Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
27
"MAKAR" ALLAH SWT. DALAM KISAH NABI
YUNUS A.S. DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir
Bab 26 telah dijelaskan 11
bukti tak terbantahkan mengenai selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.dari “makar buruk” para pemuka agama Yahudi yang berusaha membuktikan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah nabi palsu dengan
berusaha membunuh beliau melalui penyaliban,
sebab menurut hukum Taurat orang yang
matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk baginya (Ulangan
21:23).
Sehubungan dengan kegagalan “makar buruk” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi tersebut Allah Swt. berfirman:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿﴾ۙ بَلۡ
رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ
مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib.
وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya orang-orang yang
berselisih dalam hal ini niscaya ada
dalam keraguan mengenai ini, mereka
tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:158-159).
Dua Pendapat yang Berbeda Mengenai Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Sehubungan dengan ayat: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib.” Dua
pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai
dugaan wafat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. karena
penyaliban.
Beberapa di antara mereka berpendapat
bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang
salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan
pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50,
kita baca: "Yang sudah kamu ini
bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
Al-Quran membantah
kedua pendapat ini dengan mengatakan: "mereka
tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama
Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal
cara pembunuhan yang khas dengan
jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran
tidak menolak ide bahwa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. digantung pada tiang salib,Al-Quran hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib tetapi tidak sampai membuat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terbunuh di atas tiang salib
melainkan: وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib.”
Orang-orang Yahudi dengan gembira
mengumandangkan telah membunuh Nabi
Isa a.s. di atas tiang salib,
sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar. Ayat itu
bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras terhadap tuduhan
tersebut serta membersihkan beliau
dari noda yang didesas-desuskan, lalu
mengutarakan keluhuran derajat ruhani
beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan
di hadirat Allah: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:159).
Dalam ayat بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا
-- ”bahkan Allah
telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, itu sama sekali tidak ada sebutan mengenai kenaikan
beliau ke langit dengan tubuh jasmani. Ayat itu hanya mengatakan
bahwa Allah Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian
menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan
ruhani, sebab tidak ada tempat
kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt..
Kata ganti nya dalam kalimat sebelum ajalnya mengantikan kata benda tidak ada seorang pun , artinya setiap
orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri. Arti ini ditunjang
oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan
oleh ‘Ubayy (Jarir, VI hlm.
13).
Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka membunuh
Nabi Isa a.s. di atas tiang salib,
karena dengan demikian mereka ingin membuktikan beliau bukan seorang nabi yang benar. Orang Kristen percaya bahwa beliau
telah wafat di atas tiang salib dan
hal itu menyebabkan mereka telah menganut akidah “Penebusan dosa”.
“Duel
Makar” Dalam peristiwa Penyaliban
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Terhindarnya
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kematian
terkutuk di tiang salib tersebut
guna membuktikan benarnya pernyataan Allah Swt. dalam dalam setiap “duel makar” antara makar-makar
buruk yang selalu dilakukan para para penentang
rasul Allah di setiap zaman kenabian dengan “makar tandingan” Allah Swt. dengan selalu dimenangkan Allah Swt.,
termasuk dalam peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
yang telah menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ
اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا
الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ
مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka tatkala
Isa merasa ada kekafiran pada mereka yakni kaumnya
ia berkata: ”Siapakah penolong-penolongku dalam urusan Allah?” Para hawari
berkata: “Kamilah para penolong urusan Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah
bahwa sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang berserah diri. “Ya Rabb (Tuhan) kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul ini maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.” وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah
pun merancang makar tandingan dan Allāh
sebaik-baik Perancang makar. (Ali ‘Imran [3]:53-55).
Hawariyyun itu jamak dari hawariy,
yang berarti: (1) penatu; (2) orang yang diuji dan didapati bebas dari dosa
atau kesalahan; (3) orang yang mempunyai watak murni, dan tidak bernoda; (4)
orang yang menasihati atau memberi musyawarah atau bertindak jujur dan setia;
(5) seorang sahabat atau penolong yang benar dan tulus; (6) seorang sahabat
pilihan dan penolong seorang nabi (Lane dan Mufradat).
Makna ayat:
وَ مَکَرُوۡا وَ
مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- “dan
mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah
pun merancang makar tandingan dan Allāh
sebaik-baik Perancang makar”, bahwa orang-orang Yahudi telah merencanakan
supaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt. adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu, sebab beliau adalah
benar-benar seorang rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada Bani Israil (QS.61:7).
Dalam “duel makar” tersebut rencana (makar buruk) orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dari tiang salib
dalam keadaan hidup, dan beliau wafat
secara wajar di Kashmir dalam usia sangat
lanjut (120 tahun), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan Ibnu Maryam
dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki
lembah-lembah hijau
dan sumber-sumber mata air yang
mengalir. (Al-Muni’nun
[23]:51).
Persamaan “Duel Makar” Upaya Membunuh
Nabi Shalih a.s. dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Demikian pula “duel makar” antara Allah Swt. dengan para penentang rasul-rasul Allah tersebut terjadi pula di zaman Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ
یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat
menangkap engkau atau membunuh engkau
atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
-- Mereka
merancang makar buruk, dan Allah
pun merancang makar tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar (Al-Anfāl [8]:31).
“Duel makar” yang terjadi di zaman Nabi
Besar Muhammad saw. tersebut merupakan pengulangan “duel makar” yang terjadi di zaman Nabi Shalih a.s., firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ
رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ
لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا
مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ وَ
اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ
قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat
kerusuhan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. Mereka
berkata: “Hendaklah kamu sekalian
bersumpah dengan nama Allah
bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia
dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada
pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا
وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ -- Dan mereka membuat makar buruk dan Kami
pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menya-dari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا -- Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh
karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang
mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa (An-Naml [27]:49-54).
Sehubungan dengan “duel makar” yang selalu berulang
kali terjadi di setiap pengutusan para rasul
Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani
Adam tersebut (QS.7:35-37), “makar
tandingan” Allah Swt. selalu unggul walau bagaimana pun hebatnya
“makar buruk” yang dirancang dan dilaksanakan oleh para penentang para tersebut, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ
عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا
تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾
Dan sungguh mereka telah melakukan makar mereka,
tetapi makar mereka ada di sisi Allah,
dan jika sekali pun makar mereka
dapat memindahkan gunung-gunung. فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ
وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ -- Maka
janganlah engkau sama sekali menyangka
bahwa Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ -- sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).
Pengabulan Doa Para Rasul Allah & Pengabulan Doa Nabi Yunus a.s. Dalam Perut Ikan Besar
Pendek kata, dalam “duel makar” antara makar buruk para penentang rasul
Allah dengan “makar
tandingan” Allah Swt. dari zaman ke zaman tersebut senantiasa dimenangkan oleh Allah Swt., dan akibat
“duel makar” tersebut selalu jatuh “korban” sampingan yakni orang-orang
yang berhati bengkok dan berpenyakit, terutama dalam “duel
makar” upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. melalui penyaliban.
Perlu diketahui bahwa keunggulan “makar tandingan” Allah Swt. dalam “duel makar” melawan “makar buruk” yang dilakukan para penentang rasul Allah tersebut tidak lepas dari peran pengabulan doa yang dipanjatkan oleh para rasul Allah tersebut.
Contohnya adalah pengabulan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus
a.s. dengan penuh kerendahan hati
ketika beliau berada di dalam perut ikan
besar di lautan, firman-Nya:
فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ
وَ ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ
اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ
اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri. فَلَوۡ لَاۤ اَنَّہٗ
کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ -- Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, لَلَبِثَ فِیۡ بَطۡنِہٖۤ
اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ -- niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
سَقِیۡمٌ -- Kemudian Kami
melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia
dalam keadaan sakit. وَ اَنۡۢبَتۡنَا
عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ -- Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang
pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ
اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ -- Dan Kami
mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- maka mereka beriman karena itu Kami
memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
Sehubungan dengan ayat: فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ -- “Maka seekor
ikan paus menelannya ketika ia
sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ ذَاالنُّوۡنِ اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ
نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ کُنۡتُ
مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾
فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ
مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah
mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ -- maka ia
berseru dalam kegelapan perut ikan
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau,
Engkau Mahasuci, اِنِّیۡ کُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim” فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ -- Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami
menyelamatkan dia dari kesedihan,
ؕ
وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan demikianlah
Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).
Doa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di Teman Getsemani dan Pengabulannya
Demikian juga penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. oleh Allah Swt. dari kematian terkutuk di tiang
salib pun – yang disebut “cawan”
-- pada hakikatnya akibat pengabulan doa beliau yang dipanjatkan kepada Allah Swt. dengan
penuh kerendahan hati di taman
Getsemani:
26:36 Maka sampailah
Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani.
Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini,
sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
26:37 Dan Ia
membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 26:38 lalu
kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah
di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. " 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki "
26:40
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya
itu dan mendapati mereka sedang
tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus:
"Tidakkah kamu
sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa,
kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan
ketika Ia kembali pula, Ia mendapati
mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia
membiarkan mereka di situ lalu pergi dan
berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan
doa yang itu juga. 26:45
Sesudah itu Ia datang kepada
murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa
Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah, marilah kita pergi.
Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
Pengulangan
doa
yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Taman
Getsemani sebanyak tiga kali –
dengan kata-kata yang sama: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki ” -- dan pada doa yang ketiga kali diakhiri dengan
ucapan: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin
lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!".
Kenyataan tersebut menunjukkan
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bahkan sampai
menjelangkan beliau pingsannya
ketika dipakukan pada tiang salib
-- sambil mengucapkan kata-kata: “Eli,
Eli, lama sabakhtani – Allahku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkanku?” (Matius 27:45-46) -- beliau sama sekali tidak mengetahui bahwa pada peristiwa penyaliban tersebut Allah
Swt. sedang melakukan “duel makar” antara makar
buruk para pemuka agama Yahudi dengan
“makar tandingan” Allah Swt.
Itulah sebabnya ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berdoa di Taman Getsemani beliau sebanyak tiga kali beliau tidak
mendapat jawaban dari Allah Swt., sehingga setelah berdoa
yang ketiga kali dengan penuh kesedihan
beliau berkata: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin
lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:36-46).
Walau pun ketika itu Allah Swt. tidak menjawab permohonan doa yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tetapi pasti Allah Swt mengabulkan permohonan doa beliau:
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah
mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia, yang sanggup
menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena
kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. (Iberani 5:7).
Dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. bahwa -- kecuali orang-orang kafir -- orang-orang
yang beriman kepada Allah Swt. merasa takut terhadap makar Allah Swt. -- sebagaimana contohnya yang telah dialami oleh Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ
مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ
کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ﴿﴾ اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ
بَاۡسُنَا بَیَاتًا وَّ ہُمۡ نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ اَمِنَ
اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی وَّ ہُمۡ
یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۸﴾ اَفَاَمِنُوۡا
مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ
اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan seandainya
penduduk kota-kota beriman dan bertakwa
niscaya akan Kami bukakan
keberkatan dari langit dan dari
bumi bagi mereka, akan tetapi mereka
telah mendustakan, maka Kami
menimpakan azab kepada mereka
disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa
aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur? Ataukah penduduk
negeri-negeri ini merasa
aman dari ckeda-tangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka
bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا
مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ
اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
-- Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:97-100).
Jadi, betapa sangat menggelincirkannya
“makar tandingan” Allah Swt. dalam peristiwa upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi tersebut, sampai-sampai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak mengetahui adanya “makar
tandingan” Allah Swt. tersebut, sehingga dalam doa di Taman Getsemani yang dipanjatkan beliau kepada Allah Swt. yang kedua kali diakhiri dengan ucapan penuh rasa sedih:
"Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
26:36 Maka sampailah
Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani.
Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini,
sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
26:37 Dan Ia membawa Petrus
dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti
mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. "
26:39 Maka Ia maju
sedikit, lalu sujud dan berdoa,
kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki "
26:40 Setelah itu Ia
kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati
mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah
kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi
untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin
lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. 26:45 Sesudah itu Ia
datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa
Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah,
marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius
26:36-46).
Jadi, betapa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sangat tidak menginginkan mengalami kematian terkutuk di
tiang salib, bertentangan dengan pendapat Paulus dalam Surat-surat kirimannya bahwa
beliau dengan penuh kerelaan menerima kematian terkutuk di tiang salib demi menebus dosa yang diwariskan Adam dan Hawa
kepada semua keturunannya.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 16 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar