Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
30
HUBUNGAN KETEGUHAN
IMAN DENGAN PENGABULAN DOA &
KECEMERLANGAN “CAHAYA RUHANI” HAMBA-HAMBA ALLAH YANG HAKIKI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab 29 telah dijelaskan mengenai
orang-orang
yang ditolak
pengakuannya oleh Yesus Kristus
sekali pun mereka itu mengaku telah
melakukan berbagai hal luar biasa:
“Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: “Tuhan,
Tuhan!” akan masuk
ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan
dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir
banyak orang akan berseru
kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu
sekalian pembuat kejahatan!"(Matius 7:21-23).
Makna menolak pengakuan orang-orang menyebut “Tuhan, Tuhan” adalah orang-orang yang mempertuhankan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., sebab beliau tidak pernah mengajarkan kemusyrikan seperti itu, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ
لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah
aku dan ibuku sebagai dua tuhan
selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh
Engkau mengetahuinya. Engkau
me-ngetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah
Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku
berada di antara mereka, tetapi tatkala
cEngkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ
اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Kalau Engkau
mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah
[5]:117-119).
Allah Swt. Mengampuni Segala Dosa Orang-orang yang Bertaubat
Ucapan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang terakhir dengan tegas menolak ajaran Paulus
mengenai kematian terkutuk
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib guna menebus “dosa warisan” akibat pelanggaran Adam dan Hawa di surga, sebab Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun: اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ
اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Kalau Engkau
mengazab mereka maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau
Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.”
Mengenai Sifat Maha Pengampun Allah Swt. yang tidak terbatas dalam surah lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ
اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ
ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ وَ
اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ
اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا
تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ
رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. اِنَّ اللّٰہَ
یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan)
kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya
sebelum azab datang kepada kamu
kemudian kamu tidak akan ditolong. (Az-Zumar [39]:54-55).
Ayat
54 memberi amanat harapan dan kabar
gembira kepada orang-orang berdosa.
Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa
putus-asa, sebab putus-asa itu
terletak pada akar kebanyakan dosa
dan kegagalan-kegagalan dalam
kehidupan.
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan
Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul, lebih besar daripada pernyataan Allah Swt. dalam
firman-Nya tersebut.
Sementara
ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang
berdosa amanat harapan dan kabar gembira maka ayat 55: memperingatkan mereka bahwa mereka harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi -- dalam hal ini hukum
syariat: وَ اَنِیۡبُوۡۤا
اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ -- Dan kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya
sebelum azab datang kepada kamu
kemudian kamu tidak akan ditolong.” (Az-Zumar [39]:55).
Pentingnya Mengamalkan Hukum Syariat dan Mentaati Hukum
Alam
Dengan
demikian ucapan Paulus bahwa “hukum
syariat” merupakan “kutuk”
benar-benar merupakan kedustaan besar
(Roma
2:17-29; 3:19-31 ). Sebab kenyataan membuktikan bahwa semua umat
manusia – siapa pun mereka, beragama
apa pun mereka bahkan penganut Atheisme
-- kalau pun mereka tidak mau mentaati hukum syariat, tetapi mereka suka-tidak suka dalam kehidupan
di dunia ini harus mentaati hukum alam yang ditetapkan Allah Swt, yang juga telah
menetapkan hukum syariat, terutama syariat (agama) yang terakhir dan tersempurna yaitu Islam (Al-Quran – QS.5:4), firman-Nya:
وَ اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ
جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ
لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ
وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ﴿﴾ وَ
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ تَرَی الَّذِیۡنَ
کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ
وُجُوۡہُہُمۡ مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ
اَلَیۡسَ فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum datang
kepada kamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari. Supaya jangan ada orang yang
mengatakan: ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang
memper-olok-olok rasul-Nya.” Atau ia
berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang
bertakwa.” Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya
bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka aku
akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” َلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ
اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ -- Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakan-nya serta berlaku sombong dan engkau
termasuk orang-orang kafir.” وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ وُجُوۡہُہُمۡ
مُّسۡوَدَّۃٌ -- Dan pada
Hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang telah berdusta terhadap Allah wajah mereka menjadi hitam. اَلَیۡسَ فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ -- Bukankah dalam Jahannam adalah tempat
tinggal bagi orang-orang yang
sombong? (Az-Zumar [39]:56-61).
Kemampuan Luar Biasa Mesias-Mesias Palsu
Kembali kepada penolakan keras Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. ytethadap orang-orang
yang mempertuhankan beliau:
Bukan setiap
orang yang berseru kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan!” akan masuk
ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan
dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir
banyak orang akan berseru
kepada-Ku: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu
sekalian pembuat kejahatan!"(Matius 7:21-23).
Hardikan Yesus terhadap orang-orang yang telah mempertuhankan beliau tersebut erat hubungannya sabda beliau berikut ini mengenai kemampuan luar-biasa
para Mesias palsu yang mampu menyesatkan bahkan “orang-orang pilihan”
juga:
Pada waktu itu
jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias
ada di sana, jangan kamu percaya.
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang
dahsyat dan mujizat-mujizat,
sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (Matius
24:23-24).
Mengenai tanda-tanda
kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali -- yakni kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari lingkungan Bani Isma’il ( umat Islam
-- QS.43:58) – beliau menjelaskan:
Siksaan yang
berat dan Mesias-Mesias palsu
Pada waktu itu jika orang berkata
kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi
palsu akan muncul dan mereka akan
mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga
sekiranya mungkin, mereka menyesatkan
orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu
kepadamu. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang
gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik,
janganlah kamu percaya. Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. Di mana ada bangkai, di situ burung
nazar berkerumun. " (Matius 24:23-28).
Kedatangan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Jadi, sebagaimana halnya Yesus Kristus telah menafsirkan makna kedatangan
kedua kali Nabi Elia adalah kedatangan Yahya
Pembaptis (Nabi Yahya a.s. – Matius 11:7-19), tentu dengan cara yang sama pula menafsirkan
makna kedatangan kedua kali beliau di
Akhir Zaman ini, yakni kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw. berkenaan kedatangan misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di kalangan umat
Islam (Bani Isma’il):
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ
مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ
وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan semata.
Bahkan mereka adalah kaum yang biasa
berbantah. اِنۡ ہُوَ
اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا
لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia
tidak lain melainkan seorang hamba
yang telah Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan bagi Bani
Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
Kembali kepada “makar” Allah yang dialami oleh Nabi
Yunus a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., keselamatan kedua rasul Allah
tersebut adalah berkat doa-doa penuh kerendahan hati yang mereka panjatkan
kepada Allah Swt., firman-Nya: :
وَ ذَاالنُّوۡنِ اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ
نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ کُنۡتُ
مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾
فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ
مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah
mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ -- maka ia
berseru dalam kegelapan perut ikan
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau,
Engkau Mahasuci, اِنِّیۡ کُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim” فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ -- Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami
menyelamatkan dia dari kesedihan,
ؕ
وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan demikianlah
Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).
Doa Mohon Keselamatan dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib
Berikut adalah doa
di Taman Getsemani yang dipanjatkan Yesus Kristus kepada Allah Swt. dengan penuh
rasa sedih agar terhindar dari kematian terkutuk di tiang salib sebagaimana yang diupayakan para pemuka agama Yahudi::
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki "
(Matius 26:39).
Kemudian
berdoa lagi:
"Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu!" (Matius 26:42).
Selengkapnya:
Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang
bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah
di sini, sementara Aku pergi ke sana
untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak
Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih,
seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan
Aku. " Maka Ia
maju sedikit, lalu sujud dan berdoa,
kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki "
Setelah itu Ia kembali kepada
murid-murid-Nya itu dan mendapati
mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah
kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan
berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang
penurut, tetapi daging lemah." Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa,
kata-Nya: "Ya
Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu!" Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab
mata mereka sudah berat. Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan
istirahatlah. Lihat, saatnya sudah
tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi.
Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:36-46).
Jadi, kembali kepada masalah doa dan pengabulannya, dari kisah Nabi Yunus a.s. dan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. terbukti bahwa tidak ada doa-doa manusia yang dipanjatkan kepada Allah Swt. yang sia-sia melainkan senantiasa ditanggapi-Nya dengan penuh hikmah, yakni jika tidak dikabulkan sesuai kenginan
orang-orang berdoa pasti diganti dengan pengabulan yang lebih
baik atau ditangguhkan pengabukannya.
Contohnya doa yang dipanjatkan Nabi
Ibrahim a.s. bersama Nabi Isma’il
a.s. ketika membangun kembali Baitullah
(Ka’bah) berkenaan pengutusan seorang rasul
Allah di kota Mekkah – yakni Nabi Besar Muhammad saw. – baru terlaksana 3000 tahun kemudian
(QS.2:128-130).
Doa Orang Mulia
Tidak Selalu Dikabulkan
“Beberapa orang awam bertanya, mengapa
ada doa dari mereka yang keimanannya
sempurna
malah tidak dikabulkan. Jawabannya adalah karena Tuhan mengendalikan manifestasi (penampakan) keagungan mereka. Jika manifestasi
ini menjadi kenyataan
dimana keagungan mereka menyinari segala hal maka partikel-partikel alam ini
akan tertarik kepadanya
dimana yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, dan dengan kata lain
disebut sebagai mukjizat.
Namun
demikian manifestasi
spiritual ini (mukjizat) tidak selalu muncul tiap saat atau tiap
tempat
karena juga bergantung pada unsur
eksternal.
Sebagaimana Tuhan merupakan Dzat Yang Cukup Dengan Diri-Nya Sendiri (Al-Ghaniy) maka Dia telah membekali hamba-hamba pilihan-Nya dengan bagian dari fitrat (Al-Ghaniy)
tersebut.
Seperti Tuhan, mereka ini juga memiliki fitrat cukup dengan dirinya sendiri (Al-Ghaniy), dimana sampai ada orang lain yang menggerakkan
sifat Pemurah mereka dengan segala
kerendahan hati dan ketulusan,
maka barulah fitrat
mereka itu diaktifkan.
Orang-orang seperti ini memiliki kadar kasih yang
jauh lebih besar dibanding
manusia lainnya di dunia, namun ajaibnya
mereka tidak mampu mengaktifkan sendiri fitrat tersebut.
Mereka seringkali berkehendak bahwa fitrat
tersebut dimanifestasikan
namun nyatanya hal itu tidak mungkin tanpa
perkenan Tuhan.
Mereka ini tidak mempedulikan
orang-orang yang menyangkal mereka atau para munafik dan yang lemah imannya, dimana mereka
menganggap orang-orang demikian sebagai serangga
mati
belaka.
Sifat Al-Ghaniy
(Berkecukupan)
Fitrat cukup dengan dirinya
sendiri (al-Ghaniy) pada diri mereka itu mirip dengan seorang terkasih yang menyembunyikan wajahnya di
balik sebuah tirai cantik.
Salah satu aspek dari fitrat cukup dengan dirinya
sendiri (al-Ghaniy) ini ialah ketika ada orang jahat yang berprasangka buruk, maka orang-orang
mulia ini malah membiarkan fikiran buruk orang itu dengan cara mengabaikannya sama sekali,
karena mereka mengikuti fitrat
Ilahi
sebagaimana dinyatakan Tuhan dalam
ayat:
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ ۙ
فَزَادَہُمُ اللّٰہُ مَرَضًا
“Dalam hati
mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakit mereka” (Al-Baqarah
[2]:11).
Ketika Allah Swt. menginginkan orang-orang
mulia ini memperlihatkan suatu mukjizat, Dia akan menciptakan hasrat di hati
mereka
dimana mereka menjadi gelisah menginginkan
pencapaian suatu tujuan tertentu. Saat itu mereka akan
menyisihkan (menyibakkan) tabir fitrat cukup dengan dirinya sendiri (al-Ghaniy) dimana kecantikan mereka -- yang tidak
terlihat oleh orang lain kecuali kepada
Tuhan semata -- ditampakkan kepada para malaikat di langit dan kepada
semua partikel
atau zarah di alam semesta.
Dengan penyingkiran tabir mereka berarti mereka
maju ke hadirat
Tuhan mereka dengan
penuh ketulusan dan kesetiaan serta kecantikan
ruhaniah mereka
yang telah menjadikan mereka kekasih Tuhan. Suatu perasaan
mengundang Tuhan
lalu muncul dalam kalbu mereka yang akan menarik
rahmat Ilahi kepada
diri mereka bersamaan dengan seluruh
partikel alam semesta
ini.
Panas
nyala kasih
mereka menguap ke langit dan memperlihatkan wujudnya kepada para malaikat laiknya sebuah awan. Derita mereka seperti petir
yang mengharu-biru langit, lalu dengan kekuasaan
Allah Swt. muncul fitrat yang mengirimkan
hujan rahmat sesuai keinginan mereka.
Ketika ruhani mereka dengan penuh
hasrat menginginkan penyelesaian suatu masalah maka perhatian
Tuhan akan tertarik kepadanya,
karena mereka dianggap sebagai para kekasih-Nya berkat kecintaan
mereka terhadap Tuhan. Segala sesuatu yang berada di bawah kendali Tuhan langsung terangsang ingin membantu
mereka,
dimana rahmat Ilahi menyiapkan ciptaan baru guna memenuhi
keinginan
mereka. Muncullah hal-hal yang manifestasinya (penampakannya) terlihat sebagai tidak
mungkin bagi mereka
yang bersifat duniawi dan tidak dikenal oleh mereka yang berpengetahuan rendah.
Bagaikan Zulaiha
Tertarik Kepada Nabi Yusuf a.s.
Orang-orang
pilihan ini tidak disebut sebagai
Tuhan,
namun hubungan kasih dan kedekatan
kepada Tuhan sedemikian tulusnya sehingga seolah-olah Tuhan turun ke
dalam diri mereka, dan Ruh
Ilahi ditiupkan ke dalam diri mereka sebagaimana telah ditiupkan kepada Adam
a.s..
Mereka ini bukanlah Tuhan namun hubungan
mereka dengan Tuhan
sama seperti
hubungan
sepotong besi dengan api dimana
ketika besi itu dipanaskan sampai suatu tingkat tertentu ronanya (dan
khasiatnya) akan menyerupai api.
Ketika hal ini terjadi maka semua yang berada di bawah kendali Allah Yang Maha Kuasa akan mengikuti
perintah mereka, dimana bintang-bintang
di langit, matahari, bulan, samudra, udara dan api [semuanya]
patuh kepada mereka, mengakui dan melayani
mereka.
Semuanya mencintai mereka secara alamiah dan tertarik kepada mereka laiknya kekasih sejati, kecuali para pendosa
yang merupakan refleksi (pantulan)
syaitan.
Cinta keduniawian tidaklah
abadi. Cinta seperti ini muncul di satu sisi dan mati di sisi lain serta didasarkan pada
kecantikan yang akan pudar dengan berjalannya waktu. Namun betapa ajaibnya kecantikan ruhaniah yang muncul dalam diri seseorang melalui perilaku
yang baik, kesucian, ketakwaan dan yang tampak
setelah manifestasi (penampakan) kasih Ilahi.
Kecantikan
demikian memiliki daya tarik universal yang menarik
hati orang kepada dirinya sebagaimana madu
menarik semut, dimana tidak hanya manusia
tetapi juga segenap partikel alam
ini terpengaruh oleh daya tariknya. Orang yang mencintai Allah Swt. dengan sepenuh
hatinya
adalah mirip Yusuf a.s. dimana setiap
partikel di alam ini
seolah-olah Zulaikha, hanya saja kecantikannya belum diperlihatkan
kepada dunia
karena dunia tidak akan kuat melihatnya.
Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran
bahwa nur dari para mukminin akan nyata dari wujud
mereka, dimana si mukminin tersebut dikenali melalui kecantikannya yang
namanya dalam istilah lain adalah Nur.” (Brahin-i-
Ahmadiyah, jld. V, sekarang dicetak
dalam Ruhani Khazain, jld.
XXI, hlm. 221-224, London, 1984).
Cahaya Orang-orang Bertakwa
Mengenai
keberadaan “nur” (cahaya)
milik orang-orang beriman dan bertakwa tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ
تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ
وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh
jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
Firman-Nya lagi:
یَوۡمَ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا
نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ
بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ فِیۡہِ
الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ مِنۡ قِبَلِہِ
الۡعَذَابُ ﴿ؕ﴾یُنَادُوۡنَہُمۡ اَلَمۡ
نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ
وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ
اَمۡرُ اللّٰہِ وَ غَرَّکُمۡ
بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik
laki-laki dan orang-orang munafik
perempuan akan berkata kepada orang-orang beriman: “Tunggulah kami supaya kami
memperoleh sebagian cahaya kamu.” Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kamu dan
carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding
yang berpintu, di dalamnya ada rahmat
dan di luarnya ada azab. Mereka akan berseru
kepada mereka yang beriman: “Bukankah
kami beserta kamu?” Mereka yang beriman berkata: “Tidak, bahkan kamu
menjatuhkan diri kamu ke dalam cobaan dan kamu menunggu kehancuran kami dan kamu ragu serta keingin-anmu
yang sia-sia memperdayakan kamu, hingga datang keputusan Allah dan si
penipu telah menipu kamu mengenai Allah (Al-Hadid
[57]:14-15).
“Cahaya kamu” dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal shalih kamu” atau “cahaya makrifat Ilahi” dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai
keridhaan Allah” di dunia ini juga.
Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖۤ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ
الشُّہَدَآءُ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang
yang benar dan saksi-saksi di
sisi Rabb (Tuhan) mereka. Bagi mereka ada ganjaran me-reka dan cahaya
mereka. Tetapi mereka yang kafir
dan mendustakan Tanda-tanda Kami
mereka adalah penghuni-penghuni Jahannam.
(Al-Hadid
[57]:20).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 19 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar