Minggu, 21 Agustus 2016

"Makar" Allah Swt. Dalam Kisah Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 27


     "MAKAR" ALLAH SWT. DALAM  KISAH NABI YUNUS A.S. DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. 


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 26  telah dijelaskan  11 bukti tak terbantahkan mengenai selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.dari    “makar buruk”   para pemuka agama Yahudi yang berusaha membuktikan  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah nabi palsu  dengan  berusaha membunuh  beliau  melalui penyaliban, sebab menurut hukum Taurat orang yang matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk baginya (Ulangan 21:23).
     Sehubungan dengan kegagalan “makar buruk”  yang dilakukan para pemuka agama Yahudi tersebut Allah Swt.  berfirman:    
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ  -- Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --   Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:158-159).

Dua   Pendapat yang Berbeda Mengenai Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Sehubungan dengan ayat:   وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.”    Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    karena penyaliban.
   Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
Al-Quran membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan:    "mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama Al-Quran menolak pembunuhan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran  tidak menolak ide bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    digantung  pada tiang salib,Al-Quran hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib tetapi tidak sampai membuat Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. terbunuh  di atas tiang salib melainkan:   وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.”
        Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa a.s. di atas tiang salib, sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras  terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan beliau dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah:  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   -- “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:159).  
Dalam ayat   بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --     ”bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,  itu sama sekali tidak ada sebutan  mengenai kenaikan beliau ke langit dengan tubuh jasmani. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt..
  Kata ganti nya  dalam kalimat sebelum ajalnya  mengantikan kata benda  tidak ada seorang pun , artinya setiap orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri. Arti ini ditunjang oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim  (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Ubayy (Jarir, VI hlm. 13).
 Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka  membunuh Nabi Isa a.s. di atas tiang salib, karena dengan demikian mereka ingin membuktikan beliau bukan seorang nabi yang benar. Orang Kristen percaya bahwa beliau telah wafat di atas tiang salib dan hal itu menyebabkan mereka telah menganut akidah “Penebusan dosa”.

Duel Makar” Dalam peristiwa Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

Terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kematian terkutuk di tiang salib tersebut guna membuktikan benarnya pernyataan Allah Swt. dalam dalam setiap “duel makar” antara  makar-makar buruk yang selalu dilakukan para para penentang rasul Allah di setiap zaman kenabian dengan “makar tandingan” Allah Swt. dengan selalu dimenangkan  Allah Swt., termasuk  dalam peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang  telah menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok,  firman-Nya:
فَلَمَّاۤ  اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾

Maka tatkala  Isa merasa   ada  kekafiran pada mereka yakni kaumnya ia berkata: ”Siapakah penolong-penolongku  dalam urusan Allah?” Para hawari berkata: “Kamilah  para penolong urusan Allah. Kami beriman kepada Allah, dan  saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah  diri.   “Ya Rabb (Tuhan) kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul ini maka catatlah kami bersama   orang-orang yang menjadi saksi.”    وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  Dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makar  buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allāh sebaik-baik Perancang makar.  (Ali ‘Imran [3]:53-55).
       Hawariyyun itu jamak dari hawariy, yang berarti: (1) penatu; (2) orang yang diuji dan didapati bebas dari dosa atau kesalahan; (3) orang yang mempunyai watak murni, dan tidak bernoda; (4) orang yang menasihati atau memberi musyawarah atau bertindak jujur dan setia; (5) seorang sahabat atau penolong yang benar dan tulus; (6) seorang sahabat pilihan dan penolong seorang nabi (Lane dan Mufradat).
     Makna ayat:   وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  “dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makar  buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allāh sebaik-baik Perancang makar”,  bahwa orang-orang Yahudi telah merencanakan supaya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt.   adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu, sebab beliau adalah benar-benar seorang  rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan kepada Bani Israil (QS.61:7).
       Dalam “duel makar” tersebut rencana (makar buruk) orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dari tiang salib dalam keadaan hidup, dan beliau wafat secara wajar di Kashmir dalam usia  sangat lanjut (120 tahun), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir.  (Al-Muni’nun [23]:51).

Persamaan “Duel Makar” Upaya Membunuh Nabi Shalih a.s. dan Nabi Besar Muhammad Saw.

   Demikian pula “duel makar” antara Allah Swt. dengan para penentang   rasul-rasul  Allah tersebut terjadi pula di zaman Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkauوَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ     --   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandinganوَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar  (Al-Anfāl [8]:31).
    “Duel makar” yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. tersebut merupakan pengulangan “duel makar” yang terjadi di zaman Nabi Shalih a.s., firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang     yang  berbuat kerusuhan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah  orang-orang yang benar.”   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ   --     Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menya-dariفَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ --    Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا   --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ  --  Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ    -- Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa  (An-Naml [27]:49-54).
      Sehubungan dengan “duel makar” yang selalu berulang kali terjadi di setiap pengutusan para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Adam tersebut (QS.7:35-37), “makar tandingan” Allah Swt.  selalu unggul walau bagaimana pun  hebatnya    “makar buruk” yang dirancang dan dilaksanakan oleh  para penentang para   tersebut, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿﴾  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah, dan  jika sekali pun  makar mereka dapat memindahkan gunung-gunung.   فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ  -- Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya,  اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ  -- sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).

Pengabulan Doa Para Rasul Allah  & Pengabulan Doa Nabi Yunus a.s. Dalam Perut Ikan Besar

      Pendek kata, dalam “duel makar” antara makar buruk para penentang rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt. dari zaman ke zaman tersebut senantiasa dimenangkan oleh Allah Swt., dan akibat “duel makar” tersebut selalu jatuh “korban” sampingan  yakni orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit, terutama  dalam “duel makar” upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban.
     Perlu diketahui bahwa keunggulan “makar tandingan” Allah Swt. dalam “duel makar” melawan “makar buruk” yang dilakukan para penentang rasul Allah tersebut  tidak lepas dari peran pengabulan doa   yang dipanjatkan oleh para rasul Allah tersebut.
      Contohnya  adalah pengabulan  doa yang dipanjatkan  oleh Nabi Yunus a.s. dengan penuh kerendahan hati ketika beliau berada di dalam perut ikan besar di lautan, firman-Nya:
فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diriفَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ --    Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ    -- niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ --  Kemudian Kami melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ --   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ   --  Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih,  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ  -- maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
      Sehubungan dengan ayat:  فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ  -- “Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ ذَاالنُّوۡنِ  اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ  اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah  mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ    --  maka  ia berseru dalam kegelapan perut ikan    اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahasuci,  اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ  -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim”  فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ   --  Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami menyelamatkan dia dari kesedihan, ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).

Doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Teman Getsemani dan Pengabulannya

    Demikian juga penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. oleh Allah Swt. dari kematian terkutuk di  tiang salib pun – yang  disebut “cawan”   --  pada hakikatnya akibat pengabulan doa beliau yang dipanjatkan kepada Allah Swt. dengan penuh kerendahan hati di taman  Getsemani:
26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." 26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus   serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih   dan gentar, 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. " 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki " 26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?  26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. 26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
         Pengulangan  doa yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Taman Getsemani  sebanyak tiga kali – dengan kata-kata yang sama: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu   dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki ”   -- dan pada doa yang ketiga kali diakhiri dengan ucapan:  "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!".
         Kenyataan tersebut  menunjukkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bahkan sampai   menjelangkan beliau pingsannya  ketika dipakukan pada tiang salib -- sambil mengucapkan  kata-kata: “Eli, Eli, lama sabakhtaniAllahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkanku?” (Matius 27:45-46)  --  beliau sama sekali tidak mengetahui bahwa  pada peristiwa penyaliban tersebut Allah Swt.  sedang melakukan “duel makar” antara  makar buruk para pemuka agama Yahudi dengan “makar tandingan”  Allah Swt.
          Itulah sebabnya  ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berdoa di Taman Getsemani beliau sebanyak tiga kali   beliau  tidak mendapat jawaban  dari Allah Swt., sehingga setelah  berdoa yang ketiga kali dengan penuh kesedihan beliau berkata:   "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"  (Matius 26:36-46).
    Walau pun ketika itu Allah Swt. tidak menjawab permohonan doa yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tetapi pasti Allah Swt mengabulkan permohonan doa beliau:
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. (Iberani 5:7).
          Dengan demikian benarlah  pernyataan Allah Swt. bahwa   -- kecuali orang-orang kafir   -- orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. merasa takut terhadap makar Allah Swt.  -- sebagaimana  contohnya yang telah dialami oleh Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ  اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا  وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ  کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا  کَانُوۡا  یَکۡسِبُوۡنَ﴿﴾   اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۸  اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  seandainya penduduk kota-kota beriman dan bertakwa niscaya akan Kami  bukakan  keberkatan dari langit dan dari bumi bagi mereka, akan tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada  mereka disebabkan  apa yang senantiasa mereka usahakan.   Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?     Ataukah penduduk negeri-negeri ini  merasa aman dari ckeda-tangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ  -- Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:97-100).
       Jadi, betapa  sangat menggelincirkannya    “makar tandingan” Allah Swt.  dalam peristiwa upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi tersebut, sampai-sampai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak mengetahui adanya  “makar tandingan” Allah Swt. tersebut, sehingga dalam doa di Taman Getsemani yang dipanjatkan beliau  kepada Allah Swt. yang kedua  kali   diakhiri dengan ucapan penuh rasa sedih:
"Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." 26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus   serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih   dan gentar, 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. " 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu   dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki " 26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?  26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. 26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
   Jadi, betapa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sangat tidak menginginkan mengalami kematian terkutuk di tiang salib,   bertentangan dengan pendapat Paulus dalam Surat-surat kirimannya  bahwa beliau  dengan penuh kerelaan menerima kematian terkutuk di tiang salib demi menebus dosa yang diwariskan Adam dan Hawa kepada  semua keturunannya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 16 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar