Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
24
KECUALI ORANG-ORANG KAFIR, ORANG-ORANG BERIMAN TAKUT TERHADAP “MAKAR” ALLAH SWT. & "MAKAR" ALLAH SWT. DALAM KISAH NABI
YUNUS A.S. DAN KAUMNYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 23 telah dijelaskan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai dua
macam perlakuan Allah Swt. dalam
menanggapi doa yang disampaikan manusia, yakni: (1) Allah Swt. mengabulkan permohonan doa
hamba-hamba-Nya, (2) Allah Swt. tidak mengabulkan doa-doa tersebut melainkan melaksanakan
kehendak-Nya dengan menurunkan ujian-ujian
keimanan:
“Memang benar
bahwa doa dari orang-orang
yang diridhai Tuhan selalu diterima. Bahkan sesungguhnya mukjizat akbar mereka adalah penerimaan doa
itulah. Ketika hati mereka sedang merana di saat menghadapi kesulitan dan mereka kemudian memohon kepada Tuhan maka pada saat demikian tangan mereka seolah-olah menjadi Tangan Tuhan.
Tuhan
merupakan khazanah yang tersembunyi, melalui hamba-hamba
yang dikasihi-Nya
tersebut Dia
memperlihatkan Wujud-Nya.
Tanda-tanda Ilahi akan diperlihatkan saat hamba yang
dikasihi-Nya
sedang teraniaya. Saat aniaya itu mendekati puncak deritanya keadaan tersebut merupakan indikasi bahwa tanda-tanda
Ilahi
sudah mendekat di ambang pintu.
Tidak
ada manusia yang mencintai putranya
melebihi kasih
Allah
kepada mereka yang sepenuhnya telah menjadi hamba-Nya. Dia akan memperlihatkan keajaiban-Nya kepada mereka dan memanifestasikan
kekuatan
bagi mereka laiknya harimau tidur
yang terjaga.
Tuhan itu tersembunyi dan hamba-hamba-Nya inilah yang menjadikan Dia
berwujud. Dia itu berada di belakang
ribuan tabir
dan orang-orang
pilihan
ini yang mampu memperlihatkan Wujud-Nya. Tetapi harus diingat,
adalah salah jika beranggapan bahwa setiap doa dari mereka
yang dikasihi Tuhan akan selalu dikabulkan.
Hubungan Timbal-Balik Sahabat
Sebenarnya hubungan mereka dengan Tuhan
adalah sebagai sahabat,
terkadang Dia mengabulkan permohonan mereka
dan terkadang Dia akan menerapkan kemauan-Nya atas
mereka.
Hal
itulah yang terjadi dalam suatu hubungan persahabatan. Suatu ketika seseorang akan
menerima apa yang diusulkan sahabatnya dan melakukan apa yang
diinginkannya, tetapi kali lain ia akan menetapkan apa yang
diinginkannya
sendiri.
Dalam
Al-Quran, Tuhan menjanjikan penerimaan doa para mukminin dengan menyatakan:
ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
“Berdoalah
kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa kamu’ (Al-Mu’min
[40]:61), tetapi
di tempat lain memerintahkan kepada
mereka agar menerimakan takdir-Nya
dengan berbesar hati, yaitu:
وَ
لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Sesungguhnya
akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan,
tetapi hai Rasul, berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu
musibah, tidak gelisah bahkan
mereka berkata “Sesungguhnya kami kepunyaan
Allah dan sesungguhnya kepada- Nya
kami akan kembali” (Al-Baqarah [2]:156-157).
Dengan membaca kedua ayat-ayat ini maka kita bisa mengetahui bagaimana cara Allah Swt.
menanggapi doa dan
bagaimana hubungan antara Yang Maha Kuasa dengan hamba-Nya.” (Haqiqatul Wahi,
Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm. 20-21, London, 1984).
Dalam Bab sebelumnya dikemukakan
peristiwa yang dialami Nabi Yunus a.s.
di lautan setelah beliau memberi peringatan
kaumnya mengenai azab Ilahi jika mereka tidak beriman kepada peringatan
beliau, tetapi setelah Nabi Yunus a.s. pergi meninggalkan mereka kemudian
mereka mempercayai kebenaran peringatan beliau dan kemudfian Allah Swt. menangguhkan
terjadinya azab Ilahi yang telah diperingatkan Nabi Yunus a.s. kepada
kaumnya tersebut, firman-Nya:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ
بَاۡسُنَا بَیَاتًا وَّ ہُمۡ نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ اَمِنَ
اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی وَّ ہُمۡ
یَلۡعَبُوۡنَ ﴿﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di
malam hari selagi mereka tidur? Ataukah
penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada
mereka waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main? اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ -- Apakah mereka
merasa aman dari makar Allah? فَلَا
یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا
الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ -- Maka tidak
ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:98-100).
Tidak Ada yang Aman
dari “Makar Allah”
Kata-kata “kota-kota ini” dalam
ayat: اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی
-- “Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman” menunjuk kepada kota Mekkah dan kota-kota lainnya di Hijaz. Artinya, yaitu: “Tidakkah kaum Mekkah dan lain-lain mengambil
pelajaran dari nasib buruk bangsa ‘Ād, Tsamūd, umat Nabi Luth a.s.,
dan pula umat Nabi Syu’aib a.s.?” -- sebagaimana yang dikemukakan dalam
ayat-ayat sebelumnya (QS.7:60-94).
Nampaknya ayat: اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ -- “Apakah mereka merasa aman dari makar
Allah? فَلَا
یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا
الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ -- maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari
makar Allah kecuali kaum yang rugi” terjadi pada diri Nabi Yunus a.s. yang karena
marah kepada kaumnya karena memperolok-olokan
peringatan beliau lalu beliau pergi meninggalkan mereka, firman-Nya:
وَ
اِنَّ یُوۡنُسَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ؕ اِذۡ اَبَقَ
اِلَی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿﴾ۙ فَسَاہَمَ
فَکَانَ مِنَ الۡمُدۡحَضِیۡنَ ﴿﴾ۚ فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ
وَ ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ
اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ
اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا
فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Dan
sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang dari para
rasul. Ketika ia
lari ke kapal yang penuh muatan. Lalu ia ikut berundi dengan orang-orang
lain, lalu ia termasuk orang-orang
yang dilempar ke laut. Maka seekor
ikan paus menelannya ketika ia
sedang menyesali diri. Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. Kemudian Kami
melempar-kannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami
tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. Dan Kami
mengutus dia kepa-da seratus ribu orang atau lebih, maka mereka beriman
karena itu Kami memberikan kepada mereka
kesejahteraan hidup hingga waktu
lama. (Ash-Shaffat [37]:140-149).
Sehubungan dengan sikap
kaum Nabi Yunus a.s. terhadap peringatan
yang disampaikan beliau kepada mereka itu dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ
فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ اِلَّا قَوۡمَ
یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk kota yang beriman
dan keimanannya itu bermanfaat baginya kecuali kaum Yunus? ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ
الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari
mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan
di dunia, وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- dan
Kami memberi mereka perbekalan untuk
sementara waktu. (Yunus
[10]:99).
Maksud “kota” dalam ayat: فَلَوۡ لَا کَانَتۡ
قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ -- “Maka
mengapa tidak ada suatu penduduk kota yang beriman” maknanya adalah warga kota. Nabi
Yunus a.s. disebut pada enam
tempat yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140;
QS.68:49 dan di sini).
Penangguhan Azab Ilahi Kepada Kaum Nabi Yunus a.s.
Dalam Bible Nabi Yunus a.s. disebut
sebagai nabi Bani Israil (2 Raja-raja, 14:25), yang
diperintahkan pergi ke Ninewe, ibukota Asyir
dan memberi peringatan kepada
penghuninya. Tetapi menurut Al-Quran beliau diutus
kepada kaumnya sendiri. Nabi Yunus a.s. bukan dari Bani
Israil atau beliau tidak diutus ke Ninewe,
melainkan kepada sebagian dari kaumnya.
Para ahli Bible sendiri tidak sepakat bahwa Nabi Yunus a.s. itu seorang dari Bani Israil.
Dengan demikian jelaslah bahwa
tidak terbuktinya peringatan mengenai
azab Ilahi yang disampaikan Nabi
Yunus a.s. kepada kaumnya karena sepeninggal Nabi Yunus a.s. kemudian mereka mempercayainya dan
mereka beriman kepada Nabi
yunus a.s. yang telah pergi meninggalkan
mereka dan mengalami “musibah” harus dilemparkan ke laut yang sedanh
bergelora dn kemudian beliau ditelan ikan besar, firman-Nya:
فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ
وَ ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ
اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ
اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا
فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri. فَلَوۡ لَاۤ اَنَّہٗ
کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ -- Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, لَلَبِثَ فِیۡ بَطۡنِہٖۤ
اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ -- niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
سَقِیۡمٌ -- Kemudian Kami
melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia
dalam keadaan sakit. وَ اَنۡۢبَتۡنَا
عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ -- Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang
pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ
اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ -- Dan Kami
mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- maka mereka beriman karena itu Kami
memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
Sehubungan dengan ayat: فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ -- “Maka seekor
ikan paus menelannya ketika ia
sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ ذَاالنُّوۡنِ اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ
نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ کُنۡتُ
مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾
فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ
مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah
mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ -- maka ia
berseru dalam kegelapan perut ikan
اَنۡ لَّاۤ اِلٰہَ
اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau,
Engkau Mahasuci, اِنِّیۡ کُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim” فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ -- Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami
menyelamatkan dia dari kesedihan,
ؕ
وَ کَذٰلِکَ نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan demikianlah
Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).
“Duel Makar” di Setiap Zaman Rasul
Allah
Ayat ini tidak merinci sebab-sebab kemarahan Nabi Yunus a.s., Jelas beliau tidak pernah dan tidak
mungkin menjadi marah terhadap Allah
Swt.. Yang menjadi sebab kemarahannya
tentu kedegilan kaumnya yang menolak amanat beliau, sebab sangat mustahil seorang nabi Allah akan menjadi marah kepada Allah Swt..
Para hamba Allah yang terpilih tidak akan berbicara dan tidak akan berbuat
sebelum Allah Swt. memerintahkan
mereka (QS.21: 28). Kata-kata lan naqdira 'alaihi berarti “Kami
tidak mau menyusahkannya” dan “Kami
tidak akan menakdirkan suatu musibah terhadapnya” (Lisan-ul-’Arab dan Aqrab-ul-Mawarid).
Namun yang pasti Allah Swt. telah berfirman
tentang “makar-Nya”: اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ
اللّٰہِ -- “Apakah mereka merasa aman dari makar
Allah? فَلَا
یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا
الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ -- maka tidak ada yang
merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi,” karena di setiap zaman
kenabian selalu terjadi “duel makar” antara para penentang Rasul Allah (QS.3:53-55; QS.8:31; QS.13:42-44;QS.14:47-48;
QS.27:49-53) yang berusaha menggagalkan
missi suci para Rasul Allah (QS.6:112-114 & 123-125; QS.15:11-12; QS.22:53-54; QS.36:31;
QS.43:7-9), termasuk pada masa pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. dan penguusan beliau saw. yang kedua kali secara ruhani di Akhir Zaman ini (QS.62:3-5).
Sehubungan dengan adanya “makar-makar buruk” yang senantiasa pihak
penentang rasul Allah tersebut Allah
Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ
الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ نَادٰی وَ ہُوَ
مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾ لَوۡ
لَاۤ اَنۡ تَدٰرَکَہٗ
نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾ فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap
keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan jangan-lah
engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh duka. لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ
فَجَعَلَہٗ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ -- Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).
Nubuatan Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat: لَوۡ لَاۤ اَنۡ
تَدٰرَکَہٗ نِعۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ وَ
ہُوَ مَذۡمُوۡمٌ -- seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang
kepadanya niscaya akan dicampakkan di tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela” ini dapat juga mengandungnubuatan mengenai hijrah
Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah
ke Medinah, yang terbukti Madinah
secara ruhani bukan merupakan “tempat
yang tandus” melainkan “kota yang subur”, seperti halnya Allah
Swt. telah memperlakukan Nabi Yunus a.s. setelah beliau mengalami “penderitaan sementara” dalam perut
ikan besar di lautan: وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ
اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ -- “dan Kami
mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- maka mereka beriman
karena itu Kami memberikan kepada mereka
kesejahteraan hidup hingga waktu
lama”,
firman-Nya:
فَالۡتَقَمَہُ الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ مُلِیۡمٌ ﴿﴾ فَلَوۡ
لَاۤ اَنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَلَبِثَ فِیۡ
بَطۡنِہٖۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ فَنَبَذۡنٰہُ بِالۡعَرَآءِ
وَ ہُوَ سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ وَ
اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ وَ
اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ فَاٰمَنُوۡا
فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri. فَلَوۡ لَاۤ اَنَّہٗ
کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ -- Maka jika
ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan, لَلَبِثَ فِیۡ بَطۡنِہٖۤ
اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ -- niscaya
ia akan tetap tinggal di dalam perut
ikan paus itu hingga hari
kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ
بِالۡعَرَآءِ وَ ہُوَ
سَقِیۡمٌ -- Kemudian Kami
melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia
dalam keadaan sakit. وَ اَنۡۢبَتۡنَا
عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ -- Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang
pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ اِلٰی مِائَۃِ
اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ -- Dan Kami
mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, فَاٰمَنُوۡا فَمَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- maka mereka beriman karena itu Kami
memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
“Duel Makar” di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.
Demikian
pula halnya Nabi Besar Muhammad saw.
akibat “makar buruk” yang
dilakukan oleh Abu Jahal dan para pemuka kaum Mekkah lainnya (QS.8:31; QS.27:49-55) terpaksa
harus hijrah
ke Medinah dengan ditemani hanya oleh seorang sahabat
beliau saw. yang paling setia, Abu Bakar Shiddiq r.a. (QS.9:40), tetapi
beberapa tahun kemudian Nabi Besar
Muhammad saw. kembali ke Mekkah
sebagai seorang “Penakluk Agung”
dengan diiringan 10.000 orang-orang suci
– yakni para sahabat r.a. -- menggenapi
nubuatan dalam Bible:
“Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu
datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia,
terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia”
tahun 1958).
Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi:
“He shined forth from mount Paran
and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang
dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut.
33:2).
Firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ
وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat
menangkap engkau atau membunuh engkau
atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
-- Mereka
merancang makar buruk, dan Allah
pun merancang makar tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar (Al-Anfāl [8]:31).
Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun
Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua
usaha mereka mencegah berkembangnya
aliran kepercayaan baru (Islam) gagal,
dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim
yang mampu meninggalkan Mekkah telah hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh
dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
“Isra” (Perjalanan Malam
Hari) Nabi Besar Muhammad Saw. & Ketinggian Martabat Ruhani Abubakar
Shiddiq r.a.
Sesudah diadakan pertimbangan
mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda
dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhamnmad saw. lalu membunuh beliau saw.. Tetapi tanpa setahu orang Nabi
Besar Muhammad saw. meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga
dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama Abubakar Shiddiq r.a., sahabat beliau saw. yang setia, dan akhirnya beberapa
hari kemudian keduanya sampai di Medinah dengan selamat, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ
یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ
اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ
تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا
السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ
عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh
Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang
kafir, sedangkan ia kedua dari yang
dua ketika keduanya berada dalam gua, اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- lalu ia berkata
kepada temannya: “Janganlah engkau sedih
sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ
وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا -- lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya, وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی -- dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang
kafir itu rendah وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ
الۡعُلۡیَا -- sedangkan
Kalimah Allah itulah yang tertinggi,
وَ
اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:40).
Kata pengganti nama hī (nya) dalam anak kalimat فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ -- “lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya
kepadanya” dapat mengisyaratkan
kepada Abubakar Shidiq r.a., karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya.
Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”: وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا -- “dan
menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya” bagaimanapun
juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran
ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa
Arab. Lihat QS.48:10.
Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah -- sebagai akibat dari “makar buruk” yang dilakukan Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir
Mekkah lainnya (QS.8:31) -- ketika beliau saw. didampingi oleh Abubakar Shiddiq r.a. berlindung
di sebuah gua yang disebut Tsaur.
Ayat ini menjelaskan martabat
ruhani amat tinggi Abubakar Shiddiq
r.a. yang telah disebut sebagai “salah
satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt. dan Allah Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya: اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- lalu ia (Rasulullah
saw.) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ
-- lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya.”
Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika
berada dalam gua Abubakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau
menjawab: “Saya tidak menangis untuk
hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa
saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian
seluruh umat Islam.” (Zurqani).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar