Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
31
HIKMAH
DALAM KISAH NABI NUH A.S. DAN ANAK DURHAKA
BELIAU & KESABARAN
NABI YA’QUB A.S. MENGALAMI KEHILANGAN NABI YUSUF A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 30 telah
dijelaskan -- sehubungan sabda Masih Mau’ud a.s. -- mengenai
keberadaan “nur” (cahaya) milik orang-orang beriman
dan bertakwa -- Allah
Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah
kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas
taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
Kemudian mengenai orang-orang
munafik ketika melihat cahaya
orang-orang beriman Allah Swt. berfirman:
یَوۡمَ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا
نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ
بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ فِیۡہِ
الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ مِنۡ قِبَلِہِ
الۡعَذَابُ ﴿ؕ﴾یُنَادُوۡنَہُمۡ اَلَمۡ
نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ
وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ
اَمۡرُ اللّٰہِ وَ غَرَّکُمۡ
بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik
laki-laki dan orang-orang munafik
perempuan akan berkata kepada orang-orang
beriman: انۡظُرُوۡنَا
نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ -- “Tunggulah
kami supaya kami memperoleh sebagian
cahaya kamu.” قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا
وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا
-- Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kamu dan
carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding
yang berpintu, di dalamnya ada rahmat
dan di luarnya ada azab. Mereka akan berseru
kepada mereka yang beriman: “Bukankah
kami beserta kamu?” Mereka yang beriman berkata: “Tidak, bahkan kamu
menjatuhkan diri kamu ke dalam cobaan dan kamu menunggu kehancuran kami dan kamu ragu serta keinginanmu
yang sia-sia memperdayakan kamu, hingga datang keputusan Allah dan si
penipu telah menipu kamu mengenai Allah (Al-Hadid
[57]:14-15).
“Cahaya kamu” dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal shalih kamu” atau “cahaya makrifat Ilahi” dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai
keridhaan Allah” di dunia ini juga.
Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖۤ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ
الشُّہَدَآءُ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang
yang benar dan saksi-saksi di
sisi Rabb (Tuhan) mereka. لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ وَ
نُوۡرُہُمۡ -- Bagi mereka ada ganjaran mereka dan cahaya mereka. Tetapi mereka yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka
adalah penghuni-penghuni Jahannam. (Al-Hadid
[57]:20).
Sehubungan
dengan firman Allah Swt. tersebut sebelumnya Masih Mau’ud a.s.
bersabda mengenai alasan mengapa doa orang mulia tidak selalu dikabulkan
Allah Swt.:
“Beberapa orang awam bertanya, mengapa ada doa dari mereka yang keimanannya sempurna malah tidak
dikabulkan.
Jawabannya adalah karena Tuhan mengendalikan
manifestasi (penampakan) keagungan mereka. Jika manifestasi ini menjadi
kenyataan
dimana keagungan mereka menyinari segala hal maka partikel-partikel alam ini
akan tertarik kepadanya
dimana yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, dan dengan kata lain
disebut sebagai mukjizat.
Namun
demikian manifestasi
spiritual (mukjizat) ini tidak selalu muncul tiap saat atau tiap
tempat,
karena juga bergantung pada unsur
eksternal.
Sebagaimana Tuhan merupakan Dzat Yang Cukup Dengan Diri-Nya Sendiri (Al-Ghaniy) maka Dia telah membekali hamba-hamba pilihan-Nya dengan bagian dari fitrat (Al-Ghaniy)
tersebut.
Seperti Tuhan, mereka ini juga memiliki fitrat cukup dengan dirinya sendiri (Al-Ghaniy), dimana sampai ada orang lain yang menggerakkan
sifat Pemurah mereka dengan segala
kerendahan hati dan ketulusan,
maka barulah fitrat
mereka itu diaktifkan.
Orang-orang seperti ini memiliki kadar kasih yang
jauh lebih besar dibanding
manusia lainnya di dunia, namun ajaibnya
mereka tidak mampu mengaktifkan sendiri fitrat tersebut.
Mereka seringkali berkehendak bahwa fitrat
tersebut dimanifestasikan
namun nyatanya hal itu tidak mungkin tanpa
perkenan Tuhan.
Mereka ini tidak mempedulikan
orang-orang yang menyangkal mereka atau para munafik dan yang lemah imannya, dimana mereka menganggap orang-orang demikian sebagai
serangga mati belaka.
Sifat Al-Ghaniy
(Berkecukupan)
Fitrat cukup dengan dirinya
sendiri (al-Ghaniy) pada diri mereka itu mirip dengan seorang terkasih yang menyembunyikan wajahnya di
balik sebuah tirai cantik.
Salah satu aspek dari fitrat cukup dengan dirinya
sendiri (al-Ghaniy) ini ialah ketika ada orang jahat yang berprasangka buruk, maka orang-orang
mulia ini malah membiarkan fikiran buruk orang itu dengan cara mengabaikannya sama sekali,
karena mereka mengikuti fitrat
Ilahi
sebagaimana dinyatakan Tuhan dalam
ayat:
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ ۙ
فَزَادَہُمُ اللّٰہُ مَرَضًا
“Dalam hati
mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakit mereka” (Al-Baqarah
[2]:11).
Ketika Allah
Swt.
menginginkan orang-orang mulia ini
memperlihatkan suatu mukjizat,
Dia akan menciptakan hasrat di hati mereka dimana mereka
menjadi gelisah menginginkan pencapaian suatu tujuan tertentu. Saat itu mereka
akan menyisihkan (menyibakkan) tabir fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) dimana kecantikan mereka -- yang tidak
terlihat oleh orang lain kecuali kepada
Tuhan semata -- ditampakkan kepada para malaikat di langit dan kepada
semua partikel
atau zarah di alam semesta.
Dengan penyingkiran
tabir mereka
berarti mereka maju ke hadirat Tuhan mereka dengan penuh
ketulusan
dan kesetiaan serta kecantikan ruhaniah mereka yang telah menjadikan
mereka kekasih Tuhan. Suatu perasaan
mengundang Tuhan
lalu muncul dalam kalbu mereka yang akan menarik
rahmat Ilahi kepada
diri mereka bersamaan dengan seluruh
partikel alam semesta
ini.
Panas nyala kasih mereka menguap ke langit
dan memperlihatkan wujudnya kepada para malaikat laiknya sebuah awan. Derita mereka seperti petir
yang mengharu-biru langit, lalu dengan kekuasaan
Allah Swt. muncul fitrat yang mengirimkan
hujan rahmat sesuai keinginan mereka.
Ketika ruhani
mereka dengan penuh hasrat
menginginkan penyelesaian suatu masalah maka perhatian
Tuhan akan tertarik kepadanya,
karena mereka dianggap sebagai para kekasih-Nya berkat kecintaan
mereka terhadap Tuhan. Segala sesuatu yang berada di bawah kendali Tuhan langsung terangsang ingin membantu
mereka,
dimana rahmat Ilahi menyiapkan ciptaan baru guna memenuhi
keinginan
mereka. Muncullah hal-hal yang manifestasinya (penampakannya) terlihat sebagai tidak
mungkin bagi mereka
yang bersifat duniawi dan tidak dikenal oleh mereka yang berpengetahuan rendah.
Bagaikan Zulaiha
Tertarik Kepada Nabi Yusuf a.s.
Orang-orang
pilihan ini tidak disebut sebagai
Tuhan,
namun hubungan kasih dan kedekatan
kepada Tuhan sedemikian tulusnya sehingga seolah-olah Tuhan turun ke
dalam diri mereka, dan Ruh
Ilahi ditiupkan ke dalam diri mereka sebagaimana telah ditiupkan kepada Adam
a.s..
Mereka ini bukanlah Tuhan namun hubungan
mereka dengan Tuhan
sama seperti hubungan
sepotong besi dengan api dimana
ketika besi itu dipanaskan sampai suatu tingkat tertentu ronanya (dan
khasiatnya) akan menyerupai api.
Ketika hal ini terjadi maka semua yang berada di bawah
kendali Allah Yang Maha Kuasa akan mengikuti perintah mereka, dimana bintang-bintang di langit, matahari, bulan, samudra, udara dan api [semuanya] patuh kepada mereka, mengakui dan melayani
mereka.
Semuanya mencintai mereka secara alamiah dan tertarik kepada mereka laiknya kekasih sejati, kecuali para pendosa
yang merupakan refleksi (pantulan)
syaitan.
Cinta keduniawian tidaklah
abadi. Cinta seperti ini muncul
di satu sisi dan mati di sisi lain
serta didasarkan pada kecantikan yang akan pudar dengan berjalannya
waktu. Namun betapa ajaibnya kecantikan
ruhaniah
yang muncul dalam diri seseorang
melalui perilaku yang baik, kesucian, ketakwaan dan yang tampak
setelah manifestasi (penampakan) kasih Ilahi.
Kecantikan
demikian memiliki daya tarik universal yang menarik hati orang kepada
dirinya sebagaimana madu
menarik semut, dimana tidak hanya manusia
tetapi juga segenap partikel alam
ini terpengaruh oleh daya tariknya. Orang yang mencintai Allah Swt. dengan sepenuh
hatinya
adalah mirip Yusuf a.s. dimana setiap
partikel di alam ini
seolah-olah Zulaikha, hanya saja kecantikannya belum diperlihatkan
kepada dunia
karena dunia tidak akan kuat melihatnya.
Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran
bahwa nur dari para mukminin akan nyata dari wujud
mereka, dimana si mukminin tersebut dikenali melalui kecantikannya yang
namanya dalam istilah lain adalah Nur.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, jld. V, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld.
XXI, hlm. 221-224, London, 1984).
Mengapa Pengabulan Doa Kadang Tertunda &
Tahapan-tahapan menjelang Pengabulan Doa
Lebih
lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan
lagi mengenai penundaan pengabulan doa
para hamba-Nya yang hakiki, contohnya adalah doa
Nabi Isa Ibnu Maryam di Taman Getsemani:
“Kadang terjadi seorang
pemohon telah mengajukan permohonan doanya dengan hasrat dan kepiluan hati
namun ia merasakan bahwa hasilnya ditunda atau lambat. Apakah yang menjadi penyebabnya?
Berkaitan dengan hal ini perlu diingat bahwa selalu ada jenjang pertahapan dalam masalah-masalah
di dunia. Berapa banyaknya tahapan yang dilalui seorang anak sebelum menjadi seorang dewasa penuh? Berapa lamanya
waktu yang diperlukan sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon?
Begitu pula halnya dengan masalah-masalah
Samawi
yang juga berlangsung secara bertahap.
Selain itu mungkin terdapat alasan atau pertimbangan Ilahi yang bersifat khusus dalam penundaan
tersebut, seperti si pemohon agar menjadi lebih teguh dalam niat dan keberaniannya serta untuk penguatan pemahamannya. Sampai kepada tingkatan derajat apa yang diinginkan
akan dicapai seseorang, sekian pula upaya yang
harus dilakukan
dan menunggunya.
Keteguhan hati dan niat merupakan fitrat yang baik karena tanpanya maka
manusia sulit
menahapi jenjang-jenjang keberhasilan. Karena itulah perlu bagi kita untuk melalui berbagai kesulitan. Mengenai
ini dinyatakan:
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ
“Ya,
sesungguhnya sesudah kesukaran ada kemudahan (Al-Insyirah [94]:7).
(Malfuzat, jld. III, hlm. 202-203).
Kemudian Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi mengenai
alasan lainnya tidak dikabulkannya doa sesuai keinginan
pendoa:
“Kadang pula terjadi seseorang memohonkan doa untuk sesuatu, tetapi permohonannya
sebenarnya karena ketidak-tahuan atau kebodohan. Ia menginginkan
sesuatu dari Tuhan yang
sebenarnya tidak akan berguna baginya. Dalam keadaan demikian maka Allah Swt. tidak akan
menolak doanya, bahkan mengabulkannya dalam bentuk
lain.
Sebagai contoh, seorang petani yang memerlukan lembu untuk membajak ladang, tetapi pergi ke rajanya
untuk memohon diberi seekor unta. Sang penguasa
mengetahui bahwa yang baik baginya adalah seekor lembu dan karena itu lalu mengatur agar kepadanya diberikan seekor lembu. Jika yang bersangkutan kemudian mengatakan bahwa permohonannya
tidak dikabulkan,
hal itu justru akan memperlihatkan kebodohannya karena jika ia mau berfikir maka apa
yang terjadi atas dirinya adalah yang terbaik baginya.
Begitu juga dengan seorang anak yang melihat keindahan api yang membara lalu memintanya
kepada ibunya, apakah seorang ibu
yang berhati kasih akan mau memberikannya?
Disamping itu terkadang ada situasi yang muncul berkaitan dengan suatu pengabulan doa dimana manusia yang tidak sabar atau tidak memiliki itikad yang baik menjadi penyebab
maka doa
mereka ditolak.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 435).
Dalam kisah Nabi Nuh a.s. dikemukakan contoh “kesalah-fahamaan” beliau mengenai janji Allah mengenai makna
“keluarga” beliau, ketika anak beliau
pun termasuk mereka yang tenggelamkan dalam banjir dahsyat yang terjadi di wilayah kaum Nabi Nuh a.s.
(QS.11:37-45) ,firman-Nya:
وَ نَادٰی نُوۡحٌ رَّبَّہٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابۡنِیۡ مِنۡ اَہۡلِیۡ وَ
اِنَّ وَعۡدَکَ الۡحَقُّ وَ اَنۡتَ اَحۡکَمُ
الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
یٰنُوۡحُ اِنَّہٗ لَیۡسَ مِنۡ اَہۡلِکَ ۚ اِنَّہٗ عَمَلٌ غَیۡرُ
صَالِحٍ ٭۫ۖ فَلَا
تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَـیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنِّیۡۤ اَعِظُکَ اَنۡ تَکُوۡنَ مِنَ
الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
رَبِّ اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ بِکَ اَنۡ
اَسۡـَٔلَکَ مَا لَـیۡسَ لِیۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ اِلَّا تَغۡفِرۡ لِیۡ وَ
تَرۡحَمۡنِیۡۤ اَکُنۡ مِّنَ
الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ قِیۡلَ
یٰنُوۡحُ اہۡبِطۡ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَ بَرَکٰتٍ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اُمَمٍ مِّمَّنۡ مَّعَکَ ؕ وَ اُمَمٌ سَنُمَتِّعُہُمۡ
ثُمَّ یَمَسُّہُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Nuh berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) dan berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya
anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau benar, dan Engkau adalah Hakim yang paling adil di
antara semua hakim.” Allah
berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya ia tidak termasuk keluarga engkau, sesungguhnya ia seorang yang amalnya tidak baik, فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَـیۡسَ لَکَ بِہٖ
عِلۡمٌ -- karena itu janganlah
meminta kepada-Ku sesuatu yang engkau
tidak mengetahuinya. اِنِّیۡۤ اَعِظُکَ اَنۡ
تَکُوۡنَ مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ -- Aku
memberikan nasihat engkau supaya engkau jangan termasuk orang-orang yang
tuna pengetahuan.” قَالَ رَبِّ
اِنِّیۡۤ اَعُوۡذُ بِکَ اَنۡ اَسۡـَٔلَکَ
مَا لَـیۡسَ لِیۡ بِہٖ عِلۡمٌ -- Ia, Nuh,
berkata: “Ya Rabb (Tuhan), sesungguhnya aku
berlindung kepada Engkau dari memohon
kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahuinya, وَ اِلَّا تَغۡفِرۡ لِیۡ وَ تَرۡحَمۡنِیۡۤ اَکُنۡ
مِّنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- dan jika
Engkau tidak mengampuniku dan tidak
mengasihaniku, tentu aku akan
termasuk orang-orang yang merugi.” Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan
keselamatan dan keberkatan dari Kami
atas diri engkau dan atas umat yang
akan dilahirkan dari mereka yang
beserta engkau, sedangkan
umat lain segera Kami akan
memberikan perbekalan untuk sementara waktu kemudian azab
yang pedih dari Kami akan menimpa mereka.”
(Hūd [11]: 46-49).
Menurut ayat 47 yang dianggap sebagai keluarga Nabi Nuh a.s. hanyalah orang-orang yang mengadakan
pertalian sejati dengan Allah Swt. melalui beliau. Kata pengganti hu dalam
innahu (sesungguhnya ia) dapat
pula menunjuk kepada doa Nabi Nuh
a.s. untuk anaknya yang durhaka, yang amalnya ghair
saleh yakni tidak baik.
‘Amalun (secara harfiah berarti suatu perbuatan) di
sini berarti dzu ‘amalin yaitu si pelaku. Pemakaian masdar sebagai fa’il
dengan maksud dengan maksud memperkuat arti merupakan hal-hal yang sesuai
dengan gaya bahasa Arab. Lihat pula QS.2:178 di mana birr (harfiah kesalehan) berarti orang-orang yang saleh.
Seorang
ahli syair Arab mengatakan mengenai unta betinanya: innama hiya iqbalun wa
iddbaru, yakni “ia (unta betina itu)
demikian gelisah sehingga ia menjadi gerak mundur-maju sendiri”, artinya seolah-olah menjadi
penjelmaan gerak mundur-maju itu. Itulah
makna ayat: اِنَّہٗ عَمَلٌ
غَیۡرُ صَالِحٍ -- “sesungguhnya
ia seorang yang amalnya tidak baik”.
Nabi
Nuh a.s. tidak berbuat dosa dengan mengatakan
bahwa anak laki-laki beliau itu
termasuk keluarganya, hal itu hanya
merupakan kekeliruan pertimbangan
yang biasa ada pada manusia, namun
demikian beliau membaca istighfar juga, hal itu
menunjukkan bahwa ucapan istighfar tidak seharusnya merupakan bukti
adanya perbuatan dosa (QS.48:3;
QS.66:9; QS.110:1-4).
Istighfar itu dapat diucapkan pula
untuk memohon perlindungan terhadap akibat buruk dari kelemahan-kelemahan manusiawi atau akibat buruk dari kekeliruan
dalam pertimbangan dan penilaian, termasuk kekeliruan dalam
mengajukan sesuatu permohonan dalam doa kepada Allah Swt. yang tidak layak.
Jangan Tergesa-gesa
dan Memaksakan Kehendak Sendiri &
Kesabaran Nabi Ya’qub a.s.
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai adanya kegembiraan
yang dirasakan hamba-hamba Allah
pada saat menjelang terjadinya pengabulan doa yang mereka
panjatkan kepada Allah Swt.:
“Sepanjang waktu jeda atau
interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan,
beberapa di antaranya bisa
mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik
akan mencium keharuman karunia
Ilahi dalam masa
cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan
tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah
satu faktor
pengabulan doa.
Karena itu janganlah patah hati
dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya
karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
Jangan pernah berfikir hal doanya tidak
dikabulkan
atau tidak akan dikabulkan.
Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).
Contoh “kegembiraan” tersebut dialami oleh Nabi Ya’qub a.s. yang
puluhan tahun lamanya berpisah dari Nabi Yusuf a.s. akibat perbuatan buruk saudara-saudaranya karena merasa dengki melihat perhatian khusus Nabi Ya’qub a.s. terhadap adiknya yang lain ibu
tersebut, firman-Nya:
قَالَ
بَلۡ سَوَّلَتۡ لَکُمۡ
اَنۡفُسُکُمۡ اَمۡرًا ؕ
فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡعَلِیۡمُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ وَ تَوَلّٰی
عَنۡہُمۡ وَ
قَالَ یٰۤاَسَفٰی
عَلٰی یُوۡسُفَ وَ ابۡیَضَّتۡ
عَیۡنٰہُ
مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ ﴿﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا
تَذۡکُرُ یُوۡسُفَ حَتّٰی
تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ
تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ مِنَ
اللّٰہِ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا
تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ
اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Ia, Ya’qub,
menjawab: “Bahkan nafsu kamu telah
memperindah perbuatan kamu yang buruk, maka bagiku kesabaran yang baik, mudah-mudahan
Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” an
ia berpaling dari mereka itu dan
berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!”
Lalu berlinanglah kedua matanya akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.
Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk menjadi orang-orang
yang binasa!” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya
kepada Allah, dan aku
mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui. Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah
mengenai Yusuf dan saudaranya,
dan janganlah kamu putus asa akan rahmat Allah,
sesungguhnya tidak ada yang
putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Yusuf [12]:84-88).
Kabar Gembira
dari Allah Swt. Kepada Nabi
Ya’qub a.s.
Ayat 87
dan 88 mengandung arti bahwa Nabi Ya’qub a.s. telah mendapat kabar dari Allah Swt. bahwa Nabi Yusuf a.s. ,
Benyamin, dan Yehuda masih hidup di
Mesir. Itulah makna ucapan Nabi Ya’qub a.s.: a menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya
kepada Allah, dan aku
mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai “penciuman ruhani” Nabi
Yaqub a.s. menjelang kedatangan
saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. dari Mesir sambil membawa baju yang dipakai Nabi Yusuf a.s. ketika beliau dimasukkan
ke dalam sumur oleh
saudara-saudaranya (QS.12:8-19), firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی
وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ اِنَّکَ لَفِیۡ
ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾ فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ
اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ
مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا
کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Yusuf berkata “Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah di hadapan ayahku,
ia akan mengetahui segala sesuatu.
Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya.” Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari
Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mencium harum Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang
pikun.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” Maka tatkala
pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia, Ya’qub,
menjadi mengerti, ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya aku
mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada
Allah atas dosa-dosa kami,
sesungguhnya kami adalah orang-orang
yang bersalah.” Ia berkata:
“Segera aku akan memohon pengampunan bagi kamu dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya Dia
Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:94-99).
Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mengalami Kebutaan Mata Jasmani
Makna ayat:
“Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari
Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya
aku mencium harum Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Bahkan sebelum kafilah itu sampai di rumah,
Nabi Ya’qub a.s. telah
mem-beritahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak
ber-tentangan, namun beliau punya harapan akan
segera bertemu dengan Nabi Yusuf
a.s., dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau
tambahkan kata-kata: “meskipun kamu menganggap diriku
seorang pikun.” Maksudnya: “kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan,
tidak lebih dari khayalan dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan suatu kenyataan atau kepastian.”
Ketika kemeja Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s., keyakinan beliau atas dasar khabar gaib yang mula-mula hanya
merupakan soal kepercayaan saja,
bahwa Nabi Yusuf a.s. masih hidup, sekarang telah berubah
menjadi pengetahuan yang nyata. Itulah arti kata-kata ia
menjadi mengerti dalam ayat: “Maka tatkala pembawa kabar
gembira itu telah datang, ia meletak-kan kemeja itu di hadapannya, maka
ia, Ya’qub, menjadi mengerti.”
Jadi,
makna kalimat adalah “ia menjadi mengerti“ bukan
“ia menjadi melihat lagi”, dengan demikian tidak benar anggapan (penafsiran)
bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. terus menerus menangisi kehilangan Nabi Yusuf a.s. hingga mata beliau menjadi buta
(QS.12:85) lalu
penglihatan beliau menjadi pulih kembali setelah kemeja
Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan beliau a.s., firman-Nya: Dan ia
berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan.”
Demikianlah
penjelasan sabda Masih Mau’ud a.s mengenai adanya kegembiraan yang dirasakan hamba-hamba
Allah pada saat menjelang terjadinya pengabulan doa yang mereka
panjatkan kepada Allah Swt.:
“Sepanjang waktu jeda atau
interval di antara pengajuan permohonan doa dengan pengabulannya, seseorang terkadang ditimpa cobaan demi cobaan,
beberapa di antaranya bisa
mematahkan pinggangnya. Seorang pemohon yang teguh dan berfitrat baik
akan mencium keharuman karunia
Ilahi dalam masa
cobaan dan kesulitan tersebut dan fikirannya menyadari bahwa cobaan
tersebut akan diikuti oleh pertolongan Ilahi.
Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah
satu faktor
pengabulan doa.
Karena itu janganlah patah hati
dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya
karena ketidak-sabaran dan kegelisahan.
Jangan pernah berfikir hal doanya tidak
dikabulkan
atau tidak akan dikabulkan.
Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” (Malfuzat, jld. IV, hlm. 434).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 20 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar