Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
HUBUNGAN “TANGISAN
BAYI” DENGAN KEBERADAAN “AIR SUSU
IBU”& HUBUNGAN
CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN
DOA OLEH ALLAH SWT.
Bab 13
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 12 sebelumnya telah dijelaskan sabda Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan
pendapat keliru Sir Sayid Ahmad Khan dalam
menafsirkan masalah pengabulan doa dalam firman-Nya: ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ --“Berdoalah
kepada-Ku, Aku akan mengabulkan
doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61), sebagaimana
juga firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ -- maka sesungguhnya Aku dekat.
اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Sehubungan pendapat keliru Sir
Ahmad Khan berkenaan dengan firman
Allah Swt.: اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,”
dalam buku “Barakatud-Du’a”
(Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Wahai engkau tawanan intelek sendiri, janganlah
berbangga dengan diri engkau, karena alam
semesta yang indah telah banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka yang terasing dari Tuhan tak akan
pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia
Sang Kekasih hanya dibuka bagi mereka yang datang dari surga. Mencoba
sendiri menduga rahasia Al-Quran adalah kebodohan,
yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan kotoran
semata.”
Dalam buku kecilnya Sayid
Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
“Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon
akan selalu mendapat apa yang dimintanya.
Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan
doa maka akan muncul dua bentuk
kesulitan:
Kesulitan
pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah
hati ternyata tidak dipenuhi,
berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan
doa manusia.
Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa
apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir.
Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan,
maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu”
(Al-Mu’min [40]:61), tidak berlaku pada permohonan yang tidak
ditetapkan takdirnya.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz
Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. VI, hlm. 5, London,
1984).
Hubungan Tangisan
Bayi dengan Air Susu Ibu
Dalam kesempatan lain Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan hubungan doa dengan pengabulannya oleh Allah Swt.:
“Ketika seorang anak (bayi) menangis
karena dorongan lapar perutnya, maka
susu segera dihasilkan di dada
ibunya. Anak (bayi) itu tidak tahu apa
yang namanya doa tetapi tangisnya telah menghasilkan susu. Hal
ini merupakan suatu hal yang bersifat
universal. Terkadang meski si ibu
tidak menyadari adanya susu di
dadanya, tangis si anak akan membantunya menghasilkan susu. Lalu
apakah tangis kita di hadapan Tuhan
tidak akan menghasilkan apa pun?
Sesungguhnya
tangis itu akan menarik segalanya, namun mereka yang buta matanya -- yang memperagakan dirinya sebagai cendekiawan dan filosof -- tidak mampu melihatnya.
Bila kita renungi falsafah dari doa,
dengan merujuk pada hubungan antara ibu dengan anaknya, hal ini sebenarnya mudah
dipahami.
Bentuk kedua dari rahmat, ia akan datang setelah mengajukan permohonan doa. Tetaplah kalian meminta dan kalian akan terus menerima.
ادۡعُوۡنِیۡۤ
اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah
kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu” (Al-Mu’min
[40]:61), bukanlah suatu istilah kosong, tetapi merupakan bagian dari karakteristik fitrat manusia.
Manusia bagiannya (kewajibannya) adalah memanjatkan doa, sedangkan Tuhan
bagian yang mengabulkan. Ia yang tidak memahaminya dan tidak meyakininya sesungguhnya ia dusta. Ilustrasi tentang anak kecil di atas sudah memperjelas falsafah doa secara gamblang.” (Malfuzat,
jld. I, hlm. 129-130).
Sehubungan
dengan sabda Masih Mau’ud a.s.
tersebut Allah Swt. berfirman mengenai keterkaitan “keteraniayaan” dengan “pengabulan
doa”, firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا
دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ
خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ فِیۡ
ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ
مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ
یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ
اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمَّنۡ
یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ
یُعِیۡدُہٗ وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ
اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ
صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ اَیَّانَ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ بَلِ
ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ
ہُمۡ فِیۡ شَکٍّ مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ ہُمۡ
مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan
keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi?
Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu mendapat pelajaran. Atau siapakah yang memberi petunjuk kepada
kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha
Tinggi Allah di atas apa yang mereka
persekutukan. Atau siapakah
yang memulai
menciptakan makhluk kemudian mengulanginya dan siapakah
yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi?
Adakah tuhan lain bersama Allah?
Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti-buktimu
jika kamu orang-orang benar.” Katakanlah: ”Kecuali Allah, tidak ada seorang pun
di seluruh langit dan bumi
mengetahui yang gaib, dan mereka
tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” بَلِ ادّٰرَکَ
عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ -- Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya, بَلۡ
ہُمۡ فِیۡ شَکٍّ مِّنۡہَا -- tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu, بَلۡ
ہُمۡ مِّنۡہَا عَمُوۡنَ -- bahkan mengenainya
mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:63-67).
Mengabulkan Doa Orang yang “Sengsara”
Makna
ayat 62 berkenaan kalimat الۡمُضۡطَرَّ -- “orang yang sengsara” dalam firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ
وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ
خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan
keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi?
Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu mendapat pelajaran (Asy-Syu’arā
[27]:63-67).
Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan besar
Allah Swt. terjelma di dalam keajaiban bekerjanya hukum-hukum alam, demikianlah
kekuasaan-kekuasaan-Nya itu pun terwujud
pula dalam katahati atau kesadaran batin manusia, ketika ia menangis kepada Allah Swt. sementara jiwanya
tengah merana, dan Dia mendengar
jeritannya, sebagaimana firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau
mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat.
Aku
mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia
berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka
menyambut seruan-Ku dan beriman
kepada-Ku supaya mereka
mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Firman-Nya
lagi:
اُدۡعُوۡا
رَبَّکُمۡ تَضَرُّعًا وَّ
خُفۡیَۃً ؕ اِنَّہٗ لَا یُحِبُّ الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Berdoalah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya
Dia tidak mencintai orang-orang
yang melampaui batas (Al-A’rāf [7]:56).
Tiada Tuhan
Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta Kecuali
Allah Swt.
Kemudian
mengenai makna kata rīh (angin) dalam
ayat selanjutnya, firman-Nya:
اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ فِیۡ
ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ
مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ
یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ
اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau siapakah
yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan,
dan siapakah yang mengirimkan angin
sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya?
Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan (Asy-Syu’arā [27]:64).
Bila
kata rīh (angin) digunakan dalam bentuk mufrad (tunggal) maka pada umumnya diartikan azab Ilahi (QS.17:70; QS.54:20; QS.69:7 dan sebagainya). Akan
tetapi bila digunakan dalam bentuk jamak
maka pada umumnya berarti rahmat Ilahi.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَمَّنۡ یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ
ثُمَّ یُعِیۡدُہٗ وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ
اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ
صٰدِقِیۡنَ﴿﴾
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk kemudian mengulanginya dan siapakah yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi? Adakah tuhan lain
bersama Allah? Katakanlah: “Tunjukkanlah
bukti-bukti kamu jika kamu
orang-orang benar.” (Asy-Syu’arā [27]:65).
Kata-kata
mula-mula menciptakan makhluk, kemudian mengulanginya, ber-arti penciptaan dan pembiakan. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ
اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ
اَیَّانَ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ ہُمۡ
فِیۡ شَکٍّ مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ ہُمۡ
مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: ”Kecuali Allah, tidak ada seorang
pun di seluruh langit dan bumi mengetahui yang gaib, dan mereka
tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی
الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ ہُمۡ فِیۡ شَکٍّ
مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ ہُمۡ مِّنۡہَا عَمُوۡنَ -- Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada
batasnya, tetapi mereka dalam
keragu-raguan mengenai itu, bahkan mengenainya
mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:66-67).
Meraih Kesuksesan Melalui Sabar
dan Doa (Shalat)
Makna ayat 67, bahwa pengetahuan dan akal
saja, tidak dapat melepaskan kerinduan
jiwa manusia, tidak dapat pula secara meyakinkan
membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati, kedua Rukun
Iman yang pokok itu, sebab pengertian
yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia. Hanya makrifat yang diperoleh dengan perantaraan wahyu Ilahi sajalah yang dapat
menimbulkan dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan dalam pikiran
manusia tentang hal itu.
Pengetahuan manusia mengenai Allah Swt. dan alam akhirat dengan semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan, bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan sesudah
mati (akhirat) itu ada, tetapi
hanya wahyu Ilahi sajalah yang dapat
mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian, demikian juga keyakinan
tersebut akan timbul melalui pengabulan
doa.
Sehubungan
dengan masalah tersebut lebih lanjut Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Justru pada
saat timbul cobaan maka sifat
dan pengaruh doa yang ajaib akan dimanifestasikan (dijelmakan).
Sesungguhnya Tuhan kita hanya bisa
dikenali melalui doa.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 201).
Berkenaan pentingnya
serta manfaat keberadaan ujian-ujian keimanan dalam kehidupan ini -- sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya --
dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ
اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ
الَّذِیۡنَ اِذَاۤ
اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ
قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ
عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اسۡتَعِیۡنُوۡا
بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ -- mohonlah
pertolongan dengan sabar dan
shalat, اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ -- Dan janganlah
kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka
itu mati, بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ
لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ -- tidak bahkan mereka hidup,
tetapi kamu tidak menyadari. وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ
وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ -- Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa
ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam harta, jiwa
dan buah-buahan, وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ -- Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ
اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ -- Mereka
itulah orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan) mereka ۟
وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ -- dan
mereka inilah yang
mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:154-158).
Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam
menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa
berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4)
menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal (Mufradat).
Tetap “Hidupnya”
Orang-orang yang Mati di Jalan Allah
Surah Al-Baqarah ayat 154
mengandung
satu asas yang hebat sekali untuk
mencapai keberhasilan:
Pertama,
seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal
yang baik.
Kedua, ia
hendaknya mendoa kepada Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt. . sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar)
mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang
terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan
segala sarana yang dijadikan Allah
Swt. untuk mencapai sesuatu tujuan, yakni sesuai dengan Sifat Rububiyat
Allah Swt. yang menciptakan tatanan alam semesta ini melalui rangkaian hukum
sebab-akibat (QS.1:2).
Ahya
dalam ayat: وَ لَا تَقُوۡلُوۡا
لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ
لَّا تَشۡعُرُوۡنَ -- “Dan
janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan
Allah bahwa mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadari,” kata ahya itu jamak dari hayy yang
antara lain berarti:
(1) seseorang dengan amal yang diperbuat selama hidupnya tidak menjadi sia-sia;
(2) orang yang kematiannya dituntut balas.
Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa, yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum. Yakni suatu
kaum yang tidak menghargai pahlawan-pahlawan yang telah syahid secara sepatutnya dan tidak
mengambil langkah-langkah untuk melenyapkan rasa takut mati dari hati
mereka, sebenarnya telah menutup masa
depan mereka sendiri.
Ucapan Keteguhan Iman
Pada Tauhid Ilahi
Ayat "Mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali” ini
merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus
juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka
sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
Oleh karena
itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa
kita di jalan Allah Swt., daripada membuat kita putus asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan untuk mengadakan usaha
yang lebih hebat lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup kita.
Jadi rumusan yang ada dalam ayat ini bukan
semata-mata suatu ucapan bertuah belaka, melainkan suatu nasihat yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya: وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ
اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.” Mereka
itulah orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan) mereka ۟
وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ -- dan
mereka inilah yang
mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
Allah
Swt. adalah Pemilik segala yang kita miliki,
termasuk diri kita sendiri. Bila Sang
Pemilik itu -- sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu dari kita, kita tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah
atau menggerutu, melainkan harus
tetap teguh melangkahkan kaki di jalan-Nya firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا
یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ
الۡبَاۡسَآءُ وَ الضَّرَّآءُ وَ
زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی
نَصۡرُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ
اللّٰہِ قَرِیۡبٌ ﴿﴾
Ataukah kamu
menganggap bahwa kamu akan masuk
surga padahal belum datang kepada kamu
seperti keadaan orang-orang yang telah
berlalu sebelummu? مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ
وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا -- Kesusahan
dan kesengsaraan menimpa mereka dan mereka digoncang dengan hebat, حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی
نَصۡرُ اللّٰہِ -- sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya akan berkata: “Kapankah pertolongan Allah?” اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ -- Ketahuilah,
sesungguhnya pertolongan Allah dekat (Al-Baqarah [215).
Bukan Tanda “Keputus-asaan”
Melainkan Cara Memohon Kepada Allah
Swt.
Penerimaan ajaran
Islam bukan sesuatu yang mudah
dan orang-orang Islam diperingatkan
bahwa mereka akan terpaksa melalui cobaan, ujian, dan kesengsaraan yang
berat dalam berjihad di jalan Allah
sebelum mereka dapat berharap
mencapai cita-cita agung mereka.
Teriakan penuh kerawanan minta pertolongan
dalam kata-kata: مَتٰی نَصۡرُ اللّٰہِ -- “Kapankah pertolongan Allah?” Tidak
berarti keputus-asaan, sebab sikap putus-asa di pihak seorang nabi
Allah dan para pengikutnya adalah
sesuatu yang tidak masuk akal, karena
tidak sesuai dengan iman sejati (QS.12:88).
Kata-kata itu sesungguhnya merupakan doa
— satu cara memohon kepada Allah Swt.
dengan sungguh-sungguh agar cepat-cepat menurunkan pertolongan-Nya.
Senada dengan
ayat tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya memiliki keteguhan iman dalam berjihad
di jalan Allah Swt. serta tetap berpegang
teguh pada Tauhid Ilahi, firman-Nya:
وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ
خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ
یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ َلَنۡ
یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ
الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ
مَا کَانَ لِنَفۡسٍ اَنۡ تَمُوۡتَ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ کِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ؕ
وَ مَنۡ یُّرِدۡ ثَوَابَ الدُّنۡیَا
ُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یُّرِدۡ
ثَوَابَ الۡاٰخِرَۃِ نُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ؕ وَ سَنَجۡزِی الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ
ۚ فَمَا
وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ
اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ فَاٰتٰىہُمُ
اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ
الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan Muhammad
tidak lain melainkan seorang rasul.
Sungguh telah berlalu yakni wafat rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan
berbalik atas kedua tumitmu (murtad)? Dan barangsiapa berbalik atas kedua
tumitnya maka ia tidak akan
pernah memudaratkan Allah sedikit
pun. Dan Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.
Dan suatu
jiwa sekali-kali tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, suatu ketetapan
yang ditentukan jangka waktunya. Dan barangsiapa menginginkan pahala dunia Kami akan memberi dia darinya,
dan barangsiapa menginginkan pahala akhirat
Kami akan memberi dia darinya, dan
Kami segera akan meng-ganjar orang-orang
yang bersyukur. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ
نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ -- Dan
betapa banyak nabi telah berperang
bersama dia sejumlah besar pengikutnya
فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ -- tetapi mereka
tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah
dan mereka sekali-kali tidak lemah dan tidak
pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.
وَ مَا کَانَ
قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ
اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ
اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan
sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu
melainkan berkata: ”Ya Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan keberlebih-lebihan
kami dalam urusan kami, dan teguhkanlah
lang-kah-langkah kami dan tolonglah
kami terhadap kaum kafir.” فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ
ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ
الۡمُحۡسِنِیۡنَ
-- Maka Allah memberikan kepada mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan
Allah mencintai orang-orang yang sabar
(Ali ‘Imran [3]:145-149).
Keutamaan Martabat
Ruhani Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a.
Makna ayat 145
bahwa kabar angin tersebar di
Uhud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. syahīd.
Ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa
meskipun kabar itu tidak benar, tetapi seandainya pun beliau
saw. benar dan pada hakikatnya
telah syahīd, hal itu tidak boleh
menjadikan keimanan orang-orang
beriman goyah. Sebab Nabi Besar
Muhammad saw. hanyalah
seorang nabi Allah, dan sebagaimana
semua nabi Allah sebelum beliau saw. telah wafat -- termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119;
QS.21:35) -- maka beliau saw. pun pasti akan wafat. Tetapi Allah Swt., Tuhan milik Islam itu Hidup kekal.
Tercantum dalam tarikh bahwa
tatkala Nabi Besar Muhammad saw.
benar-benar wafat, maka Umar bin Khaththab r.a. berdiri di Masjid Medinah
dengan pedang terhunus di tangan
beliau dan berkata: “Barangsiapa
mengatakan Rasulullah saw. wafat,
akan aku penggal batang lehernya. Beliau tidak wafat, melainkan telah pergi
kepada Tuhan-nya seperti halnya Nabi
Musa a.s. pernah pergi kepada
Tuhan-nya dan beliau niscaya akan kembali lagi untuk menghukum orang-orang
munafik!”
Abu Bakar Shiddiq r.a. setiba di tempat peristiwa itu, dengan
tegas menyuruh Umar bin Khaththab r.a. duduk tetapi tidak digubris, dan
sementara Abu Bakar Shiddiq r.a. memberi wejangan kepada orang-orang Muslim yang telah berkumpul di masjid -- yang juga dilanda kesedihan luar biasa seperti halnya Umar bin Khaththab
r.a. -- beliau membacakan ayat ini juga: وَ مَا مُحَمَّدٌ
اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ -- “Dan
Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh telah
berlalu yakni wafat rasul-rasul sebelumnya….”
Ayat tersebut meyakinkan mereka bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. benar-benar telah wafat,
dan dengan demikian mereka diliputi
oleh kesedihan yang sangat mendalam.
Bahkan Umar bin Khaththab r.a. yang sebelumnya tidak mau
duduk sambil tetap memegang pedang
mondar-mandir pun akhirnya
terjatuh lemas.
Semua Nabi Allah Telah Wafat Termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Ayat ini sambil lalu membuktikan
bahwa semua nabi Allah sebelum Nabi
Besar Muhammad saw telah wafat, sebab sekiranya seorang di antaranya masih hidup – yakni Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. -- maka ayat ini sekali-kali tidak akan ditukil (dirujuk)
oleh Abu Bakar Shiddiq r.a. sebagai bukti tentang wafatnya Nabi
Besar Muhammad saw..
Sebenarnya Islam tidak mengandalkan kehidupannya
atas seseorang, betapa pun besarnya
orang itu. Allah Swt. adalah Pembinanya dan Dia-lah Pemeliharanya serta Penjaganya.
Tetapi ayat ini tidak boleh diartikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. dapat
syahīd dalam peperangan atau di
tangan seorang pembunuh, sebab kepada
beliau saw. dijanjikan perlindungan Ilahi
dari segala bahaya yang mengancam jiwa
beliau saw. (QS.5:68).
Musuh bersuka ria ketika kabar
angin itu tersebar ke mana-mana bahwa Nabi Besar Muhammad saw. syahīd dalam Perang Uhud, tetapi hal itu ternyata merupakan suatu rahmat tersembunyi untuk kaum Muslimin.
Hal itu mempersiapkan mereka untuk
menerima pukulan berat yang kemudian
menimpa mereka ketika beliau saw. benar-benar wafat setelah secara sempurna menunaikan tugas kerasuklan beliau
(QS.5:4; QS.101:1-4). Jika mereka tidak mendapat pengalaman ini mereka tak
akan mampu menanggungnya.
Ribbiyyun adalah jamak dari ribbiyy,
yang diserap dari kata rabba; untuk itu lihat ayat QS.1:2.
Ribbiyy berarti seseorang yang bertalian dengan ribbah, yakni suatu rombongan besar atau sekumpulan manusia yang besar jumlahnya. Jadi, kata itu berarti,
mereka yang merupakan suatu rombongan
besar atau suatu kelompok besar
manusia. Kata itu berarti pula orang-orang
berilmu, saleh, dan sabar (Lexicon Lane): وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ
مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ -- “Dan
betapa banyak nabi telah berperang
bersama dia sejumlah besar pengikutnya.”
Makna ayat: فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ
ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ
الۡمُحۡسِنِیۡنَ
-- “Maka Allah memberikan kepada mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan
Allah mencintai orang-orang yang sabar”
(Ali ‘Imran [3]:149). Pahala akhirat
itu berbagai-bagai tingkatnya, dan orang-orang beriman yang keadaan mereka selaras dengan gambaran dalam ayat sebelumnya akan mendapat pahala terbaik.
Kata husna yang dialihbahasakan “sebaik-baiknya” tidak
hanya menunjukkan tingkat paling tinggi,
tetapi juga dipakai untuk melukiskan arti “kesangatan” secara mutlak: فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ --
tetapi mereka
tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah
dan mereka sekali-kali tidak lemah dan tidak
pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.
وَ مَا کَانَ
قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ
اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ
اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan
sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu
melainkan berkata: ”Ya Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan keberlebih-lebihan
kami dalam urusan kami, dan teguhkanlah
lang-kah-langkah kami dan tolonglah
kami terhadap kaum kafir.” (Ali ‘Imran [3]:147-148).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 1 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar