Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
28
KETERANGAN NABI
ISA IBNU MAYAM A.S. MENGENAI KENABIAN DAN AJARANNYA BERTENTANGAN DENGAN KETERANGAN PAULUS DALAM SURAT-SURAT
KIRIMANNYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab 27 telah dijelaskan mengenai
doa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Taman
Getsemani bahwa walau pun ketika itu Allah Swt. tidak menjawab permohonan doa
yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tetapi pasti Allah Swt mengabulkan
permohonan doa beliau:
“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia
telah mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia, yang sanggup
menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena
kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. (Iberani 5:7).
Dengan
demikian benarlah pernyataan Allah Swt.
bahwa -- kecuali orang-orang kafir --
orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.
merasa takut terhadap makar
Allah Swt. -- sebagaimana contohnya yang telah dialami oleh Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ
مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ
کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ﴿﴾ اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ
بَاۡسُنَا بَیَاتًا وَّ ہُمۡ نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ اَمِنَ
اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی وَّ ہُمۡ
یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۸﴾ اَفَاَمِنُوۡا
مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ
اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan seandainya
penduduk kota-kota beriman dan bertakwa
niscaya akan Kami bukakan
keberkatan dari langit dan dari
bumi bagi mereka, akan tetapi mereka
telah mendustakan, maka Kami
menimpakan azab kepada mereka
disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa
aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur? Ataukah penduduk
negeri-negeri ini merasa
aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
-- Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:97-100).
Jadi, betapa sangat menggelincirkannya
“makar tandingan” Allah Swt. dalam peristiwa upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi tersebut, sampai-sampai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak mengetahui adanya “makar
tandingan” Allah Swt. tersebut, sehingga dalam doa di Taman Getsemani yang dipanjatkan beliau kepada Allah Swt. yang kedua kali
diakhiri dengan ucapan penuh rasa sedih:
"Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
26:36 Maka sampailah
Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani.
Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini,
sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
26:37 Dan Ia membawa Petrus
dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti
mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. "
26:39 Maka Ia maju
sedikit, lalu sujud dan berdoa,
kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki "
26:40 Setelah itu Ia
kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati
mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah
kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi
untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin
lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. 26:45 Sesudah itu Ia
datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa
Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah,
marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius
26:36-46).
Jadi, betapa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sangat tidak
menginginkan mengalami kematian
terkutuk di tiang salib, bertentangan dengan pendapat Paulus dalam Surat-surat kirimannya bahwa
beliau dengan penuh kerelaan menerima kematian terkutuk di tiang salib demi menebus dosa yang diwariskan Adam dan Hawa
kepada semua keturunannya.
Penyimpangan Penafsiran Paulus
Dalam akhir Bab 24 telah dijelaskan mengenai
dua pendapat berbeda mengenai penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿﴾ۙ بَلۡ
رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ
مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib.
وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya orang-orang yang
berselisih dalam hal ini niscaya ada
dalam keraguan mengenai ini, mereka
tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:158-159).
Sehubungan dengan ayat: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib.” Dua pendapat yang berbeda tersebar di
tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. karena penyaliban.
Beberapa di antara mereka berpendapat
bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang
salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan
pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50,
kita baca: "Yang sudah kamu ini
bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
Al-Quran membantah kedua pendapat ini dengan
mengatakan: "mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib."
Pertama Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya
menyangkal cara pembunuhan yang khas
dengan jalan menggantungkan pada salib.
Al-Quran tidak menolak ide bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. digantung
pada tiang
salib,Al-Quran hanya menyangkal wafatnya
di atas tiang salib.
Orang-orang Yahudi dengan gembira
mengumandangkan telah membunuh Nabi
Isa a.s. di atas tiang salib, sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa
pendakwaan beliau sebagai nabi Allah
tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang
keras terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan
beliau dari noda yang
didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran
derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah.
Dalam ayat بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا
-- ”bahkan Allah
telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, itu sama sekali tidak ada sebutan mengenai kenaikan
beliau ke langit dengan tubuh jasmani. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah
Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian
menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan
ruhani, sebab tidak ada tempat
kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt.. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
وَ اِنۡ مِّنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ اِلَّا لَیُؤۡمِنَنَّ بِہٖ قَبۡلَ مَوۡتِہٖ ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یَکُوۡنُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا ﴿﴾ۚ
Dan tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab melainkan akan tetap beriman kepada hal ini sebelum ajalnya, dan
pada Hari Kiamat ia,
Nabi Isa, akan menjadi saksi terhadap
mereka (An-Nisa [4]:160).
Kata ganti nya
dalam kalimat قَبۡلَ مَوۡتِہٖ -- “sebelum kematiannya” mengantikan
kata benda tidak ada seorang pun,
artinya setiap orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri.Arti ini
ditunjang oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan
oleh ‘Ubayy (Tafsir Ibnu Jarir,
VI hlm. 13).
“Makar
Tandingan” Allah Swt. yang Sangat Menggelincirkan
Akibat “Makar
tandingan” Allah Swt. dalam
peristiwa “penyaliban” yang sangat menggelincirkan tersebut mengakibatkan orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka membunuh
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas tiang
salib, karena dengan demikian mereka ingin membuktikan berdasarkan hukum
Taurat beliau bukan seorang nabi yang benar.
Sebaliknya,
dengan kaum Yahudi, orang-orang Kristen -- berdasarkan surat-surat kiriman Paulus (Saul)
-- percaya bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. benar-benar telah wafat
(mati terkutuk) di atas tiang salib
guna menebus doa warisan dari Adam dan
Hawa, dan hal itu menyebabkan mereka
telah menganut akidah “Penebusan dosa”.
Berikut
adalah salah satu keterangan Paulus
dalam salah satu surat kirimannya kepada orang-orang di Galatia
mengenai hal tersebut -- yang menurut Petrus menjadi batu sandungan
bagi sebagian orang-orang yang berhati
bengkok (I Petrus 3:14-16)
-- karena kelihainya dalam mengolah
kalimat:
Hukum Taurat atau janji
Saudara-saudara,
baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan,
sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan
atau ditambahi oleh seorangpun. Adapun kepada Abraham diucapkan segala
janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada
keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah,
tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga
puluh tahun kemudian, sehingga janji
itu hilang kekuatannya. Sebab,
jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal
dari janji; tetapi justru oleh
janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.
Kalau demikian, apakah maksudnya hukum
Taurat? Ia ditambahkan oleh karena
pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang
keturunan yang dimaksud oleh janji itu -- dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan
seorang pengantara. Seorang
pengantara bukan hanya mewakili satu
orang saja, sedangkan Allah adalah satu.
Kalau demikian, bertentangankah hukum
Taurat dengan janji-janji Allah?
Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang
dapat menghidupkan, maka memang kebenaran
berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab
Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji
itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat,
dan dikurung sampai iman itu telah
dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah
penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena
iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu
semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini
tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
merdeka, tidak ada laki-laki
atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik
Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima
janji Allah. (Galatia 3:15-29).
Pernyataan Paulus Bertentangan Dengan Keterangan Bible
dan Al-Quran
Baiklah
kita uji poin-poin ucapan
Paulus dalam surat kirimannya
tersebut sejauh mana kebenarannya
atau kedustaannya:
(1)
Paulus menulis:
Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada
keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya"
seolah-olah dimaksud banyak orang,
tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
Keterangan Paulus tersebut bertentangan dengan keterangan Bible,
kitab Kejadian Bab Abram
dipanggil Allah dijelaskan:
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak
saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Aku akan membuat engkau
menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau
akan menjadi berkat. Aku
akan memberkati orang-orang yang memberkati
engkau, dan mengutuk
orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu
semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat ."
Kemudian dalam Kejadian 15:1-6 terdapat keterangan
sebagai berikut:
Perjanjian
Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram
dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu
akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan
kepadaku, karena aku akan meninggal
dengan tidak mempunyai anak, dan
yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer,
orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan,
sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."
Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya,
demikian: "Orang ini tidak akan
menjadi ahli warismu, melainkan anak
kandungmu, dialah yang akan menjadi
ahli warismu "
Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika
engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN,
maka TUHAN memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran.
Di
dalam penjelasan kitab Kejadian
tersebut -- baik secara tersurat mau pun tersirat -- tidak ada keterangan mengenai Yesus Kristus. Demikian pula halnya
dengan keterangan Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ
جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی
الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya (Tuhan-nya) dengan beberapa perintah maka dilaksanakannya
sepenuhnya. Dia berfirman: “Sesungguhnya
Aku akan menjadi-kan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim, berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari
keturunanku.” Dia
ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai
yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah [2]:125).
Ibtila’ (cobaan) mengandung dua hal:
(a) pengkajian kedudukan atau keadaan obyeknya dan menjadi kenal dengan apa-apa
yang sebelumnya tidak diketahui mengenai keadaan obyek itu; (b) menampakkan
kebaikan atau keburukan obyek itu (Lexicon
Lane).
Makna Kalimāt dalam
ayat -- “بِکَلِمٰتٍ ” itu jamak dari kalimah
yang berarti suatu perintah (Mufradāt). Sedangkan arti Imam berarti setiap obyek yang diikuti, baik manusia
atau suatu Kitab (Mufradāt).
Jawaban Allah Swt. terhadap permintaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:
قَالَ
وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ -- “Ia, Ibrahim, berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari
keturunanku.” قَالَ لَا یَنَالُ
عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ -- Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak
berlaku bagi orang-orang zalim.”
Dengan kalimat lain jawaban Allah
Swt. adalah: “Ya, janji-Ku kepada engkau,
Ibrahim, berlaku juga bagi keturunan
engkau yang bertakwa, sedang
bagi keturunan engkau yang tidak
bertakwa janji-Ku tidak berlaku.”
Dikutuk Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Itulah sebabnya ketika Bani Israil berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt.
dan para rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka --
mulai dari zaman Nabi Musa a.s.
hingga dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (Yesus Kristus –
QS.2:88-89) sehingga mereka dikutuk Nabi Daud a.s. dan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:79-80) dan mengalami dua kali pembuangan dari “negeri
yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina (QS.17:5-9) – maka Allah Swt. mencabut dan memindahkan
nikmat kenabian dan kerajaan dari
mereka kepada “saudara mereka” dari
kalangan Bani Isma’il (Ulangan 18:15-19; Matius 23:37-39; QS.11:18;
QS.46:11).
Mengisyaratkan kepada peruntuhan kedua kali Bait Allah di Yerusalem oleh Titus (Matius 24:14-22) dan kepada pemindahan
nikmat kenabian dari Bani Israil
kepada Bani Isma’il itulah
firman Allah Swt. melalui ucapan Yesus Kristus berikut ini:
Keluhan
terhadap Yerusalem
"Yerusalem, Yerusalem,
engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang
diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah
sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah
rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi
sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! " (Matius 23:37-39).
Sebutan
“Yerusalem, Yerusalem” maknanya “Bani
Israil” yang berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. pada para Rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka, sehingga mereka
mendapat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81),
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ
بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ
فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا
مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا
عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ
الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ -- dan Kami berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ
بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- Maka apakah
patut setiap datang kepada kamu
seorang rasul dengan membawa apa
yang tidak disukai oleh dirimu kamu berlaku takabur, فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫
وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- lalu
sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ -- Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidak, bahkan
Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran
mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani. وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ
اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ -- Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab
yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا -- sedangkan
sebelum itu mereka senantiasa memohon
kemenangan atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا
بِہٖ -- tetapi
tatkala datang kepada mereka apa yang mereka kenali itu lalu mereka kafir kepadanya
فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-89).
“Ajaran Paulus”
Menggantikan Ajaran Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. & Penghancuran Kedua Kali Bait
Allah di Yerusalem oleh Titus
Dengan
demikian jelaslah bahwa merebaknya ajaran Paulus -- yang disebut ajaran Kristen -- sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemenuhan
janji Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s. dan seluruh keturunannya -- baik dari
kalangan Bani Israil mau pun dari
kalangan Bani Isma’il --
melainkan hubungannya dengan peringatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) berkenaan kemunculan para Mesias palsu, sebagaimana keterangan berikut ini:
Bait Allah
akan diruntuhkan
Sesudah itu Yesus
keluar dari Bait Allah, lalu pergi.
Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya tidak satu
batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain;
semuanya akan diruntuhkan."
Permulaan penderitaan
Ketika Yesus
duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya
kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu
akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda
kesudahan dunia?" Jawab Yesus
kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku
dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan
menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu
akan dibunuh dan akan
dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka
akan saling menyerahkan dan saling
membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan
banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan , maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.
Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia
menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya ."
(Matius
24:1-14).
Betapa
jelaslah peringatan Yesus Kristus
(Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) kepada para pengikutnya
mengenai akan maraknya kemunculan Mesias-Mesias
palsu yang akan menyelewengkan ajaran beliau dan menyelewengkan “peristiwa penyaliban”
yang beliau alami dan merupakan “makar tandingan” Allah Swt. yang menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar