Rabu, 24 Agustus 2016

Hubungan "Keteguhan Iman" Dengan Pengabulan Doa & Kecemerlangan "Cahaya Ruhani" Hamba-hamba Allah yang Hakiki


Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 30

HUBUNGAN KETEGUHAN IMAN DENGAN PENGABULAN DOA   & KECEMERLANGAN CAHAYA RUHANI HAMBA-HAMBA ALLAH YANG HAKIKI


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab 29  telah dijelaskan  mengenai   orang-orang yang  ditolak pengakuannya oleh Yesus Kristus sekali pun mereka itu mengaku telah melakukan berbagai hal luar biasa:
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan!”   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku  yang di sorga.   Pada hari terakhir   banyak orang akan berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat   demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(Matius 7:21-23).
     Makna menolak pengakuan orang-orang menyebutTuhan, Tuhan”  adalah orang-orang yang mempertuhankan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebab  beliau tidak pernah mengajarkan kemusyrikan seperti itu, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia:  “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan  Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala cEngkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --   Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).

Allah Swt.  Mengampuni Segala Dosa Orang-orang yang Bertaubat

         Ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang terakhir dengan tegas menolak ajaran Paulus   mengenai kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib  guna menebus “dosa warisan”  akibat pelanggaran Adam dan Hawa di surga, sebab Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampunاِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --  Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
        Mengenai Sifat Maha Pengampun Allah Swt. yang tidak terbatas dalam surah lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾   وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allahاِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا --  Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ  --  Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.   Dan kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.  (Az-Zumar [39]:54-55).
 Ayat 54  memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
  Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul, lebih besar    daripada pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut.
     Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira maka ayat 55:    memperingatkan mereka bahwa mereka   harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati  hukum-hukum Ilahi  -- dalam hal ini  hukum syariatوَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ  --   Dan kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.”  (Az-Zumar [39]:55).

Pentingnya Mengamalkan Hukum Syariat dan Mentaati  Hukum Alam

   Dengan demikian ucapan Paulus  bahwa “hukum syariat” merupakan “kutuk” benar-benar merupakan kedustaan besar (Roma 2:17-29; 3:19-31  ).  Sebab kenyataan membuktikan bahwa semua  umat manusia – siapa pun mereka, beragama apa pun mereka  bahkan  penganut Atheisme  --  kalau  pun mereka tidak mau mentaati hukum syariat,  tetapi mereka suka-tidak suka dalam  kehidupan di dunia ini harus mentaati hukum alam  yang ditetapkan Allah Swt, yang juga telah menetapkan hukum syariat, terutama syariat (agama) yang   terakhir dan tersempurna yaitu Islam (Al-Quran – QS.5:4), firman-Nya:
وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾  بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ﴿﴾  وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ  وُجُوۡہُہُمۡ  مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ  جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari. Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memper-olok-olok rasul-Nya.”   Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”   Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” َلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ  --   Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakan-nya serta berlaku sombong  dan engkau termasuk  orang-orang kafir.” وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ  وُجُوۡہُہُمۡ  مُّسۡوَدَّۃٌ   --    Dan pada Hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang telah berdusta terhadap Allah  wajah mereka menjadi hitam.  اَلَیۡسَ فِیۡ  جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ  -- Bukankah dalam Jahannam  adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong? (Az-Zumar [39]:56-61).

 Kemampuan Luar Biasa Mesias-Mesias Palsu

      Kembali kepada penolakan keras    Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ytethadap orang-orang  yang mempertuhankan beliau:
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan!”   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku  yang di sorga.  Pada hari terakhir   banyak orang akan berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat   demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"(Matius 7:21-23).
      Hardikan Yesus terhadap  orang-orang yang telah mempertuhankan beliau tersebut erat hubungannya  sabda beliau berikut  ini mengenai kemampuan luar-biasa  para  Mesias palsu yang mampu  menyesatkan bahkan “orang-orang pilihan” juga:
Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat,  sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (Matius 24:23-24).
    Mengenai tanda-tanda kedatangan Yesus Kristus  yang kedua kali  -- yakni kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari lingkungan Bani Isma’il  ( umat Islam   -- QS.43:58) – beliau menjelaskan:
Siksaan yang berat dan Mesias-Mesias palsu
Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.   Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat,  sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.   Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya. Sebab sama seperti kilat  memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan  Anak Manusia.   Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun. " (Matius 24:23-28).

Kedatangan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

    Jadi, sebagaimana halnya Yesus Kristus telah menafsirkan  makna kedatangan kedua kali Nabi Elia adalah kedatangan Yahya Pembaptis (Nabi Yahya a.s. – Matius 11:7-19),  tentu dengan cara yang sama pula menafsirkan makna kedatangan kedua kali beliau di Akhir Zaman ini, yakni kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umat Islam (Bani Isma’il):
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya,   dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --      Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
         Kembali kepada “makar” Allah yang dialami oleh Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., keselamatan kedua rasul Allah tersebut  adalah berkat doa-doa penuh kerendahan hati yang mereka panjatkan kepada Allah Swt., firman-Nya:
وَ ذَاالنُّوۡنِ  اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ  اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah  mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ    --  maka  ia berseru dalam kegelapan perut ikan    اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahasuci,  اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ  -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim”  فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ   --  Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami menyelamatkan dia dari kesedihan, ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).

Doa Mohon Keselamatan  dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib

        Berikut adalah  doa di Taman Getsemani yang dipanjatkan Yesus Kristus  kepada Allah Swt.  dengan   penuh rasa sedih agar terhindar dari kematian terkutuk di tiang salib sebagaimana yang diupayakan para pemuka agama Yahudi::
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu   dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki " (Matius 26:39).
Kemudian berdoa lagi:
"Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus   serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih   dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. " Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini  lalu   dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki " Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?  Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
      Jadi,  kembali kepada masalah doa dan pengabulannya,  dari kisah Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terbukti bahwa tidak ada doa-doa  manusia yang dipanjatkan kepada Allah Swt. yang sia-sia  melainkan senantiasa ditanggapi-Nya dengan penuh  hikmah, yakni jika tidak dikabulkan sesuai kenginan orang-orang berdoa pasti diganti dengan pengabulan  yang lebih baik  atau ditangguhkan pengabukannya.
     Contohnya doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. bersama Nabi Isma’il  a.s. ketika membangun kembali Baitullah (Ka’bah) berkenaan pengutusan seorang rasul Allah di kota Mekkah – yakni Nabi Besar Muhammad saw.  – baru terlaksana 3000 tahun kemudian (QS.2:128-130).

Doa Orang Mulia Tidak Selalu Dikabulkan

   “Beberapa orang awam bertanya, mengapa ada doa dari mereka yang  keimanannya sempurna malah tidak dikabulkan. Jawabannya adalah karena Tuhan mengendalikan manifestasi (penampakan) keagungan mereka. Jika manifestasi ini menjadi kenyataan dimana keagungan mereka menyinari segala hal  maka partikel-partikel alam ini akan tertarik kepadanya dimana yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin,  dan dengan kata lain disebut sebagai mukjizat.
     Namun demikian  manifestasi spiritual ini (mukjizat) tidak selalu muncul tiap saat atau tiap tempat karena juga bergantung pada unsur eksternal. Sebagaimana Tuhan merupakan Dzat Yang Cukup Dengan Diri-Nya Sendiri (Al-Ghaniy)  maka Dia telah membekali hamba-hamba pilihan-Nya dengan bagian dari fitrat (Al-Ghaniy) tersebut.
       Seperti Tuhan, mereka ini juga memiliki fitrat cukup dengan dirinya sendiri (Al-Ghaniy), dimana sampai ada orang lain yang menggerakkan sifat Pemurah mereka dengan segala kerendahan hati dan ketulusan, maka barulah fitrat mereka itu diaktifkan. Orang-orang seperti ini memiliki kadar kasih yang jauh lebih besar dibanding manusia lainnya di dunia, namun ajaibnya mereka tidak mampu mengaktifkan sendiri fitrat tersebut.
      Mereka seringkali berkehendak bahwa fitrat tersebut dimanifestasikan namun nyatanya hal itu tidak mungkin tanpa perkenan Tuhan. Mereka ini tidak mempedulikan orang-orang yang menyangkal mereka atau para munafik dan yang lemah imannya, dimana mereka menganggap orang-orang demikian sebagai serangga mati belaka.

Sifat Al-Ghaniy  (Berkecukupan)

      Fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) pada diri mereka itu mirip dengan seorang terkasih yang menyembunyikan wajahnya di balik sebuah tirai cantik. Salah satu aspek dari fitrat cukup dengan dirinya sendiri  (al-Ghaniy) ini ialah ketika ada orang jahat yang berprasangka buruk, maka orang-orang mulia ini malah membiarkan fikiran buruk orang itu dengan cara mengabaikannya sama sekali,  karena mereka mengikuti fitrat Ilahi sebagaimana dinyatakan Tuhan dalam ayat:
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ ۙ فَزَادَہُمُ  اللّٰہُ  مَرَضًا
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakit mereka  (Al-Baqarah [2]:11).
      Ketika Allah Swt. menginginkan orang-orang mulia ini memperlihatkan suatu mukjizat, Dia akan menciptakan hasrat di hati mereka dimana mereka menjadi gelisah menginginkan pencapaian suatu tujuan tertentu. Saat itu mereka akan menyisihkan (menyibakkan)  tabir fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) dimana kecantikan mereka -- yang tidak terlihat oleh orang lain kecuali kepada Tuhan semata -- ditampakkan kepada para malaikat di langit dan kepada semua partikel atau zarah di alam semesta.
     Dengan penyingkiran tabir mereka berarti mereka maju ke hadirat Tuhan mereka dengan penuh ketulusan dan kesetiaan serta kecantikan ruhaniah mereka yang telah menjadikan mereka kekasih Tuhan. Suatu perasaan mengundang Tuhan lalu muncul dalam kalbu mereka yang akan menarik rahmat Ilahi kepada diri mereka bersamaan dengan seluruh partikel alam semesta ini.
      Panas nyala kasih mereka menguap ke langit dan memperlihatkan wujudnya kepada para malaikat laiknya sebuah awan. Derita mereka seperti petir yang mengharu-biru langit, lalu dengan kekuasaan Allah Swt. muncul fitrat yang mengirimkan hujan rahmat sesuai keinginan mereka.
     Ketika ruhani mereka dengan penuh hasrat menginginkan penyelesaian suatu masalah  maka  perhatian Tuhan akan tertarik kepadanya, karena mereka dianggap sebagai para kekasih-Nya berkat kecintaan mereka terhadap Tuhan. Segala sesuatu yang berada di bawah kendali Tuhan langsung terangsang ingin membantu mereka, dimana rahmat Ilahi menyiapkan ciptaan baru guna memenuhi keinginan mereka. Muncullah hal-hal yang manifestasinya (penampakannya) terlihat sebagai tidak mungkin bagi mereka yang bersifat duniawi dan tidak dikenal oleh mereka yang berpengetahuan rendah.

Bagaikan Zulaiha Tertarik Kepada Nabi Yusuf a.s.

     Orang-orang pilihan ini tidak disebut sebagai Tuhan, namun hubungan kasih dan kedekatan kepada Tuhan sedemikian tulusnya sehingga seolah-olah Tuhan turun ke dalam diri mereka,  dan Ruh Ilahi ditiupkan ke dalam diri mereka sebagaimana telah ditiupkan kepada Adam a.s.. Mereka ini bukanlah Tuhan namun hubungan mereka dengan Tuhan sama seperti  hubungan sepotong besi dengan api dimana ketika besi itu dipanaskan sampai suatu tingkat tertentu ronanya (dan khasiatnya) akan menyerupai api.
     Ketika hal ini terjadi maka semua yang berada di bawah kendali Allah Yang Maha Kuasa akan mengikuti perintah mereka,  dimana bintang-bintang di langit, matahari, bulan, samudra, udara dan api [semuanya] patuh kepada mereka, mengakui dan melayani mereka. Semuanya mencintai mereka   secara alamiah dan tertarik kepada mereka laiknya kekasih sejati, kecuali para pendosa yang merupakan refleksi (pantulan)  syaitan.
       Cinta keduniawian tidaklah abadi. Cinta seperti ini muncul di satu sisi dan mati di sisi lain serta didasarkan pada kecantikan yang akan pudar dengan berjalannya waktu. Namun betapa ajaibnya kecantikan ruhaniah yang muncul dalam diri seseorang melalui perilaku yang baik, kesucian, ketakwaan dan yang tampak setelah manifestasi (penampakan) kasih Ilahi.
       Kecantikan demikian memiliki daya tarik universal yang menarik hati orang kepada dirinya sebagaimana madu menarik semut, dimana tidak hanya manusia tetapi juga segenap partikel alam ini terpengaruh oleh daya tariknya.       Orang yang mencintai Allah Swt. dengan sepenuh hatinya adalah mirip Yusuf a.s. dimana setiap partikel di alam ini seolah-olah Zulaikha, hanya saja kecantikannya belum diperlihatkan kepada dunia karena dunia tidak akan kuat melihatnya.
     Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa nur dari para mukminin akan nyata dari wujud mereka,  dimana si mukminin tersebut dikenali melalui kecantikannya  yang namanya dalam istilah lain adalah Nur. (Brahin-i- Ahmadiyah, jld. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm. 221-224, London, 1984).

Cahaya Orang-orang Bertakwa

       Mengenai  keberadaan “nur” (cahaya) milik orang-orang beriman dan bertakwa  tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
Firman-Nya lagi:
یَوۡمَ یَقُوۡلُ  الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ  قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ  بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ  فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ  مِنۡ  قِبَلِہِ  الۡعَذَابُ  ﴿ؕ﴾یُنَادُوۡنَہُمۡ  اَلَمۡ  نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ  اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ  اَمۡرُ اللّٰہِ  وَ غَرَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata kepada orang-orang beriman: “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu.” Dikatakan: Kembalilah ke belakang kamu dan carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding yang berpintu, di dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab. Mereka  akan berseru kepada mereka yang beriman:Bukankah kami beserta kamu?” Mereka yang beriman berkata: “Tidak, bahkan  kamu menjatuhkan diri kamu ke dalam cobaan dan kamu menunggu kehancuran kami dan kamu ragu serta keingin-anmu yang sia-sia memperdayakan kamu, hingga datang keputusan Allah dan  si penipu telah  menipu kamu mengenai Allah  (Al-Hadid [57]:14-15).  
  “Cahaya kamu” dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal shalih kamu” atau “cahaya makrifat Ilahi” dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai keridhaan Allah”  di dunia ini juga. Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ  اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar dan saksi-saksi di sisi  Rabb (Tuhan) mereka. Bagi mereka ada ganjaran me-reka dan cahaya mereka. Tetapi mereka yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka adalah penghuni-penghuni Jahannam. (Al-Hadid [57]:20).  

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 19 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar