Senin, 22 Agustus 2016

Keterangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Kenabian dan Ajarannya Bertentangan Dengan Keterangan Paulus Dalam "Surat-surat Kirimannya"




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 28

KETERANGAN NABI ISA IBNU MAYAM A.S. MENGENAI   KENABIAN  DAN AJARANNYA BERTENTANGAN DENGAN KETERANGAN PAULUS DALAM SURAT-SURAT KIRIMANNYA


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 27  telah dijelaskan  mengenai   doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Taman Getsemani bahwa walau pun ketika itu Allah Swt. tidak menjawab permohonan doa yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tetapi pasti Allah Swt mengabulkan permohonan doa beliau:
“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. (Iberani 5:7).
          Dengan demikian benarlah  pernyataan Allah Swt. bahwa   -- kecuali orang-orang kafir   -- orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. merasa takut terhadap makar Allah Swt.  -- sebagaimana  contohnya yang telah dialami oleh Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ  اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا  وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ  کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا  کَانُوۡا  یَکۡسِبُوۡنَ﴿﴾   اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۸  اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  seandainya penduduk kota-kota beriman dan bertakwa niscaya akan Kami  bukakan  keberkatan dari langit dan dari bumi bagi mereka, akan tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada  mereka disebabkan  apa yang senantiasa mereka usahakan.   Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?     Ataukah penduduk negeri-negeri ini  merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ  -- Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:97-100).
       Jadi, betapa  sangat menggelincirkannya    “makar tandingan” Allah Swt.  dalam peristiwa upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi tersebut, sampai-sampai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak mengetahui adanya  “makar tandingan” Allah Swt. tersebut, sehingga dalam doa di Taman Getsemani yang dipanjatkan beliau  kepada Allah Swt. yang kedua  kali   diakhiri dengan ucapan penuh rasa sedih:
"Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." 26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus   serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih   dan gentar, 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. " 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki " 26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?  26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." 26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" 26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. 26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. 26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. 26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
   Jadi, betapa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sangat tidak menginginkan mengalami kematian terkutuk di tiang salib,   bertentangan dengan pendapat Paulus dalam Surat-surat kirimannya  bahwa beliau  dengan penuh kerelaan menerima kematian terkutuk di tiang salib demi menebus dosa yang diwariskan Adam dan Hawa kepada  semua keturunannya.

Penyimpangan Penafsiran Paulus

     Dalam   akhir Bab 24  telah dijelaskan  mengenai   dua   pendapat  berbeda mengenai penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ  -- Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --   Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā [4]:158-159).
        Sehubungan dengan ayat:   وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.”  Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    karena penyaliban.
    Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
  Al-Quran membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan:  "mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama Al-Quran menolak pembunuhan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran  tidak menolak ide bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   digantung pada tiang salib,Al-Quran hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib.
  Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa a.s. di atas tiang salib, sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras  terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan beliau dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah.
 Dalam ayat   بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --  ”bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,  itu sama sekali tidak ada sebutan  mengenai kenaikan beliau ke langit dengan tubuh jasmani. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt.. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِنۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ اِلَّا لَیُؤۡمِنَنَّ بِہٖ قَبۡلَ مَوۡتِہٖ ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  یَکُوۡنُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا ﴿﴾ۚ
Dan tidak ada seorang pun dari Ahlul  Kitab melainkan akan tetap beriman kepada hal ini sebelum ajalnya, dan pada Hari Kiamat  ia, Nabi Isa, akan menjadi saksi terhadap mereka  (An-Nisa [4]:160). 
  Kata ganti nya  dalam kalimat  قَبۡلَ مَوۡتِہٖ   -- “sebelum kematiannya” mengantikan kata benda  tidak ada seorang pun, artinya setiap orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri.Arti ini ditunjang oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim  (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Ubayy (Tafsir Ibnu Jarir, VI hlm. 13).

“Makar Tandingan” Allah Swt. yang Sangat Menggelincirkan

  Akibat “Makar tandingan” Allah Swt.  dalam peristiwa “penyaliban” yang sangat menggelincirkan tersebut  mengakibatkan orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka  membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas tiang salib, karena dengan demikian mereka ingin membuktikan berdasarkan hukum  Taurat  beliau bukan seorang nabi yang benar.
 Sebaliknya, dengan kaum Yahudi, orang-orang  Kristen  -- berdasarkan surat-surat kiriman Paulus (Saul)  -- percaya bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar  telah wafat (mati terkutuk) di atas tiang salib  guna menebus doa warisan dari Adam dan Hawa, dan hal itu menyebabkan mereka telah menganut akidah “Penebusan dosa”.
Berikut adalah salah satu keterangan Paulus dalam salah satu surat kirimannya kepada orang-orang di  Galatia mengenai hal tersebut   --   yang menurut Petrus menjadi batu sandungan bagi sebagian orang-orang yang berhati bengkok (I Petrus 3:14-16)     --  karena kelihainya    dalam mengolah kalimat:
Hukum Taurat atau janji
Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun. Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu -- dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.  (Galatia 3:15-29).

Pernyataan Paulus Bertentangan Dengan Keterangan  Bible dan Al-Quran

        Baiklah  kita uji poin-poin ucapan Paulus dalam surat kirimannya tersebut sejauh mana kebenarannya atau kedustaannya:
(1) Paulus menulis:
Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
     Keterangan Paulus tersebut bertentangan dengan keterangan   Bible, kitab Kejadian Bab  Abram dipanggil Allah dijelaskan:
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu   dan dari sanak saudaramu dan dari rumah  bapamu ini ke negeri   yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa  yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.   Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk   orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu   semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat ."
Kemudian  dalam Kejadian 15:1-6 terdapat keterangan sebagai berikut:
Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram  dalam suatu penglihatan:  "Janganlah takut,   Abram, Akulah perisaimu;   upahmu   akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH,  apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak,  dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik   itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku    nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu "  Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang,  jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
     Di dalam penjelasan kitab Kejadian tersebut --  baik secara tersurat mau pun tersirat   --  tidak ada keterangan mengenai Yesus Kristus. Demikian pula halnya dengan keterangan Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:  
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی  اِبۡرٰہٖمَ  رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ   فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ  اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji  oleh Rabb-nya (Tuhan-nya) dengan beberapa perintah  maka dilaksanakannya sepenuhnya. Dia berfirman: “Sesungguhnya  Aku akan  menjadi-kan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim,  berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari  keturunanku. Dia ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah [2]:125).
       Ibtila’ (cobaan) mengandung dua hal: (a) pengkajian kedudukan atau keadaan obyeknya dan menjadi kenal dengan apa-apa yang sebelumnya tidak diketahui mengenai keadaan obyek itu; (b) menampakkan kebaikan atau keburukan obyek itu (Lexicon Lane).  
         Makna Kalimāt  dalam ayat  -- “بِکَلِمٰتٍ   ”    itu jamak dari kalimah yang berarti suatu perintah (Mufradāt).  Sedangkan arti  Imam berarti setiap obyek yang diikuti, baik manusia atau suatu Kitab (Mufradāt).
Jawaban Allah Swt. terhadap permintaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ   -- “Ia, Ibrahim,  berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari  keturunanku.  قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ  -- Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
     Dengan  kalimat lain jawaban Allah Swt. adalah: “Ya, janji-Ku kepada engkau, Ibrahim, berlaku juga bagi keturunan engkau yang bertakwa, sedang bagi keturunan engkau yang tidak bertakwa janji-Ku tidak berlaku.”

Dikutuk Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Itulah sebabnya ketika Bani Israil berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka   -- mulai dari zaman Nabi Musa a.s. hingga dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (Yesus Kristus – QS.2:88-89)  sehingga mereka dikutuk Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80)  dan mengalami dua kali pembuangan  dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina (QS.17:5-9) – maka Allah Swt. mencabut dan  memindahkan nikmat kenabian dan kerajaan dari mereka kepada “saudara mereka” dari kalangan Bani Isma’il  (Ulangan 18:15-19;  Matius 23:37-39; QS.11:18; QS.46:11).
      Mengisyaratkan kepada peruntuhan kedua kali Bait Allah di Yerusalem oleh Titus (Matius 24:14-22) dan kepada pemindahan nikmat kenabian dari Bani Israil kepada Bani Isma’il  itulah  firman Allah Swt.  melalui ucapan Yesus Kristus berikut ini:
Keluhan terhadap Yerusalem
"Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,  tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.  Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! " (Matius 23:37-39).
     Sebutan “Yerusalem, Yerusalem” maknanya “Bani Israil” yang berulang kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. pada para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka,  sehingga mereka mendapat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾   وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami  mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,   وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ --  dan  Kami  berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan  Ruhulqudus. اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ   -- Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur,  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ  -- lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh?  وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ --  Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ  --  Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani. وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ   -- Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,  وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  -- sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ    -- tetapi tatkala  datang kepada mereka  apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya    فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-89).

Ajaran Paulus” Menggantikan Ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. &  Penghancuran Kedua Kali Bait Allah di Yerusalem  oleh Titus

          Dengan demikian jelaslah bahwa  merebaknya ajaran Paulus  -- yang disebut ajaran Kristen -- sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemenuhan  janji Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s.  dan seluruh keturunannya  -- baik dari kalangan Bani Israil mau pun dari kalangan Bani Isma’il   --  melainkan hubungannya dengan peringatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) berkenaan kemunculan para Mesias palsu, sebagaimana keterangan berikut ini:
Bait Allah akan diruntuhkan
Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah.  Ia berkata kepada mereka: "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain;  semuanya akan diruntuhkan."
Permulaan penderitaan
Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun,   datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu   dan tanda kesudahan dunia?"   Jawab Yesus  kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!   Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.   Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.   Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan.  Akan ada kelaparan  dan gempa bumi di berbagai tempat.   Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.   Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa,  dan kamu akan dibunuh    dan akan dibenci  semua bangsa oleh karena nama-Ku,     dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.   Banyak nabi palsu   akan muncul  dan menyesatkan banyak orang.    Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan , maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.   Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.   Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya ." (Matius 24:1-14).
       Betapa jelaslah peringatan Yesus Kristus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) kepada para pengikutnya mengenai akan  maraknya kemunculan  Mesias-Mesias palsu yang akan menyelewengkan ajaran beliau dan menyelewengkanperistiwa penyaliban” yang beliau alami  dan merupakan “makar  tandingan” Allah Swt. yang menggelincirkan orang-orang yang berhati  bengkok.   

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 17 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar