Sabtu, 06 Agustus 2016

Kesibukan "Pengkhimatan" Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna "Bertasbih" Para Malaikat Kepada Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA


KESIBUKAN PENGKHIDMATAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & MAKNA BERTASBIH PARA MALAIKAT KEPADA ALLAH SWT.


Bab 17


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  Bab 16  telah dijelaskan    mengenai     doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.   sebelum peristiwa hijrah  akibat  makar buruk   yang  dirancang oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya,    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  -- “Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik”,  firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ  الَّیۡلِ وَ  قُرۡاٰنَ  الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ  قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ  کَانَ  مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾   وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾  وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh disaksikan secara istimewa oleh Allah.”  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً  لَّکَ  --   Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan   bagi engkau,  عَسٰۤی اَنۡ  یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا --  boleh jadi  Rabb (Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke martabat yang sangat terpuji.    وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ  --  Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah daku dengan cara masuk yang baik serta keluarkanlah  aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا  --   dan jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau kekuatan yang menolong.  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --  Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا --  tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian.  (Bani Israil [17]:79-83).

Pengulangan Penghancuran Patung-patung “Berhala”

     Untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan nubuatan ini  Nabi Besar Muhammad saw.,   diperintahkan mendoa  supaya masuknya  beliau saw. ke Medinah dan begitu pula keberangkatan beliau saw. dari kota Mekkah, di mana beliau saw.  tinggal pada saat itu  akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana dikemukakan dalam   firman-Nya di awal Surah Bani Israil:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ    --  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha    yang   sekelilingnya telah Kami berkati,  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا --  supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ --     sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
        Salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran  bahwa untuk  ini mengemukakan salah satu misal semacam itu:   وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا  --   “Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.”
     Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika  Nabi Besar Muhammad saw. selagi membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli berhala-berhala (Bukhari), sebagaimana 3000 tahun sebelumnya pernah dilakukan Nabi Ibrahim a.s. terhadap  patung-patung berhala sembahan kaum beliau a.s. (QS.21:52-76; QS.37:84-114).
      Dengan demikian sempurnakan  doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. – bersama putera beliau, Nabi Ismail a.s.   –  3000 tahun sebelumnya pada saat membangun kembali Ka’bah (Baitullah) agar Allah Swt. membangkitkan seorang Rasul-Nya  di kalangan penduduk Mekkah (Bani Isma’il)  yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130; QS.62:3).

Makna Kata  “Bertasbih” (Sabbaha/Yusabbihu)

      Kembali kepada firman Allah  dalam surah Al-Muzzammil  ayat 2-7 berkenaan dengan perintah mendirikan  shalat tahajjud kepada Nabi Besar Muhammad saw., isyarat dalam ayat 8:  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --     “Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang,”    tertuju kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar   Muhammad saw.   yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela dan gembira dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw.  merasa amat senang sekali, inilah makna kata sab-han (Lexicon Lane)   -- yang identik dengan kata sabbaha, yusabbihu  berkenaan dengan bertasbihnya para malaikat kepada Allah Swt., firman-Nya:
سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Menyanjung kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Hadīd [57]:2). Lihat pula   QS.17:45; QS.24:42;   QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2).
     Sabbaha fī hawā’ijihi artinya:  ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya. Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan Subhānallāh (Maha Suci  Allah) menyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para malaikat.
   Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya  menyatakan bahwa Allah Swt. itu  jauh dari segala kekurangan atau aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah Swt. dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
  Oleh karena itu ayat ini berarti bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan (dikaruniakan) m Allah kepadanya, memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib,  sehingga kita  mau tidak mau  harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini  -- yakni Allah Swt.   -- sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa   alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa alam semesta karya cipta Allah  Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.

Keserasian Tatanan Alam Semesta

   Itulah maksud kata tasbih (sabbaha/yusabbihu)   para malaikat kepada Allah Swt.,  sehingga tatanan alam semesta ini  bebas dari cacat atau kekurangan dalam segala sesinya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  تَبٰرَکَ الَّذِیۡ  بِیَدِہِ  الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ  خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ  اَیُّکُمۡ  اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾  ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ  یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.      Maha Berbarkat  Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,   Yang menciptakan kematian dan kehidupan,  supaya Dia menguji kamu  siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan   Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,  الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا --   Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi.  مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ  -- Engkau tidak akan melihat di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan,  فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ  -- maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu  cacat? ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ    --  Kemudian pandanglah untuk kedua kali, یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ   --  penglihatan engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan  ia letih, (Al-Mulk [67]:1-5).
   Hukum hidup dan mati berlaku di seluruh alam. Tiap-tiap makhluk-hidup tunduk kepada kehancuran dan kematian. Kata “kematian” di sini seperti juga dalam ayat QS.2:29 dan QS.53:45, disebut sebelum kata “kehidupan.” Alasannya ialah, rupa-rupanya kematian atau tanpa-wujud itu merupakan keadaan sebelum ada kehidupan, atau mungkin karena “mati” itu lebih penting dan lebih besar artinya daripada “hidup,” karena kematian membukakan kepada manusia pintu gerbang kehidupan kekal dan kemajuan ruhani yang tidak berhingga di akhirat, sedang kehidupan di dunia ini hanyalah suatu tempat persinggahan sementara dan merupakan suatu persiapan bagi kehidupan kekal lagi abadi di balik kubur (akhirat  -- QS. 87:16-20; QS.93:5).
  Kata thibāq  dalam ayat: الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا --    ”yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi      bersamaan arti dengan thabāq dan dengan jamaknya athbāq. Orang mengatakan sesuatu ini thabāq atau thibāq bagi  sesuatu itu, yakni sesuatu ini berpasangan dengan itu atau sejenis itu dalam ukuran atau mutunya, dan sebagainya. Thibāq berarti juga tingkat (Lexicon Lane).

Tiang Penunjang Alam Semesta  yang Tak Kelihatan

   Sungguh menakjubkan keserasian alam semesta ciptaan Allah  Swt. itu. Tatasurya yang di didalamnya bumi kita hanya merupakan anggota kecil itu sangat luas, bermacam-macam dan teratur su-sunannya, namun demikian tatasurya itu hanyalah merupakan salah satu dari ratusan juta tatasurya yang beberapa di antaranya jauh lebih besar lagi daripada tatasurya kita ini.
     Namun milyaran matahari dan bintang itu begitu rupa diatur dan disebar dalam hubungan satu sama lain, sehingga di mana-mana menimbulkan keserasian dan keindahan.  Adanya tertib (ketertiban) yang menutupi dan meliputi seluruh  alam itu  jelas nampak kepada mata tanpa bantuan alat apa pun dan tersebar jauh melewati jangkauan pandangan yang dibantu oleh segala macam alat dan perkakas yang dunia ilmu dan teknik telah mampu menciptakannya.
   Semua itu terjadi karena  segala sesuatu di alam semesta   -- mulai yang paling kecil sampai yang terbesar   -- semuanya  menyanjung kesucian  Allah Swt. (bertasbih kepada Allah Swt.) yakni  melaksanakan semua perintah Allah Swt.  yang telah ditetapkan-Nya bagi mereka masing-masing (QS.35:2; QS.37:165-167; QS.41:10-13; QS.66:7). Kemudian Allah Swt. berfirman  lagi:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya, ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ  --   kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy.  Dan Dia  telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut arah perjalanannya  hingga suatu masa yang telah ditetapkanیُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ --   Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu,  لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ -- supaya kamu berkeyakinan teguh mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan)  kamu. (Ar-Rā’d [13]:3). Lihat pula  QS.32:11.
       Kata-kata   اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- “Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya” itu berarti: 
       (1) Kamu  melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang;
       (2) bahwa seluruh langit berdiri tidak atas tiang-tiang yang dapat kamu lihat.
Artinya, seluruh langit itu mempunyai pendukung (penopang)  tetapi kamu tidak dapat melihatnya. Secara harfiah ayat itu berarti  bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang itu tidak nampak kepada mata manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan khusus planit-planit atau cara-cara lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin akan ditemukan lagi di hari depan. 

Kesempurnaan Tasbih Nabi Besar Muhammad Saw.

     Kata ‘Arsy (singgasana) dalam ayat:  ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ  --   “kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy    telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan proses membawa hukum-hukum ruhani atau jasmani kepada kesempurnaannya. Penggunaan ungkapan itu selaras dengan kebiasaan raja-raja dunia, mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi penting  dari “singgasana” serta mengatur segala sesuatu berkenaan berputarnya  roda pemerintahannya:  یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ – ”Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu,  لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ – “supaya kamu berkeyakinan teguh mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan)  kamu.”
      Kembali kepada firman Allah  dalam surah Al-Muzzammil  ayat 2-7 berkenaan dengan perintah mendirikan  shalat tahajjud kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  sehubungan  dengan  kata sab-han (sabbaha/yusabbihu)  dalam ayat 8:  اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا  --     “Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang,”    tertuju kepada aneka ragam kewajiban  Nabi Besar   Muhammad saw. yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela dan gembira dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw.  merasa amat senang sekali, inilah makna kata sab-han (Lexicon Lane).
       Dari seluruh  makhluk Allah Swt.  wujud yang paling sempurna dalam melakukan tasbih, tahmid,   tahlil dan takbir      terhadap Allah Swt.   – bahkan melebihi para malaikat (QS.2:31-35)   -- adalah Nabi Besar Muhammad saw., yang semata-mata untuk kepentingan beliau saw. itulah Allah Swt. telah menciptakan alam semesta ini, Dia berfirman: “Law laka lamā  khalaqtul aflak   -- kalau bukan karena engkau tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini” (Hadits Qudsi).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 7 Agustus    2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar