Senin, 15 Agustus 2016

Kecuali Orang-orang Kafir, Orang-orang Beriman Takut Terhadap "Makar" Allah Swt. & "Makar" Allah Swt. Dalam Kisah Nabi Yunus a.s. dan Kaumnya




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA

Bab 24

KECUALI ORANG-ORANG KAFIR, ORANG-ORANG BERIMAN TAKUT TERHADAP MAKAR ALLAH SWT. &  "MAKAR" ALLAH SWT. DALAM KISAH NABI YUNUS A.S. DAN KAUMNYA    


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam   akhir Bab 23  telah dijelaskan   sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai   dua macam perlakuan Allah Swt. dalam menanggapi  doa yang disampaikan manusia, yakni:  (1) Allah Swt. mengabulkan permohonan doa hamba-hamba-Nya, (2) Allah Swt. tidak mengabulkan doa-doa tersebut melainkan melaksanakan kehendak-Nya dengan menurunkan ujian-ujian keimanan:
    “Memang benar bahwa doa dari orang-orang yang diridhai Tuhan selalu diterima. Bahkan sesungguhnya mukjizat akbar mereka adalah penerimaan doa itulah. Ketika hati mereka sedang merana di saat menghadapi kesulitan dan mereka kemudian memohon kepada Tuhan maka pada saat demikian tangan mereka seolah-olah menjadi Tangan Tuhan.
      Tuhan merupakan khazanah yang tersembunyi,  melalui hamba-hamba yang dikasihi-Nya tersebut Dia memperlihatkan Wujud-Nya. Tanda-tanda Ilahi akan diperlihatkan saat hamba yang dikasihi-Nya sedang teraniaya. Saat aniaya itu mendekati puncak deritanya  keadaan tersebut merupakan indikasi bahwa tanda-tanda Ilahi sudah mendekat di ambang pintu.
    Tidak ada manusia yang mencintai putranya melebihi kasih Allah kepada mereka yang sepenuhnya telah menjadi hamba-Nya. Dia akan memperlihatkan keajaiban-Nya kepada mereka dan memanifestasikan kekuatan bagi mereka laiknya harimau tidur yang terjaga.
      Tuhan itu tersembunyi dan hamba-hamba-Nya inilah yang menjadikan Dia berwujud. Dia itu berada di belakang ribuan tabir dan orang-orang pilihan ini yang mampu memperlihatkan Wujud-Nya. Tetapi harus diingat, adalah salah jika beranggapan bahwa setiap doa dari mereka yang dikasihi Tuhan akan selalu dikabulkan.

Hubungan Timbal-Balik  Sahabat

  Sebenarnya hubungan mereka dengan Tuhan adalah sebagai sahabat, terkadang Dia mengabulkan permohonan mereka dan terkadang Dia akan menerapkan kemauan-Nya atas mereka.
   Hal itulah yang terjadi dalam suatu hubungan persahabatan. Suatu ketika seseorang akan menerima apa yang diusulkan sahabatnya dan melakukan apa yang diinginkannya, tetapi kali lain ia akan menetapkan apa yang diinginkannya sendiri.
    Dalam Al-Quran, Tuhan menjanjikan penerimaan doa para mukminin dengan menyatakan:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu (Al-Mu’min [40]:61),  tetapi di tempat lain memerintahkan kepada mereka agar menerimakan takdir-Nya dengan berbesar hati, yaitu:
وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah-buahan, tetapi hai Rasul, berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah, tidak gelisah bahkan mereka berkata “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada- Nya kami akan kembali (Al-Baqarah [2]:156-157).
      Dengan membaca kedua ayat-ayat ini maka kita bisa mengetahui bagaimana cara Allah Swt. menanggapi doa dan bagaimana hubungan antara Yang Maha Kuasa dengan hamba-Nya.” (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm. 20-21, London, 1984).
     Dalam Bab sebelumnya dikemukakan peristiwa yang dialami  Nabi Yunus a.s. di lautan setelah beliau memberi peringatan kaumnya mengenai azab Ilahi  jika mereka tidak beriman kepada peringatan beliau, tetapi setelah Nabi Yunus a.s. pergi meninggalkan mereka kemudian mereka  mempercayai kebenaran peringatan beliau dan kemudfian Allah Swt. menangguhkan terjadinya  azab Ilahi  yang telah diperingatkan Nabi Yunus a.s. kepada kaumnya tersebut, firman-Nya:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?   Ataukah penduduk negeri-negeri ini  merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main?    اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ --  Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ  --  Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:98-100).

Tidak Ada yang Aman dari “Makar Allah”

 Kata-kata “kota-kota ini” dalam ayat:    اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی   -- “Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman”  menunjuk kepada kota Mekkah dan kota-kota lainnya di Hijaz. Artinya, yaitu: “Tidakkah kaum Mekkah dan lain-lain mengambil pelajaran dari nasib buruk bangsa ‘Ād, Tsamūd, umat Nabi Luth a.s., dan pula umat Nabi Syu’aib a.s.?”   -- sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.7:60-94).
     Nampaknya  ayat:  اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ  -- “Apakah mereka merasa aman dari makar Allahفَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ -- maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi”   terjadi pada diri Nabi Yunus a.s. yang   karena  marah kepada kaumnya karena memperolok-olokan peringatan  beliau lalu beliau  pergi meninggalkan mereka, firman-Nya:
وَ  اِنَّ یُوۡنُسَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ؕ   اِذۡ   اَبَقَ  اِلَی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿﴾ۙ   فَسَاہَمَ فَکَانَ مِنَ الۡمُدۡحَضِیۡنَ ﴿﴾ۚ  فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk salah seorang dari para rasul. Ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan.   Lalu ia ikut berundi dengan orang-orang lain, lalu ia termasuk orang-orang yang dilempar ke laut.   Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri.   Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,   niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan.   Kemudian Kami melempar-kannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu.   Dan Kami mengutus dia kepa-da seratus ribu orang atau lebih, maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:140-149).
       Sehubungan dengan  sikap kaum Nabi Yunus a.s. terhadap peringatan yang disampaikan beliau kepada mereka itu dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ  اِلَّا قَوۡمَ یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman dan keimanannya itu  bermanfaat baginya  kecuali kaum Yunus? ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  -- Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan di dunia, وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ  --  dan Kami memberi mereka perbekalan untuk sementara waktu.  (Yunus [10]:99).
        Maksud “kota” dalam ayat: فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ   -- “Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman”  maknanya adalah   warga kota.   Nabi Yunus a.s. disebut pada enam tempat yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140; QS.68:49 dan di sini).

Penangguhan Azab Ilahi  Kepada Kaum Nabi Yunus a.s.
  
        Dalam Bible  Nabi Yunus a.s. disebut sebagai nabi Bani Israil (2 Raja-raja, 14:25), yang diperintahkan pergi ke Ninewe, ibukota Asyir dan memberi peringatan kepada penghuninya. Tetapi menurut Al-Quran beliau diutus kepada kaumnya sendiri.  Nabi Yunus a.s.  bukan dari Bani Israil atau beliau tidak diutus ke Ninewe, melainkan kepada sebagian dari kaumnya. Para ahli Bible sendiri tidak sepakat  bahwa Nabi Yunus a.s.  itu seorang dari Bani Israil.
       Dengan demikian jelaslah bahwa tidak terbuktinya peringatan mengenai azab Ilahi yang disampaikan Nabi Yunus a.s. kepada kaumnya karena sepeninggal Nabi Yunus a.s. kemudian mereka mempercayainya  dan  mereka beriman kepada Nabi yunus a.s. yang telah pergi meninggalkan mereka  dan  mengalami “musibah”  harus dilemparkan ke laut yang sedanh bergelora  dn kemudian beliau ditelan ikan besar, firman-Nya: 
فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diriفَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ --    Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,     لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ    -- niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ --  Kemudian Kami melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ --   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ   --  Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih,  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ  -- maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).
      Sehubungan dengan ayat:  فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ  -- “Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diri” dalam surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ ذَاالنُّوۡنِ  اِذۡ ذَّہَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ  اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ ٭ۖ اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah Dzun-Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّقۡدِرَ عَلَیۡہِ  -- dan ia menyangka bahwa Kami tidak akan pernah  mendatangkan kesusahan kepadanya, فَنَادٰی فِی الظُّلُمٰتِ    --  maka  ia berseru dalam kegelapan perut ikan    اَنۡ  لَّاۤ  اِلٰہَ   اِلَّاۤ  اَنۡتَ  سُبۡحٰنَکَ -- bahwa: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahasuci,  اِنِّیۡ  کُنۡتُ  مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ  -- sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim”  فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ ۙ وَ نَجَّیۡنٰہُ مِنَ الۡغَمِّ   --  Maka Kami mengabulkan doanya dan Kami menyelamatkan dia dari kesedihan, ؕ وَ کَذٰلِکَ  نُــۨۡجِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang beriman. (Al-Anbiya [21’:88-89).

Duel Makar” di Setiap Zaman Rasul Allah

        Ayat ini tidak merinci sebab-sebab kemarahan Nabi Yunus a.s.,  Jelas beliau tidak pernah dan tidak mungkin menjadi marah terhadap Allah Swt.. Yang menjadi sebab kemarahannya tentu kedegilan kaumnya yang menolak amanat beliau, sebab sangat mustahil  seorang nabi  Allah akan menjadi marah kepada  Allah Swt..
    Para hamba Allah yang terpilih tidak akan berbicara dan tidak akan berbuat sebelum  Allah Swt.  memerintahkan mereka (QS.21: 28). Kata-kata lan naqdira 'alaihi berarti  “Kami tidak mau menyusahkannya” dan “Kami tidak akan menakdirkan suatu musibah terhadapnya” (Lisan-ul-’Arab dan Aqrab-ul-Mawarid).
       Namun yang pasti Allah Swt. telah berfirman tentang “makar-Nya”: اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ  -- “Apakah mereka merasa aman dari makar Allahفَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ -- maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi,”   karena  di setiap zaman kenabian  selalu terjadi “duel makar” antara para penentang Rasul Allah  (QS.3:53-55; QS.8:31; QS.13:42-44;QS.14:47-48; QS.27:49-53) yang berusaha menggagalkan missi suci para Rasul Allah  (QS.6:112-114 & 123-125;  QS.15:11-12; QS.22:53-54; QS.36:31; QS.43:7-9), termasuk pada masa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  dan penguusan beliau saw. yang kedua kali secara ruhani di Akhir Zaman ini  (QS.62:3-5).
     Sehubungan dengan adanya “makar-makar buruk” yang senantiasa pihak penentang rasul Allah tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ  لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تَکُنۡ کَصَاحِبِ الۡحُوۡتِ ۘ اِذۡ  نَادٰی وَ ہُوَ مَکۡظُوۡمٌ ﴿ؕ﴾  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ ﴿﴾  فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka bersabarlah terhadap keputusan Rabb (Tuhan) engkau dan  jangan-lah engkau menjadi seperti sahabat ikan, Yunus, ketika ia berseru kepada Tuhan-nya dalam keadaan penuh  duka. لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  -- Seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di   tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela. فَاجۡتَبٰہُ  رَبُّہٗ  فَجَعَلَہٗ  مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ  --   Lalu Rabb-nya (Tuhan-nya) telah memilihnya dan menjadikannya termasuk  orang-orang saleh (Al-Qalam [68]:49-51).

Nubuatan Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.

   Ayat:  لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  تَدٰرَکَہٗ  نِعۡمَۃٌ  مِّنۡ رَّبِّہٖ لَنُبِذَ بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  مَذۡمُوۡمٌ  --   seandainya nikmat dari Rabb-nya (Tuhan-nya) tidak segera datang kepadanya  niscaya akan dicampakkan di  tanah yang tandus dan dia dalam keadaan tercela”  ini dapat juga mengandungnubuatan  mengenai  hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah    ke Medinah, yang terbukti  Madinah  secara ruhani bukan merupakan “tempat yang tandus” melainkan  “kota yang subur”, seperti halnya Allah Swt. telah  memperlakukan Nabi Yunus a.s. setelah beliau  mengalami “penderitaan sementara” dalam perut ikan besar di lautan:   وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ   --  “dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebihفَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ  -- maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama”,   firman-Nya: 
فَالۡتَقَمَہُ  الۡحُوۡتُ وَ ہُوَ  مُلِیۡمٌ ﴿﴾   فَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ ﴿﴾ۙ   لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ۚؒ  فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ ﴿﴾ۚ  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ ﴿﴾ۚ  وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ؕ
Maka seekor ikan paus menelannya ketika ia sedang menyesali diriفَلَوۡ لَاۤ  اَنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُسَبِّحِیۡنَ --    Maka jika ia bukan di antara orang-orang yang mensucikan Tuhan,     لَلَبِثَ فِیۡ  بَطۡنِہٖۤ  اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ    -- niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan paus itu hingga hari kebangkitan. فَنَبَذۡنٰہُ  بِالۡعَرَآءِ  وَ  ہُوَ  سَقِیۡمٌ --  Kemudian Kami melemparkannya ke tanah kosong, sedang ia dalam keadaan sakit.  وَ اَنۡۢبَتۡنَا عَلَیۡہِ شَجَرَۃً مِّنۡ یَّقۡطِیۡنٍ --   Dan Kami tumbuhkan atas tanah itu sebatang pohon dari pohon labu. وَ اَرۡسَلۡنٰہُ  اِلٰی مِائَۃِ  اَلۡفٍ اَوۡ یَزِیۡدُوۡنَ   --  Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih,  فَاٰمَنُوۡا  فَمَتَّعۡنٰہُمۡ   اِلٰی حِیۡنٍ  -- maka mereka beriman karena itu Kami memberikan kepada mereka kesejahteraan hidup hingga waktu lama. (Ash-Shaffat [37]:143-149).

Duel Makar” di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.

        Demikian pula halnya Nabi Besar Muhammad saw.  akibat “makar buruk” yang dilakukan oleh Abu Jahal dan para pemuka kaum Mekkah lainnya  (QS.8:31; QS.27:49-55)  terpaksa  harus  hijrah ke Medinah dengan ditemani hanya oleh seorang  sahabat  beliau saw. yang paling setia,  Abu Bakar Shiddiq r.a. (QS.9:40), tetapi beberapa tahun kemudian  Nabi Besar Muhammad saw. kembali ke Mekkah sebagai seorang “Penakluk Agung” dengan diiringan 10.000 orang-orang suci – yakni para sahabat r.a. --   menggenapi  nubuatan dalam Bible:
Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958).
Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi:
“He shined forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut. 33:2).
Firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkauوَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ     --   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandinganوَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar  (Al-Anfāl [8]:31).
    Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru  (Islam) gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah   hijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.

Isra” (Perjalanan Malam Hari)  Nabi Besar Muhammad Saw. & Ketinggian Martabat Ruhani Abubakar Shiddiq r.a.

    Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhamnmad saw.   lalu membunuh beliau saw.. Tetapi tanpa setahu orang   Nabi Besar Muhammad saw.     meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a.,  sahabat beliau saw. yang setia, dan akhirnya  beberapa  hari kemudian keduanya sampai di Medinah dengan selamat, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ  اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam guaاِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا --  lalu ia berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا  -- lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnyaوَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی  -- dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا  -- sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (At-Taubah [9]:40).
       Kata pengganti nama  (nya) dalam anak kalimat  فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ --  “lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada   Abubakar Shidiq r.a.,    karena selama itu  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya.
       Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”:  وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا   -- “dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab. Lihat QS.48:10.
     Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw.    dari Mekkah ke Medinah  -- sebagai akibat dari “makar buruk” yang dilakukan  Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir Mekkah lainnya (QS.8:31)   --  ketika beliau saw. didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.   berlindung di sebuah gua yang disebut Tsaur.
       Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt.  dan  Allah  Swt.  Sendiri meredakan rasa ketakutannya:   اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا --  lalu ia (Rasulullah saw.)  berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ    -- lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya.”
       Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abubakar Shiddiq  r.a.  mulai menangis, dan ketika ditanya oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 14 Agustus    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar