Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
Bab
33
KEPENGECUTAN BANI
ISRAIL MENGAKIBATKAN PENANGGUHAN PEWARISAN KANAAN (NEGERI
YANG DIJANJIKAN) KEPADA MEREKA & “NASIKH-MANSUKH” (PERUBAHAN) DALAM PENGABULAN
DOA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 32 telah dijelaskan
-- sehubungan sabda Masih Mau’ud
a.s. -- mengenai hikmah kata sabar mendahului kata shalat (doa), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ
﴿﴾ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ
﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ
اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ
رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar. Dan janganlah
kamu me-ngatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa
mereka
itu mati, tidak bahkan mereka
hidup, tetapi kamu tidak menyadari. وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ -- Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan
dalam harta, jiwa dan buah-buahan, وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ -- Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah
menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا
لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ
اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ
صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ -- Mereka
itulah orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan)
mereka وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka
inilah yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:154-158).
Shabr
(sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan
dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat
dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal (Mufradat).
Kiat Meraih Kesuksesan
Duniawi dan Ruhani
Surah Al-Baqarah ayat 154 mengandung satu asas yang hebat
sekali untuk mencapai keberhasilan:
Pertama,
seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun
tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya
dan berpegang teguh kepada segala hal
yang baik.
Kedua, ia
hendaknya mendoa kepada Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt. sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar)
mendahului kata shalat dalam ayat: اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ
الصَّلٰوۃِ
-- “mohonlah
pertolongan dengan sabar dan shalat”
dengan maksud untuk menekankan
pentingnya melaksanakan hukum Ilahi
yang terkadang diremehkan karena
tidak mengetahui. Sebab lazimnya doa
akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan Allah Swt. untuk mencapai sesuatu tujuan.
Makna ayat: وَ لَا تَقُوۡلُوۡا
لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ
لَّا تَشۡعُرُوۡنَ -- “Dan
janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan
Allah bahwa mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadari.” Ahya
itu jamak dari hayy yang antara lain berarti: (1) seseorang dengan amal yang diperbuat
selama hidupnya tidak menjadi sia-sia; (2)
orang yang kematiannya dituntut balas.
Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum.
Suatu kaum yang tidak menghargai secara
sepatutnya pahlawan-pahlawan yang
telah syahid dan tidak mengambil
langkah-langkah untuk melenyapkan rasa
takut mati dari hati mereka,
sebenarnya telah menutup masa depan
mereka sendiri.
Penangguhan Pewarisan “Negeri yang
Dijanjikan” Kepada Bani Israil
Contoh mengenai hal tersebut
adalah akibat kepengecutan yang
diperlihatkan Bani Israil ketika menolak ajakan Nabi Musa a.s. – bersama
Nabi Harun a.s. – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri yang dijanjikan” Allah Swt.
kepada mereka, maka Allah Swt. menangguhkan “pewarisan” tersebut kepada Bani Israil selama 40 tahun
(QS.5:21-27).
Ayat وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ -- “Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan
dalam harta, jiwa dan buah-buahan”, merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang
mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus juga
bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka
sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
Makna
ayat: وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ -- dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ -- Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah
menimpa mereka, قَالُوۡۤا اِنَّا
لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ
اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.”
Allah Swt. adalah Pemilik segala yang dimiliki orang-orang beriman, termasuk dirinya,
karena itu jika Sang Pemilik itu -- sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu
dari mereka maka mereka tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah
atau menggerutu.
Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa daripada membuat putus
asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan
untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi
untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup ini. Jadi rumusan
cara meraih kesuksesan -- duniawi dan ruhani -- yang ada dalam
ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan
bertuah belaka, melainkan suatu nasihat
yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya.
Jawaban Pengecut Bani
Israil Kepada Seruan Nabi Musa a.s.
Contoh ketidak-sabaran dan ketidak-teguhan
serta kelemahan dalam hal makrifat Ilahi -- yang menimbulkan kepengecutan
yang diperlihatkan Bani Israil ketika
menolak ajakan Nabi Musa a.s. bersama Nabi Harun a.s. – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri
yang dijanjikan” Allah Swt. kepada mereka, telah menyebabkan Allah Swt. menangguhkan “pewarisan” tersebut kepada Bani Israil selama 40 tahun, firman-Nya
وَ
اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ
اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا
عَلٰۤی اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا
خٰسِرِیۡنَ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا
حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ
یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antaramu,
dan menjadikan kamu raja-raja, dan Dia
memberikan kepadamu apa yang tidak diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa.
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan yang telah ditetapkan Allah bagi kamu,
dan janganlah kamu berbalik ke
belakangmu lalu kamu kembali menjadi
orang-orang yang rugi.” Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah
memasukinya hingga mereka keluar sendiri darinya, lalu jika
mereka keluar darinya maka kami akan memasukinya.” (Al-Māidah
[5]:21-23).
Penggantian kata kum (kamu) mengenai raja-raja alih-alih kata fī-kum mengenai nabi-nabi
dalam ayat: یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا -- “Hai kaumku,
ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antaramu,
dan menjadikan kamu raja-raja,” mengandung
isyarat bahwa jikalau tiap-tiap dan semua anggota suatu bangsa yang hidup di
bawah kekuasaan seorang raja
seakan-akan mempunyai kekuasaan dan kedaulatan, maka pengikut-pengikut
seorang nabi Allah mereka tidak mempunyai bagian dalam kenabiannya.
Ungkapan “telah ditetapkan Allah bagi kamu”
mengandung janji yang tersirat bahwa
Allah Swt. akan menolong dan memberi mereka kemenangan, seandainya orang-orang Bani Israil mempunyai keberanian memasuki Kanaan yakni “Tanah yang disuci” yang dijanjikan Allah Swt. tersebut.
Jawaban
bernada kepengecutan para pemuka Bani Israil terhadap ajakan
Nabi Musa a.s.: “Ya Musa, sesungguhnya
di dalam negeri itu ada suatu kaum
yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya hingga mereka keluar sendiri darinya,
lalu jika me-reka keluar darinya maka kami akan memasukinya, ” berarti bahwa riwayat kaum-kaum yang ketika itu
berada di wilayah Kanaan itu dikenal
oleh bangsa Bani Israil, yaitu bangsa
Amaliki (Amalek) dan suku-suku bangsa Arab liar menghuni Tanah suci pada zaman itu, orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka.
Jawaban Ksatria Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.
Bandingkanlah sikap pengikut-pengikut Nabi
Musa a.s. yang tidak punya rasa malu lagi pengecut itu dengan pengorbanan
tulus-ikhlas dan hampir-hampir tak
masuk akal dari para sahabat Nabi
Muhammad saw. yang senantiasa
mendambakan melompat ke dalam rahang kematian bila ada sedikit saja isyarat aba-aba dari Junjungan mereka, Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾ وَ لَمَّا رَاَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ
وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ
مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya
bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. Dan ketika orang-orang beriman melihat
lasykar-lasykar persekutuan mereka
berkata: “Inilah yang telah dijanjikan
Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allāh
serta Ra-sul-Nya telah mengatakan yang
benar.” Dan hal itu tidak menambah
kepada mereka kecuali keimanan
dan kepatuhan. Di antara orang-orang
yang beriman ada orang-orang yang telah menggenapi apa yang dijanjikannya
kepada Allah, maka dari
antara mereka ada yang telah
menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid, dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka
sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. (Al-Ahzāb [33]:22-24).
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. bersama sejumlah kecil para sahabat
(313 orang) dengan perlengkapan perang
yang sangat darurat hendak bergerak
ke Badar menghadapi balatentara
Mekkah yang bilangannya jauh lebih besar (1000 orang) serta persenjataannya lebih lengkap, beliau saw. meminta saran mereka mengenai situasi
itu.
Atas permintaan beliau, salah seorang dari para sahabat bangkit lalu
menjawab Nabi Besar Muhammad saw. dengan
kata-kata yang akan selamanya terkenang:
“Kami
tidak akan berkata kepada Anda seperti dikatakan oleh pengikut-pengikut Nabi
Musa a.s.: “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau kemudian berperanglah engkau
berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini.’ Kebalikannya,
wahai Rasulullah, kami senantiasa
beserta engkau dan kami akan ber-tempur dengan musuh di sebelah kanan dan di
sebelah kiri engkau dan di hadapan engkau dan di belakang engkau, dan kami mengharap dari Allah agar engkau
akan menyaksikan kami apa yang akan menyejukkan mata engkau.”
Bani Israil Terlunta-lunta Selama 40
Tahun di Luar Kanaan
Mendengar jawaban Bani Israil yang penuh kepengecutan
tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ
یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمَا
ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ الۡبَابَ ۚ فَاِذَا
دَخَلۡتُمُوۡہُ فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ
وَ عَلَی اللّٰہِ فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dua orang laki-laki dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata:
“Masuklah melalui pintu gerbang mereka, lalu apabila
kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya
kamu akan menang. Dan hanya kepada
Allah-lah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”
(Al-Māidah
[5]:24).
Terhadap ajakan Nabi Musa a.s. yang penuh
optimis tersebut Bani Israil menjawab, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَاۤ
اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ
فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ
لَاۤ اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ
اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ
یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka
berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami
tidak akan pernah memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya, karena
itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!” Musa
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali
terhadap diriku dan saudara
laki-lakiku, maka bedakanlah antara
kami dengan kaum yang fasik itu.” Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan
bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka
akan bertualang kebingungan di muka
bumi maka janganlah eng-kau bersedih atas kaum yang
fasik itu.” (Al-Māidah [5]:24-27).
“Dua
orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan
14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa
Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki)
mencerminkan citra kejantanan dan keberanian.
Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani ini -- yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. -- dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan
bahwa Nabi Musa a.s. mendoa
bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s. (QS.5:26). Allah Swt. tidak
menyebut nama-nama keduanya melainkan
hanya mengatakan “dua orang laki-laki”
sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian keduanya, dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil yang menyertai
Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai
orang-orang pengecut, Allah Swt.
menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras
padang pasir akan menempa mereka
dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa
baru dan akan memperkokoh moral
mereka. Dalam masa itu generasi tua
boleh dikatakan telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan
yang cukup untuk menaklukkan Kanaan -
“Tanah Yang Dijanjikan”.
Nasikh dan Mansukh
(Penggantian) Dalam Pengabulan Doa
Sudah dipastikan bahwa Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. dalam
rangka memasuki “negeri yang dijanjikan” bersama dengan Bani Israil tersebut senantiasa berdoa
kepada Allah Swt. agar dapat menggenapi
“pewarisan” negeri Kanaan tersebut, tetapi dalam kenyataannya -- akibat sikap pengecut Bani Israil -- pewarisan
tersebut ditangguhkan Allah Swt. selama 40
tahun, dan dalam masa penangguhan
tersebut Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s. wafat.
Namun demikian tidak berarti bahwa doa dan perjuangan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sia-sia. Sehubungan
dengan kenyataan yang seperti itu
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku
sering sekali mengalami bahwa ketika
Tuhan tidak mau mengabulkan suatu doa,
tetapi karena Sifat-Nya Yang Maha
Pemurah, lalu Dia menerima doa lain yang serupa sebagai gantinya, sebagaimana
dinyatakan oleh-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan atau
Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya
atau yang semisalnya. Tidak tahukah
engkau bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’ (Al-Baqarah
[2]:107).
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine
Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XXII, hlm. 340,
London, 1984).
Allah Swt. Lebih Mendekat
Melalui Doa
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
pentingnya senantiasa mendirikan shalat:
“Janganlah berpuas diri karena merasa kalian
telah berdoa setiap hari
tetapi tanpa shalat. Sebenarnya shalat
itu merupakan doa
juga, yang dilakukan setelah memperoleh pemahaman dan rahmat, dan shalat
ini merupakan doa tersendiri.
Doa seperti ini bisa bersifat menghancurkan laiknya api yang meluluhkan, kekuatan
magnetis
yang menarik rahmat, dan bentuk kematian yang membawa kehidupan. Shalat
merupakan hujan lebat yang kemudian berubah
menjadi wadah.
Setiap kegalauan bisa diatasi olehnya
dan setiap racun menjadi penawar karenanya.
Berberkatlah mereka yang berdoa tanpa lelah saat dipenjara karena mereka
akan dibebaskan. Berberkatlah
mereka yang buta dan berteguh hati dalam doanya karena mereka
nantinya akan nyalang mata. Berberkatlah mereka yang terkubur dan memohon pertolongan
melalui doa karena mereka nantinya akan dikeluarkan dari kuburnya itu.
Berberkatlah kalian yang tidak pernah merasa lelah dalam berdoa sehingga kalbu
kalian meleleh saat berdoa
dengan mata berlinang dan api yang menyala di dalam dada, dan
karena kalian dijebloskan dalam kamar-kamar gelap sehingga kalian menjadi gelisah, tak sadar akan dirinya lagi, karena akhirnya
kalian akan menjadi penerima rahmat.
Hubungan Gerakan
Jasmani Shalat dengan Gerakan Ruhani
Tuhan yang kita sembah sesungguhnya Maha Pemurah, Maha Pemurah, Maha Benar,
Maha Setia kepada mereka yang berhati lembut. Kalian
harus beriman dan berdoa dengan segala
kesungguhan
dan kesetiaan agar Dia merahmati kalian.
Tariklah diri kalian dari kegalauan duniawi dan jangan mengagak-agak keimanan kalian. Terimalah
kekalahan kalian demi Tuhan,
agar kalian mewarisi kemenangan akbar. Tuhan akan
memberikan mukjizat kepada mereka yang berdoa dan mengaruniakan
anugrah yang luar biasa
kepada mereka yang mengemis kepada-Nya.
Sesungguhnya doa berasal dari Tuhan dan akan
kembali kepada-Nya. Melalui doa maka Tuhan
mendekat kepada
kalian
sebagaimana nyawa kalian dekat dengan
kalian. Karunia pertama dari doa
adalah perubahan suci dalam diri si pemohon dan karenanya
Tuhan melakukan perubahan dalam Sifat-sifat Wujud-Nya Sendiri.
Sebenarnya
Sifat-Nya itu tidak mudah berubah, namun demi manusia
yang telah mengubah dirinya sendiri maka Dia memberikan manifestasi
(penampakkan) khusus yang tidak dikenal dunia. Tidak berarti bahwa Dia berubah menjadi Tuhan yang lain, yang dimaksud adalah munculnya manifestasi baru dalam Wujud-Nya yang memperlihatkan
seolah suatu hal yang baru.
Dalam manifestasi (penampakkan) khusus demikian Dia
melakukan bagi hamba-Nya
yang telah bertransformasi (berubah) apa yang tidak
dilakukan-Nya kepada yang lain.
Singkat kata, doa adalah obat penawar
paling utama yang mengubah segenggam debu menjadi logam mulia. Doa merupakan air yang membasuh kekotoran di dalam batin. Melalui doa
maka kalbu akan meleleh
yang kemudian mengalir seperti air dan jatuh
di hadirat Ilahi. Doa akan tegak di hadirat Ilahi, rukuk
di depan-Nya
dan bersujud di hadapan-Nya. Sesungguhnya shalat yang
diajarkan dalam Islam merupakan
refleksi (pantulan) dari doa seperti itu.
Berdiri tegaknya nurani dalam suatu doa menunjukkan kesiapan
dirinya memikul segala kesulitan demi Allah dan berhasrat melaksanakan
perintah-perintah-Nya.
Rukuknya bermakna kecenderungan kepada Ilahi dan keinginan
menjadi milik-Nya
dengan meninggalkan kesukaan dan
kecintaan kepada yang lainnya. Adapun
bersujud di hadirat Ilahi mengandung arti bahwa ia telah memfanakan dirinya secara sepenuhnya. Semua itu merupakan shalat yang menjadi
pertemuan di antara Tuhan
dengan mereka yang menyembah-Nya.
Akidah Islam menggambarkan doa sebagai shalat yang dilakukan setiap hari agar shalat
yang bersifat jasmani
dapat mendorong seorang pelaku ibadah ke arah
shalat ruhani. Allah Yang Maha Kuasa telah mengatur bahwa kalbu dan raga
manusia beraksi
dan bereaksi satu dengan lainnya.
Ketika jiwa sedang bersedih maka keluar
air mata
dari matanya, sedangkan ketika kalbu sedang bergembira maka wajahnya akan mencerminkan
keceriaan
yang mendorong orang untuk tertawa. Begitu juga ketika raga
sedang mengalami kesakitan maka kalbunya ikut merasakan kesakitan itu, sedangkan saat tubuh merasa nyaman karena tiupan angin sejuk maka hatinya pun ikut
terpengaruh.
Dengan demikian, tujuan dari ibadah secara ragawi (jasmani) adalah karena adanya keterkaitan di
antara kalbu
dan raga tubuh dimana kalbu akan cenderung
kepada Tuhan
serta mengikuti gerak rukuk dan sujudnya
secara ruhani.” (Khutbah
Sialkot, Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XX, hlm. 222-224, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 22 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar