Sabtu, 13 Agustus 2016

"Menghidupkan yang Mati" Sifat Khusus Allah Swt. & Hubungan "Amal Shaleh" Dengan "Pengabulan Doa"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


 HAKIKAT DOA

Bab 22

MENGHIDUPKAN YANG MATI  SIFAT KHUSUS ALLAH SWT. &  HUBUNGAN  AMAL SHALEH DENGAN PENGABULAN DOA


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab 22  telah dijelaskan   mengenai   kesempurnaan tatanan seluruh alam  yang tunduk kepada satu hukum yang sama dimana kesatuan dalam rencana, tujuan serta  penjagaan itu menunjuk kepada Ke-Esa-an Sang Perencana dan Penjaga, yaitu Allah Swt.. Sebab seandainya ada    dua pengawas dan penguasa  alam semesta    dapat menimbulkan kekacauan dan keadaan yang tidak teratur, firman-Nya:  
وَ لَہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَنۡ عِنۡدَہٗ  لَا یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ لَا یَسۡتَحۡسِرُوۡنَ ﴿ۚ﴾  یُسَبِّحُوۡنَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا یَفۡتُرُوۡنَ ﴿﴾  اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ ﴿﴾  لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan milik  Dia-lah siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi.  Dan mereka yang ada di sisi-Nya tidak merasa sombong untuk beribadah kepada-Nya, dan tidak  pula mereka merasa letih.  یُسَبِّحُوۡنَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا یَفۡتُرُوۡنَ  --   Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti-hentiاَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ --    Ataukah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi ini yang dapat menghidupkan yang mati?   لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا  -- Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  -- maka Maha Suci Allah  Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. (An-Anbiya [21]:20-23).
       Ayat   یُسَبِّحُوۡنَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا یَفۡتُرُوۡنَ  --   “Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti-henti   ini mengemukakan beberapa ciri hamba-hamba Allah yang sejati.   Mereka tidak jemu-jemu berbakti kepada Allah Swt. dan mengkhidmati umat manusia. Mereka tidak menerima seorang nabi Allah karena gerak hati yang muncul tiba-tiba, dan kemudian karena dihimpit kesusahan-kesusahan dan kemalangan-kemalangan lalu mereka berputus-asa (QS.2:154-157; QS.41:31-33).
      Sekali mereka menerima kebenaran, mereka berpegang padanya dengan kuat dalam keadaan apa pun. Ketekunan dan semangat mereka mengkhidmati kebenaran tidak pernah mundur  atau padam. Bahkan ibadah kepada Allah Swt. merupakan sumber kesenangan bagi mereka dan merupakan sarana untuk membebaskan diri dari kecemasan dan kekhawatiran (QS.13:29). “Kesenangan bagi hatiku terletak dalam shalat,” demikianlah menurut riwayat Nabi Besar Muhammad saw.  pernah bersabda (An-Nasāi), firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ تَطۡمَئِنُّ قُلُوۡبُہُمۡ بِذِکۡرِ اللّٰہِ ؕ اَلَا بِذِکۡرِ اللّٰہِ تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ ﴿ؕ﴾
Yaitu orang-orang yang beriman  dan hati mereka menjadi tente\ram dengan mengingat  Allah. Ketahuilah,  dengan mengingat Allah   hati  menjadi tentram. (Ar-Rā’d [13]:29).
   Mencari Allah Swt.  merupakan keinginan yang paling mendalam pada ruh manusia, dan merupakan tujuan yang hakiki bagi kehidupannya (QS.7:173-175) dan bila tujuan itu telah tercapai, maka orang akan menikmati ketenteraman hati yang sempurna, sebab saat itu ia seolah-olah berada dalam pangkuan  (haribaan) Allah Swt.  

Menghidupkan yang Mati  Adalah Sifat Khusus Allah Swt.

       Makna ayat:   اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ --    “ataukah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi ini yang dapat menghidupkan yang mati?”     bahwa menciptakan atau membangkitkan yang mati merupakan sifat khas dan hak istimewa Allah. Swt..  Baik Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  atau siapa pun yang dipertuhankan lainnya, tidak dapat ikut memiliki  sifat tersebut bersama dengan Allah Swt.. Disinggung sifat itu dimaksudkan untuk mematahkan paham ketuhanan Yesus, yang pada khususnya merupakan pokok pembahasan ayat-ayat ini.
       Ayat لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا  -- Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,” ini merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan.  Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. (QS.67:1-5). Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam raya, yakni Allah Swt..
       Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab suatu keharusan  bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus  pula— dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan  di alam semesta ini niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi  hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal  faham “Trinitas” yang  mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, dan  bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
       Ayat  فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  -- “maka Maha Suci Allah  Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan”    ini menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam raya, sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, dan mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya.

Kesempurnaan Alam Semesta Ciptaan Allah Swt.  & Sosok Dajjal yang Matanya Buta Sebelah

     Ayat  tersebut berarti bahwa kekuasaan Allah Swt.  mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb  (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ  --  Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat?  اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ    -- Atau samakah gelap dan terangاَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ   --  Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?”  قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ  --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
       Pernyataan  Allah Swt. bernada sindiran  dalam ayat:  اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ   --  Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?”  menekankan kepada kebutaan mata ruhani  orang-orang musyrik  (QS.17:73; QS.20:125-129; QS.22:46-47), khususnya Dajjal  dimana   mata ruhaninya  yang buta bertolak-belakang dengan ketajaman mata duniawinya.   

Gambaran Sosok Dajjal Menurut Nabi Besar Muhammad Saw.

      Itulah sebabnya mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah menggambarkan  sosok Dajjal  sebagai sebagai sosok laki-laki yang matanya buta sebelah  dan pada dahinya ada tulisan kafara (kafir), firman-Nya:
فَمَا اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ  وَ مَا اسۡتَطَاعُوۡا  لَہٗ  نَقۡبًا ﴿﴾  قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ  دَکَّآءَ ۚ وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ  حَقًّا  ﴿ؕ﴾  وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾  وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  عَرۡضَۨا ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَ کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا ﴿﴾٪
Maka mereka, Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginyaقَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ   --   Ia, Dzulqarnain, berkata: Ini rahmat dari  Rabb-ku (Tuhan-ku),  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ  دَکَّآءَ    -- tetapi apabila telah tiba janji  Rabb-ku (Tuhan-ku), Dia akan me­mecahkannya berkeping-keping,  ۚ وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ  حَقًّا -- dan  janji Rabb-ku (Tuhan-ku) itu pasti benar.  وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ  --  Dan pada hari itu Kami akan mem­biarkan sebagian mereka  menye-rang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا  --   dan nafiri akan ditiup, lalu  Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.  وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  عَرۡضَۨا  --   Dan pada hari itu Kami menghadirkan Jahannam berhadapan muka dengan orang-orang kafir, الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ    --   yaitu  orang-orang yang mata mereka tertutup dari pe­ringatan-Ku, وَ کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا    --  dan mereka tidak mampu mendengar” (Al-Kahf [18]:98-102).
   Setelah pembuatan dinding itu  oleh Dzulqarnain  selesai  (QS.18:94-97) maka berhentilah serangan­-serangan Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) dari utara. Tembok itu terlalu tebal untuk dipecahkan dan ditembus, dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Dinding itu tingginya 29 kaki dan lebarnya 10 kaki (Encyclopaedia Britannica) dan mempunyai pintu-pintu besi dan menara-menara penjagaan. Dinding itu merupakan penjaga batas Persia yang paling ampuh di  bagian utara.

Merajalelanya Kembali Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) di Akhir Zaman

  Makna ayat 98 Cyrus yakni Dzulqarnain tentunya telah diberitahu melalui ilham bahwa pada suatu ketika di masa depan Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) akan tersebar sekali lagi ke tenggara, dan tembok itu akan mampu menahan atau menghentikan gerak maju mereka. Rupanya inilah arti dari kata-kata "Dia akan memecahkannya."
  Dalam QS.21:97 kita diberitahu  bahwa di Akhir Zaman ini  Yajuj (Gog) dan Majuj  (Magog)   -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang bemata biru (QS.20:100-104 ) -- akan menjulurkan tangan-tangan guritanya ke seluruh dunia. Secara kiasan. "memecahkan dinding” dapat pula menunjuk kepada merosotnva kekuatan politik Islam  terutama kekuatan bangsa Turki di Eropa (Kekhalifahan Ottoman). Dengan menjadi lemahnya Turki  maka jalan bangsa-bangsa Kristen di Eropa untuk menaklukkan daerah timur menjadi terbuka.
  Pada waktu menanjaknya Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) ke tangga kekuasaan duniawi,   bangsa‑bangsa di seluruh dunia akan berhimpun  sehingga seluruh dunia akan menjadi seperti satu negeri. Dan menurut Bible, “Bangsa akan melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan serta kedengkian, kebencian, dan keburukan akan merajalela", sebagaimana firman-Nya: وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ  --  Dan pada hari itu Kami akan mem­biarkan sebagian mereka  menyerang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا  --   dan nafiri akan ditiup, lalu  Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.” 

Peringatan Al-Quran Mengenai “Perang Armagedon” (Perang Dunia)

   Isyarat itu nampaknya ditujukan kepada  Akhir Zaman  ini. Dalam perang dunia yang lampau seolah-olah mereka Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog)  telah dilepaskan di dunia (QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10) dan manusia gemetar bila mengkhayalkan kebinasaan yang dapat diakibatkan oleh Perang Dunia Ketiga. Menurut Yehezkiel (bab-bab 38 dan 39) Uni Soviet itu Yajuj (Gog) dan bangsa-bangsa  Kristen barat itu Majuj (Magog).  Kini pun mereka sedang bersiap-siap untuk perang Armagedon.
  Untuk pembahasan hukuman Allah yang amat mengerikan dan membina-sakan yang akan turun kepada Yajuj (Gog)  dan Majuj  (Magopg) itu lihat Surah Ar-Rahmān [55]:27-46).   Maksud  peringatan-Ku dalam ayat:   الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ    --   yaitu  orang-orang yang mata mereka tertutup dari pe­ringatan-Ku” adalah  Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾  قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan.  قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ --  Sebagai penjaga     untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, Mereka menetap di dalamnya selama-lamanyaوَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا  --   Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ   --   Mereka   sekali-kali tidak me-miliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ    -- Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.   فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا     -- Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau    karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.    اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا  --   Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya   supaya  Kami me-nguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannyaوَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --     aDan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. (Al-Kahf [18]:1-9). 

Makna Ahad dan Wāhid

      Kembali kepada   firman Allah Swt.  yang dibahas sebelumnya  -- khususnya  ayat: قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ ُ  --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ  -- dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa” --  firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb  (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apa-kah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak me-miliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ  --  Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat?  اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ    -- Atau samakah gelap dan terangاَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ   --  Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?”  قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ  --  Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
      Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an Allah Swt.: (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Ke-Esa-an Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain, maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
      Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.  Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt.  sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu  -- misalnya  Nabi Uzair a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.9:30)   -- maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya.     لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ  --     Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”  (Al-Ikhlash [112]:1-5).

Takdir Ilahi dan Pengabulan Doa

        Sehubungan dengan Dajjal atau  Ya’juj  (Gog) dan Majuj  (Magog), Nabi Besar Muhammad saw.   menyatakan bahwa   -- kecuali Imam Mahdi a.s.  -- tidak akan ada satu kekuatan dunia pun  yang mampu mengalahkannya yaitu  melalui “senjata doa”, lebih lanjut beliau saw. menggambarkan bahwa apabila Dajjal bertemu dengan Imam Mahdi a.s. bagaikan “garam disiram  air” akan mencair dan lenyap  sesuai dengan makna lain kata dhāllīn  dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غ َیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾ 
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami   jalan yang lurus,     yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ  --  dan bukan pula jalan mereka  yang sesat. (Al-Fatihah [1]:5-7).  
         Kemudian menggenai tanda-tanda bahwa doa yang dipanjatkan   hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah Swt. Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
   Ketika rahmat Tuhan akan diturunkan kepada manusia, Dia akan menciptakan sarana bagi pengabulan doa dimana dalam kalbu terasa ada nyala api yang melelehkan. Jika belum waktunya doa dikabulkan maka belum akan muncul perasaan  puas   yang membawa kedekatan kepada Ilahi.
   Pada saat seperti itu terasa seolah-olah fikiran tidak memfokus pada permasalahan. Penyebabnya adalah karena Tuhan terkadang mau mengabulkan doa tetapi juga terkadang mau menerapkan takdir yang telah ditetapkan-Nya. Karena itulah sampai dengan aku bisa melihat tanda-tanda takdir Ilahi, aku tidak terlalu banyak berharap pada pengabulan doa dan berpasrah diri kepada takdir-Nya dengan hati yang lebih gembira dibanding kegembiraan yang diperoleh dari pengabulan doa karena berkah dari menerima  takdir-Nya adalah jauh lebih besar. (Malfuzat, jld. I, hlm.  460).
      Kemudian mengenai  adanya  hubungan  antara  amal baik dengan pengabulan doa Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan:
   Mereka yang tidak beramal baik sebagai syarat pengabulan doanya, sebenarnya bukan mendoa malah cenderung menguji Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu sebelum mengajukan permohonan doa, perlu kiranya melakukan segala upaya dan itulah yang menjadi makna doa tersebut.
      Sejak awalnya ia perlu meneliti kembali tingkat keimanan dan amal ibadah dirinya karena sudah merupakan ciri Sunatullah (kebiasaan Tuhan) bahwa perbaikan akan datang dalam bentuk ketersediaan sarana-sarana.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 124).

Kesia-siaan Doa Orang-orang Kafir

       Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai kesia-siaan doa yang dipanjatkan  orang-orang kafir ketika azab Ilahi yang dijanjikan-Nya benar-benar akan menimpa mereka, firman-Nya:
 لَوۡ تَرٰۤی  اِذۡ  فَزِعُوۡا فَلَا فَوۡتَ وَ اُخِذُوۡا مِنۡ  مَّکَانٍ قَرِیۡبٍ ﴿ۙ﴾   وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ ۚ وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۚۖ﴾  وَّ قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ۚ وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿﴾  وَ حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ  ﴿٪﴾
Dan seandainya engkau dapat melihat ketika mereka dicekam kecemasan, maka mereka  tidak dapat meloloskan diri dan mereka akan ditangkap dari tempat yang dekat. وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ   --  Dan mereka berkata: “Kami beriman kepadanya.” وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ   -- Tetapi bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan dari tempat jauh?  Padahal sungguh sebelumnya mereka telah  kafir terhadapnya, mereka hanya menduga-duga belaka mengenai yang gaib itu dari tempat jauh.   Dan rintangan diletakkan di antara mereka dan apa yang diingin-kan mereka, sebagaimana telah dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnya. Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam. (Sabā’ [34]:52-55). 
       Kata-kata  وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ   --    “Tetapi bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan dari tempat jauh?”    dapat diartikan: (1)  “sesudah mati”,  dan  (2)   dapat dianggap berarti bahwa orang-orang kafir niscaya akan menyadari sesudah mereka mati  bahwa mereka itu berada dalam kesesatan, (3)  bahwa doa yang dipanjatkan orang-orang kafir pada saat azab Ilahi benar-benar telah datang akan sia-sia yakni tidak dikabulkan Allah Swt., seperti  seseorang yang berseru dari tempat jauh  maka suaranya tidak akan terdengar – walau pun dalam kenyataannya  Allah Swt.  itu Maha Mendengar. Contohnya adalah doa Fir’aun ketika ia akan tenggelam  di laut , firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya,   --  sehingga apabila ia menjelang tenggelam قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ --   Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ  -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  le-ngah terhadap Tanda-tanda Kami.”  (Yunus [10]:91-93). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 12 Agustus    2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar