Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
20
TIDAK SETIAP SYUHADA
HARUS TERBUNUH DALAM JIHAD DI JALAN ALLAH,
CONTOHNYA KHALID BIN WALID R.A. YANG BERGELAR
“SAIFULLĀH” (PEDANG ALLAH)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 19 telah dijelaskan orang-orang yang bertakwa
dan bertawakkal kepada Allah
Swt. maka Dia akan menjadi “Wakil” -- yakni Pelindung
– atas berbagai urusan di jalan-Nya yang dihadapinya, mengenai hal tersebut Allah Swt. berfrirman:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ
قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ
یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ فَرِحِیۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ
وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ
اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ
بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ٪ۛ اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ
فَاخۡشَوۡہُمۡ فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ
نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ ﴿﴾ فَانۡقَلَبُوۡا
بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا
رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّمَا
ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ
خَافُوۡنِ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ -- bahkan
mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ اٰتٰہُمُ
اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Mereka bergirang hati dengan apa
yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ
یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ -- dan mereka
bergembira terhadap orang-orang di
belakangnya yang belum pernah bergabung dengan mereka اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada
ketakutan atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih. یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ -- Mereka
bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran
orang-orang yang beriman. اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ -- Yaitu orang-orang yang telah melaksanakan
perintah Allah dan Rasul sesudah
mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- Bagi orang-orang yang berbuat ihsan
di antara mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ
النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا
لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ -- Yaitu
orang-orang yang telah berkata kepada mereka yang beriman bahwa: “Sesungguhnya
manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang
kamu, maka takutlah kepada mereka.”
فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا -- tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ
الۡوَکِیۡلُ -- dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ
یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ -- Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia
dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَظِیۡمٍ -- dan mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ
اَوۡلِیَآءَہٗ --
Sesungguhnya yang demikian itu adalah
syaitan yang menakut-nakuti sahabat-sahabatnya, فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- karena
itu janganlah kamu takut kepada mereka
tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu
orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).
Mendapat Kabar Gembira dan Rezeki dari Allah Swt.
Amwat itu jamak dari mayyit,
yang selain berarti orang mati,
mengandung makna: (1) orang yang darahnya belum terbalas; (2) orang yang tidak
meninggalkan penerus-penerus; (3) orang yang menderita sedih dan duka nestapa: وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا -- Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ -- bahkan
mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka diberi rezeki.”
Ayat
selanjutnya: فَرِحِیۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- “mereka bergirang
hati dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka
dari karunia-Nya.” Para syuhada (orang-orang mati syahīd)
merasa gembira bahwa saudara-saudara mereka yang ditinggalkan di dunia ini dan akan mengikuti jejak mereka kemudian
akan segera menang atas musuh-musuh mereka (QS.33:22-28).
Maksudnya adalah bahwa sesudah mati segala hijab (tabir gaib) diangkat dan para syuhada diberi makrifat mengenai kemenangan-kemenangan
yang tersedia bagi kaum Muslimin.
Mereka mendapat kabar gembira mengenai saudara-saudaranya, yaitu para malaikat Allah terus-menerus memberitahu
mereka mengenai sukses
dan kemenangan-kemenangan yang
dicapai Islam sepeninggal
mereka: وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ
خَلۡفِہِمۡ -- dan mereka
bergembira terhadap orang-orang di
belakangnya yang belum pernah bergabung dengan mereka اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada
ketakutan atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih.”
Tanda Orang-orang yang Mentaati
Allah Swt. dan Rasul-Nya
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ
مَاۤ اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ -- yaitu orang-orang yang telah melaksanakan perintah Allah dan Rasul sesudah mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- bagi orang-orang yang berbuat ihsan
di antara mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar.”
Pada
ayat ini dan pada ayat berikutnya diisyaratkan tentang dua gerakan militer yang dipimpin oleh Nabi Besar Muhammad saw. melawan orang-orang kafir Mekkah sesudah Perang Uhud. Yang pertama dilakukan pada keesokan harinya sesudah pertempuran
itu.
Ketika lasykar Mekkah menarik
diri dari Uhud, mereka diejek oleh beberapa suku Arab karena tidak membawa barang rampasan perang atau tawanan perang dari medan pertempuran yang menurut pengakuan mereka telah dimenangkan oleh mereka. Oleh
sebab itu mereka berpikir untuk kembali
lagi ke Medinah, dengan tujuan menyerang
lagi kaum Muslimin dan menggenapkan
kemenangan mereka.
Nabi Besar Muhammad saw. telah mempunyai firasat mengenai kedatangan-kembali
mereka, maka beliau saw. menyerukan
kepada para sahabat yang telah
mengambil bagian dalam Perang Uhud
untuk ikut-serta dengan beliau saw. dalam
gerakan militer melawan lasykar Mekkah, dan pada keesokan
harinya beliau saw. berangkat dari Medinah dengan 250 prajurit.
Ketika kaum Mekkah mendengar hal itu
hati mereka gentar lalu melarikan diri. Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabah r.a. bergerak
sejauh Hamra al-Asad, yang letaknya kira-kira 8 mil dari Medinah di jalur ke
arah Mekkah, dan setelah mengetahui bahwa musuh
telah melarikan diri, beliau saw. kembali ke Medinah. Gerakan
militer kedua datang setahun kemudian.
Sebelum meninggalkan medan perang Uhud, Abu Sufyan, panglima
lasykar Mekkah, telah menjanjikan
kepada kaum Muslimin untuk berhadapan lagi pada tahun kemudian di Badar. Namun karena tahun kemudian
datang tahun paceklik, ia tak dapat
melaksanakan bualannya.
Menghembuskan Desas-desus
Dusta
Tetapi ia mengutus Nu’aim bin Mas’ud ke Medinah untuk menakut-nakuti kaum Muslimin, dengan
menyebarkan desas-desus mengenai persiapan besar-besaran yang telah
diselenggarakan oleh kaum Mekkah. Akan tetapi siasat kotor itu sama sekali gagal membuat takut kaum Muslimin yang
datang di Badar pada saat yang
ditentukan, dan ternyata kaum Mekkah
tidak datang: اَلَّذِیۡنَ
قَالَ لَہُمُ النَّاسُ اِنَّ
النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ -- yaitu
orang-orang yang telah berkata kepada mereka yang beriman bahwa: “Sesungguhnya
manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang
kamu, maka takutlah kepada mereka.”
فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا -- tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ
الۡوَکِیۡلُ -- dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
Ekspedisi ini dikenal sebagai Ghazwah
(gerakan) Badr al-Shugra (Badar Kecil), untuk memperbedakannya dari perang Badar Besar yang telah terjadi
kira-kira dua tahun sebelumnya. Isyarat ayat tersebut tertuju kepada desas-desus yang disebarkan oleh Nu’aim bin Mas’ud.
Kaum Muslimin kembali dari Badr
al-Shugra setelah meraih keuntungan besar dalam perdagangan di pasar tahunan yang terselenggara di sana. Hal itu disinggung dengan
kata “karunia”: فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ
یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ
-- Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah,
keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَظِیۡمٍ -- dan mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar.”
Kata-kata dalam ayat: اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ -- Sesungguhnya yang demikian itu adalah syaitan yang
menakut-nakuti sahabat-sahabatnya, فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- karena
itu janganlah kamu takut kepada mereka
tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu
orang-orang yang beriman”, berarti:
(1) syaitan berupaya membuat orang-orang beriman takut terhadap orang-orang
kafir, sahabat-sahabatnya;
(2) dengan rencananya, syaitan hanya berhasil menakut-nakuti
temannya sendiri, yaitu orang-orang kafir.
Namun kenyataannya sama sekali berlawanan
dengan maksud menyebarkan isu-isu dusta
berupa ancaman tersebut: فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا -- tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ -- dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung”, demikianlah
makna ayat-ayat dalam firman-Nya:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ
قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ
یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ فَرِحِیۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ
وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ
اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ
بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ٪ۛ اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ
فَاخۡشَوۡہُمۡ فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ
نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ ﴿﴾ فَانۡقَلَبُوۡا
بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا
رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّمَا
ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ
خَافُوۡنِ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ -- bahkan
mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ اٰتٰہُمُ
اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Mereka bergirang hati dengan apa
yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ
یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ -- dan mereka
bergembira terhadap orang-orang di
belakangnya yang belum pernah bergabung dengan mereka اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih. یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ -- Mereka
bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran
orang-orang yang beriman. اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ -- Yaitu orang-orang yang telah melaksanakan
perintah Allah dan Rasul sesudah
mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- Bagi orang-orang yang berbuat ihsan
di antara mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ
النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا
لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ -- Yaitu
orang-orang yang telah berkata kepada mereka yang beriman bahwa: “Sesungguhnya
manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang
kamu, maka takutlah kepada mereka.”
فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا -- tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ
الۡوَکِیۡلُ -- dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ
یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ -- Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia
dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَظِیۡمٍ -- dan mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ
اَوۡلِیَآءَہٗ --
Sesungguhnya yang demikian itu adalah
syaitan yang menakut-nakuti sahabat-sahabatnya, فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- karena
itu janganlah kamu takut kepada mereka
tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu
orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).
Kesetiaan Sempurna Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.
Dikarena Nabi Besar Muhammad saw.
merupakan suri-teladan yang terbaik, demikian pula halnya dengan
para sahabat beliau saw. pun tidak mau melewatkan kesempatan untuk menjadi para
pengikut hakiki yang sulit mencari padanannya dalam hal ketakwaan kepada Allah
Swt. dan kepatuh-taatan kepada
Rasul-Nya, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾ وَ لَمَّا رَاَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ
وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ
مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡزِیَ
اللّٰہُ الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ
یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ
شَآءَ اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾
Sungguh dalam diri Rasulullah benar-benar terdapat asuri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. وَ لَمَّا رَاَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ -- Dan ketika
orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ
وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ -- mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allah
serta Rasul-Nya telah mengatakan yang
benar.” وَ
مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا -- Dan hal
itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ
قَضٰی نَحۡبَہٗ - -- Di antara orang-orang yang beriman ada
orang-orang yang
telah menggenapi apa yang dijanjikannya kepada Allah, maka
dari antara mereka ada yang telah
menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid, وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
یَّنۡتَظِرُ -- dan di
antara mereka ada yang masih menunggu, وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا -- dan mereka
sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ -- Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebe-naran mereka,
وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ شَآءَ
اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ -- dan mengazab
orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا -- Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:22-25).
Ayat 23 merupakan kenang-kenangan besar
terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para
pengikut Nabi Besar Muhammad saw..
Tidak pernah para pengikut nabi Allah
mana jua pun menerima dari Allah Swt. surat keterangan bukti kelakukan baik
dan kesetiaan seperti itu.
Seperti halnya wujud junjungan mereka -- Nabi Besar Muhammad saw. -- tidak
ada tara bandingannya di antara nabi-nabi
Allah dalam menunaikan tugas, begitu
pula para sahabat beliau saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada
mereka (QS.33:22-25) sehingga Allah Swt.
menyebut mereka sebagai “umat terbaik”
(QS.2:144; QS.3:111).
“Burung-burung Hijau” di Surga & Khalid bin
Walid r.a. Sang “Pedang Allah”
Sehubungan
firman Allah Swt. dalam Surah Ali ‘Imran ayat
170: وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ
قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا -- “Dan janganlah
kamu menyangka mengenai orang-orang
yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ -- bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka
diberi rezeki,” terdapat keterangan dalam hadits berikut ini:
“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad
bin Abdullah bin Numair] sedangkan lafadznya dari dia, telah menceritakan
kepada kami [Asbath] dan [Abu Mu'awiyah] keduanya berkata; telah menceritakan
kepada kami [Al A'masy] dari [Abdullah bin Murrah] dari [Masruq] dia berkata,
"Kami pernah bertanya kepada [Abdullah] perihal ayat ini: وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ
اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ
-- Dan janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan
Allah itu mati, akan tetapi sebenarnya mereka itu hidup
di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki.” Dia berkata, "Kami dulu pernah menanyakan
hal itu, dan beliau saw. menjawab: "Ruh
mereka berada di dalam rongga (tembolok) burung hijau yang mempunyai banyak
pelita yang bergantungan di 'Arsy, ia dapat keluar masuk surga sesuka hati
kemudian beristirahat lagi di pelita-pelita itu, kemudian Rabb mereka menengok
mereka seraya berfirman: “Apakah
kalian menginginkan sesuatu?” Mereka
menjawab, “Apa lagi yang kami
inginkan kalau kami sudah dapat keluar masuk ke surga sesuka hati kami?” Lalu Allah terus mengulangi pertanyaan itu
hingga tiga kali. Ketika mereka melihat kalau mereka tidak akan ditinggalkan
sebelum menjawab pertanyaan itu, maka merekapun menjawab, “Duhai Rabb, kami menginginkan ruh kami
dikembalikan lagi ke jasad kami hingga kami dapat berperang lagi di jalan
Engkau untuk kesekian kalinya.” Ketika Allah melihat kalau mereka tidak lagi
membutuhkan sesuatu, akhirnya mereka ditinggal pergi." (Hadits Muslim No.3500).
Namun
perlu diperhatikan bahwa menjadi syuhada itu tidak berarti harus terbunuh
secara jasmani di jalan Allah, contohnya adalah Khalid
bin Walid r.a. yang berusaha agar
dapat menjadi syahid di jalan Allah sehingga dalam setiap pertempuran beliau selalu terjun ke bagian medam pertempuran
yang paling berbahaya agar dapat terbunuh di jalan Allah sebagai syahid, tetapi dalam kenyataannya “Saifullāh”
(pedang Allah) tersebut wafat di tempat tidurnya akibat sakit.
Nama Khalid bin al-Walid r.a. begitu masyhur di umat ini.
Mendengar namanya, seseorang akan selalu terbayang akan kepahlawanan dan jihad di
jalan Allah. Sosoknya sangat dirindukan, dan figurnya selalu ingin ditiru
dan diharapkan. Ia dijuluki Saifullah
(pedang Allah). Ayahnya adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya yang
sangat menentang Nabi Besar Muhammad saw. (QS.68:1-18). Ibunya adalah Lubabah
binti al-Harits, saudara dari Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits.
Sabda Nabi Besar Muhammad
Saw. Mengenai Khalid bin Walid r.a.
Khalid bin al-Walid memeluk Islam pada
tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah
tengah berjalan. Ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi Besar Muhammad saw. memuji Khalid dalam perang tersebut dengan
sabdanya:
“Bendera perang dibawa oleh
Zaid [bin Haritsah] lalu berperang
hingga syahid. Kemudian bendera
diambil oleh Ja’far [bin Abi Thalib] dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (Saifullah
– yakni Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum Muslimin.”
Khalid
bin Walid r.a. mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah patah.
Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (Diriwayatkan Al-Bukhari
dalam Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwatu
Mu’tah min Ardhi Syam: 4017).
Sejak saat itu Khalid dikenal dengan
sebutan saifullah. Khalid bin Walid
r.a. juga turut serta dalam Perang Khaibar, Hunain, Fathu Mekah, dan lain-lain.
ll.
Nabi Besar Muhammad saw. pernah
mengutusnya untuk menghancurkan berhala Uzza. Khalid bin Walid r.a. pun meluluhlantakkan wibawa berhala itu di
hadapan penyembahnya. Ia hancurkan Uzza. Setelah itu ia berkata, “Aku mengingkari engkau. Engkau tidak Maha
Suci. Sesungguhnya Allah telah menghinakan engkau!” Kemudian Khalid bakar Tuhan jahiliyah itu (as-Sirah
an-Nabawiyah oleh
Ibnu Katsir: 3/597).
Abu Bakar juga menjadikan Khalid bin Walid r.a. pemimpin pasukan
dalam peperangan melawan orang-orang murtad.
Abu Bakar mengatakan, “Sebaik-baik hamba
Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin al-Walid. Khalid bin al-Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah.” (as-Sirah al-Halabiyah
oleh al-Halabi: 3/212).
Khalid bin al-Walid r.a. mencatatkan sejarah yang
begitu luar biasa dalam menghadapi negara
adidaya seperti Romawi di Syam
dan Persia di Irak. Dan ia pula yang
memerdekakan Damaskus. Panglima perang yang sibuk dengan jihadnya ini meriwayatkan 8 hadits dari Nabi Besar Muhammad saw.
Saat kematian
hendak menjemputnya, ia berkata, “Aku
telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu
jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman
tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di
atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana
terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku
harapkan daripada Lā ilāha Illallāh,
dan aku terus menjaga kalimat
tersebut (tidak berbuat syirik).” (Khulashah Tadzhib Tahdzibul Kamal
oleh Shafiyuddin al-Anshari, Hal: 103).
Pada tanggal 18 Ramadhan 21 H, Khalid bin al-Walid r.a. wafat. Khalifah
Umar bin al-Khattab r.a. angat
bersedih dengan kepergian Sang Pedang
Allah. Ketika ada yang meminta Khalifah Umar r.a. agar menenangkan wanita-wanita Quraisy
yang menangis karena kepergian Khalid,
Umar berkata, “Para wanita Quraisy tidak
harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid).” (Al-Bidayah
wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir: 7/132). Setelah wafatnya, Khalid bin Walid r.a. mendermakan senjata dan kuda
tunggangannya untuk berjihad di
jalan Allah (Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad: 7/397).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 11 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar