Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
HUBUNGAN SHALAT TAHAJJUD DENGAN PEMBUKAAN KHAZANAH RUHANI AL-QURAN DAN “PENAKLUKAN KOTA MEKKAH" (FATAH MAKKAH)
Bab 16
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 15 telah dijelaskan perintah
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.
– Al-Muzzammil -- pentingnya mendirikan shalat
tahajjud guna menunjang suksesnya
perjuangan suci beliau saw. yang sangat berat (QS.33:73-74; QS.94:1-9),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا
الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾ قُمِ الَّیۡلَ
اِلَّا قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ نِّصۡفَہٗۤ
اَوِ انۡقُصۡ مِنۡہُ قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ اَوۡ
زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّا
سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ
نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ
وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Wahai orang
yang berselimut, berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit. Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,
atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ
الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ
اَقۡوَمُ قِیۡلًا -- Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ
لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.
وَ
اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ
اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا -- Maka ingatlah
selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau
kepada-Nya dengan sepenuh
kebaktian (Al-Muzzammil [73]:1-9).
Zammalahu berarti:
ia menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang
diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala,
izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil)
berarti: orang yang terbungkus di
dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid;
Fath-ul-
Qadir; Ruh-ul-
Ma’ani).
Semua arti muzzammil
tersebut sangat tepat dikenakan kepada
Nabi Besar Muhammad saw. sebab di antara
para rasul Allah yang
memakai busana (takwa) takwa yang paling sempurna dalam seginya adalah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, sungguh Kami
telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai perhiasan,
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ -- dan
pakaian takwa itulah yang terbaik, ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ -- yang demikian itu adalah sebagian dari
Tanda-tanda Allah, supaya mereka mendapat nasihat (Al-A’rāf
[7]:27).
Hubungan Shalat
Tahajjud Dengan “Firman yang Berbobot”
Ungkapan “firman
yang berbobot” dalam ayat اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- “Sesungguhnya
Aku akan melimpahkan kepada engkau
firman yang berbobot” dapat berarti
“ajaran Al-Quran itu padat dengan
ajaran mahapenting” bahwa ajaran
itu terlalu penting untuk digantikan
atau disisihkan. Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang
dapat diubah, diganti atau diperbaiki
sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt.
(QS.15:10; QS.41:43).
Menurut hadits yang kerap
kali dikutip, manakala ada wahyu
turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening
terpaku dan merasakan ada suatu keharuan
istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes
besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi
Besar Muhammad saw. itu disebabkan oleh keharuan tadi.
Bangun malam
untuk mendirikan shalat tahajjud merupakan wahana
yang kuat untuk menguasai diri dan
dengan ampuh mengendalikan kecenderungan
dan hasrat jahat seseorang. Merupakan
pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu
banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian
yang ajaib mengungguli segala
sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan
istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang
lain.
Saat itu luar biasa
cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan
kekuatan watak dan membuat pembicaraannya
sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Sebab ucapan
yang jitu dan kemampuan yang tiada
terhingga untuk bekerja keras
merupakan dua syarat yang perlu bagi
seorang Pembaharu Ruhani (Mushlih) agar berhasil di dalam tugasnya.
Shalat Fardhu dan Shalat Nafal
Tahajjud membantu memperkembangkan
dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai
pikiran dan ucapannya maka orang tersebut menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula,
firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ الَّیۡلِ وَ
قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ کَانَ
مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ
مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً
لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ
رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ
اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ قُلۡ
جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾ وَ
نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah.” وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ
نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam,
maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan bagi engkau,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh jadi Rabb
(Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke
martabat yang sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong. وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ
ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا
ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Dan
Kami menurunkan dari
Al-Quran suatu penyembuh dan rah-mat
bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:79-83).
Dalakat asy-syamsu berarti: (1)
matahari condong sesudah mencapai titik puncaknya pada tengah hari; (2)
matahari menjadi kekuning-kuningan; (3) matahari terbenam. Ghasaq berarti,
kegelapan malam, atau ketika warna merah di kaki langit lenyap sesudah matahari
terbenam (Lexicon Lane).
Nampaknya ayat 79 menunjuk kepada saat-saat untuk mendirikan
shalat 5 waktu sehari. Tiga arti dulūk menunjukkan saat untuk shalat Zuhur, Ashar, dan Maghrib. Untuk
ghasaqil-lail meliputi saat untuk shalat
Magrib, tetapi khususnya menunjuk kepada shalat Isya, dan kata-kata qur’an al-fajr menunjuk kepada
saat shalat Subuh.
Martabat yang Terpuji
Ayat وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ -- “Dan pada sebagian malam,
maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan bagi engkau”,
Sebagai arti tambahan pada yang
diberikan dalam terjemahan teks, nāfilah berarti karunia yang khas, dan mengandung arti bahwa shalat-shalat itu bukan suatu beban
yang hanya meletihkan tubuh,
melainkan suatu kesempatan istimewa
dan karunia khas dari Allah Swt..
Makna ayat selanjutnya: عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ
رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا -- “boleh jadi Rabb
(Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke
martabat yang sangat terpuji.” Barangkali tiada orang yang pernah begitu dibenci dan dimaki seperti Nabi Besar Muhammad saw., dan sungguh
tidak ada wujud lain yang menerima begitu banyak pujian Allah Swt.
dan menjadi penadah begitu
banyak rahmat dan berkat Ilahi seperti beliau saw..
Shalat Tahajjud
paling cocok untuk orang beriman guna
mencapai kemajuan ruhaninya, karena dalam kesunyian malam dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang
Khaliq-nya ia menikmati perhubungan khas dengan Allah Swt.. Selanjutnya Dia berfirman: وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ
وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- “dan
katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong.”
Sebagai kemakbulan
doa-doa dan permohonan-permohonan
Nabi Besar Muhammad saw., beliau
saw. dalam ayat ini diberi kabar suka bahwa untuk menggenapi nubuatan dalam kata-kata سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا -- “Maha Suci Dia Yang telah menjalankan
hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa”
(QS.17:2), bahwa beliau saw. akan dihijrahkan dari Mekkah
ke Medinah oleh Allah Swt., firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia Yang
memperjalankan hamba-Nya pada waktu
malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha
yang sekelilingnya
telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha
Melihat. (Bani Israil [17]:2).
“Duel Makar” yang Dimenangkan Allah Swt.
Kalimat akhir ayat tersebut اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ -- “sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha
Melihat” erat hubungannya dengan masalah pengabulan doa yang
dipanjatkan Nabi Besar Muhammad saw terhadap makar buruk yang dirancang
oleh Abu Jahal dan
kawan-kawannya yang akan membunuh
beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ
وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat
menangkap engkau atau membunuh engkau
atau mengusir engkau.
وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ -- Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar
tandingan, وَ اللّٰہُ
خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar (Al-Anfāl [8]:31).
Ayat
ini mengisyaratkan kepada musyawarah
rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di
Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha
mereka mencegah berkembangnya aliran
kepercayaan baru (agama Islam) gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang
terkemuka warga kota pimpinan Abu
Jahal berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna meng-habisi
Islam.
Sesudah diadakan pertimbangan mendalam terpikir oleh mereka satu rencana, ialah
sejumlah orang-orang muda dari
berbagai kabilah Quraisy harus secara
serempak menyergap Nabi Besar
Muhammad saw. lalu membunuh beliau saw.. Tetapi tanpa
setahu orang beliau saw. meninggalkan
rumah yang dikepung tengah malam
buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, kemudian beliau saw. berlindung
di Gua Tsur bersama-sama Abubakar
Shiddiq r.a. sahabat beliau yang setia (QS.9:40), dan setelah selamat daripara pengejar yang tergiur oleh
hadiah yang besar – termasuk Suraqah bin Malik
-- akhirnya keduanya sampai di Medinah dengan selamat.
Makar buruk yang sama pernah
dilakukan pula para pemuka kaum Tsamud guna
menghentikan da’wah Nabi
Shalih a.s., firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ
رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ
لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا
مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ
قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat
kerusuhan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ
لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ -- Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan
keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya:
مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ -- “Kami
sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ
مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- Dan mereka membuat makar buruk dan Kami
pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menyadari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ -- Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya
semua فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا
ظَلَمُوۡا -- Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh karena mereka
berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya
dalam yang demikian itu benar-benar ada
Tanda untuk kaum yang mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
کَانُوۡا یَتَّقُوۡن -- Dan Kami
menyelamatkan orang-orang yang beriman
dan bertakwa (An-Naml [27]:49-54).
Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat
ini adalah kesembilan musuh Nabi
Besar Muhammad saw. terkemuka. Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran
Badar termasuk Abu Jahal, dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika
sampai ke telinganya kabar tentang kekalahan di Badar.
Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin
Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi
Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31). Rencana
sebenarnya ialah memilih seorang dari
tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas
beliau saw., sehingga tidak ada kabilah
tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab
atas pembunuhan terhadap beliau saw. itu.
Rencana buruk itu datang dari Abu
Jahal, pemimpin kelompok jahat itu. Itulah makna ucapan mereka dalam
ayat: قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ
لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ -- Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya
kami akan menyerbu pada malam hari
kepada dia dan keluarganya,
kemudian kami niscaya akan berkata
kepada pelindungnya: مَا شَہِدۡنَا
مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ وَ
اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ -- “Kami sekali-kali tidak menyaksikan
keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
benar.”
Namun
akibat “makar buruk” tersebut
membuat Nabi Besar Muhammad saw. hijrah
dari Mekkah, tetapi hijrah beliau saw. itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak
menyadari, bahwa dengan memaksa beliau
saw. hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri, sebab keberadaan seorang Rasul Allah di suatu tempat merupakan pelindung kota tersebut dari
kehancuran akibat azab Ilahi
(QS.8:33-34): فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ -- ”maka perhatikanlah
bagaimana buruknya akibat
makar buruk mereka, اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya
semua فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا
ظَلَمُوۡا -- Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh karena mereka
berbuat zalim.”
Doa Nabi Besar Muhammad Saw. Menjelang Hijrah ke Madinah
Kembali kepada
perintah Allah Swt. kepada doa yang diajarkan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. sebelum
peristiwa hijrah akibat
makar buruk yang dirancang oleh Abu Jahal dan
kawan-kawannya, وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ
صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- “Dan
katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik”, firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ الَّیۡلِ وَ
قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ کَانَ
مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ
مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً
لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ
رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ
لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾ وَ
نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah.” وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam,
maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan bagi engkau,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh jadi Rabb
(Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke
martabat yang sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong. وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ
ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا
ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Dan
Kami menurunkan dari
Al-Quran suatu penyembuh dan rah-mat
bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:79-83).
Untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan
nubuatan ini Nabi Besar Muhammad
saw., diperintahkan mendoa supaya masuknya beliau saw. ke Medinah dan begitu pula keberangkatan
beliau saw. dari kota Mekkah, di mana
beliau saw. tinggal pada saat itu akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah setelah hijrah ke Madinah,
sebagaimana dikemukakan dalam
firman-Nya di awal Surah Bani Israil:
سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan
hamba-Nya pada waktu malam مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا
الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ -- dari Masjid
Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati, لِنُرِیَہٗ
مِنۡ اٰیٰتِنَا -- supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha
Melihat. (Bani Israil [17]:2).
Salah
satu mukjizat gaya bahasa
Al-Quran bahwa untuk ini mengemukakan salah satu misal semacam itu: وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ
الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- “Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika Nabi Besar Muhammad saw. selagi membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang
mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli
berhala-berhala (Bukhari),
sebagaimana 3000 tahun sebelumnya pernah dilakukan Nabi Ibrahim a.s.
terhadap patung-patung berhala sembahan kaum
beliau a.s. (QS.21:52-76; QS.37:84-114).
Dengan demikian sempurnakan doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. – bersama putera beliau, Nabi Ismail
a.s. –
3000 tahun sebelumnya pada
saat membangun kembali Ka’bah (Baitullah)
agar Allah Swt. membangkitkan seorang
Rasul-Nya di kalangan penduduk Mekkah (Bani
Isma’il) yaitu Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.2:128-130; QS.62:3).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 6 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar