Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
19
PENTINGNYA MENGENAKAN “PAKAIAN TAKWA” DAN BERTAWAKKAL
KEPADA ALLAH SWT. & “HIDUPNYA” PARA SYAHID (SYUHADA) YANG BERJIHAD
DI JALAN ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 18 telah dijelaskan berkenaan hubungan surah Al-Muzzammil
dengan surah Al-Muddatstsir, dimana
surah Al-Muzzammil menekankan pentingnya mengerjakan shalat tajajjud dan kesibukan pengkhidmatan di jalan
Allah sedangkan surah Al-Muddatstsir
penekanannya pada pembinaan jama’ah,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا
الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾ قُمِ الَّیۡلَ
اِلَّا قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ نِّصۡفَہٗۤ
اَوِ انۡقُصۡ مِنۡہُ قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ اَوۡ
زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّا
سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ
نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ
وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Wahai orang
yang berselimut, berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit. Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya, atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ
الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ
اَقۡوَمُ قِیۡلًا -- Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ
لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.
وَ
اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ
اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا -- Maka ingatlah
selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau
kepada-Nya dengan sepenuh
kebaktian (Al-Muzzammil [73]:1-9).
Arti Muzzammil dan Muddatstsir
Zammalahu berarti: ia menggendong dia di belakang
punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan,
berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau
izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong
sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil)
berarti: orang yang terbungkus di
dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid; Fath-ul-
Qadir; Ruh-ul-
Ma’ani).
Kemudian dalam surah Al- Muddatstsir Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya pensucian akhlak dan ruhani para sahabat (jama’ah) Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ﴿﴾ قُمۡ فَاَنۡذِرۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ رَبَّکَ
فَکَبِّرۡ ۪﴿ۙ﴾ وَ ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ ۪﴿ۙ﴾ وَ
الرُّجۡزَ فَاہۡجُرۡ ۪﴿ۙ﴾ وَ لَا تَمۡنُنۡ تَسۡتَکۡثِرُ ۪﴿ۙ﴾ وَ لِرَبِّکَ
فَاصۡبِرۡ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Peyayang. یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ﴿﴾ -- Wahai orang
yang berselimut jubah. قُمۡ
فَاَنۡذِر -- Bangkitlah dan peringatkanlah, وَ رَبَّکَ فَکَبِّرۡ -- Dan agungkanlah
Rabb (Tuhan) engkau, وَ ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ -- Dan sucikanlah
pakaian engkau, وَ الرُّجۡزَ
فَاہۡجُرۡ -- Dan tinggalkan
penyembahan berhala, لَا تَمۡنُنۡ تَسۡتَکۡثِرُ -- Dan janganlah
engkau melakukan kebaikan dengan niat meraih keuntungan lebih banyak, وَ لِرَبِّکَ فَاصۡبِرۡ -- Dan
demi Rabb (Tuhan) engkau maka bersabarlah. (Al-Muddatstsīr [74]:1-8).
Tadatstsara atau Iddatstsara berarti:
ia membungkus diri sendiri dengan pakaian. Datstsara-hu berarti: “ia
membinasakan atau melenyapkan dia atau sesuatu”; “ia menutupi dia dengan pakaian hangat”. Datstsara
ath-thairu artinya “burung itu mengemasi atau membenahi sarangnya”; Tadatstsara
al-farasa berarti ia melompat ke atas kuda dan menungganginya.” Tadatstsar
al-’aduwwa berarti ia menaklukkan
musuh (Lexicon Lane).
Menurut bermacam-macam arti kata-kata itu al-muddatstsir dapat berarti: penghapus atau pembasmi, pembaharu atau orang yang mengemasi atau membenahi barang-barang, penakluk; orang yang hampir melompat ke atas kuda dan menungganginya.
Kata itu telah
ditafsirkan pula, orang yang diserahi
memikul tanggung-jawab yang berat
sebagai nabi (Fath-ul- Qadir). Kata itu berarti pula seseorang yang dirinya dihiasi
dengan kekuatan dan kemampuan alami yang terbaik dan kemuliaan yang dimiliki seorang
nabi (Ruh al-Ma’ani).
Kata-kata sifat itu semua sangat
tepat dikenakan kepada Nabi Besar
Muhammad saw., karena beliau
saw. bukan saja merupakan
“suri teladan terbaik”
(QS.33:22) tetapi juga satu-satunya Rasul Allah yang mendapat gelar “Khātaman-Nabiyyīn (QS.33:41),
firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Ahzāb
[33]:41).
Khātam berasal dari
kata khatama yang berarti: ia memeterai,
mencap, mensahkan atau mencetakkan
pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu. Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan
dengan memberi tanda atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai jenis apa pun.
Khātam berarti juga sebentuk cincin
stempel; sebuah segel, atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau anak (cabang)
suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan
atau perhiasan; terbaik atau paling sempurna.
Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir sama artinya (Lexicon Lane, Mufradat, Fath-ul-Bari, dan Zurqani).
Maka kata khātaman nabiyyin akan berarti: meterai para nabi; yang terbaik
dan paling sempurna dari antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan
nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi
terakhir.
Makna Lain “Pakaian”
& Memurnikan Tauhid Ilahi dari Kemusyrikan
Tsiyāb
dalam ayat وَ
ثِیَابَکَ فَطَہِّرۡ -- “Dan sucikanlah pakaian engkau” (Al-Muddatstsīr
[74]:3) artinya:
pakaian-pakaian atau pengikut-pengikut seseorang; badan atau pribadi si pemakai
(Lexicon Lane dan Steingass). Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan agar sebelum menerima tugas agung itu menyiapkan suatu jemaat terdiri dari para pengikut yang hatinya, kelakuannya, dan
nama baiknya murni. Atau, ayat ini
dapat berarti pula bahwa beliau saw. sendiri harus menjadi suri teladan sempurna dalam kesalehan,
ketakwaan, dan perilaku yang suci murni.
Ar-rujz dalam ayat وَ الرُّجۡزَ فَاہۡجُرۡ -- Dan tinggalkan
penyembahan berhala, berarti
pula kemusyrikan (Lexicon Lane); ayat ini dapat
dianggap perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw. agar tidak jemu-jemu membasmi kemusyrikan, -- baik kemusyrikan
yang nyata mau pun kemusyrikan terselubung -- sebagaimana diisyaratkan dalam ayat
selanjutnya: لَا تَمۡنُنۡ
تَسۡتَکۡثِرُ -- “Dan
janganlah engkau melakukan kebaikan dengan
niat meraih keuntungan lebih banyak”, melainkan
apa pun yang dilakukan hanya semata-mata demi mencari keridhaan Allah Swt. dan kecintaan-Nya: وَ لِرَبِّکَ فَاصۡبِرۡ -- “Dan
demi Rabb (Tuhan) engkau maka bersabarlah.”
Semua rasul Allah – terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- benar-benar melaksanakan perintah Allah Swt.: لَا تَمۡنُنۡ تَسۡتَکۡثِرُ -- “Dan
janganlah engkau melakukan kebaikan dengan
niat meraih keuntungan lebih banyak”, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ya Sīn mengenai “seorang laki-laki yang datang
berlari-lari dari bagian terjauh kota” yang melengkapi pengutusan 3 orang rasul Allah sebelumnya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا
الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ
یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ ﴾ اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ
﴿ ﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari, ia berkata:
“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan (rasul-rasul)
itu. اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ -- “Ikutilah
mereka yang tidak meminta upah dari
kamu dan mereka yang telah mendapat
petunjuk.” (Yā Sīn [36]:21-22).
Masih Mau’ud a.s. dan Nubuatan Dalam Surah Al-Jumu’ah
Kata-kata
“bagian terjauh kota itu” dapat diartikan suatu tempat yang jauh
letaknya dari markas Islam yaitu kota Mekkah. Isyarat
yang terkandung dalam kata rajulun (seorang laki-laki) dapat tertuju
kepada Masih Mau’ud a.s. yakni Al-Masih
Akhir Zaman atau misal Nabi isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yang telah disebut demikian oleh
Nabi Besar Muhammad saw. dalam suatu hadits yang terkenal (Bukhari, Kitab at-Tafsir) sehubungan ayat “wa ākharīna minhum lammā yalhaqu bihim dalam Surah Al-Jumu’ah
ayat 3-4 mengenai pengutusan kedua kali Nabi
Besar Muhammad saw. secara ruhani di kalangan
umat Islam, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
یُسَبِّحُ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ الۡمَلِکِ الۡقُدُّوۡسِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَکِیۡمِ -- Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, Yang Maha
Berdaulat, Maha Suci, Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ -- Dia-lah Yang telah membangkitkan di
kalangan bangsa yang buta huruf
seorang rasul dari antara mereka, یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ -- yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata : وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan
Dia akan membangkitaknnya lagi pada kaum lain dari antara mereka yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
Kata-kata yang sama dalam arti dan maksud
dengan kata yas’a (berlari-lari) telah dipakai mengenai Masih
Mau’ud a.s. oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam beberapa sabda beliau saw., yang
memberi isyarat kepada sifatnya yang tidak mengenal lelah, cepat bertindak
dan tidak mengenal jemu dalam usahanya
untuk kepentingan Islam dan
mewujudkan kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Masih yang dijanjikan sebab di zaman
beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama
akan menjadi kepastian.
Pentingnya Mengenakan “Pakaian Takwa” dan Shalat Tahajjud
Pendek kata, semua arti
dari kata muzzammil dan muddatstsir tersebut
sangat tepat dikenakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebab di antara para rasul Allah yang memakai busana (takwa) takwa yang paling sempurna dalam seginya adalah
Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, sungguh Kami
telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai perhiasan,
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ -- dan
pakaian takwa itulah yang terbaik, ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ -- yang demikian itu adalah sebagian dari
Tanda-tanda Allah, supaya mereka mendapat nasihat (Al-A’rāf
[7]:27).
Ungkapan “firman
yang berbobot” dalam ayat اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- “Sesungguhnya
Aku akan melimpahkan kepada engkau
firman yang berbobot” dapat berarti
“ajaran Al-Quran itu padat dengan
ajaran mahapenting” bahwa ajaran
itu terlalu penting untuk digantikan
atau disisihkan. Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang
dapat diubah, diganti atau diperbaiki
sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt.
(QS.15:10; QS.41:43).
Menurut hadits yang kerap
kali dikutip, manakala ada wahyu turun
kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening
terpaku dan merasakan ada suatu keharuan
istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes
besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi
Besar Muhammad saw. itu disebabkan oleh keharuan tadi.
Bangun malam untuk mendirikan shalat tahajjud merupakan wahana
yang kuat untuk menguasai diri dan
dengan ampuh mengendalikan kecenderungan
dan hasrat jahat seseorang. Merupakan
pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tidak ada yang begitu
banyak memberi manfaat bagi perkembangan ruhani seseorang selain tahajjud atau shalat malam.
Di dalam kesunyian dan keheningan malam semacam kedamaian
yang ajaib mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam –
karena benar-benar menyendiri bersama Sang
Khāliq-nya – menikmati perhubungan
istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya
lagi kepada orang-orang lain.
Saat itu luar biasa
cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan
kekuatan watak dan membuat pembicaraannya
sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Sebab ucapan
yang jitu dan kemampuan yang tiada
terhingga untuk bekerja keras
merupakan dua syarat yang perlu bagi
seorang Pembaharu Ruhani (Mushlih) agar berhasil di dalam tugasnya.
Tahajjud membantu memperkembangkan
dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai
pikiran dan ucapannya maka orang tersebut menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula,
firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ الَّیۡلِ وَ
قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ کَانَ
مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ
مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً
لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ
رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ
اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾ وَ
نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah.” وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ
نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam,
maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan bagi engkau,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh jadi Rabb
(Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke
martabat yang sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong. وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ
ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا
ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Dan
Kami menurunkan dari
Al-Quran suatu penyembuh dan rah-mat
bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:79-83).
Keutamaan Berdoa Kepada Allah Swt. & Pentingnya Bertakwa dan Bertawakkal Kepada Allah Swt.
Lebih
jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
berbagai manfaat berdoa kepada Allah Swt.:
“Barangsiapa memohon kepada Tuhan di saat kesulitan dan kegalauan serta mencari
kelepasan
melalui pertolongan-Nya, ia akan memperoleh kepuasan dan kesejahteraan hakiki dari Allah
Yang Maha Kuasa,
sepanjang ia meneruskan doanya sampai pada batasnya.
Misalnya
pun ia tidak mendapatkan tujuan dari doanya tersebut, ia akan diberikan bentuk kepuasan lain dari Tuhan
dan tidak akan menjadi frustrasi karenanya. Disamping itu keimanannya menjadi bertambah kuat dan keyakinannya
meningkat.
Adapun mereka yang memohon bukan kepada Tuhan
Yang Maha Agung akan
tetap saja buta sepanjang waktu dan mati pun dalam keadaan buta.
Ia
yang berdoa dengan kesungguhan jiwanya tidak
akan pernah merasa frustrasi. Kemakmuran
yang sulit diperoleh melalui kekayaan, kekuasaan
dan kesehatan, tetapi melalui Tangan Tuhan bisa diberikan dalam bentuk
apa pun menurut kesukaan-Nya kepada mereka yang berdoa secara sempurna.
Menurut perkenan
Allah Swt. seorang bertakwa yang tulus, di
tengah kesulitannya bisa memperoleh kenikmatan dari hasil
doanya
lebih dari yang bisa dinikmati seorang
maharaja di atas tahtanya.
Inilah keberhasilan hakiki yang dikaruniakan
kepada mereka yang berdoa.” (Ayyamus
Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIV, hlm.
237, London, 1984).
Pandangan Keliru
Orang-orang Munafik Mengenai Orang-orang yang Beriman
Orang-orang
yang tidak mengetahui “nikmat-nikmat” tersebut
menganggap orang-orang yang
beriman kepada Rasul Allah
sebagai orang-orang yang “tertipu” (diperdayai) oleh agamanya atau oleh keimanannya, firman-Nya:
اِذۡ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ غَرَّہٰۤؤُ
لَآءِ
دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
لَوۡ تَرٰۤی اِذۡ یَتَوَفَّی الَّذِیۡنَ
کَفَرُوا ۙ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡہَہُمۡ
وَ اَدۡبَارَہُمۡ ۚ وَ ذُوۡقُوۡا
عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿﴾ ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾
Ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang
yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ -- “Agama mereka telah menipu mereka.” Padahal barangsiapa
bertawakal kepada Allah maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan seandainya
engkau dapat melihat ketika
malaikat-malaikat mencabut nyawa
orang-orang kafir, mereka memukuli
wajah-wajah dan punggung-punggung
mereka itu sera-ya berkata:
”Rasakanlah oleh kamu azab yang membakar. Azab itu disebabkan oleh
apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan sesungguhnya Allah sekali-kali
tidak zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”
(Al-Anfāl [8]:50-52). Lihat pula QS.33:11-21.
Salah satu contoh “kegembiraan” yang dialami orang-orang
yang bertakwa dan yang bertawakal
kepada Allah Swt. (QQ.128; QS.14:12-13; QS.33:1-4), Dia berfirman:
ذٰلِکُمۡ
یُوۡعَظُ بِہٖ مَنۡ کَانَ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ۬ؕ وَ مَنۡ
یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّہٗ مَخۡرَجًا ۙ﴿﴾ وَّ
یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ
وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ
اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ
لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا ﴿﴾
…..Demikianlah diberi nasihat dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. وَ
مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ
لَّہٗ مَخۡرَجًا
-- Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah Dia akan membuat baginya suatu jalan
keluar, وَّ یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ -- dan Dia
akan memberi rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka. وَ مَنۡ
یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ
حَسۡبُہٗ -- Dan barangsiapa
bertawakkal kepada Allah maka Dia memadai
baginya. اِنَّ اللّٰہَ
بَالِغُ اَمۡرِہٖ -- Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehen-daki-Nya.
قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ لِکُلِّ
شَیۡءٍ قَدۡرًا
-- Sungguh Allah telah
mene-tapkan ketentuan bagi segala sesuatu. (Ath-Thalaq [65]:3-4).
Kegembiraan Para Syuhada di Akhirat
Orang-orang yang bertakwa dan bertawakkal kepada Allah
Swt. maka Dia akan menjadi “Wakil” -- yakni Pelindung
– atas berbagai urusan di jalan-Nya yang dihadapinya, mengenai hal tersebut Allah Swt. berfrirman:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ
قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ
یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ فَرِحِیۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ
وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ
اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ
بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ٪ۛ اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۚ اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ
فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا ٭ۖ وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ الۡوَکِیۡلُ
﴿﴾ فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ
فَضۡلٍ لَّمۡ یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ اَوۡلِیَآءَہٗ ۪ فَلَا
تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh di
jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ -- bahkan
mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ اٰتٰہُمُ
اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Mereka bergirang hati dengan apa
yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, وَ
یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ -- dan mereka
bergembira terhadap orang-orang di
belakangnya yang belum pernah bergabung dengan mereka اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada
ketakutan atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih. یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ -- Mereka
bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah, وَّ اَنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran
orang-orang yang beriman. اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ
الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ
اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ -- Yaitu orang-orang yang telah melaksanakan
perintah Allah dan Rasul sesudah
mereka menderita luka-luka. لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- Bagi orang-orang yang berbuat ihsan
di antara mereka dan bertakwa ada ganjaran yang besar. اَلَّذِیۡنَ قَالَ لَہُمُ
النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدۡ جَمَعُوۡا
لَکُمۡ فَاخۡشَوۡہُمۡ -- Yaitu
orang-orang yang telah berkata kepada mereka yang beriman bahwa: “Sesungguhnya
manusia yakni orang-orang kafir telah mengumpulkan lasykar untuk menyerang
kamu, maka takutlah kepada mereka.”
فَزَادَہُمۡ اِیۡمَانًا -- tetapi hal itu menambah keimanan mereka وَّ قَالُوۡا حَسۡبُنَا اللّٰہُ وَ نِعۡمَ
الۡوَکِیۡلُ -- dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” فَانۡقَلَبُوۡا بِنِعۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ فَضۡلٍ لَّمۡ
یَمۡسَسۡہُمۡ سُوۡٓءٌ ۙ -- Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia
dari Allah, keburukan tidak menyentuh mereka وَّ اتَّبَعُوۡا رِضۡوَانَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَظِیۡمٍ -- dan mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah Pemilik karunia yang besar. اِنَّمَا ذٰلِکُمُ الشَّیۡطٰنُ یُخَوِّفُ
اَوۡلِیَآءَہٗ -- Sesungguhnya
yang demikian itu adalah syaitan yang
menakut-nakuti sahabat-sahabatnya, فَلَا تَخَافُوۡہُمۡ وَ خَافُوۡنِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- karena
itu janganlah kamu takut kepada mereka
tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu
orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:170-176).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 10 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar