Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
25
PERBEDAAN PERISTIWA ISRA DENGAN MI’RAJ NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & PENGULANGAN MAKAR BURUK” TERHADAP NABI SHALIH A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab 24 telah dijelaskan “makar”
Allah Swt. dalam peristiwa
yang dialami oleh Nabi Yunus a.s.
setelah beliau meninggalkan kaumnya dengan
marah, karena mereka
tidak percaya kepada peringatan
beliau mengenai azab Ilahi yang mengancam mereka, firman-Nya:
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ
الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ نَادٰی وَ ہُوَ
مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ تَدٰرَکَہٗ
نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾ فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap
keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan janganlah
engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh duka. لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Lalu Rabb-nya
(Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
Mengenai “makar buruk” para pemuka kaum kafir Mekkah pimpinan Abu
Jahal terhadap Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ
یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat
menangkap engkau atau membunuh engkau
atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
-- Mereka
merancang makar buruk, dan Allah
pun merancang makar tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar (Al-Anfāl [8]:31).
Sesudah diadakan pertimbangan mendalam,
terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah
Quraisy harus secara serempak menyergap
Nabi Besar Muhamnmad saw. lalu
membunuh beliau saw..
Tetapi tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga
dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama Abubakar Shiddiq r.a., sahabat beliau saw. yang setia, dan
akhirnya beberapa hari kemudian keduanya sampai di Medinah
dengan selamat, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ
یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ
اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ
تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا
السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ
عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh
Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang
kafir, sedangkan ia kedua dari yang
dua ketika keduanya berada dalam gua, اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- lalu ia berkata
kepada temannya: “Janganlah engkau sedih
sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ
وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا -- lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya, وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی -- dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang
kafir itu rendah وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ
الۡعُلۡیَا -- sedangkan
Kalimah Allah itulah yang tertinggi,
وَ
اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:40).
Kata pengganti nama hī (nya) dalam anak kalimat فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ -- “lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya
kepadanya” dapat mengisyaratkan
kepada Abubakar Shidiq r.a., karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya.
Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”: وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا -- “dan
menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya” bagaimanapun
juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran
ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa
Arab. Lihat QS.48:10.
Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah -- sebagai akibat dari “makar buruk” yang dilakukan Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir
Mekkah lainnya (QS.8:31) -- ketika beliau saw. didampingi oleh Abubakar Shiddiq r.a. berlindung
di sebuah gua yang disebut Tsaur.
Ayat ini menjelaskan martabat
ruhani amat tinggi Abubakar Shiddiq
r.a. yang telah disebut sebagai “salah
satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt. dan Allah Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya: اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- lalu ia (Rasulullah
saw.) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ
-- lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya.”
Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika
berada dalam gua Abubakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau
menjawab: “Saya tidak menangis untuk
hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa
saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian
seluruh umat Islam.” (Zurqani).
Perbedaan Peristiwa Isra
dan Mi’raj
Nabi Besar Muhammad Saw.
Mengisyaratkan kepada peritiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. di malam hari itulah isyarat dalam ayat
awal surah Bani Israil, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia
Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid
Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Melihat (Bani
Israil [17]:2).
Ayat ini yang nampaknya menyebut suatu kasyaf (penglihatan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.,
telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir
Al-Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan ruhani) beliau. Berlawanan
dengan pendapat umum, tersebut kami cenderung kepada pendapat bahwa ayat ini
membahas masalah Isra (perjalanan ruhani di waktu malam) Nabi Besar
Muhammad saw. dari Mekkah ke
Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mikraj beliau saw. telah dibahas agak
terinci dalam Surah An-Najm.
Semua kejadian yang disebut dalam
Surah An-Najm (ayat-ayat 8-18) yang
telah diwahyukan tidak lama sesudah
beberapa sahabat Nabi Besar Muhammad saw. pimpinan Zafar bin Abi Thalib r.a. hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi
di bulan Rajab tahun ke-5 nabawi,
diceriterakan secara terinci dalam buku-buku hadits yang membahas Mi’raj beliau saw.; sedang Isra
beliau saw. dari Mekkah ke Yerusalem yang dibahas oleh ayat ini (QS.17:2), menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi.
Menurut Sir Williams Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, peristiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal,
setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra). Baihaqi
pun menceriterakan, bahwa peristiwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah
Nabi Besar Muhammad saw. ke Madinah.
Dengan demikian semua hadits yang
bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah Nabi Besar Muhammad saw. ke Medinah, yaitu
kira-kira pada tahun ke-12 nabawi,
setelah Siti Khadijah r.a. wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, yaitu ketika Nabi Besar Muhammad saw. tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani,
saudari sepupu beliau.
Tetapi
peristiwa Mi'raj, menurut
pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan
satu dengan yang lain oleh jarak waktu 6
atau 7 tahun, dan oleh karenanya
kedua kejadian itu tidak mungkin sama, yang satu harus dianggap berbeda dan
terpisah dari yang lain.
Peristiwa Isra dan Mi’raj
Merupakan Peristiwa Ruhani (Kasyaf)
Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadits terjadi dalam Mi'raj
Nabi Besar Muhammad saw. sama
sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil
lalu dapat disebutkan di sini bahwa kedua
peristiwa itu hanya kejadian-kejadian
ruhani belaka, dan Nabi Besar
Muhammad saw. dalam kasyaf tersebut tidak naik ke langit atau pergi ke
Yerusalem dengan tubuh kasar.
Selain kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain
yang berka-itan dengan peristiwa itu mendukung pendapat bahwa kedua kejadian
itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain:
(a) Al-Quran menguraikan kejadian Mi'raj
Nabi Besar Muhammad saw. dalam
surah 53, tetapi sedikit pun tidak menyinggung
Isra, sedang dalam Surah ini Al-Quran membahas soal Isra,
tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa Mi'raj.
(b) Ummi Hani r.a., saudari sepupu Nabi Besar Muhammad saw., yang
di rumahnya beliau saw. menginap pada
malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan beliau saw. ke
Yerusalem (Isra) dan sama sekali
tidak menyinggung kenaikan beliau saw. ke langit
(Mi’raj).
Ummi Hani r.a. adalah orang pertama yang
kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. menceriterakan
perjalanan beliau saw. di waktu malam
ke Yerusalem, dan paling sedikit
tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadits telah mengutip keterangan Ummi Hani
r.a. mengenai kejadian ini, yang
bersumber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat,
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. berangkat ke Yerusalem dan pulang
kembali ke Mekkah pada malam itu
juga.
Jika seandainya Nabi Besar Muhammad saw. telah
membicarakan pula kenaikan beliau saw.
ke langit (Mi’raj) tentu Ummi Hani r.a. tidak
akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak
menyebut hal itu dalam satu riwayat pun, dengan demikian menunjukkan dengan
pasti bahwa pada malam yang
bersangkutan itu Nabi Besar Muhammad
saw. melakukan Isra hanya sampai Yerusalem, dan bahwa Mi'raj tidak
terjadi pada ketika itu.
Nampaknya beberapa perawi hadits mencampur-baurkan kedua peristiwa Isra
dan Mi'raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan oleh kata isra’,
yang dipergunakan baik untuk Isra maupun untuk Mi'raj, dan
persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terinci mengenai Isra dan Mi'raj
telah menambah dan memperkuat pendapat
mereka yang kacau-balau itu.
(c) Hadits-hadits yang mula-mula
meriwayatkan perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. ke Yerusalem
dan selanjutnya mengenai kenaikan
beliau saw. dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi Allah terdahulu,
termasuk Nabi Adam a.s., Nabi Besar Muhammad saw., Nabi Ibrahim a.s., Nabi
Musa a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan bahwa di berbagai petala (tingkatan) langit
beliau saw. menemui (berjumpa) kembali nabi-nabi yang itu-itu juga tetapi tidak
dapat mengenal mereka.
Bagaimanakah nabi-nabi tersebut -- yang telah Nabi Besar Muhammad saw. jumpai di Yerusalem -- sampai pula ke langit sebelum beliau saw. , dan mengapa beliau saw. tidak
mengenali mereka, sedang beliau saw. telah melihat mereka beberapa saat
sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga?
Tidaklah masuk akal bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum
itu, beliau saw. bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.
Nubuatan Dalam Peristiwa Isra
Nabi Besar Muhammad Saw.
“Masjid
Aqsa” (masjid yang jauh) dalam ayat سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی
بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا
الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ -- “Maha Suci Dia Yang memperjalankan
hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid
Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati,” menunjuk kepada rumah
peribadatan (Kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s. di Yerusalem.
Kasyaf Nabi Besar Muhammad saw. yang
disebut dalam ayat ini mengandung suatu nubuatan
yang agung. Perjalanan beliau saw. ke “Masjid Aqsa” berarti hijrah beliau saw. ke Medinah,
tempat beliau saw. akan mendirikan suatu masjid
Islam yang pertama (Mesjid Nabawi),
yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam.
Ada pun makna penglihatan diri Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau saw. mengimami
para nabi Allah lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama baru - yaitu agama Islam -- tidak
akan terkurung di tempat kelahirannya
saja, melainkan akan tersebar ke seantero dunia, dan pengikut-pengikut
dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya (QS.9:33;QS.48:29; QS.61:10).
Kepergian Nabi Besar Muhammad saw. ke Yerusalem dalam kasyaf (Isra) tersebut dapat
pula dianggap mengandung arti bahwa
beliau saw. akan diberi kekuasaan
atas daerah yang terletak di Yerusalem itu. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa khilafat (kekhalifahan) Umar bin Khaththab r.a.
Kasyaf mengenai Isra
ini dapat pula diartikan sebagai menunjuk kepada suatu perjalanan ruhani Nabi Besar
Muhammad saw. ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang – yakni di Akhir Zaman (QS.62:3-4). Maksudnya, bahwa ketika kegelapan ruhani akan kembali menutupi seluruh dunia --
yakni di masa kemunduran umat Islam selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6) -- Nabi
Besar Muhammad saw. akan
muncul kembali secara ruhani dalam wujud salah seorang pengikut sejati beliau
saw., dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau saw.diutus.
Satu penunjukan yang khusus kepada kebangkitan
kedua Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara me-reka, yang membacakan kepada mere-ka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan
Hikmah walaupun sebelumnya mereka
berada dalam ke-sesatan yang nyata, ۙ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
Pengulangan “Makar
buruk” Terhadap Nabi Shalih a.s.
Pada hakikatnya “makar buruk” kepada Nabi Besar Muhammad saw. tersebut merupakan pengulangan “makar buruk”
yang dilakukan ribuan tahun
sebelumnya oleh para pemuka
kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54), firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ
رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ
لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا
مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ وَ
اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ
قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat
kerusuhan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. Mereka
berkata: “Hendaklah kamu sekalian
bersumpah dengan nama Allah
bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia
dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada
pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا
وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ
-- Dan mereka membuat makar buruk dan Kami
pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menya-dari. فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memus-nahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا -- Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh
karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang
mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa (An-Naml [27]:49-54).
Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat
ini adalah kesembilan musuh terkemuka Nabi Besar Muhammad saw.. Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran
Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati
di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar.
Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah,
Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah
bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw.. Rencana sebenarnya ialah memilih
seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan
pembunuhan yang berencana atas beliau, sehingga tidak ada kabilah tertentu
dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau itu. Rencana
itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
Nabi Besar Muhammad saw. terpaksa
hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang
tidak menyadari, bahwa dengan memaksa
Nabi Besar Muhammad saw. hijrah
dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran
bagi mereka sendiri (QS.8:33-36).
Sedangkan akibat “makar buruk”
Abu Jahal dan kawan-kawannya, setelah
Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke
Medinah beliau saw. terus menerus meraih
berbagai kesuksesan baik secara
jasmani mau pun ruhani, karena Medinah dari segi ruhani
benar-benar merupakan “tanah yang subur”
bagi penyiaran agama Islam dan perkembangan umat Islam selama 10 tahun
sejak hijrah dari Mekkah, firman-Nya:
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ
الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ نَادٰی وَ ہُوَ
مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ تَدٰرَکَہٗ
نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾ فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap
keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan janganlah
engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh duka. لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Lalu Rabb-nya
(Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 15 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar