Rabu, 10 Agustus 2016

Tidak Setiap "Syuhada" Harus Terbunuh Dalam "Jihad" di Jalan Allah, Contohnya Khalid bin Walid r.a. yang Bergelar "Saifullaah" (Pedang Allah)





Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 20

TIDAK SETIAP SYUHADA HARUS TERBUNUH DALAM  JIHAD DI  JALAN ALLAH, CONTOHNYA KHALID BIN WALID R.A. YANG  BERGELAR  SAIFULLĀH (PEDANG ALLAH)


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 19   telah dijelaskan   orang-orang yang bertakwa dan bertawakkal  kepada Allah Swt. maka Dia akan menjadi “Wakil”   -- yakni Pelindung – atas berbagai  urusan  di jalan-Nya yang dihadapinya, mengenai hal  tersebut Allah Swt. berfrirman:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ   فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ   ﴿﴾ۚ٪ۛ  اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ ﴿﴾  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ --  bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ   -- Mereka bergirang hati  dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ  --  dan mereka bergembira terhadap orang-orang  di belakangnya yang  belum pernah bergabung dengan mereka  اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan  atas mereka, dan tidak pula mereka  bersedih.  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ  --  Mereka bergembira  dengan nikmat dan karunia dari Allah,  وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya  Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang beriman.    اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ --  Yaitu orang-orang yang telah  melaksanakan perintah Allah dan Rasul sesudah mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  Bagi orang-orang yang berbuat ihsan  di antara  mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ  --  Yaitu orang-orang yang   telah berkata  kepada mereka yang beriman  bahwa: “Sesungguhnya manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang kamu, maka takutlah kepada mereka.فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا  --  tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ  --  dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ     --  Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia  dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ    -- dan mereka mengikuti  keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ  -- Sesungguhnya yang demikian itu adalah syaitan yang menakut-nakuti  sahabat-sahabatnyaفَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  -- karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi  takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).

Mendapat Kabar Gembira dan  Rezeki dari Allah Swt.

     Amwat itu jamak dari mayyit, yang selain  berarti orang mati, mengandung makna: (1) orang yang darahnya belum terbalas; (2) orang yang tidak meninggalkan penerus-penerus; (3) orang yang menderita sedih dan duka nestapa:   وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا  -- Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ --  bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki.”
       Ayat selanjutnya: فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ   --    “mereka bergirang hati  dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya.”  Para syuhada (orang-orang mati syahīd) merasa gembira bahwa saudara-saudara mereka yang ditinggalkan di dunia ini dan akan mengikuti jejak mereka kemudian akan segera menang atas musuh-musuh mereka (QS.33:22-28).
       Maksudnya adalah bahwa sesudah mati segala hijab (tabir gaib) diangkat dan para syuhada diberi makrifat  mengenai kemenangan-kemenangan yang tersedia bagi kaum Muslimin. Mereka mendapat kabar gembira  mengenai saudara-saudaranya,  yaitu para malaikat Allah terus-menerus memberitahu mereka  mengenai  sukses dan kemenangan-kemenangan yang dicapai Islam sepeninggal mereka:  وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ  --  dan mereka bergembira terhadap orang-orang  di belakangnya yang  belum pernah bergabung dengan mereka  اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan  atas mereka, dan tidak pula mereka  bersedih.”

Tanda Orang-orang yang Mentaati Allah Swt. dan Rasul-Nya

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman:      اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ --  yaitu orang-orang yang telah  melaksanakan perintah Allah dan Rasul sesudah mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  bagi orang-orang yang berbuat ihsan  di antara  mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar.”
       Pada ayat ini dan pada ayat berikutnya diisyaratkan tentang dua gerakan militer yang dipimpin oleh  Nabi Besar Muhammad saw.   melawan orang-orang kafir Mekkah sesudah Perang Uhud. Yang pertama dilakukan pada keesokan harinya sesudah pertempuran itu.
     Ketika lasykar Mekkah menarik diri dari Uhud, mereka diejek oleh beberapa suku Arab karena tidak membawa barang rampasan perang atau tawanan perang dari medan pertempuran yang menurut pengakuan mereka telah dimenangkan oleh mereka. Oleh sebab itu mereka berpikir untuk kembali lagi ke Medinah, dengan tujuan menyerang lagi kaum Muslimin dan menggenapkan kemenangan mereka. 
     Nabi Besar Muhammad saw.  telah mempunyai firasat mengenai kedatangan-kembali mereka, maka beliau saw. menyerukan kepada para sahabat yang telah mengambil bagian dalam Perang Uhud untuk ikut-serta dengan beliau saw. dalam gerakan militer melawan lasykar Mekkah, dan pada keesokan harinya beliau saw. berangkat dari Medinah dengan 250 prajurit.
     Ketika kaum Mekkah mendengar hal itu  hati mereka gentar lalu melarikan diri. Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabah r.a.    bergerak sejauh Hamra al-Asad, yang letaknya kira-kira 8 mil dari Medinah di jalur ke arah Mekkah, dan setelah mengetahui bahwa musuh telah melarikan diri, beliau saw. kembali ke Medinah.  Gerakan militer kedua datang setahun kemudian.
     Sebelum meninggalkan medan perang Uhud, Abu Sufyan, panglima lasykar Mekkah, telah menjanjikan kepada kaum Muslimin untuk berhadapan lagi pada tahun kemudian di Badar. Namun karena tahun kemudian datang tahun paceklik, ia tak dapat melaksanakan bualannya.

Menghembuskan Desas-desus Dusta

     Tetapi ia mengutus Nu’aim bin Mas’ud ke Medinah untuk menakut-nakuti kaum Muslimin, dengan menyebarkan desas-desus mengenai persiapan besar-besaran yang telah diselenggarakan oleh kaum Mekkah. Akan tetapi siasat kotor itu sama sekali gagal membuat takut kaum Muslimin yang datang di Badar pada saat yang ditentukan, dan ternyata kaum Mekkah tidak datang:  اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ  --  yaitu orang-orang yang   telah berkata  kepada mereka yang beriman  bahwa: “Sesungguhnya manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang kamu, maka takutlah kepada mereka.”  فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا  --  tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ  --  dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”  
       Ekspedisi ini dikenal sebagai Ghazwah (gerakan) Badr al-Shugra (Badar Kecil), untuk memperbedakannya dari perang Badar Besar yang telah terjadi kira-kira dua tahun sebelumnya.   Isyarat ayat tersebut tertuju kepada desas-desus yang disebarkan oleh Nu’aim bin Mas’ud.
     Kaum Muslimin kembali dari Badr al-Shugra setelah meraih  keuntungan besar dalam perdagangan di pasar tahunan yang terselenggara di sana. Hal itu disinggung dengan kata “karunia”: فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ  --  Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia  dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ    -- dan mereka mengikuti  keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar.”
       Kata-kata dalam ayat:  اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ  -- Sesungguhnya yang demikian itu adalah syaitan yang menakut-nakuti  sahabat-sahabatnyaفَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  -- karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi  takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman”,  berarti:
     (1) syaitan berupaya membuat orang-orang beriman takut terhadap orang-orang kafir, sahabat-sahabatnya;
      (2) dengan rencananya, syaitan hanya berhasil menakut-nakuti temannya sendiri, yaitu  orang-orang kafir.
      Namun kenyataannya sama sekali berlawanan dengan maksud menyebarkan isu-isu dusta  berupa ancaman tersebut:  فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا  --  tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ  --  dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung”,   demikianlah  makna ayat-ayat dalam firman-Nya:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ   فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ   ﴿﴾ۚ٪ۛ  اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ ﴿﴾  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ --  bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ   -- Mereka bergirang hati  dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ  --  dan mereka bergembira terhadap orang-orang  di belakangnya yang  belum pernah bergabung dengan mereka  اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan  atas mereka, dan tidak pula mereka  bersedih.  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ  --  Mereka bergembira  dengan nikmat dan karunia dari Allah,  وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya  Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang beriman.    اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ --  Yaitu orang-orang yang telah  melaksanakan perintah Allah dan Rasul sesudah mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  Bagi orang-orang yang berbuat ihsan  di antara  mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ  --  Yaitu orang-orang yang   telah berkata  kepada mereka yang beriman  bahwa: “Sesungguhnya manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang kamu, maka takutlah kepada mereka.فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا  --  tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ  --  dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ     --  Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia  dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ    -- dan mereka mengikuti  keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ  -- Sesungguhnya yang demikian itu adalah syaitan yang menakut-nakuti  sahabat-sahabatnyaفَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  -- karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi  takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).

Kesetiaan Sempurna Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.

        Dikarena Nabi Besar Muhammad saw. merupakan suri-teladan yang terbaik, demikian pula halnya dengan para sahabat beliau saw. pun tidak mau melewatkan kesempatan untuk menjadi para pengikut hakiki  yang sulit mencari padanannya dalam hal ketakwaan  kepada Allah Swt. dan kepatuh-taatan kepada Rasul-Nya, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾  وَ لَمَّا رَاَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾  مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat asuri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.  وَ لَمَّا رَاَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ --  Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan  قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ    -- mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allah serta  Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا  --  Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ   -    -- Di antara orang-orang yang beriman ada  orang-orang  yang  telah menggenapi apa yang dijanjikannya kepada Allah,     maka  dari antara mereka ada yang telah menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid, وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ    --  dan di antara mereka ada yang masih menunggu, وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا  --  dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ   --  Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebe-naran mereka,  وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ  -- dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا  --  Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:22-25).
   Ayat 23 merupakan kenang-kenangan besar terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para pengikut   Nabi Besar Muhammad saw.. Tidak pernah para pengikut nabi Allah  mana jua pun menerima dari Allah Swt. surat keterangan bukti kelakukan baik dan kesetiaan seperti itu.
  Seperti halnya wujud junjungan mereka   --  Nabi Besar Muhammad saw.   --   tidak ada tara bandingannya di antara nabi-nabi Allah dalam menunaikan tugas,  begitu pula para sahabat beliau  saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada mereka (QS.33:22-25) sehingga  Allah Swt. menyebut mereka sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111).

Burung-burung Hijau” di Surga &  Khalid bin  Walid r.a.  Sang “Pedang Allah

         Sehubungan firman Allah Swt. dalam Surah Ali ‘Imran ayat 170:   وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا   -- “Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ --  bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki,” terdapat keterangan dalam hadits berikut ini:
    “Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] sedangkan lafadznya dari dia, telah menceritakan kepada kami [Asbath] dan [Abu Mu'awiyah] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Abdullah bin Murrah] dari [Masruq] dia berkata, "Kami pernah bertanya kepada [Abdullah] perihal ayat ini:  وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ  --  Dan janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu   mati, akan tetapi sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki.”   Dia berkata, "Kami dulu pernah menanyakan hal itu, dan beliau saw. menjawab: "Ruh mereka berada di dalam rongga (tembolok) burung hijau yang mempunyai banyak pelita yang bergantungan di 'Arsy, ia dapat keluar masuk surga sesuka hati kemudian beristirahat lagi di pelita-pelita itu, kemudian Rabb mereka menengok mereka seraya berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab,Apa lagi yang kami inginkan kalau kami sudah dapat keluar masuk ke surga sesuka hati kami?” Lalu Allah terus mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali. Ketika mereka melihat kalau mereka tidak akan ditinggalkan sebelum menjawab pertanyaan itu, maka merekapun menjawab, “Duhai Rabb, kami menginginkan ruh kami dikembalikan lagi ke jasad kami hingga kami dapat berperang lagi di jalan Engkau  untuk kesekian kalinya.” Ketika Allah melihat kalau mereka tidak lagi membutuhkan sesuatu, akhirnya mereka ditinggal pergi."  (Hadits Muslim No.3500).
     Namun perlu diperhatikan bahwa menjadi syuhada   itu tidak berarti  harus terbunuh secara jasmani di jalan Allah, contohnya adalah  Khalid bin Walid  r.a. yang berusaha agar dapat menjadi syahid di jalan Allah sehingga  dalam setiap pertempuran beliau selalu terjun ke bagian medam  pertempuran yang paling berbahaya agar dapat terbunuh di jalan Allah sebagai syahid, tetapi dalam kenyataannya   “Saifullāh” (pedang Allah) tersebut  wafat di tempat tidurnya akibat sakit.
       Nama Khalid bin al-Walid r.a. begitu masyhur di umat ini. Mendengar namanya, seseorang akan selalu terbayang akan kepahlawanan dan jihad di jalan Allah. Sosoknya sangat dirindukan, dan figurnya selalu ingin ditiru dan diharapkan. Ia dijuluki Saifullah  (pedang Allah).  Ayahnya adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya   yang sangat menentang Nabi Besar Muhammad saw. (QS.68:1-18). Ibunya adalah Lubabah binti al-Harits, saudara dari Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits.

Sabda Nabi Besar Muhammad  Saw. Mengenai Khalid bin Walid r.a.

        Khalid bin al-Walid memeluk Islam pada tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah tengah berjalan. Ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi Besar Muhammad saw. memuji Khalid dalam perang tersebut dengan sabdanya:
Bendera perang dibawa oleh Zaid [bin Haritsah]  lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far [bin Abi Thalib] dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (Saifullah – yakni Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum Muslimin.”
     Khalid bin Walid r.a.  mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah patah. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwatu Mu’tah min Ardhi Syam: 4017).
       Sejak saat itu Khalid dikenal dengan sebutan saifullah.    Khalid bin Walid r.a. juga turut serta dalam Perang Khaibar, Hunain, Fathu Mekah, dan lain-lain. ll.
 Nabi Besar Muhammad saw.     pernah mengutusnya untuk menghancurkan berhala Uzza. Khalid bin Walid r.a.  pun meluluhlantakkan wibawa berhala itu di hadapan penyembahnya. Ia hancurkan Uzza. Setelah itu ia berkata, “Aku mengingkari engkau. Engkau tidak Maha Suci. Sesungguhnya Allah telah menghinakan engkau!”  Kemudian Khalid bakar Tuhan jahiliyah itu (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Katsir: 3/597).
    Abu Bakar juga menjadikan Khalid bin Walid r.a. pemimpin pasukan dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Abu Bakar mengatakan, “Sebaik-baik hamba Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin al-Walid. Khalid bin al-Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah.” (as-Sirah al-Halabiyah oleh al-Halabi: 3/212).
    Khalid bin al-Walid r.a. mencatatkan sejarah yang begitu luar biasa dalam menghadapi negara adidaya seperti Romawi di Syam dan Persia di Irak. Dan ia pula yang memerdekakan Damaskus. Panglima perang yang sibuk dengan jihadnya ini meriwayatkan 8 hadits dari Nabi Besar Muhammad saw.
       Saat kematian hendak menjemputnya, ia berkata, “Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan daripada Lā ilāha Illallāh, dan aku terus menjaga kalimat tersebut (tidak berbuat syirik).” (Khulashah Tadzhib Tahdzibul Kamal oleh Shafiyuddin al-Anshari, Hal: 103).
       Pada tanggal 18 Ramadhan 21 H, Khalid bin al-Walid r.a. wafat. Khalifah Umar bin al-Khattab r.a. angat bersedih dengan kepergian Sang Pedang Allah. Ketika ada yang meminta Khalifah Umar  r.a. agar menenangkan wanita-wanita Quraisy yang menangis karena kepergian Khalid, Umar berkata, “Para wanita Quraisy tidak harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid).” (Al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir: 7/132).    Setelah wafatnya, Khalid bin Walid r.a.  mendermakan senjata dan kuda tunggangannya untuk berjihad di jalan Allah (Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad: 7/397).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 11 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar