Jumat, 05 Agustus 2016

Hubungan "Shalat Tahajjud" Dengan Pembukaan "Khazanah Ruhani" Al-Quran dan "Penaklukan Kota Mekkah" (Fatah Makkah)



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA


HUBUNGAN  SHALAT TAHAJJUD DENGAN PEMBUKAAN KHAZANAH RUHANI AL-QURAN  DAN PENAKLUKAN KOTA MEKKAH" (FATAH MAKKAH)


Bab 16


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  Bab 15   telah dijelaskan  perintah Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.   – Al-Muzzammil   --   pentingnya mendirikan  shalat tahajjud guna menunjang suksesnya perjuangan suci beliau saw. yang sangat berat (QS.33:73-74; QS.94:1-9), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾   قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾   نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾   اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Wahai orang yang berselimut,  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit.   Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,   atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  --  Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا   -- Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --     Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.   وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا --    Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau  kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian  (Al-Muzzammil [73]:1-9).
    Zammalahu berarti: ia menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil) berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid; Fath-ul- Qadir; Ruh-ul- Ma’ani).
  Semua arti muzzammil tersebut  sangat tepat dikenakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  sebab di antara para rasul Allah   yang memakai busana (takwa) takwa yang paling sempurna dalam seginya adalah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ  --  dan pakaian takwa   itulah yang terbaik,   ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ  -- yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat (Al-A’rāf [7]:27).

 Hubungan Shalat Tahajjud  Dengan “Firman yang Berbobot

   Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  -- “Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot” dapat berarti  “ajaran Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting”   bahwa ajaran itu terlalu penting untuk digantikan atau disisihkan.  Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang dapat diubah, diganti atau diperbaiki sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10; QS.41:43).
     Menurut hadits yang kerap kali dikutip, manakala ada wahyu turun kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  beliau saw.  jadi hening terpaku dan merasakan ada suatu keharuan istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan  Nabi Besar Muhammad saw.   itu disebabkan oleh keharuan tadi.
     Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud  merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
   Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian yang ajaib mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
   Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan.  Sebab ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu Ruhani  (Mushlih) agar berhasil di dalam tugasnya.

Shalat Fardhu dan Shalat Nafal

   Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya maka  orang tersebut menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula, firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾   وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.”  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  --   Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan   bagi engkau,  عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا --  boleh jadi  Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ  --  Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --   dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا --  tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian.  (Bani Israil [17]:79-83).
    Dalakat asy-syamsu berarti: (1) matahari condong sesudah mencapai titik puncaknya pada tengah hari; (2) matahari menjadi kekuning-kuningan; (3) matahari terbenam. Ghasaq berarti, kegelapan malam, atau ketika warna merah di kaki langit lenyap sesudah matahari terbenam (Lexicon Lane).
      Nampaknya ayat 79  menunjuk kepada saat-saat untuk mendirikan shalat 5 waktu sehari. Tiga arti dulūk menunjukkan saat untuk shalat Zuhur, Ashar, dan Maghrib. Untuk ghasaqil-lail meliputi saat untuk shalat Magrib, tetapi khususnya menunjuk kepada shalat Isya, dan kata-kata qur’an al-fajr menunjuk kepada saat shalat Subuh.

Martabat yang Terpuji

       Ayat وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  --   “Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan   bagi engkau”,   Sebagai arti tambahan pada yang diberikan dalam terjemahan teks, nāfilah berarti karunia yang khas, dan mengandung arti bahwa shalat-shalat itu bukan suatu beban yang hanya meletihkan tubuh, melainkan suatu kesempatan istimewa dan karunia khas dari Allah  Swt..
      Makna ayat selanjutnya:   عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا --  “boleh jadi  Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.”     Barangkali tiada orang yang pernah begitu dibenci dan dimaki seperti Nabi Besar Muhammad saw., dan sungguh tidak ada wujud lain yang menerima begitu banyak pujian Allah  Swt.  dan menjadi penadah begitu banyak rahmat dan berkat Ilahi seperti beliau saw..
      Shalat Tahajjud paling cocok untuk orang beriman guna mencapai kemajuan ruhaninya,  karena dalam kesunyian malam  dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khaliq-nya  ia menikmati perhubungan khas dengan  Allah Swt.. Selanjutnya Dia berfirman: وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ  --  “dan katakanlah:  “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --   dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.”          
     Sebagai kemakbulan doa-doa dan permohonan-permohonan Nabi Besar Muhammad saw.,  beliau saw.   dalam ayat ini diberi kabar suka bahwa untuk menggenapi nubuatan dalam kata-kata  سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا  -- “Maha Suci Dia Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa” (QS.17:2), bahwa  beliau saw. akan dihijrahkan  dari Mekkah ke Medinah oleh Allah Swt.,  firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).

Duel Makar” yang Dimenangkan Allah Swt.

     Kalimat akhir ayat tersebut اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ  -- “sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat” erat hubungannya dengan masalah pengabulan doa yang dipanjatkan Nabi Besar Muhammad saw terhadap makar buruk yang dirancang  oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya yang akan membunuh beliau saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ    --    Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar (Al-Anfāl [8]:31).
      Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru  (agama Islam) gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah  hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota pimpinan Abu Jahal  berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna meng-habisi Islam.
      Sesudah diadakan pertimbangan mendalam  terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.   lalu membunuh beliau saw.. Tetapi tanpa setahu orang beliau saw.    meninggalkan rumah yang dikepung tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, kemudian beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a. sahabat beliau yang setia (QS.9:40), dan setelah selamat daripara pengejar yang tergiur oleh hadiah yang besar – termasuk Suraqah bin Malik -- akhirnya keduanya  sampai di Medinah dengan selamat.
     Makar buruk yang sama pernah dilakukan pula para pemuka kaum Tsamud guna   menghentikan da’wah Nabi Shalih a.s.,  firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang     yang  berbuat kerusuhan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ     -- Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ --     Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ  --    Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari.  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ   --        Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk merekaاَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ  --  sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim.  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ  -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.     وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡن --  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa  (An-Naml [27]:49-54).
      Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah kesembilan musuh Nabi Besar Muhammad saw.  terkemuka.  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar termasuk Abu Jahal, dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya kabar tentang kekalahan di Badar.
      Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31).  Rencana sebenarnya ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw., sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau saw.  itu.
    Rencana buruk itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu. Itulah makna ucapan mereka dalam ayat:  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ     -- Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ --     Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  
     Namun akibat “makar buruk”  tersebut  membuat  Nabi Besar Muhammad saw.  hijrah dari Mekkah, tetapi hijrah   beliau saw.  itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa beliau saw. hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri, sebab keberadaan seorang Rasul Allah di suatu tempat merupakan pelindung kota  tersebut dari  kehancuran akibat azab Ilahi (QS.8:33-34):  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ   --        ”maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk merekaاَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ  --  sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim.”  

Doa  Nabi Besar Muhammad Saw.  Menjelang  Hijrah  ke Madinah

   Kembali  kepada  perintah Allah Swt. kepada  doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.   sebelum peristiwa hijrah  akibat  makar buruk yang  dirancang oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya,    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  -- “Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik”,  firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾   وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.”  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  --   Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan   bagi engkau,  عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا --  boleh jadi  Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ  --  Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --   dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا --  tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian.  (Bani Israil [17]:79-83).
     Untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan nubuatan ini  Nabi Besar Muhammad saw.,   diperintahkan mendoa  supaya masuknya  beliau saw. ke Medinah dan begitu pula keberangkatan beliau saw. dari kota Mekkah, di mana beliau saw.  tinggal pada saat itu  akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana dikemukakan dalam   firman-Nya di awal Surah Bani Israil:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ    --  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha    yang  sekelilingnya telah Kami berkati,  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا --  supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ --     sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
      Salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran  bahwa untuk  ini mengemukakan salah satu misal semacam itu:   وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   “Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.”
   Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika  Nabi Besar Muhammad saw. selagi membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli berhala-berhala (Bukhari), sebagaimana 3000 tahun sebelumnya pernah dilakukan Nabi Ibrahim a.s. terhadap  patung-patung berhala sembahan kaum beliau a.s. (QS.21:52-76; QS.37:84-114).
      Dengan demikian sempurnakan  doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. – bersama putera beliau, Nabi Ismail a.s.   –  3000 tahun sebelumnya pada saat membangun kembali Ka’bah (Baitullah) agar Allah Swt. membangkitkan seorang Rasul-Nya  di kalangan penduduk Mekkah (Bani Isma’il)  yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130; QS.62:3).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 6 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar