Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
22
“MENGHIDUPKAN
YANG MATI” SIFAT KHUSUS ALLAH SWT.
& HUBUNGAN AMAL
SHALEH DENGAN PENGABULAN DOA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir Bab
22 telah dijelaskan mengenai
kesempurnaan tatanan seluruh alam yang tunduk kepada satu hukum yang sama dimana kesatuan
dalam rencana, tujuan serta penjagaan itu menunjuk kepada Ke-Esa-an Sang Perencana dan Penjaga, yaitu Allah Swt.. Sebab seandainya ada dua pengawas
dan penguasa alam semesta
dapat menimbulkan kekacauan dan keadaan yang
tidak teratur, firman-Nya:
وَ لَہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَنۡ عِنۡدَہٗ لَا
یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ لَا یَسۡتَحۡسِرُوۡنَ ﴿ۚ﴾ یُسَبِّحُوۡنَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا یَفۡتُرُوۡنَ ﴿﴾ اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ ﴿﴾ لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan milik
Dia-lah siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan mereka yang ada di sisi-Nya tidak merasa sombong untuk beribadah kepada-Nya, dan tidak
pula mereka merasa letih.
یُسَبِّحُوۡنَ
الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا یَفۡتُرُوۡنَ -- Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti-henti. اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ -- Ataukah
mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi
ini yang dapat menghidupkan yang
mati? لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا -- Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- maka Maha Suci Allah Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu, jauh di atas
segala yang mereka sifatkan. (An-Anbiya [21]:20-23).
Ayat یُسَبِّحُوۡنَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ لَا
یَفۡتُرُوۡنَ -- “Mereka bertasbih
malam dan siang tanpa henti-henti”
ini mengemukakan beberapa ciri hamba-hamba Allah yang sejati. Mereka tidak jemu-jemu berbakti kepada Allah Swt.
dan mengkhidmati umat manusia. Mereka
tidak menerima seorang nabi Allah karena gerak hati yang muncul
tiba-tiba, dan kemudian karena dihimpit
kesusahan-kesusahan dan kemalangan-kemalangan
lalu mereka berputus-asa
(QS.2:154-157; QS.41:31-33).
Sekali mereka menerima kebenaran, mereka berpegang
padanya dengan kuat dalam keadaan apa pun. Ketekunan dan semangat
mereka mengkhidmati kebenaran tidak
pernah mundur atau padam.
Bahkan ibadah kepada Allah Swt. merupakan sumber kesenangan bagi mereka dan
merupakan sarana untuk membebaskan diri dari kecemasan dan kekhawatiran (QS.13:29). “Kesenangan
bagi hatiku terletak dalam shalat,” demikianlah menurut riwayat Nabi Besar
Muhammad saw. pernah bersabda
(An-Nasāi), firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ تَطۡمَئِنُّ قُلُوۡبُہُمۡ بِذِکۡرِ اللّٰہِ ؕ اَلَا بِذِکۡرِ اللّٰہِ
تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ ﴿ؕ﴾
Yaitu orang-orang yang beriman dan
hati mereka menjadi tente\ram dengan
mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat
Allah hati menjadi tentram. (Ar-Rā’d [13]:29).
Mencari Allah Swt. merupakan keinginan
yang paling mendalam pada ruh manusia,
dan merupakan tujuan yang hakiki bagi
kehidupannya (QS.7:173-175) dan bila tujuan itu telah tercapai, maka orang
akan menikmati ketenteraman hati yang
sempurna, sebab saat itu ia
seolah-olah berada dalam pangkuan (haribaan) Allah Swt.
Menghidupkan yang Mati Adalah Sifat
Khusus Allah Swt.
Makna
ayat: اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِہَۃً مِّنَ الۡاَرۡضِ ہُمۡ یُنۡشِرُوۡنَ -- “ataukah
mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi
ini yang dapat menghidupkan yang
mati?” bahwa menciptakan atau membangkitkan yang mati
merupakan sifat khas dan hak istimewa Allah. Swt.. Baik Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau siapa pun yang dipertuhankan
lainnya, tidak dapat ikut memiliki sifat tersebut bersama dengan Allah Swt..
Disinggung sifat itu dimaksudkan
untuk mematahkan paham ketuhanan Yesus,
yang pada khususnya merupakan pokok pembahasan ayat-ayat ini.
Ayat لَوۡ
کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا -- Seandainya
di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada tuhan-tuhan
selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,” ini merupakan dalil yang jitu dan pasti
untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak bahwa suatu tertib
yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. (QS.67:1-5).
Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman
hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam
raya, yakni Allah Swt..
Seandainya ada
Tuhan lebih dari satu tentu lebih
dari satu hukum akan mengatur alam —
sebab suatu keharusan bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan
alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus pula— dan dengan
demikian sebagai akibatnya kekalutan
dan kekacauan di alam
semesta ini niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur
berantakan. Karena itu sungguh janggal
faham “Trinitas” yang mengatakan
bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi,
dan bersama-sama
merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
Ayat فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ
الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- “maka Maha
Suci Allah Rabb (Tuhan) ‘Arasy itu,
jauh di atas segala yang mereka sifatkan”
ini menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya
tata-tertib alam raya, sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya,
dan mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya.
Kesempurnaan Alam Semesta
Ciptaan Allah Swt. & Sosok Dajjal yang Matanya Buta Sebelah
Ayat tersebut berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi
segala sesuatu, sedang semua wujud
dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan,
firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh
langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan
untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap dan terang? اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Pernyataan Allah Swt. bernada sindiran dalam ayat: اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” menekankan kepada kebutaan mata ruhani orang-orang musyrik (QS.17:73;
QS.20:125-129; QS.22:46-47), khususnya Dajjal
dimana mata ruhaninya yang buta
bertolak-belakang dengan ketajaman mata
duniawinya.
Gambaran Sosok Dajjal Menurut
Nabi Besar Muhammad Saw.
Itulah sebabnya mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah
menggambarkan sosok Dajjal sebagai sebagai sosok laki-laki yang matanya buta sebelah dan pada dahinya
ada tulisan kafara (kafir),
firman-Nya:
فَمَا اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ وَ مَا
اسۡتَطَاعُوۡا لَہٗ نَقۡبًا ﴿﴾ قَالَ
ہٰذَا رَحۡمَۃٌ
مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ
جَعَلَہٗ دَکَّآءَ ۚ وَ
کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا ﴿ؕ﴾ وَ تَرَکۡنَا
بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ
فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾ وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ یَوۡمَئِذٍ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ
عَرۡضَۨا ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ
کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَ
کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا ﴿﴾٪
Maka
mereka, Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya. قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ -- Ia, Dzulqarnain, berkata: Ini rahmat dari Rabb-ku
(Tuhan-ku), فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ دَکَّآءَ -- tetapi apabila telah tiba janji Rabb-ku (Tuhan-ku),
Dia akan memecahkannya berkeping-keping,
ۚ وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا -- dan janji
Rabb-ku (Tuhan-ku) itu pasti benar.
وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ
-- Dan pada hari itu Kami akan membiarkan sebagian mereka menye-rang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا -- dan nafiri akan ditiup, lalu Kami akan menghimpun mereka itu semuanya. وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ
یَوۡمَئِذٍ
لِّلۡکٰفِرِیۡنَ عَرۡضَۨا
-- Dan pada
hari itu Kami menghadirkan Jahannam berhadapan muka dengan orang-orang kafir, الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ -- yaitu
orang-orang yang mata mereka tertutup dari peringatan-Ku, وَ
کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا -- dan mereka
tidak mampu mendengar” (Al-Kahf [18]:98-102).
Setelah pembuatan dinding itu oleh Dzulqarnain
selesai
(QS.18:94-97) maka berhentilah serangan-serangan Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) dari utara. Tembok itu terlalu tebal
untuk dipecahkan dan ditembus, dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Dinding itu
tingginya 29 kaki dan lebarnya 10 kaki (Encyclopaedia
Britannica) dan mempunyai pintu-pintu besi dan menara-menara penjagaan.
Dinding itu merupakan penjaga batas
Persia yang paling ampuh di bagian
utara.
Merajalelanya Kembali Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) di Akhir Zaman
Makna ayat 98 Cyrus yakni Dzulqarnain tentunya
telah diberitahu melalui ilham bahwa
pada suatu ketika di masa depan Yajuj (Gog)
dan Majuj (Magog) akan tersebar sekali lagi ke tenggara, dan tembok itu akan mampu menahan atau menghentikan gerak maju mereka. Rupanya inilah arti
dari kata-kata "Dia akan
memecahkannya."
Dalam QS.21:97 kita diberitahu bahwa di Akhir
Zaman ini Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog)
-- yakni bangsa-bangsa Kristen
dari Barat yang bemata biru (QS.20:100-104
) -- akan menjulurkan tangan-tangan guritanya ke seluruh dunia. Secara kiasan.
"memecahkan dinding” dapat pula
menunjuk kepada merosotnva kekuatan politik Islam terutama kekuatan bangsa Turki di Eropa (Kekhalifahan Ottoman). Dengan menjadi lemahnya Turki maka jalan bangsa-bangsa Kristen di Eropa
untuk menaklukkan daerah timur
menjadi terbuka.
Pada waktu menanjaknya Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog)
ke tangga kekuasaan duniawi, bangsa‑bangsa
di seluruh dunia akan berhimpun sehingga seluruh dunia akan menjadi seperti satu negeri. Dan menurut Bible, “Bangsa akan melawan bangsa dan kerajaan
melawan kerajaan serta kedengkian, kebencian, dan keburukan akan merajalela",
sebagaimana firman-Nya: وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ
-- Dan pada hari itu Kami akan membiarkan sebagian mereka menyerang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا -- dan nafiri akan ditiup, lalu Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.”
Peringatan
Al-Quran Mengenai “Perang Armagedon” (Perang Dunia)
Isyarat itu nampaknya ditujukan kepada Akhir
Zaman ini. Dalam perang dunia yang lampau seolah-olah
mereka Yajuj (Gog) dan Majuj (Magog) telah dilepaskan
di dunia (QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10)
dan manusia gemetar bila mengkhayalkan
kebinasaan yang dapat diakibatkan oleh Perang
Dunia Ketiga. Menurut Yehezkiel (bab-bab 38 dan 39) Uni Soviet itu Yajuj (Gog) dan bangsa-bangsa Kristen barat itu Majuj (Magog). Kini pun
mereka sedang bersiap-siap untuk perang
Armagedon.
Untuk pembahasan hukuman Allah yang amat mengerikan
dan membina-sakan yang akan turun
kepada Yajuj (Gog) dan Majuj
(Magopg) itu lihat Surah Ar-Rahmān [55]:27-46). Maksud peringatan-Ku
dalam ayat: الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ -- yaitu
orang-orang yang mata mereka tertutup dari peringatan-Ku” adalah Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی
عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا
لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا
شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ
یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ
بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab
Al-Quran ini dan Dia
tidak menjadikan padanya kebengkokan. قَیِّمًا
لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ -- Sebagai penjaga
untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang
baik, Mereka menetap
di dalamnya selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا -- Dan supaya memperingatkan orang-orang yang berkata: "Allah
mengambil seorang anak laki-laki.
مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ --
Mereka sekali-kali tidak me-miliki pengetahuan mengenainya,
dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.
ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا
-- Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ
اَحۡسَنُ عَمَلًا
-- Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya
supaya Kami
me-nguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- aDan
sesungguhnya Kami niscaya akan
menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. (Al-Kahf [18]:1-9).
Makna Ahad dan Wāhid
Kembali kepada firman Allah Swt. yang dibahas sebelumnya -- khususnya
ayat: قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ ُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa” -- firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh
langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apa-kah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak me-miliki kekuasaan
untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat? اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ -- Atau samakah gelap dan terang? اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ -- Atau
apakah mereka itu menjadikan bagi
Allah sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ
الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Al-Quran memakai dua kata yang
berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an
Allah Swt.: (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk
kepada Ke-Esa-an Tuhan yang mutlak, tanpa
pertalian dengan wujud lain, maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai
lanjutannya.
Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt. “Sumber”
sejati, tempat terbit segala penciptaan,
dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt. sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang
dengan tidak sah diberikan kedudukan itu -- misalnya
Nabi Uzair a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.9:30) -- maka dipakainya kata ahad yakni,
Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak
beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya.
لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ -- Dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Takdir Ilahi
dan Pengabulan Doa
Sehubungan dengan Dajjal atau Ya’juj (Gog) dan
Majuj (Magog), Nabi Besar Muhammad
saw. menyatakan bahwa -- kecuali Imam Mahdi a.s. -- tidak akan ada satu kekuatan dunia pun yang
mampu mengalahkannya yaitu melalui “senjata
doa”, lebih lanjut beliau saw. menggambarkan bahwa apabila Dajjal bertemu dengan Imam Mahdi a.s. bagaikan “garam disiram air”
akan mencair dan lenyap sesuai dengan makna
lain kata dhāllīn dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ
عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غ َیۡرِ
الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya
Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon
pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus, yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ -- dan bukan
pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:5-7).
Kemudian
menggenai tanda-tanda bahwa doa yang dipanjatkan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah Swt. Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan:
Ketika
rahmat Tuhan akan diturunkan kepada manusia, Dia
akan menciptakan sarana
bagi pengabulan doa dimana dalam kalbu
terasa ada nyala api
yang melelehkan. Jika belum waktunya doa dikabulkan maka belum
akan muncul perasaan puas yang
membawa kedekatan kepada Ilahi.
Pada
saat seperti itu terasa seolah-olah fikiran
tidak memfokus pada permasalahan.
Penyebabnya adalah karena Tuhan terkadang mau
mengabulkan doa
tetapi juga terkadang mau menerapkan
takdir
yang telah ditetapkan-Nya. Karena itulah sampai dengan aku bisa melihat tanda-tanda takdir Ilahi, aku tidak terlalu banyak berharap pada pengabulan doa dan berpasrah
diri kepada takdir-Nya
dengan hati yang lebih gembira dibanding
kegembiraan yang diperoleh dari pengabulan doa karena berkah dari menerima takdir-Nya adalah jauh lebih besar.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 460).
Kemudian mengenai adanya
hubungan antara
amal baik dengan pengabulan doa Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Mereka yang tidak
beramal baik
sebagai syarat pengabulan doanya, sebenarnya bukan
mendoa
malah cenderung menguji Allah Yang Maha
Kuasa.
Karena itu sebelum mengajukan permohonan doa, perlu kiranya melakukan segala upaya dan itulah yang menjadi makna doa tersebut.
Sejak awalnya ia
perlu meneliti kembali tingkat keimanan dan amal ibadah dirinya karena sudah merupakan ciri Sunatullah (kebiasaan Tuhan) bahwa perbaikan akan datang dalam bentuk ketersediaan
sarana-sarana.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 124).
Kesia-siaan Doa Orang-orang Kafir
Sehubungan dengan
hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai kesia-siaan
doa yang dipanjatkan orang-orang
kafir ketika azab Ilahi yang dijanjikan-Nya benar-benar akan menimpa mereka, firman-Nya:
لَوۡ تَرٰۤی اِذۡ
فَزِعُوۡا فَلَا فَوۡتَ وَ اُخِذُوۡا مِنۡ
مَّکَانٍ قَرِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ ۚ وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ
﴿ۚۖ﴾ وَّ
قَدۡ کَفَرُوۡا بِہٖ مِنۡ قَبۡلُ ۚ وَ یَقۡذِفُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ مِنۡ مَّکَانٍۭ
بَعِیۡدٍ ﴿﴾ وَ
حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ
قَبۡلُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ ﴿٪﴾
Dan seandainya engkau dapat melihat ketika mereka dicekam kecemasan, maka mereka
tidak
dapat meloloskan diri dan mereka
akan ditangkap dari tempat yang dekat. وَّ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِہٖ -- Dan
mereka berkata: “Kami beriman kepadanya.”
وَ اَنّٰی لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ
مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ -- Tetapi
bagaimana mungkin mereka mencapai keimanan
dari tempat jauh? Padahal sungguh sebelumnya mereka telah kafir
terhadapnya, mereka hanya
menduga-duga belaka mengenai yang gaib itu dari tempat jauh. Dan rintangan
diletakkan di antara mereka dan apa
yang diingin-kan mereka, sebagaimana telah
dilakukan terhadap orang-orang seperti mereka sebelumnya. Sesungguhnya mereka ada dalam keraguan yang mendalam. (Sabā’ [34]:52-55).
Kata-kata
وَ اَنّٰی
لَہُمُ التَّنَاوُشُ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ --
“Tetapi bagaimana mungkin mereka
mencapai keimanan dari tempat
jauh?” dapat
diartikan: (1) “sesudah mati”, dan (2) dapat dianggap berarti bahwa orang-orang kafir niscaya akan menyadari sesudah mereka mati bahwa mereka itu berada dalam kesesatan, (3) bahwa doa
yang dipanjatkan orang-orang kafir
pada saat azab Ilahi benar-benar telah datang akan sia-sia yakni tidak dikabulkan Allah Swt.,
seperti seseorang yang berseru dari tempat jauh maka suaranya tidak akan terdengar – walau
pun dalam kenyataannya Allah Swt. itu Maha
Mendengar. Contohnya adalah doa
Fir’aun ketika ia akan tenggelam di laut , firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ
کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾
فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, -- sehingga apabila
ia menjelang tenggelam قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
aku termasuk orang-orang yang berserah
diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ
مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- Apa, sekarang baru beriman!? Padahal
engkau telah membangkang sebelum ini,
dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ
بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan
engkau hanya badan engkau,
supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi
orang-orang sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya kebanyakan
dari manusia benar-benar le-ngah
terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus
[10]:91-93).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 12 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar