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ
الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ
الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾ قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ
رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa
yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak,
kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Yang demikian itu adalah perlengkapan
hidup di dunia, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ -- dan Allah, di sisi-Nya-lah sebaik-baik tempat
kembali. قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ -- Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ
جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ
اللّٰہِ -- Bagi orang-orang
yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, dan jodoh-jodoh suci
dan keridhaan dari Allah, dan Allāh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali
‘Imran [3]:15-16).
Senada dengan firman Allah Swt. tersebut dalam
surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai kenikmatan kehidupan duniawi yang menipu dan tidak kekal:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ
زِیۡنَۃٌ وَّ تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ
الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا
ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ
مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾ سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan, pengisi waktu,
perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta bersaing
dalam banyaknya harta dan anak. کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ
نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ
مُصۡفَرًّا ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا -- Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya
mengagumkan pa-ra penanamnya kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau
meli-hatnya menjadi kuning lalu menjadi
hancur. وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ -- Dan di
akhirat ada azab sangat keras وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ -- dan ada
ampunan serta keridhan dari Allah. وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ -- Dan sekali-kali
tidaklah kehidupan dunia ini melainkan
kesenangan sementara yang menipu. سَابِقُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- Berlomba-lombalah
kamu dalam mencari ampunan
Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang
nilainya setara dengan nilai
langit dan bumi اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- yang
disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah itu Pemilik karunia yang besar.
(Al-Hadīd
[57]:21-22).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 11 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar