Selasa, 30 Agustus 2016

Pentingnya "Ta'aarafu" (Saling Mengenal) di Kalangan Bangsa-bangsa dan Pasangan Suami-Istri & Doa "Hamba-hamba" Tuhan Yang Maha Pemurah




Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 34

PENTINGNYA  TAĀRAFU (SALING MENGENAL) DI KALANGAN BANGSA-BANGSA   DAN    PASANGAN SUAMI-ISTRI & DOA HAMBA-HAMBA TUHAN YANG MAHA PEMURAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 33 telah dijelaskan   mengenai  jawaban pengecut Bani Israil terhadap  ajakan Nabi Musa a.s. yang penuh   optimis  untuk memasuki Kanaan –“negeri yang dijanjikan”,  firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
 Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”   Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.”   Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi  maka janganlah eng-kau bersedih atas kaum yang fasik itu.”   (Al-Māidah [5]:25-27).
      “Dua orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan 14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa Nabi Musa a.s.   dan Nabi Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki) mencerminkan citra kejantanan dan keberanian, firman-Nya:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apabila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu   bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” (Al-Māidah [5]:24).
     Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani ini   -- yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.   --  dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s. mendoa bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s.  (QS.5:26). Allah Swt. tidak menyebut nama-nama  keduanya melainkan hanya mengatakan “dua orang laki-laki” sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian keduanya, dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil  yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
      Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Kanaan -  “Tanah Yang Dijanjikan”.

Nasikh dan Mansukh (Penggantian) Dalam Pengabulan Doa

      Sudah dipastikan bahwa  Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. dalam rangka memasuki “negeri yang dijanjikan”  bersama dengan Bani Israil tersebut senantiasa berdoa kepada Allah Swt. agar dapat menggenapi “pewarisan”  negeri Kanaan tersebut, tetapi dalam kenyataannya  -- akibat sikap pengecut Bani Israil  --   pewarisan tersebut ditangguhkan Allah Swt.  selama 40 tahun, dan dalam masa penangguhan tersebut Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s. wafat.
     Namun demikian tidak berarti bahwa doa dan perjuangan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sia-sia. Sehubungan dengan  kenyataan yang seperti  itu   Masih Mau’ud a.s.  bersabda:
     “Aku sering sekali mengalami bahwa ketika Tuhan tidak mau mengabulkan suatu doa, tetapi karena Sifat-Nya Yang Maha Pemurah,  lalu Dia  menerima doa lain yang serupa sebagai gantinya,  sebagaimana dinyatakan oleh-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Tidak tahukah engkau bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’ (Al-Baqarah [2]:107).
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  340, London, 1984).
   Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bentuk “nasikhmansukh” (perubahan) dalam hal pengabulan doa  tersebut:
      Akibat dari ketidak-mengertian maka ada orang yang menganggap bahwa tidak semua permohonan bantuan kepada Allah Swt. akan memberikan hasil,  dan mengira bahwa Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) dan Rahimīyat (Maha Penyayang) Ilahi tidak tercermin dalam bentuk suatu pertolongan.
       Sesungguhnya Tuhan akan mendengar doa yang diajukan secara tulus dan akan membantu mereka yang butuh bantuan menurut cara yang dianggap-Nya patut. Hanya saja terkadang doa dan permohonan bantuan yang diajukan nyatanya tidak dilambari kerendahan hati dan kondisi keruhanian yang bersangkutan tidak sebaik yang diharapkan. Ketika bibirnya komat-kamit melantunkan doa, hatinya sendiri tidak ikut serta atau malah hanya untuk pamer diri semata.
     Tuhan Sendiri mendengar doa orang dan mengaruniakan apa yang menurut Kebijaksanaan-Nya Yang Maha Sempurna hal yang dianggap-Nya patut bagi yang bersangkutan, namun seorang yang bodoh umumnya tidak menyadari karunia tersembunyi yang telah dilakukan Tuhan baginya. Akibat dari ketidaktahuan dan kebodohannya itu ia lalu mengeluhkan keadaan dirinya dan tidak menghayati makna ayat:
وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  وَ اَنۡتُمۡ  لَا تَعۡلَمُوۡنَ  ﴾٪
 Dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah [2]:217).
(Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. I, hlm.  430-431, London, 1984).

Hikmah     “Perang” dan Hikmah Perbedaan  Karakter Suami-Istri

       Berkenaan ayat   yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. dalam Al-Quran secara khusus berkaitan dengan masalah perang dan masalah “suami-istri”, firman-Nya:
کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ وَ ہُوَ کُرۡہٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ  وَ اَنۡتُمۡ  لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾٪
Ditetapkan atas kamu kewajiban berperang, padahal berperang itu sesuatu yang kamu tidak sukai,  dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal   itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah [2]:217).
    Kaum Muslimin membenci peperangan bukan karena mereka menakutinya, melainkan karena mereka tak suka menumpahkan darah, pula karena mereka pikir bahwa suasana aman lebih cocok untuk penyebaran dan dakwah Islam daripada keadaan perang.  Kemudian mengenai  hikmah adanya perbedaan karakter di antara pasangan “suami-istri”  Allah Swt.  berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا یَحِلُّ لَکُمۡ اَنۡ تَرِثُوا النِّسَآءَ کَرۡہًا ؕ وَ لَا تَعۡضُلُوۡہُنَّ لِتَذۡہَبُوۡا بِبَعۡضِ مَاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ  اِلَّاۤ اَنۡ یَّاۡتِیۡنَ بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ ۚ وَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ ۚ فَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ یَجۡعَلَ اللّٰہُ فِیۡہِ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan secara  paksa, dan jangan pula kamu menahan mereka agar kamu dapat mengambil kembali secara zalim sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka,  kecuali jika mereka itu  melaku-kan perbuatan keji yang nyataوَ عَاشِرُوۡہُنَّ بِالۡمَعۡرُوۡفِ  --  dan bergaullah dengan mereka secara baikفَاِنۡ کَرِہۡتُمُوۡہُنَّ فَعَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا --   karena jika kamu tidak menyukai mereka maka  boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan  banyak kebaikan di dalamnya. (An-Nisa [4]:20).
       Jadi, adanya berbagai perbedaan di kalangan umat manusia dalam berbagai hal merupakan bagian dari hikmah  yang terkandung dalam kesempurnaan ciptaan Allah Swt., yaitu untuk “saling memperoleh manfaat” dari adanya “perbedaan” tersebut --  bukan untuk saling membanggakan diri   --  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku     لِتَعَارَفُوۡا    -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --   Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.  اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).

Membangun Persaudaraan Umat Manusia & Perbedaan ‘Alim dan ‘Arif

  Syu’ub itu jamak dari sya’b, yang berarti: suku bangsa besar, induk suku-suku bangsa disebut qabilah, tempat mereka berasal dan yang meliputi mereka; suku bangsa (Lexicon Lane).
  Sesudah membahas masalah persaudaraan dalam Islam pada dua ayat sebe-lumnya, ayat ini meletakkan dasar persaudaraan yang melingkupi dan meliputi seluruh umat manusia. Pada hakikatnya, ayat ini merupakan “Magna Charta” - piagam persaudaraan dan persamaan umat manusia.
  Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia  semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..
   Harga seseorang tidak dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban kepada Allah dan manusia.  Itulah makna ayat:  اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --     “Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” 
 Seluruh keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka, adapun pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik terhadap satu-sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing:  لِتَعَارَفُوۡا    -- “supaya kamu dapat saling mengenal.” 
     Kata ‘arif  (mengenal/memahami) maknanya lebih luas dan mendalam  daripada  kata ‘alim (mengetahui).  Ditinjau dari segi bahasa  kata ‘alim itu sendiri berasal dari kata 'alam-ya'lamu-'ilman-fahuwa 'ālimun. Artinya orang yang mengetahui atau orang yang berilmu, contohnya Allah Swt. bersifat Al-‘Ālim  (Maha Mengetahui)
   Kata ‘arif kata ‘arif  itu sendiri berasal dari 'arafa-ya'rifu-'irfān-fahuwa 'ārifun?  Arti antara dua kata tersebut memang   "tahu" (mengetahui).    Bedanya adalah kalau  'alima itu tahu tapi hanya secara garis besarnya saja, sedangkan  'arafa  (‘arif) yang tahu secara  detail, sebagaimana arti Sifat  Allah Swt.  Al-Khabīr.
 Jadi,  'ālim adalah orang yang pengetahuannya bersifat global (umum), sedangkan  ‘ārif  orang yang pengetahuannya bersifat luas lagi  mendalam, yang dalam Al-Quran disebut rāsikhūna fil-‘ilmi, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾  رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat,  itulah pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan  yang lain  ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun   orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah,  padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya    kecuali Allah,  وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ --    dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam  یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا  -- berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.”  وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ  -- Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا       -- Ya    Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah  Engkau telah memberi kami petunjuk,   وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً --  dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ  --  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah”(Ali ‘Imran [3]:8-9).

Doa “Hamba-hamba” Tuhan Yang Maha Pemurah

        Jadi, kembali kepada makna لِتَعَارَفُوۡا    --  “supaya kamu dapat saling mengenal”    dalam firman Allah Swt. sebelum ini: 
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku     لِتَعَارَفُوۡا    -- supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ   --   Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.  اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
      Hikmah dari  diciptakan-Nya perbedaan bangsa-bangsa, bahasa dan warna kulit dan sebagainya adalah agar manusia satu sama lain mengambil manfaat dari  keutamaan satu sama lainnya, yang berdasar keutamaan  itu pulalah Allah Swt. mengutus   (membangkitkan) para rasul Allah secara bergiliran d kalangan  Bani Adam (umat  manusa – QS.7:35-37).
    Itulah sebabnya menurut Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw.  – berdasarkan firman-Nya tersebut  --  tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang menjadi satu-satunya bangsa  pilihan Allah Swt.. Pada peristiwa Haj terakhir di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw. wafat, beliau saw. berkhutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan,
Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan  bapakmu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Allah dan manusia. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ     --  sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu” (Baihaqi).
      Sabda agung Nabi Besar Muhammad saw. ini menyimpulkan cita-cita paling luhur dan asas-asas paling kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah, Nabi Besar Muhammad saw.   mengajarkan asas yang sangat demokratis.
     Demikian juga dalam upaya membina rumah-tangga yang  sakinah, mawaddah dan rahmat (damai, cinta dan penuh kasih-sayang),  pasangan suami-istri pun harus berusaha  sebagaimana firman-Nya:
وَ مِنۡ اٰیٰتِہٖۤ  اَنۡ خَلَقَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡکُنُوۡۤا اِلَیۡہَا وَ جَعَلَ بَیۡنَکُمۡ  مَّوَدَّۃً  وَّ رَحۡمَۃً ؕ اِنَّ  فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  ﴿﴾
Dan dari antara Tanda-tanda-Nya  ialah bahwa  Dia telah menciptakan bagi kamu jodoh-jodoh dari jenis kamu sendiri, supaya kamu memperoleh ketenteraman padanya, dan Dia telah menjadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang.  Sesungguhnya di dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum [30]:22). 
     Hal tersebut hanya mungkin jika pasangan suami-istri melakukan   لِتَعَارَفُوۡا    -- “supaya kamu dapat saling mengenal”, sehingga  pasangan suami-istri tersebut akan mengenapi  doa  dari  ‘ibādu- Rahmān (hamba-hamba ) dalam firman-Nya berikut ini:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqān [25]:75).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 24 Agustus    2016

Senin, 29 Agustus 2016

Kepengecutan Bani Israil Mengakibatkan Penangguhan "Pewarisan Kanaan" (Negeri yang Dijanjikan) Kepada Mereka & "Nasikh-Mansukh" (Perubahan) Dalam "Pengabulan Doa"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

 HAKIKAT DOA

Bab 33

KEPENGECUTAN BANI ISRAIL  MENGAKIBATKAN PENANGGUHAN PEWARISAN  KANAAN   (NEGERI YANG DIJANJIKAN)  KEPADA MEREKA  & NASIKH-MANSUKH (PERUBAHAN) DALAM PENGABULAN DOA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab 32 telah dijelaskan  -- sehubungan sabda Masih Mau’ud a.s.   -- mengenai    hikmah kata sabar mendahului  kata shalat (doa), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  Dan  janganlah kamu me-ngatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --  Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahanوَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ  --  dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ     -- Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata:  Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟       -- Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan) mereka  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ    -- dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:154-158).
    Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Mufradat).

Kiat Meraih Kesuksesan Duniawi dan Ruhani

         Surah Al-Baqarah ayat 154   mengandung satu asas yang hebat sekali untuk mencapai keberhasilan:
      Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
       Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt.  untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.   sajalah Sumber segala kebaikan.
Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat: اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ  --  “mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat” dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Sebab lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan.
       Makna ayat:  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ  -- “Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari.”  Ahya itu jamak dari hayy yang antara lain berarti:  (1) seseorang dengan amal yang diperbuat selama hidupnya tidak menjadi sia-sia;  (2) orang yang kematiannya dituntut balas.
     Ayat ini mengandung suatu kebenaran agung dari segi ilmu jiwa yang diperkirakan memberikan pengaruh hebat kepada kehidupan dan kemajuan suatu kaum. Suatu kaum yang tidak menghargai secara sepatutnya pahlawan-pahlawan yang telah syahid dan tidak mengambil langkah-langkah untuk melenyapkan rasa takut mati dari hati mereka, sebenarnya telah menutup masa depan mereka sendiri.

Penangguhan Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” Kepada Bani Israil

      Contoh mengenai hal tersebut adalah akibat kepengecutan yang diperlihatkan Bani Israil ketika menolak ajakan Nabi Musa a.s. – bersama Nabi Harun a.s.  – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri yang dijanjikan” Allah Swt. kepada mereka,  maka Allah Swt. menangguhkanpewarisan” tersebut  kepada Bani Israil selama 40 tahun (QS.5:21-27).
       Ayat  وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ  --  “Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparankekurangan dalam hartajiwa dan buah-buahan”,   merupakan kelanjutan yang tepat dari ayat yang mendahuluinya. Kaum Muslimin harus siap-sedia bukan saja mengorbankan jiwa mereka untuk kepentingan Islam tetapi mereka harus juga bersedia menderita segala macam kesedihan yang akan menimpa mereka sebagai cobaan atau ujian di jalan Allah Swt..
  Makna ayat:  وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ  --  dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar.  الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ     -- Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata:  Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  
  Allah Swt.  adalah Pemilik segala yang dimiliki orang-orang beriman, termasuk dirinya, karena itu jika Sang Pemilik itu  --  sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak ada batasnya  -- menganggap tepat untuk mengambil sesuatu dari  mereka maka mereka  tidak punya alasan untuk berkeluh-kesah atau menggerutu.
 Oleh karena itu tiap-tiap kemalangan yang menimpa   daripada membuat  putus asa, sebaliknya hendaknya menjadi dorongan untuk mengadakan usaha yang lebih hebat lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam hidup ini. Jadi  rumusan cara meraih kesuksesan  -- duniawi dan ruhani   -- yang ada dalam ayat ini bukan semata-mata suatu ucapan bertuah belaka, melainkan suatu nasihat yang bijak dan peringatan yang tepat pada waktunya.

Jawaban Pengecut Bani Israil Kepada Seruan Nabi Musa a.s.

     Contoh ketidak-sabaran dan ketidak-teguhan serta kelemahan dalam hal makrifat Ilahi  -- yang menimbulkan  kepengecutan yang diperlihatkan Bani Israil ketika menolak ajakan Nabi Musa a.s.  bersama Nabi Harun a.s.  – untuk memasuki Kanaan (Palestina), “negeri yang dijanjikan” Allah Swt. kepada mereka, telah menyebabkan Allah Swt. menangguhkanpewarisan” tersebut  kepada Bani Israil selama 40 tahun, firman-Nya
وَ  اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ﴿﴾  یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ﴿﴾   قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ﴿﴾ 
Dan ingatlah ketika  Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah  nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu raja-raja,  dan Dia memberikan kepadamu apa yang tidak diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa. Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan yang telah ditetapkan Allah bagi kamu, dan janganlah kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu kembali menjadi orang-orang yang rugi.”   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, lalu  jika mereka keluar darinya maka kami    akan memasukinya.” (Al-Māidah [5]:21-23).
     Penggantian kata kum (kamu)  mengenai raja-raja  alih-alih kata fī-kum   mengenai nabi-nabi dalam ayat:  یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا  --  “Hai kaumku, ingatlah  nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu raja-raja,” mengandung isyarat bahwa jikalau tiap-tiap dan semua anggota suatu bangsa yang hidup di bawah kekuasaan seorang raja seakan-akan mempunyai kekuasaan dan kedaulatan, maka pengikut-pengikut seorang nabi Allah mereka tidak mempunyai bagian dalam kenabiannya.
      Ungkapan “telah ditetapkan Allah bagi kamu” mengandung  janji yang tersirat bahwa Allah Swt.   akan menolong dan memberi mereka kemenangan, seandainya orang-orang Bani Israil mempunyai keberanian memasuki Kanaan yakni “Tanah  yang disuci”  yang dijanjikan Allah Swt. tersebut.
      Jawaban  bernada kepengecutan  para pemuka Bani Israil terhadap ajakan Nabi Musa a.s.:   “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, lalu  jika me-reka keluar darinya maka kami    akan memasukinya, ”     berarti bahwa riwayat kaum-kaum  yang ketika itu berada di wilayah Kanaan  itu dikenal oleh bangsa Bani Israil, yaitu bangsa Amaliki (Amalek) dan suku-suku bangsa Arab liar menghuni Tanah suci pada zaman itu, orang-orang Bani Israil sangat takut kepada mereka.

Jawaban Ksatria Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.

      Bandingkanlah sikap  pengikut-pengikut Nabi Musa a.s.   yang tidak punya rasa malu lagi pengecut itu dengan pengorbanan tulus-ikhlas dan hampir-hampir tak masuk akal dari para sahabat Nabi Muhammad saw.  yang senantiasa mendambakan melompat ke dalam rahang kematian  bila ada sedikit saja isyarat aba-aba dari Junjungan mereka, Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾  وَ لَمَّا رَاَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾  مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.   Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan  mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allāh serta  Ra-sul-Nya telah mengatakan yang benar.” Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan.  Di antara orang-orang yang beriman ada  orang-orang yang  telah menggenapi apa yang dijanjikannya kepada Allah, maka  dari antara mereka ada yang telah menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid,  dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. (Al-Ahzāb [33]:22-24).
    Ketika Nabi Besar Muhammad saw.  bersama sejumlah kecil para sahabat (313 orang) dengan perlengkapan perang yang sangat darurat hendak bergerak ke Badar menghadapi balatentara Mekkah yang bilangannya jauh lebih besar (1000 orang) serta persenjataannya lebih lengkap, beliau saw. meminta saran mereka mengenai situasi itu.
        Atas permintaan beliau, salah seorang dari para sahabat bangkit lalu menjawab  Nabi Besar Muhammad saw.       dengan kata-kata yang akan selamanya terkenang:
Kami tidak akan berkata kepada Anda seperti dikatakan oleh pengikut-pengikut Nabi Musa a.s.:  “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau kemudian berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini.’ Kebalikannya, wahai Rasulullah, kami senantiasa beserta engkau dan kami akan ber-tempur dengan musuh di sebelah kanan dan di sebelah kiri engkau dan di hadapan engkau dan di belakang engkau, dan kami mengharap dari Allah agar engkau akan menyaksikan kami apa yang akan menyejukkan mata engkau.”

Bani Israil Terlunta-lunta  Selama 40 Tahun  di Luar Kanaan

       Mendengar jawaban Bani Israil yang penuh kepengecutan tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dua orang laki-laki  dari antara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apabila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu   bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” (Al-Māidah [5]:24).
    Terhadap ajakan Nabi Musa a.s. yang penuh   optimis tersebut Bani Israil menjawab, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan pernah memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”   Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik itu.”   Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi  maka janganlah eng-kau bersedih atas kaum yang fasik itu.”   (Al-Māidah [5]:24-27).
      “Dua orang laki-laki” yang disebut di sini biasanya diduga adalah Yusak bin Nun dan Kaleb bin Yefuna (Bilangan 14:6). Akan tetapi, dari letak kalimat nampak lebih mendekati kemungkinan bahwa Nabi Musa a.s.   dan Nabi Harun a.s. yang dipanggil dengan kata-kata “dua orang laki-laki” di sini. Kata rajul (laki-laki) mencerminkan citra kejantanan dan keberanian.
      Bahwa kedua laki-laki yang gagah-berani ini   -- yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.   --  dapat pula ditarik kesimpulan dari kenyataan bahwa Nabi Musa a.s. mendoa bagi beliau sendiri dan bagi saudara beliau, Harun a.s.  (QS.5:26). Allah Swt. tidak menyebut nama-nama  keduanya melainkan hanya mengatakan “dua orang laki-laki” sebagai pujian atas keperwiraan dan keberanian keduanya, dan dengan sendirinya mencela nyali kecil (kepengecutan) orang-orang Bani Israil  yang menyertai Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.
       Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt.  menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Kanaan -  “Tanah Yang Dijanjikan”.

Nasikh dan Mansukh (Penggantian) Dalam Pengabulan Doa

     Sudah dipastikan bahwa  Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. dalam rangka memasuki “negeri yang dijanjikan”  bersama dengan Bani Israil tersebut senantiasa berdoa kepada Allah Swt. agar dapat menggenapi “pewarisan”  negeri Kanaan tersebut,  tetapi dalam kenyataannya  -- akibat sikap pengecut Bani Israil  --   pewarisan tersebut ditangguhkan Allah Swt.  selama 40 tahun, dan dalam masa penangguhan tersebut Nabi Harun a.s. dan Nabi Musa a.s. wafat.
      Namun demikian tidak berarti bahwa doa dan perjuangan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sia-sia. Sehubungan dengan  kenyataan yang seperti  itu   Masih Mau’ud a.s.  bersabda:
     “Aku sering sekali mengalami bahwa ketika Tuhan tidak mau mengabulkan suatu doa, tetapi karena Sifat-Nya Yang Maha Pemurah,  lalu Dia  menerima doa lain yang serupa sebagai gantinya,  sebagaimana dinyatakan oleh-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Tidak tahukah engkau bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?’ (Al-Baqarah [2]:107).
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXII, hlm.  340, London, 1984).

Allah Swt. Lebih Mendekat Melalui Doa

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya senantiasa mendirikan shalat:
       Janganlah berpuas diri karena merasa kalian telah berdoa setiap hari tetapi tanpa shalat. Sebenarnya shalat itu merupakan doa juga, yang dilakukan setelah memperoleh pemahaman dan rahmat, dan shalat ini merupakan doa tersendiri.
     Doa seperti ini bisa bersifat menghancurkan laiknya api yang meluluhkan, kekuatan magnetis yang menarik rahmat,  dan bentuk kematian yang membawa kehidupan. Shalat merupakan hujan lebat yang kemudian berubah menjadi wadah. Setiap kegalauan bisa diatasi olehnya dan setiap racun menjadi penawar karenanya.
     Berberkatlah mereka yang berdoa tanpa lelah saat dipenjara karena mereka akan dibebaskan Berberkatlah mereka yang buta dan berteguh hati dalam doanya karena mereka nantinya akan nyalang mataBerberkatlah mereka yang terkubur dan memohon pertolongan melalui doa karena mereka nantinya akan dikeluarkan dari kuburnya itu.
      Berberkatlah kalian yang tidak pernah merasa lelah dalam berdoa sehingga kalbu kalian meleleh saat berdoa dengan mata berlinang dan api yang menyala di dalam dada, dan karena kalian dijebloskan dalam kamar-kamar gelap sehingga kalian menjadi gelisah, tak sadar akan dirinya lagi, karena akhirnya kalian akan menjadi penerima rahmat.

Hubungan Gerakan Jasmani Shalat dengan Gerakan Ruhani

   Tuhan yang kita sembah sesungguhnya Maha Pemurah, Maha Pemurah, Maha Benar, Maha Setia kepada mereka yang berhati lembut. Kalian harus beriman dan berdoa dengan segala kesungguhan dan kesetiaan agar Dia merahmati kalian.
    Tariklah diri kalian dari kegalauan duniawi dan jangan mengagak-agak keimanan kalian. Terimalah kekalahan kalian demi Tuhan, agar kalian mewarisi kemenangan akbar. Tuhan akan memberikan mukjizat kepada mereka yang berdoa dan mengaruniakan anugrah yang luar biasa kepada mereka yang mengemis kepada-Nya.
     Sesungguhnya doa berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Melalui doa maka Tuhan mendekat kepada kalian sebagaimana nyawa kalian dekat dengan kalian. Karunia pertama dari doa adalah perubahan suci dalam diri si pemohon dan karenanya Tuhan melakukan perubahan dalam Sifat-sifat Wujud-Nya Sendiri.
      Sebenarnya Sifat-Nya itu tidak mudah berubah, namun demi manusia yang telah mengubah dirinya sendiri maka Dia memberikan manifestasi (penampakkan) khusus yang tidak dikenal dunia. Tidak berarti bahwa Dia berubah menjadi Tuhan yang lain, yang dimaksud adalah munculnya manifestasi baru dalam Wujud-Nya yang memperlihatkan seolah suatu hal yang baru. Dalam manifestasi (penampakkan) khusus demikian Dia melakukan bagi hamba-Nya yang telah bertransformasi (berubah) apa yang tidak dilakukan-Nya kepada yang lain.
   Singkat kata, doa adalah obat penawar paling utama yang mengubah segenggam debu menjadi logam mulia. Doa merupakan air yang membasuh kekotoran di dalam batin. Melalui doa maka kalbu akan meleleh yang kemudian mengalir seperti air dan jatuh di hadirat Ilahi. Doa akan tegak di hadirat Ilahi, rukuk di depan-Nya dan bersujud di hadapan-Nya. Sesungguhnya shalat yang diajarkan dalam Islam merupakan refleksi (pantulan) dari doa seperti itu.
   Berdiri tegaknya nurani dalam suatu doa menunjukkan kesiapan dirinya memikul segala kesulitan demi Allah dan berhasrat melaksanakan perintah-perintah-Nya.
    Rukuknya bermakna kecenderungan kepada Ilahi dan keinginan menjadi milik-Nya dengan meninggalkan kesukaan dan kecintaan kepada yang lainnya.     Adapun bersujud di hadirat Ilahi mengandung arti bahwa ia telah memfanakan dirinya secara sepenuhnya. Semua itu merupakan shalat yang menjadi pertemuan di antara Tuhan dengan mereka yang menyembah-Nya.
      Akidah Islam menggambarkan doa sebagai shalat yang dilakukan setiap hari agar shalat yang bersifat jasmani dapat mendorong seorang pelaku ibadah ke arah shalat ruhani. Allah Yang Maha Kuasa telah mengatur bahwa kalbu dan raga manusia beraksi dan bereaksi satu dengan lainnya.
      Ketika jiwa sedang bersedih maka keluar air mata dari matanya, sedangkan ketika kalbu sedang bergembira maka wajahnya akan mencerminkan keceriaan yang mendorong orang untuk tertawa. Begitu juga ketika raga sedang mengalami kesakitan maka kalbunya ikut merasakan kesakitan itu, sedangkan saat tubuh merasa nyaman karena tiupan angin sejuk maka hatinya pun ikut terpengaruh.
     Dengan demikian, tujuan dari ibadah secara ragawi (jasmani) adalah karena adanya keterkaitan di antara kalbu dan raga tubuh dimana kalbu akan cenderung kepada Tuhan serta mengikuti gerak rukuk dan sujudnya secara ruhani. (Khutbah Sialkot, Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 222-224, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo


Pajajaran Anyar, 22 Agustus    2016