Rabu, 03 Agustus 2016

Dua "Cara Berdoa" Manusia & Rahasia Kesuksesan Perjuangan Suci Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hubungannya Dengan Shalat Tahajjud



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



DUA CARA BERDOA MANUSIA   & RAHASIA KESUKSESAN  PERJUANGAN SUCI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  DAN HUBUNGANNYA DENGAN SHALAT TAHAJJUD   


Bab 15


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  Bab 14 Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan    mengenai dua cara (jenis)  pengabulan doa oleh Allah Swt. yang tujuannya berbeda, yakni sebagai ujian dan sebagai pemuliaan, beliau a.s. bersabda:
      Perlu diingat bahwa pengabulan doa itu terdiri dari dua cara, yang kesatu sebagai cobaan dan yang lainnya sebagai pemuliaan. Sebagai cobaan, terkadang doa dari pendosa dan yang durhaka atau bahkan kafir sekali pun bisa saja dikabulkan, namun pengabulan tersebut tidak mengindikasikan keridhaan hakiki dan lebih banyak merupakan cobaan.
      Adapun persyaratan dari pengabulan doa yang merupakan pemuliaan adalah si pemohon haruslah seorang hamba pilihan Tuhan dimana tanda dan nur statusnya itu mewujud dalam dirinya.  Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang-orang durhaka dalam pengertian hakiki. Dia hanya mengabulkan doa mereka yang dalam pandangan-Nya termasuk orang-orang yang takwa dan patuh kepada-Nya.
     Perbedaan di antara kedua bentuk pengabulan ini ialah  pada pengabulan doa yang merupakan cobaan tidak ada persyaratan bahwa si pemohon adalah seorang bertakwa dan sahabat Tuhan, dimana Tuhan kepada yang bersangkutan juga tidak akan memberitakan  pengabulan doanya secara khusus.

Tanda-tanda Pengabulan Doa  Sebagai  Pemuliaan

   Adapun pengabulan doa yang merupakan pemuliaan selalu diikuti dengan tanda-tanda sebagai berikut:
     Pertama, si pemohon adalah seorang yang bertakwa, jujur dan sempurna.
     Kedua, si pemohon akan menerima berita tentang pengabulan doanya melalui firman Tuhan.    
     Ketiga, sebagian besar dari doa-doa yang diajukan tersebut bermutu tinggi dan berkaitan dengan masalah-masalah besar dimana pengabulannya menunjukkan bahwa hal itu bukanlah hasil kerja manusia tetapi merupakan contoh khusus dari kekuasaan Tuhan yang dimanifestasikan berkaitan dengan hamba-hamba yang terpilih.
   Keempat, pengabulan doa yang merupakan cobaan jarang sekali dikabulkan sedangkan pengabulan doa yang merupakan pemuliaan dikabulkan dalam jumlah yang sangat banyak.
  Seringkali terjadi seorang pemohon yang pengabulan doanya merupakan pemuliaan menghadapi kesulitan sedemikian rupa, sehingga jika yang bersangkutan adalah orang biasa, ia tidak akan mampu melihat jalan keluar kecuali melalui bunuh diri
     Banyak terjadi dimana mereka yang cenderung pada duniawi serta jauh dari Tuhan-nya ketika terlibat dalam masalah gawat, kesedihan atau pun petaka, kekacauan dan cobaan yang tidak ada jalan keluarnya, karena kelemahan iman dan kekecewaan kepada Tuhan lalu mengambil jalan pintas minum racun, melemparkan diri dari ketinggian atau menembak dirinya sendiri.
     Adapun mereka yang dekat kepada Tuhan, jika menghadapi kesulitan akan menerima bantuan secara istimewa karena kekuatan keimanan dan hubungannya yang dekat kepada Tuhan. Karunia Tuhan membimbing tangannya dengan cara yang istimewa, sehingga kalbu orang yang menyadari hal demikian akan langsung mengakui bahwa yang bersangkutan memang menikmati bantuan Tuhan.
    Kelima, pemohon dari doa yang pengabulannya merupakan pemuliaan selalu menerima karunia Ilahi dimana Tuhan menjadi penjaganya dalam segala hal, sehingga kecerahan nur kasih Allah dan tanda pengabulan dari Tuhan serta keceriaan ruhani dan karunia dimanifestasikan dalam wujudnya sebagaimana dinyatakan Allah Yang Maha Agung:
تَعۡرِفُ فِیۡ  وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ  النَّعِیۡمِ
 “Engkau dapat mengenal pada wajah mereka kesegaran nikmat itu” (Al-Tathfif [83]:25),
dan:
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا  ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ
Ingatlah, sesungguhnya teman-teman Allah itu tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita  (Yunus [10]:63).
(Tasdiqun Nabi, hlm. 43-45 atau Maktubati Ahmadiyya, jld. III, hlm.  75-77).

 Dua Macam Cara Manusia “Berdoa

     Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dua cara yang ditempuh manusia dalam upaya mencari  jalan pemecahan  (pencerahan) terhadap masalah yang dihadapinya atau apa yang diinginkannya:
    “Ada manusia yang ketika kalbunya sedang mencari sesuatu, ia dengan menadahkan tangannya ke depan  akan memohon dengan segala kesungguhan dan tangis kepada Sang Maha Sumber segala rahmat, ada pula yang lainnya yang karena merasa dirinya tak berdaya kemudian mencari pencerahan dari tempat lain melalui perenungan, dimana kondisi ini pun sebenarnya mirip dengan kondisi berdoa.
    Semua kebijaksanaan di dunia pada dasarnya bermula pada cara berdoa demikian itulah. Tidak ada pengetahuan atau wawasan yang mewujud tanpa cara tersebut.   Cara kita berfikir, perenungan kita dan pencaharian kita atas segala hal yang tersembunyi (gaib), semuanya itu merupakan bagian dari doa. Perbedaannya hanyalah bahwa doa dari mereka yang memiliki wawasan tergantung pada jenis wawasannya,  dan jika nuraninya mengenali Sang Maha Sumber segala rahmat maka ia akan menadahkan tangan kepada-Nya.
   Adapun doa dari mereka yang masih terhalang tirai, lebih merupakan upaya yang mewujud dalam perenungan dan pemikiran serta pencarian sarana. Mereka yang tidak mempunyai keterkaitan wawasan dengan Allah Swt. dan bahkan mungkin tidak mempercayainya sama sekali, mereka ini pun mencari melalui perenungan dan pemikiran mengharapkan dari sumber yang tidak terlihat adanya jalan yang akan diinspirasikan ke dalam hati mereka guna menuju keberhasilan.

Perbedaan Kedua Cara Berdoa

  Pemohon yang memiliki wawasan juga mengharapkan agar Tuhan membukakan jalan keberhasilan baginya, bedanya adalah ia mengenali Sang Maha Sumber segala rahmat. Sedangkan mereka yang tidak memiliki wawasan Ketuhanan  juga mencari bantuan dari segala sisi (segi) dan merenungkan cara-cara mendapatkan pertolongan tersebut, tetapi yang memiliki wawasan sudah punya tujuan jelas menatap ke arah Sang Maha Sumber.
     Jika yang lainnya berjalan dalam kegelapan tanpa mengetahui apakah yang diinspirasikan ke dalam kalbu mereka itu berasal dari Tuhan atau bukan, sedangkan mereka yang berwawasan Ketuhanan memperoleh pencerahan langsung ke dalam kalbunya, karena Tuhan memperlakukan kecemasan yang bersangkutan sebagai doa kepada-Nya.
     Hakikat kebijaksanaan dan pemahaman yang masuk ke dalam hati melalui perenungan juga datang dari Tuhan, dan   meskipun yang bersangkutan sendiri tidak menyadarinya  tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa ia memohon kepada-Nya. Pada akhirnya ia akan memperoleh dari Tuhan apa yang menjadi harapannya.
      Metoda mencari pencerahan demikian jika dilambari dengan wawasan dan pengenalan mengenai  Sang Maha Penuntun maka doanya termasuk doa seorang yang memiliki pemahaman, sedangkan mereka yang mencari pencerahan dari sumber yang tidak jelas, semata hanya berdasarkan perenungan tanpa  pengenalan Sang Maha Pencerah maka doanya termasuk yang terselubung.

Doa dan Rencana (Upaya)

     Hukum alam juga mengakui adanya keterkaitan antara perencanaan dan doa (harapan). Hal ini sering terlihat pada temperamen manusia saat mengalami kesulitan, dimana ia segera merencana dan mencari jalan keluar, sama dengan kecenderungan alamiahnya untuk berdoa dan bersedekah.
    Kaidah yang ada dalam batin manusia sejak awal telah membawanya agar tidak memisahkan doa dari rencana dan cara (upaya), bahkan mencari rencana tersebut melalui doa. Singkat kata, doa (harapan) dan perencanaan adalah dua tuntutan alamiah fitrat manusia sejak diciptakannya dulu, dan merupakan dua  saudara yang mengabdi pada fitrat tersebut. Perencanaan merupakan urutan dalam proses berdoa, sedangkan doa menyulut minat kepada perencanaan.
    Kemaslahatan manusia sesungguhnya terdiri dari hal tersebut yaitu sebelum merencanakan sesuatu sewajarnya ia memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa agar berdasarkan nur dari Sumber Yang Maha Abadi itu terbuka perencanaan yang baik baginya.” (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.XIV, hlm.  230-232, London, 1984).
    Penjelasan Masih Mau’ud a.s.  mengenai  cara “berdoa” yang berbeda dari orang-orang yang memiliki makrifat Ilahi dengan yang tidak memiliki makrifat Ilahi tersebut sesuai dengan perumpamaan dalam Al-Quran berikut ini, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  لَّاۤ  اَقُوۡلُ لَکُمۡ عِنۡدِیۡ خَزَآئِنُ اللّٰہِ وَ لَاۤ  اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ وَ لَاۤ  اَقُوۡلُ لَکُمۡ  اِنِّیۡ مَلَکٌ ۚ اِنۡ  اَتَّبِعُ  اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ ؕ قُلۡ ہَلۡ  یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ؕ اَفَلَا  تَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:  Aku tidak berkata kepada kamu bahwa padaku ada khazanah-khazanah Allah, وَ لَاۤ  اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ -- dan   aku tidak mengetahui ilmu gaib, dan aku tidak mengatakan kepada  kamu  bahwa aku malaikat, ۚ اِنۡ  اَتَّبِعُ  اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  --   aku hanya mengikuti  apa yang diwahyukan kepadaku.”  قُلۡ ہَلۡ  یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ؕ  -- Katakanlah:  “Samakah orang yang buta dengan orang yang melihat?” اَفَلَا  تَتَفَکَّرُوۡنَ   -- Tidakkah kamu berpikir? (Al-An’ām [6]:51).
Firman-Nya lagi:
مَثَلُ الۡفَرِیۡقَیۡنِ کَالۡاَعۡمٰی وَ الۡاَصَمِّ وَ الۡبَصِیۡرِ وَ السَّمِیۡعِ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیٰنِ مَثَلًا ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿٪﴾
Keadaan kedua golongan itu adalah semisal keadaan orang buta lagi tuli dengan orang melihat lagi mendengar. Apakah sama misal kedua orang itu? Tidakkah  kamu  mau mengerti? (Hūd [11]:25). Lihat pula  QS.10:44;   QS.13:17; QS.27:67 & 82.
     Suatu perumpamaan yang indah telah dikemukakan di sini untuk menjelaskan perbedaan antara keimanan dan kekafiran. Orang mukmin digambarkan sebagai orang yang mempunyai daya melihat dan mendengar yang sempurna, sedang orang kafir diibaratkan sebagai orang buta dan tuli.

Berlomba-lomba Dalam Kebaikan

      Sehubungan dengan pentingnya  memiliki makrifat Ilahi dalam berdoa tersebut, Allah Swt. berfirman  tentang cara meraih kesuksesan dalam  kehidupan  -- baik untuk kepentingan duniawi mau pun ruhani (akhirat)  -- firman-Nya:
وَ  لِکُلٍّ وِّجۡہَۃٌ ہُوَ مُوَلِّیۡہَا فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ؃ اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Dan bagi tiap orang ada suatu tujuan yang kepadanya ia menghadapkan wajahnya yakni perhatiannya, فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ  -- maka  berlomba-lombalah dalam kebaikan-kebaikanاَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا --      di mana pun kamu berada Allah akan mendatangkan kamu semua, اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  --  sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu  (Al-Baqarah [2]:149).  
     Ayat yang terdiri atas beberapa perkataan ini mengandung segala unsur untuk mencapai kehidupan yang sukses. Pertama-tama seorang Muslim harus terlebih dahulu menetapkan bagi dirinya suatu tujuan yang pasti. Kemudian ia bukan saja harus mencurahkan seluruh perhatiannya kepada tujuan itu, lalu bekerja-keras untuk mencapainya dan berpacu dengan orang-orang Muslim lainnya dalam semangat perlombaan yang sehat, dan berusaha mendahului mereka, tetapi hendaknya menolong juga kawan-kawannya yang mungkin tersandung dan bangkit kembali lalu meneruskan perlombaan itu, firman-Nya: وَ  لِکُلٍّ وِّجۡہَۃٌ ہُوَ مُوَلِّیۡہَا فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ  --  “Dan bagi tiap orang ada suatu tujuan yang kepadanya ia menghadapkan wajahnya yakni perhatiannya.”
      Kata muwallīhā  berarti pula “yang dijadikan olehnya berkuasa atas dirinya,” yakni orang mula-mula menetapkan tujuan dan kemudian menjadikannya faktor yang berpengaruh dalam kehidupannya dan berusaha untuk meraihnya. Selanjutnya Dia berfirman: اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یَاۡتِ بِکُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا --      di mana pun kamu berada Allah akan mendatangkan kamu semua,”  makna kalimat  اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا  -- “di mana pun kamu berada” dapat pula berarti “apa pun profesi kamu” pasti Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban  yakni akan menghisabnya  (QS.2:285-287),  اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  --  “sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”     

Kunci Rahasia  Kesuksesan Nabi Besar Muhammad Saw.

       Petunjuk Allah Swt. lainnya  untuk meraih kesuksesan  tersebut  Dia  berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar  (Al-Baqarah [2]:154).
   Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).
       Ayat ini mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan, yakni:  
      Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
       Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt.  untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.   sajalah Sumber segala kebaikan.
        Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan.
     Sehubungan dengan pentingnya bersikap  sabar dan shalat (doa)   -- yakni istiqamah   (teguh) --  tersebut Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾  وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾  وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾   فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿﴾   اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿﴾  فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,   dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau? وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ  --  Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkauفَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  -- Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahanفَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  --    Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lainوَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ  --   dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.  (Alamnasyrah [94]:1-9).

Beratnya  Amanat  Islam (Al-Quran) yang Dipikul Nabi  Besar Muhammad Saw.

  Nabi Besar Muhammad saw.   telah dibebani tugas yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun (QS.33:73-74), begitu memakan syaraf dan mematahkan punggung yaitu, pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum  jahiliyah dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan seluruh umat manusia dari kezaliman, kejahilan, dan ketakhyulan., firman-Nya:
    ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata  (Al-Jumu’ah [62]:3).
  Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan  Nabi Besar Muhammad saw di bawah himpitannya, namun Allah meringankan beban beliau saw:  اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ  --  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkauوَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ   --  dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau, الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ  --   yang nyaris mematahkan punggung engkau?”
  Surah Alamnasyrah  diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika  Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat beliau  saw. bangkit menjadi orang yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi Allah.
   Tidak ada pemimpin   -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi, yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan dari para pengikutnya demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw.:   وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ  --    ”dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”  Beliau saw. benar-benar merupakan suri teladan terbaik dalam segala segi kehidupan jasmani dan ruhani manusia (QS.33:22).

Rahasia Kesuksesan di Balik  Kesulitan

  Ungkapan  فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  -- “maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”, telah disebutkan dua kali, hal tersebut menunjukkan bahwa agama Islam akan harus melalui masa-masa penuh kesulitan,  dan  pada dua peristiwa tersebut Islam menghadapi tantangan untuk mempertahankan wujudnya –  yang pertama, selang beberapa tahun permulaan hidupnya sendiri  setelah mengalami masa kejayaan  yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), dan kedua kalinya pada Akhir Zaman  (QS.62:3-4) – dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam akan keluar dari percobaan itu sebagai satu kekuatan baru.
 Ayat-ayat    فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  --  Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  --   Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”    menunjukkan pula bahwa kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi  Nabi Besar Muhammad saw.     dan orang-orang Islam itu hanya bersifat sementara, tetapi keberhasilan-keberhasilan mereka akan kekal dan senantiasa meningkat terus  dan mencapai puncaknya ketika  Islam akan berhasil  mengungguli semua agama  di Akhir Zaman ini  dengan segala kesempurnaan ajarannya  melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4).
 Makna ayat:   فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  --    Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lainوَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ  --   dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh”,    Nabi Besar Muhammad saw.    dihibur dengan memperoleh jaminan dari Allah Swt. bahwa lapangan kemajuan ruhani yang tidak ada hingganya terbentang di hadapan beliau saw., dan bahwa sesudah beliau saw. menanggulangi kesulitan demi kesulitan yang menghalangi jalan beliau saw., beliau  saw. tidak boleh berpuas diri dengan keberhasilan yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan suatu puncak, harus berusaha terus mendaki puncak lain, dan perhatian beliau saw. harus senantiasa ditujukan seluruhnya kepada usaha menghidupkan kembali umat manusia yang telah jatuh dan kepada usaha menegakkan Kerajaan Ilahi di atas bumi – yakni terciptanya  “ langit baru dan bumi baru” (QS.14:49; QS.39:69-71).

Senantiasa  Menghadap Allah Swt.   

   Ayat ini dapat pula mengandung arti bahwa manakala  Nabi Besar Muhammad saw.     telah menyelesaikan tugas beliau  saw. sehari-hari – mengajar dan mendidik para pengikut beliau  saw. dan membenahi urusan-urusan duniawi lainnya – beliau saw.  harus kembali menghadap  Allah Swt. dengan sepenuh hati sebab perjalanan ruhani beliau saw. tidak terhingga, sebagaimana firman-Nya berikut ini  berkenaan dengan pentingnya mendirikan  shalat tahajjud:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   یٰۤاَیُّہَا الۡمُزَّمِّلُ ۙ﴿﴾   قُمِ  الَّیۡلَ   اِلَّا  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾   نِّصۡفَہٗۤ  اَوِ انۡقُصۡ  مِنۡہُ  قَلِیۡلًا ۙ﴿﴾  اَوۡ زِدۡ  عَلَیۡہِ  وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ  تَرۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾   اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿﴾  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ﴿﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Wahai orang yang berselimut,  berdirilah untuk shalat waktu malam, kecuali sedikit.   Setengahnya atau kurangilah sedikit darinya,    atau tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan pembacaan yang baik. اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  --  Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot. اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ  ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً  وَّ  اَقۡوَمُ قِیۡلًا   -- Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh berbicara. اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --     Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.   وَ اذۡکُرِ اسۡمَ رَبِّکَ وَ تَبَتَّلۡ  اِلَیۡہِ تَبۡتِیۡلًا --    Maka ingatlah selalu nama Rabb (Tuhan) engkau dan baktikanlah diri engkau  kepada-Nya dengan sepenuh kebaktian  (Al-Muzzammil [73]:1-9).
  Zammalahu berarti: ia menggendong dia di belakang punggungnya. Zammala, kecuali arti yang diberikan dalam terjemahan, berarti: ia lari dan pergi dengan cepat. Tazammala, izzammala atau izzamala berarti: ia membungkus diri; ia memikul atau menggendong sesuatu, yaitu suatu beban pada suatu waktu. Muzzammil (atau mutazammil) berarti: orang yang terbungkus di dalam busananya; seseorang yang memikul tanggung-jawab besar (Aqrab-ul-Mawarid; Fath-ul- Qadir; Ruh-ul- Ma’ani).  
   Ungkapan “firman yang berbobot” dalam ayat  اِنَّا سَنُلۡقِیۡ عَلَیۡکَ  قَوۡلًا  ثَقِیۡلًا  -- “Sesungguhnya Aku akan melimpahkan kepada engkau firman yang berbobot” dapat berarti  “ajaran Al-Quran itu padat dengan ajaran mahapenting”   bahwa ajaran itu terlalu penting untuk digantikan atau disisihkan.  Tidak ada kata atau huruf sebuah pun yang dapat diubah, diganti atau diperbaiki sebab wahyu Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10; QS.41:43).
  Menurut hadits yang kerap kali dikutip, manakala ada wahyu turun kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,  beliau saw.  jadi hening terpaku dan merasakan ada suatu keharuan istimewa, sehingga bahkan dalam cuaca hari yang sangat dingin sekalipun tetes-tetes besar keringat menitik dari dahi beliau saw., dan beliau saw. merasakan bobot berat jisim beliau sendiri (Bukhari). Karena wahyu Al-Quran itu “firman yang berbobot” maka serangan hebat yang menggoncang perasaan  Nabi Besar Muhammad saw.   itu disebabkan oleh keharuan tadi.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 5 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar