Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
DUA CARA BERDOA MANUSIA & RAHASIA
KESUKSESAN PERJUANGAN
SUCI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DAN HUBUNGANNYA
DENGAN SHALAT TAHAJJUD
Bab 15
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab 14 Masih
Mau’ud a.s. telah menjelaskan mengenai dua cara (jenis) pengabulan
doa oleh Allah Swt. yang tujuannya
berbeda, yakni sebagai ujian dan
sebagai pemuliaan, beliau a.s.
bersabda:
“Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua cara,
yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa
dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan
tersebut tidak mengindikasikan keridhaan
hakiki dan lebih banyak merupakan cobaan.
Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si
pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur
statusnya itu
mewujud dalam dirinya. Tuhan tidak
akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan
doa mereka
yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya.
Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah pada pengabulan
doa yang merupakan cobaan
tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang bertakwa dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan
kepada yang bersangkutan juga tidak akan
memberitakan pengabulan doanya secara khusus.
Tanda-tanda Pengabulan
Doa Sebagai Pemuliaan
Adapun pengabulan
doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:
Pertama,
si pemohon adalah seorang yang bertakwa,
jujur dan sempurna.
Kedua,
si pemohon akan menerima berita tentang pengabulan
doanya melalui firman Tuhan.
Ketiga,
sebagian besar dari doa-doa yang
diajukan tersebut bermutu tinggi dan
berkaitan dengan masalah-masalah besar
dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan
berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan
doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak.
Seringkali terjadi seorang pemohon
yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa, sehingga jika yang
bersangkutan adalah orang biasa, ia
tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri.
Banyak
terjadi dimana mereka yang cenderung
pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat
dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri.
Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara
istimewa
karena kekuatan keimanan dan hubungannya
yang dekat
kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa, sehingga kalbu orang yang menyadari
hal demikian akan langsung mengakui
bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia
Ilahi
dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal, sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan
serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah Yang
Maha Agung:
تَعۡرِفُ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ النَّعِیۡمِ
“Engkau
dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu” (Al-Tathfif [83]:25),
dan:
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ
اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
“Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak
akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan berdukacita (Yunus
[10]:63).
(Tasdiqun Nabi,
hlm. 43-45 atau Maktubati Ahmadiyya,
jld. III, hlm. 75-77).
Dua Macam Cara Manusia “Berdoa”
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan dua cara yang
ditempuh manusia dalam upaya mencari jalan pemecahan (pencerahan) terhadap masalah yang dihadapinya atau apa yang diinginkannya:
“Ada
manusia yang ketika kalbunya sedang mencari
sesuatu, ia dengan menadahkan tangannya
ke depan akan memohon
dengan segala kesungguhan dan tangis kepada Sang
Maha Sumber
segala rahmat, ada pula yang lainnya yang karena merasa dirinya tak berdaya kemudian mencari pencerahan dari tempat lain melalui perenungan, dimana kondisi
ini pun sebenarnya mirip dengan kondisi berdoa.
Semua
kebijaksanaan di dunia pada dasarnya bermula pada cara berdoa demikian
itulah. Tidak ada pengetahuan atau wawasan yang mewujud tanpa cara tersebut. Cara kita berfikir, perenungan kita dan pencaharian kita atas segala
hal yang tersembunyi (gaib), semuanya itu merupakan bagian dari doa. Perbedaannya hanyalah bahwa doa
dari mereka yang memiliki wawasan tergantung pada jenis wawasannya, dan jika nuraninya mengenali Sang
Maha Sumber
segala rahmat maka ia
akan menadahkan tangan kepada-Nya.
Adapun doa dari mereka yang masih terhalang tirai, lebih merupakan upaya yang mewujud
dalam perenungan dan pemikiran serta pencarian
sarana.
Mereka yang tidak mempunyai keterkaitan
wawasan
dengan Allah Swt. dan bahkan mungkin
tidak mempercayainya sama sekali, mereka ini pun mencari melalui perenungan dan pemikiran mengharapkan dari sumber yang tidak terlihat adanya jalan yang akan diinspirasikan ke dalam hati mereka guna menuju keberhasilan.
Perbedaan Kedua Cara Berdoa
Pemohon
yang memiliki wawasan juga mengharapkan agar Tuhan membukakan jalan keberhasilan baginya, bedanya
adalah ia mengenali Sang Maha Sumber segala rahmat. Sedangkan mereka yang tidak memiliki wawasan Ketuhanan juga mencari bantuan dari segala sisi (segi) dan merenungkan
cara-cara mendapatkan pertolongan tersebut, tetapi yang memiliki
wawasan
sudah punya tujuan jelas menatap ke arah Sang
Maha Sumber.
Jika
yang lainnya berjalan dalam kegelapan tanpa mengetahui
apakah yang diinspirasikan ke dalam kalbu mereka itu berasal dari Tuhan
atau bukan, sedangkan mereka yang berwawasan
Ketuhanan
memperoleh pencerahan langsung ke dalam kalbunya, karena Tuhan memperlakukan kecemasan yang bersangkutan sebagai doa kepada-Nya.
Hakikat kebijaksanaan dan pemahaman
yang masuk ke dalam hati
melalui perenungan juga datang
dari Tuhan, dan meskipun yang
bersangkutan sendiri tidak menyadarinya tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa ia memohon kepada-Nya. Pada akhirnya ia akan memperoleh dari Tuhan apa yang menjadi harapannya.
Metoda mencari pencerahan demikian jika dilambari dengan wawasan dan pengenalan mengenai Sang Maha Penuntun maka doanya termasuk doa seorang yang memiliki pemahaman, sedangkan mereka yang mencari pencerahan dari sumber yang tidak jelas, semata hanya berdasarkan perenungan tanpa pengenalan Sang
Maha Pencerah
maka doanya termasuk yang terselubung.
Doa dan Rencana (Upaya)
Hukum alam juga mengakui adanya keterkaitan antara perencanaan dan doa (harapan). Hal ini sering terlihat pada temperamen
manusia
saat mengalami kesulitan, dimana ia
segera merencana dan mencari jalan keluar, sama dengan kecenderungan alamiahnya untuk berdoa dan bersedekah.
Kaidah
yang ada dalam batin manusia sejak awal telah membawanya agar tidak memisahkan doa dari rencana dan cara (upaya), bahkan mencari rencana
tersebut melalui doa. Singkat kata, doa (harapan) dan perencanaan adalah dua
tuntutan alamiah fitrat manusia sejak
diciptakannya dulu, dan merupakan dua
saudara
yang mengabdi pada fitrat tersebut. Perencanaan merupakan urutan dalam proses berdoa, sedangkan doa menyulut minat kepada perencanaan.
Kemaslahatan manusia sesungguhnya
terdiri dari hal tersebut yaitu sebelum
merencanakan sesuatu
sewajarnya ia memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa agar berdasarkan nur
dari Sumber
Yang Maha Abadi
itu terbuka
perencanaan yang baik
baginya.” (Ayyamus Sulh,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.XIV, hlm. 230-232, London, 1984).
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai cara “berdoa” yang berbeda dari orang-orang yang memiliki makrifat Ilahi dengan yang tidak memiliki makrifat Ilahi tersebut sesuai dengan perumpamaan dalam Al-Quran berikut ini, firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
قُلۡ
لَّاۤ اَقُوۡلُ لَکُمۡ عِنۡدِیۡ
خَزَآئِنُ اللّٰہِ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ
الۡغَیۡبَ وَ لَاۤ اَقُوۡلُ لَکُمۡ اِنِّیۡ مَلَکٌ ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ
اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ؕ
قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ
ؕ اَفَلَا تَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: ”Aku tidak berkata kepada kamu bahwa padaku ada khazanah-khazanah Allah, وَ لَاۤ
اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ -- dan aku
tidak mengetahui ilmu gaib, dan aku
tidak mengatakan kepada kamu bahwa aku malaikat, ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ
اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ -- aku
hanya mengikuti apa yang diwahyukan
kepadaku.” قُلۡ ہَلۡ
یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ؕ -- Katakanlah: “Samakah
orang yang buta dengan orang yang
melihat?” اَفَلَا تَتَفَکَّرُوۡنَ -- Tidakkah kamu berpikir?
(Al-An’ām
[6]:51).
Firman-Nya lagi:
مَثَلُ
الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ
یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli
dengan orang melihat lagi mendengar.
Apakah sama misal kedua
orang itu? Tidakkah kamu
mau mengerti? (Hūd [11]:25). Lihat pula QS.10:44; QS.13:17;
QS.27:67 & 82.
Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan di sini untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan dan kekafiran.
Orang mukmin digambarkan sebagai
orang yang mempunyai daya melihat dan
mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli.
Berlomba-lomba Dalam Kebaikan
Sehubungan
dengan pentingnya memiliki makrifat Ilahi dalam berdoa tersebut, Allah Swt. berfirman tentang cara
meraih kesuksesan dalam kehidupan
-- baik untuk kepentingan duniawi
mau pun ruhani (akhirat) -- firman-Nya:
وَ
لِکُلٍّ وِّجۡہَۃٌ ہُوَ مُوَلِّیۡہَا فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ اَیۡنَ
مَا تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Dan bagi tiap orang ada suatu tujuan yang kepadanya ia menghadapkan wajahnya yakni perhatiannya,
فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ -- maka berlomba-lombalah dalam kebaikan-kebaikan, اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا -- di mana pun kamu berada Allah akan mendatangkan
kamu semua, اِنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu (Al-Baqarah
[2]:149).
Ayat
yang terdiri atas beberapa perkataan ini mengandung segala unsur untuk mencapai kehidupan
yang sukses. Pertama-tama seorang Muslim
harus terlebih dahulu menetapkan bagi
dirinya suatu tujuan yang pasti.
Kemudian ia bukan saja harus mencurahkan
seluruh perhatiannya kepada tujuan
itu, lalu bekerja-keras untuk
mencapainya dan berpacu dengan
orang-orang Muslim lainnya dalam
semangat perlombaan yang sehat, dan
berusaha mendahului mereka, tetapi
hendaknya menolong juga
kawan-kawannya yang mungkin tersandung
dan bangkit kembali lalu meneruskan perlombaan itu, firman-Nya: وَ لِکُلٍّ وِّجۡہَۃٌ ہُوَ مُوَلِّیۡہَا
فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ -- “Dan bagi tiap orang ada suatu tujuan yang kepadanya ia menghadapkan wajahnya yakni perhatiannya.”
Kata muwallīhā berarti pula “yang dijadikan olehnya berkuasa atas dirinya,” yakni orang
mula-mula menetapkan tujuan dan
kemudian menjadikannya faktor yang berpengaruh dalam kehidupannya dan berusaha
untuk meraihnya. Selanjutnya Dia
berfirman: اَیۡنَ مَا
تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا -- di mana pun kamu berada Allah akan
mendatangkan kamu semua,” makna
kalimat اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا -- “di mana pun kamu berada” dapat pula
berarti “apa pun profesi kamu” pasti
Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban
yakni akan menghisabnya (QS.2:285-287), اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “sesungguhnya
Allah berkuasa atas segala sesuatu.”
Kunci Rahasia Kesuksesan
Nabi Besar Muhammad Saw.
Petunjuk Allah Swt. lainnya untuk meraih kesuksesan tersebut Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mohonlah
pertolongan dengan sabar dan shalat,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar (Al-Baqarah [2]:154).
Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam
menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada
syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat
dan akal (Mufradat).
Ayat
ini mengandung satu asas yang hebat sekali
untuk mencapai keberhasilan, yakni:
Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan
sedikit pun tidak boleh berputus asa.
Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh
kepada segala hal yang baik.
Kedua,
ia hendaknya mendoa kepada Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt. sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar)
mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan
pentingnya melaksanakan hukum Ilahi
yang terkadang diremehkan karena
tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang
dijadikan Allah Swt. untuk mencapai sesuatu tujuan.
Sehubungan dengan pentingnya
bersikap sabar dan shalat
(doa) -- yakni istiqamah (teguh) -- tersebut Allah Swt. telah berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ
وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ
رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾ فَاِنَّ
مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ﴿﴾ فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾ وَ
اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau
dada engkau, dan Kami
menghilangkan dari engkau beban engkau, yang nyaris mematahkan punggung engkau?
وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ -- Dan Kami
meninggikan untuk engkau sebutan engkau.
فَاِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا
-- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا
-- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka apabila engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ --
dan kepada Rabb (Tuhan)
engkaulah hendaknya engkau
memohon dengan sungguh-sungguh. (Alamnasyrah [94]:1-9).
Beratnya Amanat
Islam (Al-Quran) yang Dipikul
Nabi Besar Muhammad Saw.
Nabi Besar Muhammad saw. telah dibebani tugas yang tidak pernah
dibebankan kepada siapa pun (QS.33:73-74), begitu memakan syaraf dan mematahkan
punggung yaitu, pertama-tama mengangkat
derajat suatu kaum jahiliyah dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan mereka membersihkan
dan mensucikan seluruh umat manusia
dari kezaliman, kejahilan, dan ketakhyulan.,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata (Al-Jumu’ah [62]:3).
Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan
Nabi Besar Muhammad saw di bawah himpitannya,
namun Allah meringankan beban beliau saw:
اَلَمۡ
نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ -- Tidaklah Kami
telah melapangkan bagi engkau dada engkau,
وَ
وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ --
dan Kami menghilangkan dari
engkau beban engkau, الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ
ظَہۡرَکَ -- yang nyaris
mematahkan punggung engkau?”
Surah Alamnasyrah diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum
beliau saw., tetapi dengan cepat
beliau saw. bangkit menjadi orang yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling
berhasil di antara semua nabi Allah.
Tidak ada pemimpin -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi, yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan
dari para pengikutnya demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw.: وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ -- ”dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.” Beliau saw. benar-benar merupakan suri teladan terbaik dalam segala segi
kehidupan jasmani dan ruhani manusia (QS.33:22).
Rahasia Kesuksesan di Balik Kesulitan
Ungkapan فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- “maka
sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”, telah disebutkan dua kali,
hal tersebut menunjukkan bahwa agama
Islam akan harus melalui masa-masa
penuh kesulitan, dan pada dua
peristiwa tersebut Islam menghadapi tantangan
untuk mempertahankan wujudnya – yang pertama, selang beberapa tahun permulaan
hidupnya sendiri setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), dan kedua kalinya pada Akhir Zaman (QS.62:3-4) –
dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam akan keluar dari percobaan itu sebagai satu kekuatan baru.
Ayat-ayat
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ
یُسۡرًا -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan” menunjukkan
pula bahwa kesulitan-kesulitan yang
sedang dihadapi Nabi Besar Muhammad saw. dan
orang-orang Islam itu hanya bersifat sementara, tetapi keberhasilan-keberhasilan
mereka akan kekal dan senantiasa meningkat terus dan mencapai puncaknya ketika Islam akan berhasil mengungguli
semua agama di Akhir Zaman ini dengan
segala kesempurnaan ajarannya melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4).
Makna ayat:
فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka apabila engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh”, Nabi Besar Muhammad saw. dihibur dengan memperoleh jaminan dari Allah Swt. bahwa lapangan kemajuan ruhani yang tidak ada hingganya
terbentang di hadapan beliau saw.,
dan bahwa sesudah beliau saw. menanggulangi kesulitan
demi kesulitan yang menghalangi jalan beliau saw., beliau saw. tidak
boleh berpuas diri dengan keberhasilan
yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan
suatu puncak, harus berusaha terus mendaki puncak lain, dan perhatian
beliau saw. harus senantiasa ditujukan
seluruhnya kepada usaha menghidupkan kembali umat manusia yang telah jatuh
dan kepada usaha menegakkan Kerajaan
Ilahi di atas bumi – yakni terciptanya
“ langit baru dan bumi baru” (QS.14:49; QS.39:69-71).
Senantiasa Menghadap
Allah Swt.
Ayat ini dapat pula mengandung arti bahwa
manakala Nabi Besar Muhammad saw. telah menyelesaikan tugas beliau saw. sehari-hari – mengajar dan mendidik para pengikut beliau saw. dan membenahi urusan-urusan duniawi lainnya – beliau saw. harus kembali menghadap Allah Swt. dengan sepenuh hati sebab perjalanan ruhani beliau saw. tidak terhingga, sebagaimana
firman-Nya berikut ini berkenaan dengan
pentingnya mendirikan shalat tahajjud:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا
الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾ قُمِ الَّیۡلَ
اِلَّا قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ نِّصۡفَہٗۤ
اَوِ انۡقُصۡ مِنۡہُ قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾ اَوۡ
زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّا
سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ
نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ
وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾ اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Wahai orang
yang berselimut, berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit. Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya, atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ
اَقۡوَمُ قِیۡلًا -- Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ
لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.
وَ
اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ
اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا -- Maka ingatlah
selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau
kepada-Nya dengan sepenuh
kebaktian (Al-Muzzammil [73]:1-9).
Zammalahu berarti: ia menggendong dia di belakang
punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan,
berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau
izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong
sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil)
berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya; seseorang yang memikul
tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid;
Fath-ul-
Qadir; Ruh-ul-
Ma’ani).
Ungkapan “firman
yang berbobot” dalam ayat اِنَّا سَنُلۡقِیۡ
عَلَیۡکَ قَوۡلًا ثَقِیۡلًا -- “Sesungguhnya
Aku akan melimpahkan kepada engkau
firman yang berbobot” dapat berarti
“ajaran Al-Quran itu padat dengan
ajaran mahapenting” bahwa ajaran
itu terlalu penting untuk digantikan
atau disisihkan. Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang
dapat diubah, diganti atau diperbaiki
sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt.
(QS.15:10; QS.41:43).
Menurut hadits yang kerap
kali dikutip, manakala ada wahyu
turun kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. jadi hening
terpaku dan merasakan ada suatu keharuan
istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes
besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan Nabi
Besar Muhammad saw. itu disebabkan oleh keharuan tadi.
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 5 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar