Jumat, 19 Agustus 2016

Perbedaan Peristiwa "Isra" Dengan "Mi'raj" Nabi Bear Muhammad Saw. & Pengulangan "Makar Buruk" Terhadap Nabi Shalih a.s.




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 25

PERBEDAAN PERISTIWA ISRA DENGAN MIRAJ NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  &   PENGULANGAN MAKAR BURUK TERHADAP NABI SHALIH A.S.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 24  telah dijelaskan   “makar” Allah Swt. dalam peristiwa yang dialami oleh Nabi Yunus a.s.  setelah  beliau meninggalkan kaumnya  dengan  marah, karena  mereka  tidak percaya kepada peringatan beliau mengenai azab Ilahi yang mengancam mereka, firman-Nya:  
فَاصۡبِرۡ  لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ  نَادٰی وَ ہُوَ مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾  فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan  janganlah engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh  duka. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di   tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ  --   Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk  orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
        Mengenai “makar buruk”  para pemuka kaum kafir Mekkah pimpinan Abu Jahal terhadap Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Allah Swt.   berfirman:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkauوَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ     --   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandinganوَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar  (Al-Anfāl [8]:31).
      Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhamnmad saw.   lalu membunuh beliau saw..  
      Tetapi tanpa setahu orang   Nabi Besar Muhammad saw.     meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a.,  sahabat beliau saw. yang setia, dan akhirnya  beberapa  hari kemudian keduanya sampai di Medinah dengan selamat, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ  اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam guaاِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا --  lalu ia berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا  -- lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnyaوَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی  -- dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا  -- sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (At-Taubah [9]:40).
        Kata pengganti nama  (nya) dalam anak kalimat  فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ --  “lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada   Abubakar Shidiq r.a.,    karena selama itu  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya.
       Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”:  وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا   -- “dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab. Lihat QS.48:10.
      Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw.    dari Mekkah ke Medinah  -- sebagai akibat dari “makar buruk” yang dilakukan  Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir Mekkah lainnya (QS.8:31)   --  ketika beliau saw. didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.   berlindung di sebuah gua yang disebut Tsaur.
        Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt.  dan  Allah  Swt.  Sendiri meredakan rasa ketakutannya:   اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا --  lalu ia (Rasulullah saw.)  berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ    -- lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya.”
      Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abubakar Shiddiq  r.a.  mulai menangis, dan ketika ditanya oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).

 Perbedaan  Peristiwa  Isra   dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw.

      Mengisyaratkan kepada peritiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. di malam hari itulah isyarat dalam ayat awal surah Bani Israil, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat (Bani Israil [17]:2).
      Ayat ini yang nampaknya menyebut suatu kasyaf  (penglihatan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.,  telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Al-Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan ruhani) beliau. Berlawanan dengan pendapat umum, tersebut kami cenderung kepada pendapat bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan ruhani di waktu malam) Nabi Besar Muhammad saw.  dari Mekkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mikraj beliau saw. telah dibahas agak terinci dalam Surah An-Najm.
     Semua kejadian yang disebut dalam Surah An-Najm (ayat-ayat 8-18) yang telah diwahyukan tidak lama sesudah beberapa sahabat Nabi Besar Muhammad saw.   pimpinan Zafar bin Abi Thalib r.a. hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke-5 nabawi, diceriterakan secara terinci dalam buku-buku hadits yang membahas Mi’raj beliau saw.;  sedang Isra beliau saw.   dari Mekkah ke Yerusalem yang dibahas oleh ayat ini (QS.17:2), menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi.
       Menurut Sir Williams Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, peristiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra). Baihaqi pun menceriterakan, bahwa peristiwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah Nabi Besar Muhammad saw. ke Madinah.
    Dengan demikian semua hadits yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah Nabi Besar Muhammad saw. ke Medinah, yaitu kira-kira pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah r.a. wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, yaitu ketika Nabi Besar Muhammad saw.   tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau.
       Tetapi peristiwa  Mi'raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu 6 atau 7 tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama, yang satu harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain.

Peristiwa Isra dan Mi’raj   Merupakan Peristiwa Ruhani (Kasyaf)

      Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadits terjadi dalam Mi'raj Nabi Besar Muhammad saw.   sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini bahwa kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian ruhani belaka, dan  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam kasyaf  tersebut  tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar.
       Selain kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang berka-itan dengan peristiwa itu mendukung pendapat bahwa kedua  kejadian itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain:
     (a) Al-Quran menguraikan kejadian Mi'raj  Nabi Besar Muhammad saw.    dalam surah 53, tetapi sedikit pun tidak menyinggung  Isra, sedang dalam Surah ini Al-Quran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa Mi'raj.
    (b) Ummi Hani r.a., saudari sepupu  Nabi Besar Muhammad saw.,   yang di rumahnya beliau saw.  menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan beliau saw.  ke Yerusalem (Isra) dan sama sekali tidak menyinggung kenaikan beliau  saw. ke langit (Mi’raj).
      Ummi Hani r.a. adalah orang pertama yang kepadanya  Nabi Besar Muhammad saw.    menceriterakan perjalanan beliau saw. di waktu malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadits telah mengutip keterangan Ummi Hani r.a.  mengenai kejadian ini, yang bersumber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat, bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali ke Mekkah pada malam itu juga.
       Jika seandainya  Nabi Besar Muhammad saw.    telah membicarakan pula kenaikan beliau saw. ke langit (Mi’raj)  tentu Ummi Hani r.a. tidak akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam satu riwayat pun, dengan demikian menunjukkan dengan pasti bahwa pada malam yang bersangkutan itu  Nabi Besar Muhammad saw.   melakukan Isra hanya sampai Yerusalem, dan bahwa Mi'raj tidak terjadi pada ketika itu.
     Nampaknya beberapa perawi hadits mencampur-baurkan kedua peristiwa Isra dan Mi'raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan oleh kata isra’, yang dipergunakan baik untuk Isra maupun untuk Mi'raj, dan persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terinci mengenai Isra dan Mi'raj telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau-balau itu.
     (c) Hadits-hadits yang mula-mula meriwayatkan perjalanan  Nabi Besar Muhammad saw.     ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau saw. dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi Allah  terdahulu, termasuk Nabi Adam a.s., Nabi Besar Muhammad saw., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  dan bahwa di berbagai petala (tingkatan)   langit beliau  saw. menemui (berjumpa) kembali nabi-nabi yang itu-itu juga  tetapi tidak dapat mengenal mereka.
     Bagaimanakah nabi-nabi tersebut  --  yang telah Nabi Besar Muhammad saw.  jumpai di Yerusalem  -- sampai pula ke langit sebelum beliau saw. , dan mengapa beliau  saw. tidak mengenali mereka, sedang beliau saw. telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga?
Tidaklah masuk akal bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau saw. bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.  

Nubuatan Dalam Peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad Saw.

  “Masjid Aqsa” (masjid yang jauh) dalam ayat  سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ    -- “Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati,” menunjuk kepada rumah peribadatan (Kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s.  di Yerusalem.
       Kasyaf   Nabi Besar Muhammad saw.   yang disebut dalam ayat ini mengandung suatu nubuatan yang agung. Perjalanan beliau saw. ke “Masjid Aqsa” berarti hijrah beliau saw.  ke Medinah, tempat beliau saw. akan mendirikan suatu masjid Islam yang pertama (Mesjid Nabawi), yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam.
     Ada pun makna penglihatan diri  Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau saw. mengimami para nabi Allah lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama baru  -  yaitu agama Islam  --  tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja,   melainkan akan tersebar ke seantero dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya (QS.9:33;QS.48:29;  QS.61:10).
     Kepergian  Nabi Besar Muhammad saw.   ke Yerusalem dalam kasyaf   (Isra) tersebut dapat pula dianggap mengandung arti  bahwa beliau saw. akan diberi kekuasaan atas daerah  yang terletak di Yerusalem itu. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa khilafat (kekhalifahan)   Umar bin Khaththab r.a.
       Kasyaf  mengenai Isra ini dapat pula diartikan sebagai menunjuk kepada suatu perjalanan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw.    ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang – yakni di Akhir Zaman  (QS.62:3-4).  Maksudnya, bahwa ketika kegelapan ruhani akan kembali  menutupi seluruh dunia   --  yakni di masa kemunduran  umat Islam  selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)   --     Nabi Besar Muhammad saw.    akan muncul kembali secara ruhani dalam wujud salah seorang pengikut sejati beliau saw., dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau saw.diutus. Satu penunjukan yang khusus kepada kebangkitan kedua  Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara me-reka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyataۙ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ  -- dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).

Pengulangan “Makar buruk”  Terhadap Nabi Shalih a.s.

     Pada  hakikatnya “makar buruk” kepada Nabi Besar Muhammad  saw. tersebut merupakan pengulangan “makar buruk”  yang dilakukan ribuan tahun sebelumnya   oleh  para pemuka  kaum  Tsamud terhadap Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54), firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang     yang  berbuat kerusuhan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah  orang-orang yang benar.”   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ   --     Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menya-dariفَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ --    Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memus-nahkan mereka dan kaumnya semua. فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا   --  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ  --  Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ    -- Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa  (An-Naml [27]:49-54).
   Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah kesembilan musuh terkemuka  Nabi Besar Muhammad saw..  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar. Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
      Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw.. Rencana sebenarnya ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau, sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
      Nabi Besar Muhammad saw.   terpaksa hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa  Nabi Besar Muhammad saw.  hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri (QS.8:33-36).      
       Sedangkan akibat “makar buruk” Abu Jahal dan kawan-kawannya,  setelah Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke Medinah  beliau saw. terus menerus meraih berbagai  kesuksesan   baik secara  jasmani mau pun ruhani, karena Medinah dari segi ruhani benar-benar merupakan “tanah yang subur” bagi penyiaran agama Islam dan perkembangan umat Islam selama 10 tahun sejak hijrah dari Mekkah, firman-Nya:
فَاصۡبِرۡ  لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ  نَادٰی وَ ہُوَ مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾  فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan  janganlah engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh  duka. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  --   Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di   tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ  --   Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk  orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 15 Agustus    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar