Senin, 08 Agustus 2016

Pentingnya Mengenakan "Pakaian Takwa" dan "Bertawakkal" Kepada Allah Swt. & "Hidupnya" Para Syahid (Syuhada) yang Berjihad di Jalan Allah Swt.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA

Bab 19

PENTINGNYA MENGENAKAN PAKAIAN TAKWA DAN BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH  SWT. &  HIDUPNYA  PARA SYAHID (SYUHADA)  YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH SWT.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab 18   telah dijelaskan  berkenaan  hubungan surah Al-Muzzammil dengan surah Al-Muddatstsir,  dimana  surah Al-Muzzammil    menekankan pentingnya mengerjakan shalat tajajjud dan kesibukan pengkhidmatan di jalan Allah sedangkan  surah Al-Muddatstsir  penekanannya pada pembinaan jama’ah,   firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾   قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾   نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾   اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Wahai orang yang berselimut,  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit.   Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,    atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  --  Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا   --  Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --     Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.   وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا --    Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau  kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian  (Al-Muzzammil [73]:1-9).

Arti Muzzammil dan Muddatstsir

  Zammalahu berarti: ia menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil) berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid; Fath-ul- Qadir; Ruh-ul- Ma’ani).
 Kemudian dalam surah Al- Muddatstsir  Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya pensucian akhlak dan ruhani  para sahabat  (jama’ah) Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ﴿﴾  قُمۡ   فَاَنۡذِرۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  رَبَّکَ فَکَبِّرۡ ۪﴿ۙ  وَ  ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ ۪﴿ۙ﴾  وَ الرُّجۡزَ  فَاہۡجُرۡ ۪﴿ۙ﴾  وَ لَا  تَمۡنُنۡ  تَسۡتَکۡثِرُ ۪﴿ۙ﴾ وَ  لِرَبِّکَ  فَاصۡبِرۡ ؕ﴿﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Peyayang.  یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ﴿﴾    --  Wahai orang yang berselimut  jubah. قُمۡ   فَاَنۡذِر  --   Bangkitlah dan peringatkanlah,   وَ  رَبَّکَ فَکَبِّرۡ   --  Dan agungkanlah Rabb (Tuhan) engkau,  وَ  ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ  --     Dan sucikanlah pakaian engkau,  وَ الرُّجۡزَ  فَاہۡجُرۡ    --  Dan  tinggalkan  penyembahan berhala, لَا  تَمۡنُنۡ  تَسۡتَکۡثِرُ  --   Dan janganlah engkau melakukan kebaikan dengan niat meraih keuntungan lebih banyak, وَ  لِرَبِّکَ  فَاصۡبِرۡ   --  Dan demi Rabb (Tuhan) engkau maka bersabarlah. (Al-Muddatstsīr [74]:1-8).
   Tadatstsara atau Iddatstsara berarti: ia membungkus diri sendiri dengan pakaian. Datstsara-hu berarti: “ia membinasakan atau melenyapkan dia atau sesuatu”;  “ia menutupi dia dengan pakaian hangat”. Datstsara ath-thairu artinya “burung itu mengemasi atau membenahi sarangnya”; Tadatstsara al-farasa berarti ia melompat ke atas kuda dan menungganginya.” Tadatstsar al-’aduwwa berarti  ia menaklukkan musuh (Lexicon Lane).
   Menurut bermacam-macam arti kata-kata itu  al-muddatstsir dapat berarti: penghapus atau pembasmi, pembaharu atau orang yang mengemasi atau membenahi barang-barang, penakluk; orang yang hampir melompat ke atas kuda dan menungganginya.  
    Kata itu telah ditafsirkan pula, orang yang diserahi memikul tanggung-jawab yang berat sebagai nabi (Fath-ul- Qadir). Kata itu berarti pula seseorang yang dirinya dihiasi dengan kekuatan dan kemampuan alami yang terbaik dan kemuliaan yang dimiliki seorang nabi (Ruh al-Ma’ani). Kata-kata sifat itu semua sangat tepat dikenakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw.  bukan saja   merupakan  “suri teladan terbaik” (QS.33:22)  tetapi juga satu-satunya Rasul Allah yang mendapat gelar “Khātaman-Nabiyyīn (QS.33:41), firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah  وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ  -- dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  (Al-Ahzāb [33]:41).
     Khātam berasal dari kata khatama yang berarti: ia memeterai, mencap, mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun.
     Khātam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan; terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama artinya (Lexicon Lane, Mufradat, Fath-ul-Bari, dan Zurqani). Maka kata khātaman nabiyyin akan berarti: meterai para nabi; yang terbaik dan paling sempurna dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi terakhir.

Makna  Lain “Pakaian” & Memurnikan Tauhid Ilahi  dari Kemusyrikan

       Tsiyāb  dalam ayat وَ  ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ  --     “Dan sucikanlah pakaian engkau” (Al-Muddatstsīr [74]:3)   artinya: pakaian-pakaian atau pengikut-pengikut seseorang; badan atau pribadi si pemakai (Lexicon Lane dan Steingass).  Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan agar sebelum menerima tugas agung itu menyiapkan suatu jemaat terdiri dari para pengikut yang hatinya, kelakuannya, dan nama baiknya murni. Atau, ayat ini dapat berarti pula bahwa beliau saw. sendiri harus menjadi suri teladan sempurna dalam kesalehan, ketakwaan, dan perilaku yang suci murni.
  Ar-rujz  dalam ayat  وَ الرُّجۡزَ  فَاہۡجُرۡ    --  Dan  tinggalkan  penyembahan berhala,  berarti pula kemusyrikan (Lexicon Lane); ayat ini dapat dianggap perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw.   agar tidak jemu-jemu membasmi kemusyrikan,   -- baik kemusyrikan yang nyata mau  pun kemusyrikan terselubung   -- sebagaimana diisyaratkan dalam ayat selanjutnya: لَا  تَمۡنُنۡ  تَسۡتَکۡثِرُ  --   “Dan janganlah engkau melakukan kebaikan dengan niat meraih keuntungan lebih banyak”,  melainkan  apa pun yang dilakukan hanya semata-mata demi mencari keridhaan Allah Swt. dan kecintaan-Nyaوَ  لِرَبِّکَ  فَاصۡبِرۡ   --  “Dan demi Rabb (Tuhan) engkau maka bersabarlah.”
  Semua rasul Allah – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  --  benar-benar melaksanakan perintah Allah  Swt.:  لَا  تَمۡنُنۡ  تَسۡتَکۡثِرُ  --   “Dan janganlah engkau melakukan kebaikan dengan niat meraih keuntungan lebih banyak”,  sebagaimana firman-Nya dalam surah Ya Sīn mengenai “seorang laki-laki yang  datang berlari-lari dari bagian terjauh kota” yang melengkapi  pengutusan 3 orang rasul Allah sebelumnya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ   اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿
Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki dengan berlari-lari, ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan (rasul-rasul)  itu. اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ  --  “Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Yā Sīn [36]:21-22).

Masih Mau’ud a.s. dan Nubuatan Dalam Surah Al-Jumu’ah  

      Kata-kata  “bagian terjauh kota itu” dapat diartikan suatu tempat yang jauh letaknya dari markas Islam  yaitu kota Mekkah.   Isyarat yang terkandung dalam kata rajulun (seorang laki-laki) dapat tertuju kepada   Masih Mau’ud a.s. yakni Al-Masih Akhir Zaman  atau misal Nabi isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yang telah disebut demikian oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam suatu hadits yang terkenal (Bukhari, Kitab at-Tafsir) sehubungan ayat “wa ākharīna minhum lammā  yalhaqu bihim  dalam   Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  secara ruhani  di kalangan umat Islam, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾     
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. یُسَبِّحُ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ  --     Menyanjung kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ    --   Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang rasul dari antara mereka,  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ  -- yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata :   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    --  Dan Dia akan membangkitaknnya lagi pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
      Kata-kata yang sama dalam arti dan maksud dengan kata yas’a (berlari-lari) telah dipakai mengenai  Masih Mau’ud a.s.  oleh  Nabi Besar Muhammad saw.   dalam beberapa sabda beliau saw., yang memberi isyarat kepada sifatnya yang tidak mengenal lelah, cepat bertindak dan tidak mengenal jemu dalam usahanya untuk kepentingan Islam dan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai   (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk  Masih yang dijanjikan sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Pentingnya Mengenakan “Pakaian Takwa”  dan  Shalat Tahajjud   

   Pendek kata, semua arti dari  kata muzzammil dan muddatstsir  tersebut  sangat tepat dikenakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  sebab di antara para rasul Allah    yang memakai busana (takwa) takwa yang paling sempurna dalam seginya adalah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ  --  dan pakaian takwa   itulah yang terbaik,   ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ  -- yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat (Al-A’rāf [7]:27).
   Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  --  “Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot” dapat berarti  “ajaran Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting”   bahwa ajaran itu terlalu penting untuk digantikan atau disisihkan.  Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang dapat diubah, diganti atau diperbaiki sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10; QS.41:43).
  Menurut hadits yang kerap kali dikutip, manakala ada wahyu turun kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,  beliau saw.  jadi hening terpaku dan merasakan ada suatu keharuan istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan  Nabi Besar Muhammad saw.   itu disebabkan oleh keharuan tadi.
  Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud  merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuh mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
  Di dalam kesunyian dan keheningan malam semacam kedamaian yang ajaib mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khāliq-nya – menikmati perhubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain.
   Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan.  Sebab ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu Ruhani  (Mushlih) agar berhasil di dalam tugasnya.
   Tahajjud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya maka  orang tersebut menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula, firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾   وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.”  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  --   Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan   bagi engkau,  عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا --  boleh jadi  Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ  --  Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --   dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   Dan katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا --  tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian.  (Bani Israil [17]:79-83).

Keutamaan Berdoa Kepada Allah Swt. & Pentingnya Bertakwa dan Bertawakkal Kepada Allah Swt.

       Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan berbagai manfaat berdoa kepada Allah Swt.:
       Barangsiapa memohon kepada Tuhan di saat kesulitan dan kegalauan serta mencari kelepasan melalui pertolongan-Nya, ia akan memperoleh kepuasan dan kesejahteraan hakiki dari Allah Yang Maha Kuasa, sepanjang ia meneruskan doanya sampai pada batasnya.
       Misalnya pun ia tidak mendapatkan tujuan dari doanya tersebut, ia akan diberikan bentuk kepuasan lain dari Tuhan dan tidak akan menjadi frustrasi karenanya. Disamping itu keimanannya menjadi bertambah kuat dan keyakinannya meningkat. Adapun mereka yang memohon bukan kepada Tuhan Yang Maha Agung akan tetap saja buta sepanjang waktu dan mati pun dalam keadaan buta.
      Ia yang berdoa dengan kesungguhan jiwanya tidak akan pernah merasa frustrasi. Kemakmuran yang sulit diperoleh melalui kekayaan, kekuasaan dan kesehatan, tetapi melalui Tangan Tuhan bisa diberikan dalam bentuk apa pun menurut kesukaan-Nya kepada mereka yang berdoa secara sempurna.
        Menurut perkenan Allah Swt. seorang bertakwa yang tulus,  di tengah kesulitannya bisa memperoleh kenikmatan dari hasil doanya lebih dari yang bisa dinikmati seorang maharaja di atas tahtanya. Inilah keberhasilan hakiki yang dikaruniakan kepada mereka yang berdoa.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm. 237, London, 1984).

Pandangan  Keliru  Orang-orang Munafik Mengenai Orang-orang yang Beriman

        Orang-orang  yang  tidak mengetahui “nikmat-nikmat” tersebut  menganggap orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah sebagai  orang-orang yang “tertipu” (diperdayai) oleh agamanya atau oleh keimanannya, firman-Nya:
اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذۡ یَتَوَفَّی الَّذِیۡنَ کَفَرُوا ۙ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَضۡرِبُوۡنَ  وُجُوۡہَہُمۡ وَ اَدۡبَارَہُمۡ ۚ وَ ذُوۡقُوۡا  عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ  بِظَلَّامٍ   لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾

Ingatlah  ketika  orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ   --  “Agama mereka telah menipu mereka.” Padahal  barangsiapa bertawakal kepada  Allah maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  Dan seandainya engkau dapat melihat  ketika malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang  kafir, mereka  memukuli wajah-wajah dan punggung-punggung mereka itu  sera-ya berkata:  Rasakanlah oleh kamu azab yang membakarAzab itu  disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan    sesungguhnya  Allah sekali-kali tidak zalim  terhadap hamba-hamba-Nya.”  (Al-Anfāl [8]:50-52). Lihat pula QS.33:11-21.
     Salah satu contoh “kegembiraan” yang dialami orang-orang yang bertakwa dan yang bertawakal kepada Allah Swt. (QQ.128; QS.14:12-13; QS.33:1-4), Dia berfirman:
 ذٰلِکُمۡ یُوۡعَظُ بِہٖ  مَنۡ کَانَ یُؤۡمِنُ  بِاللّٰہِ  وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ۬ؕ وَ  مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ  یَجۡعَلۡ لَّہٗ  مَخۡرَجًا ۙ﴿﴾  وَّ یَرۡزُقۡہُ  مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  بَالِغُ  اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ  لِکُلِّ شَیۡءٍ  قَدۡرًا ﴿﴾
…..Demikianlah diberi nasihat dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. وَ  مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ  یَجۡعَلۡ لَّہٗ  مَخۡرَجًا  --  Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar,  وَّ یَرۡزُقۡہُ  مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ  -- dan Dia akan memberi rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka. وَ مَنۡ  یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  فَہُوَ حَسۡبُہٗ   --  Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka Dia memadai baginya.  اِنَّ اللّٰہَ  بَالِغُ  اَمۡرِہٖ   -- Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang  dikehen-daki-Nya.  قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ  لِکُلِّ شَیۡءٍ  قَدۡرًا  -- Sungguh Allah telah mene-tapkan ketentuan bagi segala sesuatu. (Ath-Thalaq [65]:3-4).

Kegembiraan Para Syuhada  di Akhirat

        Orang-orang yang bertakwa dan bertawakkal  kepada Allah Swt. maka Dia akan menjadi “Wakil”   -- yakni Pelindung – atas berbagai  urusan  di jalan-Nya yang dihadapinya, mengenai hal  tersebut Allah Swt. berfrirman:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ   فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ   ﴿﴾ۚ٪ۛ  اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ ﴿﴾  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ --  bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ   -- Mereka bergirang hati  dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ  --  dan mereka bergembira terhadap orang-orang  di belakangnya yang  belum pernah bergabung dengan mereka  اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan  atas mereka, dan tidak pula mereka  bersedih.  یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ  --  Mereka bergembira  dengan nikmat dan karunia dari Allah,  وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya  Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang beriman.    اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ  اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ --  Yaitu orang-orang yang telah  melaksanakan perintah Allah dan Rasul sesudah mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  Bagi orang-orang yang berbuat ihsan  di antara  mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ  قَالَ لَہُمُ النَّاسُ  اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ  --  Yaitu orang-orang yang   telah berkata  kepada mereka yang beriman  bahwa: “Sesungguhnya manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang kamu, maka takutlah kepada mereka.فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا  --  tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ  --  dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”  فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ     --  Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia  dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ  عَظِیۡمٍ    -- dan mereka mengikuti  keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ  -- Sesungguhnya yang demikian itu adalah syaitan yang menakut-nakuti  sahabat-sahabatnyaفَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ  -- karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi  takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Agustus    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar