Bismillaahirrahmaanirrahiim
HAKIKAT DOA
KESIBUKAN PENGKHIDMATAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & MAKNA “BERTASBIH” PARA MALAIKAT
KEPADA ALLAH SWT.
Bab 17
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab 16 telah dijelaskan mengenai doa
yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebelum peristiwa hijrah akibat makar
buruk yang dirancang oleh Abu Jahal dan
kawan-kawannya, وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا -- “Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik”, firman-Nya:
اَقِمِ الصَّلٰوۃَ لِدُلُوۡکِ الشَّمۡسِ اِلٰی غَسَقِ الَّیۡلِ وَ
قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ ؕ اِنَّ قُرۡاٰنَ الۡفَجۡرِ کَانَ
مَشۡہُوۡدًا ﴿﴾ وَ
مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً
لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ
رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ
اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا ﴿﴾ وَ
قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾ وَ
نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dirikanlah shalat sejak matahari condong hingga kegelapan malam dan bacalah Al-Quran pada waktu subuh, sesungguhnya pembacaan Al-Quran pada waktu subuh
disaksikan secara istimewa oleh Allah.” وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ
نَافِلَۃً لَّکَ -- Dan pada sebagian malam,
maka tahajudlah engkau dengan membacanya, suatu ibadah tambahan bagi engkau,
عَسٰۤی
اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا
مَّحۡمُوۡدًا -- boleh jadi Rabb
(Tuhan) engkau akan mengangkat engkau ke
martabat yang sangat terpuji. وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ
مُخۡرَجَ صِدۡقٍ -- Dan katakanlah: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), masukkanlah
daku dengan cara masuk yang baik
serta keluarkanlah aku dengan cara keluar yang baik, وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا
نَّصِیۡرًا -- dan
jadikanlah bagiku dari hadirat Engkau
kekuatan yang menolong. وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ
ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا
ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Dan
Kami menurunkan dari
Al-Quran suatu penyembuh dan rah-mat
bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:79-83).
Pengulangan Penghancuran Patung-patung “Berhala”
Untuk mendahului dan menyambut penyempurnaan
nubuatan ini Nabi Besar Muhammad
saw., diperintahkan mendoa supaya masuknya
beliau saw. ke Medinah dan begitu pula keberangkatan
beliau saw. dari kota Mekkah, di mana
beliau saw. tinggal pada saat itu akan dianugerahi keberkatan yang berlimpah-limpah setelah hijrah ke Madinah, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya di awal Surah Bani Israil:
سُبۡحٰنَ
الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia Yang
memperjalankan hamba-Nya pada waktu
malam مِّنَ
الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی
الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ
بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ -- dari Masjid
Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati, لِنُرِیَہٗ
مِنۡ اٰیٰتِنَا -- supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- sesungguhnya
Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
Salah
satu mukjizat gaya bahasa
Al-Quran bahwa untuk ini mengemukakan salah satu misal semacam itu: وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ
الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- “Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika Nabi Besar Muhammad saw. selagi membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang
mengucapkan ayat tersebut sementara beliau memukuli
berhala-berhala (Bukhari),
sebagaimana 3000 tahun sebelumnya pernah dilakukan Nabi Ibrahim a.s.
terhadap patung-patung berhala sembahan kaum
beliau a.s. (QS.21:52-76; QS.37:84-114).
Dengan demikian sempurnakan doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. – bersama putera beliau, Nabi Ismail
a.s. –
3000 tahun sebelumnya pada
saat membangun kembali Ka’bah (Baitullah)
agar Allah Swt. membangkitkan seorang
Rasul-Nya di kalangan penduduk Mekkah (Bani
Isma’il) yaitu Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.2:128-130; QS.62:3).
Makna Kata “Bertasbih” (Sabbaha/Yusabbihu)
Kembali kepada firman Allah dalam surah Al-Muzzammil ayat 2-7
berkenaan dengan perintah mendirikan shalat tahajjud kepada Nabi Besar
Muhammad saw., isyarat dalam ayat 8: اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا -- “Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang,” tertuju
kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar Muhammad saw. yang
dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela
dan gembira dan yang dalam
melaksanakannya hati beliau saw. merasa
amat senang sekali, inilah makna kata
sab-han (Lexicon Lane) -- yang identik dengan kata sabbaha, yusabbihu berkenaan dengan bertasbihnya para malaikat kepada Allah Swt., firman-Nya:
سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit
dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana
(Al-Hadīd [57]:2). Lihat pula QS.17:45; QS.24:42; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2).
Sabbaha fī hawā’ijihi artinya: ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah,
atau sibuk dalam urusannya. Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau
mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan
ungkapan Subhānallāh (Maha
Suci Allah) menyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan menaati
perintah-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para malaikat.
Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda
infinitif) tasbih dari sabbaha artinya menyatakan bahwa Allah Swt. itu jauh dari
segala kekurangan atau aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah Swt. dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
Oleh karena itu ayat ini berarti
bahwa segala sesuatu di alam semesta
sedang melakukan tugasnya masing-masing
dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan
(dikaruniakan) m Allah kepadanya, memenuhi tujuan
ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib, sehingga kita
mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek
alam semesta ini -- yakni Allah Swt. -- sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana,
dan bahwa alam semesta
secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing,
memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri,
bahwa alam semesta karya cipta Allah Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan,
aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.
Keserasian Tatanan Alam Semesta
Itulah maksud kata tasbih
(sabbaha/yusabbihu) para malaikat kepada Allah Swt., sehingga tatanan alam semesta ini bebas dari cacat atau kekurangan dalam segala sesinya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
تَبٰرَکَ الَّذِیۡ بِیَدِہِ الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ اَیُّکُمۡ
اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾
ثُمَّ ارۡجِعِ
الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ
الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Maha Berbarkat Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan Dia
Maha Perkasa, Maha Pengampun, الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ
طِبَاقًا -- Yang
telah menciptakan tujuh tingkat
langit dengan serasi. مَا
تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ
-- Engkau tidak akan melihat
di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan, فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ
-- maka lihatlah berulang-ulang,
apakah engkau melihat sesuatu cacat? ثُمَّ ارۡجِعِ
الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ -- Kemudian pandanglah
untuk kedua kali, یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ
خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ -- penglihatan
engkau akan kembali kepada engkau dengan
tunduk dan ia letih, (Al-Mulk [67]:1-5).
Hukum hidup dan mati berlaku di seluruh alam. Tiap-tiap makhluk-hidup tunduk kepada kehancuran dan kematian. Kata “kematian”
di sini seperti juga dalam ayat QS.2:29 dan QS.53:45, disebut sebelum kata “kehidupan.” Alasannya ialah,
rupa-rupanya kematian atau tanpa-wujud itu merupakan keadaan
sebelum ada kehidupan, atau mungkin
karena “mati” itu lebih penting dan
lebih besar artinya daripada “hidup,”
karena kematian membukakan kepada manusia pintu
gerbang kehidupan kekal dan kemajuan
ruhani yang tidak berhingga di akhirat,
sedang kehidupan di dunia ini
hanyalah suatu tempat persinggahan
sementara dan merupakan suatu persiapan
bagi kehidupan kekal lagi abadi di balik kubur (akhirat -- QS.
87:16-20; QS.93:5).
Kata thibāq dalam
ayat: الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا -- ”yang
telah menciptakan tujuh tingkat
langit dengan serasi” bersamaan arti dengan thabāq dan dengan
jamaknya athbāq. Orang mengatakan sesuatu ini thabāq atau thibāq
bagi sesuatu itu, yakni sesuatu ini berpasangan dengan itu atau sejenis itu dalam ukuran atau mutunya,
dan sebagainya. Thibāq berarti juga tingkat (Lexicon Lane).
Tiang Penunjang Alam Semesta yang Tak Kelihatan
Sungguh
menakjubkan keserasian alam semesta ciptaan Allah Swt. itu. Tatasurya
yang di didalamnya bumi kita hanya merupakan anggota kecil itu sangat luas,
bermacam-macam dan teratur su-sunannya, namun demikian tatasurya itu hanyalah merupakan salah satu dari ratusan juta tatasurya yang beberapa di
antaranya jauh lebih besar lagi daripada tatasurya
kita ini.
Namun milyaran matahari dan bintang itu begitu rupa diatur dan disebar dalam hubungan satu
sama lain, sehingga di mana-mana menimbulkan keserasian dan keindahan.
Adanya tertib (ketertiban) yang menutupi dan meliputi seluruh alam itu jelas nampak kepada mata tanpa bantuan alat
apa pun dan tersebar jauh melewati jangkauan pandangan yang dibantu oleh segala
macam alat dan perkakas yang dunia ilmu dan teknik telah mampu menciptakannya.
Semua itu terjadi karena segala
sesuatu di alam semesta -- mulai yang paling kecil sampai yang terbesar -- semuanya
menyanjung kesucian Allah Swt. (bertasbih kepada Allah Swt.)
yakni melaksanakan semua perintah
Allah Swt. yang telah ditetapkan-Nya bagi mereka masing-masing
(QS.35:2; QS.37:165-167; QS.41:10-13; QS.66:7). Kemudian Allah Swt. berfirman lagi:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ
بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ
اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ
یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu
melihatnya, ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- kemudian Dia
bersemayam di atas ‘Arasy. Dan
Dia
telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar
menurut arah perjalanannya hingga suatu masa yang telah ditetapkan. یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ -- Dia
mengatur segala urusan dan Dia
menjelaskan Tanda-tanda itu, لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ -- supaya kamu berkeyakinan
teguh mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan)
kamu. (Ar-Rā’d [13]:3). Lihat pula
QS.32:11.
Kata-kata
اَللّٰہُ
الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- “Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan
seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya” itu
berarti:
(1) Kamu melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa
tiang-tiang;
(2) bahwa seluruh langit berdiri tidak
atas tiang-tiang yang dapat kamu lihat.
Artinya, seluruh langit itu mempunyai
pendukung (penopang) tetapi kamu tidak dapat melihatnya. Secara
harfiah ayat itu berarti bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang oleh tiang-tiang. Secara kiasan
ayat itu berarti, bahwa seluruh langit
atau benda-benda langit memang
memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang itu tidak nampak
kepada mata manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan
khusus planit-planit atau cara-cara lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin
akan ditemukan lagi di hari depan.
Kesempurnaan Tasbih Nabi
Besar Muhammad Saw.
Kata ‘Arsy
(singgasana) dalam ayat: ثُمَّ
اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- “kemudian
Dia bersemayam di atas ‘Arasy” telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan proses membawa hukum-hukum ruhani atau jasmani
kepada kesempurnaannya. Penggunaan
ungkapan itu selaras dengan kebiasaan
raja-raja dunia, mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi
penting dari “singgasana” serta mengatur segala sesuatu berkenaan berputarnya
roda pemerintahannya: یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ – ”Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu, لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ – “supaya kamu berkeyakinan teguh mengenai pertemuan
dengan Rabb (Tuhan) kamu.”
Kembali kepada firman Allah dalam
surah Al-Muzzammil ayat 2-7 berkenaan dengan perintah mendirikan shalat
tahajjud kepada Nabi Besar Muhammad saw.,
sehubungan dengan kata sab-han
(sabbaha/yusabbihu) dalam ayat 8: اِنَّ
لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا -- “Sesungguhnya
engkau di waktu siang memiliki kesibukan
yang panjang,” tertuju kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar
Muhammad saw. yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan
rela dan gembira dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw. merasa amat senang sekali, inilah makna kata sab-han (Lexicon Lane).
Dari seluruh
makhluk Allah Swt. wujud
yang paling sempurna dalam melakukan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir terhadap Allah Swt. – bahkan
melebihi para malaikat (QS.2:31-35) -- adalah
Nabi Besar Muhammad saw., yang
semata-mata untuk kepentingan beliau saw. itulah Allah Swt. telah menciptakan alam semesta ini, Dia
berfirman: “Law laka lamā khalaqtul aflak -- kalau bukan karena engkau tidak akan Aku
ciptakan alam semesta ini” (Hadits Qudsi).
(Bersambung)
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 7 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar