Senin, 01 Agustus 2016

Hubungan "Tangisan Bayi" Dengan Keberadaan "Air Susu Ibu" & Hubungan "Cucuran Air Mata" Dengan "Pengabulan Doa" Oleh Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


HAKIKAT DOA



 HUBUNGAN TANGISAN BAYI DENGAN KEBERADAAN AIR SUSU IBU&  HUBUNGAN CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.


Bab 13


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam   Bab 12 sebelumnya telah dijelaskan   sabda Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan pendapat keliru Sir Sayid Ahmad Khan  dalam menafsirkan  masalah pengabulan doa dalam firman-Nya: ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ   --“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61), sebagaimana juga firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  --  maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
         Sehubungan pendapat keliru  Sir Ahmad Khan  berkenaan dengan firman Allah Swt.:   اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,” dalam buku   “Barakatud-Du’a” (Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s.   menjelaskan:
      “Wahai engkau  tawanan intelek  sendiri, janganlah berbangga dengan diri engkau, karena alam semesta yang indah telah banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka yang terasing dari Tuhan tak akan pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia Sang Kekasih hanya dibuka bagi mereka yang datang dari surga. Mencoba sendiri menduga rahasia Al-Quran adalah kebodohan, yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan   kotoran semata.”
      Dalam buku kecilnya    Sayid Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
     “Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon akan selalu mendapat apa yang dimintanya. Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan doa maka akan muncul dua bentuk kesulitan:
     Kesulitan pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah hati ternyata tidak dipenuhi, berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa manusia.
    Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir. Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan, maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61),  tidak berlaku pada permohonan yang tidak ditetapkan takdirnya.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  5, London, 1984).

Hubungan Tangisan Bayi dengan Air Susu Ibu

      Dalam kesempatan lain  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hubungan  doa dengan pengabulannya oleh Allah Swt.: 
       Ketika seorang anak (bayi) menangis karena dorongan lapar perutnya, maka susu segera dihasilkan di dada ibunya. Anak  (bayi) itu tidak tahu apa yang namanya doa tetapi tangisnya telah menghasilkan susu. Hal ini merupakan suatu hal yang bersifat universal. Terkadang meski si ibu tidak menyadari adanya susu di dadanya, tangis si anak akan membantunya menghasilkan susu. Lalu apakah tangis kita di hadapan Tuhan tidak akan menghasilkan apa pun?
      Sesungguhnya tangis itu akan menarik segalanya, namun mereka yang buta matanya -- yang memperagakan dirinya sebagai cendekiawan dan filosof -- tidak mampu melihatnya. Bila kita renungi falsafah  dari doa, dengan merujuk pada hubungan antara ibu dengan anaknya, hal ini sebenarnya mudah dipahami.
       Bentuk kedua dari rahmat,  ia akan datang setelah mengajukan permohonan doa. Tetaplah kalian meminta dan kalian akan terus menerima.
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61),  bukanlah suatu istilah kosong, tetapi merupakan bagian dari karakteristik fitrat manusia.
     Manusia bagiannya (kewajibannya) adalah memanjatkan doa, sedangkan Tuhan bagian yang mengabulkan. Ia yang tidak memahaminya dan tidak meyakininya sesungguhnya ia dusta. Ilustrasi tentang anak kecil di atas sudah memperjelas falsafah doa secara gamblang.(Malfuzat, jld. I, hlm.  129-130).
       Sehubungan dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai keterkaitan “keteraniayaan” dengan “pengabulan doa”, firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ  فِیۡ  ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا  بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ  اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمَّنۡ یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ  یُعِیۡدُہٗ  وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ   مَّعَ  اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ  اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya,  dan melenyapkan keburukan,  dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu  mendapat pelajaran.   Atau  siapakah yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan.   Atau siapakah yang  memulai menciptakan makhluk  kemudian mengulanginya dan  siapakah yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti-buktimu jika kamu orang-orang benar.”   Katakanlah:  ”Kecuali Allah, tidak ada seorang pun di seluruh langit dan bumi mengetahui yang gaib, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟  --   Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya,  بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا  -- tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu,  بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ --  bahkan mengenainya mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:63-67). 

Mengabulkan Doa Orang yang “Sengsara

       Makna   ayat 62 berkenaan   kalimat  الۡمُضۡطَرَّ  -- “orang yang sengsara”  dalam firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ  ﴿ؕ﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya,  dan melenyapkan keburukan,  dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu  mendapat pelajaran (Asy-Syu’arā [27]:63-67). 
     Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan besar Allah  Swt. terjelma di dalam keajaiban bekerjanya hukum-hukum alam, demikianlah kekuasaan-kekuasaan-Nya  itu pun terwujud pula dalam katahati atau kesadaran batin manusia, ketika ia menangis kepada Allah Swt. sementara jiwanya tengah merana, dan Dia mendengar jeritannya, sebagaimana firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku  maka sesungguhnya Aku dekat.    Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,  karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Firman-Nya lagi:
اُدۡعُوۡا رَبَّکُمۡ  تَضَرُّعًا  وَّ خُفۡیَۃً ؕ اِنَّہٗ  لَا یُحِبُّ  الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Berdoalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya  Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas (Al-A’rāf [7]:56).

Tiada Tuhan Pencipta  dan Pemelihara  Alam Semesta Kecuali Allah Swt.

         Kemudian mengenai makna kata rīh (angin) dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:
اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ  فِیۡ  ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا  بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ  اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau  siapakah yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin  sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan  (Asy-Syu’arā [27]:64).    
  Bila kata rīh (angin) digunakan dalam bentuk mufrad (tunggal) maka pada umumnya diartikan azab Ilahi (QS.17:70; QS.54:20; QS.69:7 dan sebagainya). Akan tetapi bila digunakan dalam bentuk jamak maka pada umumnya berarti rahmat Ilahi. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَمَّنۡ یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ  یُعِیۡدُہٗ  وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ   مَّعَ  اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ﴿﴾
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk  kemudian mengulanginya dan siapakah yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti-bukti kamu jika kamu orang-orang benar.” (Asy-Syu’arā [27]:65).   
       Kata-kata  mula-mula menciptakan makhluk, kemudian mengulanginya, ber-arti penciptaan dan pembiakan. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ  اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:  Kecuali Allah, tidak ada seorang pun di seluruh langit dan bumi mengetahui yang gaib, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkanبَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ  -- Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya, tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu, bahkan mengenainya mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:66-67). 

Meraih  Kesuksesan Melalui Sabar dan Doa (Shalat)

     Makna ayat 67, bahwa pengetahuan dan akal saja, tidak dapat melepaskan kerinduan jiwa manusia, tidak dapat pula secara meyakinkan membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati, kedua Rukun Iman yang pokok itu, sebab pengertian yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia. Hanya makrifat yang diperoleh dengan perantaraan wahyu Ilahi sajalah yang dapat menimbulkan dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan dalam pikiran manusia tentang hal itu.
     Pengetahuan manusia mengenai Allah Swt. dan alam akhirat dengan semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan, bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan  sesudah mati (akhirat) itu ada, tetapi hanya wahyu Ilahi sajalah yang dapat mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian, demikian juga  keyakinan tersebut akan timbul melalui pengabulan doa.
       Sehubungan dengan masalah  tersebut lebih lanjut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
Justru pada saat timbul cobaan maka sifat dan pengaruh doa yang ajaib akan dimanifestasikan (dijelmakan). Sesungguhnya Tuhan kita hanya bisa dikenali melalui doa.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 201).
      Berkenaan  pentingnya serta manfaat  keberadaan ujian-ujian keimanan   dalam kehidupan ini  -- sebagaimana dikemukakan dalam  firman Allah Swt. sebelumnya  --  dalam surah lain    Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ  --   mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat,  اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ  -- sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ  --  Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ  --  tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --   Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahanوَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ   -- dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ    --  Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ --  mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ  --  Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari  Rabb (Tuhan) mereka ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ  --  dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:154-158).
   Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).

Tetap “Hidupnya” Orang-orang yang Mati di Jalan Allah

       Surah Al-Baqarah ayat 154   mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan:
     Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
      Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.sajalah Sumber segala kebaikan.
     Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan, yakni sesuai dengan Sifat Rububiyat   Allah Swt. yang menciptakan tatanan alam semesta  ini  melalui rangkaian  hukum sebab-akibat  (QS.1:2).
       Ahya dalam ayat:   وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ   -- “Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari,”  kata ahya itu jamak dari hayy yang antara lain berarti:
       (1) seseorang dengan amal yang diperbuat selama hidupnya tidak menjadi sia-sia;
         (2) orang yang kematiannya dituntut balas.
    Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa, yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum.  Yakni suatu kaum yang tidak menghargai pahlawan-pahlawan yang telah syahid secara sepatutnya dan tidak mengambil langkah-langkah untuk melenyapkan rasa takut mati dari hati mereka, sebenarnya telah menutup masa depan mereka sendiri.

Ucapan Keteguhan Iman Pada Tauhid Ilahi

     Ayat   "Mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali ini merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa kita di jalan Allah Swt.,  daripada membuat kita putus asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup kita.
   Jadi  rumusan yang ada dalam ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan bertuah belaka, melainkan suatu nasihat yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya:  وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ   -- dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ --  mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari  Rabb (Tuhan) mereka ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ  --  dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
  Allah Swt.  adalah Pemilik segala yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri. Bila Sang Pemilik itu   --  sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya  -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu dari kita, kita tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah atau menggerutu, melainkan harus tetap teguh melangkahkan kaki di jalan-Nya firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتُمۡ  اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ ﴿﴾
Ataukah  kamu menganggap bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepada kamu seperti keadaan orang-orang yang telah berlalu sebelummu? مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا  --   Kesusahan dan kesengsaraan menimpa mereka dan mereka digoncang dengan hebatحَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ  --   sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya akan berkata: “Kapankah pertolongan Allah?”  اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ --    Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah   dekat (Al-Baqarah [215).

Bukan Tanda “Keputus-asaan” Melainkan Cara Memohon Kepada Allah Swt.

   Penerimaan ajaran Islam bukan sesuatu yang mudah dan orang-orang Islam diperingatkan bahwa mereka akan terpaksa melalui cobaan, ujian, dan kesengsaraan yang berat dalam berjihad di jalan Allah sebelum mereka dapat berharap mencapai cita-cita agung mereka.
  Teriakan penuh kerawanan minta pertolongan dalam kata-kata: مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ    --  “Kapankah pertolongan Allah?” Tidak berarti keputus-asaan,  sebab sikap putus-asa di pihak seorang nabi Allah dan para pengikutnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan iman sejati (QS.12:88). Kata-kata itu sesungguhnya merupakan doa — satu cara memohon kepada Allah Swt.  dengan sungguh-sungguh agar cepat-cepat menurunkan pertolongan-Nya.
Senada dengan ayat tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai  pentingnya memiliki keteguhan iman dalam berjihad di jalan Allah Swt. serta tetap berpegang teguh pada Tauhid Ilahi,  firman-Nya:
 وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ   َلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ لِنَفۡسٍ اَنۡ تَمُوۡتَ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ کِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ؕ وَ مَنۡ یُّرِدۡ ثَوَابَ الدُّنۡیَا  ُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یُّرِدۡ  ثَوَابَ الۡاٰخِرَۃِ نُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ؕ وَ سَنَجۡزِی الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ ۚ فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan   Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh  telah berlalu  yakni  wafat rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik  atas kedua tumitmu (murtad)?     Dan barangsiapa berbalik  atas kedua tumitnya maka ia tidak akan pernah  memudaratkan Allah sedikit pun.  Dan Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.   Dan suatu jiwa sekali-kali tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, suatu ketetapan yang ditentukan jangka waktunya.  Dan barangsiapa menginginkan pahala dunia Kami akan memberi dia darinya, dan barangsiapa menginginkan pahala akhirat Kami akan memberi dia  darinya, dan Kami segera akan meng-ganjar orang-orang yang bersyukur.  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ  --  Dan betapa banyak  nabi   telah berperang bersama dia sejumlah besar  pengikutnya  فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ     --    tetapi   mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah  dan mereka sekali-kali tidak lemah    dan tidak pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.    وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dan sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu melainkan   berkata:  ”Ya  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami,  dan keberlebih-lebihan kami  dalam urusan kami, dan teguhkanlah lang-kah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --      Maka Allah memberikan  kepada  mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar  (Ali ‘Imran [3]:145-149).

Keutamaan  Martabat Ruhani Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a.

   Makna ayat 145  bahwa kabar angin tersebar di Uhud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  syahīd. Ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa meskipun kabar itu tidak benar, tetapi seandainya pun beliau saw.   benar dan pada hakikatnya telah syahīd, hal itu tidak boleh menjadikan keimanan orang-orang beriman goyah. Sebab Nabi Besar Muhammad saw.  hanyalah seorang nabi Allah, dan sebagaimana semua nabi Allah  sebelum beliau saw.  telah wafat  -- termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119; QS.21:35)   --  maka beliau saw. pun pasti akan wafat. Tetapi Allah Swt.,  Tuhan  milik  Islam itu Hidup kekal.
      Tercantum dalam tarikh bahwa tatkala  Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar wafat, maka Umar  bin Khaththab r.a. berdiri di Masjid Medinah dengan pedang terhunus di tangan beliau dan berkata: “Barangsiapa mengatakan Rasulullah  saw.  wafat, akan aku penggal batang lehernya. Beliau tidak wafat, melainkan telah pergi kepada Tuhan-nya  seperti halnya Nabi Musa a.s.  pernah pergi kepada Tuhan-nya dan beliau niscaya akan kembali lagi untuk menghukum orang-orang munafik!”
      Abu Bakar Shiddiq  r.a. setiba di tempat peristiwa itu, dengan tegas menyuruh Umar  bin Khaththab r.a.  duduk tetapi tidak digubris, dan sementara  Abu Bakar Shiddiq  r.a. memberi wejangan kepada orang-orang Muslim yang telah berkumpul di masjid  -- yang juga dilanda kesedihan luar biasa seperti halnya  Umar  bin Khaththab  r.a.   --  beliau membacakan ayat ini juga: وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ  -- “Dan  Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh  telah berlalu  yakni  wafat rasul-rasul sebelumnya….”
        Ayat tersebut meyakinkan mereka bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   benar-benar  telah wafat, dan dengan demikian mereka diliputi oleh kesedihan yang sangat mendalam. Bahkan  Umar  bin Khaththab r.a. yang sebelumnya tidak mau duduk sambil tetap memegang pedang  mondar-mandir pun akhirnya  terjatuh lemas.   

Semua Nabi Allah Telah Wafat Termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Ayat ini sambil lalu membuktikan bahwa semua nabi Allah  sebelum   Nabi Besar Muhammad saw   telah wafat, sebab  sekiranya seorang di antaranya masih hidup – yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   --  maka ayat ini sekali-kali tidak akan ditukil (dirujuk) oleh Abu Bakar Shiddiq  r.a.  sebagai bukti tentang wafatnya  Nabi Besar Muhammad saw.. 
     Sebenarnya Islam tidak mengandalkan kehidupannya atas seseorang, betapa pun besarnya orang itu.  Allah Swt. adalah Pembinanya dan Dia-lah Pemeliharanya serta  Penjaganya. Tetapi ayat ini tidak boleh diartikan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. dapat syahīd dalam peperangan atau di tangan seorang pembunuh, sebab kepada beliau saw. dijanjikan perlindungan Ilahi dari segala bahaya yang mengancam jiwa beliau saw. (QS.5:68).
       Musuh bersuka ria ketika kabar angin itu tersebar ke mana-mana bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. syahīd dalam Perang Uhud, tetapi hal itu ternyata merupakan suatu rahmat tersembunyi untuk kaum Muslimin. Hal itu mempersiapkan mereka untuk menerima pukulan berat yang kemudian menimpa mereka ketika beliau saw. benar-benar wafat setelah secara sempurna menunaikan tugas kerasuklan beliau (QS.5:4; QS.101:1-4). Jika mereka tidak mendapat pengalaman ini  mereka tak akan mampu menanggungnya.
       Ribbiyyun adalah jamak dari ribbiyy, yang diserap dari kata rabba; untuk itu lihat ayat QS.1:2. Ribbiyy berarti seseorang yang bertalian dengan ribbah, yakni suatu rombongan besar atau sekumpulan manusia yang besar jumlahnya. Jadi, kata itu berarti, mereka yang merupakan suatu rombongan besar atau suatu kelompok besar manusia. Kata itu berarti pula orang-orang berilmu, saleh, dan sabar (Lexicon Lane): وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ  --  “Dan betapa banyak  nabi   telah berperang bersama dia sejumlah besar  pengikutnya.” 
        Makna ayat:   فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --      “Maka Allah memberikan  kepada  mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”  (Ali ‘Imran [3]:149).  Pahala akhirat itu berbagai-bagai tingkatnya, dan orang-orang beriman yang keadaan mereka selaras dengan gambaran dalam ayat sebelumnya akan mendapat pahala terbaik.
      Kata husna yang dialihbahasakan “sebaik-baiknya” tidak hanya menunjukkan tingkat paling tinggi, tetapi juga dipakai untuk melukiskan arti “kesangatan” secara mutlak: فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ     --    tetapi  mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah  dan mereka sekali-kali tidak lemah    dan tidak pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.    وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dan sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu melainkan   berkata:  ”Ya  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami,  dan keberlebih-lebihan kami  dalam urusan kami, dan teguhkanlah lang-kah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  (Ali ‘Imran [3]:147-148).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 Agustus    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar