Senin, 01 Agustus 2016

Hubungan "Tangisan Bayi" Dengan Keberadaan "Air Susu Ibu" & Hubungan "Cucuran Air Mata" Dengan "Pengabulan Doa" Oleh Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


HAKIKAT DOA



 HUBUNGAN TANGISAN BAYI DENGAN KEBERADAAN AIR SUSU IBU&  HUBUNGAN CUCURAN AIR MATA DENGAN PENGABULAN DOA OLEH ALLAH SWT.


Bab 13


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam   Bab 12 sebelumnya telah dijelaskan   sabda Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan pendapat keliru Sir Sayid Ahmad Khan  dalam menafsirkan  masalah pengabulan doa dalam firman-Nya: ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ   --“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61), sebagaimana juga firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ  --  maka sesungguhnya Aku dekat. اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
         Sehubungan pendapat keliru  Sir Ahmad Khan  berkenaan dengan firman Allah Swt.:   اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,” dalam buku   “Barakatud-Du’a” (Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s.   menjelaskan:
      “Wahai engkau  tawanan intelek  sendiri, janganlah berbangga dengan diri engkau, karena alam semesta yang indah telah banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka yang terasing dari Tuhan tak akan pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia Sang Kekasih hanya dibuka bagi mereka yang datang dari surga. Mencoba sendiri menduga rahasia Al-Quran adalah kebodohan, yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan   kotoran semata.”
      Dalam buku kecilnya    Sayid Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
     “Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon akan selalu mendapat apa yang dimintanya. Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan doa maka akan muncul dua bentuk kesulitan:
     Kesulitan pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah hati ternyata tidak dipenuhi, berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa manusia.
    Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir. Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan, maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61),  tidak berlaku pada permohonan yang tidak ditetapkan takdirnya.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  5, London, 1984).

Hubungan Tangisan Bayi dengan Air Susu Ibu

      Dalam kesempatan lain  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan hubungan  doa dengan pengabulannya oleh Allah Swt.: 
       Ketika seorang anak (bayi) menangis karena dorongan lapar perutnya, maka susu segera dihasilkan di dada ibunya. Anak  (bayi) itu tidak tahu apa yang namanya doa tetapi tangisnya telah menghasilkan susu. Hal ini merupakan suatu hal yang bersifat universal. Terkadang meski si ibu tidak menyadari adanya susu di dadanya, tangis si anak akan membantunya menghasilkan susu. Lalu apakah tangis kita di hadapan Tuhan tidak akan menghasilkan apa pun?
      Sesungguhnya tangis itu akan menarik segalanya, namun mereka yang buta matanya -- yang memperagakan dirinya sebagai cendekiawan dan filosof -- tidak mampu melihatnya. Bila kita renungi falsafah  dari doa, dengan merujuk pada hubungan antara ibu dengan anaknya, hal ini sebenarnya mudah dipahami.
       Bentuk kedua dari rahmat,  ia akan datang setelah mengajukan permohonan doa. Tetaplah kalian meminta dan kalian akan terus menerima.
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61),  bukanlah suatu istilah kosong, tetapi merupakan bagian dari karakteristik fitrat manusia.
     Manusia bagiannya (kewajibannya) adalah memanjatkan doa, sedangkan Tuhan bagian yang mengabulkan. Ia yang tidak memahaminya dan tidak meyakininya sesungguhnya ia dusta. Ilustrasi tentang anak kecil di atas sudah memperjelas falsafah doa secara gamblang.(Malfuzat, jld. I, hlm.  129-130).
       Sehubungan dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai keterkaitan “keteraniayaan” dengan “pengabulan doa”, firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ  فِیۡ  ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا  بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ  اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمَّنۡ یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ  یُعِیۡدُہٗ  وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ   مَّعَ  اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ  اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya,  dan melenyapkan keburukan,  dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu  mendapat pelajaran.   Atau  siapakah yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan.   Atau siapakah yang  memulai menciptakan makhluk  kemudian mengulanginya dan  siapakah yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti-buktimu jika kamu orang-orang benar.”   Katakanlah:  ”Kecuali Allah, tidak ada seorang pun di seluruh langit dan bumi mengetahui yang gaib, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟  --   Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya,  بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا  -- tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu,  بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ --  bahkan mengenainya mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:63-67). 

Mengabulkan Doa Orang yang “Sengsara

       Makna   ayat 62 berkenaan   kalimat  الۡمُضۡطَرَّ  -- “orang yang sengsara”  dalam firman-Nya:
اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ  ﴿ؕ﴾
Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya,  dan melenyapkan keburukan,  dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Sedikit sekali kamu  mendapat pelajaran (Asy-Syu’arā [27]:63-67). 
     Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan besar Allah  Swt. terjelma di dalam keajaiban bekerjanya hukum-hukum alam, demikianlah kekuasaan-kekuasaan-Nya  itu pun terwujud pula dalam katahati atau kesadaran batin manusia, ketika ia menangis kepada Allah Swt. sementara jiwanya tengah merana, dan Dia mendengar jeritannya, sebagaimana firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku  maka sesungguhnya Aku dekat.    Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,  karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
Firman-Nya lagi:
اُدۡعُوۡا رَبَّکُمۡ  تَضَرُّعًا  وَّ خُفۡیَۃً ؕ اِنَّہٗ  لَا یُحِبُّ  الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Berdoalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya  Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas (Al-A’rāf [7]:56).

Tiada Tuhan Pencipta  dan Pemelihara  Alam Semesta Kecuali Allah Swt.

         Kemudian mengenai makna kata rīh (angin) dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:
اَمَّنۡ یَّہۡدِیۡکُمۡ  فِیۡ  ظُلُمٰتِ الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ وَ مَنۡ یُّرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا  بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ ءَ  اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ تَعٰلَی اللّٰہُ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Atau  siapakah yang memberi petunjuk kepada kamu dalam musibah di daratan dan lautan, dan siapakah yang mengirimkan angin  sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Adakah tuhan lain bersama Allah? Maha Tinggi Allah di atas apa yang mereka persekutukan  (Asy-Syu’arā [27]:64).    
  Bila kata rīh (angin) digunakan dalam bentuk mufrad (tunggal) maka pada umumnya diartikan azab Ilahi (QS.17:70; QS.54:20; QS.69:7 dan sebagainya). Akan tetapi bila digunakan dalam bentuk jamak maka pada umumnya berarti rahmat Ilahi. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَمَّنۡ یَّبۡدَؤُا الۡخَلۡقَ ثُمَّ  یُعِیۡدُہٗ  وَ مَنۡ یَّرۡزُقُکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ   مَّعَ  اللّٰہِ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ﴿﴾
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk  kemudian mengulanginya dan siapakah yang memberi kamu rezeki dari awan dan bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti-bukti kamu jika kamu orang-orang benar.” (Asy-Syu’arā [27]:65).   
       Kata-kata  mula-mula menciptakan makhluk, kemudian mengulanginya, ber-arti penciptaan dan pembiakan. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّا یَعۡلَمُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الۡغَیۡبَ  اِلَّا اللّٰہُ ؕ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ  اَیَّانَ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  بَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:  Kecuali Allah, tidak ada seorang pun di seluruh langit dan bumi mengetahui yang gaib, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkanبَلِ ادّٰرَکَ عِلۡمُہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۟ بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ شَکٍّ  مِّنۡہَا ۫۟ بَلۡ  ہُمۡ  مِّنۡہَا عَمُوۡنَ  -- Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka mengenai akhirat telah sampai kepada batasnya, tetapi mereka dalam keragu-raguan mengenai itu, bahkan mengenainya mereka buta. (Asy-Syu’arā [27]:66-67). 

Meraih  Kesuksesan Melalui Sabar dan Doa (Shalat)

     Makna ayat 67, bahwa pengetahuan dan akal saja, tidak dapat melepaskan kerinduan jiwa manusia, tidak dapat pula secara meyakinkan membuktikan adanya Tuhan dan adanya kehidupan sesudah mati, kedua Rukun Iman yang pokok itu, sebab pengertian yang sepenuhnya ada di luar jangkauan akal manusia. Hanya makrifat yang diperoleh dengan perantaraan wahyu Ilahi sajalah yang dapat menimbulkan dan memang benar-benar menimbulkan keyakinan dalam pikiran manusia tentang hal itu.
     Pengetahuan manusia mengenai Allah Swt. dan alam akhirat dengan semujur-mujurnya hanya dapat menjurus kepada kesimpulan, bahwa memang mungkin Dzat Ilahi dan kehidupan  sesudah mati (akhirat) itu ada, tetapi hanya wahyu Ilahi sajalah yang dapat mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian, demikian juga  keyakinan tersebut akan timbul melalui pengabulan doa.
       Sehubungan dengan masalah  tersebut lebih lanjut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
Justru pada saat timbul cobaan maka sifat dan pengaruh doa yang ajaib akan dimanifestasikan (dijelmakan). Sesungguhnya Tuhan kita hanya bisa dikenali melalui doa.” (Malfuzat, jld. I, hlm. 201).
      Berkenaan  pentingnya serta manfaat  keberadaan ujian-ujian keimanan   dalam kehidupan ini  -- sebagaimana dikemukakan dalam  firman Allah Swt. sebelumnya  --  dalam surah lain    Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ  --   mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat,  اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ  -- sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ  --  Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ  --  tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --   Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahanوَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ   -- dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ    --  Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ --  mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ  --  Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari  Rabb (Tuhan) mereka ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ  --  dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:154-158).
   Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).

Tetap “Hidupnya” Orang-orang yang Mati di Jalan Allah

       Surah Al-Baqarah ayat 154   mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan:
     Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
      Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt. untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.sajalah Sumber segala kebaikan.
     Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan, yakni sesuai dengan Sifat Rububiyat   Allah Swt. yang menciptakan tatanan alam semesta  ini  melalui rangkaian  hukum sebab-akibat  (QS.1:2).
       Ahya dalam ayat:   وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ   -- “Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari,”  kata ahya itu jamak dari hayy yang antara lain berarti:
       (1) seseorang dengan amal yang diperbuat selama hidupnya tidak menjadi sia-sia;
         (2) orang yang kematiannya dituntut balas.
    Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa, yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum.  Yakni suatu kaum yang tidak menghargai pahlawan-pahlawan yang telah syahid secara sepatutnya dan tidak mengambil langkah-langkah untuk melenyapkan rasa takut mati dari hati mereka, sebenarnya telah menutup masa depan mereka sendiri.

Ucapan Keteguhan Iman Pada Tauhid Ilahi

     Ayat   "Mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali ini merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa kita di jalan Allah Swt.,  daripada membuat kita putus asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup kita.
   Jadi  rumusan yang ada dalam ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan bertuah belaka, melainkan suatu nasihat yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya:  وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ   -- dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ --  mereka berkata:  ”Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari  Rabb (Tuhan) mereka ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ  --  dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah [2]:156-158).
  Allah Swt.  adalah Pemilik segala yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri. Bila Sang Pemilik itu   --  sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya  -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu dari kita, kita tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah atau menggerutu, melainkan harus tetap teguh melangkahkan kaki di jalan-Nya firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتُمۡ  اَنۡ تَدۡخُلُوا الۡجَنَّۃَ وَ لَمَّا یَاۡتِکُمۡ مَّثَلُ الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلِکُمۡ ؕ مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا حَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ ﴿﴾
Ataukah  kamu menganggap bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepada kamu seperti keadaan orang-orang yang telah berlalu sebelummu? مَسَّتۡہُمُ الۡبَاۡسَآءُ  وَ الضَّرَّآءُ وَ زُلۡزِلُوۡا  --   Kesusahan dan kesengsaraan menimpa mereka dan mereka digoncang dengan hebatحَتّٰی یَقُوۡلَ الرَّسُوۡلُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ  --   sehingga rasul dan orang-orang yang beriman besertanya akan berkata: “Kapankah pertolongan Allah?”  اَلَاۤ اِنَّ نَصۡرَ اللّٰہِ  قَرِیۡبٌ --    Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah   dekat (Al-Baqarah [215).

Bukan Tanda “Keputus-asaan” Melainkan Cara Memohon Kepada Allah Swt.

   Penerimaan ajaran Islam bukan sesuatu yang mudah dan orang-orang Islam diperingatkan bahwa mereka akan terpaksa melalui cobaan, ujian, dan kesengsaraan yang berat dalam berjihad di jalan Allah sebelum mereka dapat berharap mencapai cita-cita agung mereka.
  Teriakan penuh kerawanan minta pertolongan dalam kata-kata: مَتٰی نَصۡرُ  اللّٰہِ    --  “Kapankah pertolongan Allah?” Tidak berarti keputus-asaan,  sebab sikap putus-asa di pihak seorang nabi Allah dan para pengikutnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan iman sejati (QS.12:88). Kata-kata itu sesungguhnya merupakan doa — satu cara memohon kepada Allah Swt.  dengan sungguh-sungguh agar cepat-cepat menurunkan pertolongan-Nya.
Senada dengan ayat tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai  pentingnya memiliki keteguhan iman dalam berjihad di jalan Allah Swt. serta tetap berpegang teguh pada Tauhid Ilahi,  firman-Nya:
 وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ   َلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ لِنَفۡسٍ اَنۡ تَمُوۡتَ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ کِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ؕ وَ مَنۡ یُّرِدۡ ثَوَابَ الدُّنۡیَا  ُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یُّرِدۡ  ثَوَابَ الۡاٰخِرَۃِ نُؤۡتِہٖ مِنۡہَا ؕ وَ سَنَجۡزِی الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ ۚ فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan   Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh  telah berlalu  yakni  wafat rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik  atas kedua tumitmu (murtad)?     Dan barangsiapa berbalik  atas kedua tumitnya maka ia tidak akan pernah  memudaratkan Allah sedikit pun.  Dan Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.   Dan suatu jiwa sekali-kali tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, suatu ketetapan yang ditentukan jangka waktunya.  Dan barangsiapa menginginkan pahala dunia Kami akan memberi dia darinya, dan barangsiapa menginginkan pahala akhirat Kami akan memberi dia  darinya, dan Kami segera akan meng-ganjar orang-orang yang bersyukur.  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ  --  Dan betapa banyak  nabi   telah berperang bersama dia sejumlah besar  pengikutnya  فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ     --    tetapi   mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah  dan mereka sekali-kali tidak lemah    dan tidak pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.    وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dan sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu melainkan   berkata:  ”Ya  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami,  dan keberlebih-lebihan kami  dalam urusan kami, dan teguhkanlah lang-kah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --      Maka Allah memberikan  kepada  mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar  (Ali ‘Imran [3]:145-149).

Keutamaan  Martabat Ruhani Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a.

   Makna ayat 145  bahwa kabar angin tersebar di Uhud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  syahīd. Ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa meskipun kabar itu tidak benar, tetapi seandainya pun beliau saw.   benar dan pada hakikatnya telah syahīd, hal itu tidak boleh menjadikan keimanan orang-orang beriman goyah. Sebab Nabi Besar Muhammad saw.  hanyalah seorang nabi Allah, dan sebagaimana semua nabi Allah  sebelum beliau saw.  telah wafat  -- termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119; QS.21:35)   --  maka beliau saw. pun pasti akan wafat. Tetapi Allah Swt.,  Tuhan  milik  Islam itu Hidup kekal.
      Tercantum dalam tarikh bahwa tatkala  Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar wafat, maka Umar  bin Khaththab r.a. berdiri di Masjid Medinah dengan pedang terhunus di tangan beliau dan berkata: “Barangsiapa mengatakan Rasulullah  saw.  wafat, akan aku penggal batang lehernya. Beliau tidak wafat, melainkan telah pergi kepada Tuhan-nya  seperti halnya Nabi Musa a.s.  pernah pergi kepada Tuhan-nya dan beliau niscaya akan kembali lagi untuk menghukum orang-orang munafik!”
      Abu Bakar Shiddiq  r.a. setiba di tempat peristiwa itu, dengan tegas menyuruh Umar  bin Khaththab r.a.  duduk tetapi tidak digubris, dan sementara  Abu Bakar Shiddiq  r.a. memberi wejangan kepada orang-orang Muslim yang telah berkumpul di masjid  -- yang juga dilanda kesedihan luar biasa seperti halnya  Umar  bin Khaththab  r.a.   --  beliau membacakan ayat ini juga: وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ  -- “Dan  Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh  telah berlalu  yakni  wafat rasul-rasul sebelumnya….”
        Ayat tersebut meyakinkan mereka bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   benar-benar  telah wafat, dan dengan demikian mereka diliputi oleh kesedihan yang sangat mendalam. Bahkan  Umar  bin Khaththab r.a. yang sebelumnya tidak mau duduk sambil tetap memegang pedang  mondar-mandir pun akhirnya  terjatuh lemas.   

Semua Nabi Allah Telah Wafat Termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Ayat ini sambil lalu membuktikan bahwa semua nabi Allah  sebelum   Nabi Besar Muhammad saw   telah wafat, sebab  sekiranya seorang di antaranya masih hidup – yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   --  maka ayat ini sekali-kali tidak akan ditukil (dirujuk) oleh Abu Bakar Shiddiq  r.a.  sebagai bukti tentang wafatnya  Nabi Besar Muhammad saw.. 
     Sebenarnya Islam tidak mengandalkan kehidupannya atas seseorang, betapa pun besarnya orang itu.  Allah Swt. adalah Pembinanya dan Dia-lah Pemeliharanya serta  Penjaganya. Tetapi ayat ini tidak boleh diartikan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. dapat syahīd dalam peperangan atau di tangan seorang pembunuh, sebab kepada beliau saw. dijanjikan perlindungan Ilahi dari segala bahaya yang mengancam jiwa beliau saw. (QS.5:68).
       Musuh bersuka ria ketika kabar angin itu tersebar ke mana-mana bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. syahīd dalam Perang Uhud, tetapi hal itu ternyata merupakan suatu rahmat tersembunyi untuk kaum Muslimin. Hal itu mempersiapkan mereka untuk menerima pukulan berat yang kemudian menimpa mereka ketika beliau saw. benar-benar wafat setelah secara sempurna menunaikan tugas kerasuklan beliau (QS.5:4; QS.101:1-4). Jika mereka tidak mendapat pengalaman ini  mereka tak akan mampu menanggungnya.
       Ribbiyyun adalah jamak dari ribbiyy, yang diserap dari kata rabba; untuk itu lihat ayat QS.1:2. Ribbiyy berarti seseorang yang bertalian dengan ribbah, yakni suatu rombongan besar atau sekumpulan manusia yang besar jumlahnya. Jadi, kata itu berarti, mereka yang merupakan suatu rombongan besar atau suatu kelompok besar manusia. Kata itu berarti pula orang-orang berilmu, saleh, dan sabar (Lexicon Lane): وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ نَّبِیٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَہٗ رِبِّیُّوۡنَ کَثِیۡرٌ  --  “Dan betapa banyak  nabi   telah berperang bersama dia sejumlah besar  pengikutnya.” 
        Makna ayat:   فَاٰتٰىہُمُ اللّٰہُ ثَوَابَ الدُّنۡیَا وَ حُسۡنَ ثَوَابِ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --      “Maka Allah memberikan  kepada  mereka pahala duniawi dan juga sebaik-baik pahala akhirat, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”  (Ali ‘Imran [3]:149).  Pahala akhirat itu berbagai-bagai tingkatnya, dan orang-orang beriman yang keadaan mereka selaras dengan gambaran dalam ayat sebelumnya akan mendapat pahala terbaik.
      Kata husna yang dialihbahasakan “sebaik-baiknya” tidak hanya menunjukkan tingkat paling tinggi, tetapi juga dipakai untuk melukiskan arti “kesangatan” secara mutlak: فَمَا وَہَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ      وَ مَا ضَعُفُوۡا وَ مَا اسۡتَکَانُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  یُحِبُّ الصّٰبِرِیۡنَ     --    tetapi  mereka tidak merasa lesu disebabkan kesusahan yang menimpa mereka di jalan Allah  dan mereka sekali-kali tidak lemah    dan tidak pula mereka merendahkan diri di hadapan musuh, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.    وَ مَا کَانَ قَوۡلَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dan sekali-kali tidak lain ucapan mereka itu melainkan   berkata:  ”Ya  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah dosa-dosa kami,  dan keberlebih-lebihan kami  dalam urusan kami, dan teguhkanlah lang-kah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.”  (Ali ‘Imran [3]:147-148).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 Agustus    2016



Minggu, 31 Juli 2016

Ketidak-bersyukuran Manusia Kepada Allah Swt. & Penjelasan Masih Mau'ud a.s. Mengenai "Falsafah Doa dan Pengabulannya" . Dalam Buku "Barakatud-Du'a" (Keberkatan Doa)




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA



KETIDAK-BERSYUKURAN MANUSIA KEPADA ALLAH SWT.  & PENJELASAN MASIH MAUUD A.S. MENGENAI FALSAFAH DOA DAN PENGABULANNYA  DALAM BUKU BARAKATUD-DUA (KEBERKATAN DOA)


Bab 12


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab 10 sebelumnya telah dijelaskan nubuatan Al-Quran mengenai pentingnya “perjalanan laut”,   firman-Nya:
رَبُّکُمُ الَّذِیۡ یُزۡجِیۡ لَکُمُ الۡفُلۡکَ فِی الۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِکُمۡ  رَحِیۡمًا ﴿﴾  وَ اِذَا مَسَّکُمُ الضُّرُّ  فِی الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُوۡنَ  اِلَّاۤ  اِیَّاہُ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىکُمۡ  اِلَی الۡبَرِّ  اَعۡرَضۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ  الۡاِنۡسَانُ کَفُوۡرًا ﴿﴾  اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا  ﴿ۙ﴾  اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ ۙ ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا ﴿٪﴾
Rabb (Tuhan) kamu Dia-lah Yang melayarkan bahtera-bahtera bagi kamu di lautan, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penyayang terhadap kamu.   Dan apabila kemudaratan menimpa kamu di lautan lenyaplah apa   yang kamu seru  kecuali Dia, tetapi tatkala   Dia menyelamatkan kamu sampai ke daratan maka kamu berpaling, dan manusia sangat tidak tahu bersyukur. اَفَاَمِنۡتُمۡ اَنۡ یَّخۡسِفَ بِکُمۡ جَانِبَ الۡبَرِّ اَوۡ یُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ حَاصِبًا ثُمَّ لَا تَجِدُوۡا  لَکُمۡ  وَکِیۡلًا    --       Maka apakah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan kamu   di tepi daratan atau mengirimkan atas kamu taufan pasir  dahsyat kemudian kamu tidak akan memperoleh pelindung bagi dirimu?   اَمۡ  اَمِنۡتُمۡ اَنۡ یُّعِیۡدَکُمۡ فِیۡہِ تَارَۃً  اُخۡرٰی فَیُرۡسِلَ عَلَیۡکُمۡ قَاصِفًا مِّنَ الرِّیۡحِ فَیُغۡرِقَکُمۡ بِمَا کَفَرۡتُمۡ    -- Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikan kamu ke dalamnya untuk kedua kalinya,  lalu Dia mengirimkan kepada kamu hembusan angin taufan maka  menenggelamkan kamu karena kamu kafir?  ثُمَّ لَا  تَجِدُوۡا لَکُمۡ عَلَیۡنَا بِہٖ تَبِیۡعًا  -- Kemudian kamu mengenainya tidak akan memperoleh seorang penolong bagi kamu terhadap azab Kami  وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا   -- Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.  (Bani Israil [17]:67-71).

Keunggulan Bani Adam (Manusia) Sebagai “Khalifah Allah

      Demikianlah keadaan fitrat manusia, bahwa manakala ia ada dalam kesusahan ia merendahkan diri dan mendoa kepada Allah Swt.  serta berjanji dan bersumpah akan menjalani kehidupan yang penuh ketakwaan. Tetapi bila ia telah keluar dari bahaya ia segera kembali menjadi angkuh dan sombong seperti  sediakala serta mempersekutukan Allah Swt. dan menisbahkan  keberhasilan duniawinya kepada kemampuan  dan upaya dirinya sendiri, seperti pengakuan Qarun (QS.28:77-83).
     Makna ayat:     وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ  اٰدَمَ وَ حَمَلۡنٰہُمۡ  فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ وَ رَزَقۡنٰہُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ    -- “Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di     daratan dan di lautan,  dan Kami beri mereka rezeki yang baik-baik,” Allah Swt.   telah memberikan kemuliaan yang sama kepada seluruh anak-cucu Adam  (umat manusia), dan tidak menganak-emaskan suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
       Ayat ini melenyapkan segala anggapan bodoh mengenai perasaan lebih mulia atas dasar warna kulit, paham, darah, atau kebangsaan. Lebih lanjut ayat ini mengemukakan, bahwa semua saluran untuk kemajuan dan kesejahteraan tetap terbuka untuk semua orang, dan bahwa saluran-saluran itu tidak terbatas kepada perjalanan darat, tetapi terbuka pula untuk perjalanan laut.
      Diberi tekanan oleh Al-Quran kepada perjalanan laut nampaknya agak aneh. Kenyataan bahwa kitab yang diwahyukan kepada seorang Arab, lebih-lebih kepada orang Arab seperti  Nabi Besar Muhammad saw.  — yang selama masa hidup beliau saw. tidak pernah mengalami perjalanan laut — telah memberi tekanan yang begitu hebat mengenai pentingnya perjalanan laut, kenyataan tersebut sungguh menunjukkan bahwa Al-Quran itu bukan gubahan beliau saw. sebagaimana yang dituduhkan para penentang dari kalangan Non Muslim (QS.16:104; QS.25:5-6). Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengetahui, dan ketika itu tidak mungkin mengetahui kemanfaatan-kemanfaatan besar yang dapat diperoleh dari perjalanan laut.
      Karena manusia adalah khalifah Allah di permukaan bumi  maka sebagai jenis ia lebih mulia dari semua makhluk yang lain:  وَ فَضَّلۡنٰہُمۡ عَلٰی کَثِیۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِیۡلًا -- “dan Kami melebihkan mereka dengan suatu keutamaan  atas kebanyakan dari yang telah Kami ciptakan.”

Review (Tanggapan)  Masih Mau’ud a.s. atas Buku Sir Sayid Ahmad Khan Sahib K.C.S.I. Berkenaan “Pengabulan Doa

       Kembali kepada masalah pengabulan doa  dan hubungannya dengan kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya dalam  firman-Nya:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku   maka sesungguhnya Aku dekat.  Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Kukarena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
       Sehubungan pendapat keliru  Sir Ahmad Khan  berkenaan dengan firman Allah Swt.:  "Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku,” dalam buku   “Barakatud-Du’a” (Keberkatan Doa) Masih Mau’ud a.s.   menjelaskan:
     “Wahai engkau  tawanan intelek  sendiri, janganlah berbangga dengan diri engkau, karena alam semesta yang indah telah banyak menghasilkan serupa engkau. Mereka yang terasing dari Tuhan tak akan pernah hadir di hadirat-Nya, Rahasia Sang Kekasih hanya dibuka bagi mereka yang datang dari surga. Mencoba sendiri menduga rahasia Al-Quran adalah kebodohan, yang mencoba menafsirkan sendiri hanya menghasilkan   kotoran semata.”
       Dalam buku kecilnya    Sayid Sahib mengemukakan pandangannya bahwa:
     “Pengabulan doa tidak berarti bahwa si pemohon akan selalu mendapat apa yang dimintanya. Jika ini yang dimaksud dengan pengabulan doa maka akan muncul dua bentuk kesulitan:
       Kesulitam pertama, adalah ribuan permohonan yang diajukan secara tulus dan rendah hati ternyata tidak dipenuhi, berarti doa mereka tidak dikabulkan, sedangkan Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa manusia.
     Kesulitan kedua, adalah kenyataan bahwa apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi sudah ditetapkan oleh takdir. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi bertentangan dengan takdir. Jika pengabulan doa berarti sebagai pemenuhan permohonan yang diajukan, maka janji Tuhan yaitu:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
tidak berlaku pada permohonan yang tidak ditetapkan takdirnya.
    Menurut penafsiran di atas maka janji umum mengenai pengabulan doa jadinya tidak benar karena hanya permohonan yang sejalan dengan takdir yang akan dikabulkan, padahal janji pengabulan doa itu bersifat umum dan tidak tunduk pada pengecualian apa pun.
    Beberapa ayat lain mengindikasikan bahwa segala hal yang tidak ditakdirkan tidak akan dikabulkan, sedangkan ayat-ayat lain mengindikasikan bahwa tidak ada permohonan doa yang ditolak dan semuanya akan dikabulkan. Ayat yang menyatakan:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
    Jadi, satu-satunya cara guna menyelesaikan kontradiksi di antara ayat-ayat tersebut adalah dengan menafsirkan pengabulan doa sebagai pengabulan ibadah. Karena itu doa harus ditafsirkan sebagai salah satu bentuk ibadah, yang atasnya terdapat janji Tuhan akan diterima jika dilakukan secara tulus dan penuh hasrat. Pengabulan doa dengan demikian berarti sebagai perolehan nilai lebih dalam bentuk ibadah.
     Dalam hal suatu karunia sudah ditakdirkan dan termasuk yang diminta maka pengabulannya bukan karena doa tetapi karena memang sudah ditakdirkan demikian.  Manfaat utama dari doa ialah jika dengan melalui berdoa hati manusia diarahkan kepada Kebesaran Ilahi dan Kekuasaan-Nya yang tidak terbatas,  sehingga fikirannya akan mampu mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran yang menjadi sumber keresahan, untuk kemudian merasakan munculnya kesabaran dan keteguhan hati.  Kondisi hati demikian dihasilkan oleh ibadah dan inilah yang dimaksud dengan pengabulan doa.”

Pengabulan Doa dan Prinsip Penafsiran Al-Quran 

    Terhadap pendapat keliru  Sir Sayid Ahmad Khan  tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: 
   “Sayid Sahib memperhatikan, bahwa orang-orang yang tidak menyadari realitas doa dan kebijakan yang inheren (melekat) di dalamnya, mereka ini berpandangan bahwa jika sesuatu sudah ditakdirkan tidak akan terjadi, lalu doa jadinya dianggap tidak ada gunanya. Dengan kata lain, apa yang ditakdirkan akan terjadi dengan sendirinya dan akan mewujud --  terlepas apakah diminta atau tidak melalui doa --  dan jika memang tidak ditakdirkan maka seribu doa pun tak akan membantu. Karena itu mereka beranggapan doa itu tidak ada gunanya dan sia-sia adanya.   
      Menjawab hal ini, Sayid Sahib menyatakan bahwa memohon pertolongan di saat kesulitan sudah menjadi karakteristik fitrat manusia dan seseorang berdoa karena fitrat alamiahnya tanpa memikirkan apakah yang dimohonkan itu akan mewujud ataukah tidak. Karena karakteristik demikian itu maka manusia diperintahkah berdoa kepada Tuhan untuk segala hal yang didambakannya.”
    Rangkuman dari pandangan Sayid Sahib ini menggambarkan keyakinan yang bersangkutan bahwa doa tidak bisa menjadi sarana guna mencapai sasaran seseorang dan juga tidak ada pengaruhnya atas hasil kinerja manusia. Manusia dianggap tidak perlu berdoa karena apa yang sudah ditakdirkan tidak akan dapat diubah, sedangkan yang tidak ditakdirkan tidak juga akan dikabulkan. Ketulusan hati dan ketekunan berdoa dianggap tidak ada manfaatnya. Ia menganggap doa hanya sebagai bentuk salah satu ibadah saja, yang tidak ada gunanya sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan khusus.
  Insya Allah kami akan bisa menunjukkan bahwa Sayid Sahib secara menyedihkan telah mensalah-artikan ayat-ayat Al-Quran di atas. Sayang sekali  kami terpaksa menyimpulkan bahwa daya nalar Sayid Sahib belum sampai bisa menggapai tafsir Al-Quran. Apakah ia saat menulis booklet (buku kecil)  itu mengabaikan hukum alam yang katanya selalu ditaatinya karena dianggap merupakan penterjemahan dari bimbingan Ilahi atas misteri tersembunyi dalam Al-Quran?
     Apakah Sayid Sahib tidak menyadari bahwa meskipun tidak ada apa pun -- baik atau pun buruk -- yang bebas dari ketentuan takdir, namun alam telah memberikan sarana-sarana guna mencapai kebaikan atau keburukan dimana efek hakikinya tidak diragukan oleh seorang yang bijak? Sebagai contoh, walau meyakini adanya takdir, tetapi tindakan berusaha memperoleh pengobatan ketika sakit apakah tidak sama dengan upaya berdoa menginginkan sesuatu?
     Apakah Sayid Sahib akan mengatakan juga bahwa ilmu kedokteran tidak ada dasarnya dan semua pengobatan tidak ada artinya? Jika ia berkeyakinan akan hal takdir, tetapi ia masih mempercayai kalau pengobatan tetap masih ada gunanya, lalu mengapa ia mengadakan perbedaan di antara kaidah ini dengan kaidah lainnya yang sejajar?
   Apakah ia meyakini bahwa Tuhan Yang memiliki kekuasaan untuk membekali fitrat beberapa obat-obatan guna menyembuhkan penyakit dalam satu dosis,  atau adanya racun yang seketika bisa memindahkan nyawa manusia dari dunia ini, lalu Dia juga mengabaikan dan menelantarkan permohonan doa dari para hamba pilihan-Nya yang diajukan secara tekun dan tulus?  Apakah mungkin terdapat kontradiksi dalam sistem Ilahi sehingga rancangan Ilahi yang berfungsi bagi kesejahteraan hamba-Nya melalui sarana pengobatan ternyata tidak berlaku dalam masalah pengajuan doa?

Filosofi dan Efektivitas Doa yang Luar Biasa

    Tidak demikian halnya. Sayid Sahib rupanya tidak mengenal filosofi hakiki dari doa dan tidak mempunyai pengalaman pribadi berkaitan dengan efektivitasnya yang demikian luhur. Keadaan yang bersangkutan (Sayid Ahmad) mirip dengan seseorang yang untuk suatu jangka waktu tertentu menggunakan obat-obatan kadaluarsa yang telah kehilangan segala keampuhannya, lalu menyimpulkan bahwa secara umum yang namanya pengobatan itu tidak ada gunanya.
     Sayid Sahib ini sudah berusia lanjut, namun sistem alamiah yang mengatur bahwa takdir itu terkait langsung dengan sarana  rupanya belum sampai dipahaminya. Hal inilah yang menjadikan ia keliru mengambil kesimpulan dengan menyatakan bahwa segala sesuatu bisa berlaku tanpa intervensi (campur-tangan) sarana ruhani dan jasmani yang telah disediakan alam.
     Secara umum, tidak ada sesuatu apa pun yang bebas dari takdir. Seseorang yang mengambil manfaat dari api, udara, air, tanah, gandum, sayuran, hewan atau pun mineral, melakukannya berdasarkan ketentuan takdir. Hanya seorang yang bodoh saja yang akan berkata bahwa tanpa bantuan dari sarana yang diberikan Allah Swt. dan tanpa mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh alam lalu menyatakan bahwa ada yang bisa diperoleh tanpa mediasi (perantaraan) sarana jasmani atau ruhani. Orang seperti itu sesungguhnya mendustakan kebijakan Allah Yang Maha Agung.
      Pengertian dari keseluruhan di atas ini ialah Sayid Sahib menyatakan kalau ia tidak menganggap doa sebagai salah satu sarana efektif, meski eksistensinya (keberadaannya) diakui. Dalam hal ini sebenarnya ia telah melampaui batas. Sebagai contoh, jika ada orang yang menceritakan kepadanya perihal pengaruh api ia tidak akan menyangkalnya. Ia tidak akan menyangkal bahwa seseorang yang ditakdirkan akan terbakar  lalu bisa terbakar tanpa adanya mediasi api. Karena itu aku menjadi heran, karena sebagai seorang Muslim ia menyangkal efektivitas doa yang mampu menerangi kegelapan seperti nyala api dan bahkan terkadang membakar tangan mereka yang jahil.
     Apakah ia sedang mengingat takdir ketika sedang berdoa,  dan melupakannya ketika disebutkan api atau yang sejenisnya? Apakah bukan takdir yang sama yang mencakup keduanya?  Sesungguhnya ia tidak menyadari efek dari doa dan tidak mempunyai pengalaman pribadi berkenaan dengan itu, begitu pula ia tidak beruntung bisa memiliki kedekatan dengan mereka yang memiliki pengalaman demikian.

Mukjizat  Terjadi Berkat Pengabulan Doa

      Subyek pengabulan doa merupakan cabang atau bagian dari subyek sebuah doa. Seseorang yang tidak memahami prinsipnya, tentunya akan kesulitan juga dalam memahami bagian atau cabangnya. Hal inilah yang mendasari kesalahpahaman Sayid Sahib. Dalam prinsip doa terdapat hubungan ketertarikan mutualistis (timbal-balik) di antara seorang hamba yang saleh dengan Tuhan-nya.
       Fitrat Pemurah atau Rahmāniyat Ilahi akan menarik seorang hamba kepada Diri-Nya Sendiri. Lalu dengan ketulusannya hamba ini mendekati Allah Yang Maha Kuasa dimana doa dalam perhubungan seperti itu akan mencapai suatu tingkatan yang memunculkan nilai-nilai yang luar biasa.
  Ketika seorang hamba yang sedang dihimpit kesulitan lalu mendekati Tuhannya dengan keyakinan penuh, harapan, kecintaan yang sempurna, kesetiaan dan keteguhan hati, ia kemudian menjadi waspada serta membuang jauh-jauh segala tirai ketidak-acuhan untuk maju ke tahapan memfanakan (menenggelamkan) dirinya sendiri, maka ia akan melihat hadirat Ilahi dimana Dia tidak mempunyai serikat. Jiwanya akan bersujud di gerbang itu dan kekuatan daya tarik yang menjadi fitrat dirinya akan menarik karunia Allah Swt. kepada dirinya tersebut. Lalu Tuhan Yang Maha Agung akan memenuhi tujuan dari doa tersebut serta menebarkan efek doa di atas segala sarana yang dibutuhkan guna pencapaian tujuan doa.
   Sebagai contoh, jika yang didoakan adalah turunnya hujan, maka bentuk pengabulannya adalah dengan terciptanya sarana alamiah bagi terbentuknya hujan. Kalau yang didoakan adalah mengenai bencana kelaparan maka Allah Swt. akan menciptakan sarana guna mengatasinya
      Sudah dibuktikan secara nyata kepada mereka yang sering mengalami kasyaf bahwa dalam doa seorang yang sempurna akan tercipta kekuatan untuk membentuk. Dengan kata lain, dengan perintah Allah Swt. doa itu mempengaruhi dunia bawah dan atas yang menggerakkan semua unsur-unsur dan benda-benda angkasa serta hati manusia ke arah yang diinginkan. Banyak sekali contoh-contoh mengenai hal ini dalam kitab-kitab suci Allah Swt.

Pengaruh Doa Lebih Besar daripada Api

  Beberapa jenis mukjizat sebenarnya merupakan realisasi  (perwujudan) pengabulan doa. Sumber dari ribuan mukjizat yang dimanifestasikan oleh para  nabi serta keajaiban yang diperlihatkan  orang-orang suci  sebenarnya adalah doa dimana melalui efek doa inilah maka kejadian-kejadian ajaib tersebut mewujud memperlihatkan kekuasaan dari Yang Maha Perkasa.
     Apakah kalian menyadari apa yang terjadi di padang pasir Arabia, dimana ratusan ribu mereka yang mati telah hidup kembali dalam beberapa hari, mereka yang telah membusuk selama beberapa generasi kemudian pulih dengan rona Ilahi, dimana yang buta lalu melihat serta lidah mereka yang kelu mulai dialiri wawasan Ilahi.
     Revolusi seperti itu tidak pernah   terjadi  sebelumnya di dunia, tidak ada yang pernah melihat atau pun mendengar sebelumnya. Semua itu adalah berkat doa yang dilantunkan di kegelapan malam oleh seorang yang sepenuhnya fana (tenggelam) di jalan Allah Swt. Ternyata hasilnya menimbulkan kegemparan di seluruh dunia dan memanifestasikan berbagai keajaiban yang diperkirakan tidak mungkin muncul dari seorang buta huruf yang tak berdaya.
      Ya Allah turunkanlah berkat dan salam atas diri dan pengikutnya sebanding dengan penderitaan dan kesedihannya demi umat dan turunkanlah atas dirinya Nur kasih-Mu selama-lamanya’
   Aku telah mengalami bahwa dampak dari  doa itu lebih besar daripada dampak api atau air. Bahkan sesungguhnya dalam sistem sarana alamiah tidak ada yang lebih besar efeknya (pengaruhnya) dibanding doa.

Sarana Ruhani dan Jasmani

     Kalau ada yang bertanya mengapa ada doa yang tidak dikabulkan dan tidak nampak efeknya secara nyata? Aku akan mengatakan bahwa keadaannya sama juga dengan pengobatan kedokteran. Apakah yang namanya obat kedokteran bisa menutup gerbang kematian, apakah tidak mungkin obat ini gagal dalam pemanfaatannya?
     Namun meski demikian, apakah lalu orang akan menyangkal pengaruhnya? Memang benar bahwa yang namanya takdir itu melingkupi segalanya, namun takdir juga tidak akan mensia-siakan atau mengingkari pengetahuan, tidak juga menjadikan sarana-sarana menjadi tidak berguna.
     Perenungan yang mendalam akan memperlihatkan bahwa sarana jasmani dan sarana ruhani tidak berada di luar takdir. Sebagai contoh, jika nasib seorang pasien nyatanya bagus, maka sarana guna memperoleh pengobatan yang tepat akan menjadi tersedia dan tubuhnya akan memanfaatkan sarana tersebut. Dalam keadaan demikian maka pengobatan menjadi amat efektif.
     Hal yang sama juga berlaku dalam berdoa. Semua sarana dan kondisi bagi pengabulan doa akan muncul saat rancangan Ilahi mengarah kepada pengabulan. Allah Yang Maha Agung telah mempertautkan sistem fisikal dan spiritual dalam urutan rantai kausa (sebab) dan efek yang sama. Adalah suatu kesalahan besar di pihak Sayid Sahib bahwa ia mengakui keberadaan sistem fisikal tetapi mengingkari sistem spiritual.
    Rasanya juga perlu ditambahkan di sini,  bahwa jika Sayid Sahib tidak bertobat atas pandangannya yang salah dan ia meminta bukti dari pengabulan doa, maka aku ini sudah ditugaskan Tuhan untuk mengusir kesalah-pahaman demikian. Aku berjanji bahwa aku akan memberitahukan di muka kepada yang bersangkutan mengenai pengabulan doa-doaku dan akan menerbitkannya berupa cetakan, dengan syarat Sayid Sahib berjanji mengubah pandangannya setelah menyaksikan hasil pernyataanku.

Haruskah Semua Doa Dikabulkan?

      Sayid Sahib menyatakan bahwa dalam Al-Quran diungkapkan kalau Tuhan telah menjanjikan pengabulan semua doa, sedangkan kenyataannya ada juga doa yang tidak dikabulkan. Hal ini merupakan kesalah-pahaman yang bersangkutan atas ayat:
ادۡعُوۡنِیۡۤ   اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ
Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa  kamu” (Al-Mu’min [40]:61)
      Doa yang dimaksud dalam ayat ini sebagai perintah bukanlah doa biasa, tetapi ibadah yang telah menjadi kewajiban. Tidak semua doa merupakan kewajiban. Di beberapa tempa  Allah Yang Maha Luhur memuji mereka yang berhati teguh dimana pada saat ada cobaan, mereka ini berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt..
     Dalam ayat tersebut doa bukan saja diperintahkan tetapi selanjutnya juga dijelaskan bahwa doa itu sebagai ibadah yang jika tidak dilaksanakan akan menghadapi hukuman siksa neraka. Jelas pada kasus doa lainnya peringatan ini tidak ditambahkan. Bahkan dalam beberapa kejadian  para nabi ditegur berkaitan dengan doa mereka. Ayat yang menyatakan:
اِنِّیۡۤ  اَعِظُکَ اَنۡ تَکُوۡنَ  مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ
“Aku nasihatkan kepada engkau supaya engkau jangan termasuk orang-orang yang jahil”  (Hūd [11]:47), adalah sebuah contoh. Ayat ini menunjukkan jika setiap doa merupakan ibadah maka Nabi Nuh a.s. tidak akan ditegur berkenaan dengan doa beliau.
      Dalam beberapa situasi, para nabi dan orang-orang suci menganggap tidak patut untuk memohon. Para muttaqi (orang-orang bertakwa)  mengikuti kata hati mereka berkaitan dengan doa seperti itu, pada saat musibah jika hati mereka menyarankan doa maka mereka akan berdoa, dimana hati mereka menyarankan bersiteguh maka mereka akan bersiteguh dan tidak berdoa. Lagi pula Tuhan tidak ada menjanjikan pengabulan doa dalam segala hal, malah menyatakan bahwa Dia akan mengabulkan bila Dia mau dan akan menolak jika Dia tidak berkenan. Hal ini jelas dikemukakan dalam ayat:
بَلۡ اِیَّاہُ  تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ  اِنۡ شَآءَ
Tidak, bahkan Dia-lah yang akan kamu seru, maka Dia akan menghilangkan apa yang untuk menghilangkannya kamu berseru kepada-Nya, jika Dia menghendaki  (Al-An’ām [6]:42).

Syarat Dikabulkannya Doa

      Meski pun kita menganggap bahwa istilah “Serulah Aku” sebagai doa, kita harus memastikan bahwa yang dimaksud dengan doa adalah yang telah memenuhi semua persyaratan dan keadaan yang dihadapi sudah tak mungkin bisa diatasi manusia kecuali dibantu Tuhan. Kerendahan hati semata tidaklah cukup untuk berdoa, karena juga harus dilambari ketakwaan, kesucian, kejujuran, kepastian, kasih dan perhatian (konsentrasi/tawajuh) yang sempurna.
     Harus pula diperhatikan bahwa yang diminta tidak bertentangan dengan rancangan Ilahi bagi kesejahteraan si pemohon, baik di dunia maupun di akhirat, atau kemaslahatan orang yang didoakan. Acap terjadi, meski semua peryaratan telah dipenuhi, tetapi tujuan yang dimintakan melalui doa sebenarnya bertentangan dengan rancangan Ilahi yang tidak ada gunanya dikabulkan.
     Sebagai contoh, jika seorang anak menangis meminta kepada ibunya untuk diberi api menyala, seekor ular berbisa atau racun yang terlihat enak, maka ibu itu tidak akan mengabulkan permintaannya. Kalau si ibu ini menuruti kehendak anaknya dan si anak mungkin selamat nyawanya tetapi sebagian dari anggota tubuhnya akan menjadi rusak tidak berguna lagi. Bila anak ini dewasa nanti maka ia akan menyesali ibunya yang ceroboh.
     Ada lagi beberapa persyaratan lain yang jika tidak ada maka permohonannya tidak pantas disebut sebagai doa. Sepanjang suatu doa tidak diilhami oleh keruhanian penuh dan tidak ada hubungan dekat di antara ia yang mendoakan dengan orang yang didoakan, kecil sekali harapan akan dikabulkannya doa yang bersangkutan. Kecuali ada perkenan Allah Swt. bagi pengabulan doa, belum semua persyaratan jadinya dianggap telah dipenuhi.
      Sayid Sahib mengakui bahwa karunia di akhirat nanti dalam bentuk berkat, kesenangan dan ketentraman, adalah hasil dari keimanan dan doa yang tulus. Jika demikian, maka Sayid Sahib harus mengakui bahwa doa seorang beriman  akan berpengaruh dan menjadi penyebab diangkatnya musibah serta dicapainya tujuan yang dicari. Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin hal ini akan menolongnya di Hari Penghisaban? Bila doa dianggap tak berguna dan tidak bisa untuk mengangkat (menghilangkan) musibah dalam kehidupan sekarang, bisakah hal itu menjadi penolongnya di Hari Kiamat nanti?
       Kalau mau dikatakan bahwa doa sesungguhnya memiliki potensi memelihara kita dari segala musibah, maka hal itu harus dimanifestasikan di dunia ini juga, dengan demikian keimanan dan harapan kita akan menjadi lebih baik sehingga kita akan menjadi lebih rajin berdoa bagi keselamatan kita di akhirat.
      Jika doa dianggap tidak ada artinya karena apa yang sudah disuratkan takdir pasti akan terjadi, maka sejalan dengan pandangan Sayid Sahib, doa itu tidak ada gunanya menghadapi musibah di dunia, dan dengan sendirinya juga tidak ada gunanya bagi kehidupan di akhirat, dan dengan demikian maka tidak ada harapan lagi.” (Barakatud Dua, Qadian, Riyaz Hind Press, 1310 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. VI, hlm.  5-14, London, 1984).

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo

Pajajaran Anyar, 30 Juli   2016