Jumat, 12 Agustus 2016

"Pengabulan Doa" (Ibadah) Merupakan Bukti "Keberadaan" dan "Pengakuan" Allah Swt. & Ke-Muslim-an Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 21


PENGABULAN DOA (IBADAH) MERUPAKAN BUKTI  KEBERADAAN-NYA SERTA  PENGAKUAN  ALLAH SWT.  &  KEMUSLIMAN  SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam     Bab-bab sebelumnya  telah dijelaskan   khasiat shalat tahajjud   serta doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  menjelang hijrah dari Mekkah ke Madinah, sehingga  arah angin  pun  berubah  yakni pihak Nabi Besar Muhammad saw.  --  yang sebelumnya menjadi pihak yang dizalimi  -- berubah menjadi pihak yang terus menerus meraih berbagai kesuksesan dalam setiap peperangan (QS.17:81-82), sampai akhirnya terjadi peristiwa Fatah Makkah,  dimana  Nabi Besar Muhammad saw. yang beberapa tahun sebelumnya dipaksa untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah (QS.8:31)  kemudian  kembali kekota Mekkah sebagai seorang “Penakluk Agung”  yang disertai 10.000 orang pengikut setianya, sehingga menggenapi nubuatan dalam Bible:
Ia nampak  dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus.” (DeutUlangan 33:22).
Firman-Nya:
وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah  aku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --     dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.”  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا   --  Dan katakanlah:  Haq  (kebenaran) telah datang dan kebatilan (kepalsuan) telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” (Bani Israil [17]:81-82).

Perumpamaan Nabi Besar Muhammad Saw.  Dalam Taurat dan Injil

      Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai  perumpamaan dalam Taurat dan Injil:
مُحَمَّدٌ  رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ  فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ  اَخۡرَجَ  شَطۡـَٔہٗ  فَاٰزَرَہٗ  فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu adalah Rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat  keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang  di antara mereka, engkau melihat mereka rukuk serta sujud   mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nyaسِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ  -- ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ  -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,   وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ  -- dan perumpamaan mereka dalam Injil adalah laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya supaya Dia membangkitkan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا  --  Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar (Al-Fath [48]:30).
    Kata-kata, “Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni:  “Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut. 33:2).
  Dan ungkapan کَزَرۡعٍ          وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ  -- “Dan perumpamaan mereka dalam Injil adalah laksana tanaman,“ dapat ditujukan kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah  seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada pula se-paruh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8). 
       Perumpamaan yang pertama  dalam Taurat nampaknya  dikenakan kepada para sahabat  Nabi Besar Muhammad saw.  dan perumpamaan yang kedua  dalam Injil dikenakan kepada para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yaitu  Masih Mau’ud a.s.,   sebagaimana dikemukakan dalam QS.63:3-4,  yang berangkat dari suatu permulaan yang sangat kecil dan tidak berarti telah ditakdirkan berkembang menjadi suatu organisasi perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju  menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia, sehingga Islam akan mengungguli dan menang atas semua agama, dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan dan pa-mornya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai   (Ash-Shaf [61]:10).

Menarik Perhatian Allah Swt.  Melalui Doa   & Ke-Muslim-an  Sempurna Nabi Besar Muhammad saw.

        Jadi, betapa pentingnya peran doa dalam kesuksesan yang diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam menegakkan syariat Islam (Al-Quran), bahkan dalam  sunnah dan hadits-hadits shahih Nabi Besar Muhammad saw.  diketahui bahwa semua aktifitas kehidupan manusia  telah diajarkan  doa-doa yang disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., sehingga  melalui sunnah beliau saw.  (QS.3:32; QS.33:22) semua aktifitas kehidupan manusia bernilai  ibadah kepada Allah Swt., firman-Nya kepada beliau saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurusدِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا --  agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  --  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupan-ku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh  alamلَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ   --        Tidak ada sekutu bagi-Nya,  وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan  Nabi Besar Muhammad saw. diperintah  menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah  Swt.,   semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau  saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka jika di jalan agama beliau  saw. mencari kematian maka   itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
 Jadi, Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar  seorang   Muslim yang kāffah  (seutuhnya) dalam kualitasnya yang paling  sempurna, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ  کَآفَّۃً  ۪ وَ لَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ ؕ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ  کَآفَّۃً    --  masuklah kamu ke dalam kepatuhan seutuhnya dan  janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.   Tetapi jika kamu tergelincir sesudah datang kepada kamu Tanda-tanda yang nyata, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Baqarah [2]:209).
   Kāffah berarti: (1) semuanya; (2) seutuhnya atau selengkapnya; (3) memukul mundur musuh dan (4) menahan diri sendiri atau orang lain dari dosa dan penyelewengan (Mufradat).

Meng-ibadah-kan  Semua Aktifitas Kehidupan Manusia

    Dengan kata lain, seluruh aktifitas Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar dipenuhi dengan doa-doa, dan  mengenai pentingnya peran doa-doa kepada Allah Swt. tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
       “Belum cukupkah bukti yang menyatakan bahwa sejak awal mula merupakan ketetapan kaidah keruhanian Ilahi bahwa perhatian Tuhan bisa ditarik melalui doa sehingga diperoleh kepuasan dan kemakmuran hakiki? Bilamana dalam usaha mencapai suatu tujuan di dalamnya tidak mengandung suatu kesalahan maka kita akan memperoleh tujuan tersebut. Hanya saja jika kita salah dalam mengajukan permohonan dalam doa -- seperti misalnya anak kecil yang meminta ular berbisa atau api menyala kepada ibunya --  Allah Swt. akan memberikan gantinya yang lebih baik.
   Dalam kedua keadaan tersebut Dia meneguhkan keimanan kita dan memberikan kesempatan untuk lebih mengetahui sesuatu sebelum terjadi,  ditambah meningkatnya kepastian seolah-olah telah menyaksikan Wujud Tuhan sendiri.
     Sesungguhnya terdapat keterkaitan di antara doa dan pengabulan sejak awal manusia diciptakan. Ketika Allah Swt. bermaksud melakukan suatu hal tertentu maka sudah menjadi cara-Nya bahwa terdapat adanya hamba Allah yang saleh yang menyibukkan dirinya dengan berdoa dalam keresahan dan kegalauan serta membaktikan seluruh perhatian dan niatnya bagi pencapaian tujuan tersebut. Berdasar doanya itu manusia menarik karunia rahmat Ilahi dari surga dan Tuhan akan menciptakan sarana-sarana baru guna pencapaian tujuan dimaksud.
       Meskipun doa bersangkutan diajukan oleh manusia, sebenarnya ia telah larut dalam Tuhan-nya,  dan pada saat mengajukan permohonannya ia itu telah tiba di hadirat Yang Maha Esa dalam keadaan fana (larut) dalam Tuhan,  dimana saat itu tangannya lalu menjadi Tangan Tuhan.
    Demikian itulah bentuk doa  yang melaluinya manusia bisa mengakui Tuhan-nya dimana eksistensi-Nya (keberadaan-Nya) yang terselubung 1000 tirai sekarang menjadi bisa dikenali.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm.  238-239, London, 1984).
    Kemudian sehubungan dengan pendapat keliru orang-orang yang bodoh mengenai  manfaat besar doa, lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi:
    Orang bodoh akan beranggapan bahwa doa itu sia-sia dan tak ada gunanya. Ia tidak mengetahui bahwa justru melalui doa Allah Yang Maha Agung memanifestasikan (menyatakan) Wujud-Nya kepada para pencari-Nya, dan menyampaikan ke dalam kalbu mereka ilham bahwa “Aku inilah yang Maha Kuasa.”
   Barangsiapa yang lapar dan haus akan kepastian perlu selalu mengingat bahwa doa adalah satu-satunya sarana yang bisa memberikan keyakinan akan kepastian eksistensi (keberadaan) Tuhan yang akan memupus semua keraguan dan kecurigaan dari para pencari nur ruhani di dunia ini.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm. 239-240, London, 1984).
Firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku  maka sesungguhnya Aku dekat.  Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالَ رَبُّکُمُ  ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ اِنَّ  الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِیۡ سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Rabb (Tuhan) kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku  Aku akan me-ngabulkan bagi kamu.” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku, mereka segera  akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan terhina.” (Al-Mu’mīn [40]:61).

Empat Alasan Mengapa Doa (Shalat) Diwajibkan &  Tanda Pertama Orang Bertakwa  ”Beriman Kepada yang Gaib”

      Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  empat alasan mengapa doa (Shalat) diwajibkan dalam ajaran Islam (Al-Quran):
        Patut diketahui bahwa doa (shalat) diwajibkan bagi umat Muslim menurut firman Ilahi berdasarkan 4 pertimbangan:
    Pertama, dengan cara selalu berpaling kepada Tuhan-nya setiap saat dan dalam keadaan apa pun, maka manusia meyakini sepenuhnya akan Ketauhidan Ilahi karena dengan memohon kepada-Nya maka yang bersangkutan jadinya mengakui hanya Tuhan saja yang dapat mengabulkan harapan seseorang.
      Kedua, keimanan akan dikuatkan melalui pengabulan doa dan tercapainya tujuan yang diharapkan.
  Ketiga, dengan beranekanya bentuk rahmat maka pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi ditingkatkan.
    Keempat, jika seseorang diberitahukan tentang pengabulan doa melalui kasyaf atau wahyu yang kemudian terpenuhi, maka pemahaman akan Samawi menjadi ditingkatkan dimana pemahaman itu akan berkembang menjadi kepastian.
     Adapun kepastian berkembang pula menjadi kecintaan dan melalui kecintaan inilah maka yang bersangkutan akan terbebas dari segala dosa serta melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah Swt. dan inilah yang merupakan intisari keselamatan hakiki.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm. 242, London, 1984).
      Jadi, melalui pengabulan doa  atau shalat  maka segala sesuatu yang sebelumnya merupakan hal-hal yang  bersifat “gaib”  -- yang merupakan  salah satu tanda orang-orang bertakwa  yakni “beriman kepada yang gaib” (QS.2:1-6)   --    secara bertahap akan menjadi “nyata” (kenyataan) , yaitu dari ilmul- yaqin (keyakinan atas dasar ilmu) akan meningkat menjadi  ‘ainul-yaqin (keyakinan atas dasar penglihatan) dan kemudian berubah menjadi haqqul-yaqin (keyakinan yang hakiki atas dasar pengalaman), sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾   حَتّٰی زُرۡتُمُ  الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾   کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾  ثُمَّ  کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾  کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾   لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾   ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾  ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Dalam  upaya memperbanyak kekayaan   telah melalaikan kamu,   hingga kamu sampai di kuburan.    Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui,    Kemudian, sekali-kali tidak demikian, segera kamu akan mengetahui.  کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ  -- Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin,  لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ  --    niscaya kamu akan melihat Jahannam di dunia ini.  ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ -- Kemudian kamu di akhirat  niscaya  akan melihatnya dengan mata yakin.  ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ --   Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya  mengenai kenikmatan. (Al-Takatsur [102]:1-9).

Persaingan Tidak Sehat  Dalam Meraih Kehidupan Duniawi yang Sangat  Merugikan

   Ketamakan dan hasrat berlebihan pada manusia untuk mengungguli orang lain dalam jumlah kekayaan, kedudukan dan gengsi merupakan penyebab utama segala kesulitan manusia dan merupakan penyebab kelalaian manusia terhadap nilai-nilai hidup yang lebih tinggi, yakni untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57-59), firman-Nya:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾ قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuananak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perakkuda pilihanbinatang ternak dan sawah ladang. ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  --   Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup  di dunia, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ  -- dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali. قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ     --  Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ --  Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi  Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan jodoh-jodoh suci dan  keridhaan dari Allah, dan Allāh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran [3]:15-16).
      Senada dengan firman Allah Swt. tersebut dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai kenikmatan  kehidupan duniawi yang menipu dan tidak kekal:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ  وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾ سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya  kehidupan dunia ini hanyalah  permainan, pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta  bersaing dalam banyaknya harta dan anak. کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا  -- Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan pa-ra penanamnya kemudian  tanaman itu menjadi kering dan engkau meli-hatnya menjadi kuning lalu  menjadi hancur. وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ   -- Dan di akhirat ada azab sangat keras  وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ  -- dan ada ampunan serta  keridhan dari Allah.  وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ  -- Dan sekali-kali tidaklah  kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu. سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ  --    Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi   اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ    --  yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Pemilik karunia yang besar. (Al-Hadīd [57]:21-22).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 11 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar