Jumat, 26 Agustus 2016

Hikmah Dalam Kisah Nabi Nuh a.s. dan "Anak Durhaka" Beliau & Kesabaran Nabi Ya'qub a.s. Mengalami Kehilangan Nabi Yusuf a.s.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA

Bab 31

   HIKMAH  DALAM KISAH NABI NUH A.S.  DAN ANAK DURHAKA BELIAU   &  KESABARAN NABI YAQUB A.S.  MENGALAMI KEHILANGAN NABI YUSUF A.S.  


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab 30 telah dijelaskan  -- sehubungan sabda Masih Mau’ud a.s.   -- mengenai  keberadaan “nur” (cahaya) milik orang-orang beriman dan bertakwa   -- Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا --  bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
      Kemudian  mengenai orang-orang munafik ketika melihat cahaya orang-orang beriman Allah Swt. berfirman:
یَوۡمَ یَقُوۡلُ  الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ  قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ  بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ  فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ  مِنۡ  قِبَلِہِ  الۡعَذَابُ  ﴿ؕ﴾یُنَادُوۡنَہُمۡ  اَلَمۡ  نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ  اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ  اَمۡرُ اللّٰہِ  وَ غَرَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata kepada orang-orang beriman: انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ   -- “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu.” قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا  --    Dikatakan: Kembalilah ke belakang kamu dan carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding yang berpintu, di dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab. Mereka  akan berseru kepada mereka yang beriman:Bukankah kami beserta kamu?” Mereka yang beriman berkata: “Tidak, bahkan  kamu menjatuhkan diri kamu ke dalam cobaan dan kamu menunggu kehancuran kami dan kamu ragu serta keinginanmu yang sia-sia memperdayakan kamu, hingga datang keputusan Allah dan  si penipu telah  menipu kamu mengenai Allah  (Al-Hadid [57]:14-15).  
  “Cahaya kamu” dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal shalih kamu” atau “cahaya makrifat Ilahi” dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai keridhaan Allah”  di dunia ini juga. Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ  اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar dan saksi-saksi di sisi  Rabb (Tuhan) mereka. لَہُمۡ  اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ   -- Bagi mereka ada ganjaran mereka dan cahaya mereka. Tetapi mereka yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka adalah penghuni-penghuni Jahannam. (Al-Hadid [57]:20).  
     Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut sebelumnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai alasan mengapa doa orang mulia tidak selalu dikabulkan  Allah Swt.:
   “Beberapa orang awam bertanya, mengapa ada doa dari mereka yang  keimanannya sempurna malah tidak dikabulkan. Jawabannya adalah karena Tuhan mengendalikan manifestasi (penampakan) keagungan mereka. Jika manifestasi ini menjadi kenyataan dimana keagungan mereka menyinari segala hal  maka partikel-partikel alam ini akan tertarik kepadanya dimana yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin,  dan dengan kata lain disebut sebagai mukjizat.
     Namun demikian  manifestasi spiritual (mukjizat) ini tidak selalu muncul tiap saat atau tiap tempat, karena juga bergantung pada unsur eksternal. Sebagaimana Tuhan merupakan Dzat Yang Cukup Dengan Diri-Nya Sendiri (Al-Ghaniy)  maka Dia telah membekali hamba-hamba pilihan-Nya dengan bagian dari fitrat (Al-Ghaniy) tersebut.
       Seperti Tuhan, mereka ini juga memiliki fitrat cukup dengan dirinya sendiri (Al-Ghaniy), dimana sampai ada orang lain yang menggerakkan sifat Pemurah mereka dengan segala kerendahan hati dan ketulusan, maka barulah fitrat mereka itu diaktifkan. Orang-orang seperti ini memiliki kadar kasih yang jauh lebih besar dibanding manusia lainnya di dunia, namun ajaibnya mereka tidak mampu mengaktifkan sendiri fitrat tersebut.
      Mereka seringkali berkehendak bahwa fitrat tersebut dimanifestasikan namun nyatanya hal itu tidak mungkin tanpa perkenan Tuhan. Mereka ini tidak mempedulikan orang-orang yang menyangkal mereka atau para munafik dan yang lemah imannya, dimana mereka menganggap orang-orang demikian sebagai serangga mati belaka.

Sifat Al-Ghaniy  (Berkecukupan)

    Fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) pada diri mereka itu mirip dengan seorang terkasih yang menyembunyikan wajahnya di balik sebuah tirai cantik. Salah satu aspek dari fitrat cukup dengan dirinya sendiri  (al-Ghaniy) ini ialah ketika ada orang jahat yang berprasangka buruk, maka orang-orang mulia ini malah membiarkan fikiran buruk orang itu dengan cara mengabaikannya sama sekali,  karena mereka mengikuti fitrat Ilahi sebagaimana dinyatakan Tuhan dalam ayat:
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ ۙ فَزَادَہُمُ  اللّٰہُ  مَرَضًا
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakit mereka  (Al-Baqarah [2]:11).
        Ketika Allah Swt. menginginkan orang-orang mulia ini memperlihatkan suatu mukjizat, Dia akan menciptakan hasrat di hati mereka dimana mereka menjadi gelisah menginginkan pencapaian suatu tujuan tertentu. Saat itu mereka akan menyisihkan (menyibakkan)  tabir fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) dimana kecantikan mereka -- yang tidak terlihat oleh orang lain kecuali kepada Tuhan semata -- ditampakkan kepada para malaikat di langit dan kepada semua partikel atau zarah di alam semesta.
       Dengan penyingkiran tabir mereka berarti mereka maju ke hadirat Tuhan mereka dengan penuh ketulusan dan kesetiaan serta kecantikan ruhaniah mereka yang telah menjadikan mereka kekasih Tuhan. Suatu perasaan mengundang Tuhan lalu muncul dalam kalbu mereka yang akan menarik rahmat Ilahi kepada diri mereka bersamaan dengan seluruh partikel alam semesta ini.
         Panas nyala kasih mereka menguap ke langit dan memperlihatkan wujudnya kepada para malaikat laiknya sebuah awan. Derita mereka seperti petir yang mengharu-biru langit, lalu dengan kekuasaan Allah Swt. muncul fitrat yang mengirimkan hujan rahmat sesuai keinginan mereka.
        Ketika ruhani mereka dengan penuh hasrat menginginkan penyelesaian suatu masalah  maka  perhatian Tuhan akan tertarik kepadanya, karena mereka dianggap sebagai para kekasih-Nya berkat kecintaan mereka terhadap Tuhan. Segala sesuatu yang berada di bawah kendali Tuhan langsung terangsang ingin membantu mereka, dimana rahmat Ilahi menyiapkan ciptaan baru guna memenuhi keinginan mereka. Muncullah hal-hal yang manifestasinya (penampakannya) terlihat sebagai tidak mungkin bagi mereka yang bersifat duniawi dan tidak dikenal oleh mereka yang berpengetahuan rendah.

Bagaikan Zulaiha Tertarik Kepada Nabi Yusuf a.s.

     Orang-orang pilihan ini tidak disebut sebagai Tuhan, namun hubungan kasih dan kedekatan kepada Tuhan sedemikian tulusnya sehingga seolah-olah Tuhan turun ke dalam diri mereka,  dan Ruh Ilahi ditiupkan ke dalam diri mereka sebagaimana telah ditiupkan kepada Adam a.s.. Mereka ini bukanlah Tuhan namun hubungan mereka dengan Tuhan sama seperti  hubungan sepotong besi dengan api dimana ketika besi itu dipanaskan sampai suatu tingkat tertentu ronanya (dan khasiatnya) akan menyerupai api.
     Ketika hal ini terjadi maka semua yang berada di bawah kendali Allah Yang Maha Kuasa akan mengikuti perintah mereka,  dimana bintang-bintang di langit, matahari, bulan, samudra, udara dan api [semuanya] patuh kepada mereka, mengakui dan melayani mereka. Semuanya mencintai mereka   secara alamiah dan tertarik kepada mereka laiknya kekasih sejati, kecuali para pendosa yang merupakan refleksi (pantulan)  syaitan.
       Cinta keduniawian tidaklah abadi. Cinta seperti ini muncul di satu sisi dan mati di sisi lain serta didasarkan pada kecantikan yang akan pudar dengan berjalannya waktu. Namun betapa ajaibnya kecantikan ruhaniah yang muncul dalam diri seseorang melalui perilaku yang baik, kesucian, ketakwaan dan yang tampak setelah manifestasi (penampakan) kasih Ilahi.
     Kecantikan demikian memiliki daya tarik universal yang menarik hati orang kepada dirinya sebagaimana madu menarik semut, dimana tidak hanya manusia tetapi juga segenap partikel alam ini terpengaruh oleh daya tariknya.       Orang yang mencintai Allah Swt. dengan sepenuh hatinya adalah mirip Yusuf a.s. dimana setiap partikel di alam ini seolah-olah Zulaikha, hanya saja kecantikannya belum diperlihatkan kepada dunia karena dunia tidak akan kuat melihatnya.
    Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa nur dari para mukminin akan nyata dari wujud mereka,  dimana si mukminin tersebut dikenali melalui kecantikannya  yang namanya dalam istilah lain adalah Nur. (Brahin-i- Ahmadiyah, jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm. 221-224, London, 1984).

Mengapa Pengabulan Doa Kadang Tertunda & Tahapan-tahapan menjelang Pengabulan Doa

    Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan lagi mengenai penundaan pengabulan doa para hamba-Nya yang hakiki, contohnya adalah  doa Nabi Isa Ibnu Maryam  di Taman Getsemani:
    Kadang terjadi seorang pemohon telah mengajukan permohonan doanya  dengan hasrat dan kepiluan hati namun ia merasakan bahwa hasilnya ditunda atau lambat. Apakah yang menjadi penyebabnya?
        Berkaitan dengan hal ini perlu diingat bahwa selalu ada jenjang pertahapan dalam masalah-masalah di dunia. Berapa banyaknya tahapan yang dilalui seorang anak sebelum menjadi seorang dewasa penuh? Berapa lamanya waktu yang diperlukan sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon?
      Begitu pula halnya dengan masalah-masalah Samawi yang juga berlangsung secara bertahap. Selain itu mungkin terdapat alasan atau pertimbangan Ilahi yang bersifat khusus dalam penundaan tersebut,  seperti si pemohon agar menjadi lebih teguh dalam niat dan keberaniannya serta untuk penguatan pemahamannya. Sampai kepada tingkatan derajat apa yang diinginkan akan dicapai seseorang, sekian pula upaya yang harus dilakukan dan menunggunya.
     Keteguhan hati dan niat merupakan fitrat yang baik karena tanpanya maka manusia sulit menahapi jenjang-jenjang keberhasilan. Karena itulah perlu bagi kita untuk  melalui berbagai kesulitan. Mengenai ini dinyatakan:
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ
 “Ya, sesungguhnya sesudah kesukaran ada kemudahan  (Al-Insyirah [94]:7).
(Malfuzat, jld. III, hlm.  202-203).
    Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai alasan lainnya tidak dikabulkannya doa sesuai keinginan pendoa:  
   “Kadang pula terjadi seseorang memohonkan doa untuk sesuatu, tetapi permohonannya sebenarnya karena ketidak-tahuan atau kebodohan. Ia menginginkan sesuatu dari Tuhan yang sebenarnya tidak akan berguna baginya. Dalam keadaan demikian maka Allah Swt. tidak akan menolak doanya, bahkan mengabulkannya dalam bentuk lain.
     Sebagai contoh, seorang petani yang memerlukan lembu untuk membajak ladang, tetapi pergi ke rajanya untuk memohon diberi seekor unta. Sang penguasa mengetahui bahwa yang baik baginya adalah seekor lembu dan karena itu lalu mengatur agar kepadanya diberikan seekor lembu. Jika yang bersangkutan kemudian mengatakan bahwa permohonannya tidak dikabulkan, hal itu justru akan memperlihatkan kebodohannya karena jika ia mau berfikir maka apa yang terjadi atas dirinya adalah yang terbaik baginya.
     Begitu juga dengan seorang anak yang melihat keindahan api yang membara lalu memintanya kepada ibunya, apakah seorang ibu yang berhati kasih akan mau memberikannya? Disamping itu terkadang ada situasi yang muncul berkaitan dengan suatu pengabulan doa dimana manusia yang tidak sabar atau tidak memiliki itikad yang baik menjadi penyebab maka doa mereka ditolak.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 435).
    Dalam kisah Nabi Nuh a.s. dikemukakan contoh “kesalah-fahamaan”  beliau mengenai janji Allah  mengenai makna “keluarga” beliau, ketika anak beliau pun termasuk  mereka yang tenggelamkan dalam banjir dahsyat yang terjadi di wilayah kaum Nabi Nuh a.s. (QS.11:37-45) ,firman-Nya:
وَ نَادٰی نُوۡحٌ رَّبَّہٗ  فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابۡنِیۡ مِنۡ اَہۡلِیۡ وَ اِنَّ وَعۡدَکَ الۡحَقُّ وَ اَنۡتَ اَحۡکَمُ  الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ یٰنُوۡحُ  اِنَّہٗ  لَیۡسَ مِنۡ اَہۡلِکَ ۚ اِنَّہٗ عَمَلٌ غَیۡرُ صَالِحٍ ٭۫ۖ  فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَـیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنِّیۡۤ  اَعِظُکَ اَنۡ تَکُوۡنَ  مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِکَ اَنۡ اَسۡـَٔلَکَ مَا لَـیۡسَ لِیۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ اِلَّا تَغۡفِرۡ لِیۡ وَ تَرۡحَمۡنِیۡۤ   اَکُنۡ  مِّنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قِیۡلَ یٰنُوۡحُ اہۡبِطۡ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَ بَرَکٰتٍ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اُمَمٍ  مِّمَّنۡ مَّعَکَ ؕ وَ اُمَمٌ سَنُمَتِّعُہُمۡ ثُمَّ یَمَسُّہُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Nuh berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau benar, dan Engkau adalah Hakim yang paling adil di antara semua  hakim.”   Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya ia tidak termasuk  keluarga engkau, sesungguhnya ia  seorang yang amalnya tidak baik, فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَـیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ --  karena itu  janganlah meminta kepada-Ku sesuatu yang engkau  tidak mengetahuinya. اِنِّیۡۤ  اَعِظُکَ اَنۡ تَکُوۡنَ  مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ --  Aku memberikan nasihat  engkau supaya engkau jangan termasuk orang-orang yang tuna pengetahuan.” قَالَ رَبِّ اِنِّیۡۤ  اَعُوۡذُ بِکَ اَنۡ اَسۡـَٔلَکَ مَا لَـیۡسَ لِیۡ بِہٖ عِلۡمٌ  --    Ia, Nuh, berkata:  “Ya Rabb (Tuhan), sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahuinya, وَ اِلَّا تَغۡفِرۡ لِیۡ وَ تَرۡحَمۡنِیۡۤ   اَکُنۡ  مِّنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ  -- dan  jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak mengasihaniku, tentu aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”   Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan keselamatan dan keberkatan dari Kami atas diri engkau dan atas umat yang akan dilahirkan dari mereka yang beserta engkau,  sedangkan umat lain  segera  Kami akan  memberikan perbekalan untuk sementara waktu kemudian  azab yang pedih dari Kami akan menimpa mereka.”  (Hūd [11]: 46-49).
       Menurut ayat 47 yang dianggap sebagai keluarga Nabi Nuh a.s.   hanyalah orang-orang yang mengadakan pertalian sejati dengan Allah Swt.  melalui beliau. Kata pengganti hu dalam innahu (sesungguhnya ia) dapat pula menunjuk kepada doa Nabi Nuh a.s.  untuk anaknya yang durhaka, yang amalnya ghair saleh yakni tidak baik.
       ‘Amalun  (secara harfiah berarti suatu perbuatan) di sini berarti dzu ‘amalin yaitu si pelaku.  Pemakaian masdar sebagai fa’il dengan maksud dengan maksud memperkuat arti merupakan hal-hal yang sesuai dengan gaya bahasa Arab. Lihat pula QS.2:178 di mana birr  (harfiah kesalehan) berarti orang-orang yang saleh.
      Seorang ahli syair Arab mengatakan mengenai unta betinanya: innama hiya iqbalun wa iddbaru, yakni “ia (unta betina itu) demikian gelisah sehingga ia menjadi gerak mundur-maju  sendiri”, artinya seolah-olah menjadi penjelmaan gerak mundur-maju  itu. Itulah makna ayat:  اِنَّہٗ عَمَلٌ غَیۡرُ صَالِحٍ  -- “sesungguhnya ia  seorang yang amalnya tidak baik”.
      Nabi Nuh a.s.   tidak berbuat dosa dengan mengatakan bahwa anak laki-laki beliau itu termasuk keluarganya, hal itu hanya merupakan kekeliruan pertimbangan yang biasa ada pada manusia, namun  demikian beliau membaca istighfar juga, hal itu menunjukkan bahwa ucapan istighfar tidak seharusnya merupakan bukti adanya perbuatan dosa (QS.48:3; QS.66:9; QS.110:1-4).
       Istighfar itu dapat diucapkan pula untuk memohon perlindungan terhadap akibat buruk dari kelemahan-kelemahan manusiawi atau akibat buruk dari kekeliruan dalam pertimbangan dan penilaian, termasuk kekeliruan dalam mengajukan  sesuatu permohonan dalam doa  kepada Allah Swt. yang tidak layak.

Jangan Tergesa-gesa dan Memaksakan Kehendak Sendiri & Kesabaran Nabi Ya’qub a.s.
     
        Selanjutnya  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai adanya kegembiraan yang dirasakan hamba-hamba Allah pada  saat menjelang  terjadinya pengabulan doa  yang mereka panjatkan kepada Allah Swt.:
     Sepanjang waktu jeda atau interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan, beberapa di antaranya bisa mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik akan mencium keharuman karunia Ilahi dalam masa cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
      Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pengabulan doa. Karena itu janganlah patah hati dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
  Jangan pernah berfikir hal doanya tidak dikabulkan atau tidak akan dikabulkan. Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).
      Contoh “kegembiraan” tersebut dialami oleh Nabi Ya’qub a.s. yang  puluhan tahun lamanya berpisah dari Nabi Yusuf  a.s. akibat perbuatan buruk saudara-saudaranya karena merasa dengki melihat perhatian khusus  Nabi Ya’qub  a.s. terhadap adiknya yang  lain ibu tersebut,  firman-Nya:
قَالَ  بَلۡ  سَوَّلَتۡ  لَکُمۡ  اَنۡفُسُکُمۡ  اَمۡرًا ؕ فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  وَ تَوَلّٰی عَنۡہُمۡ  وَ قَالَ یٰۤاَسَفٰی عَلٰی یُوۡسُفَ وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ ﴿﴾  قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا تَذۡکُرُ  یُوۡسُفَ حَتّٰی تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ   اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ  مِنَ  اللّٰہِ  مَا  لَا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ  اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Ya’qub, menjawab: “Bahkan nafsu kamu telah memperindah  perbuatan  kamu yang buruk, maka   bagiku kesabaran yang baik, mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  an ia berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya  akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.   Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk menjadi orang-orang yang binasa!”  Ia menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya kepada Allah,   dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.   Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah mengenai Yusuf dan saudaranya,  dan  janganlah   kamu putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada  yang  putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Yusuf [12]:84-88).

Kabar Gembira   dari Allah Swt. Kepada  Nabi Ya’qub a.s.

   Ayat 87  dan 88 mengandung arti  bahwa Nabi Ya’qub a.s. telah mendapat kabar dari  Allah Swt. bahwa Nabi Yusuf a.s. , Benyamin, dan Yehuda masih hidup di Mesir. Itulah makna ucapan Nabi Ya’qub a.s.:    a menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya kepada Allah,  dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”   
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “penciuman ruhani” Nabi Yaqub a.s.   menjelang kedatangan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. dari Mesir sambil membawa baju yang dipakai Nabi Yusuf a.s. ketika  beliau dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya (QS.12:8-19), firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪﴾  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾  قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾  فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Yusuf berkataPergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah  di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala sesuatu. Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya.”   Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata:  “Sesungguhnya aku benar-benar mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”  Mereka  menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih  dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia, Ya’qub, menjadi mengerti,    ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?”  Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”   Ia berkata:  “Segera aku akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:94-99).

Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mengalami Kebutaan Mata Jasmani

 Makna ayat:   “Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”  Bahkan sebelum kafilah itu sampai di rumah, Nabi Ya’qub a.s.  telah mem-beritahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak ber-tentangan, namun beliau punya harapan akan segera bertemu dengan Nabi Yusuf a.s.,  dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau tambahkan kata-kata:  “meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Maksudnya: “kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan, tidak lebih dari khayalan dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan suatu kenyataan atau kepastian.”
       Ketika kemeja Nabi Yusuf a.s.  diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s., keyakinan beliau atas dasar khabar gaib yang mula-mula hanya merupakan soal kepercayaan saja, bahwa Nabi Yusuf a.s.  masih hidup, sekarang telah berubah menjadi pengetahuan yang nyata. Itulah arti kata-kata  ia menjadi mengerti dalam ayat:  Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletak-kan kemeja itu di hadapannya, maka ia, Ya’qub, menjadi mengerti.”
       Jadi, makna kalimat   adalah   “ia menjadi mengerti“ bukan  “ia menjadi melihat lagi”, dengan demikian  tidak benar anggapan (penafsiran) bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. terus menerus menangisi  kehilangan Nabi Yusuf  a.s. hingga mata beliau menjadi buta (QS.12:85) lalu  penglihatan beliau menjadi pulih kembali setelah kemeja Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan beliau a.s., firman-Nya: Dan ia berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya  akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.”  
        Demikianlah penjelasan sabda Masih Mau’ud a.s  mengenai adanya kegembiraan yang dirasakan hamba-hamba Allah pada  saat menjelang  terjadinya pengabulan doa  yang mereka panjatkan kepada Allah Swt.:
     Sepanjang waktu jeda atau interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan, beberapa di antaranya bisa mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik akan mencium keharuman karunia Ilahi dalam masa cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
      Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pengabulan doa. Karena itu janganlah patah hati dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
       Jangan pernah berfikir hal doanya tidak dikabulkan atau tidak akan dikabulkan. Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 20 Agustus    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar